Celebrity Wedding (Chapter 11: Surprise?)

celebrity wedding copy

Jiyeon’s Side

“ Astaga, Myungsoo. Bisa lebih cepat? Kita sudah terlambat! ”

Teriakanku untuk kesekian kalinya dalam beberapa menit ini memenuhi kamar hotel. Aku sedang menunggu Myungsoo yang sudah menghabiskan waktu hampir setengah jam hanya untuk berpakaian. Padahal, apa susahnya pakaian pria? Hanya kemeja, dasi, celana dan kemeja. Semuanya bahkan sudah aku siapkan diatas tempat tidur dan dia hanya tinggal memakainya. Jadi kenapa harus sampai setengah jam?

Sebenarnya yang wanita itu aku atau dia sih?

Kemudian terdengar bunyi pintu yang terbuka dan Myungsoo keluar dengan setelan yang telah aku pilihkan dan gaya rambut yang…..yummy. aku terperangah sebentar lalu kemudian mengganti ekspresiku dengan ekspresi kesal.

“ Ini juga salahmu kenapa lama sekali bersiapnya? Aku bahkan menunggumu 3 jam dan kau menyiskan waktu 30 menit untukku mandi dan bersiap-siap, ” Sungutnya begitu keluar, kemudian ia mengerutkan dahi dan menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala, “ Tapi 3 jammu tidak sia-sia, kau sangat cantik malam ini. ”

Aku mengalihkan wajahku yang mulai terasa panas dengan mengambil clutchku yang tergeletak diatas sofa dan memilih untuk mengabaikan pujiannya. Ia memang tidak sempat meneliti penampilanku tadi karena aku menyuruhnya untuk cepat bersiap-siap, “ Ayo cepat. Kita bisa terlambat. ”

“ Kau tidak berniat memujiku? ” Tanyanya lagi.

Kakiku yang sudah melangkah keluar dengan langkah lebar-lebar langsung berhenti, “ Kau bisa memuji dirimu sendiri, kenapa harus aku yang memujimu? ”

Myungsoo merengut lalu menarik tanganku untuk digandengnya, “ Kau memang tidak bisa romantis ya? ”

“ Sudahlah jangan mulai lagi, ” Ucapku saat kami sudah sampai didepan limousine yang sudah menjemput kami dan masuk kedalamnya.

Malam ini kami berdua akan menghadiri acara fashion show-ku sebagai salah satu tamu VIP. Setelah berhari-hari kami lalui di New York dengan kesibukan masing-masing—Myungsoo yang sibuk dengan persiapan konser dan aku yang sibuk mengatur acara fashion show ini—acara puncaknya pun akan segera tiba. Malam ini acaraku, dan malam besok konser Myungsoo. Kami sepakat untuk saling campur tangan dalam acara masing-masing tanpa keberatan sama sekali—kata Myungsoo, ini bisa membuat kami lebih dekat dan saling mengenal kesibukan masing-masing—sehingga aku terpaksa harus tidak hadir dalam pesta perayaan kesuksesan acara fashion show ini yang diadakan malam besok demi nonton konser Myungsoo di kursi khusus yang ntah dimana itu.

Not bad, aku tidak terlalu suka suasana party. Terlalu err menurutku.

Dan malam ini, aku telah menyiapkan setelan dan gaun sepasang dengan nuansa silver yang elegan. Sebenarnya ini rancangan Jieun yang aku perbaiki dan tambah sedikit tapi ternyata hasilnya tidak buruk. Gaun terusan panjang dengan model gown with long-sleeves, bagian atasnya ditaburi dengan Swarovski dan dibawahnya dibiarkan polos agak kembang. Myungsoo sendiri aku buat dengan jas dan celana silver yang senada dengan milikku. Kami tampak benar-benar serasi.

Setidaknya dimataku begitu.

Begitu sampai di tempat acara, Myungsoo langsung turun begitu pintu dibuka dan mengulurkan tangannya untuk membantuku keluar. Kami disambut dengan blitz kamera yang begitu menyilaukan. Jujur saja, blitz kamera seperti ini membuatku badmood setengah mati tapi harus kutahan dengan senyum semanis mungkin. Rasanya benar-benar tidak nyaman.

Kami berjalan melalui karpet merah hingga sampai pada booth untuk para wartawan mengambil foto sekaligus bertanya pada kami.

“ Hi Jeey, this is the first time you bring your husband to your fashion event. How does it feels? ”

Aku tersenyum kecil, tangan Myungsoo sudah menggenggam bahuku sedangkan lenganku melingkar dipinggangnya seperti pasangan yang bahagia, “ Actually this isn’t our first time, we’ve often attend events together although that’s not mine. ”

“ And Myungsoo Kim, you’ll perform in Madison Square Garden tomorrow night, don’t you feel tired or something? ”

Myungsoo tersenyum dengan gaya cool-nya, “ Well, if it makes my wife happy, I really don’t mind. ”

Lalu terdengar suara kasak-kusuk terutama dari para wartawan wanita saat mendengar kalimat Myungsoo yang memang super manis itu. Aku meliriknya kesal, andai saja mereka tahu kalau Myungsoo bahkan mewajibkanku untuk menonton konsernya jika aku ingin dia datang diacara ini padahal aku tidak suka suara berisik dari konser manapun.

Setelah itu kami masuk dan duduk di bangku deretan paling depan dengan nama kami berdua di punggung kursinya. Sebentar lagi acara akan dimulai. Aku sudah menyuruh asistenku disini untuk mengecek para model kami bersama Hyomin unnie dan Krystal. Padahal rencana awal aku juga akan melakukan pengecekan terakhir sebelum acara dimulai, tapi sayangnya aku datang terlalu lama.

“ Apa serunya menonton acara seperti ini? ”

Gumaman Myungsoo terdengar hingga ketelingaku, aku meliriknya, “ Menonton fashion show itu tidak ribut seperti nonton konser. ” Balasku.

“ Tapikan acara seperti ini juga pakai music dan pasti juga ribut dengan suara kamera. ”

“ Tidak sebanyak yang memotret konsermu, ” kataku ikut berbisik, “ Dan disini, tidak ada teriakan histeris ala fangirl yang berisik. ”

Dari ujung mataku, Myungsoo terlihat mencibir, “ Mereka kan hanya sedang beromba-lomba menunjukkan cinta mereka padaku. ”

Aku hanya mendengus. Memang apa hubungannya cinta dan berteriak? Teriak sampai bisupun Myungsoo tidak juga bisa tau siapa yang menjerit paling keras untuknya. Pekerjaan sia-sia. Untungnya aku bukan tipe fangirl seperti itu.

Tapi mungkin, aku termasuk manusia kuper dengan kehidupan suram mengingat aku tidak mengenal artis-artis hitz jaman sekarang. Aneh memang, mengingat mom adalah ibu-ibu super update apalagi tentang kehidupan artis. Aku jadi kangen. Mungkin aku akan menelfon mom nanti. Atau menambah libur dengan menginap dirumahnya?

Oh, tidak. Ide buruk.

Tidak terasa, acara sudah dimulai dengan pembukaan dari mc, dilanjutkan dengan pembukaan dari pimpinan kami yang diakhiri dengan tepukan tangan. Seperti yang sudah seharusnya, berbagai kalangan sudah memenuhi ruangan berkapasitas nyaris seperti stadion bola namun tak terlihat sesak. Mulai dari artis, pejabat, pengamat fashion, sosialita dan lain sebagainya. Beberapa yang kukenal sempat menyapaku dan kukenalkan pada Myungsoo yang sangat pandai bersikap manis ini. Beberapa wartawan yang diberi izin untuk menayangkan acara ini secara live juga sudah berkeliaran. Penjagaan disini lumayan ketat juga, belum ada paparazzi yang tampak berkeliaran.

“ Jiyeon, ” aku menolehkan kepalaku saat mendengar suara Myungsoo yang terdengar aneh, seperti sedang menahan diri untuk tidak menguap, “ Kau harus mengajakku berbicara. ”

“ Ada apa? ”

“ Aku mengantuk. ”

Aku tersedak saat berusaha menahan tawaku agar tidak meledak lalu memukul bahunya pelan. kepalaku kembali memandang kedepan saat model-model itu mulai berjalan di catwalk, “ Kau harus mulai terbiasa. Aku akan lebih sering mengajakmu ke acara seperti ini. ” Bisikku.

“ Oh, tidak, cukup sekali saja, terimakasih banyak. ”

Cara bicaranya yang seperti mendengar hukuman mati membuatku kembali terkekeh kecil. Jarak kami benar-benar dekat. Entah siapa yang lebih mencondongkan tubuhnya, namun dari nafasnya yang terasa hangat di pipiku membuatku agak salah tingkah. Tapi tentu saja, aku harus pandai menutupinya.

Aku berdeham, “ Memangnya wajah-wajah cantik model kelas dunia tidak menarik untukmu? ”

Dari ujung mataku, aku tahu dia menggeleng, “ Tipe wanita idealku adalah sepertimu. ”

Refleks aku menoleh lagi, lalu sedetik kemudian aku sadar itu keputusan yang salah. Karena wajah kami jadi hanya berjarak beberapa cm. sial. Kenapa aku jadi seperti terkena penyakit lemah jantung begini?

Matanya mengunci mataku. namun cepat-cepat aku mengambil alih otakku agar tidak terlalu terpesona padanya. Aku tersenyum remeh menganggapi kalimatnya, “ Gombalanmu tidak berlaku padaku. ”

Bohong. Aku berbohong lagi. Entah sampai kapan aku akan berbohong.

Jelas-jelas gombalan itu membuat bunyi jantungku luluh-lantak seperti diterpa badai. Bersyukur penerangan difokuskan pada catwalk, kalau tidak, bisa-bisa seluruh wajahku sudah seperti memakai blush on. Dan pasti akan sangat memalukan.

“ Aku tau kau tipe wanita yang seperti itu, ” jawabnya terkekeh, ia mengalihkan wajahnya kembali kedepan. Aku bersyukur dia salah besar sekarang, “ Makanya ini bukan gombalan. Aku serius. Kau adalah tipe idealku. ”

Tanpa bisa kutahan, mulutku bergerak dan mengucapkan, “ Jadi, menurutmu semua mantanmu setipe denganku? ”

Kali ini Myungsoo tertawa. Bukan hanya kekehan seperti biasa. Ia menoleh kearahku dan menatapku dengan memiringkan kepalanya. Ia menatapku sejenak, seolah menimbang-nimbang. Pandangannya menyapu keseluruh wajahku, sama seperti saat aku terjatuh dulu waktu pertama kali kerumahnya dan dia menangkapku saat itu. Aku ingat perasaan seperti ini.

“ Tentu saja tidak, karena itu aku memacari mereka. ” Jawabnya dengan senyum melelehkan, membuatku makin tak mampu mengalihkan mataku kearah lain selain matanya.

Dahiku berkerut, masih tidak mengerti dengan pemikirannnya, jadi aku bertanya, “ Maksudnya? ”

“ Aku tidak mau memacari wanita yang sesuai tipeku. Mandiri, percaya diri, dan cerdas, sangat menggambarkan kepribadianmu, Jiyeon. Bonus yang aku dapatkan, kau cantik dan berkelas. Berkelas dalam artian tidak murahan. ”

Oh, apa aku seperti itu?

Mendengar penilaiannya terhadapku membuatku makin terbang saja. Kecepatan kerja jantungku makin hebat, aku jadi penasaran apa jantungku masih bisa bekerja lebih keras lagi. Tapi, sungguh, dalam seumur hidupku aku selalu mendengar pujian akan diriku dan ajaibnya, aku merasakan hal yang berbeda saat Myungsoo yang mengucapkannya secara langsung. Padahal pujiannya masih belum apa-apa.

Tapi bodohnya aku, aku masih tidak mengerti apa kaitannya ini semua. Kalau dia menyukai wanita seperti itu, kenapa dia malah memacari yang sebaliknya? Maksudku, biasanya para pria mencari wanita yang sesuai tipenya kan?

Aku berdeham, berusaha mengumupulkan sisa-sia harga diri dan kesadaranku agar dapat kembali kedunia, “ Memang apa yang salah dari wanita tipemu? Kenapa kau malah mencari yang sebaliknya? ”

“ Aku hanya takut. Jika aku dekat dengan wanita sejenis itu, aku akan benar-benar tertarik. ” jawabannya masih belum membuatku puas, jadi aku menaikkan alisku menyuruhnya melanjutkan persepsi tak masuk akalnya itu, Myungsoo tersenyum kecil, “ Dan ketakutanku terbukti. Aku tertarik padamu, Park Jiyeon. ”

Myungsoo’s Side

Jiyeon masih menatapku dengan terpana.

Sudah beberapa detik terlewat sejak aku mengungkapkan perasaanku saat ini padanya—kalau itu bisa dianggap pengungkapan perasaan—dan Jiyeon masih tidak ada respon selain menatapku dengan pandangan terkejut. Bukan salahnya, aku memang terlalu mendadak.

Tapi bukannya para wanita suka dengan kejutan?

“ Well, ” gumamnya, aku mengangkat alis. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya salah tingkah. Sayang sekali, cahaya disini tidak mendukung untuk melihat wajahnya dengan jelas. Dia pasti terlihat menggemaskan dengan wajah merah, “ Jujur saja, aku tidak tahu harus menanggapi apa. ”

Aku terkekeh, mataku berjalan menyusuri wajahnya lagi. Jari-jariku terulur untuk menyentuh kulit wajahnya yang tampak halus sejenak untuk pertama kalinya dan tidak ada penolakan darinya. Pandangan kami kembali bertemu saat mataku kembali menatapnya, “ Aku tidak perlu tanggapanmu, Jiyeon. Membuatmu juga tertarik padaku mungkin agak sulit, tapi aku tahu itu mungkin terjadi. ”

Bibirnya yang menggemaskan itu bergerak seperti akan mengatakan sesuatu namun kembali menutup. Rasanya, aku ingin kembali merasakan bibir lembut itu menyentuh bibirku lagi. Tapi aku harus menahan diri. Selain tidak ingin membuatnya marah, tempat ini terlalu ramai dan bukan tempat yang pantas untuk berciuman. Jadi aku mengalihkan mataku kembali kedepan.

Entah kenapa, perasaanku mengatakan dia juga tertarik padaku.

Tanpa terasa, acara membosankan ini sudah selesai dengan para model yang berkumpul di catwalk. Mungkin karena sejak tadi aku terlalu sibuk berbicara dengan Jiyeon. Walaupun sejak percakapan terakhir kami, Jiyeon masih belum ada membuka mulut untuk mengatakan apapun. Tidak masalah. Aku mengerti dia butuh waktu untuk mencerna kalimat yang sebenarnya tidak rumit. Aku tertarik padamu. Dan mungkin, hanya tertarik. Tidak lebih.

Setelah acara benar-benar berakhir, para tamu mulai membubarkan diri. Beberapa teman Jiyeon menyapa kami dengan memeluk Jiyeon atau menjabat tanganku. Aku tidak terlalu mengerti tentang dunia fashion, tapi sedikit banyak aku tau mereka petinggi dari beberapa brand ternama. Mungkin lain kali, aku bisa mencoba peruntungan bisnis dibidang ini.

Hyomin nuna dan Krystal juga tampak cantik dengan gaun mereka. Aku baru sadar ternyata mereka duduk tepat disebelah Jiyeon. Mereka tampak berbincang-bincang sebentar, aku tidak terlalu mendengar dengan jelas, namun mata Jiyeon tampak berbinar saat Hyomin nuna mengatakan sesuatu.

“ Apa kau akan pergi setelah acara ini? ” Tanya Hyomin nuna.

Jiyeon melirikku, “ Sepertinya kami harus pergi makan. Kami belum sempat makan malam. ”

Hyomin nuna mengangguk-angguk, sementara Krystal terlihat sibuk dengan ponselnya, “ Kalau begitu biar kami saja yang mengurusnya. ”

Setelah mengucapkan sampai jumpa, kami berjalan beriringan keluar. Tanganku menggenggam erat tangan sebelahnya yang kosong. Para wartawan dan paparazzi diluar masih ramai dan sibuk memotret para tamu yang keluar. Beberapa kali aku dan Jiyeon tersenyum pada mereka yang meminta kami untuk melihat kearahnya.

Aku beruntung Jiyeon sangat mengerti diriku. Dia pasti tau aku lapar sekarang. Mungkin karena di hari-hari biasa kami, aku tidak pernah melewatkan makan malam walau sesibuk apapun.

“ Kita mau makan dimana? ” Tanyaku.

Dia diam sejenak, “ Di restaurant hotel saja. Aku tidak mau menarik perhatian dengan pakaian kita. ”

Dalam waktu 20 menit, kamipun sampai di hotel tempat kami menginap. Tidak ada percakapan yang berarti antara kami. Masih dengan menggandeng tangannya, kami berjalan melewati lobby menuju restaurant yang tampak agak ramai, mungkin karena ini malam jumat. Alunan music jazz juga terdengar dari sudut ruangan. Kami memilih meja paling pojok dan pelayan langsung memberikan buku menunya pada kami.

Setelah memesan, aku kembali menatapnya yang sedang memandang keluar jendela, “ Besok aku akan pergi pagi. Kau mau pergi denganku atau menyusul saja? ”

“ Aku menyusul saja. Ada beberapa hal yang mau aku urus. ”

Aku mengangguk, “ Hari minggu aku akan mengajakmu jalan. ”

Ia mengalihkan tatapannya, menatapku penuh minat, “ Kemana? ”

Aku tersenyum misterius, “ Rahasia. ”

Jiyeon mencibir dengan imutnya, lalu memiringkan kepalanya, “ Kau tau kenapa kamar kita tidak ada nomornya? ”

“ Tentu saja tidak ada. Itu kamarku. ”

Dahinya mengernyit tidak mengerti, “ Kamarmu? ”

Aku mengangguk, “ Hotel ini termasuk asset perusahaanku. ”

Wajahnya tampak terkejut. Oh, sepertinya aku memang belum banyak bercerita dengannya. Di internet memang ada beberapa orang yang menuliskan fakta bahwa aku memiliki perusahaan lain tapi tidak ada yang mendetail dan tidak ada bukti fisik karena itu hanya kabar angin. Aku sendiri tidak pernah mengkonfirmasi apapun tentang perusahaan atau apapun itu.

“ Kau benar-benar punya perusahaan lain? Aku kira itu hanya gossip. ”

Aku terkekeh, tidak menyangka dia mengikuti perkembangan gossip juga, “ Beberapa. Tapi semuanya ada di amerika dan eropa. Dan aku hanya sebagai pemilik atau pemegang saham. Beberapa kali jika ada rapat yang benar-benar penting dan mengharuskanku untuk hadir, aku akan hadir. Tapi selebihnya aku menyerahkan semuanya pada orang kepercayaanku. ”

Dia berdecak, “ Dengan usia yang muda, kau bisa membangun banyak perusahaan sekaligus? ”

“ Tidak, perusahaan yang aku bangun hanya label rekaman milikku itu. Selebihnya peninggalan appa-ku. ”

“ Kau belum pernah bercerita tentang appa-mu, ” wajahnya tampak tertarik, matanya menatapku dengan binar ingin tahu, “ Seperti apa dia? ”

Appa? Seperti apa dia?

Aku ingin tertawa dalam hati. Seperti apa appaku? Apa aku perlu menceritakan bagaimana dia dan mendapatkan tatapan kasihan dari Jiyeon?

Aku berdeham, “ Biasa saja. ”

Jiyeon menatapku seolah mengerti. Mungkin dia berpikir sulit bagiku untuk menceritakan appaku yang telah meninggal karena aku sedih, padahal sama sekali tidak. Tidak ada yang perlu diceritakan mengenai dirinya. Bahkan, sejujurnya, aku benci mengakui ia adalah appaku.

Beruntung makanan kami datang dan percakapan kami berhenti sejenak. Tapi Jiyeon tampaknya masih ingin bertanya banyak hal tentangku. Ia menatapku lebih berminat daripada makanannya.

“ Kalau kau punya banyak uang, kenapa kau menjadi artis? Maksudku, kau bisa saja melanjutkan usaha appa-mu tanpa harus sibuk menjadi artis. ”

Aku terkekeh, sambil mengambil garpu dan sendok. Aku mulai menyuap makananku karena rasa lapar yang tak tertahankan, sedangkan Jiyeon masih menatapku menunggu jawaban.

“ Yang pertama, menjadi pengusaha juga sibuk dan lebih melelahkan. Yang kedua, cita-citaku sejak dulu adalah penyanyi. Yang ketiga, hobiku adalah menyanyi dan bukan menatap setumpuk berkas sambil mencoret-coretnya dengan tanda tanganku. Apa alasanku masih kurang? ”

Jiyeon menggeleng, ia menatap makanannya dengan tatapan kosong seolah sedang memikirkan sesuatu, “ Kau benar. ”

Kini giliran aku yang menatapnya penuh minat, “ Ingin cerita? ”

Ia tersenyum dan menggeleng. Tangannya mulai mengambil garpu dan sendok, lalu menyuapnya kemulutnya, aku menunggunya untuk menjawabnya, “ Dulu aku ingin jadi dokter. Aku bukan tipe orang yang suka dengan perhatian, jadi aku lebih suka dengan pekerjaan yang lebih banyak bekerja daripada melakukan kontak sosial. Maksudnya, sejak dulu aku pendiam dan agak tertutup. ” Jelasnya sambil menatap makanannya, aku masih menunggu kalimat selanjutnya, “ Tapi pekerjaanku yang sekarang sangat berbanding terbalik ya? ”

“ Dokter bagus. Kenapa tidak memilih itu saja? ”

“ Aku anak terakhir, jadi aku dituntut untuk ini dan itu oleh keluargaku. Kecuali Yoochun oppa dan dad tentu saja. Mom ingin aku menjadi desaigner, dan Gyuri unnie menyuruhku untuk lebih bersosialisasi. Jadilah aku seperti ini. ”

Aku menatapnya sedih, pasti buruk rasanya mendapatkan tekanan dan paksaan untuk memilih apa yang tidak kita suka. Dari luar, aku memang dapat melihat bagaimana hubungan Jiyeon dan keluarganya. Mom-nya tampak bersemangat untuk memaksa Jiyeon untuk ini dan itu. Aku mengerti jika itu semua demi kebaikan Jiyeon, tapi terkadang orang tua tidak mengerti apa yang sebenarnya anaknya inginkan. Lain lagi dengan Gyuri nuna, dia bahkan selalu terlihat dapat mengintimidasi Jiyeon dengan hanya tatapannya saja. Mengerikan memang.

“ Mereka hanya ingin yang terbaik untukmu, ” Ucapku mencoba menenangkannya, ia hanya tersenyum masam sambil menatap makanannya, “ Lagipula, kau tampak sangat pandai bersosialisasi sekarang. Hampir seluruh model dan desaigner mengenalmu dengan baik. ”

“ Kau tidak tau bagaimana sulitnya untuk mencoba menjadi orang lain. Aku yang sebenarnya lebih suka bergaul dengan buku-buku tebal, harus menghabiskan hampir setengah dari umurku untuk melakukan kebalikannya. Tersenyum sana sini, hang out, party, dan kegiatan lainnya yang sangat aku benci dulu. Saat aku kuliah di amerika, Mom bahkan memasukkanku ke sekolah kepribadian untuk melatihku menjadi seperti sekarang. Tidak sia-sia memang, tapi sejujurnya, aku sering merasa tidak nyaman. ”

Wajahnya tampak frustasi, ekspresi yang cukup mengejutkan untukku. Dia memang lebih sering tampak tenang selama ini. saat aku memintanya—okay, memaksa lebih tepatnya—untuk menikah denganku, dia bahkan tidak tampak sefrustasi ini saat mencoba menolak.

Tapi, aku baru sadar, ini pertama kalinya dia benar-benar terbuka denganku.

Aku meraih tangannya yang bebas dan menggenggamnya, ia menatapku dengan kalut. Aku tersenyum, “ Seseorang pernah mengatakan ini padaku. Jika kau terpaksa memilih sesuatu namun tidak menyukainya, belajarlah untuk menyukainya. Kau tertekan karena kau selalu tersugesti untuk membencinya. Kalau kau mulai mencoba untuk menyukainya, kau pasti tidak tertekan lagi. ”

Jiyeon mengangguk, ia menghela nafas berat, “ Kau benar. ”

Tanganku terulur menuju bibirnya dan menarik kedua ujungnya, “ Senyum dong, cantik. ”

Ia terkekeh dan mengangguk.

Apa aku pernah mengatakan bahwa aku sangat menyukai caranya tersenyum?

Jiyeon’s Side

Untuk yang kesekian kalinya, aku melempar baju dari koperku keatas tempat tidur.

Oh, sial sekali. baru kali ini aku menyesal kenapa dulu tidak seperti remaja kebanyakan. Kenapa dulu aku lebih sering menghabiskan waktu dengan setumpuk ensiklopedia dan sejenisnya. Kenapa aku tidak pernah menonton konser?!

Akibatnya, aku jadi tidak tau harus memakai apa sekarang.

Oke, terdengar berlebihan memang. Siapa yang akan memerhatikan outfit orang lain saat menonton konser idolanya? Tapi entah kenapa aku malah uring-uringan. Mau pakai dress, takut salah kostum. Mau pakai baju kaus, malah terkesan terlalu santai.

Masalahnya adalah, yang konser itu suamiku.

Suamiku?

Oh, didalam perutku rasanya ada yang bergetar.

Myungsoo juga sempat mengirimiku pesan dan mengatakan aku harus tampil cantik. Ya, aku tau. Itu hanya pesan tidak penting. Tapi aku juga ingin sekali-sekali tampil spesial, kan..

Mataku menatap jam yang ada disudut meja, lalu beralih menatap tumpukan bajuku dan menghela nafas. tidak ada cara lain. Kalau aku terus-terusan begini, aku bisa terlambat. Jadi aku meraih tumpukan baju paling atas yaitu mini dress ungu pucat yang santai dan jaket jeans untuk menutupi lenganku dari udara dingin—dengan pertimbangan, aku butuh outfit nyaman untuk waktu yang cukup lama dan penuh sesak itu. Setelah memakainya dengan cepat beserta makeup tipis, membiarkan rambutku tergerai asal dan meraih tas hitamku. Semoga saja dalam tas ini ada kacamata hitam atau apapun yang bisa menolongku.

Tidak ada yang spesial dari penampilanku. Mau bagaimana lagi?

Dan sesuai perkiraan awalku, tempat ini benar-benar ramai dan penuh sesak. Aku melirik jam yang ada di dashboard mobil-ku, pukul setengah 7. Itu artinya tinggal 40 menit sebelum konser dimulai. Wajar saja jika tempat ini menjadi penuh dengan lautan manusia. Terkutuklah aku yang ketiduran hingga tidak ingat waktu, untung saja Myungsoo menelfon dan mengingatkanku. Walaupun dia sedikit terlambat menghubunginya.

Setelah beputar-putar mencari parkir, aku memarkirkan mobilku agak jauh dari pintu utama. Akupun mengirim pesan pada Myungsoo bahwa aku telah sampai sesuai dengan titahnya tadi. Tanganku memasukkan ponsel dan segala yang aku butuhkan lalu meraih kacamata hitam dan memakainya. Setelah menghela nafas berat, aku turun dari mobil.

Untung saja aku memakai flatshoes tadi, kalau aku nekat memakai heels, mungkin kakiku akan putus tepat didepan pintu utama. Kalimat cukup jauh ternyata tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Yang paling tepat adalah, sangat jauh.

Aku melirik kesekitarku yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Kebanyakan pemandangan yang kulihat adalah, sekumpulan perempuan abg bermuka resah sambil melihat jam berkali-kali. Mungkin mereka sedang menunggu anggota tim mereka yang lain. Dari kejauhan dapat kulihat antiran super panjang dari berbagai pintu. Mungkin ada sekitar 4 atau lebih pintu, aku juga tidak dapat melihat dengan jelas karena hari sudah mulai gelap. Sejauh ini, posisiku masih aman. Belum ada yang menyadari siapa aku.

Sejujurnya, aku juga takut. Rasanya masih trauma saat aku di serang habis-habisan saat kami masih ‘pacaran’ dulu di bandara. Kalimat penuh kutukan yang ditujukan untukku mungkin bukan masalah besar karena aku cukup tangguh untuk tidak mengacuhkannya. Namun dorongan bahkan cakaran itu adalah masalah besar. Syukur waktu itu ada Myungsoo, sekarang ini aku sendirian. Mungkin saja ada fans yang melihatku dan kebetulan ia sangat membenciku lalu memprovokasi anggota timnya untuk menyerangku.

Ugh. Tanpa sadar, aku bergidik ngeri. Baru aku sadar ternyata aku ada di kandang buaya. Mana mungkin aku akan selamat? Cepat atau lambat, aku akan menjemput ajalku.

“ Eh, bukannya itu Jiyeon? Park Jiyeon? ”

Sial. Teriakan itu bagai panggilan dari malaikat kematian.

Ternyata kematianku memang sudah dekat. Bahkan disaat aku belum menyiapkan apapun untuk melakukan perlawanan. Mom, dad, maafkan anakmu yang penuh dosa ini.

Aku tetap berjalan sambil menunduk, seolah tak mendengar apapun. Bisikan-bisikan mulai terdengar mengerikan dan menggema disekitarku. Matilah aku. Mati. Ayo cepat Jiyeon, pintunya sudah dekat.

“ Jiyeon unnie? Tunggu! ”

Ergh. Kenapa mereka menggunakan bahasa korea dengan logat inggris? Sekarang yang ada aku malah jadi ingin tertawa sekencang-kencangnya. Ia terkesan malah memaksakan bahasanya dan menurutku itu sangat lucu. Tidak, Jiyeon, tidak. Tidak boleh mengetawai pembunuhmu kalau masih ingin, paling tidak, mati dengan cara yang agak manusiawi.

Tiba-tiba aku merasa sebuah tangan menyentuh pundakku. Oh sial, tangan calon pembunuhku telah menyentuhku. Dengan bunyi jantung yang tidak beraturan, aku mengumpulkan kebeneranian dan membalikkan tubuhku. Lalu sekuat tenaga, aku memaksakan diriku untuk tersenyum—senyum terakhir dalam hidupku pasti jadi senyum terburuk seumurhidupku—dan mengangkat tangan, “ Hi. ”

“ OH MY GOD! SHE’S REALLY PARK JIYEON! ” Teriak seorang perempuan berambut pirang yang menyentuh pundakku tadi itu histeris.

Seketika, aku langsung dikelilingi oleh para wanita dengam makeup seperti akan pergi ke kontes kecantikan—maafkan aku, tapi sungguh, aku tidak tahan untuk tidak mengatakannya—Mata mereka berbinar menatapku, seolah aku adalah makanan enak untuk mereka. Dan aku tidak tau tatapan itu berarti baik atau buruk.

Oh, siapa yang tau. Baik menurut mereka bisa jadi kematian untuk diriku, kan.

“ Unnie, ayo foto bersama! ” Teriak salah satu dari mereka.

Aku meringis, tidak tahan lagi mendengar bahasa korea ala perempuan-perempuan bule ini, “ You can speak English, if you want to. ” Ucapku akhirnya, sebenarnya sedikit memohon agar mereka mengikuti saranku.

“ Oh, you right. ” balas perempuan yang sama, lalu mereka semua terkikik untuk alasan yang aku tidak tahu, “ So, would you like to take a photo with us? Please. ”

Refleks aku melirik jam tanganku, 20 menit lagi konser akan dimulai. Aku mungkin akan dibebaskan dalam kedaan hidup-hidup jika aku menuruti kemauan mereka, ya tidak ada salahnya kan mencoba. Lagipula, konser akan dimulai sebentar lagi. Mereka tidak mau ketinggalan konser idola mereka, kan?

Aku mengangguk dan tersenyum kecil, kali ini agak relaks karena pemikiran ‘akan dibebaskan hidup-hidup’. Mereka pun berbaris rapi-rapi disebelahku, beberapa kali saling mendorong karena berebutan ingin berdiri disebelahku namun tidak lama. Mereka pun memanggil petugas keamanan terdekat untuk mengambil foto kami beberapa kali.

Ugh, begini rasanya jadi idola?

“ Unnie, what’s wrong with you? You look frightened. ”

Wow. Aku takjub juga. Fangirl berambut coklat yang berdiri tepat disebelahku itu menatapku khawatir. Ternyata dia memperhatikanku sejak tadi. Ini berarti mereka aman untukku dan aku tidak akan mati dalam waktu cepat. Ternyata fangirl itu tidak seburuk yang aku bayangkan.

Tapi, aku kira aku akan dikira sombong karena tidak membalas sapaan mereka pada awalnya. Padahal aku sudah siap-siap untuk membaca sumpah atau kritik atasku nanti di internet.

Yah, bukan salahku kan kalau aku paranoid karena trauma masalalu?

Aku tersenyum salah tingkah, fangirl lain juga menatapku ingin tahu, “ I’m just a little trauma. I’m sorry if I look arrogant to you all. I didn’t mean it, really. ” ucapku menyesal.

“ Oh, ” Ucap mereka serentak, “ Someone ever treated you badly, right? ” Tanya seorang fans lain dengan rambut merah menyala yang keren menurutku.

“ Not as bad as you imagine, ” Aku tersenyum pada mereka, “ Maybe I’m just not used to it. ”

“ You are a good girl, unnie. We know it for sure now. ”

“ Mrs. Kim? ”

Aku menoleh saat mendengar panggilan aneh itu. Dua orang bule berpakaian serba hitam seperti kru Myungsoo lain yang pernah aku liat itu menghampiriku sambil berlari kecil. Wajahnya tampak lelah habis berlarian kesana kemari.

Jadi, Mrs. Kim itu aku, ya?

“ Mr. Myungsoo told us to guide you to your seat. Please, go in with us. ”

Aku hanya mengangguk kecil pada mereka, lalu beralih kembali menatap para fangirl itu sambil tersenyum, “ See you later, guys. ”

Ternyata, aku diantar melalui pintu khusus yang tidak perlu antri bahkan tanpa mengeluarkan tiket. Setelah berjalan cukup jauh dari pintu dan melalui beberapa lorong gelap penuh liku yang membingungkan, aku sampai pada kursi dengan tulisan reserved di punggungnya dan duduk dengan tenang disana. Akhirnya kakiku bisa beristirahat.

Aku mengedarkan pandanganku, kursi di kiri kananku masih kosong. Para fans yang sudah memasuki ruangan tampak sibuk dengan segala urusan mereka. Mulai dari kamera, banner, jeritan dan lain-lainnya yang aku tidak mengerti. Kacamataku masih bertengger ditempatnya. Mungkin aku akan melepaskannya setelah ruangan ini gelap dan konser benar-benar dimulai untuk berjaga-jaga.

Dan aku baru sadar. Ternyata aku duduk di barisan paling depan tengah, tepat menghadap panggung depan.

Kepalaku menunduk agak dalam untuk mencari ponsel didalam tasku dan mengeceknya saat beberapa fans berjalan kearahku untuk mencari kursi mereka. Ada pesan dari Myungsoo.

Sudah duduk ditempatmu? Kalau sudah konsernya akan mulai.

Aku mengetikkan kata sudah dan mengirimnya. Lalu dalam hitungan detik, semua lampu telah mati dan hanya tersisa lampu yang menyorot panggung. Aku melirik jam. Padahal masih 2 menit lagi menuju jam 07.10, tapi konser sudah dimulai.

Apa karena pesanku, ya?

“ Hai, unnie! ”

Mendengar suara yang sangat familiar bagiku itu, aku langsung membuka kacamata dan menoleh ke sebelah kiriku. Dan benar, sesuai dengan perkiraanku, “ Jiyoung! Bagaimana bisa kau disini? Mana ummamu? ” Tanyaku panik.

Dia terkekeh, “ Tenang, tenang. Umma tau aku disini. Umma yang memberikan izin makanya aku pergi. ”

Aku menatapnya tak percaya, “ Mana mungkin. ”

“ Serius, ” Jawabnya dengan wajahnya berbinar, “ Yang jelas Myungsoo oppa yang mengundangku secara langsung kesini. Alasannya biar unnie ada teman. Awalnya umma memang marah-marah, tapi ternyata Myungsoo oppa yang super ganteng itu bisa meredam singa yang mengamuk! ”

“ Heh, itukan ummamu, bukan singa. ” Jawabku lalu berdecak, “ Siapa yang mengantarmu? ”

“ Ssh, jangan berisik un. Konsernya sudah dimulai. ” Balasnya tak nyambung.

Mulutku terbuka lebar melihat kelakuan kurang ajarnya, lalu beralih menatap panggung.

Oh, benar saja. Myungsoo telah berdiri ditengah panggung dan mata kami langsung bertemu. Ia tersenyum sekilas padaku. Mungkin padaku, aku juga tidak tahu.

Dan begitulah konser pertama yang aku tonton dalam seumur hidupku dan mungkin akan menjadi konser terkeren yang pernah aku tonton. Konser dibuka dengan sejenis lagu ballad yang langsung aku sukai saat pertama kali mendengarnya—mungkin aku harus mendownload semua lagu Myungsoo dulu sebelum menonton konsernya tadi— lalu dilanjutkan dengan lagu beat yang membuatku terperangah.

Myungsoo ternyata bisa ngerap!

Selain itu, aku juga cukup kaget dengan respon yang diberikan para fans disini. Mereka memang berisik seperti perkiraanku, tapi tidak setiap saat. Dibeberapa lagu yang dinyanyikan Myungsoo, seperti lagu bergenre ballad dan sejenisnya, mereka semua benar-benar diam tanpa suara sedikitpun. Tapi selebihnya, misalnya disaat Myungsoo dance dan beberapa perform dimana Hoya oppa dan Sungjong juga ikut berlarian mengeliling panggung yang sangat besar sambil sesekali menyapa fans, para fans itupun berteriak dengan histerisnya hingga telingaku berdengung. Jiyoung bahkan tidak lebih baik, ia berteriak histeris hingga wajahnya merah. Mereka semua benar-benar kompak. Apa mereka sudah janjian, ya? Orang sebanyak ini?!

Dan jangan tanya bagaimana dance Myungsoo. Dia yang terbaik diantara Hoya oppa dan sungjong, menurutku.

Mau bagaimanapun, Myungsoo tetap terkeren. Lagi-lagi, menurutku.

Awalnya aku memang agak terganggu dengan kebisingan disana-sini, mengingat aku yang suka dengan kesunyian. Tapi lama-lama, aku pikir menonton konser tidak buruk juga. Aku mulai bisa merasakan sedikit demi sedikit euforia yang mungkin dirasakan seisi gedung ini. jantungku bahkan berdetak tidak karuan sepanjang acara. Mataku terlalu fokus pada Myungsoo yang terlihat super sexy—apalagi dengan keringatnya saat dance dan berlarian, benar-benar ugh!—tanpa sempat melihat kearah yang lain. Aku juga ikut tertawa saat melihat tingkah-tingkah konyol Myungsoo bersama yang lainnya.

Pokoknya, aku harus nonton konser Myungsoo lagi!

Sekarang, semua lampu dimatikan, tidak ada cahaya sedikitpun. Bahkan aku tidak bisa melihat jam tanganku untuk memastikan jam berapa sekarang. Membuatku sedikit ngeri juga, apa ini sengaja atau terjadi sesuatu? bagaimana kalau disebelahku mendadak ada…

Oh, tidak. Tidak mungkin.

“ Jiyoung, ” akhirnya aku membuka suara, “ Kenapa semuanya gelap? ”

“ Aku juga tidak tahu, un. ” Itu suara Jiyoung, syukurlah.

Aku menunggu. Mungkin mereka sedang persiapan untuk lagu penutupan atau ada surprise lain untuk penonton.

Lalu mendadak satu-satunya sorotan cahaya mendadak hidup dan mengarah ke atas panggung. Cahaya itu juga sedikit-sedikit terarah padaku karena aku duduk ditengah barisan paling depan. Disana, tepat ditengah panggung yang paling dekat dengan kursiku, Myungsoo sudah duduk diatas bangku dengan gitar ditangannya. Ia memakai kemeja putih dengan lengan yang sudah digulung setengah, membuatnya terlihat sangat tampan dimataku.

Myungsoo menunduk, mulai memainkan gitarnya dengan nada yang terasa familiar ditelingaku. Aku agak terkejut juga, selain piano ternyata Myungsoo juga bisa main gitar. Apa lagi yang dia bisa, ya?

Dan mendadak lagi, Myungsoo mengangkat kepalanya dan tersenyum lembut kepadaku, “ You look so wonderful in your dress, ”

Kali ini aku yakin. Sangat-sangat yakin, Myungsoo benar-benar menatapku dan tersenyum kepadaku saat mulai menyanyikan lagu itu.

“ I love your hair like that. ” Masih dengan senyum yang sama, ia memiringkan kepalanya, seolah bicara padaku, “ The way it falls on the side of your neck. Down your shoulders and back. ”

Ya tuhan, apa lagi ini? apa yang harus aku lakukan sekarang?

We are surrounded by all of these lies
And people who talk too much
You got the kind of look in your eyes
As if no one knows anything but us

Entah bagaimana ekspresiku saat ini, padahal beberapa mata disampingku tengah menatapku dengan tatapan penuh rasa iri. Yang jelas, mataku hanya terpaku pada matanya yang juga balas menatapku dengan begitu lembut, tanpa takut akan kemungkinan-kemungkinan bahwa aku akan diserang oleh seisi gedung ini.

kali ini wajah Myungsoo berubah serius saat menatapku, “ Should this be the last thing I see. I want you to know it’s enough for me. Cause all that you are is all that I’ll ever need. ”

jeda, ia pun kembali tersenyum dan memetik gitarnya kembali, “ I’m so in love, so in love. So in love, so in love. ”

You look so beautiful in this light
Your silhouette over me
The way it brings out the blue in your eyes
Is the Tenerife Sea

And all of the voices surrounding us here
They just fade out when you take a breath
Just say the word and I will disappear
Into the wilderness

Should this be the last thing I see
I want you to know it’s enough for me
‘Cause all that you are is all that I’ll ever need

I’m so in love, so in love
So in love, so in love

Lalu mendadak semua gelap. Bukan, aku bukannya pingsan. Aku masih sadar tapi satu-satunya lampu yang hidup tadi telah mati dan menghilangkan Myungsoo dari hadapanku. Rasa kehilanganpun entah kenapa merayapi jantungku.

Aku ingin dia kembali.

“ Lumière, darling. Lumière over me. ”

itu suara Myungsoo. Suaranya masih ada, tapi kemana dia?

Suara yang sama dengan lirik yang sama kembali masuk ketelingaku untuk yang kedua kalinya. Aku menoleh kekiri saat merasakan ada sebuah cahaya yang hidup dari arah itu, ternyata Myungsoo sudah setengah jalan menuju kearahku. Ia tersenyum saat tau bahwa aku telah menyadari kehadirannya. Aku menatapnya agak cemas. Ia berjalan kearahku sendirian, tanpa pengawal atau apapun seolah tidak takut akan ada kericuhan yang ia timbulkan.

Dan ajaibnya, memang tidak ada.

Ia mengulang lirik itu untuk ketiga kalinya. Jaraknya denganku sudah cukup dekat namun kakiku tidak bergerak untuk mendekatinya padahal aku sangat ingin. Rasanya seluruh tubuhku lemas dan aku tak sanggup untuk melakukan apapun.

Jadi satu-satunya yang mampu aku lakukan saat ini adalah menatapnya.

Suara musik memelan, Myungsoo telah sampai dihadapanku. Ia menumpukan tubuhnya dengan lutut dan sebelah kakinya, seperti para pangeran dalam dongeng kesukaanku dulu. Ia meraih tangan kananku dan tersenyum padaku, senyum yang entah sejak kapan menjadi favoriteku, ” Should this be the last thing I see? I want you to know it’s enough for me. ‘Cause all that you are is all that I’ll ever need. ”

Dan tanpa bisa kutahan, aku menjatuhkan tubuhku padanya. Kedua tanganku telah melingkar erat di tubuhnya, kepalaku menempel erat pada lehernya. Reaksi tubuhnya tampak terkejut sesaat, namun beberapa detik kemudian ia balas memelukku lebih erat. Disaat yang bersamaan, aku tertawa dan terisak, “ I’m so in love, so in love. So in love, love, love, love. So in love. ”

You look so wonderful in your dress
I love your hair like that
And in a moment I knew you, Jiy.

*****

PADA BAPER GAK?!

Aku yang nulis aja baper sampe pengen nangis. Duh pengen juga dinyanyiin kayak gitukan.

Sorry for typos dan kekurangan lainnya. Ini aku post tanpa baca ulang apalagi perbaikan. Sebenarnya chapter ini harusnya lebih panjang, tapi aku potong karena takut pada bosan baca panjang-panjang.

Aku juga bakal lama update soalnya aku udah mau tamat dan pasti tau dong sibuknya gimana. Buat ini aja aku sampai ketetera

n gak buat tugas. Ide-idenya juga mulai stuck. Kemarin aku buat beberapa draft untuk chapter ini dan setelah aku fikir-fikir, yang ini paling bagus makanya aku lanjutin yang ini aja. Semoga kalian suka sama kayak aku yang suka sama chapter ini hihi

Kalau gak tau itu lagunya apa, coba aja cari lagu Tenerife sea-nya Ed sheeran.

Thank you for reading.

Celebrity Wedding (Chapter 10: New life)

celebrity wedding copyTitle : Celebrity Wedding

Main Cast :

Kim Myungsoo
Park Jiyeon

Genre : Marriage life, Romance, Humor

Type : Chaptered

Myungsoo’s Side

“ Apa kegiatanmu hari ini? ”

Kepalaku terangkat dari layar ponsel, menatap Jiyeon yang tengah sibuk mengoleskan selai coklat pada roti sebagai sarapan kami. Penampilannya telah rapi dengan rok span selutut, kemeja dan blazer. Tidak seperti biasanya yang memakai dress santai atau bahkan celana jeans. Tapi selalu sama dengan keadaanku yang begitu berbanding terbalik—masih dengan muka kusut khas orang baru bangun tidur, celana pendek dan baju kaus—Maklum saja, aku selalu tidur jam 3 pagi dan Jiyeon sudah sangat hafal dengan kebiasaanku ini.

“ Tidak banyak. Biar aku saja yang mengantarmu hari ini. ” Jawabku sambil meraih roti yang telah ia letakkan diatas piringku.

Sebelah alis Jiyeon terangkat, “ Aku tidak mau diantar dengan penampilan gembelmu. Sudah aku bilang beratus kalikan. ”

“ Sudah seratus kali juga aku bilang, aku tetap tampan walaupun baru bangun tidur. Kau tidak bisa lihat, ya? ”

Jiyeon memutar matanya. Respon yang sama setiap aku mengatakan kebenaran yang masih belum juga diakuinya. Ia melirik jam tangan, “ Okay, terserah saja. Aku harus datang cepat hari ini. jadi cepatlah habiskan sarapanmu dan ganti baju. ”

Aku mengangkat tanganku diatas kepala dengan gerakan hormat, “ Sudah ganti seragam, ya? Kau tampak lebih tua 7 tahun. ”

Mata Jiyeon langsung terbelalak, menatapku seperti sedang melihat tuyul hijau. Ia langsung memperhatikan penampilannya, “ Yang benar? Kau pasti bercanda. ”

Aku memasang wajah seserius mungkin, tatapanku datar tanpa ekspresi padahal yang aku inginkan adalah tertawa melihat tampang paniknya, “ Aku serius. ”

Dahinya langsung berkerut seperti sedang berfikir keras. Ia menggigit jari-jarinya, kebiasaan yang baru beberapa hari ini aku perhatikan saat ia sedang berfikir terlalu keras. Wajahnya menunjukkan wajah panik luar biasa. Aku tertawa dalam hati. Rupanya dia bisa juga tampak bodoh dihadapanku, aku kira dia terlalu pintar hingga omongan bodohku selalu dianggapnya angin lalu. Rupanya tuduhan ‘tampak lebih tua’ sangat berefek padanya. Mungkin lain kali aku akan mengatakan, kau gendutan?

Diam-diam, aku tersenyum menatapnya. Dia begitu apa adanya.

Mendadak jari-jari Jiyeon terlepas dari gigitannya. Kepalanya terangkat untuk menatapku, membuatku cepat-cepat memasang wajah sedatar mungkin sambil menikmati roti selai-ku.

“ Yasudahlah, sehari saja tidak apa-apa. Lagipula aku bisa memakai pakaian biasaku lagi besok. ” Ucapnya dengan nada final.

“ Kenapa tidak ganti saja? ”

Dia menggeleng tegas, “ Hari ini aku ada pertemuan penting dengan beberapa desaigner dari New York. Kami akan membahas tentang acara Spring/Summer all collection 2015 yang akan menampilkan hampir seluruh koleksi dari berbagai perusahaan fashion dunia. ”

“ Dikantormu? ”

Jiyeon bergumam, lalu melanjutkan acara makannya. Aku mengangguk mengerti lalu bangkit berdiri, “ Kalau begitu aku ganti baju sebentar. Kau bisa menunggu didepan setelah makan. ”

Aku bergegas ke kamarku dan mengganti pakaianku menjadi pakaian yang lebih layak. Sudah dua bulan pernikahan kami berlangsung dan semuanya berjalan baik. Tidak ada masalah berarti yang hadir dalam ‘rumah tangga’ kami. Hanya pertengkaran atau perdebatan kecil yang sama sekali tidak berarti untuk hubungan kami. Jiyeon adalah wanita yang dewasa, sehingga pertengkaran itu tidak akan berlangsung lama dengan acara ngambek atau mogok bicara.

Beberapa kali, kami bahkan melakukan aktivitas bersama. Seperti dia yang menghadiri acara fan meeting dan konferensi pers tentang konfirmasi atas kelangsungan world tour-ku yang dipercepat—dengan sedikit paksaan tentu saja—dan juga project photoshoot dari beberapa majalah terkenal di korea dengan berbagai macam pose tentunya. Mulai dari tema santai, formal hingga dengan pakaian pernikahan yang membuat foto itu tampak sebagai foto “ pasca-wedding ”—kalau saja istilah itu ada—bagi kami. Namun Jiyeon masih menolak beberapa majalah yang ingin membahas lebih detail tentang kehidupan pribadinya dan juga beberapa variety show yang ditawarkan untuk kami berdua.

Tapi menurutku, itu tidak masalah. Aku mengerti dia tidak suka perhatian media.

Semenjak menikah, ada beberapa bagian dari hidupku yang berubah dan aku suka perubahan itu. Misalnya seperti kebiasaan mengantarnya jika tidak sibuk, sarapan bersama, pulang sebelum pukul 7, harus memberi kabar jika pulang terlambat, nonton film bersama tiap malam minggu atau jalan-jalan—yang ini jarang karena Jiyeon tidak suka mengambil resiko—makan malam bersama dan beberapa hal kecil lainnya. Beberapa perubahan itu memang permintaan Jiyeon seperti makan pagi dan malam bersama, namun selebihnya adalah kesadaranku sendiri.

Rasanya lucu.

Ada perasaan aneh saat menyadari ada orang yang menungguku dirumah, selain umma tentu saja. Umma juga telah memutuskan untuk pindah ke rumah kami yang lama di Busan karena merasa sesak tinggal di kota dan membutuhkan suasana penuh ketenangan. Aku benar-benar tidak menyangka akan merasakan terikat dalam komitmen dalam jangka waktu secepat ini, dan ternyata rasanya tidak buruk.

Mungkin aku bisa menikmati ini tanpa merasakan beban apapun seperti bayanganku sebelumnya.

Aku berlari kecil menuju mobil yang biasa aku gunakan dan menemukan Jiyeon telah duduk diatas kap mobil menungguku. Sebenarnya dia tetap tampak luar biasa dengan setelan seperti itu, tapi apa boleh buat.

Menganggunya adalah hobi baruku.

*****

Aku bersiul pelan sambil memutar-mutar pensil ditanganku. Aku sedang mendengarkan diskusi antara Howon-hyung, manager-hyung, Sungjong dan beberapa kru penting lain tanpa minat untuk ikut memberikan saran dan hanya mengangguk sesekali ketika ditanya apa aku setuju atau tidak tanpa mendengarnya lebih jelas. Manager-hyung pasti tau apa yang baik dan buruk untukku jadi aku tak perlu cemas.

Ingatanku kembali pada kejadian di mobil saat lagi-lagi aku menganggu Jiyeon yang membuatnya mengamuk besar hingga menggedor-gedor pintu mobilku dan berteriak histeris seolah akan ada yang akan mendengar.

Padahal aku cuman menyuruhnya mencium pipiku sebagai ucapan terimakasih.

Dia lalu menatapku jijik hingga aku terpaksa mengancamnya dengan mengunci pintu dan akan membukanya jika ia melakukan apa yang aku suruh. Awalnya ia memang tidak perduli dan mengira aku akan menyerah lalu membuka kuncinya dengan sendirinya.

Tapi bukan Myungsoo namanya jika menyerah.

Aku menyibukkan diri dengan ponsel sambil bernyanyi kecil hingga hampir setengah jam. Jiyeonpun memaksaku dengan brutal dengan berusaha membuka kunci pintu mobil sendiri yang jelas sangat mustahil, memukul-mukul tubuhku, kaca mobil dan berteriak seperti orang gila. Membuatku tertawa terbahak-bahak dengan tingkahnya yang percuma itu. Aku tetap tidak menyerah.

Dan dialah yang menyerah. Dia menarik nafas berat, mencium pipiku dan aku merasa menang. Saat itu aku langsung terbahak dan saat aku membuka kuncinya, ia bersumpah tidak akan mau lagi pergi denganku dan membanting pintu mobil sekuat tenaga.

Ugh. Bibirnya menyentuh pipiku. Untuk pertama kalinya.

Sebenarnya aku juga bingung dengan kelakuanku sendiri. Keinginan mendadak itu benar-benar diluar kendaliku. Bahkan bibirku berbicara sendiri. Karena sudah terlanjur, aku melanjutkan saja rencanaku. rasanya, apapun yang berhubungan dengan Jiyeon benar-benar diluar akal sehat. Bahkan sejak awal aku bertemu dengannya, rasa tertarikku sudah bisa dibilang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin, aku, Kim Myungsoo, bisa tertarik sejak melihat seorang wanita di detik pertama?

“ Kami semua tau kau baru menikah, tapi harus kau tersenyum seperti orang gila tanpa henti? Kau membuatku ilfeel. ”

Komentar Howon-hyung menyadarkanku dari ingatan pagi yang menyenangkan itu, membuat semua mata tertuju padaku. Aku mendengus, “ Siapa yang perduli kau ilfeel atau tidak padaku. ”

“ Ya, aku memang bukan Jiyeon. Makanya kau tidak perduli. ”

“ Memangnya salah kalau memikirkan Jiyeon? Makanya jangan jomblo te… ”

“ Stop. ”

Suara dingin dari Manager hyung menginterupsi ucapanku. Howon-hyung menjulurkan lidahnya untuk mengejekku. Kelakuan yang kekanakan mengingat umurnya yang nyaris kepala tiga. Dasar tidak tau diri.

“ Baiklah, kalau begitu semuanya sudah setuju. ” Putus kepala kru kami, aku menatapnya dengan alis terangkat, “ Kita akan berangkat ke New York dalam waktu dekat untuk mengontrol dan mempersiapkan konser. ”

Tourku sudah 99% rampung. Kami memang mempercepat konser beberapa bulan karena banyak alasan dan itu sempat membuat Jiyeon kalang kabut hingga harus lembur selama beberapa hari yang membuatku kasihan, tapi untungnya Jiyeon orang yang sigap dan telaten. Untuk konser kami kali ini memang sudah sepakat sejak awal untuk memulai konser di New York untuk tahun ini karena sejak 2 tahun yang lalu konser pembukaan selalu di Korea. Mungkin seperti mencari suasana baru? Lagipula fans disana tidak kalah juga dengan yang di Korea.

Tapi, tunggu.

Kita? Memang aku setuju untuk ikut berangkat ke New York? Aku kan pergi sehari sebelum konser dimulai.

“ Kecuali aku, kan? ” Tanyaku langsung.

Seisi ruangan langsung menatapku dengan dahi berkerut, “ Bukannya kau sudah setuju untuk ikut? ” Tanya kepala kru heran.

Aku meringis. Mungkin tanpa sadar aku telah mengangguk untuk menyetujui keikutsertaanku ke sana padahal aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Ugh. Menyesal juga aku kenapa langsung mengangguk begitu saja tanpa tahu apa yang mereka tanyakan. Aku kan belum ingin meninggalkan Jiyeon sendirian..

Maksudku. Kami kan baru menikah?

Tapi mana mungkin aku menolak lagi. Manager-hyung akan mendampratku habis-habiskan kalau begitu. Bagaimanapun, manager-hyung itu memang menyeramkan sekalipun dengan bosnya. Apa aku harus mengajak Jiyeon juga ya? Memang dia mau? Dia kan sedang sibuk disini.

Yah, tak ada salahnya mencoba.

Jadi aku datang ke kantornya lebih awal dari jadwal ia bisa pulang tanpa sepengetahuannya. Aku bersiul-siul kecil sepanjang jalan, sambil sesekali tersenyum pada pegawai Jiyeon yang menyapaku dengan wajah mupeng. Mereka tetap saja memasang wajah seperti baru pertama kali melihatku padahal aku sudah lumayan sering berkeliaran di sini. Heran juga. Harusnya mereka terbiasa melihat wajah tampanku.

Sebenarnya aku nyaris datang ke sini setiap hari disaat jadwalku tidak padat. Selain mengganggunya, hobi baruku adalah melihat ekspresi seriusnya saat mencoret-coret kertas. Mulai dari kebiasaannya menempelkan pensil di bibirnya, dahinya yang berkerut, bibirnya yang terkadang mengerucut, semuanya terlihat menggemaskan untukku.

Kebiasaan-kebiasaannya saat berfikir keras mengingatkanku pada seseorang yang aku rindukan.

Aku tersenyum kecil pada asisten Jiyeon yang duduk didepan ruangnya yang terletak dilantai 3, belakangan aku mengetahui namanya Krystal Jung, “ Jiyeon di dalam? ”

Wanita yang masih melongo menatapku itu langsung tersadar lalu berusaha tersenyum seformal mungkin padahal wajahnya sudah merah padam, “ Ya, silahkan masuk, tuan. ”

Lagi, aku tersenyum dan menggumamkan terimakasih lalu berjalan menuju pintu, meninggalkan wanita itu yang bergumam oh my god berulang-ulang kali. Aku membuka pintu tanpa mengetuknya, dan menemukan Jiyeon dan Hyomin nuna sedang sibuk berdiskusi di sofa. Mendengar derap langkahku, keduanya langsung menatapku. Aku meringis, “ Aku menganggu, ya? ”

“ Selalu, ” Gumam Jiyeon jutek.

“ Tidak juga, kami juga sudah selesai. ” Ucap Hyomin nuna bersamaan dengan gumaman Jiyeon.

Tanpa dipersilahkan aku duduk di sebelah Jiyeon dan tersenyum lebar, “ Nuna apa kabar? Lama gak keliatan jadi kangen. ”

Sebuah tangan mendarat di kepalaku dengan mulus, aku langsung mengaduh. Pukulan Jiyeon oke juga rasanya. Bukan pukulan mesra sama sekali, rasanya bahkan lebih sakit daripada pukulan Howon-hyung,

“ Kenapa sih? ” Tanyaku gusar.

Jiyeon mendengus, “ Jangan ganggu istri orang. ”

“ Bilang aja cemburu. ”

Hening sesaat. Aku menoleh dan mendapati Jiyeon sedang melongo menatapku takjub.

“ Please, ingat umur kalian. Jangan pacaran dengan gaya anak SMA. ” Ucap hyomin nuna memecah keheningan yang disebabkan Jiyeon.

Aku terkekeh, “ Tidak apa. Kalau perlu mulai pacaran dengan gaya SD oke juga, kan? ”

Hyomin nuna tertawa, “ Terserah saja, aku mau pulang. ”

Hyomin nuna berdiri dan mengumpulkan kertas-kertas dihadapannya lalu membawanya bersama tas jinjingnya. Aku ikut berdiri dan mengantarnya sampai pintu sementara Jiyeon tetap duduk ditempatnya.

“ Jiyeon, aku pulang dulu. Jangan lupa bicarakan itu dengan Myungsoo. ” Pesan Hyomin nuna saat hampir mencapai pintu, membuat dahiku berkerut penasaran, “ Myungsoo, jangan bermain api kalau tidak ingin terbakar. Bye. ”

Belum sempat aku bertanya apa yang dimaksud dengan main api, Hyomin nuna sudah menutup pintu dan meninggalkan kami berdua. Dahiku makin berkerut. Main api? Memangnya main api seperti apa yang dimaksud Hyomin nuna?

Aku langsung berbalik badan dan menemukan Jiyeon sedang menatap pintu dengan pandangan yang sulit diartikan. Mungkin dia mengerti apa yang dimaksud main api?

“ Main api maksudnya apa? ” Tanyaku langsung.

Jiyeon tersentak, lalu menggeleng cepat, membuatku semakin curiga, “ Gak tau. ”

Dahiku mengerut lalu mengangkat bahu. Mungkin itu masalah wanita yang aku tidak perlu tau. Aku kembali ketempat dudukku semula sambil memperhatikan Jiyeon yang sedang melamun memikirkan sesuatu, “ Jadi apa yang harus kau bicarakan? ”

“ Oh itu, ” Gumam Jiyeon, dahinya mengernyit, “ Aku akan ke New York seminggu lagi untuk acara fashion show yang aku ceritakan tadi pagi, Is it okay? ”

“ Kebetulan sekali! ” Ucapku histeris. Jiyeon memundurkan tubuhnya saat melihat gerakan tiba-tibaku yang seperti ingin menerkamnya, “ Anggap saja kita honeymoon? ”

“ Honeymoon? ”

Aku mengangguk antusias, “ Seminggu lagi aku dan beberapa Kru akan ke New York untuk mengontrol langsung persiapan konser pembukaan disana. Kau bisa berangkat bersama kami dengan pesawatku. ”

Jiyeon mengangguk-angguk paham, tidak ada ekspresi bahagia berlebihan sepertiku diwajahnya. Oke, aku kecewa juga, “ Bagus kalau gitu. Aku bersama Hyomin unnie dan Krystal ikut denganmu. ”

Jiyeon’s Side

Jadi disinilah kami semua, didalam pesawat pribadi Myungsoo. Terdengar kasak-kusuk para Kru dan sesekali suara tawa Hyomin unnie dan Krystal ikut terdengar. Aku hanya menggeleng-geleng heran dengan kelakuan mereka yang berisik di dalam pesawat, sedangkan Myungsoo yang duduk dihadapanku sudah sibuk dengan buku, pena dan kacamatanya.

Jangan tanya padaku bagaimana seksinya dia sekarang.

Selama ini, aku menyangka tidak akan ada pria yang cocok dengan kaca mata baca. Dan sekarang, aku akui aku salah besar. Myungsoo benar-benar terlihat menggiurkan dengan kacamata itu. Air liurku bahkan sudah akan menetes kalau saja aku tidak menahan bibirku agar tetap terkatup sempurna.

“ Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku kehilangan konsentrasi. ”

Tanpa sadar aku meringis. Sialnya aku ketahuan. Untungnya di kabin ini hanya ada aku dan Myungsoo. Mereka semua sepakat untuk memberikan ruang pribadi padaku dan Myungsoo setelah menggoda kami dengan senyum aneh. Salahkan saja Myungsoo yang mengedipkan matanya menanggapi tuduhan mereka.

Oh, god, aku kan masih ting-ting. Lagipula melakukan ‘sesuatu’ dipesawat sangat-sangat tidak masuk akal bagiku.

“ Kau terlihat berbeda. ” Gumamku jujur.

Ia mengangkat kepalanya dan menatapku lurus, alisnya terangkat bingung, “ Beda? ”

Aku mengangguk, “ Dengan kacamata. Aku baru pertama kali melihatnya. ”

Myungsoo terkekeh. Ia menutup bukunya dan fokus menatapku sekarang, ia lalu tersenyum miring, “ Lebih seksi? ”

  1. MYUNGSOO. YA. BOLEHKAH AKU JUJUR SEKARANG?

Aku mengatur ekspresiku agar tidak kelihatan seperti habis tertuduh mencuri. Bagaimana bisa Myungsoo selalu menebak isi kepalaku dengan tepat seperti peramal, “ Bisa tidak kau sehari saja tidak memuji dirimu? ”

Dahinya mengernyit, “ Bukannya kau baru mengatakan iya? ”

Tatapanku langsung berubah horror. Yang benar? Apa aku baru saja keceplosan? Oh oh. Jangan sampai aku benar-benar habis menjerit sambil berteriak ya. Dimana aku harus letakkan mukaku didepannya? Mana bisa begini! Mana bisa aku ketahuan secepat ini. dia bisa besar kepala.

“ Seriously? ” suaraku terdengar seperti suara burung mencicit karena kejepit.

“ No. tapi sekarang aku tau, aku benar. ”

Setelah mengatakan itu Myungsoo langsung tertawa terbahak-bahak sambil sesekali memegangi perutnya yang sebentar lagi akan kram karena terlalu banyak tertawa. Ya, dan aku sangat menantikan moment itu.

Tanganku langsung melempar bantal-bantal yang ada disekitarku, namun ia bahkan tak mengurangi atau bahkan terganggu dengan bantalku itu. Ia tetap saja sibuk menertawaiku walaupun bantal tersebut telah bertubi-tubi mengenai kepalanya.

“ Hentikan, tidak lucu. ” Ketusku.

Myungsoo mengusap airmatanya yang keluar akibat terlalu banyak tertawa. Aku sendiri hanya mendengus dan mengalihkan tatapanku ke jendela pesawat, menatap awan kosong seolah pemandangan itu lebih menarik dari si seksi Myungsoo.

Ew. Menjijikkan.

“ Jangan cemberut begitu. ”

Aku meliriknya sekilas, namun tidak mengacuhkan perintahnya, “ Bukan urusanmu. ”

Lalu mendadak aku merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh bibirku. Hanya menempel beberapa detik, tanpa bergerak, tidak mendesak. Namun kekuatannya sanggup melumpuhkan sekujur saraf tubuhku, membuatku tidak mampu bergerak atau bahkan memproses apapun yang terjadi.

Dia menciumku.

Tepat dibibirku.

Jangan tanya rasanya. Rasanya aku sudah kehilangan akal sehat. Aku lumpuh. Sarafku seperti berhenti menghantarkan kerjanya.

Apa-apaan maksudnya? Kemarin pipiku dan sekarang bibir?

Kepalaku bergerak perlahan, menatapnya dengan kosong. Ia tersenyum ringan, seolah tidak melakukan apa-apa, “ Satu kosong.”

Oh. My. God.

Rasanya aku benar-benar bingung harus melakukan apa. Antara ingin menamparnya karena sembarangan menciumku dan menganggapnya candaan yang lucu atau antara ingin menciumnya lagi karena aku tidak sempat memberikan respon apa-apa.

Otak dan hatiku memang tidak bisa sinkron.

Hingga akhirnya aku hanya sanggup memutar bola mataku dan membuang pandangan darinya. Aku tidak sanggup untuk melakukan apa-apa lagi. Tidak dengan otak dan hatiku yang seperti ingin perang karena perbedaan pendapat.

*****

Double shit.

Disaat aku tidak ingin berada didekatnya dalam radius 3 meter, kami—tepatnya aku—malah terpaksa untuk berada di dalam satu kamar yang sama dan tidur di atas sebuah kasur yang sama berukuran king size.

Benar-benar. Ini adalah kebodohan paling bersejarah yang aku lakukan. Aku tidak memikirkan sebelumnya kalau-kalau kami pergi bersama seperti ini, aku harus tidur sekamar dengannya. Bagaimana bisa otakku yang tolol ini tidak memikirkan kemungkinan itu? Mana bisa aku begini selama seminggu!

Mulutku bahkan tidak sempat melontarkan protes saat kru Myungsoo yang mengurus urusan kamar menyerahkan kunci untuk kami berdua. Dan lucunya, Myungsoo malah tidak terlihat keberatan sama sekali.

Oh, ya. Untuk apa dia merasa keberatan? Dia tidak merasakan apapun saat ciuman itu. Berbeda denganku yang rasanya seperti jantungku meloncat turun dari pesawat, meninggalkan tubuhku dengan rongga jantung yang bolong.

Kenapa bicaraku bisa semengerikan ini?

Mataku melirik Myungsoo yang berdiri dipojok ruangan dengan mata yang fokus dilayar ponsel. Aku menghela nafas, masa bodohlah. Aku butuh tidur untuk menjernihkan otakku. Semoga saja tidak ada ketololan-ketololan lain yang dilakukan otakku kalau aku cukup tidur.

Kakiku melangkah berat menuju tempat tidur setelah meletakkan koper begitu saja. Aku memutuskan akan mengurusnya nanti setelah aku bangun tidur. Aku menghempaskan tubuhku pelan, menelungkupkan wajahku ke bantal dengan kedua tangan disisi kanan dan kiri bantal.

“ Kau sudah mau tidur? Tidak mandi dulu? ”

Suara Myungsoo terdengar sayup-sayup ditelingaku. Aku hanya bergumam, “ Ya.”

“ Kita akan tidur satu kasur? ”

Lagi-lagi aku hanya menggumam.

“ Kau tidak takut padaku? ”

“ Tidak. ” Jawabku malas-malasan.

Setelah itu terdengar bunyi pintu kamar mandi yang digeser, mungkin dia mau mandi. Aku tidak terlalu perduli. Yang terpenting bagiku adalah memejamkan mataku dan membiarkan kegelapan melingkupiku.

Aku terbangun pukul 4 pagi dan langsung bergerak menuju kamar mandi. Tubuhku terasa lengket karena tidak mandi sesampainya disini. Aku mengguyur tubuhku dengan air panas yang menenangkan, sedikit mengigil karena tidak biasanya aku mandi sepagi ini.

Setelah selesai dengan semua urusan mandi, aku menyusun pakaianku ke dalam lemari. Tanpa sengaja melirik koper Myungsoo yang masih tergeletak begitu saja. Aku menghela nafas lagi. Terpaksa aku menyusunnya juga ke dalam lemari. Aku tidak tahan melihat keadaan ruangan yang berantakan lebih dari 1 jam.

Kami akan berada disini selama seminggu sehingga pakaian-pakaian kami harus dipindahkan ke dalam lemari. Tapi jujur saja, aku bingung kenapa kami bisa mendapat ruangan sebagus ini. aku mengerti kalau mereka pasti akan memesan ruangan executive untuk si artis, tapi tidak begini. dan lagi, tidak ada nomor dipintu kamar ini. apa ini ruangan khusus miliknya? Atau hotel ini milik Myungsoo? Terserah saja.

Kakiku melangkah mendekati jendela besar terbuka yang menghadap langsung ke jalanan kota yang masih renggang. Tentu saja, ini masih jam 6 pagi.

Kepalaku kembali dipenuhi dengan acara fashion week yang akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Persiapan acara ini sudah berlangsung berbulan-bulan yang lalu dan aku salah satu orang korea yang ikut berpartisipasi dalam acara yang lebih tepatnya diadakan untuk merayakan peresmian Hudson Yard’s Culture Shed yang akan menjadi lokasi baru untuk ajang fashion, menggantikan Lincoln Center yang sempat berkonflik dengan pemerintah setempat. Sehingga para petinggi fashion di dunia sepakat untuk mengeluarkan koleksi Spring/Summer mereka secara spesial untuk laki-laki ataupun untuk perempuan. Acara fashion week yang biasanya hanya 20 menitpun, kali ini akan diperpanjang karena banyaknya koleksi yang akan ditampilkan. Tentu saja persiapan ini benar-benar harus matang dan sempurna, membuatku cukup sibuk beberapa minggu belakangan.

“ Hey, pagi. ”

Kepalaku menoleh kearah tempat tidur yang berada tepat disisi kananku. Myungsoo tersenyum lebar sambil menahan kepalanya dengan sebelah tangan. Rambutnya terlihat berantakan, wajah khas baru bangun tidur, dan suara seraknya yang luar biasa seksi. Ugh, aku selalu saja terpesona setiap kali melihatnya begini. Walaupun aku sudah melihat pemandangan ini nyaris setiap pagi saat aku membangunkannya untuk sarapan pagi, tetap saja aku tidak kebal. Lagi-lagi aku terjatuh dalam pesonanya.

Cepat-cepat aku menoleh kembali ke jendela, takut pertahananku runtuh, “ Pagi.”

“ Ada apa? ”

Dari ujung mataku, ia terlihat menatapku bingung dengan dahi berkerut. Melihatku yang tidak ada respon, ia mengalihkan tatapannya dan mengedarkan tatapannya ke seluruh ruangan, “ Kau menyusuun koperku? ”

“ Kau keberatan? ”

Dia tekekeh, “ Tidak. Enak juga punya istri, tidak perlu repot susun baju sendiri. ”

Aku hanya diam, tak menanggapi kalimat usilnya seperti biasa. Biar dia tahu bagaimana marahnya aku atas ciuman mendadak itu. Harusnya aku memang sudah melupakannya. Tapi nyatanya tidak bisa.

Dan itu membuatku kesal setengah mati.

Aku berbalik dan berjalan menuju meja rias, tanpa menatap ataupun meliriknya sama sekali. Tak lama kemudian ia berjalan menuju kamar mandi setelah mendengus kesal.

Dia pantas untuk bingung. Karena akupun tidak tahu apa yang membuatku seperti ini.

Myungsoo’s Side

Saat aku keluar dari kamar mandi, aku sudah tidak menemukan Jiyeon dimanapun. Tas tangannya yang terletak di atas meja rias juga sudah tidak terlihat. Mungkin dia sudah keluar.

Tanpa izinku, eh?

Seharusnya memang tanpa izin. Selama ini aku selalu membebaskan wanita manapun yang berhubungan denganku. Dengan siapa ia pergi, kemana ia pergi aku sama sekali tidak ingin tau. Aku tidak pernah mewajibkan mereka untuk melaporkan aktivitas mereka dalam bentuk apapun.

Tapi ini berbeda. Dia Jiyeon dan dia istriku. Aku terlalu terbiasa dengan peraturan tak tertulis diantara kami seperti harus izin sebelum berpergian kemanapun. Padahal ini baru berjalan dua bulan.

Tanpa sadar aku menggeram kesal dengan sikapnya yang seenaknya saja. Kalau dia memang sedang datang bulan atau apapun itu masalah para wanita yang tidak aku mengerti, bukan berarti dia tidak harus izin pergi denganku. Aku terima saja dicuekin, walaupun aku masih tidak mengerti.

Memang apa hubungannya datang bulan dengan marah?

Tapi bukan berarti dia harus melanggar perjanjian tidak tertulis yang kami buat. bukan salahku dia datang bulan, kenapa harus aku yang dimarahkan.

Jadilah hari itu aku pergi dengan muka ditekuk badmood sejak pagi. Para kru yang melihat wajah uring-uringanku sama sekali tidak berani bertanya padaku. Bahkan pertanyaan Howon-hyung saja hanya aku balas dengan muka jutek.

Pagi ini setelah sarapan usai—sarapan sendirian pertamaku semenjak menikah—kami memutuskan untuk berlatih sedangkan beberapa kru akan turun langsung ke Madison Square Garden untuk mengecek keadaan lapangan. Sungjong berkali-kali telah melirik takut-takut kearahku, sedangkan Howon-hyung berusaha tampak tidak ingin tahu sama sekali saat aku berkali-kali mengecek ponselku. Berharap ada kabar dari Jiyeon.

Namun nihil.

Akhirnya aku membanting ponselku asal, lalu kembali melanjutkan latihan kami tanpa jeda untuk minum atau meluruskan kaki walaupun kami sudah mengulang-ngulangnya berkali-kali. Mungkin dengan kegiatan seperti ini aku bisa berhenti memikirkan kemarahanku pada Jiyeon.

“ Hyung… ” Suara Sungjong mencicit pelan, aku meliriknya melalui kaca dihdapan kami, “ Capek. ”

“ Tidak ada istirahat sampai aku menyuruh berhenti. ” Tegasku tanpa ampun.

Howon-hyung memandang Sungjong kasian namun tidak bisa melakukan apa-apa. Semua orang tau bagaimana aku jika marah. Tidak ada yang bisa membantah atau tanganku akan melayang ke wajah mereka. Dan tahukah kau, Park Jiyeon, ini semua karenamu. Salahmu hingga mereka semua kena impasnya.

Berulang kali mataku jatuh pada ponsel yang sengaja aku biarkan tergeletak disekitarku agar tetap terlihat jika ada notifikasi yang masuk, namun nihil. Nama Jiyeon sama sekali tidak aku temukan disana. Padahal ini sudah nyaris jam 6 sore dan dia sama sekali tidak memberi kabar.

Tanpa sadar aku menggeram kesal, “ Latihan selesai. ”

Setelah mengatakan itu aku meraih barang-barangku dan pergi setelah membanting pintu sialan itu tanpa sengaja. Mungkin ada baiknya jika aku pulang ke hotel dan meminta penjelasannya daripada marah dengan tidak wajar seperti ini. mungkin saja dia sudah pulang dan moodnya membaik. Ya, mungkin saja.

Jadi aku melajukan mobilku secepat yang aku bisa walaupun keadaan jalan New York yang agak padat di jam-jam pulang kantor seperti ini, membuatku berkali-kali harus mengumpat muak ketika ada pengendara lain yang menghalangi jalanku. Rasanya aku tidak sabar untuk bertemu Jiyeon, ntah kenapa.

Begitu sampai didepan hotel, aku melempar kunci mobilku kepada valet kemudian langsung berlari menuju lift, menekan tombol ke kamarku dan menunggu dengan tidak sabar. Dia pasti sudah pulang. Jiyeon selalu pulang jam 3 atau jam 5 paling lama. Walaupun dia sibuk, ia selalu membawa pekerjaannya untuk dikerjakan dirumah.

Aku mendekatkan kartu ke panel yang ada di pintu. Setelah mendengar bunyi bip, pintu langsung terbuka kecil. Aku mendorong pintunya tak sabar. Mataku bergerak liar, memperhatikan setiap sudut ruangan. Ruangan tampak bersih dan gelap. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa Jiyeon sudah pulang.

Aku menghela nafas berat, baru sadar bahwa adrenalinku sudah terpacu sejak tadi. Mungkin lebih baik aku mandi, lalu menunggunya pulang di sofa tengah. Aku butuh air dingin mengguyur tubuhku agar aku lebih tenang dan dapat memikirkan tindakan yang harus aku lakukan. Aku tidak boleh meledak-ledak didepan Jiyeon. Bisa-bisa dia kabur dariku.

Setelah mandi, aku membuat teh panas untuk untuk menemaniku menonton tv selagi menunggu Jiyeon pulang. Mataku sesekali melirik kearah jam dinding, sudah hampir jam 9 dan dia belum pulang. Ini tidak benar. Bagaimanapun aku harus menelfonnya.

Sial. Nomornya tidak aktif.

Berulang kalipun aku mencoba sama sekali tidak ada gunanya. Aku mencoba untuk memfokuskan diri pada tontonannya yang aku pilih namun gagal, yang ada mata sialanku malah melirik jam yang terus bergerak menunjukkan hari semakin malam.

Akhirnya aku menyerah dan berdiri dari sofa. Kakiku bergerak tak teratur, melangkah mondar-mandir. Sudah menjadi kebiasaanku jika aku sedang gelisah. Tanganku kembali meraih ponsel dan menelfon hyomin nuna, dia satu-satunya orang yang bisa aku mintai tolong saat ini.

“ Nuna? ”

“ Hm, ada apa Myungsoo? ”

Sial. Hyomin nuna sudah tertidur, itu artinya dia tidak bersama Jiyeon.

“ Nuna tau kemana Jiyeon? ”

“ Jiyeon? ” suaranya terdengar bingung, “ Dia sudah pulang bersamaku jam 4 tadi. Apa dia belum sampai ke hotel? ”

“ Belum. ” jawabku, berusaha keras agar tidak seperti menggeram, “ Apa nuna tau dia kemana? ”

“ Tidak. Aku pulang dengannya ke hotel tadi. Dia juga ikut naik denganku dan menuju ke kamar kalian. Itu terakhir kali aku melihatnya. ”

“ Baiklah, terimakasih nuna. Maaf menganggu tidurmu. ”

Setelah mendengar balasan Hyomin nuna, aku memutuskan sambungan telfon dan melempar ponselku ke sofa. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan dia belum juga pulang. Ini keterlaluan.

Aku membanting tubuhku ke sofa, mengabaikan perutku yang keroncongan karena terakhir kali diisi tadi pagi dan hanya dengan sepotong roti karena aku tidak minat memakan apapun. Mataku kembali bergerak kearah jam. Aku akan menunggunya hingga jam 12, kalau sampai dia belum juga pulang aku akan mencarinya kesemua penjuru kota.

Tanganku terulur untuk memijat pelipisku yang terasa berdenyut nyeri. Mataku terpejam erat. Rasanya waktu berjalan lambat dan aku sudah tidak sabar lagi. Tapi aku harus menunggu. Mungkin saja dia akan pulang sebentar lagi.

Ya, mungkin saja.

Aku tersentak dengan kesadaran yang langsung penuh begitu mendengar bunyi pintu yang tertutup. Aku melirik jam, pukul setengah 11. Hebat sekali, aku malah menunggunya hingga tertidur.

Jiyeon melangkah menuju kamar kami tanpa merasa bersalah atau seolah tak melihatku yang memperhatikan setiap geraknya dari sofa. Manamungkin dia tidak melihat badanku sebesar ini.

Aku langsung berdiri, mengikuti langkahnya menuju kamar kami, “ Aku menunggumu pulang. ”

“ Aku tahu. ”

“ Dari mana saja? Kenapa baru pulang? ”

“ Ada urusan penting di sana. ”

“ Jangan berbohong. Aku tau kau seharusnya sudah pulang sejak sore tadi. ”

Tubuhnya tersentak. Tangannya yang sedang menghapus make-up dengan kapas berhenti bergerak. Ia melirikku yang berdiri di belakangnya melalui kaca, lalu membuang muka, “ Bukan urusanmu. ”

Tanpa bisa kutahan, aku menggeram kesal. Kesabaranku yang memang tipis sudah makin berkurang. Apa sih masalahnya? Kenapa dia seperti menghindar dariku?

Oh, jangan-jangan..ciuman itu? Dia tidak suka?

Oh, ya. Dia memang berbeda. Dia tidak sama dengan wanita lain.

Aku menarik nafas, berusaha menurunkan nada suaraku, “ Kau ini sebenarnya kenapa? Kenapa kau menghindar? ”

“ Untuk apa aku menghindar darimu? Jangan terlalu percaya diri. ”

Tanganku teralih untuk menarik tangannya saat ia sudah selesai dengan make-upnya, menghentakkannya agar ia berbalik padaku, “ Lalu kenapa kau seperti ini?”

“ AKU SUDAH BILANG BUKAN URUSANMU. KENAPA KAU TERUS SAJA MENDESAKKU? ”

Wajahnya merah padam karena marah. Nafasnya naik turun tak beraturan. Entah apa yang membuat dia semarah ini padaku. Aku menarik nafas dan membuangnya perlahan. Aku tidak boleh terpancing emosi. Kalau memang aku yang salah aku harus mengalah.

Masalah tidak akan selesai jika aku ikut terpancing emosi.

Jiyeon memalingkan wajahnya dariku, namun mataku tetap memperhatikan segala gerak geriknya. Kakiku melangkah mendekat saat dia terlihat lebih tenang. Ia tidak menjauh ataupun beralih menatapku. Aku melingkarkan tanganku untuk memeluknya erat, berusaha meredam emosinya padaku. Tubuhnya menegang dalam pelukanku, “ Maafkan aku. Aku hanya khawatir. Jangan ulangi lagi, ya. ”

Perlahan tubuhnya rileks dalam pelukanku. Aku bisa merasakan kepalanya yang bergerak mencari tempat nyaman, tangannya ikut melingkar di pinggangku, “ Maaf. Aku yang salah. Maaf membuatmu khawatir. ”

*****

Oke, sebelumnya aku minta maaf.

Aku tau ini super duper lama tapi percayalah aku selalu berusaha lanjutin ini disetiap ada kesempatan. Sayangnya, kesempatan itu selalu tipis hehe. chapter ini tanpa sekalipun baca ulang jadi kalau ada kesalahan atau typo tolong ingetin:(

Oh ya. Semua info yang aku tulis disini gak semuanya benar, karena Hudson Yard’s baru aja dibangun dan belum siap, jadi acara kayak gitu belum tentu ada. Ini hanya demi kepentingan ff jadi maafkan aja ya:( Tapi info lainnya aku usahakan benar sesuai asli.

thank you for reading!

Celebrity Wedding (Chapter 9: The Royal Wedding)

celebrity wedding copy

Title : Celebrity Wedding

Main Cast :

Kim Myungsoo
Park Jiyeon

Genre : Marriage life, Romance, Humor

Type : Chaptered

Jiyeon’s Side

“ Cantik sekali! Kau memang anak mom yang paling cantik sedunia! ”

Teriakan histeris mom menggelegar memenuhi ruangan, membuatku meringis karena merasa akan tuli dan rasa pusing setengah mati karena sejak tadi terus-terusan diputar oleh mom.

Aku melirik Gyuri unnie yang sedang membolak-balikkan majalahnya, terlihat tidak perduli dengan segala respon berlebihan dari mom. Mungkin inilah yang ia rasakan saat ia menikah dengan Lee Jonghyun dulu.

Percaya tidak percaya, Gyuri unnie menikah dengan mantan seorang playboy kelas kakap. Aku masih tidak mengerti bagaimana bisa Gyuri unnie menerima lelaki itu dan bagaimana bisa seorang playboy yang dikelilingi wanita cantik disekitarnya justru malah tergila-gila oleh wanita tak berhati seperti Gyuri unnie. Mungkin seperti cerita didalam novel, lelaki kadang merasa bosan dengan segala perhatian dari para wanita dan merasa tertarik dengan wanita yang mengacuhkannya.

Tapi yang lebih membingungkan, aku tidak tau siapa yang lebih dirugikan akibat karma. Jonghyun oppa yang mendapatkan wanita berhati es. Atau Gyuri unnie yang mendapatkan suami dengan segudang mantan.

“ Mom, kalau nanti aku pingsan ditengah acara, aku akan menyalahkan mom. ” Balasku akhirnya.

Bibir mom langsung mengerucut, membuatku refleks mendengus dengan sifat kekanakan mom yang tidak pernah mengenal usia. Iapun akhirnya berhenti memutar-mutar tubuhku tepat dihadapannya dan memandangiku masih dengan tatapan kesal.

“ Tapi kenapasih kau memilih warna merah? Gaun pernikahan itu warna putih. Putih itu artinya suci. Kenapa tidak konsultasi dulu sih dengan mom? ”

Aku hanya menghela nafas, ini sudah dipertanyakan oleh mom beratus-ratus kali sejak melihat gaun ini beberapa hari yang lalu. Bibirnya masih mengerucut, menungguku untuk menjawab pertanyaan yang sama lagi.

“ Kan sudah aku bilang, aku pengen anti-mainstream mom. Putih terlalu biasa. ”

Lagi-lagi mom memberi respon yang sama, mendengus dan menatapku tidak setuju. Tapi kemudian, pandangannya berbinar penuh haru.

“ Mom senang akhirnya kamu menemukan lelaki yang kamu cintai, ”

Nada mom terdengar sangat bahagia, membuat jutaan tangan tak terlihat meremas hatiku yang dipenuhi rasa bersalah karena membohonginya. Dan sialnya, kebohongan itu tak dapat bertahan lama. Aku bahkan tidak berani membayangkan wajah mom saat kami berpisah nanti.

“ Mom, ” ucapku lembut, namun yang kudapat hanya getaran ketakutan dalam suaraku, “ Tidak perlu seperti itu. Aku memang pasti akan menikah, kan? ”

Ia mengangguk. Tangan-tangan tua yang mulai keriput itu bergerak mengelus wajahku. Pandangannya terlihat sendu saat menatapku. Bulir-bulir airmata itu telah menggenang disudut bibirnya. Belum pernah aku melihat mom dengan ekspresi seperti ini. mom selalu tampak ceria, kekanakan, dengan segudang sifat yang cenderung menyebalkan itu.

Hatiku kembali terasa diremas oleh tangan tak terlihat itu. Tega-teganya aku membohongi mom sekejam ini. aku memang durhaka.

Aku merasa jahat.

“ Mom tidak tau harus senang atau sedih. Mom senang karena kau akhirnya menemukan seorang lelaki yang mendampingimu, atau sedih karena mungkin mom tidak bisa lagi mengganggu anak bungsu mom, ” Mom terkekeh pelan, namun perlahan tapi pasti airmata itu jatuh ke pipinya. “ Tapi sekarang rasanya mom terharu bisa melihatmu secantik ini. ”

Tanganku terulur untuk menghapus airmata di wajah mom. Berusaha menahan sekuat tenaga atas rasa bersalah dihatiku. Berusaha kuat untuk tidak ikut menangis bersamanya, mengingat make up yang terasa berat di wajahku.

Dengan keadaan yang melankolis seperti ini, aku juga harus berfikir, kan? Aku tidak mau dimake up ulang selama berjam-jam lagi.

“ Sudahlah. Kalau mom terus saja menangis, make up nya akan luntur. Mom mau, foto yang akan kita tempel nanti memuat wajah mom yang jelek? ” Tanya Gyuri unnie dengan suara setenang lautan.

Tangisan mom mendadak berhenti. Ia menoleh pada Gyuri unnie yang masih setia pada posisinya dengan ekspresi kesal, lalu kembali menatapku dengan tatapan meminta pendapat.

Aku hanya mengangguk. Akan lebih mudah untukku jika mom berhenti menangis, “ Gyuri unnie benar. Lebih baik mom berhenti menangis. Mom tidak mau jelek, kan? ”

Mom menggeleng kuat-kuat, layaknya anak kecil. Lalu berlari kecil menuju meja rias untuk menghapus sisa-sisa air mata yang menempel diwajahnya. Dari sudut mataku Gyuri unnie tampak menghela nafas dan menggeleng melihat kelakuan ajaib mom.

Aku hanya tersenyum simpul. Sifat ajaib mom memang tidak ada tandingannya, berbanding terbalik dengan sifat dad yang cenderung serius dan lurus-lurus saja. Mungkin itu yang namanya semupurna. Dimana kedua orang bersatu untuk saling melengkapi kekukurangan dan kelebihan pasangannya.

“ Hey, ” sebuah suara berat membuat kami semua menoleh. Yoochun oppa berdiri diambang pintu bersama Myungsoo dibelakangnya, “ Apa yang sedang kalian..Umma? Kenapa menangis? ”

Yoochun oppa langsung berlari cepat mendekati mom. Sebagai anak lelaki satu-satunya, Yoochun oppa memang sangat menyayangi mom. Yoochun oppa sama seperti dad yang sangat pengertian dengan segala sifat ajaib mom. Tangannya terulur mengelus pundak mom yang masih berusaha menghapus jejak air matanya tanpa merusak make-up.

“ Pasti ini karenamu kan, Gyuri? ” Tatapan penuh selidik langsung dilemparkan Yoochun oppa pada Gyuri unnie yang masih sibuk dengan majalahnya.

“ Sudahlah, ” putus mom sebelum keduanya berperang seperti biasa, “ Ayo kita pergi, jangan menganggu Myungsoo dan Jiyeon. ”

Setelah mengatakan itu, Mom langsung berjalan cepat menarik Yoochun oppa yang tidak terima sementara itu Gyuri unnie berjalan santai mengikuti keduanya. Meninggalkan kami berdua disini.

“ Bagaimana perasaanmu? ” Tanya Myungsoo tiba-tiba ketika pintu telah tertutup.

Aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Mencoba kembali rileks setelah perasaan bersalah yang bersarang dihatiku sedikit teredam, “ Lumayan. ”

Myungsoo mendengus, ia berjalan mendekatiku yang masih memandanginya dari kaca besar dan berdiri tepat dibelakangku, “ Aku kira semua wanita pasti akan bahagia kalau menikah denganku. ”

Ya tentu saja, Myungsoo. Termasuk aku. Aku adalah wanita bahagia yang beruntung itu.

“ Kalau begitu, masukkan aku kedalam daftar pengecualian. ”

Sambil mengucapkan kalimat penuh kebohongan itu, aku memutar tubuhku untuk menghadapnya agar ia tak dapat melihat kebohongan dari mataku. ternyata jarak kami sangat tipis, membuatku menyesal kenapa mau-maunya membalikkan tubuhku.

Ini mungkin akan memudahkan dia untuk menangkap pergerakan aneh dari tubuhku.

Tapi bukannya tersinggung, seperti biasa ia malah senyum-senyum saja dengan wajah badaknya yang tidak tahu malu padahal aku telah menolaknya terang-terangan.

Apa mungkin, sebenarnya dia tahu kalau aku hanya berbohong?

“ Tidak. Aku lebih ingin merubah persepsimu, ” Balasnya enteng, alisku tertaut bingung dengan maksudnya, “ Membuatmu merasakan bahagia saat menikah denganku. ”

Deg.

Cobaan apalagi ini, tuhan?

Bolehkah aku berharap lelaki ini akan membalas cintaku? Bolehkah aku berharap lelaki ini sudah menyukaiku?

Mungkin saja boleh. Tidak masalah kalau akhirnya aku terluka. Aku akan berusaha agar ia juga merasakan perasaan yang sama denganku, bagaimanapun caranya. Aku yakin aku bisa. Aku tidak sama dengan wanita kebanyakan yang pernah dicampakkannya itu. Pasti aku bisa.

Sementara aku sedang melongo layaknya idiot, aku mendadak merasakan leherku disentuh oleh sesuatu. lalu mendadak sebuah tangan membalikkan tubuhku kembali kekaca.

Tampak seorang wanita berbaju pengantin yang masih menatap kosong kedepan dan lelaki tampan yang tersenyum hangat menatapku.

“ Kau suka? ” Tanyanya.

Dahiku mengekerut setelah akhirnya aku sadar lamunan yang terlalu panjang saat merasakan sebuah benda dingin menggantung di leherku.

Kalung? Kalung yang aku suka saat kami memilih cincin pernikahan?

Cepat-cepat aku membalikkan tubuh dan menatapnya dengan tatapan protes. Aku bahkan tidak meminta kalung ini padanya. Bukan, bukannya aku tidak suka lagi pada kalungnya. Hanya saja, aneh rasanya menerima hadiah semahal ini dari seorang lelaki.

Biasanya, aku menolak mentah-mentah hadiah apapun dari seorang lelaki. Mungkin karena itu juga aku belum pernah jatuh cinta. Aku terlalu menutup diri untuk sebuah hubungan spesial.

“ Kenapa kau membelinya? ”

Bahu Myungsoo terangkat acuh, “ Karena kau menyukainya, ” jawabnya santai, aku mengangkat alisku masih menunggu kalimat selanjutnya, “ Anggap saja itu hadiah pernikahan kita. Selesaikan? ”

Jangan pernah salahkan aku jika aku benar-benar menyukaimu Myungsoo. Ini salahmu. Salahmu kenapa memberikan harapan padaku. Salahmu kenapa terlalu baik padaku. Salahmu kenapa membiarkan perasaan sialan ini tumbuh dihatiku. salahmu karena membuatku menduga-duga bahwa kau juga menyukaiku.

“ Baiklah, aku menerimanya. ” putusku akhirnya, ia tersenyum lebar seolah-olah aku baru saja memberikan dunia padanya, “ Lagipula uang segini tidak akan membuat kekayaanmu berkurang. ”

Myungsoo mendengus, “ Ya, seolah kau tidak kaya saja. ”

Aku tidak menanggapi lebih lanjut kalimatnya dan memilih untuk berjalan menuju sofa. Sakit juga berdiri lama-lama dengan sepatu killer-heels seperti ini.

Beberapa hari yang lalu aku kembali mencoba browsing di Internet tentang hal-hal yang lebih mendetail pada Myungsoo. Dan beberapa fakta mengejutkan dapat aku temui. Seperti, kenyataan tentang Myungsoo memiliki saham yang besar di beberapa perusahaan multi-nasional yang namanya sudah tidak asing sama sekali. membuatku jadi berfikir keras tentang alasan apa yang membuat dia ingin susah payah menjadi artis yang setahuku kehidupannya sangat terkekang.

Apa dia menyukai perhatian publik?

Yah, mungkin seperti itu.

“ Sayang? ”

Aku mengangkat kepalaku dan menatap dad yang berdiri didepan pintu. Ia menatapku sambil tersenyum lalu beralih menatap Myungsoo dengan tatapan bingung, “ Acara akan dimulai. Kenapa kau masih disini? ”

Terdengar bunyi seperti meringis dari sebelahku, kemudian dilanjutkan dengan gumaman minta maaf dan sesuatu seperti kalimat aku pergi diucapkannya dengan pelan. setelah itu ia terbirit-birit lari dari dad, membuatku terkekeh. Myungsoo memang tidak pernah mengatakannya, tapi aku sangat tau ia agak takut dengan dad. Mungkin lebih tepatnya segan?

Dad memang orang yang sangat tegas. Ia terlihat dingin, acuh dan berwibawa dihadapan siapa saja. Namun kalau sudah didalam rumah, dad adalah pria paling hangat yang pernah aku temui. Tatapan matanya yang melembut dan menatap mom dengan penuh cinta sekalipun mom sedang mulai dengan kelakuan anehnya membuatku sejak kecil selalu berfikir, aku harus mencari pria seperti dad. Pria yang hanya mencintaiku seorang tanpa melihat wanita lainnya sekalipun dengan semua kekurangan yang ada padaku.

Tapi harapan tinggal harapan.

Aku justru jatuh cinta pada lelaki playboy dengan mantan yang segunung. Dan lebih parahnya lagi, ia mungkin tidak memiliki perasaan yang sama denganku.

See? Dunia memang kejam.

“ Anak bungsu dad akan menikah, ya. ” Gumaman pria setengah abad itu sampai ketelingaku.

Aku tersenyum, berdiri lalu memeluk tubuh tuanya yang tetap tegap itu sekuat tenaga. Berharap agar perasaan bersalah yang kembali lagi itu sedikit tertahan. Namun saat kedua tangan dad mengelus kepalaku dengan sayang, aku tahu aku salah. Perasaan bersalah itu makin menghimpitku.

Dad. Lelaki yang selalu tersenyum bangga padaku ini akan sangat kecewa jika mengetahui kebohonganku.

Perlahan, dad melepaskan pelukannya padaku dan menatap wajahku. Ia tersenyum lembut, tangan-tangannya meraih wajahku dan menghapus air mata sial yang ntah kapan sudah berjatuhan dipipiku. Aku memaksakan diri untuk tersenyum, walaupun pada akhirnya aku hanya bisa terisak. “ Dad, I love you. ”

“ I know, sweety. I love you too, ” ucapnya lembut, aku menganggukkan kepalaku berkali-kali, masih berusaha kuat agar air mataku tidak makin tumpah dan merusak semuanya, “ Semoga kau bahagia. Kau tau kan, kami semua selalu berdoa yang terbaik untukmu. Walaupun kau sudah besar sekarang, bagiku kau tetaplah little princess kami dirumah. Little princess kesayangan dad. ”

Tanganku langsung bergerak menutup mulutku, menahan isakan tangis yang membuat airmataku semakin deras karena perasaan haru dan bersalah yang menghimpit dadaku sekaligus. Dad tersenyum menenangkan, ia mengelus bahuku pelan.

“ Sudahlah, jangan menangis. Nanti cantiknya berkurang. ”

Aku terkekeh pelan, lalu menghapus airmataku perlahan agar tidak merusak makeup ku. Setelah merasa aku sudah lebih baik, dad mengulurkan lengannya untuk aku gandeng. Aku tersenyum kecil lalu menggandeng lengan dad yang masih keras diusianya yang tidak lagi muda.

Detik pertama kami keluar dari ruangan itu, aku tahu, detik itu juga hidupku akan berubah total.

Myungsoo’s Side

Tatapanku jatuh pada seorang dewi yang sedang berjalan kearahku. Ia tersenyum, walaupun kegugupan tampak jelas digaris matanya.

Ini Park Jiyeon si jutek, kan?

Bahkan sejak aku menemuinya di ruangannya hingga sekarang, aku tak bisa berhenti mengangguminya. Dia terlihat….sempurna sekali. tidak sia-sia aku kabur dari ruanganku dengan berbagai alasan hanya untuk menemuinya dan bersyukur bertemu Yoochun-hyung untuk mempermudahku masuk ke dalam.

Appa Jiyeon, lelaki dengan penuh wibawa yang membuatku segan dan langsung menghormatinya sejak pertama kali melihatnya itu tersenyum kecil padaku. Ia menyerahkan tangan Jiyeon padaku.

“ Tolong jaga dia. Dia sangat berharga untukku, aku tidak akan pernah melepaskan siapapun yang menyakiti anakku. ” Ucap lelaki itu tenang.

Diam-diam aku menelan ludah. Appa Jiyeon mengucapkannya dengan nada datar namun cukup membuatku merinding setengah mati. Seolah-olah yakin, sedikit saja Jiyeon terluka karena ku, dia bisa saja mengakhiri nyawaku detik itu juga.

Aku berusaha tersenyum kecil, “ Saya akan selalu berusaha membahagiakannya. ”

Lelaki itu mengangguk kecil. Pandanganku teralih pada Jiyeon yang menatapku aneh, tatapannya sulit aku artikan. Namun akhirnya ia tersenyum kecil, membuatku ikut tersenyum lalu kami membalikkan tubuh menghadap pendeta untuk mengucapkan ikrar janji pernikahan.

Acara formal dari pernikahan kamipun telah usai diakhiri dengan ciuman di puncak kepalanya—hampir saja aku kebablasan dan mencium bagian wajahnya yang lain—dan sekarang dilanjutkan dengan acara informal seperti ucapan selamat dari para tamu.

Desain acara kami sangat sempurna menurutku. Jiyeon benar-benar total dalam menghiasnya, dari masalah penting hingga detail terkecil sekalipun. Hiasan lampu kecil berwarna kuning keemasan yang melilit setiap pilar dengan gantungan bunga mawar hidup yang segar dan harum, hingga lampu-lampu gantung besar keemasan dan kain-kain berwarna merah yang menutupi langit-langit menampilkan suasana redup dan majestic disepanjang jalan menju altar. Ratusan sofa-sofa berwarna merah dan karpet merah beraksen kekuningan terlihat sangat menyatu dengan ruangan. Disisi kiri dari altar ada bagian kosong tempat para pasangan tamu berdansa dikelilingi dengan vas tinggi berisi rangkaian bunga mawar segar membentuk bulat. Disisi kanan yang agak menjorok kedalam ruangan terdapat meja panjang beralas taplak merah yang berisi makanan dan berbagai menu yang kami sempat perdebatkan—aku ingat saat itu Jiyeon sama sekali tidak keberatan untuk mengetes semua makanan yang akan kami pilih sebagai menu disaat semua wanita menahan porsi makan mereka sebelum hari pernikahan—dan berpuluh-puluh meja bundar tempat para tamu menikmati hidangan.

Semuanya terlihat sempurna dimataku. Semua tamu undangan yang berjumlah ribuan itu tampak puas dengan pesta yang kami buat. Aku dan Jiyeon memang telah sepakat untuk tidak membuat acara pernikahan kami tertutup dari media, hingga semua wartawan dari berbagai belahan duniapun ikut hadir walaupun dengan jumlah yang kami batasi mengingat kemampuan ruangan ini untuk menampung manusia.

Kami telah menerima ucapan selamat dari beribu-ribu umat manusia yang sejak tadi mengantri. Aku sendiri merasa sangat lelah. Bahkan bibirku sudah tak sanggup lagi untuk tertarik dengan sempurna. Namun Jiyeon tampak masih bisa mengontrol ekspresi bahagianya. Aku melirik antrian saat tersenyum pada pasangan artis senior yang memberi kami selamat, oh untungnya antrian itu sudah memendek.

Berbagai macam kalimat sudah aku terima hari ini. misalnya seperti, selamat berbahagia, semoga langgeng, cepat dapat momongan, acara yang hebat, tak disangka bahwa seorang Myungsoo akhirnya menikah hingga betapa beruntungnya aku mendapatkan wanita secantik Jiyeon.

Yes, menurutku, Jiyeon adalah sebuah kesempurnaan.

Disamping berbagai sikapnya yang agak menyebalkan dan pemarah, tentu saja dia sempurna.

“ Kau tidak lelah? ” Tanyaku akhirnya.

Jiyeon melirikku sekilas setelah mengucapkan terimakasih pada salah satu tamu undangan, “ Sangat. ”

Tanganku terulur untuk merengkuhnya dan mengusap bahunya pelan, aku sangat mengerti pasti lelah berdiri diatas sepatu setinggi itu, “ Tunggu sebentar ya, antriannya sudah memendek. ”

“ Oh my god! ” Teriak seorang tamu tak tahu diri yang sedang mendapat giliran untuk menyalami kami, aku meliriknya kesal saat menyadari suara siapa itu, “ Kalian cocok sekali. Walaupun jujur saja, Park Jiyeon terlalu cantik untukmu. ”

Jiyeon terkekeh sedangkan aku mendengus dan memukul bahunya pelan, “ Makanya cepat-cepatlah menikah, dasar tidak laku. ” ejekku.

Howon hyung menatapku tak suka, “ Bukannya tidak laku, aku hanya jual mahal. Lagipula Jiyeon sudah kau rebut, aku terpaksa mencari mangsa baru. Sayang sekali. ”

Aku menggeram, “ Jangan macam-macam. ”

Howon hyung memasang ekspresi ketakutan yang berlebihan, membuatku ingin menonjok wajahnya sekarang juga, “ Oh, maafkan aku, suami yang over protective. ”

Sungjong yang berada dibelakang Howon hyung langsung mendorongnya tak sabar, “ SELAMAT YA JIYEON NUNA DAN MYUNGSOO HYUNG!! ” Teriaknya tak tahu malu.

Jiyeon tersenyum kecil, “ Terimakasih, Sungjong. ”

“ Nuna cantik sekali sungguh! ”

Aku merengut, “ Tidak ada yang bilang aku tampan? ”

Tiga pasang mata itu menatapku ngeri, seolah aku sedang membuat pengakuan bahwa aku seorang alien. Hingga akhirnya Sungjonglah yang berdeham, “ Hyung.. aku mohon jangan mengucapkan kalimat menjijikkan. ”

Aku makin merengut, tangan Jiyeon terulur untuk menepuk wajahku pelan. membuat ekspresiku langsung berubah tersenyum dan menatapnya. Jiyeon tak pernah berbuat selembut ini padaku. Aku benar-benar terharu.

“ Sudahlah daripada kita harus menonton drama menjijikkan ini, lebih baik kita pergi Sungjong, ” ucap Howon hyung dengan nada muak, “ Cepat-cepatlah membuat keponakan untuk kami. ”

Kalimat terakhirnya membuatku mendengus lagi. Jelas-jelas ia sangat tahu bagaimana isi kontrak itu, bagaimana mungkin aku bisa membuat Jiyeon hamil? Memang dia bisa hamil sendiri?

Berbagai macam tamu telah kami salami. Mulai dari pejabat Negara, beberapa pengusaha dunia kenalanku, para pemegang saham, artis senior, artis muda, desaigner-desaigner muda hingga desaigner kelas dunia yang takku sangka begitu dekat dengan Jiyeon seperti Marc Jacobs, Tom Ford, Donatella Versace serta berbagai wajah yang sering mengisi majalah lainnya. Ada beberapa model kelas dunia seperti Behati Prinsloo, Miranda Kerr, Sean O’Pry, Arthur Kulkov juga artis Hollywood papan atas seperti Jamie Dornan, Barbara Palvin, Selena Gomez, Adam Levine dan nama lainnya yang tidak kuingat. Mereka memang memperkenalkan dirinya padaku, walaupun beberapa cukup aku tahu namanya. Tidak heran mengingat seumur hidup Jiyeon memang dihabiskan di Negara mereka.

Gila. Ternyata sainganku memang berat. Pantas saja Jiyeon bilang tubuhku tak seberapa dibandingkan berbagai macam model yang pernah ia lihat. Aku iri juga. Kalau aku harus dibandingkan dengan Adam Levine yang aku akui memang keren, tentu saja aku tidak seberapa.

Tak banyak keluargaku yang berdatangan, karena kami memang tak memiliki banyak sanak saudara karena umma anak tunggal. Sedangkan keluarga Jiyeon yang memang besar dan semuanya hadir disini. Ada Gyuri nuna yang masih tampak tidak menyukaiku, sepupu Jiyeon yang bernama Jiyoung, Hyomin nuna dan teman Jiyeon yang bernama Jieun itu juga hadir. Walaupun tamu lebih didominasi dari pihakku, tapi tetap saja rasanya tamu-tamu Jiyeon sangat berkesan menurutku.

Setelah antrian panjang itu berakhir, aku langsung menarik tangan Jiyeon untuk duduk di tempat khusus yang disediakan untuk kami. Terdengar helaan nafas lega dari sebelahku. Jiyeon tampak sangat lelah.

“ Kalau kau mau, kau bisa langsung pulang dan beristirahat. ”

Ia menggeleng, “ Tidak sopan. Kita tunggu acaranya selesai. ”

Mau tidak mau aku menyetujui kalimatnya. Jiyeon memang keras kepala, percuma saja aku mendebatnya saat ini. kami pun berusaha untuk bertahan dalam acara pernikahan kami sendiri. Berusaha terlihat romantis didepan para tamu undangan ternyata tidak terlalu sulit. Kami hanya perlu terus pergi kemanapun bersama. Tanganku tak pernah lepas menggenggamnya, saat mengambil makan, atau lagi-lagi menyapa para tamu. Kami bahkan sempat berdansa setelah dipaksa oleh salah satu anggota keluarga Jiyeon. Jiyeon yang awalnya menolak, terpaksa aku seret ke tempat dansa karena dansa bersama menurutku bukan ide yang buruk dan ternyata dia memiliki kemampuan di bidang itu. Tidak heran, Jiyeon bukan tipe wanita yang gampang tertebak.

Tepat pukul 7 malam, acarapun usai. Kami langsung diantar oleh supirku menuju rumahku. Tidak banyak percakapan yang kami lakukan karena aku tahu dia sangat lelah. Setelah sampai ke rumah, aku menunjukkan kamarnya yang tidak jauh dari kamarku.

“ Barang-barangmu sudah tersusun disana. Selamat malam, Jiyeon. ” Ucapku saat mengantarnya.

Ia hanya bergumam dan mengangguk lalu masuk ke dalam kamar. Aku pun menuju kamarku dan memutuskan untuk berendam air panas lalu setelah itu beristirahat.

Selesai membersihkan diriku, aku menatap pantulan diriku dikaca lalu terkekeh. Tak bisa dipercaya, aku baru saja menikah padahal selama hidupku, memikirkan tentang pernikahan sama sekali tak berani aku bayangkan. Apa itu komitmen, cinta, dan pernikahan adalah hal yang sama sekali tak pernah aku ambil pusing. Namun apa yang aku lakukan sekarang? Aku menikah.

Walaupun pernikahan palsu.

Hanya setahun. Setelah itu aku akan menyandang status duda. Terdengar menggelikan tapi bagaimana lagi. Aku memang membutuhkan status menikah saat ini. tidak perduli apa statusku setelah nanti.

Tapi bagaimana dengan Jiyeon? Apa dia akan menikah dengan pria yang benar-benar ia cintai setelah bercerai denganku? Aku menggeleng, pemikiranku terlalu jauh. Lebih baik aku fokus memikirkan bagaimana jalannya pernikahan ini untuk 1 tahun kedepan. Memikirkan bagaimana aku memosisikan diri dihadapan Jiyeon, dan bagaimana aku harus meletakkan posisi Jiyeon untukku. Haruskah aku berusaha menjadi suami yang baik?

Oh, tentu.

Jiyeon sudah sangat berbaik hati menyetujui pernikahan konyol ini. dia berbaik hati merelakan statusnya padahal pasti berat menyandang status ‘janda’ setelah bercerai denganku. Jadi paling tidak, sudah sepantasnya ia mendapatkan perlakuan yang baik dan kenangan indah selama 1 tahun menikah denganku.

Aku merebahkan tubuhku diatas kasur, tanpa sadar mendesah lega. Tempat tidur memang menjadi tempat ternyaman didunia saat ini.

Mataku terbuka dan langsung melirik jam, ternyata aku sudah tertidur beberapa jam karena saat ini sudah hampir jam 11 malam. Aku memejamkan mataku lagi namun aku tau akan percuma, aku tidak akan bisa tidur lagi untuk beberapa jam kedepan. Lebih baik aku mengecek keadaan Jiyeon.

Kakiku melangkah keluar, mengabaikan rambutku yang sudah kusut masai. Tak masalah, seisi rumahku pasti sudah terlelap dikamarnya masing-masing. Tepat saat aku menutup pintu kamar, aku melihat Jiyeon yang merengut didepan kamarnya. Dia masih tak sadar bahwa aku sedang berdiri disini, menatapnya sambil terkekeh. Jiyeon mengucek matanya sambil merengut, ia berdiri disana dengan piyama tidur—yang terdiri atas celana dan baju tentunya, sama sekali bukan gaun tipis seperti yang dipakai para wanita yang baru menikah—dan rambut yang berantakan. Wajahnya tampak polos tanpa make-up.

Benar kata orang, wanita selalu terlihat cantik dan seksi saat baru bangun tidur. Aku mengakuinya setelah melihat pemandangan ini langsung.

Aku menggeleng, menyadarkan diri dari apapun khayalan dalam otakku, “ Kenapa belum tidur? ” Tanyaku.

Jiyeon tersentak dan langsung menyadari kehadiranku. Ia menatapku sambil melongo, mungkin nyawanya belum terkumpul sepenuhnya, “ Kau sendiri? ”

“ Aku terbangun tiba-tiba, ” Jawabku, ia mengangguk-angguk, “ Kau? ”

“ Sama denganmu, ” Jawabnya pendek, ia berjalan mendekat, “ Dimana ruang TV-mu? ”

“ Ada dikamarku. ”

Ia memutar matanya, “ Jangan harap aku mau kekamarmu. Aku tau disini pasti ada ruang tv. ”

Aku tertawa keras dan menariknya menuju ruang TV. Ternyata dia tau kalau aku sedang menggodanya. untuk ukuran orang dengan nyawa setengah dia tergolong oke juga, “ Lagipula kenapa kau tidak menonton di kamarmu? ”

“ Aku tidak suka ada TV di kamar, mungkin besok aku minta tolong penjaga rumahmu untuk mengangkutnya keluar. ”

“ Baiklah, ” Ucapku tanpa bertanya lagi. Aku cukup mengerti beberapa orang memang berprinsip kamar adalah tempat istirahat dan tidak baik ada alat elektronik seperti TV di dalamnya, “ Kau ingin menonton apa? ”

Jiyeon telah duduk di sofa tepat didepan TV sedangkan aku sibuk mencari remote dan tempat kaset-kasetku. Setelah mendapatkan apa yang aku cari, aku duduk disebelahnya dan meletakkan tempat kaset itu diatas meja. Jiyeon tampak mengingat-ingat sesuatu.

“ Kau punya film 50 shades of grey? Kata temanku, film itu pemain utamanya ganteng. ”

Mulutku langsung menganga dan menatapnya horror. Aku sangat tau bagaimana isi film yang memang sedang trend sejak sebulan yang lalu itu. Memangnya Jiyeon tidak tahu itu film berbahaya? Mana bisa aku dan Jiyeon menonton film seperti itu. Bisa-bisa aku kebablasan atau paling hebat, aku bisa gila karena menahannya. Lalu kemudian aku dicap lelaki menjijikkan oleh Jiyeon.

Bagaimanapunkan aku laki-laki normal.

Kepalaku menggeleng kencang, “ Tidak boleh film itu. ”

Dahi Jiyeon mengenyit, menatapku bingung, “ Kenapa? ”

Dengan perlahan, aku menarik nafas, berusaha mengeluarkan sisa-sisa suaraku yang mendadak serak, “ Itu film porno, Jiyeon. Temanmu tidak bilang ya? ”

Respon Jiyeon langsung sama dengan respon pertamaku mendengar judul film itu dari bibirnya. Tak lama kemudian ia gelagapan dan mengangguk berkali-kali, “ Ya, kita tidak boleh menonton itu. ”

Tanpa sadar aku menghela nafas lega. Itu artinya aku tidak akan gila.

“ Bagaimana kalau twilight? ” Tanya Jiyeon lagi.

Dahiku mengerut, “ Vampire? ”

Jiyeon mengangguk cepat. Wajahnya tampak sumringah karena aku tahu tentang apa film itu bercerita. Tentu saja aku tau, film itu sangat terkenal dulunya namun aku sama sekali tidak tertarik.

Vampire? Oh, yang benar saja. Itu hanya bualan fiktif yang tidak mungkin ada di dunia dan aku benci film dengan genre seperti itu layaknya aku benci film hantu. Lebih baik menonton drama korea saja.

“ Aku tidak suka film bergenre fantasi seperti itu. ”

Ia menatapku tak suka, “ Jadi kau belum pernah menontonnya? Aku bahkan sudah menonton 6 kali. ”

“ Kalau begitu, kau tidak perlu menonton untuk yang ke-7 kalinya. ”

Jiyeon menggeleng keras, sifat kepala batunya muncul lagi, “ Kau harus menontonnya. Kau tidak akan menyesal. ” Katanya dengan semangat, namun aku masih menggeleng, “ Ayolah. Kau tidak ingin melihat Kristen Stewart yang cantik itu? ”

“ Aku tidak tertarik. Aku penyuka wanita asia. ”

Bibir Jiyeon mengerucut, “ Padahal aku ingin melihat Robert pattinson lagi. Dia itu pria paling keren di dunia setelah appaku. ” Gummanya.

Aku langsung mengalihkan tatapanku padanya, menatapnya tidak suka. Bisa-bisanya dia membicarakan pria lain didepan suaminya yang tampan maksmimal ini. “ Aku lebih keren. ”

Jiyeon menatapku jijik, “ Jangan bercanda. Robert jauuuuh lebih keren, lebih ganteng dan lebih-lebih lainnya darimu. ”

“ Ohya? ” tanyaku dengan suara rendah, namun Jiyeon sama sekali tak perduli. Ia malah balas menantangku, “ Kalau begitu mari kita lihat sekeren apa dia walaupun aku yakin aku pasti lebih unggul jauh. ”

Manamungkin pria itu lebih keren dariku. Aku termasuk dalam 10 pria tertampan di korea dan termasuk ke dalam 3 pria yang paling diinginkan untuk menjadi menantu oleh ibu-ibu di korea. Walaupun pria itu berwajah barat, pasti tidak akan bisa mengalahkanku. Kebanyakan wanita korea harusnya menyukai pria korea, kan?

Jiyeon malah mengangguk berkali-kali lalu mengulurkan tangannya, “ Deal? ”

Tanganku ikut terulur membalas jabatan tangannya dan mengangguk sekali. “ Kau bisa mengambil kasetmu dan aku akan mengambil makanan ringan untuk kita. ”

Kami berdua langsung menuju ke tempat tujuan kami masing-masing. Aku membuka kulkas dan mengambil beberapa bungkus snack, minuman kaleng, biscuit dan buah-buahan. Mungkin wanita seperti Jiyeon tidak suka ngemil di malam hari karena bisa menambah lemak. Tapi siapa yang tau? Jiyeon tidak mudah ditebak.

Saat aku kembali, Jiyeon sudah ada disana dan sibuk memasukkan kaset ke dalam DVD playernya. Aku meraih remote dan menyetel sound system. Setelah selesai, kami berdua duduk di sofa bermuatan dua orang tepat didepan TV.

Film itu dimulai dengan menampakkan tokoh wanita bernama Bella Swan yang baru pindah rumah ke daerah Forks Washington. Dahiku berkerut ketika ada sosok laki-laki yang mendatangi bella hingga tanpa bisa kutahan, mulutku langsung bergerak untuk bertanya, “ Itu bukan Robert pattinsonkan? ”

Jiyeon menggeleng, masih bersemangat walaupun pertanyaanku sangat tidak penting, “ Itu bukan Edward. Dia Jacob, teman masa kecil bella. ”

Aku mengangguk berkali-kali, sok paham. Entah kapan lelaki yang di bilang Jiyeon tampan itu akan muncul. Aku sudah tidak sabar lagi melihat setampan apa dia di film ini.

“ Kau suka ngemil? ”

Kepalaku berputar kesamping untuk menatap Jiyeon yang tengah fokus menatap layar Televisi sambil memeluk bantal sofa dan sebelah tangannya memegang apel. Baru aku sadar dia telah menggulung rambutnya yang tadinya tergerai, menunjukkan lehernya yang putih dan jenjang. Aku berdeham, “ Lumayan. Aku jarang tidur malam. Kalaupun tidak ada jadwal, aku pasti menghabiskan waktu dengan bermain piano dan ngemil. Kenapa? ”

Jiyeon menatapku tidak setuju, “ Kalau begitu kau harus mengurangi makan seperti ini. bisa-bisanya kau makan snack seperti ini tiap hari. Kau bisa ganti cemilan dengan buah-buahan. ”

“ Kau mengkhawatirkanku, ya? ” Tanyaku menggodanya.

Ia mendengus. Respon yang sama setiap aku menggodanya. Bisa-bisa dia berubah menjadi banteng jika terus begitu. “ Tidak ada salahnya memberitahu hal-hal yang baik, kan? ”

Aku terkekeh lalu kembali fokus pada layar. Dahiku lagi-lagi berkerut melihat bella yang berada dikawasan sekolah, “ Mereka masih sekolah? ”

Jiyeon menggumam, lagi-lagi aku mengangguk hingga akhirnya wajah laki-laki yang dibilang Jiyeon itu muncul saat mereka makan di kantin. Itu pasti dia.

“ Ini Robert pattinson, kan? Yang benar saja. Ini yang kau bilang tampan? ”

Mata Jiyeon langsung mendelik, melirikku sinis, “ Tentu saja. Dia ini keren. Paling tidak lebih keren dari padamu. ”

“ Matamu rusak, Jiyeon? Dari sisi mana kau melihat dia lebih keren? Jelas-jelas aku jauh lebih keren. Paling tidak, kulitku tidak sepucat itu. Seperti wanita saja. ”

Serius. Dia laki-laki dan memiliki wajah seputih susu seperti wanita. Lalu bagian mananya yang tampan? Oke. Mungkin dia memang memiliki wajah lebih tenang yang dibilang ‘cool’ oleh para wanita. Tapi aku juga bisa memasang wajah tenang seperti itu, atau bahkan aku juga bisa melebih-lebihkannya. Jadi apa lebihnya dia dariku?

Ya, kan?

Tapi rupanya orang disebelahku tidak setuju hingga ia memukul kepalaku berkali-kali dengan bantal yang tadinya ia peluk. Namun karena serangan yang begitu mendadak, aku tidak sempat melindungi tubuhku dari pukulan maut penuh emosi itu. Jiyeon yang sepertinya sangat bersemangat memukulku hingga aku terlentang disofa dengan dia yang diatasku masih memukul wajahku dengan membabi-buta.

Tunggu. Posisi apa ini?

Sebisa mungkin aku menahan mukaku dari serangannya dengan kedua tangannya. Oh sialnya. Aku bisa merasakan kulitnya yang hangat menyentuh tanganku. Aku tidak bisa bertahan dengan posisi ini lebih lama, bisa-bisa aku kebablasan dan malah berbalik mendorongnya. Jangan sampai itu terjadi, bisa-bisa dia berpikir aku mesum. Dengan sisa kesadaran dan kewarasanku, aku berteriak “ STOP! KAU MENGHIMPITKU PARK JIYEON! ”

Pukulan itupun terhenti. Aku mengangkat tanganku dari atas wajahku dan menatap Jiyeon yang terpaku sejenak dengan posisi kami lalu cepat-cepat menjauhiku. Ugh, wajahnya yang polos malah membuatku ingin menertawainya.

“ Itu salahmu kenapa menghina Robert-ku! ”

Robertku katanya?!

Aku menghela nafas. berusaha sabar dengan segala pembelaannya dan pujiannya terhadap lelaki itu. Jangan sampai pertengkaran konyol itu kembali terjadi. Bisa-bisa aku yang kalap.

“ Okay. Okay. Robert pattinson yang menang. ”

Senyum wanita itu merekah, lebar. Tangannya terulur dan menepuk bahuku berkali-kali lalu kembali fokus menonton filmnya.

Setelah ikut menghayati film ini, aku simpulkan ternyata film ini bagus juga. Film yang penuh adegan romantis ala anak sekolahan dan sedikit bumbu action. Kehebatan-kehebatan Edward sebagai vampire memang sangat menakjubkan. Kalau bisa, aku juga ingin memiliki mata yang bisa berubah warna sepertinya. Aku akui, aku memang menyukai film drama romantis—tapi sumpah, aku tidak pernah sampai menangis. Menyukai film romantis saja sudah sangat memalukan bagiku—sehingga film ini terasa cocok untuk aku tonton. Saat filmnya habis, aku akan bertanya kelanjutan film ini. pasti Jiyeon punya kaset lanjutannya.

Namun yang aku temukan adalah Jiyeon yang tertidur dengan posisi menyandar kearah kanan.

Aku mendengus pelan. bisa-bisa dia tertidur saat menonton film kesukaannya.

Lama, aku menatap wajah polosnya yang tertidur. Sama sekali tak nampah wajah kerasnya saat sifat kepala batunya muncul, wajah sinisnya saat aku menggodanya atau wajahnya yang kesal saat aku melakukan hal-hal yang ia benci. Ia tampak begitu tenang dan damai.

Tanpa sadar, aku tersenyum. Dia wanita yang baik, maka dari itu akupun harus memperlakukannya dengan baik.

Tubuhku bergerak mundur, ikut bersandar di sofa dan memberikan pundakku untuk bantalan kepalanya. Jiyeon bergerak sedikit, seperti mencari posisi yang nyaman pada pundakku. Kemudian aku ikut menyandarkan kepalaku diatas kepalanya dan memejamkan mata.

Semoga ia tidak marah ketika bangun besok pagi dalam keadaan seperti ini.

*****

huh. kelamaan banget ya.

harusnya ini udah dipos dari kapan tau, tapi ada konflik yang ehem buat aku gak bisa ngepost ini begitu selesai. semoga masih setia nunggu ni ff butut ya hehehe

You Should Be Mine (The end of our story)

Title : You Should Be Mine

Main Cast :

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo

Genre : Adult Romance

Type : Chaptered

Jiyeon’s Side

Kakiku melangkah cepat menyusuri lobby kantor Myungsoo saat ini sambil beberapa kali menganggukkan kepalaku singkat saat ada yang menyapaku.

Perasaanku sedang tidak menentu saat ini. Antara bingung, marah, gelisah, takut dan…bahagia? Entahlah. Perasaan yang saling bertolak belakang memenuhi hatiku. Seumur hidupku, aku tidak pernah merasakan rasa takut seperti ini. aku selalu percaya diri dengan apapun yang aku miliki.

Dan perasaan bahagiaku kali ini….aneh.

Semua perasaanku kali ini berbeda. Jantungku terus bertalu-talu sejak aku mengemudikan mobilku menuju gedung 25 lantai milik Myungsoo ini. aku tidak tahu ini keputusan yang tepat, atau justru keputusan yang salah. Suzy bahkan meragukanku yang mengambil keputusan ini. aku masih dapat mengingat dengan jelas, bagaimana ekspresi muka Suzy saat mendengar berita yang sama yang akan aku sampaikan pada Myungsoo saat ini.

Terkejut dan jijik, mungkin?

Tapi bukan respon Suzy yang harus aku pertimbangkan, melainkan keputusan Myungsoo nanti. Dan itu yang membuatku akhirnya memberanikan diri menemuinya. Karena aku tahu, percuma saja masalah ini aku sembunyikan. Lambat laun dia akan mengetahuinya. Dan bagaimanapun, dia harus tahu tentang ini.

Tanpa meminta izin dari asistennya, aku langsung menerobos masuk ke dalam ruangan. Disana aku melihat Myungsoo yang sedang tersenyum menatapku dan menyuruhku menunggu di sofa. Ia berkata oke pada seseorang yang sedang menelfonnya.

Ia berdiri dan berjalan meninggalkan kursi tahtanya sambil menatapku dengan hangat, sementara aku duduk dengan perasaan kalut, “ Hai sayang, bagaimana keadaanmu? Aku baru saja akan menjengukmu lagi. ”

Aku hanya tersenyum tipis. Ya, belakangan ini Myungsoo selalu mengunjungiku yang sedang tidak enak badan dirumah hingga menyuruh Suzy yang ada di Belanda cepat-cepat pulang untuk menjagaku karena tidak ada siapapun dirumah semenjak appa memutuskan untuk fokus mengurus cabang di New York.

“ Sudah lumayan, ” jawabku dengan nada ragu.

Myungsoo menatapku heran, pandangannya meneliti tubuhku dan ekspresi wajahku. Aku tahu ia bisa merasakan perasaan gelisah yang sejak tadi melandaku. Sulit rasanya menenangkan perasaanku saat ini.

“ Ada apa, darl? ”

Tubuhnya bergerak semakin dekat padaku lalu merengkuhku erat dalam pelukan hangatnya. Membuatku tanpa sadar membalasnya lebih erat, seakan menahannya agar tidak pergi dariku. Diam-diam, aku menarik nafasku dalam-dalam. Menyimpan aroma tubuhnya yang aku sukai. Menyimpan rasa hangat karena sentuhannya saat ia mengelus punggung telanjangku.

“ Aku…. ” diam sejenak, aku tahu ia menunggu kalimat selanjutnya namun aku perlu untuk memantapkan hatiku lagi. Berusaha menerima apapun yang akan terjadi nantinya, “ Hamil. ”

Saat itu tubuhnya langsung menegang, aku dapat merasakannya dengan jelas. Usapannya pada punggungku pun melambat lalu kemudian berhenti. Aku menggigit bibirku, takut. Sepertinya aku salah menyampaikan berita ini.

Myungsoo melepaskan pelukannya. Membuat hatiku mendadak serasa diremas dan tubuhku langsung merasa kehilangan. Tatapan Myungsoo yang sulit diartikan membuatku semakin kalut, hingga rasa hening yang melanda kami saat ini membuatku sesak nafas.

“ Say something, please. ” Gumamku pelan.

Ia seperti tersadar dari lamunan panjangnya, kemudian perlahan berdeham, “ Sudah berapa lama? ” Tanyanya pelan.

Aku menggigiti bibirku, ia tidak terlihat senang ataupun marah saat ini. membuatku beribu-ribu kali lipat merasa takut. Aku tidak tahu harus melakukan apa selain menjawab pertanyaannya yang tidak mengartikan suka ataupun benci.

“ Kata dokter, 5 minggu. ”

Myungsoo mengangguk pelan, lalu matanya menatapku kosong, “ Gugurkan. ”

Aku tersentak, serasa ditampar keras. Dari sekian banyak bayangan buruk yang terlintas diotakku kalau Myungsoo tidak menyukai anak ini, tidak terlintas sedikitpun kalau ia akan menyuruhku membunuh anak tak bersalah ini dengan teganya.

Tapi ternyata, aku salah.

Ia menyuruhku membunuh anak kami. Aku menggeleng keras. Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Aku bukan wanita suci. Aku bukan wanita baik-baik. Tapi aku juga bukan pembunuh. Aku memang tidak menyukai kehadirannya, tapi bukan berarti aku akan membunuh anak tidak bersalah ini.

Anakku.

“ No, ” Ucapku pelan, sedikit demi sedikit aku beringsut menjauhinya, “ Aku tidak akan membunuhnya apapun yang terjadi. ”

Myungsoo tampak tak suka dengan keputusanku. Ia berdiri memunggungiku lalu mengusap wajahnya kasar. Ia menghela nafas keras, lalu berbalik menatapku dengan pandangan yang sama. Sulit diartikan.

“ Lalu harus bagaimana? ” Tanyanya dengan frustasi, nadanya sudah naik beberapa oktaf. Ia tidak pernah tampak seemosional ini padaku, “ Kita sudah sepakat untuk pakai pengamankan! Kita sama-sama tahu, kita belum siap untuk itu. Jadi kenapa bisa kau seceroboh ini! ”

Aku berjengit kaget, refleks memeluk tubuhku sendiri karena terlalu kaget dengan bentakannya. Seumur hidupku, aku tidak pernah dibentak seperti oleh siapapun, bahkan appa tidak begini walaupun appa selalu berteriak padaku. Belum pernah ada yang berteriak dengan nada menuduh padaku. Dan aku tidak menyangka, Myungsoo akan menjadi orang pertama yang berteriak padaku.

Samar, aku melihat sorot penyesalan dimatanya. Namun ia justru membalikkan tubuhnya dan kembali ke kursi besarnya, mengabaikan aku yang ketakutan karenanya. Mungkin aku memang salah lihat.

Helaan nafas keluar dari mulutku dengan susah payah, dadaku sesak. “ Kenapa kau tidak mau bertanggung jawab, hah?! Ini juga salahmu, aku sudah mengingatkanmu saat itu! ” Balasku ikut berteriak dengan sisa energy yang aku miliki.

“ Tapi tidak mungkin kan kau hamil hanya karena kita kelepasan sekali? ”

Aku mendengus, tertawa sinis karena kebodohannya, “ Kenapa tidak mungkin? ”

“ Terserahmu saja. Yang jelas, aku tidak akan mempertanggung jawabkan anak itu karena ini semua adalah akibat dari kelalaianmu. Sekarang kau bisa pergi, aku sibuk. ”

Lalu saat itu aku merasakan darahku berhenti mengalir, membuat sekujur tubuhku lemas tak berdaya. Tamparan telak dua kali untukku. Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan antara fakta tentang Myungsoo tidak mau bertanggung jawab, atau fakta bahwa ia ingin aku membunuh anaknya.

Saat aku menyadari air mataku akan turun, aku buru-buru berdiri dan meraih tasku, “ Baiklah, aku akan pergi. ”

Aku berjalan cepat keluar dari ruangan Myungsoo. Ia bahkan tidak menghentikanku atau mengatakan apapun. Mungkin sekarang Myungsoo juga jijik padaku.

Tanpa memperdulikan tatapan heran seisi gedung ini, aku terus berjalan cepat. Menatap tajam orang-orang yang ikut menunggu lift bersamaku hingga tak ada satupun yang berani masuk saat lift itu terbuka dan aku bersyukur dengan itu. Hingga saat aku melihat pintu keluar gedung ini, aku berlari kecil dengan heels 9 cm-ku, tidak sabar untuk segera keluar dari gedung terkutuk ini.

Tepat saat aku masuk kedalam mobilku, aku menangis terisak. Dengan kesal, aku memukul-mukul perutku, menyesal kenapa harus seperti ini. menyesal kenapa saat itu aku tidak bisa menghentikan Myungsoo. Menyesal karena aku memberitahunya sekarang.

Menyesal karena didalam lubuk hatiku, aku sempat yakin Myungsoo akan menerima anak ini dan menikahiku. Dan ternyata aku salah, kenapa aku bisa mengkhayalkan harapan sehina itu?

Hingga aku merasa lelah dan perutku yang terasa sakit karena aku pukul, aku menghentikan tanganku. Tangisku masih deras. Aku tidak sanggup. Aku bingung. Aku tidak tahu siapa yang harus aku salahkan saat ini.

Apa aku memang harus mengakhiri nyawanya dan kembali hidup seperti biasa dengan Myungsoo?

Aku tidak sanggup kehilangan Myungsoo sekarang.

Tapi aku juga masih punya hati dan tidak tega untuk membunuh anakku.

Pilihan yang sulit ini membuatku makin menangis. Berkali-kali kepalaku kubanting ke stir mobilku, membuat kepalaku berdenyut nyeri. Aku butuh ini. aku butuh rasa sakit untuk membuat pikiranku lebih terbuka. Aku butuh rasa lelah dari menangis agar aku bisa memutuskan apa yang harus aku lakukan.

Jika Myungsoo tidak ingin mempertanggung jawabkan anak ini dengan menikahiku, itu artinya sejak awal ia tidak serius denganku. Ia tidak memiliki niat untuk menikah denganku lalu hidup bahagia seperti akhir yang sempurna. Ia hanya menyukaiku, seperti ia menyukai boneka-bonekanya dulu. Lalu pada akhirnya mencampakkanku setelah apa yang ia inginkan telah ia dapatkan, sama seperti wanita lain.

Aku tertawa miris. Kenapa aku begitu bodoh.

Justru aku malah terbang di awan. Merasakan perasaan cinta menjijijkkan yang memenuhi tiap jengkal hatiku untuknya. Merasa ia memiliki perasaan yang sama denganku tanpa sedikitpun rasa curiga. Aku begitu naif.

Jadi inikah akhir dari hubungan kami yang sudah hampir setahun? Hanya tinggal menghitung hari, hubungan kami sudah berjalan setahun. Tapi itu artinya, aku juga sudah dibutakan dengan hubungan bodoh selama hampir setahun.

Aku telah bodoh karena percaya kalimat cinta yang diobralnya hampir setiap hari selama nyaris setahun.

Adakah perempuan yang lebih bodoh dariku saat ini?

*****

Aku berjalan dengan langkah pelan kedalam rumah. Setelah seharian berjalan tak tentu arah, akhirnya aku memutuskan untuk pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Terlalu banyak kena angin malam pasti tidak akan baik bagi tubuhku saat ini. yang aku butuhkan saat ini adalah istirahat, bergelung dengan selimut tebalku.

“ Oh my, dari mana saja kau Park Jiyeon?! Ponselmu bahkan tidak aktif. ” Teriakan seseorang membuatku menoleh.

Suzy telah berdiri dari duduknya dan menarik tanganku dengan paksa untuk duduk diatas sofa bersamanya. Ia menatapku dari atas kebawah dan meneliti setiap inchi tubuhku untuk memastikan aku tidak apa-apa. Ia menghela nafas.

“ Darimana saja kau? ” Tanyanya lagi.

“ Club. ”

“ DEMI TUHAN, PARK JIYEON. KAU MINUM?! ”

Teriakannya membuat telingaku berdenging. Aku menatapnya kesal, “ Tidak, bodoh. ”

Walau aku sama sekali tidak memiliki ilmu apapun tentang ibu hamil, aku tahu alcohol pasti tidak baik untuk anakku. Ya, anakku. Dan karena itu, aku tidak meminum setetes pun alcohol walaupun bartender kenalanku terus saja mencekokiku dengan minuman itu.

Aku sudah memutuskan untuk merawat dan membesarkan anakku sendirian. Aku tidak butuh Myungsoo untuk mengakuinya sebagai anakku. Setelah pergelutan hebat antara hati dan otakku, aku memutuskan untuk mengikuti kata hati nuraniku.

Sejak keputusanku bulat, aku sudah bertekad untuk selalu menjaga anakku. Menyayanginya dengan sepenuh hati. Berharap ia akan bahagia walaupun ia tidak akan merasakan kasih sayang dari appanya. Tak apa, ia akan merasakan semuanya dariku. Aku akan memberikan apapun agar anakku bahagia kelak.

Tanpa sadar, telapak tanganku bergerak mengelus perutku yang masih rata, tatapanku sendu membayangkan aku akan menjadi seorang ibu.

Terdengar helaan nafas dari sebelahku, membuat kepalaku terangkat dan menatap Suzy yang memberikanku tatapan kasihan. Ia bergerak mendekat dan memelukku. Menepuk-nepuk bahuku, berusaha memberikan kekuatan.

Ini yang aku butuhkan. Seseorang yang mendukung keputusanku.

“ Lupakan saja dia kalau dia tidak mau bertanggung jawab. ”

Aku mengangguk. Air mataku menetes lagi, namun dengan cepat aku menghapusnya agar Suzy tak semakin memandangku kasihan.

Kenyataannya, berbicara memang lebih mudah daripada melakukan yang sebenarnya. Melupakan Myungsoo tak akan pernah menjadi hal yang mudah. Aku mungkin akan mengingatnya seumur hidupku. Dia mungkin akan menjadi kisah cinta terakhirku.

Ia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan sungguh-sungguh, “ Aku akan mendukung apapun keputusanmu. ”

Lagi-lagi, aku hanya bisa mengangguk dan menggumakan kata terimakasih. Semoga saja appa juga akan mendukung keputusanku. Semoga appa masih menerima kehadiranku sebagai anakknya yang telah membuat aib karena hamil tanpa suami. Semoga appa tak berniat untuk membunuh anakku.

Karena jika appa berniat begitu, tak satupun manusia dimuka bumi ini sanggup menghentikanya, termasuk aku.

“ Bungkusan apa ini? ” Tanya Suzy.

Ia membuka bungkusan besar yang aku bawa. Tadi sebelum ke club, aku menyempatkan diri untuk membeli buku tentang ibu hamil dan beberapa susu untuk ibu hamil.

“ Susu? Park Jiyeon akan minum susu? ”

Aku mengangguk mantap. Walaupun aku benci susu seumur hidupku, namun kali ini aku harus berkorban. Menurut info dari beberapa channel televisi dulu, minum susu penting untuk kesehatan ibu hamil dan kandungannya. Aku tidak mau punya anak cacat hanya karena aku tidak mau minum susu, kan.

Suzy mendengus kesal, ia menatapku dengan wajah cemberut, “ Kau membeli semua merk susu ibu hamil tapi tidak membelikan sesuatu untuk dimakan? ”

Aku terkekeh pelan, “ Aku tidak tahu merk apa yang bagus, jadi aku membeli semuanya. ” Jawabku enteng, lalu terkekeh lagi saat mengingat ibu-ibu yang menatapku aneh karena menjatuhkan semua susu ibu hamil ke dalam trolley-ku, “ Lagipula, kalau kau ingin makanan tinggal ambil di kulkas, kan. ”

“ Tapi tak ada satupun isi kulkasmu yang menarik minatku, ”

Kali ini aku yang mendengus, “ Tentu saja, kau hanya berminat pada laki-laki tampan. ”

Suzy terkikik dengan mengikuti gaya wanita jalang, “ Kau benar juga. ”

Aku menggelengkan kepalaku, heran dengan tingkah Suzy yang tak pernah ada tobatnya. Lalu tiba-tiba ponselnya berdering, Suzy menatap layarnya dengan pandangan aneh namun akhirnya mengangkat telfon itu.

Terdengar suara pria dari telfon itu. Suzy menunggunya selesai bicara lalu dengan nada panik bercampur cemas ia menutupnya, “ Okey. Besok kita bertemu. ”

Tidak biasanya Suzy seketus itu dengan seorang pria. Ia biasanya akan terdengar anggun atau malah menggoda lawan bicaranya. Memangnya siapa yang menelfon Suzy tengah malam begini kalau bukan pacarnya?

“ Mantan teman kencanku, ” Jawabnya acuh saat aku menatapnya dengan pandangan bertanya, “ Masih saja mengejarku padahal aku sudah bilang putus.”

Aku bergumam, mengerti. Aku sangat tau rasa kesal saat seorang pria yang sudah membuatku bosan setengah mati justru dengan tidak tahu malunya mengejarku. Berharap aku akan kembali padanya.

“ Ayo tidur, aku mengantuk menunggumu dari tadi. ”

*****

Aku tersentak dari tidurku saat perasaan mual yang belakangan ini selalu muncul itu kembali. Dengan membanting pintu kamar mandi, aku berlari sempoyongan dan berusaha mengeluarkan apapun yang ada diperutku namun tetap saja nihil. Aku hanya merasa mual tanpa ada yang bisa aku keluarkan.

Erangan kesal meluncur dari mulutku, tenggorokanku bahkan belum sembuh dari sakitnya karena mual kemarin. Selalu seperti ini. setiap pagi aku selalu terbangun jam 6 pagi karena mual tak tertahankan yang menyentakku dari tidur yang bahkan baru aku nikmati beberapa jam. Tangan kiriku bertumpu pada wastafel, sedangankan tangan kananku bergerak untuk memijat pelipisku yang berdenyut sakit karena kurang tidur dan gerakan tiba-tiba yang aku lakukan padahal nyawaku belum terkumpul sepenuhnya.

Sebegini tersiksa kah rasanya hamil? Kalau begitu aku tidak akan mau hamil lagi.

Ugh, bahkan satu-satunya orang yang aku bolehkan menghamiliku sudah aku cap pria brengsek. Mana mungkin aku hamil lagi. Miris sekali hidupku.

“ Minum dulu, ”

Tatapanku jatuh pada orang yang berdiri dibelakangku melalui kaca. Suzy tampak kasihan melihatku yang berkali-kali mengalami ini selama hampir seminggu. dia mungkin terbangun karena suara berisik yang aku timbulkan. Lainkali, dia memang harus tidur dikamar lain agar tidak terganggu lagi.

“ Aku bisa gila kalau begini terus selama 9 bulan, ” gumamku sambil mengambil minum yang dipegangnya, “ Memangnya aku tidak boleh minum obat anti mual atau sejenisnya? ”

Suzy berdecak, “ Ini namanya morning sickness. Kau tidak akan mengalaminya sampai 9 bulan. Kau benar-benar tidak memiliki ilmu tentang ini sedikitpun, ya? ”

Setelah menghabiskan minumku, aku menggeleng, “ Tidak ada yang pernah menceritakan hal-hal seperti ini padaku. Appaku mungkin juga tidak tahu tentang hal-hal begini. ”

Tangan Suzy terulur untuk memukul kepalaku, membuatku menyumpah pelan, “ Kau kira umma-mu tidak mengalami hal seperti ini sebelum melahirkanmu kedunia? ” Omelnya, “ Tentu saja appamu juga tahu. Kau saja yang bodoh tidak ingin mencari tahu. ”

Dia benar juga. Salahku juga sejak dulu tidak pernah mencari tahu lebih lanjut tentang ilmu seperti ini, aku hanya mempelajari ilmu-ilmu yang menurutku lebih penting dan menelan yang tidak penting itu bulat-bulat tanpa aku proses.

Ternyata ummaku juga kesulitan seperti ini saat sedang mengandungku. Sayang sekali rasanya umma tidak ada di dunia ini sejak aku lahir. Padahal, kalau ummaku masih ada saat ini mungkin aku sekarang sudah berlutut dihadapannya, memohon cara agar aku bisa menghilangkan rasa mual ini.

Mendapatkan ilmu dari yang berpengalaman memang lebih baikkan?

Baiklah. Karena menurut pengalaman ‘morning sickness’ yang beberapa hari ini aku dapatkan, aku memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan tidurku karena pasti akan sia-sia. Rasa kantukku sudah lenyap bersama dengan udara yang aku muntahkan dari mulut tadi. Jadi aku memutuskan untuk membuka buku tentang ibu hamil yang aku beli kemarin, daripada memikirkan sesuatu yang membuatku sedih sepanjang hari seperti wanita yang ditinggal mati calon suaminya.

Mulai dari apa yang harus aku konsumsi selama hamil—perbanyak makan makanan yang bergizi, buah, daging tanpa lemak dan sayur. Ditambah minum susu yang rasanya seperti muntahan sapi—apa yang harus aku jauhi seperti alcohol, obat-obatan yang mengandung zat-zat tertentu, makanan cepat saji, soft drink, kopi dan beberapa list makanan yang justru sangat aku sukai. Aku harus perbanyak minum airputih dan sesekali olahraga khusus untuk ibu hamil.

Sekarang, mari mulai dengan mencari jenis susu ibu hamil yang baik untukku.

“ Aku pergi dulu, jangan melala lagi hari ini, okey? ”

Kepalaku mengadah, menatap Suzy yang sudah tampak cantik seperti biasa. Aku hanya mengangguk jengah karena diperlakukan seperti orang sakit keras. Namun kemudian hidungku mengernyit mencium sebuah bau yang merangsang tenggorokanku untuk mengeluarkan sarapan yang aku makan tadi.

“ Damn, ” umpatku, “ Parfum sialmu, bau sekali! pergi sana! ”

Suzy menatapku aneh, sedangkan aku sedang berusaha menutup hidungku dengan benda apapun agar tidak mencium bau parfum Suzy lagi. Sial. Jangan lagi. Aku tidak ingin mengalami mual dua kali dalam sehari. Sekali sehari saja membuatku ingin bunuh diri saja.

“ Kau gila, ya? Aku sudah memakai parfum ini lebih dari setengah umurku dan kau mengomentarinya sekarang?! ”

Tapi bukannya menanggapi omelan Suzy, aku malah melompat dari atas tempat tidur dan berlari kedalam kamar mandi sambil menahan mulutku agar tidak mengeluarkan isinya di tengah jalan. Double sialan. Perutku seperti berputar dan seperti ada sesuatu yang mendesak di tengorokanku namun tetap saja tidak ada satupun yang bisa keluar dari mulutku.

Oh, tuhan, kapan ini akan berakhir?

“ SHIT! ” teriak Suzy frustasi, membuatku bingung setengah mati kenapa malah seperti dia yang menderita disini, “ OKE. AKU PERGI. BESOK AKU GANTI PARFUM, KAU PUAS SIALAN?! ”

Aku mengangguk lemah walaupun Suzy tidak akan melihatku disini. Terdengar bunyi pintu yang dibanting keras saat aku memijat kepalaku yang semakin pusing dengan rasa mual yang terus saja membunuhku perlahan.

Sepertinya aku harus keluar juga dari kamar terkutuk ini. parfum sialan itu bahkan masih tercium walaupun penggunanya keluar. Aku melangkahkan kakiku lebar-lebar keluar dari kamar setelah mengambil tas yang terakhir kali kupakai kemarin dan juga buku tadi. Mungkin udara luar akan lebih baik saat ini.

Aku butuh udara untuk melupakan Myungsoo. Aku butuh waktuku sendiri.

Hingga akhirnya aku tiba di café terdekat dari rumahku bersama supir yang biasa appa pakai. Setelah bertahun-tahun tidak ingin lagi diantar supir—kecuali didesak appa—rasanya aneh juga diantar begini.

Aku turun dari maybach 62 ku diiringi dengan tatapan penasaran, kagum dan iri seperti biasa. Bedanya kali ini aku terkekeh dalam hati. Apa jadinya kalau mereka tau aku sedang hamil tanpa diakui?

Baru kali ini aku merasa penuh kekurangan. Baru kali ini aku merasa ternyata hidup memang tidak ada yang sempurna. Setelah 20 tahun lebih aku menjalankan kehidupan yang sempurna, akhirnya aku ditampar juga oleh kekurangan. Memang apa kurangnya aku dari wanita-wanita beruntung diluar sana yang dinikahi oleh pria yang dicintainya? Memangnya aku kurang pantas? Aku kurang cantik? Apa aku kurang baik? Apalagi yang dimiliki wanita beruntung lainnya yang aku tidak miliki?

Mungkin ini pelajaran untukku.

Pandanganku bergerak liar mencari tempat kosong yang strategis untuk merenungi kekuranganku. Dan ternyata itu kesalahan besar.

Aku melihatnya.

Aku melihat Myungsoo.

Bersama wanita.

Mataku menyipit. Rasanya aku mengenal pakaian dan rambut wanita yang memunggungiku itu.

Suzy? Bae Suzy?

Pandanganku terpaku pada titik itu. Tanpa memperdulikan omelan orang-orang yang jalannya tertutup oleh tubuhku. Myungsoo tampak depresi saat berbicara dengan si jalang sialan itu, membuatku penasaran apa yang sedang mereka bicarakan. Dan kemudian, Suzy mengelus lengan Myungsoo dan mengatakan sesuatu ntah apa. Lalu Myungsoo tersenyum lembut.

Senyum itu. Harusnya itu milikku, kan?

Tapi senyum itu berpindah kepada wanita lain. Dan lebih sialnya, pada sepupuku. Sahabat satu-satunya yang aku miliki, kalau dia memang masih pantas disebut sahabat.

Ya tuhan, apalagi ini?

Tubuhku langsung bergerak mundur lalu kemudian berbalik arah. Aku tidak bisa melihat ini lebih lama. Aku tidak akan sanggup. Aku menggeleng, berlari kecil dengan sisa tenaga yang aku miliki menuju mobilku diiringi dengan pandangan heran oleh siapapun yang melihatku. Aku tidak tahu bagaimana bentuk wajahku saat ini. aku tidak perduli lagi.

“ Bandara, ”

Setelah mengatakan satu kata singkat itu air mataku kembali menetes, diikuti dengan isakan tertahan. Tanganku sudah siap menahan mulutku jika aku kebablasan untuk menangis histeris. Tidak ada yang boleh melihat betapa rapuhnya aku saat ini. tidak ada yang boleh tau bagaimana hancurnya aku sekarang. Tidak ada yang boleh tahu, kalau aku, Park Jiyeon yang sempurna hancur lebur tanpa sisa.

Tidak, termasuk juga supirku.

*****

Tubuhku terhempas keatas kasur empuk dalam apartemenku. Menempuh perjalanan jauh saat hatiku sedang kacau balau bukan pilihan bijak. Berkali-kali aku menyumpah serapah kepada petugas bandara atau siapapun yang berani menyenggolku sedikit saja. Beberapa pegawai toko bahkan hampir menangis mendengar bentakanku yang mengomentari betapa jeleknya barang yang mereka tawarkan. Dan 2 orang yang paling na’as malah menangis sambil bersujud padaku karena kupecat—aku punya saham yang besar untuk kedua toko tersebut. Masalahnya simple, mereka berani melawan omelanku.

Aku memang jahat. Karena itu aku mendapatkan balasan seperti ini, kan?

Tanganku bergerak meraih tasku untuk mengeluarkan ponselku dan menghidupkannya. Beberapa notifications langsung memenuhi ponselku.

From : Bae.

Oh tuhan, sudah jam 12 malam. Kau dimana sialan?!

From : Bae.

Damn you, Jiyeon. Kau ingat sekarang kau hamil? Pulang sekarang!

Apa dia kira dia masih pantas pura-pura mengkhawatirkanku sekarang? Apa dia tidak tau seberapa menjijikkan dia dimataku saat ini? apa dia tidak tau kalau dia adalah manusia terhina dimataku saat ini? dasar perempuan jalang. Licik. Munafik.

Kau harusnya mati.

Pikiran itu terlintas didalam otakku, namun yang kulakukan malah menumpukan seluruh tenaga yang kumiliki pada tangan lalu melemparkan ponsel sialanku ke tembok dengan sepenuh hati hingga ponsel itu hancur berkeping-keping.

Aku tertawa terbahak-bahak. Bahkan ponsel itu bernasib sama denganku. Kami benar-benar kompak, ya.

Tawaku membahana dalam ruangan sunyi ini, bersamaan dengan air mata yang ntah milik siapa jatuh diwajahku. Semakin besar tawaku, semakin deras pula air mata itu jatuh. Air mata ini mengangguku hingga akupun lelah tertawa. Aku menyentuh wajahku, mengusap air mata yang ternyata keluar dari mataku sendiri.

Oh, air mataku.

Aku terkekeh, kenapa aku sebodoh ini? apa patah hati mempengaruhi otak seseorang?

Rasa pusing yang tak tertahankan membuatku terbangun dari tidurku. Baju yang aku gunakan masih sama dengan tadi malam. Jendela besar yang menghadap gedung-gedung tinggi di Paris masih terbuka lebar, pantas saja aku merasa kedinginan saat ini. langit sudah terang dan bunyi keributan pagi ala kota besar tertangkap dari jendelaku.

Bahkan pagi ini rasa mualku tergantikan dengan pusing yang hebat hingga membuatku mengerang saat mencoba bangkit dari tidurku. Aku duduk dan menyandarkan kepalaku dilutut, sesekali mengetuk-ngetuknya berharap rasa pusing itu berkurang sedikit saja.

Setelah merasa terbiasa dengan rasa sakit itu, akupun bangkit dan mandi. Mungkin air dingin bisa meringankan kepalaku dan menyegarkan mataku yang bengkak karena menangis semalaman. Aku memang menyedihkan. Menangisi sesuatu yang percuma hingga mataku terlihat seperti monster.

Dengan atasan putih karya dolce&gabbana yang kupadukan dengan blazer hitam karya verawang dan celana jeans putih. Tak lupa dengan kacamata hitam yang syukurnya sempat aku beli saat melewati counter channel yang ada di Charles de gaulle untuk menutupi mata monsterku. Aku sudah menyusun rencana sempurna hari ini agar aku tidak terus berbuat bodoh dengan meratapi nasibku burukku. Aku akan jalan-jalan mengelilingi paris, berbelanja, mencoba semua makanan yang aku inginkan dan mencari pacar baru, mungkin?

Yang terakhir memang mustahil, hapus saja dalam list-ku. Dan sebelum itu, aku harus mengunjungi suatu tempat.

*****

Pintu mobil jaguar merah—yang baru saja aku pesan tepat saat aku menginjakkan kaki di perancis—kuhempaskan setelah ia terparkir sempurna. Kakiku melangkah memasuki gerbang, melewati deretan batu nisan sambil membacanya satu persatu. Aku hanya melangkah sesuai insting, karena aku sama sekali tidak mengingat dimana tepatnya makam itu. Sudah 10 tahun sejak terakhir kali aku mengunjunginya.

Setelah cukup lama berjalan—untungnya makam disini memang berurutan sesuai tanggal—aku menemukannya. Tanganku bergerak melepas kacamata yang kugunakan. Ujung bibirku terangkat menatap nama itu.

Nama umma-ku.

Aku duduk disebelahnya, meletakkan bunga mawar merah yang sempat ku beli, kemudian menatap lama pada makam yang telah dilapisi keramik sepenuhnya. Aku berdeham, bingung harus memulai darimana.

“ Hai umma, ” gumamku tak yakin. Aku tidak tahu harus memanggilnya bagaimana karena aku belum pernah memanggilnya seumur hidupku bahkan saat aku mengunjunginya dulu sekali, “ Maafkan aku karena tidak pernah mengunjungimu sebelumnya. ”

Jeda sejenak. Mungkin aku bisa bercerita disini. Walaupun terdengar bodoh karena bercerita pada sebuah makam, namun tidak bisa dipungkiri kalau ini adalah makam ummaku. Wajar saja kan bercerita pada orangtua, mu? Aku memang tidak pernah melakukannya tapi dari beberapa film yang aku tonton, anak-anaknya sering bercerita tentan masalah mereka pada orang tuanya.

Aku menarik nafas, “ Aku tidak tahu harus memulainya darimana. Aku tahu, tidak sepantasnya aku bercerita setelah sekian lama aku tidak mengunjungimu. Tapi aku, ” Kalimatku terputus karena nafasku tersedak oleh keinginan untuk mengeluarkan isakan, aku menahannya sekuat tenaga, “ Tidak punya siapapun untuk berbagi. ”

Setetes airmataku jatuh, namun aku mengacuhkannya, “ Aku sedang hamil, umma.. ” gumamku perlahan, seolah sedang mengakui dosaku, “ Aku mencintainya. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Dan saat aku memutuskan untuk mencintainya habis-habisan, perasaanku tidak berbalas. Dia menyuruhku menggugurkan anak kami. Tapi aku menolaknya, aku ingin mempertahankan bayi kami. Apa pilihanku salah? Kalau aku benar, kenapa rasanya sakit sekali umma? ”

Kalimatku terputus karena isakan yang lolos dari mulutku, air mataku telah mengalir lagi, “ Aku tahu, setiap jatuh pasti ada yang patah atau rusak. tapi aku tidak menyangka akan seperti ini. apa karena aku jahat? Apa aku memang pantas mendapatkan ini? ” isakanku makin hebat. Ada rasa hantaman sekaligus kelegaan luar biasa saat aku menceritakan isi hatiku sekalipun aku tau tidak akan ada respon yang diberikan umma, “ Apa yang harus aku lakukan, umma? Apa lagi sekarang? Aku tidak mungkin melupakannya, bahkan disaat dia sudah mendekati wanita lain. ”

Aku menelungkupkan tanganku dimulut, menahan agar isakanku tidak terlalu hebat walaupun aku tidak berniat untuk berhenti. Lagi-lagi aku menangis untuk alasan yang sama. Padahal dulu sekali, aku pernah berjanji untuk tidak menangis dengan alasan yang sama. Dulu saat umurku 10 tahun. dan diumurku yang sudah 25, aku melanggarnya.

Tapi aku harus janji, ini adalah terakhir kalinya aku menangis. Tidak apa-apa aku menangis hebat kali ini, dan selanjutnya aku tidak akan melakukannya. aku yakin aku bisa melalui ini. hidupku tidak akan berakhir hanya karena patah hati, bukan? Lalu apa yang harus aku tangisi lagi?

Yang kulakukan selanjutnya hanya menatap kosong pada makam umma sambil memeluk kakiku dan menyandarkan daguku dilutut. Aku masih sesenggukkan, tanganku bergerak menghapus airmataku yang masih mengalir walaupun tidak deras.

Aku harus berhenti, stress pasti tidak baik untuk kesehatan kandunganku.

Setelah merasa lebih baik, aku berusaha menarik ujung bibirku membentuk senyum kecil. Kulirik jam tanganku, ternyata sudah hampir 1 jam lamanya aku duduk disini. Mungkin sudah waktunya aku memulai perburuanku pada barang-barang cantik.

Aku berdiri, memasang kembali kaca mataku, “ Terimakasih sudah menjadi pendengar yang baik, umma. Aku janji akan hidup lebih baik lagi dan lebih sering mengunjungimu. Sampai jumpa lagi, umma. ”

Dan hari itu aku benar-benar berbelanja seperti dunia akan berakhir besok. Aku benar-benar kalap saat menyusuri Lafayette Coupole di Galeries Lafayette. Aku bahkan memasuki semua toko tersebut, satu persatu tanpa sisa. Mulai dari Christian Dior, Yves Saint Laurent, Prada, Chanel, hingga counter Louis Vuitton yang terbesar di didunia itu dan berbagai merek yang tidak akan aku sebutkan satu-satu. Bahkan aku telah membeli 2 mobil sport baru saat ada pameran pengenalan mobil-mobil tersebut, entah apa gunanya. Salahkan saja kenapa mobil itu begitu menggemaskan dan tidak tahu kenapa secara mendadak aku memiliki dorongan untuk membelinya. Untungnya, aku sempat memindahkan setengah dari asset yang kumiliki kedalam kartu-kartu baru yang aku buat agar mereka sulit melacakku. Walaupun tidak akan sulit bagi appa.

Biasanya memang begini caraku saat sedang stress atau ada masalah yang membuat otakku tak bisa berhenti berfikir. Hanya dengan berbelanja gila-gilaan, aku lebih rileks. Tapi aku tidak menyangka bisa separah ini.

Hingga akhirnya aku memutuskan pulang karena kakiku yang terasa pegal walaupun aku memakai flat shoes—buku kemarin mengatakan heels tidak bagus untuk ibu hamil—dan badanku yang serasa remuk. Padahal aku tidak pernah merasa lelah saat berbelanja atau mengelilingi mall sekalipun dengan sepatu heels 12 cm. mungkin ini efek dari kehamilanku. Dari buku itu, aku tahu ibu hamil akan lebih mudah lelah.

Setelah membeli bahan-bahan makanan untuk satu minggu, akupun pulang kembali ke apartement. Barang-barang belanjaanku sudah aku titip pada room boy agar mereka antar ke kamarku. Begitu masuk, aku menghempaskan tubuhku diatas sofa dan memejamkan mata. Mungkin besoknya aku harus beristirahat full untuk memulihkan tenagaku, dan besoknya lagi baru mengunjungi Boulevard Haussmann untuk mengulang kegiatan yang menjadi hobiku ini.

Dan setelah itu, baru aku akan berfikir, bagaimana aku melanjutkan hidupku.

*****

Hari ini tepat seminggu aku berada di Paris dan rasanya membosankan. Aku sudah pernah menghabiskan seharian penuh berjalan-jalan mengelilingi objek wisata perancis dan itu membuatku bingung setengah mati karena mendadak aku bertingkah norak saat berada di menara Eiffel, seperti tiba-tiba aku ingin berfoto sebanyak mungkin di menara itu. Padahal biasanya, Eiffel sangat tidak menarik minatku. Rasanya sama saja melihat namsan tower, terlalu biasa dan tidak spesial sangking seringnya aku lewati.

Ugh, mungkin ini yang namanya ngidam. Tapi kenapa cepat sekali ya?

Tatapanku jatuh pada ponsel yang sejak kubeli tidak pernah ada notifications dari orang-orang yang aku inginkan. Tidak appa, tidak teman-teman sosialitaku. Dan tentu, tak ada Myungsoo bahkan Suzy.

Mungkin aku memang lebih cocok hidup sendirian. Keputusanku mengganti nomor ponselku memang tepat.

Tanganku meraih kunci mobil, kemudian memasukkan ponsel dan dompetku dalam clutch merah Channel yang kemarin kubeli. Sepertinya aku membutuhkan udara segar saat ini, 2 hari mendekam di apartement membuatku muak setengah mati. Mungkin ada baiknya aku jalan-jalan sebentar hari ini. besok aku akan pergi ke Italia, melanjutkan aksi belanjaku dan mungkin bekerja. Rasanya aku juga rindu bekerja.

Ferarri hitamku bergerak pelan menyusuri kota paris yang padat saat musim liburan tiba, mataku bergerak mencari-cari tempat menarik yang bisa aku kunjungi. Hingga akhirnya sebuah café kecil menarik perhatianku. Aku memutar kemudiku dan berhenti.

Café ini bernuansa unik dengan aksen vintage yang lucu. Mungkin aku harus sering-sering kesini, suasananya nyaman dan hangat. Lagipula disini tidak terlalu ramai dan cukup dekat dari apartement-ku. Seorang pelayan berwajah ramah memberikan buku menu dan menanyakan pesananku.

Aku membaca isinya satu persatu. Ingin sekali aku mencoba kopi disini yang sepertinya enak, tapi aku masih ingat bahwa aku harus menjauhi kafein. Aku menghela nafas berat, hamil memang berat. Kenapa rasanya 9 bulan lama sekali?

“ Thѐ jasmine, s’il vous plaĭt.(Teh jasmine, tolong) ” Ucapku tersenyum sambil menyerahkan buku.

Pelayan muda tersebut tampak terperangah sebentar, lalu buru-buru tersenyum sopan, “ Attendez une minute, Mademoiselle. (Tunggu sebentar, nona.) ”

Aku mengangguk dan pelayan itupun berlalu setelah mengambil buku menu. Pandanganku berkeliling menatap pemandangan kota yang padat dari jendela besar disebelahku. Tak terhitung jumlahnya pasangan kekasih yang melewati jalan ini, mulai dari anak sekolahan, pasangan muda hingga kakek-nenek. Tanpa sadar aku mendengus, iri. Semudah itu bagi mereka untuk bersama.

Sebuah hubungan memang tidak harusnya rumit. Hanya membutuhkan seorang lelaki dan perempuan yang saling percaya, saling berjuang dan saling mencintai. Jika ketiga itu ada, maka hubungan itu akan berjalan mulus. Tidak ada yang sulit, sama sekali.

Tapi kenapa sulit sekali bagiku?

Aku tersenyum kecut, lalu mengalihkan pandangan ke dalam café. Tak banyak yang duduk disini, hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati kopi dan beberapa orang yang tertawa bersama temannya. Hingga aku menemukan sebuah tulisan yang terukir indah di papan tak jauh dariku.

Aprѐs la pluie le beau temps.

Dimana ada kesulitan, disitu ada kemudahan.

Mungkin ya, bagi orang-orang yang baik dan tidak berlaku pada perempuan jahat sepertiku. Hidupku selama ini terlalu dipenuhi dengan kemudahan, hingga akhirnya kesulitan itu datang karena aku lupa tidak ada hidup yang sempurna. Dan sekarang tuhan memberi tahukan aku tentang itu, dengan cara yang menurutku sulit.

Baiklah, aku tahu, masih banyak orang yang lebih kesulitan dariku.

Tatapanku jatuh pada meja dihadapanku yang sudah dihuni oleh secangkir teh hangat dan seikat bunga cantik. Dahiku mengkerut menatap bunga tersebut dan mengambil, hingga sebuah kertas terjatuh.

Beautiful flowers for a beautiful lady. Don’t be sad, mademoiselle.

Aku tersenyum kecil dan mengedarkan pandanganku. Pelayan muda yang ternyata berwajah tampan itu tersenyum padaku. Sepertinya dia yang memberikan bunga saat mengantar tehku. Tapi kenapa aku tidak sadar?

Bahuku terangkat, siapa yang perduli. Kenyataannya aku memang kurang memperhatikan keadaan sekitar sekarang. Aku terlalu sibuk meratapi nasib percintaanku yang gagal. Mungkin aku memang harus cepat-cepat mencari pacar baru.

Ide bagus, aku akan berjalan kaki setelah menghabiskan tehku.

Aku meninggalkan selembar uang yang melebihi harga tehku lalu beranjak sambil membawa bunga itu. Tidak mungkin aku meninggalkannya.

Oh, mungkin saja. Jika itu aku yang dulu. Aku akan berubah, aku akan menjadi orang yang lebih baik lagi. Aku tidak boleh sombong. Aku tidak boleh menganggap remeh siapapun. Pikiran untuk menjadi lebih baik memang secara mendadak timbul diotakku sejak beberapa hari yang lalu.

Kakiku melangkah, menyusuri jalanan kota bersama para pejalan kaki lainnya. Aku tersenyum kecil melihat taman kota dihadapanku, beberapa anak kecil tampak tertawa riang disana. Ada penjual gulali, hot dog dan ice cream juga disana. Dan sepasang kakek-nenek yang menarik perhatianku, mereka tampak mesra diumur mereka yang sudah tidak muda lagi.

Tanganku refleks bergerak mengelus perutku saat melihat anak-anak yang itu berlarian. Anakku nanti pasti juga cantik sepertiku, atau tampan seperti ayahnya. Aku jadi semakin tidak sabar menunggu kelahirannya.

Tanpa sadar aku sudah berkeliling terlalu jauh hingga kakiku terasa sakit. Kepalaku menoleh kekanan dan kiri. Ada sebuah jalan sempit yang pasti menuju ke parkiran café tadi karena jalan yang aku keliling berbentuk persegi empat. Jalan sempit itu pasti jalan memotong menuju tempatku berjalan pertama kalinya.

Aku berjalan melewati lorong sempit itu tanpa ragu. Jalan itu sunyi, membuat bulu kudukku merinding.

Sabar Jiyeon, jangan berlebihan begitu, jalan ini tidak begitu panjang juga. Aku pasti aman.

Namun, aku tau aku salah saat aku melihat 2 orang preman yang mencegat jalanku, mereka baru keluar dari balik tembok bangunan yang terpisah. Badan mereka besar dengan berbagai macam tattoo yang menghiasi tubuh mereka. Jangan tanya lagi bagaimana mukanya, kalau anak didalam perutku bisa melihatnya, ia pasti sekarat.

Anak?

Refleks aku memeluk perutku dan memutar tubuhku untuk berbalik arah. Tapi sebelum aku berhasil melakukannya, seseorang dari belakangku menutup mulutku dengan saputangan.

Dan semuanya gelap.

*****

Mataku terbuka saat kesadaran telah melingkupiku. disini gelap, tapi tidak gelap sepenuhnya. Aku kembali menutup mataku dan membukanya lagi perlahan, mengerjap untuk membiasakan diri dengan sumber cahaya yang remang-remang dari lantai.

Aku mulai memperhatikan keadaan sekelilingku.

Apa ini?

Saat ini aku sedang terduduk diatas sofa merah, dengan kedua tangan dan kaki yang terlepas. Tidak terikat oleh tali seperti yang ada difilm-film saat scene penculikan, apalagi lakban bau yang harusnya menempel di mulutku. Pandanganku jatuh pada lantai, dan dahiku mernyit saat tau apa yang ada disana.

Berpuluh-puluh lilin-lilin yang bersusun panjang, satu-satunya penerangan yang ada diruangan ntah apa ini dan membentuk jalan yang mungkin harus aku ikuti. Ditambah lagi kelopak-kelopak bunga mawar yang berserakan sepanjang jalan. Kalau aku saat ini sedang tidak diculik, aku akan menganggap ini romantic sekali.

Siapa yang melakukan ini padaku? Mantanku yang dulu mungkin? Jung Daehyun yang cinta mati padaku? Choi Minho yang romantic berlebihan? Atau Park Chanyeol yang sepertinya masih dendam karena aku mainkan?

Oke, aku harus memastikan ini.

Aku bangkit dengan susah payah karena tubuhku masih oleng akibat obat bius yang mungkin aku hirup. Baju yang aku gunakan masih sama persis dengan sebelumnya, rambutku juga masih rapi. Tidak ada tanda-tanda kekerasan yang membuatku merasa kesakitan atau sebagainya.

Apa begini rasanya diculik?

Kakiku terus melangkah, mengikuti kemana arah lilin ini dengan was-was. Aku harus lebih berhati-hati, siapa tau si penjahat sudah menyiapkan pisau untuk menikamku. Tapi kalau dia berniat membunuhku, kenapa harus susah payah memasang lilin dan menyebar bunga?

Kepalaku menggeleng. Aku harus bisa memastikan ini dengan cepat. Dan kemudian ruangan ini berakhir, dibatasi dengan pintu yang tertutup. Aku menarik nafas perlahan lalu membuangnya. Agak takut dengan perkiraan-perkiraan buruk yang ada diotakku tentang apa yang menungguku dibalik pintu ini. tapi kalau aku tidak membukanya, maka aku tidak akan tahu, kan?

Aku meyakinkan diriku sendiri. Lalu bersiap melindungi perutku dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku menurunkan handle pintu untuk membukanya.

Saat aku membuka pintu, angin langsung menerpa kulitku, membuat tubuhku menggigil kedinginan karena aku memakai dress tanpa lengan. Mataku bergerak memperhatikan sekitar. Aku memang sedang berada diluar, tepatnya diatap sebuah gedung tinggi. Lilin dan kelopak bunga masih ada dilantai.

Tunggu. Ada seseorang diujung sana.

Mataku menyipit menatap punggung pria itu. Aku tidak salah lihat, kan?

Aku mempercepat langkahku, takut pria itu akan pergi kalau aku terlambat sedikit saja. Air mataku sudah menggenang di pelupuk mataku. perasaanku kacau. Antara lega, bingung, marah dan bahagia. Aku tidak mengerti, apa yang sedang ia lakukan disini?

Langkahku berhenti saat berada selangkah dibelakangnya. Nafasku memburu, bukan karena lelah. Lebih karena perasaanku yang campur aduk. Pria itu tidak membalikkan badannya, akupun tidak memiliki keberanian untuk menggapainya. Aku takut kalau dia hanya khayalanku. Aku takut punggung yang aku rindukan itu akan hilang dari pandanganku jika aku meraihnya.

Aku takut, bukan dialah yang berdiri dihadapanku saat ini.

Dan ketakutanku itu sirna saat pemilik punggung tegap itu membalikkan badan. Wajah yang aku rindukan itu berdiri disana. Didepanku. Menatapku dengan sorot rindu yang mendalam. Membuatku berusaha menguatkan diri untuk tidak menjatuhkan tubuhku dalam pelukannya. Masih jelas diingatanku tentang penolakannya, kebenciannya dan khianatnya yang membuatku kecewa.

Tangannya terulur, menyentuh pipiku. Jari-jarinya bergerak menghapus airmata yang ternyata telah mengalir deras dari mataku. mataku terpejam, menikmati sentuhannya yang menghangatkan sekujur tubuhku.

“ Jangan menangis lagi, sayang. Aku disini. ”

Mendengar suaranya yang dalam dan seolah tersiksa itu membuat pertahananku seketika runtuh. Aku menjatuhkan tubuhku padanya, memeluknya sekuat yang aku bisa. Tangannya telah melingkari pinggangku erat, seolah enggan melepasku lagi.

“ Jangan tinggalkan aku, ” gumamku yang teredam oleh bahunya dan isakanku, “ Aku… ”

“ Sudahlah, ” ucapnya serak, sesekali kurasakan bibirnya menyetuh puncak kepalaku, “ Aku disini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Happy anniversary, baby. ”

Kemudian bunyi ribut-ribut dari langit membuat kepalaku mengadah keatas. Ada sebuah pesawat kecil di langit yang mengeluarkan sesuatu dari ekornya. Pesawat itu bergerak, membentuk tulisan happy anniversary dilangit dengan gumpalan putih berbentuk awan. Mataku melirik jam tanganku, tepat jam 12 malam. Aku terkekeh, semakin mengeratkan pelukanku. Aku baru sadar saat ini kami berada tepat didepan menara Eiffel yang bercahaya.

“ Kau tidak perlu seperti ini, kan? ” Tanyaku dengan nada merajuk, “ Kau berlebihan. ”

Myungsoo melepaskan pelukannya, membuatku merengut kecewa. Padahal aku masih sangat merindukannya. Ia menatapku, senyuman yang aku rindukan itu terpampang diwajahnya, membuatku langsung ikut tersenyum.

Ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah kotak yang aku yakini adalah kotak cincin. Aku menatapnya tidak percaya, tanganku langsung bergerak menutup mulut untuk menahan tangisan yang lagi-lagi mendesakku untuk keluar.

Myungsoo berlutut, membuka kotak cincin itu dan menatapku sungguh-sungguh, “ Aku tau, ini masih sangat kurang romantis untukmu. Tapi aku melakukannya sepenuh hatiku, ” Ucapnya dengan senyum kikuk yang membuatku heran, “ Kamu harus menikah denganku, Park Jiyeon. Aku memang bukan lelaki yang baik, tapi aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Menjadi pantas agar selalu bisa menjagamu dan membahagiakanmu seumur hidupku. Kau bisa pegang janji ini selama aku bernafas. ”

Kim Myungsoo melamarku. He did it with his way.

Tanpa ragu, aku mengangguk. Aku tidak butuh penjelasan apapun. Aku tidak perduli penjelasannya kenapa ia menolakku, aku tidak perduli apapun hubungannya dengan Suzy. Aku tidak perduli apapun. Sebut aku wanita murahan, terserah saja. Aku terlalu mencintainya tanpa memperdulikan hal-hal buruk yang ia lakukan, dan aku yakin ia tidak bermaksud menyakitiku. Aku tahu bagaimana perasaannya. Aku tahu ia tulus. Pasti ada penjelasan untuk semua perbuatannya.

Ia mengeluarkan cincin berlian itu dari kotaknya dan memasangnya pada jari manisku. Myungsoo kembali meraihku kedalam pelukan eratnya. Menyebarkan perasaa hangat keseluruh nadiku. Membuat perasaan nyaman langsung melingkupiku bersama darah yang mengalir kesetiap sarafku.

“ Terimakasih, ” gumamnya, aku mengangguk—tak sanggup berbicara apapun lagi, “ Terimakasih karena menerimaku, Park Jiyeon. Menerima segala kekuranganku. Terimakasih. ”

Kepalaku mengangguk berulang kali. Tanganku bergerak naik turun diatas punggungnya, “ Terimakasih juga telah menerima bayi ini, Myungsoo. ”

Terdengar kekehan dari Myungsoo, ia makin mengeratkan pelukannya, membuatku sesak namun ntah kenapa sesak ini membahagiakanku, “ Aku selalu menerimanya, sayang. Bahkan sebelum kau menyadarinya. ”

Tanganku berhenti bergerak, aku menjauhkan tubuhku dari pelukannya dan menatap mata yang berpendar bahagia itu dengan sengit, “ Sepertinya kau hutang banyak penjelasan padaku. ”

Myungsoo tersenyum ringan. Ia membuka jasnya dan memasangkannya padaku. Membuatku lagi-lagi bahagia dengan perhatian-perhatian kecilnya yang manis, “ Ceritanya terlalu panjang, ”

“ Aku punya waktu seluruh hidupku untuk mendengarkannya. ”

“ Lebih baik kita menghabiskan malam ini berdua saja, bagaimana? Kau tidak merindukanku, hm? ”

Aku memeluk tubuhku defensive, saat ia kembali mendekatiku. Aku menggeleng, “ Tidak, sampai kau menceritakan semuanya. ”

Myungsoo menghela nafas, “ Baiklah. Keras kepalamu memang tidak ada lawannya, ” ucapnya menyerah, “ Cerita dimulai saat pertama kali kau sakit. Aku menelfon Suzy, menyuruhnya datang untuk menjagamu. Lalu ia mencetuskan kemungkinan kamu hamil. Awalnya aku tidak percaya, namun semakin hari aku punya feeling yang kuat kalau kau memang hamil. ”

Dahiku mengernyit, bagaimana mungkin ia bisa seyakin itu? Myungsoo kembali mendekat, lalu membawaku kembali kedalam rengkuhannya, “ Dan saat kau cek ke dokter bersama Suzy dan hasilnya positif, ia langsung menelfonku. Tentu saja, aku yang menyuruhnya mengajakmu ke dokter. Aku senang bukan main saat itu. Dan mendadak aku mengingat hari ini, tanggal yang sama dengan 365 hari yang lalu dimana aku mengatakan aku mencintaimu untuk pertama kalinya. Perlu kau tau Jiyeon, perasaanku masih sama dan semakin bertambah. Aku mencintaimu, sepenuh hatiku. ”

Aku tersenyum dalam pelukannya, “ Aku juga mencintaimu, Myungsoo. Sangat. ”

Myungsoo mengecup dahiku lama, “ Dan kemudian, hari saat kau kedokter itu juga kami merencanakan semua ini. awalnya aku ragu dengan rencana ini, aku takut kau tersakiti. Aku takut terjadi apa-apa pada bayi kita. Tapi Suzy meyakinkanku bahwa kau akan menjaga anak kita. memang, sebenarnya bukan seperti ini harusnya. Kau pergi ke Paris sangat diluar rencana. Ini semua karena kau melihat kami di café, kan? Maaf, sayang. Aku tidak selingkuh saat itu. Lalu saat Suzy bilang kau menghilang, aku mencarimu dimana saja. Aku bertanya pada pembantu rumahmu, pada supirmu yang awalnya menutup mulut hingga aku meninjunya dan berteriak bahwa kau hamil. ia hanya mengatakan kau ke bandara. Aku mengecek semua jadwal penerbangan. Dan kau tau apa yang paling sulit? ”

Aku menggeleng. Myungsoo menarik nafasnya, “ Hari itu juga aku ke New York, untuk bertemu appamu. Meminta izin untuk menikahimu dan melacak nomor rekeningmu untuk tau dimana apartement dan apa saja yang kau lakukan. Awalnya appamu tidak percaya melepasku untuk mencarimu, tapi aku terus mendesaknya dan menggunakan alasan bahwa kau hamil anakku. Ternyata sifat keras kepalamu sama dengan appamu. Aku baru sampai malam, saat melihatmu turun dari mobil dengan banyak bungkusan belanja. Mulai hari itu, aku terus mengikutimu. Aku melihatmu yang begitu bahagia melihat menara Eiffel. Awalnya aku ingin menyewa seisi menara Eiffel untuk kita berdua, tapi kalau aku menyewanya kita tidak akan dapat melihatnya seperti saat ini bukan? Maka dari itu, aku lebih memilih tempat ini. ”

Aku merasa terharu dengan semua yang ia lakukan padaku hingga tidak mampu berkata apa-apa lagi. Aku menjauhkan wajahku dari pundaknya, mengangkat kepalaku untuk menatapnya. Tanganku berpindah melingkari lehernya, dan tangan Myungsoo masih setia di pinggangku. Aku mengecup bibirnya sekilas, “ Terima kasih, Myungsoo. Terimakasih telah melakukan ini untukku. ”

Myungsoo menatapku dengan tatapan memuja. Membuatku merasa seperti akulah wanita paling sempurna dimatanya. Ia tersenyum lembut, “ Maaf aku menyakitimu. Apa bayi kita baik-baik saja? ”

Aku tersenyum kecil dan mengangguk, “ Kau tau, aku pernah berfikiran untuk benar-benar membunuhnya. ” Balasaku merasa bersalah.

“ Tapi kau tidak melakukannya. Aku tau kau menyayanginya, Jiyeon. ”

Kepalaku bergerak naik turun, “ Aku merindukanmu. ”

Lagi-lagi, Myungsoo tersenyum. Ia meraih kepalaku untuk mendekat dan mengecup bibirku perlahan, seolah aku adalah barang pecah belah yang bisa hancur kapan saja. Ia melumat bibir atas dan bawahku perlahan. Aku balas melumatnya, jari-jariku tenggelam dalam rambutnya. Desahanku lolos saat ia menggelitik bibirku dengan lidah, membuatnya menggeram tertahan dan ciumannya berubah menjadi begitu menggebu-gebu seolah melepaskan kerinduan yang ia pendam belakangan ini.

Aku tau, banyak yang akan kami hadapi nanti sepanjang umur kami. Tapi jika hubungan kami dilandasi dengan rasa percaya, saling berjuang dan sama-sama mencintai, aku yakin kami bisa melewati semuanya. Karena sebuah hubungan tidak rumit. Hanya butuh komitmen dan janji untuk saling setia seumur hidupnya.

*****

The end.

Well, well. Gimana? Gimana?

Aku tau aku masih abal-abal dibagian sedih-sedihan dan romantis-romantisannya. Aku sama sekali gak berbakat untuk buat ff sedih tapi anggap aja ff ini sebagai debutku/eh

Karena banyak yang nanya tentang ff ini,akhirnya aku mutusin untuk buat bagian ini. lagian, kasian kalian pasti pada bosan kalau aku ngepost celebrity wedding terus. Anggap aja ini hadiah karena blogku udah dua tahun yeaaaaayyyy!

Entah kenapa aku sangat menikmati saat-saat menulis ff ini. Mungkin karena moodku memang berantakan jadi pas banget buat sedih-sedihan. Semoga kalian juga menyukai hasilnya walaupun aku belum ngedit karena gak sabar dengan respon kalian.

Soooo, apapun yang kurang bisa kalian bilang di comment. Aku bakal berusaha untuk lebih baik lagi.

Thank you.

Celebrity Wedding (Chapter 8: Before d-day)

celebrity wedding copy

Title : Celebrity Wedding

Main Cast :

Kim Myungsoo
Park Jiyeon

Genre : Marriage life, Romance, Humor

Type : Chaptered

Jiyeon’s Side

Sejak awal aku sudah tau ini sebuah kesalahan besar.

Tatapanku kembali pada pesan yang dikirimkan Myungsoo lima menit yang lalu, namun tanganku belum tergerak untuk membalasnya.

“ Kau tidak sibuk, kan? Kita akan ke mengadakan konferensi pers hari. Nanti aku akan menjemputmu sekitar 1 jam lagi. Can’t wait to see you again, darl. ”

Mau tidak mau, ujung-ujung bibirku terangkat mengingat hubungan kami sejak permintaan yang diajukan Myungsoo saat dimobil sebulan yang lalu. Kami sudah seperti pasangan calon pengantin yang dimabuk asmara.

Ew.

Myungsoo memang masih seperti biasa, bedanya saat ini dia tidak akan segan-segan lagi memanggilku sayang didepan orang dan benar-benar memperlakukkanku bak putri yang beruntung dapat menikah dengannya.

Saat kami memilih gedung yang mana akan kami gunakan, ia benar-benar menyerahkan semua keputusannya padaku. Memang, kami tidak punya waktu lagi untuk merubah tema dan memulainya dari awal sehingga harapanku untuk membuat garden party sama sekali gagal. Jadi aku berusaha untuk menyesuaikannya dengan tema yang telah Myungsoo pilih. Lagipula tema mewah seperti ini sepertinya memang cocok dengan kami.

Seminggu yang lalu, saat untuk terakhir kalinya kami mengecek kelengkapan gedung dan dekorasi. Myungsoo bahkan tak melepaskanku dari rangkulannya yang sangat protective sedetikpun dihadapan orang-orang—dan juga minah yang saat itu terlihat cemburu berat—seolah kami adalah pasangan berbahagia. Membuat jantungku bekerja lebih ekstra sehingga aku yakin darah yang memompa dari jantung ke seluruh tubuhku jumlahnya sudah tidak normal.

Sekuat mungkin aku berusaha untuk mengimbangi perlakuan Myungsoo, menganggapnya biasa dan menahan perasaan kesenangan berlebihan yang muncul dihatiku sekalipun aku 100% sadar bahwa itu dilakukan Myungsoo semata-mata demi kelancaran acting kami sebagai pasangan berbahagia.

Hati memang tidak tahu diri, ya?

Jadi itulah masalah yang bahkan lebih besar dari masalah kemarin yang sedang aku hadapi. Membuatku uring-uringan sekaligus bahagia. Aku hanya takut perasaanku semakin dalam jika aku terus saja diperlakukan sebaik ini, membuatku kadang lupa diri bahwa aku hanya pacar palsunya saja. Harusnya sejak awal aku menolak menjadi desaignernya. Harusnya sejak awal aku tidak menerima hubungan bodoh ini. harusnya sejak awal aku tidak menanggapi permintaan Myungsoo saat dimobil itu. Harusnya. Harusnya. Otakku dipenuhi oleh kalimat harusnya yang membuatku muak.

Penyesalan selalu datang terlambat, kan?

Setiap jatuh cinta kita harus siap merasakan 2 hal yang sama-sama menyesakkan dada; bahagia atau sakit . bahagia berlebihan hingga membuat sesak yang terasa menyenangkan karena tahu perasaanmu terbalaskan. Atau sakit yang serasa akan membunuhmu perlahan dengan rasa sesak yang sakit karena kenyataannya dia tidak memiliki perasaan yang sama denganmu.

Saat ini, dengan perlakuan baik Myungsoo itu selalu membuat sugesti diotakku. Sugesti bahwa dia juga balas menyukaiku, membuatku terbang diatas awan karena perasaan bahagia itu. Karena itulah, saat aku harusnya merasakan sakit karena sadar perlakuan Myungsoo hanya acting, aku tetap saja yakin bahwa Myungsoo juga akan membalas perasaanku. Aku sudah terlanjur terbang terlalu tinggi.

Tapi, faktanya saat kita terbang, kita tidak tahu kapan kita akan terjatuh. Dan semua orang tau, semakin tinggi jarak terbang kita dengan tanah maka semakin sakit rasanya saat jatuh.

Argh. Harusnya aku pernah jatuh cinta seperti ini, jadi aku sudah memiliki pengalaman tentang bagaimana cara mengatasi perasaan seperti ini dan bagaimana rasanya sakit saat kisah cintaku gagal.

Tanganku tergerak untuk meletakkan ponselku kembali tanpa membalasnya. Sudahlah, tidak perlu dibalas. Aku harus fokus pada pekerjaanku lagi. Sudah sebulan lebih aku mengabaikan pekerjaan karena urusan pernikahan atau otakku yang terlalu fokus pada Myungsoo hingga tidak punya celah lain untuk memikirkan pekerjaanku.

Ketukkan dari pintu membuatku sedikit berteriak untuk mengizinkannya masuk. Dari pintu, tampak Hyomin unnie sedang mengangkat sebuah gaun berwarna merah, Krystal yang membawa sebuah setelan lengkap, sedangkan Jieun tampak kewalahan membawa banyak tas belanjaan. Hingga saat dia sudah berdiri didekat sofa, tas-tas itu diletakkannya langsung diatas meja. Lalu tak lama kemudian, beberapa OB kantorku ikut membawa beberapa kotak yang sepertinya berisi sepatu.

Aku tersenyum lebar dan berlari kecil mendekati gaun yang ternyata sudah selesai lebih cepat dari perkiraanku. Gaun yang kurancang bersama Hyomin unnie. Gaun pernikahan fit-to-body itu berwarna dasar merah, dengan lace motif bunga-bunga yang mengembang pada bagian lengan. Pada bagian kaki, kami membuat potongan dari atas lutut hingga bawah namun memanjang pada bagian belakangnya. Dari pinggang hingga bawah, terdapat taburan-taburan berlian kecil yang sudah kami pesan dari Swarovski sedangkan bagian dada aku biarkan polos. Membuatnya tampak elegan tapi tidak berlebihan.

“ Bahkan hasilnya lebih bagus dari yang kubayangkan, ” Gumamku sambil menyentuh gaun tersebut untuk memastikan semuanya tepat sesuai dengan keinginanku.

Hyomin unnie ikut tersenyum bangga, mengangkat gaun itu tinggi-tinggi agar aku leluasa untuk mengeceknya, “ Tentu saja, inikan rancangan gaun pengantin pertama yang kita buat. Dengan sedikit revisi juga. ”

Jieun dan Krystal yang berdiri disebelah ku ikut mengangguk menyetujui dengan antusias. Sepertinya mereka bersyukur karena jasa mereka dibutuhkan Hyomin unnie, kalau tidak sudah pasti mereka hanya bisa melongo diluar dan menunggu Hyomin pergi dari ruanganku.

“ Ini gaun pernikahan terbagus yang pernah aku lihat!” Jerit Krystal dengan nada tertahan, “ Unnie, kalau nanti aku menikah dengan Minhyuk, bolehkan kalau aku pinjam?

Kami bertiga serentak memelototinya, membuatnya meringis ketakutan. Tentu saja aku akan menyimpan gaun itu sebagai kenang-kenangan untukku nantinya.

“ Krystal, kau tidak boleh menikah sebelum aku, oke? ”

Nada penuh ancaman itu keluar dari Jieun yang masih saja memelototi Krystal. Aku hanya terkekeh pelan sedangkan Hyomin unnie mendengus geli. Ternyata dia memiliki motif yang berbeda denganku saat memelototi Krystal.

Krystal menggeleng, tangannya yang bebas melambai-lambai keudara dengan gerakan mengusir, “ Kalau aku menunggu unnie, bisa-bisa aku jadi ikutan perawan tua. ”

“ YA! ”

“ Sudahlah, ” Lerai Hyomin unnie, sebelum keduanya semakin membuat keributan disini, “ Lebih baik sekarang kita mengecek barang-barang ini. ”

Keduanya terdiam, takut dengan gertakan kecil dari Hyomin unnie. Padahal, kalau saja aku yang melakukannya mereka pasti tetap saja bertengkar. Tapi setelah aku membentak serius, baru mereka mundur seribu langkah. Sudah pasti begitu.

Mataku bergerak pada Tuxedo hitam yang dipegang Krystal bersamaan dengan rompi dalamnya yang berwarna gold, agar serasi dengan gaun yang kugunakan. Sedangkan celana hitamnya sudah diletakkan Krystal diatas sofa ruanganku.

“ Dasi, kemeja dan rompinya sudah sampai? ” Tanyaku.

Hyomin unnie mengangguk, ia meletakkan gaunku perlahan pada gantungan yang tersedia diruanganku yang biasanya aku gunakan untuk meletakkan rancangan yang baru siap jadi.

“ Sudah. Dari Giorgio Armani dan Versace. Kau pilih saja. Selain itu, aku juga membeli sapu tangan merah untuk diletakkan di saku tuxedonya. Pasti terlihat semakin cocok dengan gaunmu. Hanya saja, aku belum mendapatkan ide untuk kemeja yang digunakan. Sebaiknya hitam atau putih? Aku bahkan membeli keduanya. ”

Kami semua saling berpandangan lalu berpikir. Membayangkan Myungsoo saja membuat otakku tidak bisa bekerja dengan benar. Dia pasti cocok memakai apa saja. Hitam ataupun putih. Apalagi kalau topless.

Sial. Otakku terkontaminasi hal kotor lagi.

“ Hitam saja, dia pasti terlihat lebih seksi! ” Pekik Jieun, membuat kami semua menoleh padanya. Namun hanya aku yang memandangnya dengan alis terangkat, tapi dia hanya terkekeh menyebalkan, “ Lebih cocok yang hitam, agar tidak terlalu banyak warna yang digunakannya. Untuk laki-laki lebih baik seperti itu. ”

Kalau difikir-fikir, Jieun ada benarnya juga. Warna putih pasti sangat berbentrokan dengan warna hitam ataupun goldnya nanti. Lagipula, pekerjaan seperti ini memang bagian Jieun, pilihannya pasti akurat.

Aku mengangguk berkali-kali, “ Aku setuju, ” Jawabku, tanganku teralih membuka tas-tas yang lain dan mengaduk-ngaduk isinya, “ Ini apa saja? ” Tanyaku pada Gyuri nuna.

“ Beberapa pasang sepatu louboitin, prada dan YSL. Tiffany&co tiara. Gelang dan anting dari Marie Antoinette dan cartier. Ada bridal glove dan tudung kepala vera wang juga. Lalu apalagi, ya? ” Jelas Hyomin.

Dahiku berkerut menatap semua barang belanjaan yang diluar permintaanku namun mau tidak mau membuatku naksir ingin membukanya satu-satu juga. Sedangkan Krystal dan Jieun tampak sudah ingin menitikkan air liur dari mulutnya saat membuka sebuah kotak sepatu merah menyala dan mengeluarkan sepasang high heels seting 7 cm bewarna emas dengan butiran berlian kecil yang mengelilinginya.

“ Ini pasti berlian asli, ” Gumam Jieun, ia menoleh menatapku dengan tatapan memohon, “ Yang ini untukku saja ya? ”

Aku menggeleng, “ Aku akan memakai yang itu. ”

“ Oh ya unnie! ” Pekikan Krystal membuat kami refleks menatapnya, tatapan berbunga-bunga seperti kejatuhan emas, “ Bagaimana kalau kita adain bachelorette party? Jiyeon unnie kan mau menikah! ”

Kini giliran semua mata menatapku penuh harap, namun terpaksa aku harus mengecewakan mereka. Aku menggelengkan kepalaku tegas, bahkan tanpa berfikir sedetikpun, “ Tidak, aku tidak suka minum. ”

Walaupun aku lama hidup di amerika namun gaya hidup mereka yang tidak lepas dari alcohol sama sekali tidak berpengaruh padaku. Aku suka party, tapi tidak akan pernah menyentuh alcohol sedikitpun. Entah kenapa, alcohol begitu buruk diotakku.

“ Yah, Jiyeon. Kan hanya party saja, kalau kau tidak mau minum ya sudah kami saja, kan. ” Bantah Jieun.

“ Jadi ini gaun pengantinnya, ya? ”

Sebuah suara lelaki menginterupsi gerakanku saat akan membuka paper bag dan mengingat-ingat apalagi yang kurang sambil berusaha mengacuhkan permintaan bodoh Krystal, membuatku kaget setengah mati saat mendengar suara yang sangat aku kenal itu mendadak muncul tanpa disadari oleh kami. Dan benar saja, lelaki itu telah berdiri memunggungi kami sambil tangannya menyentuh dress tersebut perlahan. Lalu mendadak ia berbalik dan tampak terkejut melihat banyaknya tas belanjaan yang berserakan diruanganku, “ Wow, kalian seperti akan membangun mall. ” Sambungnya.

Bisa kurasakan bunyi nafas tersendat yang berasal dari Jieun dan Krystal. Sambil membereskan sedikit barang-barang belajaan Hyomin unnie, aku mendengus, “ Sudah berapa kalikan aku bilang, kalau masuk ketuk dulu. ”

Myungsoo tampak kesal, ia berjalan mendekati kami dan menatap jas yang telah aku buat untuknya. “ Aku sudah mengetuk tapi tak ada sahutan. Aku kira tidak ada orang. ”

Alisku terangkat memperhatikan Myungsoo yang meraba-raba jasnya, lalu melirik ke sekekitarku. Krystal dan Jieun masih tampak menikmati pemandangan didepannya dengan tatapan seolah-olah Myungsoo adalah dewa yang turun dari langit sementara Hyomin unnie lebih tertarik pada hasil belanjanya.

“ Lalu karena kau kira tidak ada orang, berarti boleh masuk? ”

“ Sudahlah sayang, kenapa sensi gitu sih? ” Tanya Myungsoo dengan ekspresi seolah-olah ia adalah pacar tersabar di dunia. “ Ini punyaku, kan? Bagus juga. Boleh dicoba? ”

Aku hanya menggumam asal. Hyomin unnie tampak sudah puas dengan pemeriksaannya lalu berdiri, “ Ayo Jieun, Krystal. Banyak pekerjaan yang menunggu kalian. ”

Keduanya tampak ingin protes, “ Tapi… ”

“ Shut up, ” Potong Hyomin sambil mengangkat tangannya, tatapannya beralih padaku dan Myungsoo yang sedang memakai jasnya, “ Myungsoo dan Jiyeon membutuhkan waktu berdua untuk membahas pernikahan mereka. HANYA BERDUA.”

Myungsoo tampak sadar dari kesibukannya dan tersenyum kecil pada Hyomin unnie. Kedua manusia norak ini sudah tercekat saat melihat senyum Myungsoo ditambah lagi tatapan pria itu yang sudah beralih pada mereka. Hyomin unnie tampak muak dan segera menarik paksa tangan mereka meninggalkan kami berdua diruanganku.

Kakiku bergerak mendekati tas-tas belanja, menebak dimana barang-barang yang memang harus ia pakai. Setelah menemukannya lengkap dengan kemeja, dasi, dan rompi aku langsung menyerahkannya, “ Coba ini. ”

Tanpa ragu, Myungsoo membuka kemeja yang ia gunakan dihadapanku. Dengan gerakan slow motion, tangan-tangannya menyentuh kancing-kancin itu, menanggalkannya satu persatu hingga melepaskannya.

Ini memang bukan pertama kalinya aku melihat seorang lelaki bertelanjang dada. Namun entah kenapa, melihat Myungsoo yang melakukannya membuat jantungku berdetak keras sambil dalam hati mengucapkan kalimat penuh syukur karena dapat melihat pemandangan indah langsung dihadapanku.

Lengan-lengannya dipenuhi otot yang tidak berlebihan, biasa saja namun tetap seksi. Dadanya yang bidang, perut ratanya yang berkotak-kotak tampak mengundang jariku untuk menyentuhnya dan tentu saja pinggang ramping khas pria yang terlihat sangat indah dimataku.

I’m bleeding now.

Saat ia sudah memasangkan lengan baju itu untuk menutupi otot lengannya, tatapannya jatuh pada mataku. tangannya berhenti saat akan bergerak untuk mengancingkan kancing pertama.

“ Senang dengan apa yang kau lihat? ” Tanyanya dengan senyum miring menyebalkan itu.

Aku gelagapan.

Sebisa mungkin aku mengatur ekspresi datar dan balas menatap wajahnya. Berusaha keras untuk tidak terlihat terusik karena tuduhannya yang 100% benar.

“ Maaf membuatmu kecewa, tapi aku sudah biasa melihat laki-laki shirtless yang bahkan memiliki tubuh lebih bagus darimu. Kau tidak ada apa-apanya. ”

Tampak beberapa permainan emosi diwajah Myungsoo membuatku kembali menahan diri untuk tidak tertawa penuh kemenangan. Wajahnya seperti kesal, tersinggung, bingung dan…..cemburu?

“ Menurutmu, aku harus nge-gym lagi agar lebih berotot? ” Tanyanya tampak hati-hati.

Pertanyaan yang diluar perkiraanku itu membuatku ternganga. Dia memikirkan penilaianku terhadapnya? Oh, mungkin sebagai public figure dia memang harus memikirkan komentar orang lain demi penampilannya juga. Kalau tidak, pasti banyak yang tidak menyukainya, kan?

Tapi tidak, Myungsoo. Tidak. Tubuhmu bahkan seribu kali lipat lebih indah daripada tubuh model lelaki manapun.

Aku cepat-cepat menyadarkan diri dari rasa kagum memalukan ini, mengangkat bahu menanggapi pertanyaan, “ Terserah padamu saja. ”

Ekspresi Myungsoo yang tampak sedang berfikir keras itu membuatku kembali mendengus menahan tawa. Saat ia sudah mengancing kemejanya hingga menutup otot-otot indah itu, aku memberikan dasi lalu membantunya untuk memasangkannya pada lehernya.

Jari-jari Myungsoo yang awalnya bergerak merapikan dasi berhenti. Tanpa melihatpun aku tau tatapannya sedang jatuh padaku. Ia menatapku intens, dengan jarak sedekat ini jantungku kembali berdetak tidak karuan. Hembusan nafasnya menerpa wajahku, membuatku tergelitik dan membutuhkan energi lebih untuk melawan keinginan balas menatapnya balik.

Setelah selesai, aku mundur dan menatap dasi itu dengan pandangan puas lalu kembali menyodorkan vest untuk ia pakai sendiri.

Mungkin, aku memang terlalu ‘baper’ tapi aku merasa….

“ Kita seperti sudah menikah saja, ” Ucap Myungsoo dengan terkekeh.

Kalimat yang hampir serupa nyaris saja terlontar dalam otakku. Kami rupanya sehati juga. Ternyata bukan hanya aku saja yang baper, tapi Myungsoo juga. Atau itu bukan salah satu dari ciri-ciri orang baper, ya?

“ Jangan banyak omong. ” Balasku sambil menatapnya dengan alis terangkat.

Ia masih saja terkekeh saat memasang jas sambil berjalan menuju kaca besar yanga ada diruanganku. Aku melangkah mengikutinya, memperhatikannya dari kaca. Pilihanku memang tepat. Myungsoo yang sudah tampan, terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dengan setelan itu.

“ Pilihanmu bagus, aku suka yang ini. ”

Tanpa dapat kucegah lagi, senyumku merekah mendengar pujiannya. Sudah banyak yang memujiku namun kali ini Myungsoo yang melakukannya, dan membuat perasaan bahagia yang berbeda.

“ Tentu saja. Kau yang jelek saja terlihat sedikit tampan. ”

Myungsoo berbalik, mendelik padaku yang tersenyum mengejek, “ Kau pernah mengatakan bahwa aku tampan. ”

“ Mungkin saat itu aku berbohong untuk menyenangkan hatimu. ”

“ Atau kali ini kau berbohong untuk menutupi fakta yang sudah kau sadari sejak dulu? ”

Aku ternganga mendengar jawabannya. Ia tertawa terbahak-bahak sambil kembali memakai bajunya, mengira aku pasti kesal dengan jawabannya yang terlalu percaya diri. Tapi sebenarnya tidak.

Rasanya aku baru saja ketahuan sedang mengakui ketampanannya diam-diam.

“ Kau tidak mengetes gaunmu? ” Tanyanya.

“ Tidak perlu. Aku sudah yakin dengan ukuranku sendiri saat membuatnya. ”

Myungsoo mendesah kecewa, ntah karena apa, “ Yah sayang sekali. padahal gaun itu terlihat bagus dan aku ingin melihatmu memakai itu sekarang. ”

Dahiku mengernyit mendengarnya, agak mengerti dengan apa maksdunya, “ Kau ingin melihatku menukar bajuku dengan itu sekarang? ”

Ia menjentikkan jarinya, “ Benar sekali. ”

“ Dalam mimpimu, tuan mesum. ” Kataku sinis, myungsoo terkekeh. Tidak malu sama sekali saat keinginan bejatnya tercium olehku, “ Biar saja menjadi kejutan saat pernikahan kita nanti. Lebih spesial gitu. ”

“ Rasanya aneh juga. Di drama-drama korea yang pernah aku tonton, biasanya sang calon wanita mengetes dress pernikahan mereka dan calon pria akan terpana melihatnya. Aku kan juga ingin seperti itu. ” Ucapnya dengan nada seperti merajuk.

Refleks, aku menatapnya dengan tatapan horror dan sedetik kemudian aku tertawa terbahak-bahak hingga kakiku tidak sanggup lagi untuk berdiri tegak. Apa katanya? Drama korea?

Kim Myungsoo menonton drama korea?

Bahkan dalam alam bawah sadarku atau dalam khayalan paling gila yang pernah aku lakukan, tidak pernah terlintas sedikitpun bayangan bahwa Myungsoo ternyata penyuka drama korea. Aku saja yang wanita begini, suka menonton drama korea adalah hobi aib yang aku rahasiakan. Sedangkan ia malah mengatakannya tanpa beban.

Belakangan sejak dekat dengan Myungsoo, aku memang sering tertawa berbahak-bahak. Bukan berarti sebelumnya tidak pernah. Sering, tapi frekuensinya tidak sesering saat bersama Myungsoo.

Myungsoo memang selalu bisa membuatku tertawa keras. Aku jadi semakin yakin bahwa Myungsoo adalah orang yang bisa membuatku menangis hebat nantinya.

“ Memangnya kenapa? ”

Sekilas, aku melihatnya tampak salah tingkah karena ketahuan suka menonton drama korea. Mungkin dia memang tidak sengaja menyebutnya, “ Aku benar-benar tidak menyangka kau suka menonton drama korea. Genre apa? Romance?” Tanyaku mengejek.

“ Hanya beberapa kali saja kok, ” Jawabnya sewot, Myungsoo memang terlihat senewen karena hobinya ketahuan. Mungkin aku memang terlalu berlebihan menertawakannya sampai ia salah tingkah begitu. “ Tapi aku benar kan? ”

Mau tidak mau aku mengangguk geli. Myungsoo masih tampak salah tingkah hingga mengacuhkanku yang sedang membereskan baju-baju Myungsoo agar masuk kembali kedalam paper bagnya. Setelah selesai, aku berdiri dan mengajak Myungsoo untuk pergi ketempat dimana kami akan melakukan konferensi pers. Beberapa hari lalu kami sudah memikirkan jawaban atau cerita-cerita yang perlu kami karang untuk menjawab pertanyaan wartawan.

Myungsoo menggantikanku untuk membawa paper bag, membuatku tersenyum diam-diam karena sikap manisnya. Kami berjalan menuju pintu, saat aku meraih ganggang untuk membukanya, Myungsoo malah menahannya kembali. Aku mengangkat wajahku untuk menatapnya dengan tatapan heran.

“ Ohya satu lagi, ” Katanya, kali ini nadanya terdengar serius. Aku jadi was-was juga, “ Jangan lagi melihat tubuh laki-laki lain, oke? ”

Myungsoo’s Side

Ini kedua kalinya aku melihat Jiyeon segelisah ini.

Yang pertamanya, tentu saja, saat kami memutuskan untuk datang kerumah keluarga besar Jiyeon dan Jiyeon berbohong pada keluarganya untuk pertamakali dalam seumur hidupnya.

“ Ya, mom. Aku mengerti. Hari ini undangannya akan disebarkan. ” Jawabnya pada seseorang yang sedang berbicara dalam telfon. Ji-hye nuna tampak merapikan rambut dan wajah gadis itu, sedangkan aku sendiri sudah siap sejak tadi, “ Semuanya sudah selesai, tidak ada yang perlu mom khawatirkan. Mom istirahat saja, oke? Aku akan ke rumah Gyuri unnie besok kalau begitu…. Iya mom, aku tidak akan sibuk. Jangan lupa makan dan istirahat, mom sudah mulai tua jangan terlalu sering melala. ”

Aku menggelengkan kepalaku heran, tidak menyangka dia bisa berkata sedemikian tidak sopan dengan mom-nya. Aku jadi sangat yakin hubungan mereka sangat erat hingga tidak ada lagi rasa canggung untuk berbicara apapun.

Iri juga mengingat hubunganku dengan mom tidak begitu sehat.

“ Demi tuhan, Jiyeon. Bisa tidak kau lebih tenang? Kalau begini, make up mu bisa berantakan. ”

Nada suara Jihye nuna sudah naik beberapa oktaf, namun gadis itu tidak tampak takut ataupun terganggu. Dia masih saja terlihat gusar ditempatnya duduk. Sesekali menggigit jarinya, menghela nafas atau mengurut keningnya. Aku mengerti mengapa ia begitu dan sama sekali tidak menyalahkannya. Ini pertama kali untuknya, mendapatkan sorotan public karena sebuah kontroversi yang akan menjadi berita paling hot tahun ini.

Ini memang bukan untuk pertama kali baginya menjadi sorotan public karena kontroversi yang aku buat, mengingat ia pernah menemaniku pada acara malam penghargaan itu. Tapi tentu saja kali ini berbeda. Pada malam itu, ia tidak perlu menjawab apapun dan tidak perlu berakting banyak. Kami hanya melakukan hal-hal kecil lalu membiarkan para wartawan berspekulasi tentang sejauh apa hubungan kami. Sedangkan hari ini, kami harus menjawab apapun pertanyaan wartawan.

Yah, sebenarnya pihakku sudah mewanti-wanti agar pertanyaannya tidak melenceng dengan apa yang kami umumkan dan aku sangat yakin mereka tidak mau dikeluarkan secara paksa dari ruangan karena melanggar janji yang sudah disepakati.

Namun aku tidak memberi tahukan hal ini pada Jiyeon dan membiarkannya yang biasanya lebih sering kalem jadi terlihat panik luar biasa.

Aku memang kejam, ya.

Mungkin sekali-sekali tidak apa-apa. Aku hanya senang melihat ekspresi paniknya yang terlihat manusiawi.

“ Maafkan aku unnie, ” Timpal Jiyeon, agak terlambat karena dia sedang melamun, “ Aku hanya gugup. ”

Jihye nuna menutup peralatan makeupnya setelah memperhatikan wajah Jiyeon dengan seksama lalu tersenyum puas. Ia beralih menatapku dengan tajam, “ Mungkin aku perlu meninggalkan kalian berdua, ” putusnya, aku mengangguk menyetuju ide itu, “ Myungsoo. Cium saja dia kalau dia masih gugup begitu. ”

Aku terbahak, sedangkan Jiyeon hanya melirikku lalu mendengus. Jihye nuna tampak tidak terganggu dengan dengusan Jiyeon dan malah berlalu keluar dari ruangan meninggalkan kami berdua.

Jihye nuna memang tidak ada duanya.

“ Aku rasa ide nuna ada benarnya. ”

Jiyeon melirikku sinis, “ Jangan macam-macam. ”

Sambil terkekeh, aku berjalan mendekati kursi riasnya dan berjongkok dihadapannya. Sekilas aku melihat kilatan kaget dimatanya, namun kemudian tatapan itu terlihat bingung. Kebingungan itu terpancar makin jelas saat aku meraih tangannya dan menggenggamnya dalam tanganku.

Aku tersenyum, berusaha menenangkannya, “ Aku tahu ini berat untukmu. Tapi kita tidak mungkin mundur, kan? Tenang saja, ada aku yang melindungimu jika pertanyaan mereka terlalu membuatmu bingung. ” Kataku dengan kalimat manis yang biasanya ampuh bagi wanita. Dan benar saja, tangan Jiyeon perlahan rileks dalam genggamanku, “ Ayo tarik nafas. ”

Wanita itu menurut. Ia menutup matanya, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Setelah melakukannya beberapa kali, ia kembali membuka matanya. Senyum sudah kembali tersungging diwajah itu.

“ Merasa lebih baik? ”

Jiyeon mengangguk, “ Thanks. ”

Tiba-tiba bunyi pintu yang terbuka mendadak mengejutkan kami. Tatapan kami langsung teralihkan ke asal suara dan mendapati wajah datar managerku yang sama sekali tidak merasa bersalah karena telah merusak momen kami.

Orang itu benar-benar.

“ Wartawan sudah berkumpul, ayo keluar. ”

Aku hanya mengangguk sekilas lalu kembali menatap Jiyeon, “ Sudah siap? ”

Ia mengangguk ragu, “ Well, mau tidak mau, kan. ”

“ Kau pasti bisa. ”

Setelah itu, aku menarik tangannya keluar dan berjalan melalui lorong yang dipenuhi oleh beberapa asistenku yang lalu lalang. Tepat didepan pintu ruangan yang terdengar ribut-ribut ala wartawan, aku menoleh sekali lagi kearah Jiyeon. Ia hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Saat pintu aku buka, saat itulah aku merasa tangan Jiyeon balas menggenggamku.

Blitz-blitz kamera langsung menyergap penglihatanku. Dengan langkah besar-besar dan agak menarik Jiyeon untuk mengikutiku, aku langsung menuju kedepan meja yang telah disediakan untuk kami. Kami berdua berdiri berdampingan, menunduk sebentar lalu kembali berdiri tegak sambil melempar senyum untuk di foto.

Aku melirik sedikit kearah Jiyeon dan langsung terpana saat itu juga. Tidak ada lagi Jiyeon yang gugup. Tidak adalagi Jiyeon yang beberapa menit lalu. Wanita itu tampak memukau dengan senyum percaya dirinya. Ia terlihat berbeda hanya dalam waktu beberapa detik.

Kemudian, Jiyeon balas menatapku dan tersenyum. Melihat kepercayaan dirinya, aku meremas genggaman tangan yang belum aku lepas sejak tadi lalu kami kembali menatap lurus kedepan. Setelah aku rasa cukup, kami duduk dikursi berwarna putih yang berdampingan tersebut.

Aku meraih microphone yang ada dihadapanku dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku masih saja menggenggam tangannya.

“ Selamat sore semuanya, ” Sapaku, dibalas dengan dengungan-dengungan dengan kalimat serupa dari mereka.

Aku tersenyum, “ Hari ini aku akan mengumumkan sesuatu yang penting dan mungkin beberapa dari kalian pernah mendengar isu ini. aku akan memberikan konfirmasinya sekarang, ” Ucapku tenang, kepalaku menoleh dan tersenyum kepada Jiyeon yang juga sedang menoleh kearahku, “ Kami akan menikah dalam waktu dekat ini. ”

Dengungan-dengungan terkejut itu masih saja terdengar. Padahal aku kira dengan gerak-gerak kami saat ini, mereka sudah bisa menebaknya. Lagipula, bukannya mereka yang membuat isu itu sendiri dan saat aku bantu membenarkannya, mereka tetap saja terkejut.

Mungkin mendengarkan konfirmasi atas spekulasi yang mereka bangun, membuat mereka terkejut juga.

“ Apa tidak terlalu cepat, Myungsoo? ” Tanya seorang wartawan laki-laki yang memegang buku notesnya, alisnya terangkat saat menatapku.

“ Terlalu cepat? Aku rasa tidak juga. Mengingat sudah berapa umurku saat ini, aku memang sudah seharusnya menikah. Benarkan? ”

Terdengar suara cekikikan khas wanita dari arah wartawan tersebut. “ Tidak juga, kau belum terlalu kok.” Tanpa menutupi nada genitnya, ia membalas perkataanku, “ Ohya, sudah berapa lama kalian saling mengenal? Dari tatapan kalian, sepertinya kalian sudah mengenal cukup lama. Aku jadi iri dengan Jiyeon-ssi yang sangat beruntung. ”

Hampir seluruh isi ruangan itu tertawa, aku hanya tersenyum kecil dan melirik Jiyeon yang menaikkan alisnya tanda ia tak suka dengan ucapan wanita itu. Aku berdeham, “ Lumayan lama. Aku saat itu mendatangi kantornya untuk melakukan kerja sama. Dan saat melihatnya langsung, saat itu pula aku tertarik padanya. Selama berbulan-bulan aku berusaha mendekatinya tapi selalu ditolak. Bukannya aku sombong, tapi saat bersamanya aku mengerti bagaimana rasanya penolakan dan itu membuatku semakin ingin mengejarnya. Dan hasilnya, aku mendapatkannya walaupun sulit. ” Kataku sambil tetap tersenyum. Mengucapkan semua kalimat sesuai dengan naskahku, dan akan menambah kalimat yang kurasa perlu seperti… “ Dan menurutku, akulah yang beruntung bisa mendapatkan Jiyeon. ”

Wanita disampingku terkekeh pelan, mulai sadar aku menambah-nambah bagianku agar terlihat lebih nyata. Jiyeon menatapku dengan tatapan berbinar yang sangat aku akui jempol. Dia benar-benar terlihat sangat mencintaiku dan menatapku dengan tatapan memuja seolah-olah akulah pusat dunianya saat ini.

Acting Jiyeon oke juga, aku tidak boleh kalah.

“ Wow, ” Salah satu wartawan itu menggumam kagum, “ Bagaimana bisa seorang Kim Myungsoo berubah? Kita semua tau kau sering terdengar gonta-ganti pacar hanya dalam waktu yang singkat. Apa kau tidak takut hubungan kalian akan cepat berakhir? ” ucap wartawan dengan nada bercanda yang palsu.

Aku sangat mengerti makna dibalik pertanyaannya.

Dahiku mengernyit, membuat ekspresi heran yang kentara, “ Bukankah, ini adalah hubungan terlama yang pernah aku jalani? ” balasku dengan balik bertanya.

“ Benar juga. Jadi apa ada alasan kenapa anda mendadak berubah dan justru memilih Jiyeon-ssi? ” Tanya wartawan dengan tampang yang dimirip-miripkan dengan boyband berwajah cute yang sedang trend-trendnya saat ini. wartwan itu melirik Jiyeon yang masih tenang disebelahku dengan tatapan memuja yang terang-terangan, membuatku mendelik dan mengeratkan genggamanku secara refleks, “ Yah, disamping wajahnya yang memang luar biasa cantik dan karier-nya yang gemilang. ” Lanjutnya.

Dasar laki-laki sok imut! Dia kira Jiyeon suka dengan pria menjijikkan sejenis dia? Kenapa dia tidak homo saja sih. Pria dengan tipe seperti dia kan biasanya homo dengan pria yang terlalu kekar—tidak juga sih, mungkin aku memang mulai mengada-ngada—dan malah menyukai Jiyeon. Aku saja yang notabene-nya adalah master gombal di seluruh korea, tidak berhasil merayu Jiyeon.

Apalagi dia yang begitu iyuh.

Sekuat tenaga aku mengacuhkan tatapan memujanya agar tidak mengeluarkan nada sinis, “ Tidak ada alasan khusus. Hanya saja dengan Jiyeon, aku merasa sudah menemukan apa yang aku cari. Dia dapat membuatku nyaman, perasaan yang pertama kalinya aku temukan dalam hidupku. ” ucapku dengan nada setulus mungkin. Pada akhirnya aku mengucapkan kalimat penuh bullshit yang paling sulit untuk dihadal itu dengan mudah, tidak sesulit saat latihan. Dan kembali pada drama, aku menoleh pada Jiyeon dan tersenyum seolah-olah sedang tergila-gila pada seorang wanita, “ Jiyeon…membuat hidupku sempurna dan utuh. ”

Hening sejenak.

Kemudian terdengar berbagai respon yang tidak bisa kutangkap sepenuhnya. Mungkin ada bunyi seperti ‘oh, manisnya’, ‘ini sangat nyata’ dan ‘beruntung sekali dia’. Tapi dengan segala respon yang saling tumpang tindih itu, tidak ada lagi yang benar-benar membuka suara untuk membantah kalimatku.

Managerku yang berada di sekitar para wartawan untuk mengawasi pertanyaan-pertanyaan dan mengantisipasi hal-hal yang diluar dugaan mulai berteriak untuk menenangkan para wartawan yang shock tersebut dan mengatakan waktu mereka tinggal 5 menit lagi.

Kali ini ada seorang wartawan wanita dengan wajah yang lebih tenang dan tidak terbawa suasana sejak tadi. Ia tersenyum dan mengangkat tangan. Tapi kali ini tatapannya tidak tertuju padaku, melainkan pada Jiyeon.

“ Aku ingin bertanya padamu Jiyeon-ssi, ” Ucapnya dengan nada lembut yang tenang, “ Apa perasaanmu pada Kim Myungsoo? ”

Ya tuhan, tidak. Kami bahkan tidak menyangka ada pertanyaan semacam itu yang akan keluar, karena aku kira pertanyaan tentang perasaan tentu saja tidak perlu. Apalagi dengan segala sepak terjangku menjawab pertanyaan mereka. Sama sekali tidak menyangka, pertanyaan itulah yang ditujukan untuk Jiyeon.

Akan lebih mudah kalau pertanyaan itu ditujukan untukku. Karena walaupun kalimat cinta sangat sulit aku keluarkan, namun aku bukan tipe orang yang terlalu sulit untuk berbohong pada wartawan. Aku sudah hidup dengan semua itu dalam dunia entertainment.

Aku melirik Jiyeon, menunggunya untuk mengatakan jawaban yang sama sekali tidak tertebak saat ini olehku. Sejenak terlihat permainan emosi di wajah Jiyeon yang sama sekali tidak kumengerti. Aku sendiri tidak berani menebak emosi seperti apa yang sedang ia rasakan.

Sudah jeda beberapa detik namun Jiyeon tetap saja bungkam, membuat para wartawan itu mengerutkan dahinya bingung. Aku meremas tangannya, memberikan kekuatan yang semoga dapat ia rasakan. Hingga taklama dia tersenyum tenang.

“ Tentu saja, ” suara itu mengalir dengan tenang, seperti tanpa ada keraguan. Ia menoleh menatapku sejenak lalu kembali fokus menatap kedepan, “ Aku mencintainya.”

Dan saat ini, aku benar-benar terpukau dengan aktingnya yang membuat seluruh tubuhku menegang.

*****

Yah tau deh ini chapter emang sama sekali nggak memuaskan. Datar-datar aja gitu gak ada masalahnya. Kependekan juga, kan.

Tapi apa boleh buat. Aku berusaha cepet update karena ngejar waktu eh malah gini. Aku aja belum baca ulang loh. Harusnya tuh chapter ini digabung sama nikahnnya eh tapi ntar takutnya kepanjangan, jadinya 19 halaman ini dulu ya fufufu

Buat yang penasaran ff ini kapan tamatnya, sebenarnya masih lama banget. Maaf ya kalau buat kalian malah bosan, tapi aku harap tetep bisa dapet comment dari kalian dan saran gimana ff ini biar gak ngebosanin. Thanks!

Celebrity Wedding (Chapter 7: Problem Cleared)

celebrity wedding copy

Title : Celebrity Wedding

Main Cast :

Kim Myungsoo
Park Jiyeon

Genre : Marriage life, Romance, Humor

Type : Chaptered

Jiyeon’s Side

Lagi-lagi, ntah untuk keberapa kalinya dalam hari ini aku menghela nafas.

Tatapanku jatuh pada kertas hasil gambarku yang gagal total. Sudah tiga hari ini, tangan dan otakku tidak bisa menghasilkan apapun selain desain gagal yang berujung pada coretan kemarahanku. Lalu mataku beralih pada tong sampah yang mungkin belum dibersihkan oleh karyawanku sejak tiga hari, tumpukan kertas desainku yang gagal sudah menggunung, bahkan sudah tumpah mengotori lantai disekitarnya.

Baiklah, aku menyerah.

Sambil menghela nafas lagi, aku mengutip kertas-kertas malang itu dan memasukkannya kedalam tong sampah. Lebih baik aku membuang tumpukan sampah ini daripada membuat otakku yang sedang konslet semakin keruh.

Semenjak hari itu, tidak ada lagi komunikasi antara aku dan pria-sial-itu. Padahal biasanya, dia atau aku pasti akan menelfon atau paling tidak bertukar pesan sebentar.

Dan karena itu, aku merasa kehilangan. Ada sesuatu yang hilang. Perasaan kehilangan yang sakit.

Park Jiyeon bodoh. Memang kau fikir siapa dirimu?

Sudah tiga hari ini aku merenung, memikirkan kemungkinan-kemungkinan kenapa Myungsoo bisa bersikap seperti itu. Rasa-rasanya aku tidak membuatnya kesal ataupun marah sebelumnya. Walaupun, keheningan saat kami pergi bersama agak-agaknya terasa janggal, tapi aku merasa tidak ada yang salah selama itu.

Mungkin dia marah karena aku tidak berusaha mengajaknya berbicara?

Tidak mungkin.

Tanpa sadar aku mengurut pelipisku, terlalu bingung dengan ini semua. Aku berusaha berfikir selogis mungkin, namun nihil. Aku tidak menemukan jawaban apapun, yang aku temukan hanya rasa sakit akibat hatiku yang teriris dan fakta bahwa semenjak kejadian itu dia bahkan tidak mencoba memperbaiki hubungan kami.

Kenapa dia mendadak menyakitiku?

“ Masih banyak orang yang hidupnya lebih sulit darimu diluar sana akibat perang, kelaparan, kecelakan, krisis ekonomi. Jangan membuat malu dengan memasang muka seolah-olah kau lebih menderita daripada mereka. ”

Suara ketus yang khas itu membuatku terperanjat, lalu menatap Gyuri unnie dengan heran. Sejak kapan dia duduk disofa ruang kerjanya? Sejak aku pergi mengosongkan tong sampah?

Sial. Kenapa harus Gyuri unnie?

Sejak dulu, sikap Gyuri unnie memang selalu begitu. Skeptis, ketus dan sadis. Tapi dengan semua sifatnya itu, aku sangat tahu bahwa dia selalu mengkhawatirkanku. Dengan cara-caranya yang sadis itulah, dia melindungiku, mengaturku, hingga memberiku semangat yang kadang agak menyebalkan mengingat pilihan kata-kata yang sama sekali tidak menyenangkan namun dapat memacuku dengan sangat ampuh. Walaupun awalnya aku sangat membencinya karena mendengar kata-kata cemoohannya dan betapa over protective-nya dia padaku.

Tapi harusnya, bukan dia yang datang saat suasana hatiku buruk.

“ Unnie tidak ke kantor? ” Tanyaku mengalihkan, lalu ikut duduk dihadapannya.

“ Begitukah wajah seorang wanita yang akan menikah? kau lebih mirip seperti akan dihukum mati. ”

Aku merutuki kebodohkanku diam-diam, Gyuri unnie bukan orang yang bisa dialihkan begitu cepat. Ia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. Jadi aku memutuskan untuk mengangkat bahu, “ Hanya masalah pekerjaan. Beberapa hari ini aku tidak punya ide. ”

“ Dan yang membuat kau tidak punya ide adalah? ”

Jackpot.

Tebakannya memang selalu akurat. Itulah alasan mengapa aku tidak mengingkannya datang. Aku tidak mungkin menceritakan apapun padanya. Dan akan menjadi sebuah kebodohan bila aku memilih berbohong. Gyuri unnie akan dengan mudah mengatakan aku berbohong.

“ Aku… ”

“ Ada masalah dengan Myungsoo? ”

Aku menghela nafas lagi, pasrah akan keadaan lalu mengangguk, “ Hanya masalah kecil sebenarnya. ”

Pandangan Gyuri unnie berubah tajam dan penuh rasa ingin tahu. Kalau dia sudah seperti itu, dia akan mendesak siapapun agar mau memberi tahunya. Dan kalau orang itu tidak menuruti, siap-siap saja menerima jambakan atau lemparan sesuatu. gyuri unnie memang sadis. Aku bahkan bingung darimana ia dapat sifat itu mengingat mom dan dad sama sekali tidak memilikinya.

“ Ohya? Kalau begitu kau bisa mengatakannya padaku, kan? ”

Aku meringis, tanpa sadar menggaruk kepalaku yang mendadak gatal bukan main. Bagaimanapun, aku harus jujur. Gyuri unnie sama sekali tidak menyukai kebohongan, “ Hanya karena perdebatan tentang tema pernikahan, un. Itu saja. ”

Gyuri unnie bergumam, sesekali mengecek ponselnya lalu beralih menatapku, “ Dan pertengkaran kecil itu membuat wajahmu seperti ini? ya tuhan, Park Jiyeon. ”

Alisku terangkat, “ Unnie menuduhku berbohong? ”

“ Aku tau kau sedang jujur, walaupun alasanmu tidak masuk akal. aku yakin masih ada yang kau sembunyikan. ” Jawabnya dengan nada final.

Bisa kurasakan seluruh tubuhku menegang takut. Aku tau ini masalah sepele. Namun, rasanya menceritakan hal ini pada Gyuri unnie secara detail bukanlah pilihan yang tepat mengingat hal yang membuatku marah adalah ‘pernikahan palsu’ yang disebut Myungsoo.

“ Jangan tegang begitu, aku tidak akan memaksamu, ” Sambung Gyuri unnie sambil berdiri dan itu membuatku lega luar biasa. Aku bahkan sangat yakin unnie bisa merasakan kelegaanku, “ Jangan terlalu stress dengan masalah sepele. Unnie akan pulang. ”

Aku ikut berdiri dan mengantarnya kedepan pintu ruanganku, “ Kenapa unnie terburu-buru? ”

“ Bukannya bagus untukmu? ”

Gyuri unnie menatapku dengan alis terangkat, membuatku meringis seperti tertusuk paku. Bahkan hal seperti ini saja dia bisa tahu. Unnie-ku hebat sekali bukan? Dulu aku pernah menyuruhnya untuk menjadi psikolog, namun setelah aku pikir-pikir lagi, bad temperament-nya membuat pekerjaan itu malah haram untuknya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana unnie akan melempar kursi atau menampar pasien yang tidak ingin menurut padanya atau saat suasana hatinya sedang buruk.

Tidak. Bisa-bisa dialah yang dijebloskan ke rumah sakit jiwa.

“ Aku tidak bilang begitu, ”

“ Tapi matamu menjelaskan semuanya. ”

Tepat saat aku membuka pintu, Hyomin unnie muncul dengan beberapa berkas ditangannya. Dan lagi-lagi itu membuatku lega luar biasa karena tidak perlu merasa ketahuan lagi.

dan ternyata kemunculan Gyuri unnie juga membuat Hyomin unnie kaget. Ia lalu menetralkan ekspresinya. Aku tahu kenapa ia panik.

Ia memegang rahasiaku, dan semua orang yang mengenal Gyuri unnie tidak akan mungkin bisa memegang rahasia apapun.

“ Sudah lama tidak melihatmu. Apa kabar, hyomin? ” Sapa Gyuri unnie.

Hyomin unnie tersenyum kecil—dan aku sangat tau dia ketakutan—“ Baik. Belakangan ini aku melakukan beberapa pekerjaan di Paris. Sudah mau pulang, un? ”

Gyuri unnie tersenyum, “ Tentu saja. Jiyeon sedang tidak bisa terpisah dengan Myungsoo, kan? ” Tanyanya santai, namun malah membuatku panik setengah mati, “ Ohya, apa rencanamu hari ini, Jiyeon? ”

Secara ajaib aku mengingat sesuatu. hari ini kan jadwal kami untuk memilih cincin! Aku sudah berjanji akan mengangajak Myungsoo hari ini ke toko perhiasaan favoriteku untuk memilih cincin nikah. Bagaimana mungkin aku bisa lupa?

Jadi aku harus menghubunginya duluan, begitu?

Tidak akan.

Lebih baik aku pergi sendiri. Masa bodoh kalau dia tidak menyukai pilihanku lagi. Memangnya dia kira aku saja yang harus menurut padanya? Tidak akan. Cukup keluargaku saja yang terlalu mengaturku. Menambah satu orang lagi akan membuatku ingin mengakhiri hidupku saja.

“ Kami akan pergi memilih cincin jam 12 nanti. ” Jawabku sesantai mungkin.

“ Oh begitu, sampaikan salamku untuk calon adik iparku itu. ”

Aku mengangguk kaku. Setelah itu Gyuri unnie berjalan santai menuju lift, bahkan aku bisa mendengarnya bernyanyi kecil seolah merayakan keberhasilan rencananya untuk membuatku ketakutan. Setelah ia menghilang, buru-buru Hyomin unnie menutup pintu dan menghela nafas keras. Aku sangat mengerti perasaannya.

Sangat mengerti.

“ Gila! ” Teriaknya tertahan, seolah-olah Gyuri unnie dapat mendengar apapun kalimatnya dalam radius 500 meter, “ Dia memang tidak berubah. ”

Kami berdua berjalan kembali ke sofa. Aku hanya mengangguk lemah. Benar-benar bingung dengan rencanaku untuk memilih cincin hari ini. egoku berteriak agar memilihnya sendiri, namun disisi lain, aku tau bagaimanapun aku harus mengajak Myungsoo.

“ Bahkan lebih parah. ” Gumamku sambil melihat-lihat beberapa berkas yang dibawa Hyomin unnie.

Bisa kurasakan Hyomin unnie menatapku lama, “ Kudengar dari Krystal, moodmu tidak begitu bagus belakangan ini. ada apa? ”

“ Kami bertengkar. Masalah sepele. ”

Saat Hyomin unnie bertanya kenapa, saat itulah aku menjawabnya dengan cerita lengkap versiku. Aku menceritakan bagaimana sikapnya terhadapku saat di hadapan wanita itu dan bagaimana cara ia menyebutkan pernikahan palsu kami. Hyomin unnie mendengarkanku dengan seksama dan semakin lama, keningnya makin berkerut. Mungkin sama bingungnya denganku.

Dan rasanya benar-benar lega.

Walaupun masalahku tidak hilang sama sekali, namun rasanya bebanku memang terangkat setengahnya. Bercerita pada pendengar yang sejalan pikiran memang menyenangkan.

Tidak seperti pada cenayang berwujud Gyuri unnie.

“ Kalau begitu, kau saja yang memilih cincinnya sendiri! Kenapa harus kau yang menghubunginya duluan, ini sama sekali bukan salahmu. Kalau perlu kau bisa mengajak teman laki-lakimu. ”

Dahiku mengernyit, “ Teman? Laki-laki?”

“ Jung wook, misalnya? ”

Jung wook. Seorang teman lamaku semasa kuliah. Kami lumayan sering melakukan kontak baik pesan ataupun telfon. Dan tentu saja itu selalu dia yang memulai. Beberapa teman kuliahku dulu mengatakan dia sudah lama menyukaiku.

Tapi aku bukan tipe yang suka berkomitmen apalagi serius. Komitmen bagaikan virus yang harus aku hindari. Berkebalikan dengannya. Dan rasanya ajaib sekali sebenarnya mengingat sebenarnya aku akan menikah dan berkomitmen selama setahun. Lalu setelah itu kami cerai secara baik-baik, tanpa adanya anak ataupun perebutan harta gono-gini.

Memikirkan kalimat cerai memang selalu sukses membuatku mual.

“ Tidak apa-apa memanfaatkan dia? Mengajak lelaki lain untuk mengurus pernikahan yang bahkan bukan dengannya, unnie tidak berfikir itu aneh? ”

Hyomin unnie mengangkat bahu, “ Memang apa masalahnya? Dia pasti dengan senang hati menolongmu. ”

Myungsoo’s Side

Setelah melirik kiri kanan, aku berjalan cepat ke dalam café yang sudah kami sepakati. Tentu saja, aku memilih café dengan pengunjung paling sepi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan sampai ada berita yang menyebutkan aku selingkuh setelah kami sudah merencanakan pernikahan.

Itu akan membuatku semakin dicap pria brengsek.

“ Maaf, aku terlambat. ”

Wanita itu dengan anggunnya menaikkan kepala dan menatapku lurus, lalu tersenyum, “ Aku kira aku yang akan terlambat. ”

Aku meringis. Bahkan aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana caranya tersenyum. Ia masih terlihat tidak menyukaiku sama sekali.

Atau mungkin wajahnya memang tidak bersahabat?

“ Aku ada urusan sedikit, ” Jawabku jujur, karena Jiyeon pernah mengingatkanku apapun yang terjadi jangan pernah berbohong kecuali tentang hubungan kami tentu saja, “ Ada apa nuna ingin bertemu denganku? ”

Seorang pelayan laki-laki mengantarkan jus milik Gyuri nuna dan menayakan apa pesananku tanpa kelihatan tertarik dengan siapa ia berbicara. Ini yang aku suka dari café ini. kadang-kadang aku memang menyukai café dengan pelayanan tidak ramah daripada ramah.

Karena pelayannya tidak akan peduli apa yang aku lakukan disini.

“ Kopi dengan sedikit cream untukku, ”

Ia mengangguk lalu setelah mencatatnya, iapun pergi dari hadapan kami.

Gyuri nuna menatapku penuh selidik, “ Kau terlihat berantakan. ”

Ya, tentu saja aku terlihat berantakan. Sudah tiga hari aku bertengkar dengan adiknya dan sudah tiga hari pula kami tidak ada komunikasi sama sekali. bukannya aku pengecut karena tidak berani menghubunginya duluan, tapi rasanya aku masih kesal setiap mengingat bagaimana dia menyebutkan hal itu duluan. Jadi sebenarnya, bukan aku yang salah disini. Salah dia karena dia yang memulai semuanya.

Walaupun belakangan ini aku merasa, mungkin aku terlalu berlebihan.

Jadi agar aku bisa menghilangkan perasaan bersalah yang sering mendadak muncul diotakku, aku memaksakan diri untuk tetap sibuk hingga membuatku terlihat berantakan. Berlatih dance sepanjang hari walaupun aku tidak menyukainya, mencoba mengaransemen lagu baru hingga ikut melatih vocal para trainee yang seharusnya bukan pekerjaanku. Itu semua aku lakukan agar aku tidak punya waktu untuk merasa bersalah ataupun menyerah dengan keadaan dan mengajaknya berdamai.

“ Belakangan ini aku sibuk untuk persiapan konser, nun. ” Jawabku asal.

“ Dan sibuk memikirkan pertengkar kalian? ”

Lagi-lagi aku tertohok dengan pertanyaan yang lebih berupa pernyataan yang dilemparnya secara terus terang. Membuat otakku bekerja keras berfikir apa aku harus jujur atau malah berbohong. Tidak. Dia pasti tahu dari Jiyeon. Mengucapkan sebuah kebohongan adalah suatu kebodohan.

Perasaanku tidak enak.

Sebenarnya tidak masalah jika aku jujur saja. Tapi yang aku takutkan justru saat dia bertanya alasan kenapa kami bertengkar. Apa Jiyeon sudah mengatakan kebohongan? Bagaimana kalau alasan kami berbeda?

Tamatlah sudah riwayatku dihadapan monster berwujud wanita anggun ini.

Aku hanya mengangguk sambil menggaruk kepalaku yang sepertinya berkutu, “ Hanya masalah kecil tentang pernikahan kami. ”

Gyuri unnie menatapku dengan ekspresi datar yang luar biasa lalu mengangkat alisnya. Apa respon itu pertanda buruk? Wanita ini benar-benar menyeramkan. Dia bahkan sangat sangat jauh lebih menyeramkan daripada manager hyung. Bagaimana bisa Jiyeon memiliki kakak perempuan yang begini seram?

“ Jiyeon juga bilang begitu. Sepertinya kalian tidak berminat untuk menceritakannya, ya? ” Balasnya santai yang membuatku kikuk setengah mati.

Semoga saja dia tidak mengeluarkan pisau secara tiba-tiba didalam tas hitamnya lalu melemparkannya tepat ke jantungku. Aku tidak ragu sama sekali dia bisa melakukan itu, melihat bagaimana caranya bersikap dan suara dinginnya yang mengalahkan kutub utara dan selatan digabung menjadi satu.

Okay. Aku tau aku sangat berlebihan.

Tapi kalian akan merasakan hal yang sama saat mendengar suara dinginnya yang lebih tenang daripada air dan saat ditatap dengan tatapan tajam yang menusuk seolah dia bisa membaca apapun yang sedang kau fikirkan. Ditambah lagi dengan tangannya yang melipat didada, membuat kesan bahwa dia terang-terangan tidak menyukaiku sedikitpun.

“ Baiklah kalau begitu aku langsung to the point saja, ” Ucapnya membuatku tenang sekaligus tegang disaat bersamaan, ia meminum jusnya sebentar lalu kembali menatapku dengan tatapan yang sama, “ Aku akan meminta sesuatu. ”

For god shake, aku akan memberikan apapun yang dia minta kecuali nyawaku. Sungguh.

Dan kenyataan bahwa dia berkata seolah-olah aku tidak boleh menolaknya membuatku makin tegang, “ Apa nuna? ”

Dia menghela nafas, sekilas saja aku dapat melihat matanya yang memancarkan kekhawatiran lalu beberapa detik kemudian pancaran itu hilang. Membuatku yakin aku salah melihat.

“ Aku minta kau menjaga Jiyeon, jangan pernah menyakitinya sejengkal saja. Karena kalau itu terjadi, kau tahu berurusan dengan siapa. ”

Gila.

Aku baru saja diancam oleh seorang wanita dan untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa takut akan ancaman seseorang. Tentu saja aku tahu akan berurusan dengannya dan aku sampai matipun tidak akan mau menjadi bahan mutilasi.

Tapi aku jadi penasaran.

Kenapa dia berkata begitu? Maksudku, wajar bagi seorang kakak untuk mengkhawatirkan adiknya. Tapi bukankah dia sangat-sangat serius dengan apa yang diucapkannya? Seolah kalau aku berani membuat adiknya sedih sedikit saja dia akan mencabut mataku.

“ Tentu saja, un. Aku tidak akan menyakitinya. ” Jawabku akhirnya.

“ Aku akan bercerita sedikit, ” Katanya, membuat dahiku berkerut karena lagi-lagi aku melihat pancaran kesedihan dimatanya, “ Jiyeon. dia memiliki sebuah trauma dimasa lalunya. ”

Maksudnya?

Trauma? Trauma tentang apa?

“ Dia bukan adik kandungku. ” membuatku semakin terkejut dengan satu lagi fakta yang Gyuri nuna katakan, “ Dulu sewaktu dia masih berumur 5 tahun, dia selalu disiksa oleh ayah kandungnya. Bahkan beberapa memar masih ada di punggungnya, walaupun kejadian itu sudah sangat lama. ”

Fakta lagi. Dan itu membuatku tanpa sadar menggeram marah. Membayangkan Park Jiyeon dipukul oleh ayah kandungnya sendiri membuatku ingin menghajar lelaki bejat itu.

Bagaimana bisa ia malah menyiksa anak yang harusnya ia lindungi?

Tapi itu membuatku mengingat sesuatu yang sama sekali tidak ingin aku ingat. Peristiwa yang membuatku takut menjalin hubungan serius. Peristiwa yang membuat umma nyaris gila dan membuat kami berdua hancur karena seseorang.

Lupakan saja.

“ Bagaimana dengan ibunya? ” Tanyaku dengan suara tertatahan.

Lagi-lagi Gyuri nuna menggeleng, sorot kesedihan benar-benar kentara dimatanya. Ia sama sekali tidak berusaha menutupi itu lagi. Seolah-olah dia dapat merasakan, bagaimana pedihnya kehidupan Jiyeon yang tidak pernah aku sangka. Bagaimana bisa ia yang terlihat sangat bahagia dengan hidupnya yang mengalami penderitaan sedemikian berat pada masalalunya?

“ Ibunya bahkan tidak bisa menolong Jiyeon karena dia juga disiksa, ” Jawab Gyuri nuna, “ Ibunya telah minta cerai, namun saat mendengar permintaan itu, ayah Jiyeon langsung mengamuk dan memukulinya. Puncaknya ketika ayah kandung jiyeon membunuh ibunya didepan mata Jiyeon yang saat itu masih berumur 6 tahun. Dad berhasil menyelamatkannya saat mendengar teriakan dari ibu Jiyeon. Dad menghajar lelaki itu dan menelfon polisi lalu membawa Jiyeon kerumah kami. Saat itu keadaannya sangat kacau. Tatapan Jiyeon selalu kosong dan ia sama sekali tidak mau bicara hingga dokter mengatakan tidak ada harapan untuknya bisa pulih. Hingga kami memilih alternative lain, yaitu menghipnotis Jiyeon agar kenangan dimasa lalunya terlupakan walaupun kepingan-kepingan memori itu tetap ada jika ada suatu hal yang membuatnya ingat kembali. ”

Separah itu hingga ia harus dihipnotis agar lupa ingatan? Siapa yang menjamin ingatan itu tetap terlupakan selamanya?

Rupanya masih ada yang lebih brengsek daripada lelaki itu.

Tanganku mengepal kuat. Tanpa sadar aku merasa rasa takut itu kembali menyergap otakku setelah sekian lama aku kubur dalam. Membuatku takut untuk mencintai dan berhubungan serius pada seorang wanita manapun. Aku tidak ingin membuat mereka seperti umma. Aku takut saat aku bosan dengan wanita itu setelah kami berkomitmen, aku lalu mencampakkannya.

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, bukan? Mungkin saja aku sanggup melakukan itu.

Jadi aku berjanji. Aku tidak akan jatuh cinta lagi. Aku tidak akan memiliki hubungan serius. Cukup sekali saja saat itu.

“ Myungsoo? ” Panggil Gyuri nuna, tatapan dinginnya telah kembali namun kali ini ia menunjukkan ekspresi heran, “ Aku cerita terlalu banyak. Aku harap kau tidak mengatakan hal ini pada siapapun. ”

Aku menarik napasku perlahan, seolah mencoba membuang apapun yang ada diotakku saat ini, “ Tentu saja, nun. ”

“ Jujur saja aku heran, kenapa Jiyeon mendadak memilih menikah denganmu yang aku yakin bukanlah lelaki yang baik mengingat track record-mu selama ini. ” Balas Gyuri nuna dengan sangat frontal, seolah sedang menamparku. Oh, kalau dia memang menginginkan itu, dia sangat berhasil, “ Aku yakin kau tidak serius dengan Jiyeon. ”

Aku gelagapan. Udara mana udara?

Sekarang aku harus jawab apa? Apa aku harus menjawabnya? Itu lebih kepada pernyataan dan pernyataan itu memukulku telak karena hubungan kami memang tidak serius. Tapi aku bisa apa?

Otakku berfikir keras, memikirkan kata apa yang tepat untu membalas kalimat Gyuri nuna paling tidak mengalihkannya sedikit saja. Tapi kalimat itu tak juga kunjung muncul dan akhirnya aku menyerah.

“ Aku janji tidak akan menyakiti Jiyeon. ” Balasku akhirnya.

Aku benar-benar berharap tidak akan menyakiti Jiyeon. Wanita itu terlalu tersiksa dimasalalu, jangan sampai aku yang bukan siapa-siapa harus menambah lagi lukanya. Dia pantas bahagia.

Tapi entah kenapa, aku merasa Jiyeon adalah wanita yang harus aku waspadai. Jangan sampai aku jatuh cinta padanya. Dan membuatku tanpa sadar menghela nafas berat, andai semuanya bisa menjadi lebih mudah untukku. Seandainya aku mau membuka perasaanku untuk wanita lain. Seandainya aku tidak pengecut dan tidak takut dengan rasa sakitnya jatuh cinta.

Andai saja aku mau egois dengan tidak memikirkan kemungkinan bahwa aku akan menyakiti wanita yang mencintaiku.

“ Bagus. Lelaki sejati akan memegang janji kan? ” Sindirnya, membuatku tanpa sadar tersentak dan meringis. Gyuri nuna melihat jam tangannya dan mengernyit, “ Sudah jam 12, kenapa kau belum pergi untuk mengambil cincin? ”

Benar juga. Seharusnya hari ini kami memang akan pergi memilih cincin. Namun karena perkelahian konyol itu, dia bahkan tidak menghubungiku sama sekali. seharusnya aku tidak marah hanya karena masalah sepele dan membuatnya sakit hati karena salah paham denganku. Ternyata aku memang masih saja kekanakan.

Aku harus memperbaiki hubungan kami.

“ Nuna tau dia dimana? ” Tanyaku ragu.

Gyuri nuna menatapku dengan alis terangkat lalu mendengus, “ Kenapa kau tidak tanya sendiri? ”

Ya tuhan. Mungkin beberapa kejutan dan sedikit rasa penyesalan hari ini membuatku agak bodoh dan lamban. Aku sampai lupa kalau zaman sekarang ini sudah canggih dimana ada ponsel yang bisa digunakan untuk menghubungi orang lain.

Jadi tanpa membuang waktu, aku mengeluarkan ponselku dan mencari kontak Jiyeon untuk menghubunginya. Tapi ternyata, nasibku cukup sial hari ini.

Dia masih marah dan mereject panggilanku.

Salahkan saja aku yang brengsek.

“ Dia me-rejectnya? ” Tanya Gyuri nuna masih seperti peramal.

Aku hanya mengangguk lesu, lalu kembali mencobanya dan tetap saja gagal. Dia tetap mereject panggilan dariku. Aku tidak menyalahkannya lagi. Wajar saja dia seperti itu, dia salah paham karena mengira aku menganggap enteng pernikahan ini. padahal niatku hanya membalas apa yang dia mulai. Tapi mungkin saja, dia tidak bermaksud mengatakannya untuk membuatku tersinggung. Aku memang kekanakan.

Tapi tetap saja aku masih kesal. Kenapa dia tidak sadar juga sih?

“ Coba ke toko cartier di Cheongdam-dong, itu yang terdekat dari kantornya. ”

Gumamnya namun dapat terdengar jelas olehku dan lagi-lagi membuatku yakin wanita didepanku adalah titisan dedemit atau cenayang dan sejenisnya. Atau Jiyeon memang memberi taunya?

Responku kadang memang berlebihan.

“ Jiyeon mengatakannya pada nuna? ” Tanyaku hati-hati.

Diam-diam, aku was-was juga dengan Gyuri nuna. Dan gerakan menggelengnya membuatku menganga semakin lebar. Rasa-rasanya aku ingin bersimpuh dihadapannya dengan kedua tangan saling berkaitan sambil mengatakan, “ Mohon ajarkan saya, guru. ” seperti di film-film kolosal. Kemampuan seperti itu sangat dibutuhkan dizaman yang penuh dengan kepalsuan seperti saat ini.

Otakku sudah kembali bergeser, ya.

“ Jangan norak, ” Gyuri nuna mendesis, perasaanku berkata wanita itu sedang menahan tawanya. Mungkin ekspresiku memang norak, “ Jiyeon suka cartier. Dan toko itu adalah toko yang paling sering ia kunjungi. Jadi kutebak, dia akan kesana.”

“ Kalau dia tidak disana? ”

“ Ya berarti kau harus mencarinya keseluruh tempat. Simple saja, kan? ”

Ngomong saja memang mudah. Tau-tau nanti saat aku sudah mengelilingi semua toko cartier yang lebih dari 10 di korea, Jiyeon sudah keburu punya calon pasangan baru.

Lebih baik aku gantung diri saja kalau begitu.

Tapi aku tidak boleh meragukan penglihatan dari sang guru besar. Ini adalah titah yang harus aku laksanakan dan aku tidak boleh mengeluh. Semangat!

“ Benar juga, ” aku melirik jamku dan berdiri lalu menunduk sedalam-dalamnya dihadapan sang guru besar, “ Terimakasih gu—maksudku nuna. Terimakasih atas bantuannya. Kalau begitu aku pamit dulu. ”

Setelah sekilas aku melihat guru besar-ku mengangguk singkat dengan gerakan anggun, aku melesat pergi menuju mobil pribadi yang jarang sekali aku pakai untuk menghindari kejaran fans. Kalau difikir-fikir lagi, mana ada guru besar secantik dan seanggun Gyuri nuna.

Aku terkekeh sendiri didalam mobilku lalu menghela nafas berat.

Merasa sangat sadar akan omongkosong yang ada diotakku saat ini. aku hanya sedang berusaha untuk mengacuhkan kebimbangan yang mendadak melanda perasaanku.

Jiyeon’s Side

“ Kau kira dengan siapa kau akan menikah? ”

Suara dingin yang tenang namun menusuk itu memenuhi indra pendengaranku, membuatku langsung menghentikan langkahku dan diikuti dengan Jung Wook yang menatapku dan seseorang dibelakangku dengan heran.

Suara itu.

Suara yang belakangan ini membuatku merasakan apa itu perasaan rindu. Suara dari lelaki yang membuatku tidak bisa berfikir benar. Suara dari lelaki yang membuatku kacau belakangan ini.

Apa dia merasakan perasaan yang sama sepertiku?

Tubuhku diam mematung. Bingung harus membalikkan badan untuk melihat wajahnya yang sudah beberapa hari ini tidak dapat kulihat atau melanjutkan langkahku untuk berpura-pura tidak mendengarnya. Baru beberapa hari saja rasanya sudah lama sekali. Rasanya seperti ada yang hilang disetiap aku ingin menutup mataku dimalam hari, ada sesuatu yang kurang hari itu. Membuatku berfikir keras hingga susah tidur.

Rupanya begitu rasanya. Apa aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya?

Jatuh cinta? Perasaan yang bahkan aku kira tidak bisa aku rasakan seumur hidupku. Aku sedang merasakan itu. Perasaan yang aku hindari, namun kali ini datang. Aku memang salah. Karena kenyataanya, bagaimana kita jatuh cinta dan dengan siapa kita merasakannya bukanlah atas keinginan kita.

Kurasakan sebuah tangan menarikku hingga membuatku menoleh. Lelaki itu tersenyum kecil padaku, matanya bergerak menelusuri wajahku sedangkan aku sendiri hanya dapat mengatupkan bibirku dengan mata kosong. Terlalu bingung dengan perasaan berlebihan yang sangat ingin kuhindari.

Tak lama kemudian, ia kembali menoleh pada Jung-wook dan menatapnya dingin, “ Maaf, aku rasa kau bisa meninggalkan calon istriku sekarang. ”

Jung-wook menatapku lama, menginginkan sesuatu keluar dari bibirku yang dapat menahannya. Namun nihil. Aku bahkan terlalu bingung dengan perasaan aneh yang muncul secara mendadak. Perasaan yang sama sekali tidak bisa dideskripsikan karena berbagai emosi yang tercampur didalamnya.

“ Okay. Maaf. ”

Akhirnya Jung-wook menyerah dan meninggalkan kami setelah sebelumnya menepuk bahuku sekali. Aku bahkan tidak dapat memberikan balasan padanya. Perasaan bersalah mendadak muncul karena telah memanfaatkan lalu mencampakkannya begitu saja.

Aku hanya menghela nafas berat, berusaha mengangkat kepalaku dan menatap lelaki-sialan-itu, “ Ada apa? ”

“ Maaf. Aku akan menjelaskan semuanya setelah kita memilih cincin. Tenang saja, cincinnya aku yang teraktir dan kau bisa memilihnya sesuka hatimu, oke? ”

Lelaki itu terkekeh dan menarik tanganku lembut. Bahkan dia bisa bercanda disaat rasa-rasanya aku ingin menggampar sekaligus memeluknya. Mungkin wajar bagi perasaanku untuk mendadak berlebihan begini, perasaan seperti ini terlalu baru untukku. Jadi aku harus mulai pandai mengontrol sekaligus menekannya agar tidak terlalu menyesakkan dadaku.

Semoga saja bisa.

Kami berdua memasuki toko tersebut. Berbagai perhiasaan cantik menyambut kami dengan baik, membuat ujung bibirku sedikit naik karena melihat kecantikannya. Aku bukan tipe orang yang suka menghabiskan uang untuk membeli berbagai perhiasaan, aku hanya memiliki perasaan apresiasi yang begitu tinggi untuk karya seni seperti perhiasaan cantik—baiklah jujur saja aku memang sedikit boros sebenarnya.

“ Kau yakin aku yang memilihnya? ” Tanyaku menyindir, ia hanya mengangkat alisnya tak mengerti dengan pertanyaanku, “ Mungkin saja selera kita berbeda karena seleraku jelek dan tidak berkelas. ”

Myungsoo tertawa lalu menepuk kepalaku. Sama sekali tidak terpengaruh dengan kalimatku yang jelas-jelas menyindirnya. Dia benar-benar bermuka badak, “ Kalau seleramu jelek dan tidak berkelas, mana mungkin aku mengajakmu menikah. aku suka wanita berkelas dan tentu saja kau termasuk kedalamnya. ”

Mendengar kalimat yang sangat ringan dimulutnya namun berdampak begitu besar padaku itu membuat kemarahanku meluap begitu saja. Ya, sebut saja aku wanita lemah yang gampang sekali terperdaya. Tapi wajar saja kan, mengingat aku adalah wanita yang sangat pemula dalam jatuh cinta. Perasaan seperti ini terlalu dini dan terlalu menggebu-gebu untukku.

Aku mendengus, menatapnya sengit, “ Kalau begitu aku ingatkan dengan apa yang kau pernah katakan, pernikahan kita palsu. ”

Kali ini ia tidak lagi tertawa, ekspresinya menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak menyukai kata-kataku. Tapi aku benar, kan? Dia yang bilang begitu.

“ Ada yang bisa kami bantu? ”

Kami berdua menoleh kebelakang, membuat pegawai yang awalnya memasang senyum terbaiknya menjadi kaget. Namun hanya sepersekian detik, kemudian ia kembali memasang senyum yang bahkan lebih lebar.

Uh-oh. Aku lupa kami adalah pasangan paling hot akhir-akhir ini. tentu saja dia kaget dengan kedatangan kami berdua sekaligus.

“ Kami ingin cari cincin pernikahan, bisa dibantu? ” Tanya Myungsoo dengan senyum sejuta watt-nya yang berkilau menyebalkan.

Pegawai itu terperangah sejenak. Membuatku berusaha keras menahan mataku agar tidak berputar muak. Kalau begini saja dia sudah kaget-kaget tidak jelas, bagaimana kalau secara mendadak aku mengatakan padanya bahwa pernikahan kami bohongan. mungkin saja dia mati karena terkena serangan jantung ditempat dan saat itu aku akan tertawa penuh kemenangan.

Mungkin aku terdengar sedikit mengerikan, tapi salah dia juga kenapa begitu terkejut mendengar kami akan mencari cincin nikah. Memangnya apalagi yang dicari wanita dan pria yang datang bersamaan kalau tidak cincin nikah ditoko perhiasaan?

Urgh. Mungkin sebentar lagi aku akan dapat tamu bulanan, makanya aku sejudes ini.

“ Tentu saja, anda ingin memilih dari koleksi kami atau pesan sesuai keinginan anda? ”

Myungsoo menatapku seolah bertanya pendapatku, sepertinya ia tidak terlalu berpengalaman dengan belanja perhiasan. Aku beralih menatap pegawai tersebut, “ Kalau pesan, butuh berapa lama? ”

“ Sekitar 6-10 bulan tergantung bagaimana bentuk keinginan dan bahan dari cincinnya, nona. ”

Aku menatap Myungsoo kembali dengan pandangan kecewa. Sayang sekali, padahal tadi otakku sudah mulai bekerja membayangkan berbagai cincin unik untuk kami. Hebat juga, untuk desain baju otakku bahkan tidak jalan sedikitpun tadi.

“ Tidak bisa lebih cepat, ya? Sebulan? ” Tawar Myungsoo.

Refleks aku memukul kepalanya yang terlalu bodoh. Dia kira pelanggan cartier hanya kami saja? Dia kira membuat cincin itu segampang membuat kerajinan tangan dari bahan bekas seperti pelajaran anak sd?

Bodoh, sekali.

“ Kenapa kau memukulku? ” Tanya Myungsoo tidak terima.

Aku mendengus, “ Salah otakmu kenapa begitu bodoh. ” cibirku, aku beralih menatap pegawai yang berusaha untuk menahan senyumnya, “ Kalau begitu kami pilih yang ada saja. ”

“ Baiklah, kalau begitu mari saya antar, tuan dan nona. ”

Setelah mengatakan hal itu, pegawai itu berjalan mendahului kami sedangkan Myungsoo mendadak melingkarkan tangannya di bahuku, membuatku berjengit kaget dan menatapnya tidak suka sedangkan ia hanya memasang tampang blo’on seolah-olah tidak ada yang salah dengan itu.

Pegawai tersebut menggiring kami ke lantai atas dan membawa kami kehadapan beberapa kotak yang terbuat dari kaca anti peluru yang berisi cincin yang berkilauan. Ya tuhan, apa ini nyata? Aku akan memilih cincin pernikahan untukku sendiri! Harusnya aku mengabadikan momen yang hanya akan terjadi sekali seumur hidupku ini!

Karena sekali lagi aku ulangi, aku tidak yakin akan menikah lagi setelah kami bercerai.

“ Kau suka? Matamu bahkan berbinar dengan hanya melihatnya. ”

Tanpa ragu, aku mengangguk berkali-kali. Myungsoo terkekeh, “ Pilih saja. ”

Aku berjalan pelan mengelilingi kotak-kotak transparan itu sambil mengamatinya satu persatu, sesekali berdecak kagum. Aku suka membeli baju, sepatu, tas, dan perhiasaan mahal. Tapi dengan menggunakan uangku sendiri. Itu membuatku lebih puas dan menghargai barang tersebut.

Tak apalah. Ini kan cincin pernikahan. Sudah seharusnya itu menjadi tanggung jawabnya.

Langkahku terhenti pada kotak yang berisi cincin yang berbentuk untaian-untaian rumit dengan berlian sepanjangan untaian tersebut. Cincin tersebut terbuat dari platina dengan berlian kecil yang memenuhi cincin tersebut membuatnya terlihat mewah dan menakjubkan.

Aku mau yang ini!

Tubuhku berbalik dan mendapati wajah Myungsoo yang terlalu dekat denganku, membuatku tersentak kaget. Wajah itu tersenyum dan memiringkan kepalanya menatap cincin itu, “ Cantik, mau yang ini? ”

Jujur saja, wajahnya kami yang berdekatan dan terpaan nafasnya yang hangat diwajahku membuatku tak sanggup mengatakan apapun lagi. Sama persis seperti drama korea tentang percintaan anak SMA yang pernah aku tonton. Ternyata aku memang senorak ini. tidak harusnya aku berlarut-larut dalam perasaan berlebihan seperti ini.

Diam-diam aku ingin cek juga bau nafasku. Kalau bau, bisa jadi masalah besar.

Walaupun responku terlambat, aku mengangguk bersemangat, “ Baguskan? ”

Myungsoo bergumam kemudian memanggil pegawai yang terlihat iri berat dengan kemesraan kami itu agar mendekat, “ Saya pilih yang ini, ya? ”

Pegawai itu tersenyum dan mengangguk, “ Baiklah, untuk calon pengantin prianya? ”

Sebenarnya geli juga mendengar sebutan calon pengantin pria untuk Myungsoo. Tapi mau tidak mau, aku harus menahan diri untuk tidak mendengus agar pegawai tersebut tidak berpikir yang aneh-aneh.

Kepalaku terangkat dan menatap Myungsoo, “ Kenapa kau tidak memilih cincinmu sendiri? ”

Myungsoo merengut, respon yang sama sekali tidak aku sangka, “ Aku mau kau yang memilihnya. ”

Kali ini aku tidak bisa menahan mataku untuk tidak berputar. Tapi mau tidak mau kakiku melangkah juga menuju cincin pria dan mencoba mencocokkannya dengan cincinku. Hingga akhirnya mataku berhenti pada cincin simpel dengan sebuah permata kecil disebelah tulisan cartier.

“ Bagimana dengan ini? ”

Dahinya mengernyit lalu mengangguk, “ Terserah saja, aku tidak terlalu pandai memilih cincin. ”

“ Bilang saja kau tidak punya selera seni. ”

Myungsoo menatapku tak suka, alisku terangkat menantangnya, “ Mungkin kau lupa kalau aku art-ist. ” Balasnya kesal.

Aku tidak mau kalah. Perdebatan kecil seperti ini termasuk satu hal yang membuat hariku menjadi lengkap. Mau tidak mau, aku mengakui aku merindukan kekalahanku saat berdebat dengannya, “ Well mungkin saja, kau salah saru artist yang hanya beruntung mempunyai wajah tampan. ”

Kini giliran Myungsoo yang mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. Bibirnya secara mendadak terangkat sebelah, membentuk smirk yang selalu sukses membuatku kesal.

Dan juga rindu.

“ Kau baru saja mengakui ketampananku, nona. Harusnya aku mengabadikannya. Karena kejadian seperti itu sangat langka, kan? ”

Aku gelagapan. Myungsoo mengedipkan matanya padaku lalu beralih menatap pegawai yang berjarak beberapa meter dari kami itu, tapi aku sangat yakin dia berusaha menguping sehingga mendengar semua percakapan kami—melihat dari ekspresinya yang berusaha menahan senyum hingga keringatan.

“ Kami pilih yang ini juga. ” Putus Myungsoo.

Pegawai itu mengangguk dan tersenyum agak lebih lebar dari seharusnya, “ Mari ikut saya untuk mengukur jari dan pembayaran, tuan dan nona. ”

Kami berdua mengangguk dan mengikuti langkah pegawai itu untuk menuruni tangga dan berjalan kebagian belakang toko. Sesekali mataku bergerak liar menelusuri bermacam-macam stan kalung yang kami lewati, hingga mataku berhenti pada sebuah kalung emas dengan mutiara-mutara yang tersusun banyak dan berujung pada mutiara dengan ukuran paling besar.

Cantik sekali, ya ampun!

Aku berjalan mendekati kotak itu, tidak memperdulikan lagi keadaan sekitarku. Mataku terlalu terpaku pada keindahan kalung itu. Setelah membaca beberapa deskripsi tentang bahan yang digunakan untuk kalung yang emasnya saja seberat 5.92 karat itu—yang tentunya sangat mahal seperti White gold, emeralds, onyx, diamonds—aku melirik harganya.

282 us dollars.

Harga yang fantastis sekali, bukan?

Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali. Kapan-kapan saja jika aku fikir aku benar-benar menginginkannya. Uang segitu bukan hal yang terlalu sulit untukku, namun seboros-boros apa aku dalam berbelanja, aku juga punya otak untuk berfikir.

Bukan hanya nafsu untuk belanja.

“ Kau mau itu? ” Tanya Myungsoo yang mendadak berada dibelakangku.

“ Tidak, hanya tertarik. ”

“ Lalu kenapa tidak membelinya? ”

Aku menghela nafas dan menatap Myungsoo lelah seolah ia adalah manusia paling payah sedunia, “ Aku tidak seboros itu walaupun aku sangat mampu membelinya. ”

Myungsoo tampak terperangah dengan jawabanku. Namun aku merasa tidak ada yang salah. Wajar saja kan kalau kita menghemat uang yang kita punya sekalipun uang tersebut selalu mengalir pada kita? Tidak selamanya kita berada diatas. Akan ada saatnya kita dibawah, dan saat itulah uang akan menjadi sangat berharga untuk kita.

“ Aku kira kau seperti wanita sosialita lainnya yang mau saja menghabiskan uang untuk apapun. ” Gumam Myungsoo, tampak masih dalam keterkejutannya.

Aku terkekeh, “ Aku memang seperti itu, ” Jawabku jujur, “ Namun bedanya, aku punya cukup otak untuk berfikir itu terlalu membuang uang. Tidak selamanya uang akan datang pada kita, kan? ”

Ia berkali-kali mengangguk setuju dan mengangkat jempolnya untukku. Membuatku tersenyum kecil. Kelakuaan yang sangat kekanakan.

Kalung sialan. Kenapa dia harus semahal ini?

Kami berdua melanjutkan langkah kami ke meja pegawai yang sudah menunggu kami untuk melakukan pengukuran. Pegawai tersebut mengatakan, seminggu lagi cincin itu sudah dapat kami ambil. Lalu kemudian mereka memberikan nota pembayaran, aku mengintip sedikit kedalam kertas tersebut.

398 us dollars untuk kedua cincin kami berdua?

Tulisan yang tertera dikertas tersebut membuatku menatap Myungsoo dengan tatapan horror, sedangkan Myungsoo dengan santainya mengeluarkan sebuah kartu berwarna platinum.

“ Bisa request sesuatu pada cincin tersebut? ”

Myungsoo’s Side

“ Demi tuhan, Myungsoo. Kita bisa menjadi pasangan kesebelas dengan harga cincin pernikahan paling mahal sedunia! ”

Entah sudah berapa kali Jiyeon mengomel tentang cincin kami tersebut padahal aku sama sekali tidak mempermasalahkannya asal itu memang bagus. Ia sudah mengomel sejak kami berada tepat didepan pintu toko hingga mobilku sudah berjalan setengah jalan menuju kantornya. Tak henti-hentinya ia menyebutkan betapa sulitnya orang untuk mendapatkan uang di zaman sekarang dan menyebutkan bahwa uang sebanyak itu terlalu boros jika dihabiskan hanya untuk sepasang cincin. Mengingatkanku pada seseorang yang dulu juga pernah melakukan hal yang mirip dengan Jiyeon.

Aku tersenyum kecil.

Hari ini terlalu banyak fakta yang sebelumnya aku tidak ketahui tentangnya terungkap. Mulai dari masa lalunya dan bagaimana ia begitu mengatur uang yang keluar sekalipun ia adalah shopaholic. Membuatku benar-benar takjub dengan sifat perfeksionisnya yang lengkap.

Melihat sikapnya yang sudah kembali seperti semula sudah menjelaskan bahwa dia tidak lagi marah denganku dan sudah melupakan permasalahan kami. Lagi-lagi, aku merasa dia unik karena disaat semua wanita ingin dibujuk dulu saat marah, Jiyeon bahkan bisa melupakannya dengan begitu cepat.

Mirip juga dengan seseorang.

“ Kalau begitu bagus, ” Timpalku walaupun terlambat, “ Kita bisa mendaftarkan diri pada world record, kan? ”

Bisa kulihat dari sudut mataku, Jiyeon memutar bolamatanya kesal. Membuatku gemas detik itu juga.

“ Kau fikir yang baru saja kita lakukan adalah menelan kaca pecah tanpa mengunyahnya? ” Ucapnya sarkastik, membuatku terbahak dengan perumpamaanya yang terdengar mengerikan.

“ Jadi bagaimana caranya agar kita masuk kedalam peringkat 11 itu? ”

Jiyeon bergumam, “ Mana aku tahu, itu kan masalah para artis dan media. ”

“ Kalau begitu, aku akan memamerkan cincin kita di instagram. Pasti berhasil, kan?”

Ide yang menurutku amat sangat cemerlang itu malah mendapatkan dengusan dari Jiyeon. Padahal aku sudah berpikir keras tentang caption yang akan kutulis agar lebih terkesan misterius. Pasti kami akan berhasil menjadi peringkat 11 dunia dengan nominasi cincin pernikahan termahal.

Walaupun sebenarnya, nominasi itu tidak keren sama sekali.

“ Dasar artis norak. ” Katanya pendek membuatku tertawa atas hinaanya.

Setelah bertemu Jiyeon, perasaanku lebih ringan apalagi dengan sikapnya yang sudah kembali seperti biasa. Dia memang mood maker yang hebat. Perasaan bersalah yang menghimpitku berhari-hari itu perlahan-lahan menghilang. Tapi walaupun begitu, aku harus tetap meminta maaf, menjelaskan kesalah-pahaman kami dan mengajukan sedikit perjanjian.

Aku menemukannya tepat di toko yang disebutkan Gyuri nuna, membuat kekagumanku pada guru besar itu bertambah berkali-kali lipat. Andai saja dia tidak segalak itu, sudah pasti aku akan memohon hingga bersujud agar bisa memiliki ilmu sepertinya.

Namun kekagumanku langsung hilang ketika melihat seorang lelaki asing yang merangkul pundak gadis yang sangat aku kenal, bergantikan rasa asing yang aneh. Cemburu? Bukan, aku sangat mengerti bagaimana rasa cemburu itu seharusnya.

Hanya saja, terselip sedikit rasa aneh. Siapa yang tidak merasa aneh saat melihat calon istri-mu akan memilih cincin pernikahan kalian bersama lelaki lain? Bukankah itu sedikit…lucu? Aku sampai tidak mengerti apa yang ada dipikiran Jiyeon saat itu.

Mungkin, aku memang sedikit cemburu sebenarnya. Jujur saja. Tapi hanya sedikit dan menurutku itu normal.

Mobilku berhenti dan parkir didalam basement kantornya. Jiyeon terlihat mengecek wajahnya lalu memasukkan ponselnya. Ia mengangkat wajahnya untuk mengucapkan sesuatu, namun kemudian ekspresinya berubah penuh tanya.

“ Ada yang ingin kau katakan, ya? ”

Aku mengangguk, menghela nafas pelan, “ Aku minta maaf soal itu. ”

Jiyeon terdiam. Aku menunggu reaksinya. Sepertinya detik pertama aku meminta maaf, dia langsung mengerti mengapa aku meminta maaf. Namun dari ekspresinya tidak ada tanda-tanda dia akan mengatakan sesuatu. dia menungguku melanjutkan kalimatku.

“ Aku tau aku akan terdengar kekanakan. Tapi sebenarnya, aku hanya ingin membalas perkataanmu. Sangat kekanakan, kan? ” Dia menatapku tidak mengerti, ternyata dia memang tidak mengingatnya. Kecewa juga, “ Kau menyinggung soal pernikahan palsu kita saat kita membicarakan tamu undangan. Rasanya aku tidak terima saat itu hingga ingin membuatmu kesal. ”

“ Tapi aku tidak bermaksud beg… ”

Aku mengangkat tangan, menghalanginya untuk berbicara, “ Aku mengerti. Makanya, maafkan aku. ”

Tatapan Jiyeon berubah menatapku mengerti. Dia mengangguk dan tersenyum tulus, “ Tentu, maafkan aku juga yang sudah menyinggungmu dan kekanakan. ”

Senyum tulusnya menghangatkan hatiku. Mengangkat sisa beban atas kesalahanku hingga lenyap semua. Meredakan keraguan yang sempat aku rasakan saat masa lalu itu kembali terputar diotakku.

Tanganku terulur dan meraih tangannya dalam genggamanku, “ Kalau begitu, mulai sekarang, berhenti menyinggung soal itu. Mulai detik ini hingga kontrak kita berakhir, aku akan berusaha untuk menjaga perasaanmu dan akan berusaha menjadi suami yang baik seperti selayaknya seorang suami pada pasangan umum. Oke? ”

Jiyeon tampak terkejut dengan permintaanku. Terlihat sedikit keraguan dimatanya, entah karena apa. Namun saat aku meremas tangannya yang berada didalam tanganku untuk meyakinkannya bahwa aku bersungguh-sungguh, ia langsung tersenyum dan mengangguk.

“ Baiklah. Mari kita jalankan peran kita sebaik mungkin. ”

*****

Duh duh aku tau part ini sangat-sangat membosankan dan mengecewakan.

Aku sampai gamau baca ulang karena bosan buat meriksa apa ada kalimat yang terlalu menjelaskan sesuatu atau bakalan merusak alur cerita kedepannya fufu. Maafkan aku si labil ini tapi aku seneng banget liat comment sampai 80, semoga chapter ini,  yang walaupun abal bakal punya comment yang lebih, amin!

Oh ya, buat yang ada dicontact line aku, maaf kalau kalian ada ngechat tapi gak aku balas. Karena HANDPHONE KU RUSAK DAN AKUN LINE AKU GAK ADA LAGI DIHP SEMENTARA AKU GAK INGAT EMAILNYA. Ya ampun, ingat ini aku jadi pengen nangis. Ada yang tau gimana cara balikinnya?

Eh ya aku berhasil gak ya buat kalian penasaran dengan masalalu mereka? Otakku udah gak bisa berhenti merencanakan macam-macam kejahatan yang akan menyiksa mereka HAHA! Tapi takutnya aku malah lupa saat ide itu dibutuhkan huft

JADI, AYO TINGGALKAN COMMENT KALIAN YA! TERIMAKASIH

Celebrity Wedding (Chapter 6: Fight?)

celebrity wedding copy

Title : Celebrity Wedding

Main Cast :

Kim Myungsoo
Park Jiyeon

Genre : Marriage life, Romance, Humor

Type : Chaptered

Myungsoo’s Side

Entah kenapa, aku tidak bisa berhenti tersenyum saat melihat foto-foto yang menunjukkan ‘kemesraan’ kami malam itu.

Foto saat ia menunduk malu saat aku mengatakan kami cocok, foto yang diambil dari belakang saat kami berbisik—hebatnya, foto itu terlihat seperti kami sedang berciuman—bahkan aku menyukai foto yang entah mengapa menunjukkan tatapan penuh cinta dariku.

Aku benar-benar terlihat tampan.

Oke, bukan itu. Aku memang tampan setiap saat, semua orang juga tahu. Park Jiyeon juga terlihat sangat memukau. Umma benar-benar tidak salah orang.

Walaupun banyak fans yang meninggalkan fansite resmiku, tapi lebih banyak lagi yang bergabung. Saham perusahaan juga mulai stabil, artis-artis perusahaan ini kembali berkibar seperti biasanya. Intinya, banyak hal-hal baik yang terjadi semenjak aku berhubungan dengan Jiyeon.

Mungkin aku harus berterimakasih secara diam-diam dengannya.

Memang, tentu saja tidak semua orang yang percaya begitu saja dengan berita yang kami buat. Masih banyak juga orang-orang yang menduga kami hanya buatan, untuk mentupi skandalku dengan Naeun. Tapi lebih banyak lagi orang yang percaya apalagi setelah melihat foto-foto yang sebenarnya sudah keluar sejak seminggu yang lalu itu.

Omong-omong tentang Naeun, wanita itu tidak pernah menampakkan dirinya lagi di media ataupun dihadapanku. Itu bagus. Selain tidak menambah skandalku, itu juga baik untuknya. Lebih baik ia memikirkan bagaimana membesarkan dan mengurus anaknya kelak.

“ Jadi, kapan kalian akan mengurus pernikahan? ” Tanya Manager-hyung yang ntah darimana sudah berdiri tegak dihadapanku, dari suaranya yang dingin, aku yakin dia sudah mengulang-ulang pertanyaan yang sama sejak tadi.

Manager hyung memang selalu terlihat seram dengan pembawaannya yang terlalu tenang dan terksesan dingin. Aku juga tahu, Jiyeon takut padanya. Tapi aku sangat menyukainya, paling tidak dia bisa di andalkan dalam berbagai hal. Ia bahkan bisa merangkap sebagai bodyguard-ku dengan tampang yang menyeramkan itu, bukankah itu sebuah penghematan biaya yang luar biasa?

Walau sesekali aku juga agak kesal dengan selera humornya yang kelewat rendah bahkan tidak ada sama sekali.

Aku berdeham pelan lalu menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal karena aku tidak pernah bermasalah dengan binatang bernama kutu, “ Tidak tahu. ”

“ Kau harus cepat. ” Balasnya cepat.

Mau tidak mau aku hanya mengangguk pelan dan menatap punggungnya yang berjalan menuju pintu keluar. Jadi dia hanya ingin bertanya itu? Mungkin moodnya sedang tidak bagus karena melihatku yang duduk santai sedangkan kedua temanku itu sedang bersusah payah menghafal gerakan dance yang akan kami lakukan nanti saat konser.

Salah sendiri, siapa juga yang mau bergoyang-goyang ala boyband? Mereka juga, kan?

Aku meraih ponselku yang tergeletak bersama ponsel Sungjong dan Howon, dan mencari kontak wanita itu.

“ Sedang sibuk? ” Tanyaku langsung saat nada sambung tidak terdengar lagi.

Terdengar gumaman agak panjang darinya, sepertinya dia sibuk, “ Tidak terlalu, kenapa? ”

“ Oke, aku akan sampai disana dalam waktu 30 menit. ”

Langsung saja aku berdiri, meraih botol minum dan sapu tangan lalu bergegas keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada kedua temanku yang sedang serius berlatih itu.

Samar-samar, aku bisa mendengar saat pintu belum kututup sempurna, “ Hyung, apa semua orang akan seperti itu saat sedang jatuh cinta? ”

*****

Lewat sedikit dari 30 menit, aku telah berdiri di depan pintu ruangan Jiyeon. Tentu saja, aku harus mandi dan mengganti pakaian terlebih dahulu. Tidak mungkin aku datang dengan keringat yang menetes dan bau badan yang memalukan, walaupun aku yakin itu tidak akan mengurangi tatapan kagum wanita-wanita yang ada dikantor Jiyeon ini.

Oke, aku tahu aku memang terlalu percaya diri.

Tanpa mengetuk terlebih dahulu, aku membuka pintu dan berjalan masuk. Di sebuah meja besar sebelah kiriku, wanita itu tengah mencoret-coret kertas dengan pensilnya. Ia bahkan tetap terlihat cantik dengan rambut acak-acakan yang diikat asal.

“ Hei, ada orang disini. ” Sapaku sambil duduk di sofa yang berhadapan dengan mejanya.

Tanpa menoleh kepadaku sedikitpun, ia mendengus, “ Sudah kubilang, biasakan ketuk pintu. ”

Aku menghela nafas—pura-pura lelah, “ Aku juga sudah bilang, apakah seorang pacarpun harus mengetuk pintu dahulu? ”

“ Ya, ” Jawabnya pasti, lalu mengangkat kepalanya menatapku dari atas hingga bawah, “ Sepertinya jadi artis itu santai sekali ya. ” Sambungnya dengan nada kalem.

Membuatku refleks tertawa ringan, “ Tidak juga. Aku sedang kabur dari latihan dance. ” Jawabku asal.

Pandangannya berubah menatapku penuh selidik dan ingin tahu, “ Kenapa? ” Tanyanya langsung, “ Padahal menurut penglihatanku, kau cocok sekali menjadi boyband. ”

Penglihatan? Memang dia kira dia peramal?

Tanpa menyembunyikan ekspresi tersinggungku, aku menatapnya kesal. Wanita ini benar-benar. Tidak ada yang bisa menghinaku lebih dari dirinya. Tapi sebenarnya justru itu membuatnya sangat menyenangkan. Walaupun aku harus siap untuk menerima celaan bertubi-tubi.

Tenang saja, aku pasti bisa membalikkan keadaan.

“ Enak saja. Aku ini tidak punya darah boyband sedikitpun, tahu. ” Balasku, membuatnya tertawa terbahak-bahak. Shit, cantik seperti biasa, “ Tapi terimakasih, kau pasti sering memikirkan dan memperhatikanku. ”

Tawanya terhenti, ekspresinya berubah seolah ia bisa saja menyemburkan api dari mulutnya. Nah, kan. Sudah aku bilang, aku pasti bisa membalikkan keadaan seperti biasa.

“ Dalam mimpimu saja. ”

Gantian, kini aku yang tertawa terbahak-bahak melihatnya bersungut-sungut sambil kembali mengerjakan pekerjaannya. Aku jadi penasaran, apa yang ia gambar hingga ia lebih tertarik melakukan itu daripada menatap pangeran didepannya.

“ Kau gambar apa, sih? ”

Saat aku akan bergerak mendekatinya, wanita itu cepat-cepat melingkarkan kertasnya dipelukannya. Sebelah tangannya terangkat, menginterupsi gerakanku.

“ Jangan mendekat. ” Teriaknya panik, seolah-olah aku ini vampire yang akan menggigitnya, aku menatapnya dengan alis terangkat, bingung. Cepat-cepat ia melanjutkan lalu kembali meletakkan kertas tersebut, “ Kau tidak boleh melihat karyaku sebelum ia sempurna. ”

Oh, jadi ada orang yang sama sepertiku didunia ini? kebetulan sekali orang itu Park Jiyeon. Aku kira ia sedang menulis sesuatu yang aku tidak boleh baca, ternyata hanya itu.

Tapi bukan Kim Myungsoo namanya kalau tidak bisa merampas gambar itu. Aku bergerak cepat mendekatinya, Jiyeon yang kaget dengan gerakanku yang tiba-tiba hanya melongo ketika aku meraih gambar itu untuk melihatnya. Wanita itu buru-buru mengulurkan tangan untuk merampasnya, hingga aku mengangkat kertasnya agar ia tidak bisa meraihnya dari tanganku.

“ YA! APA YANG KAU LAKUKAN KIM MYUNGSOO! ” Teriaknya panik.

Aku tertawa lepas, “ Coba saja kalau kau bisa. ”

Jiyeon melompat-lompat meraih kertasnya, membuatku harus berkelit untuk menghindarinya. Saat aku akan membalikkan kertas untuk melihat gambarnya, Jiyeon langsung teriak dan lompat kearahku, membuatku terdorong jatuh menduduki kursi lalu disusul dengan tubuh Jiyeon yang menimpaku.

Oh, double shit. Dia duduk ditempat yang terlalu tepat.

Posisi Jiyeon saat ini sedang duduk diatas pangkuanku dengan tangan yang melingkar di leherku sebagai pegangannya, tanganku melingkar di pinggangnya—mencegahnya untuk tidak jatuh kebawah. Tatapan kami bertemu, aku melirik bibirnya sekilas, Jiyeon agak menjauhkan tubuhnya yang terlalu menempel dengan dadaku tapi tidak mengangkat seluruh tubuhnya dari pangkuanku. Jari-jarinya berjalan pelan melewati dadaku, wajah kami mendekat dan bibir kami nyaris bertemu..

“ HA! AKU MENDAPATKAN KERTASKU! ”

Ia buru-buru melepaskan tanganku yang melingkar dipinggangnya dan meloncat dari pangkuanku sambil tertawa keras-keras. Aku hanya melongo menatapnya. Jadi dia mempermainkanku? Aku? Dipermainkan wanita?

Sial. Sial. Aku bahkan dapat merasakan bibirnya yang lembut menyentuh bibirku walau hanya sepersekian detik. Apa yang dia duduki tadi….oh sial, bahkan hanya diduduki begitu saja membuat seluruh tubuhku terasa tegang. dan bau tubuhnya yang sialnya lagi sangat aku suka.

Tidak, bersihkan otak jorokmu, Kim Myungsoo.

“ Dasar curang. ” Gumamku tertahan, jangan sampai ia mendengar perubahan suaraku yang serak.

Wanita itu makin mengeraskan tawanya—sepertinya dia tidak menyadari apa yang sudah dia lakukan pada tubuhku—dan menatapku dengan tatapan mengejek. Diam-diam aku tersenyum kecil, mungkin ini pertama kalinya aku melihatnya tertawa selepas dan selama ini.

Jauh dalam hatiku, aku rela ditertawakan olehnya agar bisa melihat tawanya yang selepas ini.

“ Kau saja yang mesum, ” Gumamnya pelan.

“ Apa? ” tanyaku memastikan.

Jiyeon hanya menggeleng lalu menyimpan kertasnya yang sudah kusut itu ke dalam laci meja kerjanya. Aku cukup yakin dia memang mengatakan kalimat itu. Dan keyakinanku ini benar-benar menamparku.

Kenapa aku ingin sekali menciumnya? Aku tidak pernah punya keinginan sekuat ini untuk mencium seorang wanita. Dan, Jiyeon adalah wanita pertama yang sayangnya menolakku mentah-mentah.

Lain kali, aku harus mengikat dan memaksanya. Sebut saja aku psikopat gila yang tidak berperasaan karena memaksa wanita agar ia mau dicium olehku, yang penting aku harus mendapatkannya.

Wanita itu berdeham tampak tidak nyaman karena aku terlalu lama menatapnya. Ia mengalihkan pandangan ke rok selutut yang ia gunakan, “ Jadi, apa tujuanmu kesini? ”

Aku menyeringai, “ Mengajakmu makan siang. ” Ia tampak ingin membantahku, namun buru-buru aku melanjutkan, “ Dan kalau kau berani membantah, aku akan benar-benar menciummu. ”

Jiyeon’s Side

Orang akan mengiraku gila kalau ia mengetahui apa yang sedang aku pikirkan.

YA! CIUM SAJA AKU KIM MYUNGSOO! CIUM AKU!

Perasaanku bergejolak mengatakan hal itu saat ia mengancamku. Aku sangat beruntung karena mulutku lebih dituntun dengan otakku yang sedikit waras hingga aku mengikutinya makan siang daripada harus dicium.

Sebenarnya makan siang juga tidak buruk. Hanya saja, coba kau fikirkan.

Aku. Nyaris. Saja. Ketahuan. Sedang. Menggambar. Seseorang. Yang. Nyaris. Menciumku. Setengah. Jam. Yang. Lalu.

Apa ada orang yang lebih gila daripadaku?

Myungsoo mungkin tidak tau bahwa aku akan menolak tawaran makan siangnya karena aku sedapat mungkin ingin menghindarinya, agar aku tidak perlu berbohong lebih lama lagi. Atau lebih buruknya, kalau saja dia benar-benar penasaran dengan gambar itu.

Tapi kemudian, aku dihadapkan pada pilihan yang sulit antara mempertahankan kebohonganku atau mempertahankan pikiran warasku.

Ini semua salah foto-foto menyebalkan malam itu yang sialnya sekarang aku jadikan wallpaper ponselku. Ya, ya, sebut saja aku gila lagi. Gara-gara itu, aku terus saja teringat wajahnya hingga aku tidak sadar sudah menggambarnya. Saat kemudian aku sadar dengan apa yang aku lakukan, aku malah tetap saja meneruskan kegiatan bodoh tanpa berfikir bahwa itu akan menjadi sumber kesialanku hari ini.

Myungsoo pasti tidak tahu betapa terkejutnya aku saat ia tiba-tiba datang dan muncul dihadapanku—rasa-rasanya, aku langsung ingin mencampakkan kertas itu keluar jendela, sungguh—tapi otakku memperingati, kalau aku tiba-tiba saja melakukan kegiatan yang membuatnya curiga bisa-bisa aku dalam bahaya yang lebih besar daripada ini.

Dan aku, nyaris saja lengah saat tatapan kami bertemu. Nyaris saja aku membiarkannya menciumku lalu kami akan melakukan hal-hal biadab di kantorku. Tapi kemudian otakku yang cerdas memperingati dan mengalahkan perasaanku yang gila karena ingin terus-terusan dipelukannya.

Diam-diam aku meliriknya melalui buku menu yang tidak benar-benar aku baca, ia terlihat serius membaca buku menu tersebut. Aku tersenyum kecil, wajahku memerah mengingat kejadian tadi. Aku bahkan masih bisa merasakan pelukannya yang nyaman dan hangat.

“ Kau pesan apa? ” Tanya Myungsoo tiba-tiba.

Aku tersentak dan mengangkat wajahku dari buku menu untuk menatapnya, “ Sama sepertimu saja. ”

Myungsoo menutup bukunya dan menyerahkannya kepada pelayan wanita yang tak henti-hentinya menatap wajahnya, “ Kalau begitu, 2 ya. ”

Pelayan wanita itu tersipu-sipu dan mengangguk, lalu pergi setelah mengambil buku menu milikku. Cih.

“ Bahkan pelayan restoran termakan pesonamu, ” Ucapku tanpa sadar dengan nada ketus.

Oh, masalah baru. Sekuat tenaga aku tidak mengangkat tanganku dan menampar mulutku yang kurang ajar.

Myungsoo menyeringai, membuatnya tampak seribu kali lipat lebih tampan dan menyebalkan sekaligus, “ Kau cemburu, ya? ”

Aku gelagapan.

Harusnya aku sudah memikirkan jawaban itu, dan sekarang aku malah bingung harus menjawab apa. Jadi aku mengalihkan pandanganku kejendela lalu mendengus, “ Mana mungkin. Kau kira aku anak SMA darimana. ”

Lelaki itu terkekeh, “ Tenang saja, aku hanya milikmu. ”

Oh-may-gawd.

Aku hanya melongo menatapnya, dalam hati aku berteriak kegirangan seperti baru saja mengetahui bahwa aku menang undian berhadiah 1 triliun dolar. Ingin sekali rasanya aku menarikan tarian Hawaii mendengar kalimat candaan itu.

Candaan? Oh, sadarlah. Dia tidak serius dengan ucapannya itu, Park Jiyeon. Aku memang lemah, mau-mau saja ditindas seperti itu.

“ Memangnya- “

“ Myungsoo? ”

Suara lembut seorang wanita memotong kalimatku. Kami berdua refleks menoleh kesamping untuk melihat siapa yang datang.

Seorang wanita cantik yang sepertinya artis berjalan mendekati meja kami, Myungsoo langsung berdiri dan tersenyum kecil. Wanita itu berlari kecil seolah melihat permen gulali berwarna ungu yang imut, dan menghambur kedalam pelukan Myungsoo. Lama sekali mereka berpelukan seperti tidak sadar ada seseorang disini. Aku manatapnya tidak suka lalu mengalihkan pandanganku ke jendela.

“ Apa kabar, Myungsoo? Lama sekali rasanya tidak melihatmu. ”

“ Baik. Bagaimana di amerika? Semuanya sukses? ”

“ Tentu, ” Jawab wanita itu dengan nada bahagia yang menyebalkan, “ Siapa wanita ini? ”

Merasa terpanggil, aku menoleh dan ikut berdiri sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Wanita itu menatapku aneh lalu beralih menatap Myungsoo dengan tatapan tanya, membuat senyumku luntur seketika. Bitch yang satu ini memang kurang ajar. Memangnya dia kira mudah apa tersenyum setelah melihat pacar kita berpelukan dengan jalang-yang-sayangnya-memang-lebih-cantik-dariku.

“ Sepertinya amerika membuatmu ketinggalan berita. ” Balas Myungsoo tanpa menoleh kearahku.

Kenapa dia tidak langsung saja mengakui kalau aku ini pacarnya seperti biasanya? Apa sulit berbohong pada wanita ini.

“ Oh, pacar barumu itu? ” Tanyanya sambil menatapku tidak suka, lalu beralih menatap Myungsoo dengan tatapan yang jelas-jelas berbeda, “ Kalau kau sudah putus, kau bisa menghubungiku lagi. ” Sambungnya dengan nada menggoda yang menjijikkan.

Aku harus berusaha kuat untuk menahan muntahanku di ujung tenggorokkan.

“ Okey, ” Jawaban Myungsoo membuatku batal ingi memuntahkan makananku dari tenggorokan dan malah ingin memuntahkan sesuatu dari mataku, sungguh, “ Tapi sepertinya kita tidak akan berhubungan selamanya kalau kau menunggu aku putus dengannya. ”

Yay!

Walaupun kalimat Myungsoo terdengar amat sangat bullshit di telingaku—mengingat kami hanya akan menikah setahun—aku benar-benar senang dengan jawabannya. Itu membuat wanita jalang itu terdiam dan malu.

Sekuat tenaga, aku mengulum senyum dan balas menatap wanita itu dengan tenang. Tapi kemudian tatapan sebalnya berubah, bibirnya menyeringai seperti nenek lampir kelaparan, lalu beralih menatap Myungsoo, “ Bukannya kau tidak pernah serius dengan wanita? ” Tanyanya pada Myungsoo sambil kembali menatapku dengan tatapan prihatin.

Seolah aku mau saja mendengar mulut busuknya. Kalau dia mengira aku adalah wanita lemah yang akan langsung menangis jerit-jerit karena pacarnya suka memainkan wanita, dia salah besar.

Dia belum mengenal Park Jiyeon.

“ Ya, dan kau termasuk korbanku dulu, kan? ” Jawab Myungsoo acuh, lelaki itu mengangkat bahunya santai, “ Asal tau saja. Dia tidak semurah kau. ”

Okay. Tahan Park Jiyeon.

Walaupun dia memang lebih cantik daripadamu, paling tidak bersikaplah anggun dan tenang agar paling tidak aku punya nilai plus dibandingkan wanita cantik bermulut sampah itu.

Jadi aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk menahan tawa yang sudah siap menyembur dan membuatku sesak. Kualihkan pandanganku kembali ke jendela, agar aku tidak bisa melihat ekspresi kekalahannya yang membuatku ingin berguling-guling sambil tertawa.

Dan lebih dari itu, yang membuat hatiku lebih tertawa bahagia adalah, jawaban Myungsoo yang mengunggulkan aku.

“ OH! ” Wanita itu berteriak kesal, membuatku berjengit kaget. Untung saja kami duduk dipojok dan jarak antar kursi memang agak jauh mengingat ini restoran elit, “ Kenapa kau kasar sekali padaku, hah? Apa yang telah wanita ini lakukan padamu?! Apa lebihnya dia daripadaku?! ” Jeritnya nyaris histeris.

“ Hey, ” Tegur Myungsoo, lelaki itu bergeser kearahku dengan satu langkah besar lalu melingkarkan tangannya pada tubuhku. Membuatku merasakan perasaan berdebar-debar layaknya anak sekolah yang kasmaran. Hatiku memang pengkhianat, bisa-bisanya dia membuatku malu disaat begini, “ Jangan berteriak. Kau membuat wanitaku ketakutan. ”

“ Okay, cukup. Aku sudah muak disini, ” Seolah kami tidak muak saja dengan kehadirannya, wanita tidak tau diri itu mengucapkannya dengan nada putus asa, ia beralih menatapku hingga membuatku menaikkan alis, bingung. Dia menatapku penuh dendam, “ Urusan kita belum berakhir, Park Jiyeon. ”

Setelah mengatakan itu, ia langsung pergi tanpa pamit. Meninggalkan aku yang masih tercengang melihat tatapannya yang penuh dendam seolah aku merebut sesuatu yang berharga darinya.

“ Jangan dipikirkan, dia memang seperti itu. Aku yakin itu hanya gertakan saja. ”

Aku menoleh dan menatap Myungsoo yang masih memelukku, membuatku merasa sesak oleh jarak yang terlalu pendek antara kami. Aku benar-benar berharap Myungsoo benar. Karena aku tidak akan mau memiliki masalah dengan wanita gila itu.

Otakku langsung mengambil alih dan mendorong tubuhnya agar menjauh dariku sebelum aku terlena semakin lama, dan kembali duduk dikursiku. Tak lama kemudian pelayan yang sama datang dan mengantarkan pesanan kami. Ia sempat melirik Myungsoo sambil tersipu-sipu, lalu melirikku sekilas yang kubalas dengan tatapan sengit—mungkin ini akibat perkelahian kami tadi, aku tidak mungkin marah hanya karena ia menyukai Myungsoo karena harusnya itu bukan urusanku, ya, kan?—dan membuatnya langsung mengkeret ditatap begitu.

“ Another Naeun? ” Tanyaku dengan nada setenang mungkin.

Myungsoo mengangguk sambil meminum minumannya, “ Dia mantanku kira-kira 4 bulan sebelum aku pacaran dengan Naeun. Kami pacaran kira-kira seminggu, aku juga tidak ingat. Kami putus karena sifatnya yang kekanakan dan temperamental. ”

Wow, jadi isu tentang ke-playboy-an Myungsoo itu tidak main-main? Aku sempat membaca artikel tentang Myungsoo yang membahas segala sifat buruknya. Dan itu benar-benar terbukti sekarang.

“ Apa semua mantan pacarmu dulu memang begitu? Cantik, seksi, tapi sayangnya kurang berakal. ”

Ia terkekeh, “ Tidak juga. Pacarku yang sekarang cantik, seksi dan sangat berakal.”

Sesaat aku terdiam sambil menatapnya yang sibuk dengan makanannya, mencoba mencerna siapa wanita yang dia maksud.

Aku?

“ Ya, kau. ” Timpal Myungsoo lagi seolah dapat membaca otakku.

“ Ha-ha. ” Aku tertawa sarkastis, walaupun diam-diam aku salah tingkah juga dipuji begitu. Sepertinya aku harus terbiasa dengan gombalannya. Dia benar-benar hebat, membuatku yang selalu realistis menjadi tak tentu arah seperti sekarang, “ Kau memang lelaki bermulut manis. Pantas saja banyak wanita yang mau. ”

Myungsoo mengangkat kepalanya dan menatapku dengan tatapan heran, “ Bagaimana kau tau mulutku manis? Kita bahkan tidak jadi ciuman. ”

Aku gelagapan mendengar jawabannya yang tak terduga itu. Aku kan hanya memberikannya perumpamaan, kenapa dia menganggapinya seserius itu sih. Dasar lelaki bodoh.

“ Terserah kau saja. ” Ucapku pasrah, membuatnya terkekeh kembali. Mungkin ia merasa menang karena berhasil mengerjaiku berkali-kali, “ Jadi apa yang membuatmu menghabiskan waktuku yang berharga sekarang? ”

“ Kita harus mulai merencanakan pernikahan. Ingat? ”

Aku mengangguk, “ Lalu? ”

“ Kita harus membahasnya sekarang. ”

Tatapan laparku menatap makanan yang terlihat sangat lezat ini langsung terangkat untuk menatap Myungsoo dengan horror. Sedangkan lelaki itu dengan santainya meminum minumannya sambil menatapku seolah kalimatnya tidak punya masalah.

“ Secepat ini? ” Tanyaku tidak terima.

“ Ya, ” Jawabnya santai, ia beralih mengambil sendok dan garpu lalu mulai berperang dengan makanannya, “ Karena kau dan aku sama-sama sibuk, bagaimana kalau kita serahkan semuanya pada wedding organizer saja? Kau bisa memilih wedding organizer manapun dengan harga berapapun dan kita hanya terima beres. Setuju? ”

Kalau saja aku seperti wanita yang sangat menggilai uang dan kemewahan, tentu saja aku sudah melompat dari kursiku untuk memeluknya sambil mengucapkan beribu terimakasih.

Sayangnya tidak.

Ucapannya malah membuatku kesal setengah mati. Memangnya dia kira pernikahan kami ini apa, sih?

Oke. Aku tau pernikahan kami hanya kontrak dan tidak didasari dengan cinta. Tapi bisa tidak dia lebih menghargaiku sebagai, ehem, calon istrinya yang selalu perfeksionis?

Bagaimanapun, waktu kecil aku juga sudah merencanakan apa yang aku lakukan saat menikah nanti—mungkin ini akibat terlalu sering menonton Barbie yang hidup bahagia dengan pangeran tampan—seperti mengurus makanan yang dihidangkan, siapa tamu yang akan datang, memilih rangkaian bunga dan undangan hingga yang paling penting adalah gaun pernikahan yang aku pakai.

Kalau kami memakai wedding organizer, itu artinya aku menggagalkan mimpi masa kecilku, kan? Karena, aku belum tentu berminat untuk mencari lelaki lain setelah aku cerai dengan Myungsoo nanti.

Memikirkan kata cerai saja membuatku mual setengah mati.

“ Simpan saja uangmu, pria kaya raya, ” Kataku tanpa malu-malu mengeluarkan nada ketus, “ Aku tau kau bisa membayar wedding organizer termahal didunia sekalipun. Tapi aku lebih suka ikut mengatur semuanya bersama dengan wedding organizer, bukan menyerahkan semuanya. ”

Lelaki itu menatapku bingung, alisnya terangkat sebelah. Sepertinya ia sama sekali tidak tersinggung dengan sindiranku. Dasar muka badak.

“ Kalau begitu aku akan membantumu, kita bisa memulainya besok. ” Jawabnya ringan, seolah aku tidak baru saja mengata-ngatainya, “ Aku kira kau tidak akan punya waktu untuk itu. Kau benar-benar diluar tebakanku. ”

Myungsoo’s Side

“ Selamat pagi, cantik. ”

Jiyeon justru menatapku aneh. Dia sudah siap dengan pakaian santainya. “ Jangan membuatku ingin membanting pintu ini didepan mukamu yang digilai banyak wanita itu, Kim Myungsoo. ”

Benar juga. Jangan sampai asetku yang paling berharga ini rusak ditangannya.

Pagi ini kami sudah berencana untuk mulai mendatangi sebuah wedding organizer dan memilih apa-apa saja yang akan kami gunakan untuk acara pernikahan nanti. Aku masuk kedalam apartement Jiyeon setelah ia menggeser tubuhnya, membiarkanku untuk masuk.

Dan apa yang aku lihat begitu menginjakkan kaki di apartementnya adalah sebuah ruangan luas dengan desain minimalis yang sangat bersih dan rapi. Aku berani bertaruh, debu sekecil apapun tidak akan hinggap di rumah ini.

Aku langsung duduk di sofa hitam yang langsung menghadap ke tv, sedangkan Jiyeon berjalan menuju minibar dekat dapur miliknya, “ Kau memakai jasa pembantu? ” Tanyaku penasaran.

Dari sini aku dapat melihatnya menggeleng dengan jelas, “ Aku yang membersihkannya sendiri. Aku tidak suka barang-barangku disentuh orang lain. ”

Dasar perfeksionis.

Tapi aku salut juga dengannya. Dengan pekerjaan yang sebanyak itu dan kegiatannya yang padat, ia bahkan masih sempat untuk merapikan apartementnya. Harusnya aku memang lebih peka. Pantas saja dia menolak mentah-mentah ide untuk memakai jasa wedding organizer, dia tipe orang yang tidak suka menyerahkan pekerjaannya begitu saja kepada orang lain. Dengan sifatnya itulah ia sukses semuda ini.

Benar-benar calon istri idaman, eh?

Jiyeon berjalan mendekatiku dan menyerahkan secangkir teh hijau beraroma leci yang sepertinya enak sebelum duduk disebelahku, “ Sepertinya daftar undanganmu banyak juga. ”

Aku hanya terkekeh dan memberikan beberapa lembar kertas yang berisi nama-nama undangan yang akan datang nantinya pada Jiyeon lalu meminum teh hijau pemberiannya setelah agak dingin.

Dan tebakanku benar. Ini green tea terenak yang pernahku minum. Mungkin lain kali aku harus bertanya dimana membelinya dan apakah ada rasa peach atau apel.

“ Kau nyaris mengundang 1000 orang, ” Jeritnya tertahan, lalu menatapku horror, “ Sedangkan aku hanya 200an. ”

“ Tidak masalah kalau kau ingin menambahnya menjadi 1000 orang juga. ” Timpalku.

Jiyeon menggeleng, “ Untuk apa? Lagipula ini hanya pernikahan palsu. ” Katanya enteng.

Oh. Sakit juga.

Aku tahu dia mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi kenapa aku merasa kesal dengan caranya yang terlalu enteng mengucapkan itu?

Mungkin aku merasa ‘tersinggung’ dengan pengucapannya yang seperti menganggap enteng tentang penikahan kami, walaupun hanya pura-pura, bagaimanapun pernikahan adalah acara sacral, kan? Ya, aku yakin karena itu, tidak ada alasan lain.

Baiklah, akan aku tunjukkan bahwa pepatah mulutmu harimaumu itu benar, nona.

Jiyeon’s Side

Kami memasuki sebuah bangunan dengan tataan ruangan yang sangat indah. Dari depan kami sudah disambut dengan berbagai rangkaian bunga yang cantik dan juga kursi-kursi kayu santai. Bahkan saat masuk kedalam, membuat kita merasa seolah-olah masuk ke sebuah rumah yang didesain dengan seorang arsitektur berbakat.

Orang yang memiliki wo ini pasti sangat hebat.

Menurut info yang aku dapat dari Myungsoo, orangnya adalah seorang wanita yang juga kenalan Myungsoo. Aku jadi berfikir apakah itu salah satu mantannya atau tidak. Pandanganku tak henti-hentinya menilai setiap detail dari ruangan sambil berdecak kagum. Ini bukan pekerjaan yang mudah.

“ Myungsoo? Kim Myungsoo? ”

Seorang wanita cantik dengan pakaian santai namun malah membuatnya terlihat elegan itu menghampiri kami—tepatnya Myungsoo—lalu memberikannya sebuah pelukan.

Oh, hebat sekali. dua pelukan wanita dalam 2 hari berturut-turut. Bukankah jelas-jelas itu menunjukkan betapa hebatnya Myungsoo dalam memikat wanita?

“ Aku tidak menyangka akan langsung bertemu dengan pemiliknya. Apa kabarmu, Minah? ”

Wanita yang dipanggil Minah itu tersenyum genit. Oh lupakan penilaianku yang mengatakan bahwa dia tampak elegan, dia tidak ada bedanya dengan teman-teman wanita Myungsoo lainnya. Like a slut.

“ Baik, tentu saja. Ada apa datang kesini? Ingin bertemu denganku? ” Tanya wanita itu sementara aku berusaha keras untuk menahan gejolak ditenggorokkanku.

Myungsoo tertawa kecil, seolah itu lucu, “ Aku ingin minta tolong untuk pernikahanku. Kenalkan, ini Park Jiyeon. Calon istriku. ”

Akhirnya aku dianggap juga disini.

Bisa kulihat sekilah wajah wanita yang semula sangat girang itu berubah 360 derajat. Ia beralih dan menatapku dengan pandangan menilai. Rupanya dia tidak malu sudah begenit ria pada seorang lelaki didepan calon istrinya. Wanita zaman sekarang memang agak aneh. Aku hanya tersenyum ‘sedikit’ mengejek lalu mengulurkan tanganku, “ Park Jiyeon. ”

Ia mendengus pelan, “ Jung Minah. ”

Setelah perkenalan singkat itu, ia menggiring kami kesebuah ruangan yang mirip ruang tamu dengan sofa berwarna merah maroon yang serasi dengan tema disekitarnya, merah.

Well, harus aku akui. Minah tidak sejelek itu. Walaupun tingkahnya masih saja menyebalkan, dia tetap professional. Dia memanggil seorang karyawannya dan memberikan kami beberapa buku besar berisi berbagai pilihan kartu undangan, bunga, tema yang akan kami pakai, hingga pilihan gedung yang bisa kami sewa untuk acara pernikahan. Ia menjelaskan dan terkadang memberikan saran tentang apapun yang kami perdebatkan.

Awalnya memang aman-aman saja. Kami sepakat tentang bentuk kartu undangan, dimana kami akan memesan catering dan membicarakan para tamu undangan walaupun aku lebih banyak mengikuti kemauan mereka tapi aku fikir tidak ada salahnya untuk mengikuti. Hingga saat kami membahas tentang tema acara, kami benar-benar berdebat keras. Kali ini, aku tidak akan mengalah.

“ Kita harus memilih tema yang mewah. Aku tidak ingin dengan tema garden party ataupun sesuatu yang simple. Big no. ” Putus Myungsoo.

Minah mengangguk berkali-kali.

Aku menghela nafas, “ Terlalu boros. Lagipula tamu undangan pasti akan merasa nyaman dengan sesuatu yang menenangkan seperti garden party. Sesuatu yang mewah terlalu mengintimidasi. ” Kataku memberi saran.

“ Wajar saja. Tidak masalah dengan biaya. Lagipula, Myungsoo kan mengundang banyak tamu. Akan lebih berkelas rasanya jika kita menggunakan tema yang mewah agar tidak memalukan. Aku benarkan, Myungsoo? ”

Mungkin dia lupa bahwa yang akan menikah adalah aku dan Myungsoo. Bukannya dia dan Myungsoo. Aku menarik nafas perlahan, mencoba untuk mengontrol emosiku agar tidak meledak dan membuatku tampak seperti anak-anak yang egois.

Myungsoo mengangguk, ia sudah membolak-balikkan halaman buku tersebut, tidak mendengarkan pendapatku sama sekali. ia menolehkan kepalanya pada Minah, meminta pendapatnya, “ Merah atau putih? ”

Dan saat itu aku merasa tidak dihargai. Aku terdiam, mencoba berfikir apa arti dari perbuatan Myungsoo saat ini namun nihil. Aku sama sekali tidak dihargai. Kenapa dia mendadak seperti mengacuhkanku? Apa karena wanita ini?

Apa minah ada arti baginya?

Aku menghela nafas lalu membuang pandanganku kesamping. Mencoba tidak peduli dengan apapun pilihan mereka. Terserah saja. Kalau memang dia tidak berniat sama sekali untuk membuatku teribat dalam urusan ini, kenapa dia tidak mengatakannya dari awal?

Apa dia sengaja membuatku seperti ini? tidak dianggap, eh?

“ Merah ditambah sedikit perpaduan dengan gold. Pasti bagus. ”

Terserah. Aku tidak ingin mendengarkan apapun lagi.

*****

“ Kenapa mukamu? ”

Myungsoo menoleh untuk menatapku saat kami baru saja masuk kedalam mobil. Aku mendengus. Lalu mencondongkan tubuhku kearahnya. Asal tau saja, aku bukan wanita yang terbiasa ditindas. Sejak sekolah dasar, tidak ada satu orangpun yang aku biarkan bisa menindasku. Caranya yang menyepelekanku membuatku kesal setengah mati, sungguh.

“ Kenapa kau mengacuhkan pendapatku? ”

“ Maksudmu? ”

Aku menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. berusaha sekuat mungkin untuk tidak teriak dan memakinya dengan kata-kata terkasar yang aku punya, “ Kenapa kau tidak mendegarkan protesku? Kita kan sudah sepakat untuk mengaturnya bersama. ”

Myungsoo mengangguk lalu mulai menjalankan mobil. Aku menunggu penjelasan darinya, “ Aku mendengarmu. Tapi aku tidak suka dengan pilihanmu. ”

“ Tapi kau seolah-olah mengacuhkanku dan malah meminta pendapat that bitch. Kau ingin menikah denganku, bukan dengannya. ”

Mobil berhenti tepat didepan lampu merah setelah baru saja keluar dari gedung tersebut. Myungsoo menolehkan kepala dan menatapku datar, “ Pernikahan kita palsu, kan? Lalu kenapa aku harus selalu mengikuti pendapatmu? ”

Dan saat mendengar itu, rasanya hatiku patah setengah.

*****

hello, lama ya?

okeeey aku udah baca semua comment kalian yang rata-rata pengen konflik. aku tau rata-rata ffku nyaris tanpa konflik. aku memang payah dalam pembuatan konflik huhuhu

tapi, belakangan ini aku udah mulai terfikir konflik yang semoga pas untuk ff ini. siap-siap aja untuk ikutan mewek kalau ff ini memang bakal terus lanjut/?

dan, aku mulai mempertimbangkan ff ini harus berakhir dengan sad ending atau happy ending. menurut kalian gimana?

oh ya buat yang masih uas, semangat ya! jangan ngenet terus fufufu