Behind The Scene Of Myungyeon (Chapter 1)

 

Tittle : Behind The Scene Of Myungyeon

Main Cast :

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo

Genre : Romance, Humor

Type : Chaptered

Park Jiyeon’s Side

“ Ji, sebentar lagi kita akan tampil, bersiap-siaplah.. ”

Aku hanya mengangguk singkat tanpa menoleh. Mataku masih saja terpaku pada layar iPad, berusaha menggunakan metode membaca memilah agar aku lebih cepat mendapatkan nama pria itu di situs berita online. Kim Myungsoo. Oh, tidak ada. Baguslah. Dia memang jarang sekali terlibat konflik. Dan itu hal yang paling aku sukai.

Tau Kim Myungsoo, kan? Visual infinite yang tampan tak tertandingi? Dia pacarku. Dia pacarku, tahu!!

Aku tidak mengaku-ngaku kok. Dia memang pacarku sejak 1 tahun ini tapi untungnya,sebenarnya aku tidak tau ini sebuah keuntungan atau kerugian, tidak ada yang tau tentang hal ini kecuali para member t-ara dan infinite serta beberapa artis lain yang dekat denganku. Awalnya kami memang dijodohkan. Sederhana saja. Appaku mengenal appanya dan mereka menyuruh kami menikah seolah menyuruh kami untuk pergi ke sekolah-segampang itu-tapi karena kebetulan kami sama-sama artis jadi Myungsoo bilang kami tidak usah menikah dulu, berpacaran saja. Aku hanya menyetujuinya saat itu. Menikah memang pasti keren banget, tapi berpacaran juga tidak buruk, kan? Aku menyukainya. Sangat-sangat. Tapi Myungsoo ya..mana ku tahu. Dia memang benar-benar menembakku setelah 4bulan kami di jodohkan. Tapi aku masih ragu. Myungsoo tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia memiliki perasaan sejauh perasaanku. Ha-ha.

Tapi masa bodoh dengan semuanya.

Aku pacarnya. Dia milikku. Aku menyukainya. Dia bilang dia menyukaiku, masalah belakangan soal hatinya memang benar-benar menyukaiku atau tidak.

Tapi disamping itu semua, ada satu hal yang paling aku syukuri. Aku bisa melihatnya, aku bisa membuatnya tertawa saat dia mengatakan ia sedang lelah. Itu yang penting. Aku selalu ada untuknya, aku akan mengusahakan itu. Karena itu satu-satunya cara.

Kami tidak sama dengan pasangan remaja lainnya. Kami tidak bisa pergi ketaman bersama, nonton bersama, makan malam bersama, naik wahana mengerikan bersama. Bahkan bertatapmuka pun harus hati-hati karena kami public figure dan aku membenci fakta bahwa aku adalah artis semenjak aku bersamanya.

Setahuku, Myungsoo memang bukan tipe cowok yang romantic dan memperlakukan wanita seperti ratunya, atau istilah apalah yang pernah aku tonton di film, tapi itu tidak masalah. Toh, aku tidak menyukainya karena itu semua. Aku menyukainya dengan caraku. Aku menyukainya. Hanya itu, tanpa embel-embel.

Tapi bagaimana ya? Aku kan cewek normal yang butuh perhatian pacarnya. Jadi perhatian kecil saja seperti, hati-hati, jaga kesehatan, jangan lupa makan, jangan terlalu lelah dan sebagainya membuatku yah merasa aku adalah cewek paling beruntung walaupun aku tidak bisa makan eskrim ditaman bersamanya.

Cih, makan es krim bersama? Drama banget.

“ Ya!! Jiyeon~ya!! Mau sampai kapan kau disitu? Kita sudah mau tampil, sekarang giliran kita, ayo! ” Teriak Soyeon eonnie.

Aku tersentak dan meletakkan iPadku di sofa lalu berlari kecil mengikutinya.

Huft, sialnya high heels 10 cm ini kekecilan dikakiku. Orang-orang bodoh. Tidak bisakah mereka mengingat ukuran sepatuku? Memang dia fikir enak menari dengan high heel10 cm yang kekecilan, tidak berakal.

Di saat aku sedang kesusahan berjalan sambil membiasakan kakiku, si pengatur acara dibelakang panggung, yang aku lupa namanya siapa, malah berteriak bilang cepat-cepat. Ya tuhan. Ingin sekali rasanya aku melempar heels bodoh ini kekepalanya agar dia diam atau pingsan sekalian. Namun apa daya..

Kami semua berlarian menuju belakang panggung, aku bahkan melompat-lompat agar kakiku tidak terlalu sakit. Perih sekali. Mungkin kakiku lecet atau bahkan luka. Tiba-tiba aku merasakan saku celanaku bergetar. Oh, aku lupa meletakkan ponsel sangking terburu-burunya.

Aku mengambil ponselku masih sambil melompat-lompat. One new message. Aku membukanya,

“ Fighting! ”

Aku berhenti melompat. Jari jempolku terhenti sebelum menyentuh tombol merah. Otakku berhenti berkerja dan oksigenku nyaris salah masuk hingga membuatku tersedak dengan nafasku sendiri.

Dari Myungsoo. Hanya satu kata itu saja. Tapi membuat semuanya berubah. Moodku berubah menjadi sangat sangat baik, sepatuku mendadak membesar dan rasanya perih dikakiku pun hilang.

Ya tuhan. Apa efek Kim Myungsoo sebegini parahnya?

Disaat aku masih terbengong-bengong, seseorang menarik tanganku dan membuatku kembali terlempar kedunia. Aku kembali berlari menuju belakang panggung dan menyerahkan ponselku ke manager kami. Moodku yang rusak menjadi sangat baik karena satu kata sederhana itu saja. Myungsoo hebat, kan?

Kim Myungsoo’s Side

Aku membuka tutup botol minuman yang telah disediakan oleh sponsor acara ini. Dan tidak sengaja aku melihat Park Jiyeon dengan muka kusut melompat-lompat menuju backstage. Setelah giliran kami, memang giliran T-ara yang tampil. Tapi kenapa tampangnya kusut begitu? Lupa makan? Kenapa dia melompat-lompat seperti kangguru? Perempuan itu memang benar-benar…

Aku meminta ponselku pada manager dan mengetik satu kata sederhana untuk menyemangatinya. Aku memang bukan pria romantic yang biasa mengatakan sayang, chagi, aku mencintaimu dan sebagainya tapi aku harap kalimat sederhana itu membuatnya lebih baik.

Aku memang pacar yang buruk. Tapi seingatku, jiyeon tidak pernah memintaku untuk bersikap romantis. Itu berarti dia tidak menyukai pria yang romantiskan?

Saat kami dijodohkan, awalnya aku ingin menolak mengingat Jiyeon mungkin tidak menyukaiku. Tapi dia tidak ada penolakan saat jadi ya, tidak mungkin aku yang menolak sendiri. Jadi yasudah. Lagian memiliki pacar juga tidak seburuk itu. Jiyeon memang tidak terlalu banyak menuntutku. Tapi disamping itu, dia sangat kekanakan dan memiliki pemikiran pendek. Sifatnya yang itu tidak terlalu mengangguku, walaupun dia sering mengamuk atau mengomeliku jika terlalu dekat dengan wanita lain dan setelah itu ia tidak mau mengaku kalau ia cemburu. Tapi hanya itu saja. Marahnya juga hanya sebentar, setelah itu dia lupa kalau dia sedang ‘ngambek’ denganku. Dia memang sangat-sangat lucu.

Dia memiliki beberapa sifat yang membuatku sangat penasaran dengannya. Apapun yang ia lakukan, hal kecil saja seperti tadi membuatku sangat penasaran. Aku tidak tahu perasaan ini apa tapi sampai sekarang beginilah perasaanku. Aku masih tidak berani bilang kalau aku menyukainya. Itu mungkin terlalu jauh. Tapi terus terang saja ya, aku memang sangat tertarik padanya.

Aku berjalan mendekati sofa didepan tv dan duduk dengan sungjong. Ia sangat serius memperhatikan T-ara sedang konser dan itu membuatku jadi ingin melihat Jiyeon juga.

Jadi aku mengalihkan pandanganku dari sungjong dan menatap tv dengan seksama. Gampang saja. Jiyeon itu lead dance dan visual jadi dia pasti selalu di barisan depan. Aku memperhatikan mukanya. Berbeda sekali dengan yang tadi. Mukanya sudah cerah dan bersemangat.

Apa pesanku tadi yang membuat secerah itu? Tapi itu terlalu sederhana untuk membuatnya jadi berubah 180 derajat. Lalu, karena apa?

“ Jiyeon sangat cantik.. ” Gumam Sungjong pada dirinya sendiri,

Dia pasti mulai melakukan aksi fanboyingnya. Sungjong memang menyukai girlband-girlband makanya dia yang paling jago memeraktekkan dance-dance seperti itu.

“ Eum.. ” Gumamku menyetujuinya.

Jiyeon memang cantik. Aku memang pernah mengatakan bahwa aku menyukai gadis dengan rambut bergelombang, muka polos dan memiliki aura yang kuat. Tapi kalau aku boleh jujur setiap ditanya tipe wanita kesukaanku, aku ingin menjawab Park Jiyeon, sungguh. Jarang-jarang ada wanita seperti tipeku yang sesungguhnya tapi dia memenuhi semuanya. Dia cantik walaupun tidak dengan rambut bergelombang. Menurutku, dia cocok dengan segala macam gaya. Bukan hanya segi fisik sih tapi juga sifat-sifatnya. Dia dingin pada orang yang tidak ia kenal. Aku menyukai tipe wanita seperti itu.

“ Kau beruntung mendapatkannya, hyung. ”

Aku menoleh, sungjong menatapku dengan mata berbinar. Aku hanya tersenyum dan mengangkat bahu lalu lanjut menonton tv.

“ Aku serius.. ” sambung Sungjong, “ Dia sangat cantik, dia kekanakan tapi tidak menuntut, aneh sekali. Selain itu dia juga baik dan masakannya enak hehe. ”

Aku menoleh lagi padanya, bingung ingin memberikan respon apa. Memang jiyeon tidak beruntung mendapatkanku? Aku kan tampan.

“ Dia juga beruntung mendapatkanku. ” Gumamku mengeluarkan isi otakku.

“ Kenapa begitu? ”

Aku menaikkan alisku. Haruskah dia bertanya? Memang bodoh sekali. Jawabannya jelas didepan muka mu ini wahai sungjong yang terlalu polos atau mendekati idiot.

“ Aku tampan. ”

Anak kecil ini tertawa, aku memang hanya beda satu tahun dengannya tapi aku tidak seidiot dia, sungguh, aku menaikkan alisku lagi. Dia hanya mengibas-ngibaskan tangannya seolah mengatakan ya terserah saja.

Tapi benar. Aku memang tampan. Apa dia tidak ingat bahwa aku yang memenangkan predikat itu pada infinite rangking king? Yeah, memang sudah direncanakan. Tapi itu memang kenyataankan? Iya kan? Kalau aku tidak tampan, aku tidak mungkin jadi visual. Benarkan?

Ah terserah saja. Aku tidak butuh komentar orang lain. Lagipula, jiyeon pernah keceplosan mengatakan kalau aku tampan, aku ingat setelah itu dia mendiamkanku karena aku selalu menggodanya dan itu membuatku jera, jadi aku butuh komentar siapa lagi? Tidak ada.

Jiyeon’s Side.

Aku berlari menuju belakang panggung setelah membungkuk untuk memberi hormat. Setelah tidak terlihat lagi oleh penonton, aku melepas high heels butut sialan itu dan menentengnya. Masa bodoh tentang aku yang berjalan tanpa sepatu dibelakang panggung. Aku tidak tahan lagi. Aku bahkan hampir terjungkang saat pertengahan lagu Sexy Love, tapi untung saja aku aman.

Rasanya lega sekali setelah aku melepasnya. Aku menghentak-hentakkan kakiku dengan bahagia lalu berjalan mengingkuti member lain.

“ Kau kenapa, eon? ” Tanya ahreum sambil menatapku aneh.

Aku menatapnya dengan tatapan lelah, “ Kakiku sakit sekali. Sepatunya kesempitan. ”

“ Astaga, tidak bisakah menunggu sampai ke waiting room baru melepasnya? ”

Menunggu sampai waiting room? Yang benar saja. Jarak waiting room ke backstage tadi itu sekitar 15 meter dan aku merasa tidak tahan lagi. Bisa bisa kakiku dioperasi karena terlalu lama tersiksa, ini berlebihan, jadi aku tidak perduli lagi.

“ Tidak. ” Jawabku pasti.

Ahreum menggelengkan kepalanya tidak tahan lalu menarikku agar aku berjalan lebih cepat. Yah, apa kata orang atau bahkan wartawan jika mereka melihatku berjalan dengan kaki telanjang?

Jadi aku berjalan atau setengah berlari sambil menenteng heels sialan ini namun tiba-tiba sebuah suara membuatku berhenti.

“ Kenapa dilepas? ”

Aku menoleh kebelakang. Kim Myungsoo berdiri didepan pintu sambil melipat tangannya didada. Ia melihatku dan sepatuku bergantian hingga akhirnya ia menatap mataku menuntut jawaban. Aku menyuruh ahreum untuk berjalan duluan meninggalkanku.

Astaga, dia membuatku kaget saja. Aku menatap sekeliling dan ternyata disekeliling kami sedang sepi. Oh. Dia sengaja menungguku rupanya. Benar-benar baik sekali. Moodku jadi membaik lagi.

“ Sepatunya kekecilan. Kakiku jadi lecet. ” Jawabku berusaha sebiasa mungkin walaupun dalam hati aku ingin berteriak ‘Astaga, kau perhatian sekali. Aku menyukaimuu!!’ tapi setelah aku fikir-fikir itu terlalu norak untuk seorang Park Jiyeon. Jadi aku tetap memasang eskpresi sedater mungkin.

“ Ohya? Kalau begitu pergi pakai sepatu yang lebih nyaman lalu naik kelantai paling atas. Aku tunggu. ” Katanya cuek lalu kembali kedalam waiting roomnya.

Aku berdecak dalam hati. Myungsoo sialan. Aku fikir dia akan mengatakan mana yang sakit. Dasar pemberi harapan palsu.

Aku pun meneruskan langkah ku sambil terseok seok. Semangatku untuk berlari bahkan sudah tidak ada. Tapi waiting room sudah dekat. Semoga saja aku membawa sandal berbulu lembut kesayanganku. Ah pasti bawa. Aku tidak mungkin melupakannya. Itu kan pemberian si Myungsoo bodoh.

Aku membuka pintu dengan pelan lalu membantingnya sekuat tenaga. Membuat semua mata menoleh kearahku. Aku cengengesan sendiri. Qri eonnie mengelus-elus dadanya karena kaget. Aku ingin tertawa keras rasanya tapi itu tidak mungkin karena mereka sudah mengambil ancang-ancang untung melayangkan benda apapun kearahku. Jahatnya.

Setelah mengganti kostum panggung dengan baju kaus biasa dan menemukan ponsel serta sendal berbuluku aku pergi keluar. Tadi soyeon eonnie bilang jangan terlalu lama karena sekarang sudah nyaris malam. Masih sore sih, dia saja yang berlebihan. Dasar jomblo. Iri saja sama orang yang pacaran. Ngahahaha.

Aku menaiki tangga terakhir dan menggeser pintu kaca satu-satunya. Lantai ini memang hanya seperti tanah kosong saja. Ada beberapa bangku dan beberapa pot tanaman yang agak layu karena tidak dirawat. Sekelilingnya dipagari dengan pagar yang nyaris berkarat. Memang bukan tempat romantis. Tapi setahuku, kalau sedang jadwal karyawannya istirahat, disini sangat ramai. Kebanyakan hanya melihat pemandangan dibawah yang menurutku tidak ada bagus-bagusnya. Hanya kumpulan mobil-mobil dan pejalan kaki. Itu saja.

Aku menyipitkan mataku. Matahari sebentar lagi akan tenggelam dan rasanya sangat terang. Aku melihat punggung Myungsoo yang sedang menatap ke bawah, gedung ini cukup tinggi jadi orang tidak akan bisa melihat kami. Aku berjalan dan berdiri disampingnya. Dia tidak menoleh kearahku tapi aku yakin dia menyadari kehadiranku.

“ Ada apa? ” Tanyaku memulai pembicaraan.

Ia menoleh lalu menarik tanganku untuk mengikutinya duduk disebuah bangku taman yang sudah agak tua. Aku menatapnya dengan bingung. Anak ini, hobi sekali membuat penasaran.

“ Mana yang sakit? ” Tanyanya balik.

Aku terdiam. Dia bertanya mana yang sakit? Kakiku? Oh ya. Cepat-cepat aku menunjuk kakiku yang masih ditutupi setengahnya dengan sandal bulu.

Dia mengangkat kakiku ke tengah-tengah bangku dan membuatku mundur kebelakang. Myungsoo melepas sandal buluku dan meletakkannya dibawah. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah obat salep dan kapas kecil.

Dia…ingin mengobati kakiku?

Myungsoo’s Side.

Aku membuka tutup salep yang aku pegang dan mengoleskannya pada kakinya yang lecet dengan perlahan. Jiyeon sendiri hanya diam tak berkutik. Tumben. Dia kenapa? Tidak biasanya dia diam-diam saja seperti ini.

Aku menutup botol salep setelah selesai dan mendongakkan kepalaku untuk menatap muka jiyeon.

“ Tidak bilang terimakasih? ” Kataku kesal.

Aku sudah berbaik hati mengobati kakinya dia malah diam saja dan melamun. Dasar cewek aneh. Jarang-jarang aku berbuat baik seperti ini. Aku saja tidak tahu apa isi otakku sampai aku terfikir untuk mengobati lukanya. Bukannya malah memberinya obat dan menyuruhnya untuk mengolesinya sendiri.

Awalnya rencanaku memang seperti itu. Tapi saat melihat wajahnya yang agak lelah aku jadi ingin mengobatinya sendiri. Aku rasa aku sudah kesambet setan atau jin aneh saat melamun menunggunya tadi.

Tapi, ngomong-ngomong, tindakanku romantiskan? Aku jadi tersenyum sendiri. Aku pernah menonton drama korea dengan adegan seperti ini. Wah. Aku sudah punya kemajuan rupanya.

“ Kenapa kau jadi senyum-senyum sendiri? Seperti orang bodoh. ”

Aku tersadar dan mengganti ekspresiku lalu berdehem. Aku menyipitkan mataku, kesal. Dia tidak dengar aku bilang apa tadi.

“ Bilang apa? ” Ulangku.

Jiyeon menurunkan kakinya perlahan dan memasang kembali sandal bulu berwarna hitam, karena setahuku, dia sebenarnya paling menyukai warna hitam, sama sepertiku, yang aku belikan untuknya 2 bulan lalu. Aku sering melihatnya memakai itu. Katanya karena nyaman. Aku membelinya dijepang. Saat itu aku sedang berjalan-jalan ditoko oleh-oleh menemani Sunggyu hyung dan aku melihat itu. Lalu aku jadi teringat olehnya. Makanya aku belikan.

“ Sama-sama. ” Gumamnya cuek.

Aku menoleh padanya lalu menjitak kepalanya. Dia mengaduh dan menatapku kesal. Bodoh sekali. Aku maunya dia mengatakan terimakasih. Bukannya sama-sama.

“ Bilang terimakasih, bodoh. ” Kataku.

“ Yaya. Terima kasih. ” Katanya dengan nada terpaksa.

Aku tersenyum menang lalu melipat tanganku didada. Didepan mataku, tepat matahari akan terbenam. Aku melirik jam tanganku. Oh, sudah jam 6. Pantas saja.

Aku mencuri-curi pandang kearah gadis itu. Ia terdiam menatap matahari. Dia sedang melamun? Tentang apa? Dia sedang punya masalah? Ah, tidak mungkin. Aku tahu itu.

Jiyeon memang bukan orang yang terlalu terbuka. Bahkan pada Jieun, Luna atau bahkan anggota t-ara lainnya. Tapi aku bisa menebak. Aku tahu dia punya masalah walaupun dia sedang tertawa sekeras-kerasnya. Aku pernah belajar ilmu seperti ini dari Hoya.

“ Kenapa kau melamun? ” Tanyaku akhirnya.

Dia menggeleng, matanya masih menatap matahari yang ingin tenggelam. Astaga. Dia kenapa sih? Tidak biasanya dia diam dan melamun seperti ini. Biasanya kan aku yang diam-diam saja. Sekarang giliran aku ingin berbiacara, malah dia yang diam.

“ Aku suka melihat matahari terbenam. ” Gumamnya pelan.

Aku memiringkan kepalaku sambil menatap wajahnya. Menelurusi setiap detail wajahnya. Oh, dia punya kantung mata rupanya. Alisku terangkat karena penasaran. Aku menunggu dia melanjutkan ceritanya tapi dia diam saja hingga akhirnya aku bertanya kenapa.

“ Suka saja. Aku tidak punya alasan apapun. ”

Jiyeon’s Side.

“ Suka saja. Aku tidak punya alasan apapun. ”

Aku memang menyukai matahari terbenam. Namun karena belakangan ini aku sangat sibuk, aku jadi tidak punya waktu untuk duduk melamun seperti sekarang.

Aku menyukai matahari terbenam tanpa alasan. Aku menyukainya sejak kecil dan aku tidak pernah berusaha mencari alasan kenapa aku menyukainya. Sama seperti aku menyukai Myungsoo. Aku tidak ingin mencari tahu alasannya.

Cita-citaku saat kecil adalah melihat matahari terbenam bersama pria yang aku suka. Dan ini adalah pertama kalinya aku melihatnya bersama seorang pria di kehidupan nyataku dan orangnya adalah Myungsoo. Rasanya seperti…ntahlah.

Hal seperti ini memang sepele. Tapi tidak denganku. Rasanya menakjubkan. aku memang tidak pernah berbicara tentang hal ini pada media. Aku ingin merahasiakan cita-citaku ini. Kalau myungsoo tau, dia pasti menertawaiku. Dia kan bodoh.

“ Mataharinya sudah terbenam, Jiyeon~ya. Berbicaralah lagi. Aku takut kalau kau diam seperti itu. ”

Mataharinya sudah tenggelam. 10 menit paling berharga aku lewati hari ini. Mungkin aku harus mencatatnya. Yeah.

“ Takut apa? ” Tanyaku bingung,

Dia mengangkat bahu, “ Mungkin kau kerasukan? ”

Aku memukul lengannya sekeras mungkin. Dia berteriak kesakitan dan reflek mengelus-ngelus lengannya yang habis aku pukul. Dia menatapku kesal.

“ Sakit tahu! ”

Aku balas menatapnya kesal, “ Habis kau ini bodoh sekali. Mana mungkin aku kerasukan. Astaga, yang benar saja. ”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, tidak percaya dengan akal Myungsoo yang ternyata sependek itu. dia masih saja mengelus-elus lengannya. Apa sesakit itu? aku rasa tidak kok.

Aku merogoh saku celana jeansku. Dan mendapati 14 missed call. 5 dari soyeon eonnie, 4 dari eunjung eonnie, 3 dari boram eonnie dan selebihnya dari Ahreum. Astaga. Aku mematikan nada deringku tadi sebelum konser dan lupa mengaktifkannya. Kenapa mereka ini?

Aku membuka 3 new message yang ada. Dari soyeon eonnie.

Jiyeon~ya, kami benar-benar meninggalkanmu. Kau lama sekali. Ditelfon tidak diangkat pula. Minta antar pada myungsoo, ya:p ”

Aku berteriak panik. Lalu menatap Myungsoo dengan wajah memelas, ia sudah menatapku bingung sejak tadi. Aku menunjukkan pesan singkat yang sebenarnya sudah masuk sejak 10 menit yang lalu. Dia tertawa terbahak-bahak. Senang sekali melihatku susah. Tidak berguna.

“ Antar aku ya? ”

Myungsoo memasang tampang sok berfikir. Ia memajukan bibirnya sok imut, “ Yah, gak bisa tuh. Pulang pakai taksi saja. ”

Sontak, aku berdiri dari tempat dudukku dan menarik rambutku kesal. Apa? Naik taksi? Astaga.. teganya dirimu wahai Myungsoo..

“ Ya!! ” aku berteriak padanya, lalu duduk kembali, “ Ayolah.. masa aku naik taksi? Antar aku ya? ”

Dia masih memasang tampang sok berfikir. Astaga. Aku tahu kau sedang mengejekku, Kim Myungsoo. Tidak bisakah berbaik hati padaku? Ayolah, antar pacarmu ini pulang..

Ia masih bergeming. Baiklah. Aku akan mengeluarkan cara satu-satunya. Aku sering melakukan cara ini pada orang, tapi tidak pada myungsoo. Aku malu sekali rasanya.

“ Myungsoo oppa, antar aku, ya? Kumohon.. ” Ucapku sambil memasang wajah seimut mungkin.

Astaga. Dimana aku harus meletakkan wajah cantikku ini? Aku memanggilnya oppa? Aish, benar-benar. Apa aegyo-ku berhasil? Biasanya pasti berhasil tapi ini kali pertama aku mencobanya pada Myungsoo.

Aku memperhatikan wajahnya. Dia terkaget kemudian memasang ekspresi sebiasa mungkin. Kenapa dia kaget? Karena aegyo-ku terlalu imut? Yeah, aku tahu. Pasti karena itu.

“ Baiklah, baiklah. Untung saja aku sudah dapat izin. Tapi kita harus minta izin dongwoo-hyung. Aku harus meminjam mobilnya. Ayo.. ”

Aku melompat-lompat karena senang. Hampir saja aku ingin memeluknya tapi tidak.. itu terlalu memalukan.

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berdiri. Aku mengikutinya dari belakang. Sesampainya dibawah, aku melirik waiting room yang kami tempati tadi. Ada beberapa cleaning service yang keluar masuk membersihkannya. Mereka memang sudah pulang.

Firasatku, mereka memang sengaja meninggalkanku agar aku pulang bersama si Myungsoo. Karena mereka tahu, aku malas naik kendaraan umum jadi aku tidak mungkin naik taksi. Dasar kurang kerjaan. Tega sekali meninggalkanku sendiri. Menyebalkan!! Aku akan membalas kejahatan kalian. Liat saja.

Awalnya, aku tidak berminat masuk dan ingin berdiri saja didepan waiting room Infinite. Tapi dia malah menarik tanganku untuk masuk. Aku jadi terpaksa masuk.

Tahu kenapa aku agak malas bertemu dengan manusia-manusia itu? aku benci mereka. Mereka suka menggodaku dan aku bukan tipe wanita yang hobi digoda. Asal tahu saja, kalau mereka lebih muda dari pada ku, mungkin aku sudah melempari mereka satu persatu. Tapi tahukan, ini korea? Hal-hal berbau itu sangat diperhatikan. Kalau sampai aku ketahuan melempari 6 member infinite hingga mereka masuk rumah sakit, tamatlah riwayatku sebagai T-ara Jiyeon.

Hey. Itu rencana bagus. Kalau aku melukai mereka, aku tidak akan jadi artis lagi dan aku dipecat. Jadi aku dengan Myungsoo bisa bebas. Yeah, rencana ini akan aku tindak lanjuti nanti.

“ Jiyeon~ya, lama tidak jumpa.. ”

Aku melihat keasal suara Sungyeol oppa sedang merentangkan tangannya dan mendekat kearahku. Aku menatapnya galak. Enak saja main peluk-peluk.

Karena melihat tatapan galakku, ia pun mengurungkan niatnya. Bagus. Aku tidak perlu bersuara.

“ Kau ini. Masih saja galak pada kakak ipar. ” Omelnya.

Aku meliriknya dengan ujung mataku, “ Kakak ipar? Aku bahkan tidak sudi menjadi adik iparmu, tahu. ” Jawabku,

Dia memanyunkan bibirnya, sok imut. Rasanya aku ingin menendang bibirnya, sungguh.

“ Jangan begitu. Kau mirip monyet. ” Kataku datar.

Dia melototiku dan berteriak, “ YAA! KAU INI!! ”

Tangannya sudah terangkat untuk memukul kepalaku. Namun ternyata, Myungsoo menahan tangannya. Aku tertawa dalam hati. Bukan senang karena sungyeol tidak bisa memukulku. Tapi aku senang karena Myungsoo yang melindungiku. Norak ya?

“ Yang tua ngalah.. ” Kata Myungsoo santai.

Setelah mengatakan itu, ia menarik tanganku lagi dan membawa ku keluar. Sebelum benar-benar keluar, aku menoleh kebelakang dan memeletkan lidahku pada Sungyeol oppa. Dia menatapku kesal, aku hanya tertawa dan kembali berjalan.

“ Aku turun duluan, nanti kau nyusul. Hati-hati jangan sampai dilihat orang. Kau tau mobil dongwoo hyung kan? ”

Aku berdecak dalam hati. Nasib artis. Kalau orang pacaran biasa pasti jalan sama-sama. Ini, boro-boro mau jalan sama, jalan deketan aja tidak bisa.

Hey.,

Kenapa aku jadi seperti ini? Untuk apa aku menuntut hal-hal tidak penting dari tadi? Prinsipku kan, sudah menyukai Myungsoo saja sudah cukup. Kenapa aku malah membayang kan hal-hal tidak penting? Mungkin aku pms, bisa jadi kan?

Aku mengangguk. ia berlari kecil meninggalkanku, sedangkan aku berdiri diam, agak bersembunyi di dinding-dinding agar tidak ketahuan siapapun. Setelah mengira-ngira apakah dia sudah sampai atau belum. Aku berjalan keluar pelan-pelan sambil menunduk agar tidak terlalu kelihatan.

Aku melihat mobil hitam dongwoo-oppa, setelah melirik kiri-kanan untuk memastikan tidak ada orang, akupun berlari masuk kedalamnya.

Ribet sekali kan? Makanya, aku sarankan, jangan mau jadi artis. Tidak enak, sungguh.

“ Pasang safety belt, ”

Aku meliriknya. Ih, sok bahasa inggris. Aku memasang sabukku, diapun mulai menjalankan mobilnya.

“ Pelan-pelan. Aku belum mau mati muda. ” Gumamku.

Ia melirikku sinis lalu menjitak kepalaku. Aku tertawa. Sungguh, aku masih meragukan izin mengemudi yang ia miliki. Ia baru mendapatkannya seminggu yang lalu, kalau aku tidak salah. Atau lebih? Entahlah. Yang jelas, setelah mendapatkan izin itu, ia menelfonku pagi-pagi buta sambil berteriak memamerkan surat tidak berguna itu. tidak percaya kalau ia melakukan itu? dari luar dia memang terlihat tidak banyak omong dan cuek. Aslinya? Ya tuhan. Dia bisa berteriak secempreng mungkin.

Aku melihat keluar jendela, masih banyak penonton berdesak-desakkan menunggu mobil-mobil artis yang keluar masuk dan menyebabkan macet. Aku menunduk, menutup mukaku dengan rambut agar tidak terlihat. Aku agak deg-degan sungguh. Fans-fans itu mengerubungi mobil kami karena mereka tahu ini mobil dong-woo.

“ Tenang saja, kaca mobil ini sangat gelap dari luar. ” Kata Myungso.

Aku mengangkat kepalaku, masih tidak bisa lega, “ Benarkah? ”

Myungsoo bergumam sambil menganggukan kepalanya. Matanya masih melihat kedepan. Ia berdecak kesal sekali-sekali, makin lama mobil kami makin dikerubungi. Bagaimana ini? Astaga..

“ Bisa tidak kau lebih melajukan mobilnya? Aku takut. ”

Ia menoleh lalu menggeleng, “ Kau mau kita menabrak mereka? ”

Aku diam saja. seharusnya kami membuka kaca mobil dan melambai. Tapi yang benar saja, apa kata orang kalau melihat kami satu mobil? Bisa-bisa wajahku dan myungsoo memenuhi halaman depan Koran dan majalan dengan tulisan cetak besar-besar BENARKAH INFINITE L ADALAH SUPIR T-ARA JIYEON?!

Oh, bukan. Aku hanya bercanda.

Myungsoo membuka kaca mobil sedikit, reflek aku menundukkan kepalaku. Apa yang dia lakukan?! Aku meliriknya, ia membuka kaca mobil hanya sampai matanya. Aku sedikit lega. Aku fikir dia sudah tidak waras membuka kaca sebesar-besarnya lalu berteriak “ HEY, CEWEK CANTIK DISAMPINGKU INI ADALAH PARK JIYEON T-ARA!! ”

Ia melambaikan tangannya dan tersenyum. Suara teriakan histeris dari luar memekakkan telingaku, tapi aku sudah terbiasa kok.

“ Berikan aku celah untuk jalan, please~ ” Teriaknya.

Para fans itu terbelah menjadi, membuat celah untuk kami jalan. Ajaib sekali. Ayo cepatlah jalan, ayo ayo..

“ L OPPA!! SIAPA ORANG DISAMPINGMU ITU? WANITAKAH? ”

Aku tersentak. Aduh. Bagaimana ini?!! Kenapa mata mereka setajam itu?!! aku melirik myungsoo dia masih saja tenang dan tersenyum. Aku melirik kaca disebelahku. Wanita-wanita fans-nya myungsoo berebut untuk melihat kedalam mobil. Aku menundukkan kepalaku makin dalam. Bagaimana ini. Aku tidak tenang!!

“ Penata rias kami. Dia menumpang karena ia tidak bawa mobil. ” Jawab Myungsoo enteng,

Dduarrr. Apa? Aku cantik-cantik begini dibilang penata rias. Dasar menyebalkan!! Rasanya aku ingin melemparnya dengan heels tadi, sungguh.

“ Ah, jinjja? ”

“ Syukurlah.. ”

“ Andweyoo!! ”

Aku bertaruh yang bilang andweyo itu adalah tipe cewek cemburuan. Dengan penata rias saja dia tidak rela. Tapi hey, Myungsoo kan pacarku bukan pacar dia, apa hak dia buat marah? Dasar perempuan aneh.

Myungsoo mulai menjalankan mobilnya dengan perlahan hingga akhirnya kami keluar dari kerubungan para fans karena, setelah mobil kami keluar ada mobil artis lain yang juga keluar. Bagus sekali.

Aku membalikkan badanku untuk menoleh kebelakang, sepertinya aman. Tidak ada yang mengikuti kami. Oh atau ada beberapa? Aku mengembalikan tubuhku kedepan lalu memukul lengan Myungsoo.

“ Ya!! Apa-apaan kau?! Kalau nanti nabrak bagaimana?! ” Teriak Myungsoo kaget.

Aku mengangkat bahuku, dasar berlebihan, “ Aku kesal tau. Memang aku mirip penata rias? ”

Myungsoo tertawa, aku meliriknya dengan sadis hingga ia mengangkat tangannya untuk menutup mulutnya sendiri.

“ Jadi aku harus bilang apa? ”

Aku mengangkat bahuku, “ Bilang saja kalau kau supirku. Gampangkan?”

“ Bodohnya. Mana mungkin ada supir setampan aku? ”

Aku memasang tampang seperti ingin muntah lalu ia tertawa sekeras-kerasnya. Melihat tawanya yang seperti menindasku itu rasanya aku ingin mencekiknya sekarang juga, sungguh.

Setelah memarkirkan mobil ditempat yang aman, aku dan myungsoo berjalan berjauhan sambil berusaha agar terlihat seperti orang biasa. Aman hingga akhirnya kami masuk kedalam gedung, naik dengan lift dan menemukan dormku yang tercinta. Myungsoo bilang ia tidak mau kembali kedormnya duluan sebelum teman-temannya itu sampai. Dasar penakut.

“ KENAPA MENINGGALKANKU HAH?! ” Bentakku setelah membuka pintu.

Myungsoo yang berdiri disampingku refleks menutup telinganya. Kulihat yang lain hanya tertawa cengengesan seperti orang idiot. Mereka memang bodoh, aku sih maklum saja.

“ Hai L, apa kabar? ” sapa Soyeon eonnie.

“ Ya!! Jawab pertanyaanku!! ” Teriakku lagi.

Soyeon melirikku sinis, “ Siapa suruh lama-lama? ”

“ Alasan, ” Jawabku.

Aku mendengus dan berjalan menuju dapur meninggalkan Myungsoo untuk mengambil minum. Rasanya haus sekali setelah berteriak sekaras tadi. Aih.

Myungsoo’s Side

Aku menatap punggung Jiyeon yang berjalan entah kemana. Dasar anak itu, enak saja meninggalkanku. Aku mengambil sebungkus snack milik boram noona tanpa memerdulikan teriakan protes darinya. Aku sudah sangat sering melakukan hal seperti ini. Dia tidak mungkin marah hehe, marah sih tapi paling nanti dia lupa sendiri.

Dorm t-ara penuh dengan gantungan baju-baju diluarnya. Tidak berantakan sih, malah rapi dibandingkan dengan tumpukan baju-baju di dorm ku. Tentu saja, ini kan dorm cewek.

Aku berjalan masuk ke kamar jiyeon dan melemparkan tubuhku diatas tempat tidurnya. Hari ini tidak terlalu melelahkan aku rasa. Aku hanya malas untuk kembali ke dorm ku karena aku rasa mereka pasti pergi keluar dulu untuk makan malam. Jadi aku tidak mungkin tinggal sendiri kan?

“ YA! Jangan membuat tempat tidurku kotor! ”

Aku melirik kearah Jiyeon yang berdiri didepan pintu dengan tangan dipinggang. Aku mengacuhkannya dan malah membuka bungkusan snack yang diberikan, atau yeah aku ambil. Dia berjalan dan duduk disampingku.

“ Bagi dong, ”

Aku menoleh lalu menjulurkan lidahku, “ Tidak boleh. ”

Dia menatapku kesal, “ Aku mau.. ”

“ Sudah kubilang tidak boleh. ”

Aku memeluk bungkusan snack dan menggeleng. Dia memukul punggungku dengan keras. Ya tuhan, perempuan ini..

“ Aku mau!! Minta sini!! ” Teriaknya sambil menarik bungkusan tersebut dari pelukanku.

Aku tertawa dalam hati. dia memang masih kekanakan. Dasar. Rasanya aku ingin mencubitnya, sungguh.

Aku melepaskan pelukanku pada bungkusan snack dan dia agak tersentak kebelakang karena terlalu mengeluarkan tenaganya untuk melawanku. Hampir saja ia jatuh kebawah tempat tidur kalau saja aku tidak menarik tangannya.

“ YA!! AKU HAMPIR TERJATUH, BODOH!! ” teriaknya.

Aku menutup kedua telingaku lalu tertawa kecil. Seharusnya dia lihat bagaimana ekspresi dia tadi. Lucu sekali.

Aku mengulurkan kedua tanganku dan mencubit pipinya yang tidak chubby dengan gemas. Rasanya aku tidak tahan. Dia seperti anak kecil yang mainannya direbut orang.

Jiyeon memanyukan bibirnya, kesal. Aku makin tertawa.

“ Jangan manyun begitu, jelek tau. ” Kataku santai sambil merebahkan diri diatas tempat tidur.

Dia menatapku kesal, “ Aku cantik, tau. ”

Aku memasang tampang sok berfikir, “ Tidak juga. ”

“ Menyebalkan!! ”

Aku tertawa lagi. Dia memang menggemaskan.

“ Ohya, myungsoo.. ”

Aku menoleh, “ Ada apa? ”

Dia diam sejenak, “ Tidak apa-apasih. Aku hanya ingin mengatakan, kami akan tur 15 kota dijepang, besok aku akan berangkat. ”

“Ohya? Berapa hari? ”

“ Entahlah. Yang jelas kami akan kembali tanggal 14 maret. ”

14 maret? Berarti dia akan melewati ulang tahunku? Tiba-tiba aku merasakan ponselku bergetar di saku celanaku. Ternyata sungjong yang menelfonku,

“ Ya? ”

“ Hyung? Dimana? Sudah malam. Cepat pulang. Dongwoo hyung sudah mencari dimana mobilnya..”

“ Bilang saja mobilnya aku gadai buat beli ponsel baru. ” Jawabku enteng.

“ Oke, gampang. ”

Aku memutuskan sambungan telfon dan kembali menatap jiyeon yang serius dengan makanannya. Aku memukul kepalanya lalu berlari cepat agar ia tidak bisa membalasku.

“ YA!! ”

“ Aku pulang, ya? Oh ya, soal tur mu itu… hati-hati ya, jangan lupa oleh-oleh untukku. Semoga sukses! ” Teriakku dari pintu.

“ Yaya!! Jangan balik kesini lagi!! ”

Aku tertawa kecil. Perkelahian kecil kami selalu membuatku tertawa. Dia termasuk kedalam moodbooster terbaikku. Dengan membully-nya atau mendengar dia bercerita tentang hal-hal aneh membuatku melupakan sedikit bebanku.

Jiyeon memang berbeda dengan apa yang diketahui orang tentangnya. Aku sering membaca artikel, orang-orang menuduhnya mirip dengan tokoh rian yang ia mainkan di dream high 2. Padahal menurutku tidak juga.

Ngomong-ngomong tentang film itu, menurutku dia sangat keren disana. Sungguh. Aku menyukai tokoh jahatnya dan menurutku itu cocok dengan wajahnya, jujur saja. Tapi saat melihatnya terlalu dekat dengan jin-woon aku agak tidak suka. Bukan apa-apaya, aku lebih tampan daripada lelaki bertubuh besar itu. Ya kan?

Setelah menyapa member-member t-ara, aku keluar dari gedung itu dengan hati-hati dan pulang ke dormku. Semoga saja dongwoo hyung tidak sedang menangis sekarang.

49 thoughts on “Behind The Scene Of Myungyeon (Chapter 1)

  1. aigoo, myungsoo ama jiyeon msih malu-malu kucing ni yeeee . . .
    so sweet kx, mlah aq ketawa sma tingkah mrka . . .
    hahahaha
    next part min . . .
    susah jdi idol, pcran aj susah .
    huuffttt

  2. aigooo!!! myungyeon BTS daebak!!!
    lucu dan menggemaskan… perasaan mereka sama hanya saja.. masih tarik-ulur tarik-ulur..
    masih banyak hal yang belum mereka ungkapkan…
    sukaaaaaaaaaaaaaaaa!!!! hahaha
    lanjut thor!!!

  3. hahahaha… keren banget ffnya thor😀
    ngakak bacanya… apalagi pas bagian “…BENARKAH INFINITE L ADALAH SUPIR T-ARA JIYEON?!”
    hahaha ga tau yah, tapi aku ngakak banget bacanya😄
    pokoknya aku suka banget ffnya, suka couplenya, suka genrenya, suka semuanya😀
    lanjutin terus ya thor🙂

    oh iya, ngomong-ngomong aku reader baru🙂
    jadi, maaf baru komen… hehehe

    • Hehehe makasih yaa^^ bagus deh kalau menurut kamu lucu, aku takutnya malah jadi garing hehe>.< aku juga suka myungyeon, baru baru ini sih^^ sip sip, gakpapa kok, makasih udah comment^^

  4. Halo… Aku reader baru.
    99 line.🙂

    Ini FF sumpah kerrenn!! Sungguh demi apa!!😀
    aku bakalan baca part selanjutnya author, tapi komen disini dulu ^^
    harus lanjut, yah?
    Aku nge-ship banget sama couple ini! Myungyeon jjang!!😀

    • Halo selamat datang ya^^
      Hhehehe makasih, sip sip. Lanjutannya ditunggu aja ya, mungkin agak lama. Lagi ada kendala soalnya hehe.
      Ohya thanks juga udah komen^^

  5. Hai ku reader baru,slm kenal *bow😀
    ku suka ama ffnya lucu,ceritanya juga bagus. Mereka berdua tingkat gengsinya msh tinggi wkwk,senyum2 sendiri kubacanya lht tingkah mrk berdua.
    lanjut baca lagi ^^

  6. Anyeong thor, reader baru nihh…🙂
    lagi nyari2 FF MyungYeon malah terdampar kesini… Hehehe🙂

    Nice FF…
    Aigo, MyungYeon couple lucu bnget… Hehehe😀

  7. Annyeong!!!!! Aku reader baru~~
    Waaah debak deh ceritanya…
    Moment myungyeonnya bikin ketawa…
    Semoga myungyeon couple bisa jadi real.
    Lanjut deh ke part 2.

  8. hai…………!!!!!!!!!!!! thor
    q reader baru nih
    baru nemu nih ff, seru loh
    myungyeon couple emang paling oke dh………..
    gk kbayang klo ampe ketahuan ama fans
    hehehe………….
    lanjut thor
    FIGHTING!!!!!!!!!!!!!!

  9. Bagus ceritanya chingu🙂 haha aku bacanya sambil ngakak pas moment myungyeon lucu :p
    sumpah aku pengen kejadian di ff ini bisa terwujut ke dunia real haha #ngarep banget ceritanya
    aku lanjut ke chap 2 ya chingu hehe

  10. Wah telat banget ya baru baca ini?
    Aku suka banget ff yang model-model idol life gini. Udah lama ngebookmark blog eonnie, tapi baru sempet baca ff di sini dari yang lama-lama.
    Sukaa banget! Tulisannya juga rapi. TOP

  11. ciyee.. myungyeon so sweet,
    tpi bkal lebih so sweet kalo dibanyakin skin ship.nya nih,
    myungsoo jgan cuek2 dong sama jiyeon, kan kasian.,
    ke chap 2 dulu authornim,
    *keep writing and fighting*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s