Behind The Scene Of Myungyeon (Chapter 4)

Gambar

Tittle : Behind The Scene Of Myungyeon

Main Cast :

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo

Genre : Romance, Humor

Type : Chaptered

Warning, chapter ini terlalu panjang dan agak membosankan. Oh ya, anggap aja foto itu foto selcanya Myungsoo sama Jiyeon di chapter 2 hehe. Happy reading^^

Jiyeon’s Side

“ Ya! Kenapa kau tidak jadi berangkat hari ini?! ”

Aku menggigit bibirku, bingung. Aku juga tidak tahu kenapa. Kemarin memang manager kami bilang kami akan berangkat pagi tanggal 23 dan infinite akan berangkat pada siangnya. Aku dan myungsoo sudah mengatur jadwal untuk jalan-jalan ke pasar malam shida atau ke menara taipe—kudengar tempat-tempat  itu menarik pada malam hari dan banyak makanan enak, jadi kami memutuskan untuk pergi kesana tengah malam—tapi ternyata semuanya hanya tinggal rencana.

Tadi pagi, saat aku dan hyomin eonnie menarik koper dari kamar dengan semangat—yeah, aku tidak pernah se-excited ini pergi keluar negeri untuk konser, namun membayangkan rencana kami itu membuatku benar-benar terlalu semangat. Kapan lagi ada kesempatan untuk jalan dengan myungsoo?—tapi kami malah melihat member lain sedang berkumpul dan berbicara pada manager kami tentang penerbangan kami yang ditunda. Dan itu membuatku marah-marah hingga adu mulut dengan manager kami.

Benar kata orang, jangan terlalu senang dengan apa yang masih direncanakan.

“ Ya, aku juga tidak tau, Kim Myungsoo. Tiket pesawat kami dibatalkan si Kwangsoo sialan, diganti jadi besok. Itu kan bukan salahku.. ”

Dia berdecak. Sepertinya dia benar-benar kesal. Aku jadi merasa bersalah. Yah, tapi ini kan bukan salahku, seharusnya dia mengerti. Dia fikir aku mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini? oh, yang benar saja.

” Pria tua sialan itu memang benar-benar… ”

Aku tertawa sepelan mungkin agar myungsoo tidak bisa mendengarnya, dia bisa semakin marah jika mendengarku tertawa disaat sulit seperti ini, “ Kalau kita perginya sore, gimana? ”

“ Kau sudah gila? Kita bisa jadi topik utama dikoran. ”

Aku memajukan bibirku kecewa, benar juga sih. Nanti bukannya kami jalan-jalan untuk senang-senang, yang ada membuat semuanya menjadi lebih sulit—aku sudah membayangkan bagaimana wajah cantikku babak belur oleh fans Myungsoo, oh jangan sampai, aku masih ingin hidup lebih lama, masih ingin menikah dengan Myungsoo pokoknya hidupku masih sangat panjang—Ck, kenapa untuk jalan-jalan saja susah sekali sih…

“ Yah, mau gimana lagi? Aku kan tidak salah, ”  kataku, lalu tiba-tiba teringat sesuatu, ” Oh ya, kau dimana sekarang? ”

“ Dijalan, mau menuju airport. Kenapa? ”

Aku terdiam, “ Tidak ada. Yasudah, hati-hati, sampai berjumpa di Taiwan. ”

Dia hanya bergumam. Lalu aku pun memutuskan sambungan telfon. Aku menghela nafas. Rencananya, aku ingin memberinya selamat atas buku bravo viewtiful-nya tapi…aku bingung cara mengucapkannya. Aku sudah menonton teasernya—ini rahasia, aku adalah orang nomor satu yang menontonnya di youtube, sungguh—Lagipula, sepertinya dia masih kecewa. Bagaimana ini? Nanti saja aku sms dia kalau dia sudah sampai di Taiwan.

Beberapa hari ini teaser T-ara N4 sudah banyak keluar. Tapi selagi Official MV kami belum release, jadi aku masih punya banyak waktu untuk bersantai. Latihan koreografi kami sudah selesai, jadi kurasa tidak ada yang perlu dilatihankan lagi.

Aku menyandarkan tubuhku disofa. Aku masih merasa kesal. Benar-benar kesal hingga rasanya aku ingin menjambak orang. Tapi siapa yang mau aku jambak secara cuma-cuma? Di dunia inikan tidak ada yang gratis—kira-kira si gadis Cleopatra mau tidak ya rambutnya aku jambak?—Huh, Kalau aku berangkat tadi, nanti malam kami pasti bisa kencan. Sial. Sial. Sial.

Oh, soal gadis Cleopatra. Aku jadi ingat malam itu. Saat aku marah padanya tentang si Cleopatra, dia menyanyikan lagu yang kalau aku tidak salah pernah dia nyanyikan di konser Second Invitation—aku ingat, aku dulu pernah merengek pada manager oppa untuk pergi menonton konser itu tapi dia melarangku dan itu membuatku kesal hingga mencampurkan minumannya dengan garam hingga ia sakit perut—aku sudah berusaha tidur saat itu dan aku rasa aku benar-benar akan tidur kalau dia tidak mengucapkan tiga kata keramat yang membuatku terkejut.

Aku merindukanmu, sangat.

Dia merindukanku.. saat aku mendengar itu, perasaanku benar-benar tidak karuan. Jantungku berdetak dan yah seperti itulah, kira-kira seperti penjelasan di novel tentang remaja baru puber yang jatuh cinta. Karena 3 kalimat itu, aku merasa seperti anak remaja yang kasmaran.

Pemilihan kata-kataku memang menjijikkan. Aku tahu, aku juga merasa begitu. Tapi ini kenyataan. Aku hanya berusaha untuk jujur dengan diriku sendiri—tapi lebih jujurnya lagi, sejak tadi aku berusaha untuk tidak teriak dan mengejeknya, “ Ya, kau merindukanku ya? Kim Myungsoo merindukanku ya? Jujur saja!  Aku mendengarnya kemarin. ” karena aku tahu, hal itu akan membuatnya semakin marah padaku.

Aku juga sangat-sangat merindukannya.

Rasanya aku ingin melihat wajah setannya saat mengacak rambutku. Atau wajah kejamnya saat mengerjaiku dan tawa iblisnya yang menindasku. Aku bahkan merindukan senyum licik yang bisanya aku benci. Hah, andai kami orang biasa.

“ Tidak jadi jalan-jalan? ”

Aku menggeleng tidak bersemangat, Boram eonnie menatapku kasihan lalu duduk disebelahku.

“ Ohya, Hwayoung bilang dia sangat menyukai kadomu. Dia ingin menelfonmu tapi ponselnya hilang, katanya lupa letakkin dimana. ”

Aku menoleh, “ Benarkah? Baguslah kalau dia menyukainya. Pantas saja, aku menelfonnya tapi nomornya tidak aktif. Aku kira dia pergi keluar negeri. ”

Boram eonnie bergumam, “ Dia menghubungiku dengan ponsel adiknya. Dia juga buka twitter dengan ponsel Hyoyoung. Dia itu masih saja ceroboh.. ”

Aku terkekeh mendengarnya. Hubungan kami memang masih baik-baik saja. Kami memang sempat berdebat beberapa hari sebelum perusahaan memutuskan dia untuk keluar, tapi hanya sebentar, setelah itu kami baik-baik saja. Aku masih ingat, saat dia datang untuk menyusun barang-barangnya, kami menangis bersama dan saling berpelukan. Aku juga masih ingat saat semua member berfikir—termasuk hwayoung—bagaimana caranya agar orang-orang tidak salah paham dengan kami. Sedangkan aku hanya berfikir sederhana, terserah apa kata orang yang penting aku tidak seperti yang mereka katakan. Terserah orang mau berkata apa tentangku, terserah juga mereka ingin menyumpahiku agar mati.

Oke sudah. Jangan difikirkan lagi. Ini membuat moodku menjadi semakin berantakan. Sekarang yang aku butuhkan adalah karpet terbang atau apapun saja yang membuatku bisa sampai ke Taiwan saat ini juga.

Myungsoo’s Side

Aku keluar dari mobil dengan perasaan yang masih kesal. Yaya, aku memang egois. Aku tahu dia tidak salah, tapi tetap saja aku kesal. Kami sudah merencanakan hal ini sejak tahu kalau kami akan sama-sama konser di MCD Taiwan. Aku bahkan sudah menganggap ini seperti kencan pertama kami tapi ternyata tidak. Semuanya hanya rencana.

Aku mengangkat jaket hitamku untuk menutupi kepalaku, entah apa jadinya foto yang beredar saat kami di bandara nanti. Aku yakin ekspresiku sudah tidak karuan sekarang. Masa bodohlah.

Aku yakin pria tua sialan itu sengaja mengganti jadwal penerbangan T-ara agar kami tidak sampai pada hari yang sama. Lebih baik dia cepat mati saja, dia tidak pantas hidup lebih lama. Aku yakin dia pasti punya niat seperti itu. Aish, benar-benar menyebalkan. kenapa banyak sekali yang iri dengan hubungan kami?

“ Ekspresimu jangan begitu, bisa-bisa kau dimasukkan dalam blacklist netizen. ”

Aku menoleh, manager hyung berjalan disampingku. Aku hanya mendengus, mengacuhkannya. Aku memang agak sulit mengontrol ekspresiku jika benar-benar sedang kesal.

“ Ngomong-ngomong pesananmu sudah siap, aku juga membawanya sekarang. Kau bisa memberikannya pada gadis itu. ”

Aku menatapnya penuh minat, “ Benarkah? ”

Dia mengangguk. Aku menghela nafas, agak senang dengan berita ini. Aku ingin lihat bagaimana reaksinya saat melihat itu. Apa mungkin dia akan senang? Entahlah. Dia tidak mengucapkan selamat padaku. Dasar gadis itu.

“ Oh ya hyung, kau jadi memasukkan foto yang kuberikan untuk dicetak banyak? ”

Dia melirikku sinis, “ Kau fikir aku berani memasukkan foto mesummu?”

Aku menunjukkan passport dan tiket pesawatku pada petugas bandara setelah melewati berbagai pemeriksaan seperti biasa. oh, ayolah, apa wajah tampan sepertiku terlihat seperti penjahat? Tidak bisa mereka langsung membiarkanku lewat saja?

“ Itu bukan foto mesum hyung, kau ini bagaimana sih. Itu hanya foto aku mencium pipinya. ”

Manager hyung memutar bola matanya, masih melirikku sinis, “ Jangan bercanda. Aku hanya mencetaknya satu. ”

Aku tertawa. Aku tahu aku tidak mungkin memamerkan fotoku yang itu pada orang umum dengan memasukkannya kedalam L’s bravo viewtiful, karya kebangganku yang akan rilis sebentar lagi. Aku sudah tidak sabar rasanya.

Kami semua sudah masuk kedalam pesawat. Berdasarkan nomor kursiku, aku akan duduk disebelah Sungjong. Baguslah, beberapa tahun belakangan ini aku sangat dekat dengannya. Bahkan MyungJong shippers sudah menyebar dimana-mana. Ah, harusnya Myungyeon shippers yang makin menyebar.

Aku menutup mataku, berusaha untuk mengurangi kekesalanku dengan tidur. Semoga saja berhasil.

********

Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur yang nyaman. Kami baru saja sampai di hotel Taiwan. Sungjong merapikan barang-barangnya—dan barangku juga, dia memang magnae baik yang patuh pada hyung-hyungnya, bukan sih, lebih tepatnya magnae bodoh yang mau saja dibully—setelah itu ia baru tiduran di tempat tidur sebelahku.

“ Hey, malam ini kami akan jalan-jalan. Kalian mau ikut? ”

Aku menoleh keasal suara, Sungyeol hyung sudah membuka connecting door dan masuk dengan seenaknya. Aku menggeleng tidak berminat kemudian menenggelamkan kepalaku pada bantal.

“ Kenapa kau tidak mau, hyung? Lumayan kan. ”

Aku menggeleng lagi tanpa menoleh. Batalnya acaraku dengan Jiyeon benar-benar membuat aku kehilangan mood untuk pergi kemanapun. Sungguh.

“ Kencannya batal. Maklumlah. ”

Sungyeol hyung tertawa setelah mengatakan hal tidak penting itu. Aku menoleh dengan kesal dan melempar bantal kemukanya yang menyebalkan itu, “ Diamlah, hyung. ”

“ Oke oke, jangan mengamuk. Jongie, kau lebih baik ikut dengan kami daripada kau menjadi santapan lezat singa yang sedang mengamuk. ”

Aku mengacuhkannya dan mengambil remote tv untuk menghidupkannya. Sungjong menatapku dan Sungyeol hyung bergantian. Karena aku kesal dia menatapku terus menerus, aku menatapnya galak, “ Apa liat-liat? ”

Dia melompat dari kasurnya dengan ekspresi benar-benar takut—apa aku benar-benar terlihat seperti singa?—dan kemudian berlari mengejar Sungyeol hyung, “ Aku ikut saja, hyung. ”

Setelah itu terdengar tawa Sungyeol hyung sialan dan bunyi pintu yang ditutup. Mereka semua sudah pergi. Baguslah, aku sedang ingin sendiri. Aku kembali menonton TV walaupun aku tidak bisa focus. Lebih baik aku mencari film kartun atau film humor yang bisa menghibur.

Tiba-tiba terdengar bunyi bel kamar kami di tekan. Aku menoleh dengan malas, biarkan sajalah. Aku malas berdiri, posisiku sudah terlalu nyaman. Aku kembali menekan-nekan remote namun orang itu masih saja membunyikan bel dan membuatku muak. Akhirnya akupun berdiri untuk membukankan pintu. Oh, ternyata manager hyung.

“ Titipanmu, ”

Dia memberikan sebuah tas kertas hitam berukuran sedang. Aku mengambilnya dan mengintip isi dalamnya lewat celah kecil karena tas itu sudah di lem, aku hanya tersenyum kecil.

“ Thanks, hyung. ”

Dia hanya mengangguk dan melirik kedalam kamar, “ Mereka semua pergi? ”

Aku bergumam. Dia hanya membulatkan mulutnya dan pergi begitu saja tanpa bertanya kenapa aku tidak ikut pergi.

Aku masuk kembali dan menutup pintu kamar. Aku meletakkan tas hitam itu diatas meja disamping ponselku.

Ada sebuah pesan belum terbaca. Aku membukanya, dari Jiyeon.

“ Myungsoo, sudah sampai? Hm, selamat atas photobook-mu yang akan rilis. Semangat ya, aku tidak sabar ingin melihat karya yang kau banggakan itu. Pasti biasa saja. ”

Aku berdecak kesal kemudian tersenyum sendiri. Ah, aku seperti orang gila rasanya, tiba-tiba kesal tiba-tiba senang. Park Jiyeon, kau harus bertanggung jawab atas kegilaanku.

Jiyeon’s Side

Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamarku sambil menggenggam ponsel. Hyomin eonnie sudah berteriak sepuluh kali agar aku memberhentikan kegiatanku, tapi tidak bisa. Aku menunggu Myungsoo membalas pesanku. Kalau dia membalasnya itu pertanda dia sudah tidak marah. Sudah 15 menit yang lalu aku mengirimnya pesan dan dia masih belum membalasnya. Myungsoo sialan, ayo cepat balas.

Dan ponselku langsung bergetar.

“ Ya! Kau ini jangan menghina bukuku, kau saja belum tentu bisa. Menyebalkan. sudah malam, lebih baik kau tidur. Saat kau sudah sampai, aku ingin memberikanmu sesuatu. ”

Aku tertawa dan melompat-lompat karena terlalu senang—Hyomin eonnie tersentak dari tidurnya dan mengataiku gila, tapi aku mengabaikannya dan itu membuatnya semakin kesal hingga melempar bantalnya kearahku namun beruntungnya bantal itu meleset jauh—dan dengan cepat aku mengetikkan pesan balasan untuknya.

“ Aku bisa, memang apa susahnya? Ya, kau juga harus tidur. Besok aku akan berangkat pagi-pagi. Tumben kau baik ingin memberikanku hadiah. ”

Setelah itu aku meletakkan ponselku di meja yang terletak disamping tempat tidurku kemudian aku masuk kedalam selimutku dan menutup mata, berusaha untuk tidur dan terbangun besok pagi. Aku sudah tidak sabar. Dia ingin memberikanku apa?

Hem. Kim Myungsoo. Laki-laki yang nyaris setahun ini selalu menjadi objek dalam fikiranku. Laki-laki yang membuatku menyesal menjadi artis, padahal aku selalu menghayal menjadi penyanyi dan memiliki fans dulunya. Aku senang belakangan ini dia sudah mulai menunjukkan perasaannya. Sangat senang. Dia bilang dia menyukaiku, dia juga bilang dia merindukanku.

Aku menyukainya.

Ah, tidak.

Lebih dari itu. Aku sangat-sangat-sangat menyukainya hingga aku tidak akan rela ia menyukai gadis lain. Hingga aku rela untuk melakukan apa saja agar dia tetap hanya melihatku. Aku memang terlalu terobsesi dengannya, terserah apa saja kalimat yang tepat. Yang penting, aku tidak akan sanggup jika dia meninggalkanku.

Aku mencintainya.

Terdengar sangat mainstream, tapi aku malu mengakuinya. Ego ku masih terlalu tinggi. Untuk mengucapkannya dalam hati saja sudah membuat telingaku panas.

Oh, aku benar-benar seperti remaja yang baru merasakan yang namanya jatuh cinta.

******

Akhirnya kami sampai juga di Taiwan. Aku berlari kecil menuju mobil yang akan membawa kami ke hotel. Kudengar semua artis MCD akan berada di satu hotel yang sama. Berarti kesempatanku untuk bertemu dengan Myungsoo jadi semakin banyak kan? Aku tersenyum makin lebar. Sepanjang jalan di airport tadi, aku selalu tersenyum karena memikirkannya.

Aku masih terfikir, apa ya yang ingin diberikan Myungsoo? Tumben sekali dia ingin memberikanku sesuatu—selama hampir setahun pacaran, dia hanya pernah memberikanku sandal bulu hitam tersayang, tapi sebenarnya itu tidak masalah—lebih tepatnya dalam rangka apa? Ulang tahunku kan masih lama.  Aku benar-benar penasaran, sungguh.

Hotel kami terletak tidak terlalu jauh dari airport. Sekarang masih siang dan cuaca di Taiwan sangat cerah. Katanya kami akan konser jam 8 malam nanti, tapi sebentar lagi kami harus pergi ketempat konser untuk rehearsal. Huh, membuatku lelah saja.

Setelah chek-in, kami pun berjalan—kecuali aku, karena aku sedang berlari sangking semangatnya—masuk kedalam lift menuju ke lantai 6, hanya beda 1 lantai dengan infinite. Aku menanyakan hal ini pada Myungsoo tadi pagi-pagi sebelum berangkat.

Aku membuka pintu kamar dengan bahagia. Terserah semua orang mengatakan aku gila atau apa, yang terpenting saat ini aku bisa melihat muka jelek Kim Myungsoo itu.

Setelah meletakkan barang-barangku begitu saja, aku mengambil ponselku dan mencari kontak Myungsoo dan dalam hitungan ke 2 dia sudah mengangkatnya. Dia menungguku, pasti begitu.

“ Sudah sampai? ” Tanyanya langsung tanpa basa-basi.

“ Sudah, ” jawabku pendek, “ Aku di lantai 6. ”

Dia bergumam pendek, “ Aku tunggu di lantai paling atas, didekat kolam renang. ”

Setelah mengatakan itu ia mematikan sambungan telfonnya tanpa mengatakan apapun. Dengan segera aku melepaskan jaketku dan melemparnya kesembarang arah, mengambil celana pendekku yang biasa dari dalam tas dan menukarnya didalam kamar mandi, lalu  mengganti sepatuku dengan sandal hotel yang telah tersedia dan mengikat rambutku asal.

Eh tunggu.

Sandal hotel tidak nyaman. Aku melemparnya begitu saja dan menggantinya dengan sandal bulu favoritku.

“ Dasar anak muda. Mau ketemu pacar saja susah. ”

Aku menoleh kearah Eunjung eonnie yang duduk diatas sofa kamar. Ia menatap satu-satu barang yang aku lempar tadi dan menggelengkan kepalanya. Aku hanya mengangkat bahuku tidak perduli lalu kembali membuka pintu.

Oh ya, lupa.

“ Jangan tinggalkan aku untuk rehearsal. ”

Dia tertawa. Aku hanya mendengus kesal dan benar-benar pergi dari kamar. Lorong-lorong hotel terlihat sunyi. Yah, penjagaan untuk hotel ini memang sangat ketat sepertinya. Biasanya pasti ada saja wartawan atau siapapun yang menyelusup dan berlalu lalang di depan kamar kami.

Baguslah.

Aku masuk kedalam lift dan menekan tombol terakhir yang ada. Setelah menunggu beberapa detik, pintu terbuka dan memperlihatkan kolam renang yang terbentang dibalik pintu kaca dan beberapa kursi santai di pinggirnya. ada beberapa pohon cemara yang tidak terlalu besar. Bagus sekali.

Aku berlari kecil dan membuka pintu kaca. Myungsoo duduk di pinggir kolam renang sambil mencelupkan kakinya kedalam kolam. Ia menoleh setelah mendengar pintu kaca itu aku tutup, kemudian ia menggerakkan tangannya kearahku.

Aku melepaskan sendalku didekat kursi kemudian menyusulnya duduk ditepi kolam.

“ Apa? Mana hadiah untukku? ” Tanyaku langsung.

Dia berdecak menatapku kesal, “ Kenapa kau malah bertanya hadiah? ”

Aku menatapnya bingung, jadi apa yang harus aku tanyakan? Wajar kan seseorang yang ingin diberikan hadiah menagihnya? Dasar Myungsoo aneh.

“ Jadi aku harus bertanya apa? ”

Myungsoo mengibaskan tangannya kesal kemudian berdiri dan mengambil sebuah tas kertas hitam yang ia letakkan diatas meja kemudian menyerahkannya kepadaku. Aku mengambilnya dan menatapnya senang. Isinya apasih? Aku benar-benar penasaran.

“ Jangan dibuka sebelum sampai di Korea, ingat.”

Aku memberhentikan tanganku yang ingin melepaskan lem pada tas itu dan menatapnya kesal. Aku bisa mati penasaran kalau aku tidak segera tau apa isinya. Memang dia mau pacar cantiknya ini mati karena penasaran?

“ Kenapa? Aku penasaran apa isinya. ”

Dia menatapku, “ Tidak boleh. Kalau kau membukanya sekarang, ini tidak akan ada isinya. Harus di korea. ”

Aku menatap tas ini dengan bingung. Kalau aku membukanya sekarang isinya kosong? Kenapa ya? Memang Myungsoo memberikan aku apa? Coba fikir, benda apa yang bisa seperti itu? Tidak ada kok.

Aku menatapnya was-was, “ Kau tidak mengisinya dengan sesuatu yang aneh, kan? ”

Dia menaikkan alisnya lalu menggeleng. Apa aku harus percaya padanya? Kadang-kadang Myungsoo suka mengerjaiku jadi sulit mempercainya.

“ Ingat, jangan membukanya sekarang. Kalau kau membukanya sekarang, isinya menjadi kosong. ”

Aku menggigit bibirku bingung. Antara harus menepatinya atau malah melanggarnya. Tapi kalau aku langgar isinya akan kosong. Memang tidak mungkin sih, tapi siapa tahu kan? Lebih baik ditepati saja daripada mendapatkan tas kosong. Ya, kan?

“ Yaya, aku janji. ” Ucapku akhirnya.

Dia tersenyum puas lalu memukul-mukul kepalaku. Jangan sangka dia memukulnya dengan lembut, dia memukulku. Benar-benar memukulku hingga rasanya otakku berpindah tempat karena pukulannya. Sungguh.

“ Sakit, bodoh. ” Kataku sambil mendorong tangannya dari kepalaku.

Dia hanya tertawa dan mengoyang-goyangkan kakinya didalam air. Tiba-tiba ia merogoh saku celananya dan mengangkat telfon.

“ Sekarang? Aish, menganggu saja. Tunggu saja, aku akan segera kesana. ”

Aku menatapnya bingung. Dia hanya balas menatapku dan memukul kepalaku lagi—kali ini lebih pelan, kurasa karena ia melihatku melakukan gerak reflek untuk menjauhinya—dan kemudian berdiri.

“ Ayo, turun. Kita akan pergi untuk rehearsal. ” Katanya.

Aku mengulurkan kedua tanganku, “ Bantu aku berdiri. ”

Dia menatapku sambil tersenyum―aku tahu itu senyum penuh kelicikan―yang membuatku bergidik ngeri. Kalau begitu lebih baik aku berdiri sendiri. Dia bisa saja mendorongku masuk kedalam kolam dan membuatku turun dengan basah kuyup. Jangan sampai, aku tidak membawa banyak baju.

Saat dia mengulurkan tangannya, buru-buru aku berdiri sambil membawa tas kertas hitam pemberian Myungsoo dan menjauhi kolam, “ Aku bisa sendiri, tidak usah. ”

“ Yasudah kalau tidak mau aku bantu. ”

“ Bukan begitu, aku curiga padamu. ”

Dia tertawa, membuatku semakin kesal, tiba-tiba aku teringat sesuatu, “ Oh ya, Myungsoo, kalian tidak akan melepas jas kalian lagikan? ”

Myungsoo’s Side

“ Oh ya, Myungsoo, kalian tidak akan melepas jas kalian lagikan? ”

Aku menatapnya aneh. Pertanyaan macam apa itu? Kapan aku melapaskan jasku?

“ Melapaskan jas? Apa? ” Tanyaku tidak mengerti.

Dia menatapku seolah aku orang paling idiot sedunia, padahal kenyataanya dia lebih bodoh daripadaku. Tentu saja, jauh.

“ Waktu GDA 2013. Kalian melepaskan jas, kan? Jangan lakukan itu lagi. Lenganmu kecil, tidak pantas diperlihatkan. ”

Aku mengerutkan dahiku, bingung dengan arah pembicaraan gadis ini. waktu GDA… oh ya.

Aku menundukkan badanku dan mendekatkan wajahku di depan wajahnya, dia reflek mundur dan aku makin mendekatkan wajah kami, “ Kau memperhatikan lenganku, ya? Dasar mesum. ”

Dia melotot kaget. Mulutnya bergerak mencari alasan apa yang tepat. Aku tertawa dalam hati, senang membuatnya kembali salah tingkah. Saat dia salah tingkah, dia lebih terlihat seperti wanita yang manusiawi. Aku kembali menggodanya dengan menaik-naikkan alisku dan berjalan makin mendekatinya yang perlahan mundur untuk menghindariku.

“ YA!! BUKAN SEPERTI ITU!! MAKSUDKU… ”

Aku meletakkan jariku diatas bibirnya. Matanya melirik jariku dengan takut. Dia sudah megambil ancang-ancang akan kabur jika aku berani melakukan lebih lagi, aku yakin itu. Tapi aku tidak bisa berhenti. Membuat pipinya merah seperti itu adalah kesenangan tersendiri untukku.

“ Shh, kau tidak perlu membantah. Kau memperhatikannya, kan? Mau lihat lagi, iya? ”

Dia menggeleng kemudian mendorongku sekuat tenaga, membuatku mundur beberapa langkah. Wajahnya benar-benar merah karena malu. Aku tertawa sekeras-kerasnya karena tidak tahan lagi. Benar-benar lucu. Wajahnya yang tadi panik berubah menjadi kesal.

“ TIDAK LUCU, KIM MYUNGSOO!! ”

Dia berjalan cepat meninggalkanku. Aku mengikutinya dari belakang. Wah, langkahnya besar juga, aku bahkan harus berlari kecil agar dapat mengejarnya.

“ Ya! Jangan marah.. aku kan hanya bercanda. Lagipula, tidak apa-apa jika kau memperhatikan lenganku. ” Kataku.

Dia membalikkan tubuhnya secara tiba-tiba. Membuatku berhenti mendadak dan hampir saja menabraknya.

“ Aku tidak memperhatikannya!! ”Teriaknya.

Reflek aku menutup telingaku. Setelah teriakannya selesai, aku mengintipnya dari mata kecilku tersayang. Wajahnya terlihat sangat kesal. Aku mengangkat kedua tanganku, menyerah, “ Oke oke, terserah. ”

Dia membalikkan badanya dan berjalan lagi, aku mengikutinya dari belakang dan bergumam pelan, “ Sudah memperhatikan tidak mengaku lagi.. ”

“ YA!! KIM MYUNGSOO, TUTUP MULUTMU!! ”

*****

Kami baru saja sampai di gedung tempat kami akan konser nanti malam untuk rehearsal. Beberapa artis terlihat berlalu lalang sejak tadi. Kami membungkuk untuk memberi salam setiap melewati senior-senior kami. Sedikit menyusahkan memang, tapi mood-ku sedang bagus jadi tidak masalahlah. Jiyeon bilang dia akan pergi setelah kami karena jadwal rehearsal untuk T-ara masih agak lama. Aku sudah menawarkannya untuk pergi denganku—dengan alasan yang aku karang-karang agar dia tidak tahu bahwa aku ingin dia bersamaku―tapi dia menolak. Aku jadi menyesal kenapa aku menggodanya tadi, padahal kalau saja aku tidak mengejeknya, dia pasti mau saja ikut denganku.

Kami masuk didalam ruang ganti dan mengganti kostum kami dengan kostum yang biasa kami gunakan untuk lagu Man In Love. Kami akan menyanyikan 3 lagu dalam satu kostum. Baguslah, tidak perlu repot ganti-ganti lagi. Setelah itu kami merapikan rambut kami dan lain-lainnya seperti biasa sebelum konser―aku membuat rambutku menjadi sedikit terang, tidak terlalu terlihat malah.

Setelah bagianku sudah selesai, aku duduk diatas sofa yang telah disediakan. Disini panas sekali dan sempit. Tapi biasanya Mnet Countdown sangat bagus dalam bagian penataan panggung, aku memang mengakui itu. Beberapa member sedang berbicara menghilangkan bosan, tapi aku tidak berminat ikut. Aku malah sibuk mengelap keringatku dengan tissue agar tidak membuat bedak tadi luntur dan membuat aku harus di bedaki dua kali. Jangan sampai.

“ Sekarang giliran kalian, ” Ucap seorang kru berbaju hitam dengan lambing Mnet di dadanya.

Kami berjalan melewati belakang panggung dan menyusun barisan. Panggungnya besar dan ada tangga untuk turun kepanggung. Beberapa kru memberikan kami arahan dari mana kami akan mulai. Aku, Sunggyu hyung dan Sungjong berdiri di bawah tangga dan selebihnya turun dari tempat yang berbeda. Setelah diberi aba-aba selanjutnya dan musik telah berbunyi, kami mulai berjalan ke panggung paling depan dan menyusun barisan untuk lagu be mine.

*****

Rehearsal kami sudah selesai dengan lagu terakhir Man In Love. Kami mengucapkan terimakasih pada kru dan berjalan turun dari sisi kanan panggung, kembali menuju ruang ganti. Manager membagikan kami botol minum sedangkan beberapa penata rias kami membantu mengelap keringat dan menghapus bedak kami. Astaga, disini panas sekali. aku benar-benar tidak tahan.

“ Myungsoo oppa? ”

Aku menoleh keasal suara. Oh, Dasom. Aku memberi isyarat pada penata rias kami untuk berhenti dan membiarkan aku mengurusnya sendiri. Penata rias itu mengangguk dan menjauh dari kami.

Dia berjalan kearahku dan tersenyum. Aku hanya menatapnya dengan dahi berkerut, “ Kenapa? ” Tanyaku terus terang.

Dia tersenyum salah tingkah. Memang pertanyaanku salah? Pertanyaan itu wajarkan?

“ Ah, tadi aku lewat terus gak sengaja ngeliat oppa, ”

Aku membulatkan mulutku lalu membuka tutup botol dan meminumnya lagi. Oppa, oppa, oppa. Kapan ya Jiyeon bisa memanggilku semanis itu?

“ Ohya, boleh aku minta nomor oppa? ”

Aku menatapnya lagi dengan dahi berkerut, cewek aneh, “ Buat apa? ”

Dia menggeleng, “ Yah, mungkin kita bisa ngobrol lagi lain kali.. ”

Aku tersenyum aneh dan menggaruk kepalaku, tidak mengerti. Tapi yasudahlah, berikan saja. Toh kalau dia nelfon atau sms, aku tidak akan memerdulikannya.

“ Oh yaudah, catat aja. ”

Dasom mengeluarkan ponselnya sedangkan aku membacakan nomor ponselku. Setelah itu dia menunduk dan mengucapkan terimakasih.

“ Kalau gitu aku pergi dulu ya oppa, sekali lagi makasih. ”

Aku tersenyum kecil kemudian dia pergi dengan langkah melompat-lompat. Kenapa dia bisa sesenang itu? Dia fans ku ya? Baru aku kasih nomor ponsel saja sudah seperti menang undian seratus juta.

Aku membalikkan badanku dan melihat Jiyeon dan Ji-hyun noona berdiri menatapku. Sejak kapan mereka disitu? Aku mengangkat tanganku untuk menyapanya, tapi Jiyeon malah menatapku sengit kemudian menarik tangan Ji-hyun noona. Dia kenapa? Ada yang salah lagi? Astaga kenapa semua wanita aneh hari ini?!

Jiyeon’s Side

Myungsoo sialan. Sialan. Sialan. Sialaaaaaaaaaannnnn.

Gara-gara dia aku jadi menekuk mukaku seperti nenek-nenek yang kehilangan cucu saat di red carpet tadi―salahku juga sih kenapa malah mengingat wajah Myungsoo yang menyebalkan itu saat di red carpet―dan sekarang aku harap tidak ada foto yang beredar dimana mukaku terlihat aneh karena melamun.

Awalnya tadi kami baru saja masuk kedalam gedung, tapi aku melihat gadis Cleopatra sedang berdiri seperti menunggu seseorang. Karena aku penasaran, aku menarik tangan Ji-hyun eonnie dan memperhatikannya―tidak, aku tidak menguntit kok, namanya juga penasaran―lalu tiba-tiba infinite datang berbondong-bondong dan tentu saja ada Myungsoo disana. Dan disanalah aku melihat gadis Cleopatra mengajak Myungsoo berbicara dan Myungsoo dengan tololnya mau-mau saja.

Seharian ini aku juga menghindari Myungsoo. Aku bahkan mengunci pintu waiting room kami biar dia tidak mendobrak masuk―tadi saja ada yang mendobrak pintu waiting room kami, dan aku yakin itu dia karena teriakan nyaringnya―aku memang kekanakan. Terserah saja, yang penting aku tidak ingin melihat muka jeleknya sekarang.

“ Kau masih marah pada Myungsoo? ”

Aku mengangguk. Ji-hyun eonnie meletakkan majalahnya dan menatapku serius.

“ Dia hanya mengobrol saja. Tidak ada salahnya. ”

Aku memajukan bibirku, kesal, “ Tapi eon… ”

“ Belajar untuk percaya dengannya, Jiyeon sayang. Kurangi sifat kekanakanmu. Kau tahu dia sayang sama kamu, kan? Lagipula ini masalah sepele. Kalau kau terus-terus seperti ini, kau yang akan menyesal. ”

Aku terdiam. Mungkin Ji-hyun eonnie benar. Aku terlalu kekanakan. Pemikiran ku terlalu pendek. Kalau dasom benar-benar menyukai myungsoo, untuk apa aku takut? Myungsoo bilang dia menyukaiku. Dia benar-benar menyukaiku. Aku harus percaya padanya.

Cepat-cepat aku membuka kunci waiting room kami dan menoleh kekiri kananku. Myungsoo sudah tidak ada. Aku menghela nafas kecewa. Dia sudah tidak ada.

“ Mencari L? ”

Aku menoleh dan menunduk member salam. Manager infinite―yang aku tidak tau namanya sampai sekarang―itu tersenyum.

“ Dia sedang perform. Kau ada waktu? Aku ingin bicara denganmu. ”

Aku hanya mengangguk lalu mengikutinya hingga kami sampai di depan sebuah kaca besar yang menampakkan pemandangan diluar yang masih ramai dengan fans yang tidak bisa masuk, “ Ada apa? ” Tanyaku penasaran.

“ Sejauh apa hubunganmu dengan L? ”

Dia menatapku serius, aku hanya menggigit bibir. Sejauh apa? Aku harus menjawab apa? Mana aku tahu hubungan kami sejauh apa. Tidak mungkin kan aku menceritakan padanya kalau Myungsoo suka menggangguku?

Akhirnya aku bertanya kembali, “ Maksudnya? ”

Dia hanya tertawa kecil, membuatku semakin bingung.

“ Tidak ada, aku lihat dia sangat menyukaimu. ”

Aku tersenyum kecil dan menunduk. Aku juga menyukainya. Lalu aku harus jawab apa selanjutnya? Ini membingungkan. Aku tidak suka basa-basi seperti ini.

“ Oh ya? ”

Hanya itu yang bisa aku katakan, karena sepertinya jika aku tidak berbicara apapun dia akan memperlambat mengatakan maksud sebenarnya.

Oh.

Apa dia ingin aku putus dengan Myungsoo? Apa perusahaannya menyuruhnya mengatakan hal ini padaku? Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Lihat saja. Tidak. Akan. Pernah.

“ Jangan berfikiran negatif, ” Dia menatapku sambil tersenyum lalu mukanya berubah menjadi serius, “ Aku hanya ingin mengingatkan, hati-hati dengan hubungan kalian. Kau tahu? Jika publik mengetahui ini, perusahaan tidak akan segan-segan mengambil tindakan. ”

Aku tertegun. Hati-hati. Aku jadi ingat beberapa bulan lalu saat kami baru saja berpacaran dan meminta izin pada perusahaan, kami berdua dibentak habis-habisan namun akhirnya kami diizinkan dengan syarat jangan sampai publik tahu. Rasanya aku ingin menangis kalau mengingat itu. Ah, itu sudah lewat, lupakan saja.

“ Aku mengerti, kami akan hati-hati. ”

Dia mengangguk, mukanya kembali santai, “ Aku suka L pacaran denganmu, ” aku menatapnya dengan dahi berkerut, menunggu kalimat selanjutnya, “ Paling tidak, dia bisa menghilangkan image L-nya dikehidupan biasa. Aku tidak tega melihat dia seperti itu terus. ”

Aku tertawa salah tingkah dan menatap higheels hitamku. Sungguh, dia diluar dugaan. Aku kira dia akan memarahiku atau apalah. Ternyata dia ingin bicara seperti itu. Benar-benar.

“ Yasudah, kau bisa kembali ke waiting room-mu. Sebentar lagi kalian akan perform. ”

Myungsoo’s Side

Aku melirik pintu waiting room kami yang baru saja terbuka, manager hyung masuk dan langsung duduk di sofa yang kosong. Aku kembali memainkan game diponselku karena bosan. Kami tidak akan langsung pulang ke hotel setelah perform, kami masih akan muncul untuk ending MCD.

“ Dari mana, hyung? ” Tanya Sunggyu-hyung.

“ Ngobrol dengan Jiyeon. ”

Mendengar nama gadis itu disebutkan, reflek aku langsung menoleh kearahnya, tidak perduli kalau orang yang aku mainkan tadi sudah mati tertabrak kereta.

“ Hyung bilang apa sama dia? ” Tanyaku tidak sabaran.

Manager hyung hanya mengangkat bahunya, “ Ngobrol pendek saja. ”

Aku mengerutkan dahiku karena kesal. Bisa-bisanya dia mogok bicara denganku sampai mengunci waiting room T-ara dan tega membuatku berteriak didepan waiting roomnya seperti orang gila tapi dia mau saja ngobrol dengan manager hyung. Dia itu kenapa sih? Masa marah hanya karena Dasom minta nomor ponselku?

“ Ohya, dia tadi mencarimu. ” Kata manager hyung-nya.

Mukaku langsung berubah dari mendung menjadi cerah berbinar, aku bisa merasakan itu, “ Yang benar? ”

Manager hyung hanya mengangguk. Dia mencariku? Berarti dia tidak marah lagi. Baguslah. Aku kembali menatap ponselku dan mengulang game tadi. Aku sudah tidak sabar untuk ending MCD.

******

Teriakan para fans memenuhi gendang telingaku. Kami semua melambaikan tangan kami dan membungkuk pada fans. Semua artis sudah selesai perform dan sekarang saatnya menyapa fans sebagai akhir dari acara ini.

Aku menoleh kekiri dan kanan, mencari gadis itu. Dimana dia? Panggung ini terlalu ramai dan agak gelap. Sangat sulit menemukannya diantara puluhan artis yang hadir.

“ Jiyeon disebelah kananmu, jangan terlalu kelihatan sedang mencarinya. ” Bisik Hoya hyung yang berdiri didekatku.

Aku mengangguk mengerti dan melirik sebelah kananku dengan ujung mataku tanpa berkata apapun lagi. Dia terlihat berbicara dengan member T-ara yang lain dan tertawa. Oh. Baguslah.

Sungyeol hyung dan Sungjong berjalan menuju panggung bagian belakang sedangkan aku menahan tangan Hoya hyung untuk menungguku. Aku akan menunggu Jiyeon jalan ke panggung belakang, kemudian aku bisa berbicara padanya.

Aku melihat Jiyeon dan member T-ara lainnya berjalan melewati kami menuju ke bagian belakang panggung. Cepat-cepat aku menarik tangan Hoya hyung dan Dongwoo hyung untuk ikut denganku.

“ Hey, kenapa mencariku? Sudah tidak marah? ”

Aku berbisik pada Jiyeon yang berjalan didepanku. Dia menoleh dan menatapku dengan kaget. Dia hanya menggeleng dan meneruskan langkahnya.

Saat kami sampai di panggung bagian belakang, aku berdiri dibelakang member lainnya agar tidak terlalu terlihat. Aku menoleh kekanan dan ke kiri, kemana Jiyeon tadi? Tepat dikiri kami, 4 member sistar berdiri. Oh ya tuhan, kenapa mereka bisa berdiri disini? Kenapa tidak ditempat lain saja? Bisa-bisa Jiyeon marah lagi padaku.

Aku menoleh agak kebelakang kiriku dan kembali menatap lurus kedepan. Oh ternyata dia disana. Kenapa mereka tidak berdiri didepan saja tadi? Jadi itu lebih mudah.

Jiyeon’s Side

Aku menatap punggung Myungsoo dan menghela nafas. Dia berani sekali menyapaku diatas panggung. Gara-gara Manager infinite yang menyuruhku untuk hati-hati tadi, aku jadi takut sendiri hingga hampir sakit jantung saat mendengar bisikan Myungsoo dari belakangku. Sungguh.

Aku kembali tersenyum sambil menunduk beberapa kali untuk member hormat pada fans dan beberapa senior kami yang lewat. Ternyata sudah boleh keluar dari panggung, baguslah, rasanya aku lelah sekali.

Cepat-cepat aku menarik Soyeon eonnie dan yang lainnya untuk menuju ke backstage lalu pulang ke hotel. Aku ingin tidur rasanya. Setelah memberikan salam terakhir pada fans, kami berlari melewati backstage menuju waiting room kami.

Aku mengganti kostum perform kami dengan sweater lengan panjang dan celana jeans panjang karena suhu ditaiwan pada malam hari cukup dingin walaupun pada siang harinya panas, aku tidak akan tahan jika memakai celana pendek. Setelah itu aku mengganti high heelsku dengan sandal bulu yang selalu aku bawa kemanapun dan duduk di sofa bersama member lainnya.

“ Jiyeon, ayo kita jalan-jalan! ”

Aku―tidak, kami semua―menoleh kaget pada Myungsoo yang sudah muncul didepan pintu kami. Aku menatapnya kesal, “ Bisa diketuk dulu, kan? Dasar tidak sopan. ”

Dia hanya terkekeh dan menatap kami semua satu persatu, “ Hai noona-noona cantik, Jiyeonnya aku pinjam, ya? ”

Aku memasang tampang ingin muntah. Sedangkan Soyeon eonnie hanya tertawa, “ Bawa saja, asal kau kembalikan dengan utuh. ”

Myungsoo mengedipkan mata sebelahnya, “ Tenang saja, ” lalu dia beralih menatapku, “ Ayo kita pergi.. ”

Aku menatapnya sengit namun tetap berjalan mendekatinya, setelah mengambil topi yang entah milik siapa dari atas meja rias kami, “ Wajahmu jangan seperti om-om genit begitu, mengerikan. ”

Dia melirikku sinis, “ Aku tampan begini dibilang om genit, dasar buta. ”

Aku hanya mencibir. Oh iya. Kenapa aku lupa? Dia ingin membawaku kemana malam-malam begini? Sudah hampir jam 10. Yang benar saja? Baru saja aku ingin bertanya, dia menarikku kedalam waiting room infinite dan mendudukkan ku diatas sofa.

“ Tunggu disini, aku akan ganti baju sebentar saja. ”

Baru saja aku ingin bertanya, dia sudah pergi begitu saja. Aish, kenapa otakku begitu lambat malam ini?

Dongwoo oppa yang duduk di sofa tepat didepanku, menatapku bingung,“ Kalian mau pergi kemana malam-malam begini? ”

Aku hanya mengangkat bahu, tidak tahu. Sedangkan Dongwoo oppa masih menatapku dengan dahi mengkerut hingga akhirnya Hoya oppa duduk disebelahnya sehingga dia menemukan temannya untuk bercerita.

“ Ayo, ”

Myungsoo menarik tanganku untuk berdiri. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan jaket hitam, baju kaus hitam, topi hitam dan semuanya serba hitam yang membuatnya menjadi terlihat seperti teroris.

“ Hyung kami pergi dulu, nanti ke hotel duluan saja. ” Pamitnya.

“ Mau kemana? ” Tanya Sunggyu oppa yang muncul tiba-tiba.

“ Jalan-jalan biasa. ”

Setelah menjawab itu, kami keluar dari waiting room dan berjalan menyusuri lorong panjang menuju pintu darurat dibelakang dengan menunduk. Semoga saja tidak ada wartawan yang berlalu lalang disini, dan sepertinya memang sudah tidak ada. Hanya ada beberapa artis dan managernya, itu pun tidak banyak. Jadi dia sudah menyusun jadwal pengganti malam kemarin?

“ Kita tunggu sebentar, diluar masih ramai. ” Kataku. Myungsoo menoleh dan mengangguk setuju. Kami berdua berdiri didekat pintu itu, sesekali Myungsoo mengintip keluar untuk melihat keadaan.

“ Kita tidak bisa ke menara taipe soalnya agak jauh dengan hotel, tidak apa-apakan? ” Tanyanya saat kami berdua berjongkok dibelakang pintu karena lelah berdiri terlalu lama.

Aku mengangkat bahu, “ Tidak masalah, ” Jawabku, “ Jadi kita mau kemana? ”

Myungsoo menatapku bersemangat, “ Kita akan ke shilin. Kudengar makanannya enak. ”

Aku melompat karena terlalu senang lalu bertepuk tangan, “ Benarkah? Aku juga ingin coba makanannya, kalau begitu ayo cepat. ” Kataku sambil menarik tangannya.

Kami berdua berdiri didekat pintu darurat sambil menatap kesekeliling, aman. Sudah tidak ada orang lagi. Sebenarnya jalan dibelakang memang tidak ramai dilewati orang tadi, tapi kami ingin menunggunya hingga benar-benar tidak ada orang lagi agar lebih aman.

Kami berlari kecil menuju gerbang yang terbuka sedikit menuju pinggir jalan. Setelah itu Myungsoo mengulurkan tangannya untuk menyetop taksi, “ Qǐng shílín. ”

Myungsoo’s Side.

“ Kau bisa berbahasa mandarin? ” Tanya Jiyeon dengan ekspresi benar-benar terkejut. Aku berdecak. Memang dia kira aku sebodoh itu?

“ Bisa sedikit-sedikit. ” Jawabku. Dia membulatkan mulutnya dan menatap jendela dengan tatapan bersemangat. Aku tidak menyangka dia bisa sesenang itu mendengar shilin. Aku fikir dia akan kecewa karena tidak bisa ke menara taipe.

“ Nǐ niánqīng fūfù pǐpèi. Yǎ dù mìyuè ma?(Kalian pasangan muda yang serasi. Sedang bulan madu, ya?) ”

Aku mengernyitkan dahi, takut salah mengartikan. Dia bilang kami sudah menikah dan sedang bulan madu? Jiyeon yang juga mendengar itu menatapku dengan dahi mengernyit. Sepertinya aku tidak salah dengar. Aku hanya tersenyum.

“ Zhēnshí de. Nǐ zěnme néng zhīdào ne?(Benar. Bagaimana anda bisa tau?) ” Jawabku iseng.

Lelaki itu hanya tertawa pendek, “ Jiànguò. Nǐ de qīzi hěn piàoliang.(Sudah terlihat. Istri anda sangat cantik.) ”

Aku ikut tersenyum, “ Shì de, wǒ de qīzi shì měilì de. Xièxiè.(Ya, istriku memang cantik. Terimakasih.) ”

Aku melirik Jiyeon yang menatapku dengan dahi berkerut, aku hanya pura-pura tidak mengerti dengan tatapannya itu.

“ Dia bilang apa? ” Tanyanya.

Aku hanya menoleh sebentar dan tersenyum kecil, “ Dia bilang kita sudah menikah dan sedang bulan madu. ”

Dia membulatkan matanya hingga matanya yang besar itu menjadi ingin keluar kemudian dia memukul bahuku sekeras mungkin. Aku meringis kecil. Tenaganya memang tidak bisa diremehkan.

“ Kenapa kau bilang seperti itu? ”

Aku berdecak kesal kemudian meliriknya sinis, “ Memang kenapa? Kau memang pasti menikah denganku nanti. Memang dengan siapa lagi? ”

Dia terdiam, menunduk. Pasti dia sedang malu sekarang. Dasar wanita.

Tanpa aku duga dia menaikkan kepalanya dan menatapku dengan mata yang disipitkan, “ Kau ingin menikah denganku, ya? Ayo mengaku.. ”

Aku tergagap. Bingung harus menjawab apa, sial. Aku lupa kalau Jiyeon kadang-kadang bukan seperti wanita biasa, “ Tidak. Memang siapa yang mau denganmu? Tidak ada. ”

Dia memajukan bibirnya kemudian memukul kepalaku.

“ YA!! Kau… ”

“ Wǒmen zài zhèlǐ, xiānshēng.(Kita sudah sampai, tuan.) ”

Aku menghentikan kalimatku kemudian melirik Jiyeon yang malah mengulurkan lidahnya. Aku mengeluarkan dompetku dan memberi supir taksi itu uang setelah menanyakan berapa biayanya. Setelah mengucapkan terimakasih, kami berdua keluar dari taksi dan berjalan beriringan masuk kedalam pasar malam shilin yang masih ramai dengan pengunjung. Aku melirik jam tanganku, masih setengah 11 malam. Pantas saja masih ramai. Aku dengar jam 11 malam adalah puncak akhir dari keramaian pasar malam ini.

“ Kita mulai dari mana? ” Tanyaku sambil menoleh kearahnya.

Jiyeon menatap sekelilingnya dengan menyipit, memilih makanan mana yang akan dicobanya pertama kali, “ Ayo kita coba Oyster Omelette, katanya itu makanan paling enak disini. ”

Aku mengangguk menyetujuinya. Dia berjalan didepanku sambil menarik tanganku dengan semangat. Aku mendapat ide untuk mengganti jadwal kencan kami yang seharusnya kemarin menjadi sekarang saat aku berada di Red Carpet dan ide itu membuatku senyum-senyum sendiri. Aku bahkan sudah bertanya dengan Hoya hyung tentang tempat ini. katanya pasar malam Shilin adalah salah satu pasar malam terbesar dengan makanan terenak. Karena setahuku jiyeon suka makan, jadi aku membawanya kesini agar dia bisa mencoba semuanya. Dan rencana awalnya, aku ingin mencoba naik MRT menuju stasiun jiantan yang dekat dengan pasar ini. Tapi karena ini sudah terlalu malam jadi aku memilih naik taksi saja agar lebih aman.

Setelah menemukan kios yang menjual makanan yang disebut Jiyeon tadi, kami berdiri didepan seorang ibu-ibu yang memasaknya. Aku melirik panci yang berisi makanan yang disebut Oyster Omelette itu. Bentuknya seperti dadar telur dengan tiram didalamnya. Ibu-ibu itu menatap Jiyeon, jiyeon menunjukkan dua jarinya kemudian ia menarikku duduk di kursi yang sengaja disediakan disana.

“ Kau tidak takut kalau kita akan ketahuan? ” Tanya tiba-tiba.

Aku mengangkat bahuku, “ Tidak akan ada yang mengenali kita disini. Lagipula siapa yang sangka ada artis ditempat seperti ini malam-malam? ”

“ Benar juga sih, ” Gumamnya, “ Aku hanya takut saja. ”

aku mengerutkan dahiku, khawatir, “ Takut? Apa manager hyung mengatakan sesuatu? ”

dia menggeleng lalu tersenyum ringan, “ Tidak ada. Hanya mengingatkan untuk lebih hati-hati. ”

aku menyipitkan mataku, tidak percaya, “ Yang benar? ”

Dia mengangguk pasti.  Setelah itu ibu-ibu tadi datang dan menyerahkan dua piring berisi Oyster Omelette. Aku menatapnya ngeri. Sedangkan gadis itu malah memakannya dengan semangat. Aku menoleh, “ Bagaimana rasanya? ”

Dia mengangguk lalu mengacungkan jempolnya, “ Enak. Coba saja. ”

Aku masih menatapnya ngeri tapi karena melihat Jiyeon yang makan dengan lahap, aku jadi penasaran. Jadi aku coba saja dan ternyata rasanya memang tidak buruk. Enak malah.

“ Bagaimana? Enakkan? ”

Aku mengangguk, “ Tidak buruk. ”

Jiyeon memajukan bibirnya, kecewa dengan jawabanku namun setelah itu dia kembali memakan-makanannya. Setelah piring kami sama-sama kosong, aku memberikan beberapa lembar uang pada ibu tadi dan pergi setelah mengucapkan terimakasih.

“ Kau mau makan apa lagi? ” Tanyaku.

Dia berfikir. Lalu menggeleng tidak tahu. Aku melihat ke sekitar kami kemudian menemukan sebuah papan bertuliskan ‘stingky tofu’.

“ Ayo kita coba stingky tofu! ” Ajakku.

“ Stingky tofu? Tahu bau? Tidak mau ah. ” Tolakknya.

Aku berdecak, “ Kita coba saja, ”

Dia akhirnya menurut. Aku menarik tangannya menuju kios itu dan memesan 2 buah. Taklama kemudian penjual itu memberikan dua buah tahu yang masih panas dan dibungkus dengan kertas. Ada seperti selai kecoklatan―yang baru ku ketahui ternyata itu bukan selai coklat―diatasnya.

Aku memberikan satu pada Jiyeon dan dia mendekatkan makanan itu pada hidungnya. “ Tidak bau aneh. Hanya ada seperti bau-bau menyengat. ”

Aku tertawa, “ Memang kau kira dia bau apa? Bau sampah? ”

“ Ya, siapa tau? ”

Aku hanya menggeleng kemudian menggigit tahu itu sedikit. Rasanya enak. Aku lebih suka stingky tofu ini daripada Oyster tadi. Aku melirik Jiyeon, sepertinya dia juga suka.

“ Enak? ” Tanyaku. Dia hanya mengangguk bersemangat.

Setelah makanan itu habis, kami kembali berjalan-jalan. Jiyeon menarikku ke kios-kios yang menjual pernak-pernik. Iseng, aku mengubah tangannya yang menarikku menjadi tangan kami yang saling bergandengan. Aku tersenyum sendiri, dia tidak sadar karena terlalu semangat melihat-lihat. Kami banyak kemajuan, lihat saja, aku akan memamerkan ini pada Sunggyu-hyung.

“ Ini lucu, kan? ”

Aku menoleh dan menatap cincin yang ada ditangan Jiyeon. Ia mencoba cincin itu di jari manisnya dan cincin itu masuk dengan pas. Dia tertawa dan menunjukkannya padaku. Aku hanya menggeleng tidak percaya dengan sikap kekanakannya yang suka muncul mendadak itu.

“ Yǒu qínglǚ jièzhǐ. Piányi, wǒ huì gěi nǐ tèbié zhékòu.(Ini adalah cincin pasangan. Murah saja, aku akan member diskon khusus untuk kalian.) ” Kata ibu-ibu yang menjaga kios itu.

Jiyeon menatapku tidak mengerti.

“ Itu cincin pasangan. Ibu itu bilang dia akan member diskon untuk kita.” Jelasku. Dia mengangguk dengan mata berbinar-binar.

“ Mana pasangannya? ” Tanyanya pada ibu itu dengan bahasa korea.

Dasar bodoh. Ibu itu mana mungkin mengerti. Baru saja aku akan menerjemahkannya ke bahasa mandarin, ibu itu sudah memberikan cincin yang serupa dengan yang dipakainya tapi bedanya yang itu untuk laki-laki.

Aku menatap ibu itu takjub. Dia mengerti bahasa korea atau hanya menebak saja?

“ Myungsoo, aku akan membayarkan yang ini untukmu. Kau yang membayarkan punyaku, oke? ” Katanya.

Aku memutar bola mataku, “ Yatuhan, ini gaya pacaran anak sekolah, Jiyeon. ”

Dia menatapku kesal lalu menggeleng, “ Bayar saja, dasar berisik. ”

Aku bertanya pada ibu itu berapa harganya kemudian mengeluarkan uangku dan menggabungkannya dengan uang yang diberikan Jiyeon sebelum memberikannya pada ibu itu.

“Gǎnxiè jǐ rén zhékòu.(Terimakasih sudah memberi diskon) ” Ucapku basa-basi.

Ibu itu hanya menggerakkan tangannya seolah mengatakan tidak apa-apa, “ Méiyǒu wèntí de. Nǐmen ràng wǒ jìde wǒ niánqīng de shíhou kàn qǐlái hěn héxié.(Tidak masalah. Melihat kalian sangat serasi membuatku ingat saat aku muda.) ”

Aku hanya tertawa sedangkan Jiyeon melirikku kemudian tersenyum pada ibu itu. Kami berdua menunduk sebelum meninggalkan tempat itu.

Aku menggandeng tangannya lagi, dia menatapku bingung. Aku hanya menatap ke jalanan, seolah tidak terjadi apa-apa. Kami berjalan melewati kios-kios yang menjual baju-baju dan pernak-pernik yang Jiyeon teriakki lucu sejak tadi sedangkan aku hanya menggeleng-geleng, bingung dengan sikap kekanakannya.

Kemudian dia menarikku kesalah satu kios kecil yang menjual minuman yang ku ketahui dari bacaannya bernama douhua. Ia memesan dua dan langsung membayarnya tanpa meminta persetujuan dariku. Taklama kemudian penjual itu memberikan dua buah gelas plastik berisi minuman dengan bola-bola yang sepertinya dibuat dari tepung.

Jiyeon menarikku duduk disalah satu bangku yang tidak jauh dari tempat kami berdiri.

“ Ini cincinmu. ” Kata jiyeon sambil menyerahkan cincin tadi.

Aku menatapnya dan cincin itu bergantian, “ Aku harus memakai ini terus? ”

Dia menggeleng dan menatap kedepan, “ Tidak, ” Balasnya, dia menoleh kearahku lagi dan tersenyum, “ Tentu saja tidak. Kita pasti akan ketahuan oleh netizen kalau memakainya berdua. Kau hanya perlu menyimpannya agar tidak hilang. ” Sambungnya.

Aku menangkap sesuatu yang tidak beres dari cara bicaranya. Dia kecewa. Dia memaksakan dirinya untuk tersenyum. Aku tidak tahu kenapa dia kecewa. Aku hanya bertanya apa aku harus memakainya terus atau tidak. Apa itu salah? Aku mencoba mengulang-ngulang jawabannya dalam otak-otakku.

Oh. Tololnya.

Aku mengutuk kebodohanku yang keterlaluan. Aku meliriknya dengan ujung mataku, ia menatap kosong lurus kedepan. Aku tidak tahu harus menenangkannya dengan cara apa. Oh, yatuhan kenapa kau memberi kemampuan otak yang serendah ini padaku?

Aku meletakkan minumanku disebelah tempat dudukku. Aku meliriknya lagi, dia masih saja melamun. Aku menghela nafas kemudian memelukknya agak ragu-ragu, takut dengan penolakan darinya. Bisa aku rasakan respon tubuhnya yang terkejut tapi dia tidak menolak dan juga tidak membalasnya.

“ Kau…kenapa? ” Suaranya bergetar. Aku memejamkan mataku, merasa sangat bersalah.

Aku makin mengeratkan pelukanku, “ Maafkan aku. ”

Jiyeon’s Side.

“ Maafkan aku. ”

Aku diam saja. Tidak tahu harus merespon dengan kalimat apapun. Dengan ragu-ragu, aku meletakkan tanganku dipunggungnya, menggerakkannya naik turun.

Ia menghela nafas, nafasnya yang hangat terasa di telingaku. Entah kenapa, aku menjadi merasa bersalah karena membuatnya seperti ini. tapi jujur saja, aku sangat sangat terkejut dengan pelukannya yang tiba-tiba. Ini pertama kalinya, sejak kami berhubungan dan itu membuatku merasa…yah, entahlah.

Aku meletakkan daguku dibahunya agar lebih rileks, terus terang saja, perlakuannya yang seperti ini benar-benar diluar dugaan, “ Kau tidak salah apapun. ”

Dia menggeleng, “ Kau tidak menyesalkan pacaran denganku? ”

Aku tersentak, lalu cepat-cepat menggeleng, “ Kau bicara apa sih? Jangan mengatakan hal-hal tidak berguna. Dasar bodoh, ”

Dia diam saja. Aku masih menggerakkan tanganku naik turun di punggungnya. Sejenak kami berdua diam saja. Tidak ada kalimat sedikitpun, bahkan bunyi nafaspun tidak.

“ Jangan pernah mencoba pergi dariku. ”

Aku tersentak lagi dengan kalimatnya. Dia memang penuh kejutan. Aku hanya terdiam, tidak tau harus berkata apa. Jangan pernah mencoba pergi dariku. Aku mengulang-ngulang kalimat itu didalam otakku. Membuatku senang berkali-kali lipat.

Dia melepaskan pelukannya dan menatapku lalu tersenyum. Manis sekali. ah tuhan, jangan buat aku seperti gadis remaja yang baru jatuh cinta lagi. Aku bisa merasakan pipiku menghangat sekarang, mengalahkan suhu dingin malam hari di Taiwan yang bahkan tidak bisa dihalau dengan sweaterku.

Aku menunduk. Berusaha agar si Myungsoo bodoh tidak melihatnya.

“ Mana jarimu? ” Tanyanya.

Tanpa persetujuan dariku, dia menarik tangan kananku dan memasukkan cincin yang di bayarnya tadi―membuatku tidak sengaja menghayal kalau kami sedang menikah―kemudian dia tersenyum puas lalu mengulurkan tangannya.

Aku tertawa kecil dan memasukkan cincin ke jarinya. Kami benar-benar seperti orang yang sedang bertunangan, sungguh.

“ Ohya, kenapa kau mendadak tidak marah lagi denganku? ” Tanyanya.

Aku mengernyit. Oh.. maksudnya gara-gara dasom?

Aku tertawa lagi, “ Ji-hyun eonnie bilang, aku terlalu kekanakan kalau marah hanya karena kau mengobrol dengan Dasom. Dan yah setelah kufikir-fikir dia benar juga. ”

Bludarsojidjwhd.

Aku menutup mulutku cepat. Sial, kenapa aku jadi sejujur ini? aku memukul-mukul mulutku berkali-kali. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Myungsoo tertawa penuh kemenangan. Membuatku berkali-kali lipat menyesal dengan kebodohanku. Kenapa aku malah mengaku kalau aku sedang cemburu? Bodohnya.

“ Jadi kau benar-benar marah karena hal itu? ” Tanya Myungsoo sambil tak berhenti menertawaiku. Sialan.

Aku hanya diam saja. Meminum minumanku yang sebentar lagi akan habis dan mengacuhkan Myungsoo yang terus saja menggodaku.

“ Kau mau tahu dia bicara apa denganku? ” Tawarnya.

Aku menatapnya penuh minat namun cepat-cepat aku mengganti ekspresiku, “ Tidak perlu. ”

“ Aku anggap itu jawabannya iya, ” Katanya, aku menoleh, “ Dia meminta nomor ponselku. Itu saja. ”

Itu saja? Itu berarti banyak, bodoh! Aku mengutuk kebodohan Myungsoo yang seperti tiada akhir. Bisa-bisanya ia berkata seperti itu. Aku menaikkan alisku, bertanya pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu aku tanyakan, “ Apa kau memberinya? ”

Dia mengangguk. “ Aku fikir itu tidak masalah. Ya kan? ”

Aku memutar bola mataku kesal lalu melambaikan tanganku, terserah saja. Dia memang bodoh.

“ Tenang saja, aku tidak akan mengangkat telfonnya kok. ” Lanjutnya.

Aku masih menatapnya kesal, “ Kalau kau mau angkat juga tidak apa-apa. Aku tidak perduli. ”

Tiba-tiba ponsel Myungsoo berdering. Aku membelalak kaget, cepat-cepat melirik siapa penelfonnya. Myungsoo menatapku dengan tatapan mengejek, “ Angkat? ”

Aku mendengus tidak perduli dan menatap kelain arah. Sialan, kenapa si gadis Cleopatra itu muncul disaat yang sangat tepat? Semoga saja ini bukan pertanda dia akan panjang umur.

“ Hal… ”

“ YA! ”

Reflek aku menarik ponsel Myungsoo dan melihat nomor yang masih belum disimpannya itu. Menyebalkan. Bisa-bisanya dia mengangkat telfon Cleopatra saat kami jelas-jelas sedang kencan.

” Oppa?

” YA! JANGAN TELFON DIA LAGII!! ”

********

Terlalu panjang dan agak membosankan ya? Endingnya gak gantungkan? Aku sengaja bikin sampai disitu aja, soalnya kalau diteruskan gak tau sampai halaman berapa. Hehehe jangan lupa tinggalin komentar^^

73 thoughts on “Behind The Scene Of Myungyeon (Chapter 4)

  1. annyeong thorrr!!!
    mian ya baru komen di part ini
    soalnya part2 sblmnya baca lwat hp,,,
    ya,,tahu lah biasa bc alwat hp itu…..
    heheheh
    nexxtttttt……^^

  2. eits,, dasom tt kan?
    Hahahah spot jantung tt dasom diteriakin yeojachingunya myungsoo hahahahhahahahah xD
    hei dasom umurnya berapa? Kekekke
    lanjutannya ditunggu yaa…
    Ah kamu udh denger rumor myungyeon WGM belum? Tapi masih rumor.. Kekek..

    • iya langsung masuk rumah sakit tuh wkwkwk. Eh hari ini dasom ulang tahun bukan? dia kelahiran 93 sama kayak jiyeon.
      Sip sip. Ah beneran? Aku malah denger katanya sebenernya myungsoo mau di pasangin wgm sama naeun tapi ditolak. Jadi deh naeun sama taemin-_- kalau emang iya, kita doa aja ya. Tapi kemungkinan besar sih enggak><

      • ulang tahu dasom oeeni chukkae kekekek xD
        ah iya ttg penolakan myungsoo emang bener yg sama naeun.. Habis tt ada umor lagi..
        Pihak mbc lagi lihat2 jiyeon katanya jiyeon cocok jadi istri, terus ada lagi rumor blg pihak wooliment dapat undangan gitu terus katanya ada undangan yg gg bisa ditolak buat L katanya undangan WGM..
        Hmm.. Ya iyasih sepertinya gg mungkin kekek..
        Keundae berdo’a aja kekeke..

      • Emang beneran ya? Wkwkwk. Sian banget. Aku pertama mikirnya myungsoo beneran punya pacar karna nolak wgm. Tapi kalau dia malah nerima kalau sama jiyeon, bisa dicurigai mereka beneran pacaranXD
        Serius? Aku malah dikasih tau kalau L emang selalu nolak wgm._.liat dimana?

      • Serius itu thor rumor nya ?? Semoga aja beneran deh aminnnn kalo beneran gak bakal bosen nonton myungyeon baca ff nya aja gak pernah bosen apa lagi asli nya🙂

  3. dasom centil juga yah,, pake minta nmor telfon myungsoo lagi..
    ceritanya ga membosankan kok thor,, lucu iya aku sampe senyum” sendiri bacanya hehe

    ditunggu chapt selanjutnya thor.. Hwaitingg!!!😉

  4. Huwaaaa seruuu saeng bagus kok capa bilang membosankan q senyum2 sendiri bacanya heheheeee MyungYeon bener2 kyk ABG lagi kasmaran q jd bayangin apa di dunia nyata mereka kyk Gitu .kan L emg gk tau cara merayu Yeoja kekekeeee pokoknya daebak lebih panjang LG juga gk pa2

    Saeng ini kan ngikutin jadwal mereka berarti lanjut trus ya jgn dtamatin kekekeeee

    Part selanjutnya dtnggu fighting

    • Beneraan eon? Bagus deh. Aku kira bakalan ngebosanin>< aku juga udah ngebayangin mereka, semoga aja mereka beneran kayak gitu hehehe.

      Kalau buat tamat sih emang enggak eon.tapi aku takutnya kalau chapternya kebanyakan, readers pada bosan. Aku juga takutnya bosan terus kehabisan ide._. Tapi semoga aja enggak deh. Ditunggu aja ya eon^^

      • Q gak akan pernah bosen saeng lo ff MyungYeon mau sampe part 100 q juga bkl baca kok
        kita udh terkena kanker MyungYeon stadium akhr ya jadi parah hehee
        Pdhl q dulu lbh suka myungzy tapi setelah lihat MyungYeon pindah haluan hahahaaaa

        Dan q lebih suka critany yg kyk gini dari pada nanggis2 huhuuu bikin melow

        Kemarin aj q bc ff u pe senyum2 sendiri
        SamA ponsel hahaha tetap semangat ya sekali2 bikin OS juga y

      • Hahaha aku juga. Pertamanya aku gak suka malah kalau L sama cewek mana pun. Tapi gak tau kenapa ngeliat dia sama jiyeon rasanya cocok aja. Dari jenis tatapan mereka udah sama wkwkwk.
        Hehehe bags deh kalau eonnie suka. Bikin OS? Maksudnya eon?><

      • Oneshoot
        Q juga sukanya lihat L sama jiyi lo ada ff L sama Yeoja laen q gk bakal baca heheee entah mengapa lihat mereka kykny cocok walau jarang ada moment

      • Aku agak susah buat one shoot eon. Gak tau kenapaa><
        Aku juga gitu. Oh ya eon, aku ada liat foto myungsoo sama jiyeon. Jiyeon lagi bawa kue atau apa gitu. Rame sih. Itu diacara apa ya eon?:O

      • Itu acara amal saeng tahun 2011 t-ara dan infinite bareng kasih bantuan buat anak2 penyandang cacat
        trus maen bareng mereka,
        tp gk da moment MyungYeon cuma pas Jiyeon bawa kue L disampingnya itu aj lihat aj videonya diyoutube

        Emg kenapa gk bisa bikin oneshoot apa Karna cuma satu part ??

        Tp y udah gk pa2 .heheeee

  5. Muahaha akhirnya yg ditunggu muncul jga xDD
    Itu Tante Dasom mengganggu :)))))) ntar next partnya ada adegan kissiu ya thor(?)ngik.
    Keren ff yg ini thor<3 brhrap ini ff knyataannya myungYeon rl/aminnn xD
    Keep writing thor! ^_^ dtunggi next partnya
    Panjang smpe satu hari bacanya jga ngga apa apa xDD

  6. Gilaaaa ini ff yang paling seru and romantis
    Di tunggu lanjutan nya yang lebih romantissss
    Jangan lama lama post nya okeee

  7. kyaaa!!!! “ Jangan pernah mencoba pergi dariku. ”
    sumpah.. myungsoo bisa tiba2 sweet banget!!!! a a a a a aaa…
    aigoo.. benar, myungsoo dan jiyeon sudah banyak kemajuan kkk~
    gak sabar liat jiyeon buka hadiah myungsoo haha
    tp myungsoo jadi angkat telp.nya cleopatra?
    trus jiyeon teriak?! trus cleopatra bisa curiga dong?!! aigoo gawat!!!

    • Myungsoo belajar jadi sweet gitu dari aku wkwkXD aku fikir hadiahnya udah jelas bakal apa, tapi di chapter selanjutnya pasti ada tentang hadiah kok^^
      Gakpapa tuh dia curiga, biarin aja hahaha

  8. Keren thor dtnggu next part nya
    Kaya benaran aja. Cerita sumpah ngakak sendiribcanya ..semogasaja mereka ber2 jd masuk WGM benaran bukan rumor …ç

  9. waaaaaah akhirnya aku nemu ff myungyeon yg merekanya emang member t ara sama infinite. lucuuu bgt lagi ceritanyaaa. haaah seneengg deh. lanjutin teruss yaa. jangan berenti di tengaah jalan. bikin ff myungyeo terus ya yg banyak. hehehehe

  10. wahhh…. akhir.a ff yg ditunggu2 muncul jg ^_^
    penasaran sm hadiah yg dikasih myungsoo sm jiyeon.
    myungyeon makin so sweet dech… #like

    ditunggu part selanjutnya…❤

  11. aiiiih… myung bisa tiba-tiba romantis begitu ya?
    aah, suka banget sama ceritanya thor😄
    seru dan ga ngebosenin…😀
    berharap myungyeon beneran kayak gitu.. amiin u,u
    next nya ditunggu thor😀

  12. hai chingu,,,
    aku readers baru
    suka bgt ma ff ni, keren banget kata2 and bahasa yg kmu pake’!!
    suer deh pgn bgt bisa nulis ff dgn bhasa yg easy going tp feelnya dapat kyak gini..
    dan.. yeah you’re right! harusnya myungyeon shipper yang makin meyebar!!!
    #Hidup Myungyeon!!🙂

    Btw aku juga pengen lihat lngsung wajah setan dan tawa iblisnya si myungsoo! Hah!
    Dan aku juga selalu berdoa semoga aja si tua Kwangsoo itu cepet end hidupnya!#OOPS!!

    • Hai jugaa^^ beneran? Awalnya aku kira bahasa aku bakal weird banget soalnya berantakan gitu wkwk. Makasi yaa^^
      Beneeer, hudup myungyeon dan semoga kwangsoo cepet end ( ´̯ ̮`̯) thanks udah comment^^

  13. Waah author!!
    Kecce badai(?) mah ini fanfict!😀
    pokoknya aku akan terus nunggu yah…

    Myungyeon cocok sekali>.<
    aku juga fans nya L, tapi ntah kenapa gk suka klo dia di pairingin sama cewek lain selain jiyeon *curcol
    apalagi klo sama krystal, langsung berubah mood saya *curcol lagi

    okesip, Fighting! Fighting! Fighting!😀

    • Lanjutan yah? Wah… *lirik laptop*
      Mungkin agak lama sih, tapi ditunggu ajaa><
      Wah sama sama. Aku juga gak mau L sama cewek lain kecuali jiyeon dan aku *eh.

  14. hahahahahahaha lucu banget itu si jiyeon
    waaaah myungsoo udah berani pegang-pegang nih kemajuan
    lanjutin trussss myungsoo-ah hahahahaha
    tinggal kiss nya myungsoo
    sering-sering ya skinsipnya wkwkwkwk reader suka ni
    authornim ditunggu ni chapter selanjutnya
    hwaiting xoxo

  15. kyaaaaaa
    jiyeon cemburu
    hahahahaha
    knpa jiyeon terus yg cemburu y ???
    kpan myungsoo’y cemburu
    penasaran sama tingkah konyol mrka
    next

  16. Ahh,ffnya makin tambah seru dan tambah keren. Ff ini membuat ku kebayang klau beneran terjd nyata gmn yah? Tp wkt di mcd ada momennya lho,myung slalu melht ke jiyeon,ku taunya dr fanpage myungyeon di fb😀

  17. Akhr’nya Sweet moment MyungYeon couple ada juga tapi akhr’nya Dasom malah gangguin…😄

    d’tunggu next part’nya…😉

  18. Ini emang panjang tapi gak membosankan kok. Serius. Keren malah.
    Wuhuuuu akhirnya myungyeon udah sadar kalo saling cinta…..
    Tapi kasian jiyeonnya, dia agak jadi khawatir kalo lagi bareng myungsoo. Takut ketahuan ama wartawan dan para k-nitizen yg sialan itu.

  19. lucu lucu lucu
    gk kerasa panjang og, kurang malah
    ahirnya mereka bisa kencan juga
    jangan ampe ketahuan ma fans y……….. gk kebayang bakalan kyk ap
    ngomong” soal hwayoung q masih pnasaran lo knapa dia keluar dr t-ara

    btw og uri 1st n 2nd lovenya og samaan sih ma q……………
    kekekekek

  20. aku malah seneng banget kalo setiap chapnya panjang terus hehe
    gag buat bosan kok chingu malah bagus🙂
    syukurlah sekarang Jiyeon udah mau ngerti dan lumayan dewasa, udahlah Myungsoo gag usah jahilin Jiyeon mulu, nanti kalo Jiyeon ngambek malah berabekan?
    itu yang telp beneran Dasom? 0.o

  21. Wow Myung-myung so sweet \(´▽`)/
    Panjang tapi Tȋ̝̊ϑak membosankan, malah kurang eh.

    Gimana ekspresi Dasom., wkwkwk Jiyi-jiyi *geleng-geleng kepala ^^

  22. jiyi sama nyung lucu amat si. apalagi jiyi ngambek mulu kayaknya sama si myung. tapi untung myung punya kesabaran tingkat tinggi

  23. hahahaha..
    akhirnya ada skinshipnya juga,
    tpi tambhin ya,😉
    jadi senyam senyum sendri baca ff.nya,
    *keep writing and fighting*

  24. hahahaha..
    akhirnya ada skinshipnya juga,
    tpi tambhin ya,😉
    jadi senyam senyum sendri baca ff.nya,
    ke chap selanjutnya dulu ya,
    *keep writing and fighting*

  25. Cewe emang gt tuh kadang lain di mulut lain di hati
    Jiyeon bilang angkat aja telp nya, tp giliran di angkat dy murka deh wkwkwkwk
    Poor dasom
    Itu klo di komik atw anime kebayang muka cengo nya dasom pas jiyeon teriak di telp hahahahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s