You Should Be Mine (Chapter 1)

Ysbm copy

Title : You Should Be Mine

Main Cast :

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo

Genre : Adult Romance, a bit Humor

Type : Chaptered

Jiyeon’s Side

Aku tersenyum kecil membalas sapaan tamu-yang baru saja datang, dia salah satu teman appa jadi aku tidak mungkin ber-say hello dengan memeluknya atau bahkan menciumnya. Appa memang banyak mengundang teman-teman kaum sosialita atas-nya dalam acara ini, tidak hanya dari korea tapi juga dari beberapa negara luar.

Aku meneguk wine yang masih penuh hingga tinggal seperempat. Membosankan. Ini pesta ulang tahun yang sudah aku persiapkan dengan sangat baik―bahkan aku menunda sebuah rapat penanda-tanganan kontrak dengan perusahaan Jepang hari ini hanya untuk ke salon, mengganti warna rambut, manicure, pedicure dan sauna―aku juga sudah menyiapkan gaun ini jauh-jauh hari dengan menyaksikan Marc Jacob’s Evening Dress Collection 2013 beberapa bulan lalu di Italia.

Tapi tidak ada hasilnya.

Aku sengaja memutuskan Jung-Jinwoon―adik ahli waris perusahaan Jung Corp, abangnya Jung-Yunho si ahli waris utama itu juga sudah menjadi mantanku sebelum dia―hanya untuk malam ini. Aku kira akan mendapat ‘korban’ baru, tapi ternyata tidak. Tidak ada yang pantas menjadi pacarku sejauh aku menyambut mereka semua tadi. Menyesal aku memutuskannya disaat seperti ini. Paling tidak dia bisa aku gandeng atau menemaniku berdiri. Benar-benar sial.

Aku mengedarkan pandanganku, mencari Luna dan Jieun sialan itu. Dasar tidak setia kawan. Mereka malah sibuk dengan pacar mereka dan meninggalkanku berdiri sendiri disini.

“ Hello honey, long time no see~ ”

Aku membalikkan badanku untuk melihat keasal suara. Seorang wanita dengan berambut hitam langsung mendekat untuk memelukku.

“ Suzy? Sejak kapan kau dikorea? Aku kira kau sudah tidak ingat hari ini hari ulangtahunku. ”

Dia tertawa, “ Aku kan tidak sepertimu. ” Sindirnya.

Aku memutar bolamataku lalu tanpa sengaja aku melirik lelaki yang digandeng Suzy―sepupu tersayangku yang sekolah Fashion  di Paris sejak dua tahun yang lalu―aku menyipitkan mataku, mukanya terlihat familiar denganku.

“ Oh, Seung ho? Sudah lama tidak jumpa. ” Sapaku.

Lelaki bertubuh besar itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya dan akupun membalasnya.

“ Oh, kalian saling mengenal? Dia salah satu mantanmu, Ji? ”

Aku hanya menaikkan ujung bibirku keatas, tidak minat untuk menjawab. Dia pasti tahu sendiri jawabannya. Yoo Seung Ho. Seorang designer muda yang terkenal dikalangan artis jepang. Aku pernah berpacaran dengannya kira-kira 2 minggu, karena itu aku tidak ingat betul dengan wajahnya.

Inti acara akan dimulai sebentar lagi. Aku melirik kearah panggung. Appa melambaikan tangannya saat melihatku. Sial, dia sudah menemukanku disini. Kalau begini, dia pasti akan menceramahiku untuk berpidato saat aku disuruh kepanggung nanti. Aku memasang senyum palsu dan mengangkat gelas wine-ku―tanda akan menyusulnya segera.

Setelah menghabiskan wine yang masih bersisa tadi, aku meletakkan gelasnya pada nampan yang di bawa pelayan yang berlalu-lalang sejak tadi lalu melangkah pelan dengan dagu yang aku naikkan. Tentu saja, aku adalah wanita tercantik se-korea, mengalahkan semua artis wanita atau siapapun. Semua lelaki memiliki impian untuk mendapatkanku, tidak ada terkecuali. Cantik, kaya, berpendidikan dan semua embel-embel dibelakang namaku saat orang menyebut Park Jiyeon.

Tapi tidak dengan para wanita. Kalian bisa menebakkan? Beberapa wanita memang memujaku, tetapi tak sedikit pula yang membenciku dan berlomba-lomba untuk menjatuhkanku. Kalau kau memiliki fans tentu memiliki haters, kan? Karena dua hal itu yang membuat seseorang menjadi semakin terkenal. Karena hal ini, aku tidak terlalu mengambil pusing tentang mereka.

“ Lihat, sombong sekali gayanya. ”

“ Park Jiyeon itu murahan. Dia itu suka gonta-ganti pacar. Pasti udah sering dijebol, tapi masih saja sombong, ”

Aku menghentikan langkahku dan menaikkan ujung bibirku. “ Apa kehidupan pribadiku adalah urusan kalian? Aku tidak seperti kalian yang mengemis pada lelaki, tahu, kan? ”

Mereka terdiam dengan wajah pucat. Orang-orang sampah. Berani berbicara dibelakangku padahal di bentak sedikit sudah pucat. Kalau tidak suka padaku kenapa masih datang di pesta yang jelas-jelas adalah milikku?

“ Ingatkan apa yang appa suruh? ” Bisik appa dengan suara pelan menusuk seperti iblis dari neraka. Aku hanya mengangguk tak perduli.

“ Bagus, sudah menyapa semua tamu? ” Tanyanya lagi, tapi tidak berbisik.

“ Sudah. ”

“ Baiklah, ingat, kau harus maju pada saatnya. Mengerti? ”

Aku mengangguk lagi. malas berdebat dengan appa. Aku tidak mungkinkan berkelahi dengan appa ditempat seramai ini? Bisa-bisa kami akan menjadi pusat perhatian dan itu sangat memalukan.

Appa maju keatas panggung, mengucapkan beberapa kalimat biasa untuk para tamu undangan. Semua tamu undangan sudah berkumpul menghadap panggung. Aku berusaha mengingat apa yang appa ucapkan tadi. Ah, tidak ingat. Semoga saja aku mendapat pencerahan nantinya.

“ Ayo maju, sayang.. ”

Aku menahan sekuat mungkin untuk tidak memasang wajah ingin muntah. Appa selalu berusaha menunjukkan bahwa hubungan kami baik. Menyebalkan. Sejak kapan dia memanggilku dengan sebutan sayang? 20 tahun aku lahir di dunia, belum pernah kudengar dia mengatakannya. Seingatku sih.

Aku maju ke atas panggung, masih dengan dagu yang aku naikkan. Kudengar tepukkan tangan dari tamu, aku tersenyum menatap mereka. Beberapa laki-laki menatapku tanpa berkedip, aku hanya membalasnya dengan tersenyum kecil. Sampah.

Seorang pelayan datang membawa kue ulang tahun besar yang aku desain sendiri. Lalu appa menyikut pinggangku. Aku tersenyum aneh, menahan diri agar aku tidak meringis. Sialan. Apa appa tidak berfikir kalau aku ini wanita?

“ Terimakasih sebelumnya sudah datang diacara ini. Sebuah kehormatan bagi saya untuk memberikan sambutan selamat datang… ”

Aku menyelasaikan kalimat yang sudah aku rapal setiap detik seperti mantra semenjak 2 hari yang lalu dengan helaan nafas lega. Aku tersenyum lalu melirik apa yang tersenyum puas disampingku. Baguslah, setidaknya appa tidak akan mengejarku nanti dirumah.

Aku meniup lilin yang berjumlah duapuluh itu lalu memotong kue dan meletakkannya kedalam piring kecil dengan bantuan seorang pelayan. Setelah itu aku memotongnya dengan sendok dan memberikannya pada appa. Lalu kembali terdengar suara tepuk tangan yang meriah.

Aku dan appa turun dari atas panggung dan dengan terpaksa aku mengikuti kemana appa pergi. Appa sudah mewanti-mewanti sejak kemarin agar aku harus mengikutinya dan tidak kabur. Jadi aku terpaksa memasang senyum―semoga saja tidak kelihatan terpaksa―kepada teman-teman appa yang rata-rata adalah kakek-kakek yang tidak mungkin aku goda.

“ Ah, Kim Myungsoo-sshi. Anda datang rupanya.. ” Suara appa yang sok ramah masuk kedalam gendang telingaku.

Aku segera menoleh kearah siapa appa berbicara dan bersiap-siap memasang senyum palsu pada kakek-kakek tua yang akan menatapku dengan tatapan lapar itu. Namun aku terdiam dan menatapnya lelaki ini dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Sialan.

Ini yang aku cari sejak tadi. Kenapa aku baru menemukan berlian ini? Laki-laki dengan nilai 9, ah tidak. Dia nomor 11. Laki-laki yang appa panggil Kim Myungsoo tadi tersenyum kecil dan mengangguk. Ah, astaga. Tinggi semampai, kemeja putih pas dengan lengan yang digulung hingga siku membentuk tubuhnya yang atletis dan membuatnya semakin sempurna. Matanya yang tajam seperti serigala, hidung mancung, berkulit putih dan bibirnya yang sexy. Oh, god, terimakasih telah memperlihatkan pria tampan tipe 11 yang aku inginkan. Aku sudah membayangkan saat tubuh itu memelukku dan bibir itu menempel pada bibirku.

Dia harus jadi milikku. Biar aku tarik kalimatku kembali, aku tidak menyesal putus dengan Jinwoon dan pesta ini tidak sia-sia. Dia seperti harta karun didalam tumpukan sampah. Dia seperti bintang ditengah meteor mengerikan. Hanya masalah waktu untuk membuatnya bertekuk lutut kepadaku. Semua pria yang aku inginkan pasti akan jatuh dalam pelukanku. Termasuk pria yang ini. Harus.

Tanpa aku sadar, dia sudah menatapku intens. Oh, akan aku buat dia menjatuhkan harga dirinya untukku secepat mungkin, sama seperti pria-pria lain yang pernah aku kencani. Aku tidak akan menjatuhkan harga diriku untuk mengejar pria tampan ini. Tidak perduli bagaimanapun caranya, aku harus membuatnya menjadi milikku tanpa harus menjatuhkan harga diriku. Dia terlalu tampan. Dia ini tipeku.

“ Oh dia putriku, Park Jiyeon.  Jiyeon, dia adalah  anak tunggal pemilik Woolim corp. Perusahaan kita akan bekerja sama dengannya. ”

Kali ini aku rasanya ingin memeluk appaku. Ini adalah permulaan yang bagus. Ayo ayo..

Dia mengulurkan tangannya, aku mengeluarkan senyum yang biasa aku gunakan untuk menjatuhkan korban-korbanku dan menyambut uluran tangannya. Rasanya aku tidak pernah memiliki keinginan sekuat ini untuk memiliki seseorang.

“ Park Jiyeon, ”

“ Kim Myungsoo, senang bertemu denganmu. ”

Dia melepaskan tangannya sesaat setelah aku menjawabnya. Ah, padahal aku ingin menjabatnya lebih lama.

“ Kalian ngobrol saja dulu. Ji, appa mau berbicara pada Choi Seung-hwan dulu. ”

Aku bersorak dalam hati. Appa, aku mencintaimu. Kau telah mempertemukanku pada pria ini. Aku mengangguk sambil tersenyum manis. Appa hanya menatapku seolah mengatakan-jangan-melakukan-hal-yang-aneh, tapi aku mengacuhkannya dan beralih pada pria ini.

“ Selamat ulang tahun, Park Jiyeon-sshi. ”

Aku tersenyum lagi, “ Jangan memanggilku dengan embel-embel ‘sshi’. Aku tidak suka. ”

Dia mengangguk, “ Oh, okay. Kau juga bisa memanggil tanpa embel-embel itu. ”

Aku mengangguk juga lalu mengambil wine dari atas nampan pelayan yang baru saja lewat. Aku meneguknya perlahan, aku harus menjaga sikapku agar terlihat anggun. Aku bisa merasakan dia menatapku dari sudut matanya. Aku tersenyum dalam hati, dia pasti sudah masuk kedalam perangkapku. Memang harusnya secepat ini.

“ Ohya, ngomong-ngomong, aku baru melihatmu. ” Tanyaku beralih menatapnya.

Dia mengeluarkan senyum menawannya, membuat matanya menjadi garis, oh tampan sekali, “ Aku sebenarnya mengurus perusahaan di paris, tapi akhirnya aku pindah ke korea karena bosan di luar. ”

Aku membulatkan mulutku dan kembali meneguk wine-ku hingga habis. Dengan sengaja, aku membuat wine itu sedikit tumpah diujung bibirku dan membuat wajah terkejut yang cantik seolah aku tidak sengaja. Aku memindahkan gelas wine ke tangan kiri dan mengusap ujung bibirku dengan jempol. Jurus jitu seperti ini biasanya berhasil, tinggal tunggu saja reaksi darinya.

Lima, empat, tiga..

“ Butuh sapu tangan? ”

Tidak harus menghitung hingga akhirkan? Aku menoleh dan tersenyum, “ Kalau tidak keberatan.. ”

Dia menyerahkan sapu tangan berwarna hitam dan aku mengambilnya lalu mengusapnya pelan pada ujung bibirku. Aku bisa merasakan tatapannya yang intens kearahku. Oh itu bagus. Itu akan membuatku lebih mudah menggodanya. Aku memutarkan lidahku pada bibirku sebagai sentuhan terakhir kemudian menyerahkan sapu tangan tersebut padanya dan memejamkan mataku.

“ Thanks. ”

Dia mengedipkan matanya, “ With my pleasure. ”

“ Jiyeon-ya! ”

Aku menoleh pada pengganggu sialan itu dan menatapnya dengan tatapan mengancam. Suzy hanya menatapku tidak perduli, “ Choi Siwon mencarimu tuh, ”

Aku tersenyum aneh kepadanya, kenapa dia tidak peka? Ayolah, dia ini korban baru ku, Bae Suzy.. “ Oh, ada apa? ”

Dia mengangkat bahunya, “ Manaku tahu, ” dia menoleh pada Myungsoo dan menatapnya dengan terkejut lalu memeluk lelaki itu―sial, jangan mengambil korbanku, bodoh. “ Long time no see Myungsoo, sejak kapan kau di Korea? ”

“ Tidak terlalu lama, ”

Oh, rupanya mereka sudah mengenal. Ini bagus. Aku bisa meminta informasi dari suzy walaupun aku tahu itu tidak mungkin gratis. Mungkin aku harus mengorbankan koleksi Channel ku atau mungkin Dolce & Gabbana.

“ Suzy, aku ingin berbicara sedikit denganmu, mengenai Choi Siwon. ”

Aku menarik tangannya dan menoleh pada si tampan, “ Kami akan pergi sebentar, kau bisa menunggu kami, yah if you don’t mind.. ”

Dia mengagguk, “ No problem. ”

Suzy dengan patuh mengikutiku, aku tahu dia pasti sudah memikirkan koleksi musim semiku yang kemarin aku pamerkan padanya di Paris. Tak apalah, yang penting aku bisa mendapatkan informasi untuk pria tampan disana.

Aku berjalan dengan anggun dan berusaha untuk tidak terburu-buru. Aku tahu mata pria itu yang terasa menusuk punggungku, pandangannya pasti  sedang  mengikuti gerak-gerik kami.

“ Kau mengenalnya? ” Tanyaku saat kami sudah jauh dari tempat Myungsoo berdiri.

“ Aku kenal baik dengannya. Apa yang kau tawarkan untuk ini? ”

Aku memutar kedua bola mataku, “ Apa saja yang kau inginkan. Koleksi Louis Vuitton-ku? Terserah apa saja. ”

Dia mendesah, “ Oh, tidak semurah untuk informasi pria itu, honey.. ”

“ Lalu apa yang kau inginkan? ”

Dia memasang wajah berfikirnya yang menyebalkan, “ Kau kenal Ok Taecyeon? Aku ingin nomor ponselnya. ”

“ Kau sudah memiliki SeungHo, kan? ” Tanyaku. Ini tidak penting, tapi terkadang aku penasaran dengan pemikirannya yang aneh.

“ Oh, honey, he’s fucking boring me. He wasn’t my type at all. ”

Aku memutar bola mataku, “ Okay, whatever. I don’t need your shit. Just tell me what you know, Ms. Bae. Setelah itu kau bisa mengambil nomor siapapun diponselku. ”

Dia tersenyum senang, “ Kim Myungsoo. Pewaris tunggal Woolim Corp. Sempurna. Pernah beberapa kali pacaran dengan model di Perancis. Dan tipenya adalah, wanita yang sempurna. Oh ya, kudengar dia tidak pernah mengejar seorangpun wanita. Wanita itu yang mengejarnya tapi akhirnya hubungan mereka tidak lama. Aku pernah mengejarnya, tapi yeah akhirnya aku bosan. ”

Aku tersenyum. Menarik. Dia tidak pernah mengejar seorangpun wanita tapi kali ini aku akan membuatnya mengejar-ngejarku seperti pria lain. Lihat saja. Aku pasti berhasil, “ Okay, menarik. Aku akan mentraktirmu di Bistrotters jika aku berhasil mendapatkannya. ”

Dia melambaikan tangannya dengan gaya melecehkan, “ Jangan pede dulu, aku saja tidak bisa mendapatkannya. ”

Aku menaikkan sudut bibirku, “ It’s because I’m more gorgeous than you, Suzy-ya. ”

Dia berdecak, “ Hell you, Park. ” Kemudian dia tertawa, “ Semoga sukses kalau begitu.”

Aku tersenyum lalu kami berdua berjalan ke tempat si tampan Myungsoo berdiri. Si tampan itu tersenyum melihat kami berdua, aku balas tersenyum padanya dan berusaha semanis mungkin.

“ Maaf membuatmu lama menunggu. ” Ucapku.

Dia hanya mengangkat bahu, “ It’s okay. ”

Suzy menepuk bahuku dan Myungsoo bergantian, “ I gotta go. ” Ucapnya, ia melirikku lalu mengedipkan matanya, “ Good luck, Park. ”

Oh, sialan. Aku berdecak. Bae Suzy sialan. Lihat saja, kau akan mendapatkan balasannya. Bagaimana kalau Myungsoo malah mengira yang tidak-tidak? Bagaimana kalau si tampan itu sudah berfikir bahwa aku sudah jatuh kedalam genggamannya. Tidak, tidak. Tidak semudah itu. Ah, shit.

“ What? ” Tanya Myungsoo.

Aku terhenyak dan menatapnya bingung. Apa tanpa sadar aku mengatakan sesuatu?

“ Kau mengatakan sesuatu tadi. ” Sambungnya.

Aku tertawa pelan lalu mengigit bibirku. Pasti aku tanpa sengaja mengumpat untuk Suzy sialan tadi. Jangan sampai Myungsoo tau. Itu akan membuatnya semakin curiga padaku, “ Tidak, aku hanya menganggap disini agak panas. Bukan begitu? ”

Itu adalah alasan paling tidak masuk akal. Panas? Kenapa aku malah mengatakan itu? Oke, aku memang merasa agak panas tapi itu bukanlah sesuatu yang pantas aku katakan untuk membohonginya. Semoga saja dia cukup bodoh untuk langsung saja percaya dan jawaban selanjutnya membuatku kaget.

“ Kurasa kau benar. ”

Dia mengiyakan kalimat asalku, aku hanya menaikkan sudut kiri bibirku padanya dan menatapnya. Ia menggoyang-goyangkan kemeja bagian atasnya dengan gerah. Oh tidak, jangan bilang kalau dia akan membukanya didepanku. Jangan jangan jangan.

“ Aku akan membuka kancingku….jika kau tidak.. ”

“ It’s okay. ” Jawabku kelewat cepat.

Dia hanya tersenyum lagi dan membuka dua kancing atasnya dengan perlahan. Hancur sudah harapanku untuk menahan diri. Kalau seperti ini, bagaimana caranya agar aku tidak mencuri-curi pandang kearah kemejanya? Tahan dirimu Park Jiyeon, jangan jatuhkan harga dirimu. Aku meliriknya sedikit saat ia sedang memandang kearah lain dan seperti dugaanku, ia benar-benar memiliki tubuh yang sempurna. Otot-otot six-packs-nya yang mengintip dari celah-celah kancing yang terbuka itu memang menggodaku untuk menyentuhnya.

Oh, shit.

Jangan fikirkan hal-hal ini, Jiyeon. Ini terlalu awal. Aku harus tenang. Oke, dia memang berbeda dengan mantan-mantanku seperti Choi Siwon, Jung Yunho ataupun Ok Taecyeon yang memiliki kulit kecoklatan yang sangat manly. Tapi aku justru suka kulit putihnya daripada kulit kecoklatan seperti mereka.

“ Kau tidak keberatankan? ” Tanyanya lagi.

Aku hanya tersenyum, berusaha menjawab seringan mungkin, “ No problem. Aku malah berfikir andai aku bisa sepertimu, tapi akhirnya aku sadar bajuku tidak berkancing. ” Candaku asal.

Dia tertawa, matanya yang sipit dan menggemaskan itu menatapku, “ Kalau bajumu berkancing, kau benar-benar akan membukanya didepanku? ”

What? Dia bilang apa? Sialan. Kau mulai bermain-main rupanya, Kim Myungsoo. Akan ku buat kau menyesal.

Aku tersenyum dan menatapnya dengan pandangan yang aku yakin membuatnya berfikiran yang tidak-tidak terhadapku―semua pria pasti langsung memohon-mohon padaku jika aku menatap seperti ini, tapi tidak dengannya―“ Hem, ” gumamku lalu berhenti, mencoba bermain-main, “ Menurutmu? ”

113 thoughts on “You Should Be Mine (Chapter 1)

  1. aku reader baru thor…
    langsung aja ya

    haduh Jiyeon karakternya nakal ya, hehehehe
    harga diri nomer satu nih, itu hadiahnya buset buat dikasih ama Suji gk tanggung-tanggung, dasar orang kaya hihihihi

    lanjut baca ya thorr😀

  2. ff nya kereennn…
    Myungsoo sama Jiyeon kyaknya disini sling menggoda.
    Jiyeon playgirl di ff ini
    suka bnget…

  3. hallo.. slm knl, q readers ru… q sng bgt ma ff niech
    maf klo q ru cment。
    daebak, crt ny sru bgt。。

    q mnt pw yg k 5 ny donk, pleaz niech numbz q 08977237525
    pleaz krmin pw ny, q tnggu
    mksh
    ,:)
    ,

  4. Wowww jiyeon bner” player disni . Mntan ny keren keren lgi . Wahh myungsoo brani jga y bka kancing bju nya .. Jiyeon jga frontal gtu .. Ahh penasaran .. Gomawo ne🙂

  5. aishh.. jadi bayangin yang enggak enggak nih, padahal bru chap. 1
    tapi kereeeeeennn… bingits ff.nya,
    alurnya juga pas, apalagi character myungyeon.. suka bgetz..
    oke deh, mau baca part 2.nya dulu..
    *keep writing and fighting*

  6. hallo sy reader baru nihhhh wkwkwk
    gila cerita’a keren banget baru nemu nih ff kayak gini karakter’a jiyeon.beda banget seneng banget bca ff’a jiyeon jdi cewek nakal wkwkwkwk jiyeon jg jd cewek playgirl
    lanjut trus thor cerita’e
    GOOD FF thor
    semangat terus ya bikin ff’a🙂

  7. Keren” nampeun namja ketemu nampeun yeoja dan harga diri nya sama” tinggi. Ff ini cocok bgt dg karakter jiyeon.erghhh….myungsoo juga sexy bgt menggoda.

  8. Aku gk pernah ngebayangin jiyeon bisa jadi playgirl…d dunia nyata aja hanya ngobrol ama cowok yang punya urusan dengan’y and yang emang dekat ama dia.

  9. Aku gk pernah ngebayangin jiyeon bisa jadi playgirl…
    d dunia nyata aja hanya ngobrol ama cowok yang punya urusan dengan’y
    and yang emang dekat ama dia.

  10. annyeong new reader ^^
    wah ini baru seru (y) duadua’a cakep ..
    ini seoerti playgirl ktemu playboy🙂
    siapa ya yg bakal kalah ?

  11. Omo. . . Jinja Daebak.
    …alur ceritanya bener bener bikin aku greget banget.
    Aku suka banget myungji couple. . .
    Wlw pun ini terlalu pendek menurutku hehe…but its oke lah…
    Pokoknya over all aku suka BGT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s