You Should Be Mine (Chapter 3: That night)

Ysbm copy

Title : You Should Be Mine

Main Cast :

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo

Genre : Adult Romance

Type : Chaptered

Jiyeon’s Side

Aku berjalan mengendap-endap keluar rumah. Appa sudah pulang dari Jepang dan itu membuatku sulit untuk keluar tengah malam seperti biasanya. Tapi aku rasa appa terlalu sibuk untuk mengetahui bahwa anak perempuan satu-satunya ini sedang tidak ada dirumah. Aku juga sudah menyiapkan beberapa perangkat yang meyakinkan appa bahwa aku sedang ada di rumah dan tidur dengan nyenyak.

Malam ini aku ingin menghabiskan waktu di sebuah nightclub terbesar di korea. Aku juga sudah mengajak dengan Luna dan Jieun walaupun terkadang sulit untuk memaksa Jieun untuk keluar malam dengan alasan Jang-wooyoung, pacarnya yang menyebalkan itu melarangnya keluar malam. Sedangkan Suzy yang selama di korea ini tinggal dirumahku sudah pergi entah kemana.

Aku bosan berat malam ini. Oke bukan hanya bosan. Aku depresi setengah mati.

Kim Mungsoo tampan itu benar-benar membuatku depresi. 3 yang lalu saat kami bertemu di meeting itu―oke, aku sengaja saat itu datang ke rapat itu dan meminta appa untuk mengurus perusahaan di jepang dan aku saja yang menghadiri pertemuan itu. Bahkan aku sudah pergi ke salon sebelum rapat itu di mulai―dia meminta nomor ponselku dengan alasan akan mentraktirku lain kali. Aku benar-benar senang hingga nyaris melompat dan memeluknya walaupun aku tahu itu hanya trik untuk mendapatkan nomor ponselku, tapi untuk tetap menjaga harga diriku tentu saja aku tidak melakukannya. Hal itu bahkan sedikit mengobati rasa kesalku karena dia memeluk gadis sialan itu didepan mataku dan membuat nafsu makanku benar-benar hilang. Tapi selama tiga hari ini, dia sama sekali tidak menghubungiku padahal aku sudah memegang ponselku terus menerus dan berharap setiap ada panggilan masuk atau pesan itu dari dia, tapi ternyata bukan.

Ah, shit.

Aku rasa aku benar-benar akan gila. Selama tiga hari berturut-turut, dia selalu saja muncul didalam otakku tanpa aku bisa mengenyahkannya selama satu menit saja dan itu membuatku gila. Aku sudah pergi shopping dan menghadiri beberapa rapat penting hanya untuk membuat diriku sibuk dan melupakannya sejenak saja. Tapi tidak bisa. Dia terlalu masuk kedalam otakku. Dia terlalu melekat didalamnya.

Oke, aku bisa saja menghubunginya duluan tapi itu tidak mungkin kan? Aku akan menjatuhkan harga diriku seperti sampah lain diluar sana yang mengemis cinta padanya. Tidak, aku bukan orang yang seperti itu. Dia yang harus bertekuk lutut, mengemis padaku.

Sebelumnya aku tidak pernah seperti ini pada mantan-mantanku. Jika aku tertarik pada mereka lalu mereka dengan gampangnya mengemis cintaku, aku sudah dapat memilikinya. Dan jika aku merasa aku sudah tidak membutuhkannya lagi dan merasa bosan, aku akan mencampakkan mereka begitu saja. Tanpa merasa sakit apalagi depresi. Menurutku mereka hanya seperti ya, untuk kesenanganku tersendiri saja. Untuk membuatku lebih terlihat sempurna.

Tapi Kim Myungsoo..

Aku terjebak terlalu jauh dengannya. Aku bahkan merindukannya.

Kalau ini bisa disebut ‘merindukannya’. Aku tidak tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang, tapi mungkin inilah rasanya dan itu benar-benar tidak enak. Ini membuatku gila.

Aku membelokkan stir Lambhorgini Gallardo-ku, memasuki kawasan parkir nightclub yang ramai. Aku berharap dengan aku bersenang-senang seperti ini bisa membuat otakku sedikit saja lebih ringan.

Aku melangkahkan kaki ku masuk kedalam pintu nightclub yang besar setelah tersenyum kecil pada penjaganya. Dia pasti sudah mengenal wajahku dengan baik, belakangan ini aku memang sering kesini hanya untuk bersenang-senang, menenyahkan fikiranku yang kacau.

“ Kau lama sekali sih. ”

Aku tersenyum tipis, “ Mana Jieun? ” Tanyaku.

Luna mengangkat bahunya, “ Paling juga bentar lagi datang sama Wooyoung. ”

Aku hanya bergumam lalu mengangkat jari telunjukku pada Bartender yang menatapku. Dia hanya tersenyum kemudian mengacungkan jempolnya, memberi isyarat kalau dia mengerti.

“ Aku mau turun. Kau ikut? ” Tanya Luna yang sudah berdiri didepanku.

Aku menggeleng, “ Tidak, nanti saja. ”

“ What? ”

Aku mengeraskan suaraku, “ No. ”

Dia menggumam lalu pergi meninggalkanku sendiri. Aku melihat kebawah, orang-orang sedang menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik yang membuat jantung siapapun berdebar karena kerasnya.

Ah, bahkan di tempat seperti ini aku masih saja mengingat si tampan itu. Ayolah, kenapa tidak ada seorangpun pria yang mengenalku disini? Paling tidak aku mungkin bisa fokus pada orang itu.

Myungsoo’s Side

Aku berjalan masuk kedalam mobilku setelah seharian ini aku habiskan untuk bekerja di kantor, menandatangani beberapa surat kontrak, melakukan berbagai macam pertemuan walaupun fikiranku tidak fokus. Aku selalu memikirkan kucing liar ku yang manis itu belakangan ini.

Entahlah. Aku memang seharusnya menelfonnya untuk mentraktirnya makan bersama sesuai janjiku tapi entahlah. Harga diriku melarangnya. Harga diriku bilang, ini terlalu cepat untuk mengajaknya lagi walaupun hatiku sudah memberontak dan membuatku nyaris gila.

Aku tahu ini egois. Tapi aku memang egois. Harga diriku lebih berharga daripada apapun. Harga diriku lebih berharga dari semua perusahaanku bahkan lebih berharga daripada diriku sendiri. Harga diri yang membuatku seperti ini. Harga diri yang membuatku dipuja banyak wanita dan harga diriku yang membuatku sesukses ini. Aku tidak mungkin mencampakkan harga diriku begitu saja. Aku tidak mungkin mengacuhkan harga diriku, karena harga diriku selalu benar. Tidak terkecuali dalam urusan ini.

Tapi dia memang berbeda, sejauh ini penilaianku begitu. Dia berbeda karena dia menaikkan dagunya padaku. Dia memamerkan dirinya karena dia sempurna, dia tidak menyerahkan dirinya begitu saja seperti sampah. Dan ini membuatku semakin lama semakin ingin memilikinya.

Oh tidak.

Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku selalu memikirkannya? Kenapa aku merasa gila hanya karena tidak melihatnya? Kenapa aku merasa aku ingin memilikinya seorang? Membayangkannya dengan pria lain membuatku…

Tidak.

Ini hanya karena aku terlalu terobsesi untuk menang darinya. Hanya karena itu. Aku tidak pernah menggunakan perasaanku. Termasuk untuknya.

Biasanya aku memang berpacaran dengan seorang wanita hanya untuk pelengkap saja. Melengkapiku agar menjadi terlihat sempurna. Jika gadis itu menawarkan dirinya untukku dan menurutku dia pantas menjadi pasanganku, aku akan menerimanya. Tanpa ada perasaan lain sedikitpun.

Argh, fvck this.

Aku menjambak rambutku sendiri, merasa frustasi entah karena apa. Sialan. Mungkin aku harus kedokter jiwa atau apa.

Aku menoleh kekanan, tepat ke ponselku yang bergetar. Aku melirik layarnya, Howon Hyung.

” Ada apa, hyung? ”

Terdengar suara berisik saat aku mengangkat telfonnya. Dia pasti sedang berada di sebuah nightclub, berpesta dan mencari korban untuk one night stand. Sialan. Aku juga ingin rasanya.

” Kau ingin informasi dimana Park Jiyeon sekarang? ”

Aku terkejut. Dia memang tau kalau aku sedang ingin mendekati Park Jiyeon, aku masih ingat saat dia tertawa mendengar aku menyebut nama itu. Howon hyung yang sudah memberikan ku informasi dengan baik hati, ah sebenarnya tidak gratis.

” Kau tahu dimana dia hyung ?” Tanyaku. Jujur saja aku sangat penasaran. Ah, mungkin aku bisa menyusulnya dan berkata hey, kita ketemu lagi, seolah-olah aku tidak sengaja bertemu dengannya.

Dia tertawa, ” Kau tahu kan tidak ada yang gratis..”

Aku berdecak, lalu memindakan ponselku ketangan kiri dan menyandarkan tangan kiriku pada kaca Mobil yang terbuka, ” Apa BMW kemarin masih kurang hyung? ”

Dia tertawa lagi, ” Kalau tidak mau yasudah. ”

Aku mendesah, tidak apa-apalah. Ini bukan apa-apa demi informasi Park Jiyeon, ” Akan aku pastikan sebuah helikopter jenis terbaru mendarat didepan rumah hyung besok. ”

” Deal, ” Katanya lalu tertawa bahagia, ” Kau tau kan, nightclub yang biasa aku datangi bersama Dongwoo? ”

Aku bergumam, ” Ah, aku mengerti. ”

” Aku harap kau cepat, sebelum dia dibawa oleh pria yang duduk bersamanya itu. ” Katanya santai.

What the….

Cepat cepat aku melemparkan ponselku di kursi sebelahku yang kosong dan memutar mobilku kearah yang berlawanan. Sial. Jangan sampai ia dibawa oleh pria lain siapapun itu.

Oke, aku memang tidak rela dia di sentuh oleh siapapun kecuali aku. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan itu. Aku harus cepat.

Aku membelokkan mobilku ke dalam kawasan nightclub dan memberhentikannya di sembarang tempat. kemudian aku berlari masuk kedalam, menghadapi penjaga dan kembali berlari masuk menerobos kerumunan orang yang sedang menari mengikuti lagu.

Dan disana aku melihatnya. Seorang wanita dengan rambut ikal coklat yang menggunakan dress merah yang memebentuk tubuhnya sedang berciuman dengan seorang laki-laki.

What the fvck.

Sial. Rasanya aku ingin menarik laki-laki itu meninjunya, memberinya pelajaran karena berani menyentuh milikku.

What? Milikku?

Oh, aku rasa aku benar-benar gila sekarang. Sejak kapan aku mengklaim dia milikku? Oh, tidak. Tenangkan dirimu Kim Myungsoo. Santai saja. Rileks. Tenang tenang tenang. Kalau aku datang kesana dengan ekspresi marah, itu akan merusak harga diriku dan itu artinya aku yang kalah. Aku yang seperti sampah. Aku harus tenang. Tarik nafas Myungsoo.

Aku berjalan mendekati meja itu, berusaha berjalan sesantai mungkin walaupun aku ingin berlari dan menghentikan semuanya.

” Excuse me? ” Tanyaku agak berteriak tapi tetap berusaha sesantai mungkin.

Park jiyeon terlihat mendorong bahu lelaki itu sedangkan lelaki itu terlihat kecewa dan menatapku tidak suka. Gadis itu mengangkat kepalanya dan terkejut melihatku sedang ada di hadapannya.

” Ah, kau.. ” Gumamnya

Aku tersenyum dibuat-buat. Aku masih cemburu, ” May I sit in here? ” Tanyaku.

” Oh, of course. ” Jawabnya sambil tersenyum. Aku tidak tahu apa arti senyumnya itu. Antara bahagia, merasa terkejut dan senyum kemenangan. Sial, dia memang kucing liar.

Aku tersenyum lalu duduk di sebelahnya. Ia menoleh pada laki-laki tadi, ” Ah, aku rasa aku sudah menemukan temanku. Kau bisa meninggalkanku, Chansung. ”

Pria itu mengedipkan matanya lalu berdiri meninggalkan kamu berdua. Aku yakin dia pasti salah satu mantannya. Yah, hwang chansung dari perusahaan JYP. Aku kenal dia.

” Jadi kenapa kau bisa disini? ” Tanyanya dengan tatapan aneh.

Aku tertawa ringan. Aku agak senang juga melihat pria tadi sudah pergi dan tinggal kamu berdua disini. ” Memang kenapa?”

Dia menggeleng lalu mengangkat bahunya, ” Yah. Ku kira kau sibuk dengan pekerjaanmu. ”

Aku tersenyum, sedangkan dia terlihat salah tingkah. Jadi kau menunggu ajakanku, Park Jiyeon?

” Yeah, dan itu membuatku bosan. ”

Dia hanya mengangguk mengerti dan melirik kebawah, ” Ikut turun? ” Tanyanya dengan senyum menggoda.

Oh, sial.

Ini pertanda buruk. Aku tidak yakin kalau aku bisa menahan diriku nantinya. Dia pasti benar-benar berniat menggodaku. Sial sial. Aku juga tidak mungkin menolaknya, itu akan membuat senyum kemenangan di wajah sempurnanya. Dia pasti tau kalau aku takut akan turn on.

” Ayo. ”

Dia tersenyum dan menarik tanganku turun, ikut berdesak-desakkan dengan orang-orang yang menggerakkan tubuhnya. Sial. Dia pasti sangat bahagia, sedangkan aku akan susah-susah untuk menahan diriku agar tidak kehilangan kendali dan menciumnya atau bahkan melakukan yang lebih.

Tapi tidak, tenang saja. Aku percaya dengan kemampuan tubuhku sendiri. Selama ini, aku selalu baik dalam mengendalikan diriku. Aku tidak mungkin mau langsung jatuh begitu saja kedalam perangkap kucing ini. Akal sehatku pasti memberiku peringatan agar aku tidak bertindak lebih. Dia yang akan memohon padaku malam ini. Lihat saja.

Park Jiyeon menggerakkan tubuhnya sesuai music yang berdentum. Dengan pakaian yang membentuk tubuhnya seperti itu, sulit rasanya agar aku beralih dan menatap kearah lain. Pemandangan dia menggoyangkan tubuhnya didepan mataku terlalu indah.

Kulingkarkan lenganku di pinggangnya, ia mendongak menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Tubuh kami benar-benar menempel dan aku bisa kembali mencium bau parfumnya yang manis. Oh, aku rasa ini bukan parfum, mungkin ini bau yang memang menempel ditubuhnya.

Oh, god. Sial.

Entah ini di sengaja atau mungkin karena jarak kami yang benar-benar dekat, bisa aku rasakan sesuatu dibawah sana bergesek. Aku menatapnya, dia hanya memejamkan matanya dan menggigit bibir. Sht. Dia benar-benar sukses membuatku turn on.

Kemudian tiba-tiba dia membuka matanya dan menatapku dengan tatapan sayu. Jiyeon melingkarkan tangannya di bahuku.

Dmn.

Aku tidak tahan lagi. Dan tanpa bisa aku tahan, kutarik tengkuknya dan melumat bibirnya yang sudah aku incar sejak awal kami bertemu. Bisa aku rasakan refleks tubuhnya yang awalnya menegang karena kaget namun 5 detik kemudian berubah menjadi rileks. Dia balas melumat bibir atasku sedangkan aku melumat bibir atasnya.

Jiyeon mendorong kepalaku agar lebih menempel dan tangannya bergerak meremas rambutku. Sial. She’s  a good kisser. Ini benar-benar berbahaya. Aku bisa benar-benar turn on kalau ini terus berlanjut. Tiba-tiba ia mendorong bahuku agar menghentikan kegiatan ini.

“ Lanjut? ” Tanya dengan nafas terengah.

Ini tawaran bagus. Benar-benar bagus hingga aku nyaris tanpa berfikir ulang untuk menariknya kedalam mobilku. Tapi tidak. Kalau aku menyetujuinya, bisa-bisa aku benar-benar kehilangan kendali dan membuatku sama seperti sampah yang lain diluar sana, memohon  padanya.

Tidak. Aku bukan orang yang seperti itu. Aku harus menahan diri sekarang, aku sudah cukup kehilangan kendali dengan menciumnya seperti ini, tapi ini tawaran yang mungkin datang sekali seumur hidup. Ah, kalau aku bisa membuatnya benar-benar jatuh dalam pelukanku, aku bisa mendapatkannya tanpa memohon.

Aku pura-pura melirik jam tanganku dan mendesah lalu mengelus pipinya yang putih tanpa cacat.

“ No baby, I’ve to go. Sorry. ”

******

Lama banget ya? Lcd laptopku sih gak mau hidup lagi hiks T.T rencananya aku mau keluarin ini bareng BTSOM 6 tapi karena banyak yg nagih dan BTSOM 6 juga belum kelar endingnya jadi deh aku post ini duluan. Maaf juga kalau agak kecewa dengan part ini huee T.T

114 thoughts on “You Should Be Mine (Chapter 3: That night)

  1. Waw daebak hanya info jiyong aja BMW dan hallycopter bangkrut lama” myungsoo. Wahh jiyeon bakal murka Ñΐ dia ϑϊ tolak makin seru

  2. wohoho…
    kaya banget y si myung…
    helicopter lho…
    hahahaha…
    like like…
    waduh…si myung d tawari gk mau….
    begitu besar.nya dia pertahanin harga diri…
    wkwkwk

  3. wah ego nya tinggi semua aduh pingin gua tabok aj itu myung huhuhu turunin kek demi jiyi itu ap ga bangkrut demi dpt info hrs kasi helicopter

  4. Owwhhh. ..akhirnya Myungsoo gak tahan dan menyerang jiyeon dilantai dansa. Setelah ia mencoba untuk meredam rasa cemburunya melihat jiyeon kucing liarnya yg manis dicium oleh namja lain. WKWKWK. ..lucu ngebayangin nya ^,^
    Dan wae….? Dy pergi stlah dy nolak tawaran dri jiyeon. Gmn klo nnti jiyeon sakit hati dan gmw menemui Myungsoo lagi. . ???
    Ckckck trrus aja pertahanin ego…
    NEXT gmw nunggu. …

  5. Wwkwkwk aku gemesss beneran deh
    Mereka tuh gengsi nya pada gede2 bgt
    Padahal butuh tp saling acuh wkwkwkw
    Tp seenggaknya myungyeon udh kissing ><

    Aku menunggu moment selanjutnya

    Lanjut bacaaaa ~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s