You Should Be Mine (Chapter 4: The Mistake)

Ysbm copy

Title : You Should Be Mine

Main Cast :

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo

Genre : Adult Romance

Type : Chaptered

Jiyeon’s Side

Sekali lagi aku pukul setir mobilku, entah untuk yang keberapa kali hingga tanganku terasa agak sakit. Tapi itu tidak seberapa. Hatiku lebih sakit. Harga diriku sedang rusak berat dan ini pertama kalinya aku merasakan harga diriku diinjak-injak seperti ini. Sakit sekali. Bahkan lebih sakit rasanya daripada saat aku jatuh atau saat aku kecelakan karena ugal-ugalan dijalanan dulu.

Sial. Menyesal rasanya aku menawarkan hal seperti itu padanya. Yang aku tidak mengerti, kenapa dia bisa sekuat itu. Sial, aku tidak menyangka. Terkutuklah kau Myungsoo. Aku benci padamu.

Tadi setelah dia mengatakan kalimat terkutut itu, dia mencium pipiku sekilas lalu pergi meninggalkanku yang terlalu shock dengan penolakan itu. Sungguh. Seumur hidup aku belum pernah ditolak dalam bidang apapun, apalagi hal-hal seperti ini. demi apapun, siapa saja yang merasakan apa yang sekarang aku rasakan pasti akan mengerti bagaimana kesalnya aku.

Kuhantukkan kepalaku kejendela berulangkali hingga kepalaku pusing. Kalau bisa aku mengulang waktu aku akan mengulangnya bagian dimana aku menawarkan itu. Sial.

Kuputar kunci mobil dan kujalankan mobilku dengan kebut-kebutan hingga beberapa pengguna jalan yang lain membunyikan klakson untuk memarahiku. Kalaupun aku harus mati sekarang rasanya aku sudah tidak perduli. Harga diri yang aku banggakan selama ini rusak 99,999999% gara-gara seorang pria seperti Kim Myungsoo. Ku putar stir mobil hingga 90 derjat berbelok ke kiri untuk masuk kegerbang rumahku tanpa menginjak rem sama sekali. nyaris saja aku menabrak penjaga rumahku tapi untung saja tidak. Setelah tepat berada didepan pintu rumah, aku berhenti dan meletakkan mobilku asal-asalan, lalu keluar dan melemparkan kunci mobilku sembarangan, membiarkan penjaga rumahku yang hampir saja aku tabrak tadi menangkapnya dengan kesusahan.

Aku masuk kedalam dengan perlahan, hampir saja aku lupa menganggalkan high heelsku. Bahaya. Bisa-bisa appa mendengar langkah kakiku. Aku berjalan dengan langkah besar-besar dan menaiki dua tangga sekaligus untuk naik ke kamarku.

Dan apa yang aku temukan di kamarku membuatku semakin kesal sekaligus agak lega.

“ Apa yang kau lakukan disini?! ” Teriakku agak tertahan.

Suzy menoleh dari majalah yang sedari tadi dibolak-balik olehnya dengan ekspresi bosan dan menatapku dengan mata cerah, membuatku agak curiga. Pasti ada sesuatu yang ingin ia inginkan. Ia menggerakkan tangannya seolah memberi isyarat agar aku duduk didekatnya. Dasar tidak tahu diri. Ini kan kamarku.

“ Heh. Habis bertemu Myungsoo? ” Tanyanya dengan mata berbinar.

Aku mengerutkan dahi antara bingung dan kesal, “ Apa maksudmu? ”

Dia mengibaskan tangannya dan memutar badannya, duduk menatapku langsung. “ Taecyeon melihatmu makan siang kemarin dengannya di hotel. Sukses kah? ”

Aku menghela nafas berat lalu menatapnya sejenak dan tiba-tiba saja wajah Myungsoo yang menyebalkan tadi terbayang olehku, membuatku secara reflek meremas lengannya dan mengguncang-guncang tubuh Suzy sekuat tenaga. Sedangkan ia berteriak kesakitan, membuatku berhenti dengan panik dan menutup mulutnya sebelum appa terbangun dan mengecek apa yang sedang kami lakukan.

Suzy menolak tanganku dan menghempaskannya, “ Sakit bodoh. ” Bisiknya.

Aku mendengus, “ Kim Myungsoo sialan. Bodoh. ”

“ Kenapa sih? ”

Aku menceritakan semuanya. Semuanya tanpa terkecuali. Mulai dari peristiwa aku mengajaknya makan siang, dia meminta nomor telfonku hingga insiden mengenaskan sepanjang sejarah hidupku itu. Suzy mendengarkannya dengan dahi yang berkerut sambil sesekali menganggukkan kepalanya. Kadang aku memang membutuhkan teman untuk bercerita tentang hal-hal seperti ini dan hanya Bae Suzy yang aku punya.

Setelah aku selesai bercerita dia hanya mengerutkan dahinya sambil menatapku lalu tertawa terbahak-bahak. Sial. Merusak moodku saja. Oke, moodku memang sudah rusak sejak tadi tapi dia malah makin menambah parah saja.

Suzy menghela nafas untuk menghentikan tawanya, tau aku akan meledak dalam hitungan detik, “ Oke, oke. Aku mengerti perasaanmu sekarang. Untuk orang sepertimu memang itu pelecehan berat. ”

Aku hanya mendengus dan menghempaskan tubuhku pada bantal sandaran tempat tidur, “ Lebih baik aku lupakan saja dia. Memang dia saja yang tampan? ”

Lupakan?

Lupakan Kim Myungsoo?

What the hell.

Jujur saja aku tidak yakin. Sekalipun dia sudah merusak harga diriku. Aku tidak bisa. Aku sudah terjerat terlalu dalam. Aku sudah menyukainya. Tidak. Mungkin lebih dari itu. Kalau aku bisa mengatakan, mungkin aku mencintainya. Dan jujur saja ini pertama kalinya aku merasa seterluka ini. bukan hanya masalah harga diri tapi dia seperti merobek perasaanku. Secara tidak langsung, ini penolakan bukan?

“ For my god shake, Park. Kau belum pernah menyerah seperti ini sebelumnya. Kau seperti bukan Park Jiyeon yang aku kenal. Ayolah, seharusnya ini menjadi tantangan untukmu bukan? ”

Park Jiyeon yang ia kenal? Aku Park Jiyeon yang sedang terluka karena putus cinta. Apa dia pernah mengenal aku yang seperti ini?

Sial. Aku rasa aku akan gila. Aku depresi setengah mati rasanya.

Tapi Suzy benar juga. Aku tidak boleh kalah. Paling tidak aku bisa membalaskan dendamku padanya. Lebih baik lagi kalau dia merasakan hal yang sama sepertiku.

Ntahlah. Aku rasa dia hanya main-main padaku. Mungkin aku harus mengontrol perasaanku. Aku tidak boleh mencintainya. Dia tidak serius padaku.

Dan jujur saja, ini pertama kalinya aku ingin menjalankan hubungan yang serius. Sialnya aku, disaat aku benar-benar mencintai seseorang, orang itu tidak mencintaiku. Mungkin benar kata orang, hukum karma berlaku. Dan aku merasakan karma akibat sifat yang sebenarnya jelek―walaupun aku merasa ini tidak jelek―sekarang.

“ Yah. Kau benar. Paling tidak aku harus bisa membalaskan rasa sakit hatiku. Ayo kita rusak harga diri Kim Myungsoo. ”

*****

Aku terbangun karena mendengar suara getaran ponsel di meja sebelah tempat tidurku. Awalnya aku tidak berniat mengangkatnya, paling juga dari perusahaan atau dari appa. Namun karena ponsel itu terus saja bergetar dan menganggu konsentrasiku untuk tidur, aku bangkit dengan malas-malasan dan meraih ponselku di meja. Kulirik Suzy yang tertidur disebelahku―kemarin kami bercerita semalam suntuk hingga akhirnya ia tertidur di kamarku―yang menggumam tidak jelas, mungkin merasa terganggu dengan ponselku.

“ Hem? ”

Aku mendengar suara tarikan dan hembusan nafas dari telfon, membuatku penasaran siapa yang mengangguku sepagi ini.

“ Maaf menganggu pagi anda, nona park. Tapi tuan menyuruh saya menelfon anda untuk menyuruh anda mengikuti rapat penanda tanganan pagi ini dengan perusahaan kim. ”

Aku mendengus mendengar suara sekertaris appa yang satu ini. berani sekali dia menelfonku padahal semua orang tahu bahwa tidak ada yang berani menganggu waktu tidurku. Apalagi menelfon untuk melemparkan pekerjaan kepadaku.

Baru saja, aku menarik nafas untuk membentaknya, otakku kembali memutar kalimat yang barusan ia katakan.

Perusahaan kim.

ITUKAN PERUSAHAAN SI MYUNGSOO TAMPAN.

Dia pasti datang untuk ikut menandatangani kontrak penting ini, dia juga pasti akan berfikir bahwa aku akan datang. Ini kesempatan emasku untuk bertemu lagi dengannya. Oh aku rasa aku benar-benar jatuh cinta, baru saja tadi malam aku bertemu dengannya, aku merasa aku ingin bertemu lagi.

Tadi malam?!?!?!?!

Tidak. Aku tidak akan datang. Masa bodoh aku sudah merindukannya. Tidak. Tidak akan. Dia sudah merusak harga diriku, dan aku maumaunya datang menatap mukanya?

Jangan harap.

Apa yang harus aku lakukan nantinya? Dimana aku harus meletakkan harga diriku yang sudah pecah menjadi keping-kepingan kecil―sama seperti hatiku―kalau aku bertemu lagi?

Hahaha. No. tidak akan.

“ Aku tidak mau. ” Jawabku singkat.

“ APPA BILANG INI HARUS! ”

Aku tersentak mendengar suara bentakan yang aku tahu pasti dari siapa yang secara tiba-tiba muncul dari telfon. Oh sial. Ternyata appa mendengar ini dari tadi.

“ Appa! Kau menganggetkanku. ” Kilahku.

“ KAU HARUS DATANG NANTI JAM 11 DI HOTEL BIASA. DAN JANGAN KATAKAN KAU BARU BANGUN. INI SUDAH JAM 10 JIYEON! KAU MAU JADI APA NANTI?!?! ”

Nyaris saja aku membanting ponselku karena omelan appa, untung saja aku sempat menjauhkan ponsel. Kalau tidak, aku mungkin tidak bisa mendengar lagi sampai mati.

“ Appa!! Kan aku sudah bilang, aku tidak mau! ”

“ Baik, appa akan menahan mobil, kartu… ”

“ OKAY! ” sial, appa selalu bisa mengeluarkan kalimat seperti itu. Aku sudah pernah kehilangan itu semua dan rasanya sangat tidak enak. “ Begini saja, appa yang datang pada rapat penanda tangan itu, pekerjaan lain biar aku saja yang menyelesaikan. Deal? ”

Appa diam sebentar, seperti menimbang-nimbang sedangkan aku menunggu tak sabaran.

“ Deal. ”

Yes.

“ Tapi.. ” aku terhenyak, reflek menahan nafas, “ Berikan alasannya. ”

Sial. Aku menggigit bibirku, berfikir keras. Apa yang harus aku katakan? Mana mungkin aku mengatakan alasannya bahwa aku tidak ingin bertemu Kim Myungsoo. Appa pasti akan bertanya alasannya. Ku lirik seisi kamarku untuk mencari ide tapi tak satupun ide yang terlintas diotakku.

Tiba-tiba seseorang merampas ponselku, “ Jiyeon ingin menemaniku berkeliling sebentar, ahjussi. ”

Kulirik Suzy yang menatapku dengan tatapan kesal. Ternyata dia sudah bangun. Bagus sekali. kadang dia memang berguna.

Suzy bergumam pendek sambil sesekali mengatakan oke dan iya lalu menyerahkan ponselku kembali.

“ Dia bilang nanti jam 12 datang kekantor untuk memimpin rapat bulanan. ”

Aku mendengus dan menghentakkan tubuhku lagi keatas tempat tidur. Tidak terlalu sulit. Aku pernah melakukannya beberapa kali.

“ Ternyata kau sudah bangun ya. ” Gumamku.

“ Bagaimana aku bisa tidur dengan suara teriakan mu dan appamu itu disebelahku? ”

Kim Myungsoo’s Side

Kutatap pantulan diriku dikaca dan menghela nafas. Sempurna seperti biasa. Aku akan memamerkan jas terbaru yang sengaja aku pesan jauh-jauh hari dari U.S.A untuk acara penanda tanganan kontrak hari ini yang tentu saja akan didatangi langsung oleh si putri satu-satunya tuan park yang bagai bidadari itu. Aku optimis dia pasti akan memuji penampilanku hari ini.

Aku berjalan keluar rumah menuju parkiran mobil dan melajukan mobilku dengan kecepatan santai sambil sesekali bersiul. Pagi yang indah memang, apalagi dimulai dengan melihat wajah si kucing liar-ku.

Kucing liar-ku.

Oke, aku mengakui. Aku sudah mengklaim dia milikku. Dia hanya milikku dan itu harga mutlak. Dia tidak bisa direbut ataupun disentuh oleh siapapun. Tidak perduli bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Intinya, aku tidak akan rela kehilangannya.

Ngomong-ngomong, aku jadi ingat kejadian tadi malam. Aku benar-benar tersiksa karena menahan harga diri sialan ini. aku terpaksa bekerja sendiri sambil membayangkan dia dibawahku, dengan wajah memohon dan suara desahannya yang pasti….

Oh sial.

Jangan mulai lagi. Tidak lucu kalau aku datang ke acara rapat itu dengan keadaan adikku yang tegang lalu berlari kearahnya dan menciumnya lagi.

Ciuman itu.

Tanpa sadar aku menyentuh bibirku ntah untuk keberapa kalinya sejak kejadian aku menciumnya. Rasa manis bibirnya masih saja terasa dibibirku. Sial, aku ingin menciumnya lagi.

Eh.

Oh my god. How’s stupid….

Aku menolaknya. Bisa saja dia merasa harga dirinya terluka dan tidak akan pernah menawarkan hal yang hanya akan ditawarkannya padaku sekali seumur hidup. Sial. Aku melupakan itu. Aku melupakan bahwa dia sama sepertiku. Mengutamakan harga dirinya, dia tidak pernah ditolak sebelumnya.

Fvck.

Dia bisa saja membenciku sekarang. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Bagaimana kalau dia tidak ingin bertemu denganku lagi. Aku bisa gila. Aku bisa mati.

Yatuhan kenapa kau memberikan otak yang berfikir sependek ini.

Ku injak gas agar mobilku berjalan semakin cepat dan memasuki kawasan hotel. Aku berhenti tepat didepan pintu hotel dan menyerahkan kunci mobilku begitu saja pada pengawal yang berdiri didepan pintu hotel. Sengaja kulangkahkan kakiku besar-besar menuju pintu lift dan menekan tombolnya dengan tidak sabar, tak lama kemudian pintu lift terbuka dan aku masuk sendirian lalu menekan tombol 5. Lantai dimana ruangan itu berada.

Setelah bunyi ting, seperti kebanyakan pintu lift aku berlari kecil menuju pintu besar disudut ruangan. Sebelum membuka pintu, aku berhenti sebentar dan menarik nafas lalu menghembuskannya pelan untuk meredakan detak jantungku akibat berlari kecil dan akibat segala macam kemungkinan yang sudah berkeliaran diotakku.

Kudorong pintu besar itu dan tampaklah sekertarisku sudah duduk disana sedangan Jiyeon belum juga tampak. Aku melangkah tenang dan duduk dikursi yang sudah disediakan. Kulirik sekertarisku yang sibuk dengan kertas-kertasnya.

“ Dari pihak tuan Park, siapa yang akan datang? ” Tanyaku dengan ekspresi setenang mungkin.

Sekertarisku mengalihkan pandanyannya kepadaku, “ Tuan Park langsung yang akan datang, tuan. ”

Refleks aku langsung terduduk lemas ditempat dudukku. Tentu saja. Park Jiyeon sudah meninggalkanku.

“ Memang kenapa, tuan? ”

“ Aku berharap anaknya lah yang datang. ”

*****

Sekali lagi aku berjabat untuk terakhir kalinya kepada salah satu bawahan tuan Park yang ikut dalam rapat hari itu sambil berusaha memasang senyum yang dipaksakan. Sepanjang acara pertemuan itu aku hanya tersenyum masam sambil sesekali mengatakan kalimat yang singkat. Tuan Park yang melihatku tidak seperti biasanya sempat bertanya aku kenapa dan aku menjawab aku kurang enak badan padahal aku hanya lemas memikirkan kucing liarku yang sudah tidak ingin menemuiku lagi dan memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa bertemu lagi dengannya tanpa menjatuhkan harga diriku lagi, tentunya.

Park Jiyeon benar-benar tidak datang. Bagaimana mungkin dia mengabaikan kesempatan untuk bertemu denganku hari ini?

Kuhempaskan tubuhku ke kursi tempatku duduk selama 60 menit tadi dan melirik kearah sekertarisku yang menatapku takut. Aku hanya member isyarat padanya untuk meninggalkanku sendiri.

Setelah ia keluar, ku raih ponselku dan menghubungi orang yang mungkin satu-satunya akan membantu dalam hal ini.

Hello? ”

“ Bae Suzy. ” sapaku.

“ Oh, Kim Myungsoo! Ada masalah apa? ”

Aku tersenyum getir, sekarang aku bingung harus memulai dari apa. Tidak mungkin aku langsung mengatakan apa tujuanku. Aku tidak yakin dia bisa menutup mulutnya, dia pasti akan membongkarnya pada Jiyeon dan rusaklah semuanya.

Aku berdeham, “ Kau sedang dimana? ”

“ Cerita saja langsung, Jiyeon sedang tidak bersamaku. ” Jawabnya to the point. Membuatku semakin tidak karuan. Antara bingung, penasaran dan takut.

“ Memang dia sedang dimana? ”

Wanita itu mendesah, bosan, “ Kudengar dia ingin pergi dengan Jung…siapa sih. ”

Aku tersentak, jangan bilang, “ Jung Daehyun? ”

“ Nah! ” Suzy terdengar puas karena ia mengingat nama itu, “ Kau mengenalnya? ”

Bagaimana aku tidak mengenalnya? Dia saingan terberatku dalam hal apapun sejak lama. Baik itu kesuksesan dalam berkarir, merebut hati wanita atau penampilan.  Dan sekarang dia ingin merebut Park Jiyeon dariku? Oh yang benar saja.

“ Anggap saja begitu, ” Jawabku asal lalu menghela nafas, “ Jadi dia tidak mau datang hari ini…. ”

“ Tidak juga, ” Potong Suzy, “ Dia bilang kau sudah tidak menarik. Dia tidak suka orang menolaknya dalam hal apapun. Kurasa kau tahu pasti itu.. ”

Refleks aku memijat dahiku. Tidak pernah rasanya aku sedepresi ini saat tahu bahwa targetku malah tidak tertarik denganku. Mungkin karena aku belum pernah diabaikan oleh targetku. Sht. Demi apapun aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Aku belum pernah terlibat kasus cinta yang serumit ini.

“ Lalu aku harus bagaimana. ” Gumamku. Lebih untuk diriku sendiri tapi sepertinya wanita itu mendengarku.

“ Kenapa kau terdengar sangat depresi? ” Suara Suzy terdengar bingung, “ Come on. Lupakan saja dia. Kenapa harus berfikir sesulit itu? ”

Lupakan dia? Lupakan Park Jiyeon?

Apa aku bisa? Aku saja tidak yakin dengan itu.

“ Melupakannya? ” Tanyaku lagi seperti orang bodoh.

Suzy menghela nafas, berusaha sabar menghadapi orang yang sedang bodoh karena masalah percintaan, “ Jangan bilang kau mencintainya, kau tidak ingin melupakannya dan segala macam hal-hal yang ada didrama korea. ”

Aku diam saja. Tidak mau membantah atau mengiyakan. Sejujurnya aku juga masih bingung. Aku belum pernah seperduli ini. aku belum pernah merasa berkeinginan sekuat ini ingin mengikat seseorang denganku karena aku belum pernah berfikir untuk menjalin hubungan serius.

Aku bahkan tidak tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya.

“ Begini saja, ” Kata Suzy tiba-tiba, “ Coba kau berusaha untuk melupakannya. Berpesta setiap hari, atau memenuhkan jadwalmu dengan pekerjaan. Kencan dengan semua wanita cantik. Jika kau masih saja memikirkan Jiyeon, lebih baik kau  menyerah saja. ”

Aku tersenyum tipis. Ide bagus. Aku pasti berhasil dengan cara ini. aku pasti bisa melupakan wanita itu dan melanjutkan kehidupanku seperti dulu dengan normal. Tanpa memikirkannya lagi.

“ Jangan lupa, biaya konsultasi denganku satu mobil Ferrari merah keluaran terbaru. ”

*****

Hai ngahaha/plak

Maaf aku lamaaa banget ngeluarin lanjutan ini. bukan karena otak aku ngadat atau apa, waktu buat ngetiknya gak ada. Dan belakangan ini aku berusaha banget buat ngeluangin waktu buat ff ini. ini part ke 4, part terakhirnya bakalan aku post secepatnya. Tapi chapter terakhir bakalan aku protect hehehe. Sekali lagi makasih udah mau nunggu dan maaf kalau ff ini masih kurang memuaskanL

242 thoughts on “You Should Be Mine (Chapter 4: The Mistake)

  1. It seriously. . . Jiyeon bener bener murka atas penolakan Myungsoo padanya. Dan terkutuklah Myungsoo yang mungkin gak akan bisa nemuin jiyeon lagi.
    Suzy itu sebenarnya gmn sih ? Dy baik or jahat ma jiyeon. ? Knp dy malah nyuruh Myungsoo lupain jiyeon ? #heran. ..Thor knp NEXTnya dipotret ?
    Gmn aku bisa dapat PWnya ? aku gak mau mati penasaran Thor #MEMELAS
    GOMAWO

  2. Hahahaaaaa myungsoo kelabakan sendiri kan akhir nya
    Makanya harga diri nya jgn tinggi2 ya
    Jiyeon klo udh marah repot dah urusannya
    Kucing liar mu skrg mngkn udh jadi kucing galak wkwkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s