Celebrity Wedding (Chapter 1: The Celebrity)

Title : Celebrity Wedding

Main cast :

  • Kim Myungsoo
  • Park Jiyeon

Genre : Marriage Life, Romance, Humor

Type : Chaptered

Jiyeon’s Side

Berkali-kali aku membanting buku sketsaku diatas meja, tapi aku tak juga mendapatkan setitikpun pencerahan tentang hal yang harus aku gambarkan didalam gaun malam yang sudah terlihat sempurna namun terlalu polos ini. aku tidak ingin membuat buku sketsaku kotor maka aku tidak akan menggambar apapun dulu sebelum ide yang sempurna muncul di otakku.

Kulirik jam tanganku untuk yang ke 49 kali dalam satu jam ini, dan waktu terasa begitu cepat. Sudah nyaris jam 5 dan aku harus pergi ke rumah Gyuri unnie untuk mengantarkan gaun ulangtahun yang kedelapan belas keponakanku sudah sempurna. Selain itu, dia juga sudah mewanti-wantiku untuk mengosongkan jadwal hari ini dan besok sejak 2 minggu yang lalu.

“ Aku tahu unnie sibuk, tapi unnie tahu kan ulang tahun ke-18 itu sangat penting? Gaun hasil karya unnie saja tidak cukup membuatku senang, pokoknya unnie harus datang tanpa terkecuali. Titik. ”

Kalimat penuh penekanan itu kembali berdengung ditelingaku membuat kepalaku berkali-kali lipat lebih berdenyut dari sebelumnya. Jiyoung dan umma-nya pasti akan marah besar kalau aku absen diacara sepenting itu.

Jiyoung adalah anak angkat dari kakak tertuaku—Park Gyuri. Ia diangkat 2 tahun setelah kakak-ku menikah dengan Kim Jong-hyun pada umur 8 tahun dan sejak itu aku mengajarkannya untuk memanggilku unnie saja karena kami hanya beda 9 tahun. HANYA.

Sebenarnya itu sudah lumayan jauh, namun panggilan ahjumma terlalu tidak elit untukku. Jadi aku memaksanya untuk memanggilku unnie.

Kulirik telfon kantor-ku yang tiba-tiba saja berdering dan mengangkatnya tanpa mengalihkan pandanganku dari skesta gaun yang setengah jadi itu, “ Hm? ”

“ Ada klien baru yang ingin bertemu denganmu. Penting sekali. ”

Aku berdecak mendengar suara manager pribadiku sekaligus teman setengah matiku itu karena aku sedang malas untuk menemui siapapun sebelum rancangain ini selesai,  “ Tunggu aku lima menit. ”

Segera setelah telfon ditutup aku berdiri dari kursi kerjaku dan merenggangkan otot-otot tubuhku yang kaku setelah duduk selama berjam-jam. Kemudian dengan langkah cepat aku menatap pantulan diriku dikaca besar yang memang sengaja aku pasang untuk saat-saat seperti ini dan melepaskan ikatan yang ada dirambutku. Kusisir rambut-rambutku dengan jari lalu mengoleskan pelembab bibir karena bibirku yang pecah-pecah akibat terlalu lama mendekam di ruangan ber-ac.

Setelah merasa puas dengan diriku, aku berlari kecil keluar dari ruanganku menuju ruang pertemuan yang biasa aku gunakan untuk mengobrol dengan klien baruku. Ruangan itu ada didalam dinding-dinding yang terbuat dari kaca yang dibentuk menjadi kotak berisi sofa dan meja.

Tapi ada yang aneh kali ini. kenapa semua orang malah berkumpul dan berusaha melihat kedalam ruangan?

Aku mempercepat langkahku, membuat suara beradunya high-heels dan lantai semakin nyaring terdengar. Beberapa pegaiwai yang melihatku berjalan mendekat, menggeser kepinggir untuk memberiku ruang jalan dan beberapa diantaranya malah kembali ke meja seolah-olah aku tidak bisa melihat apa yang barusan mereka kerjakan.

Kodorong pintu kaca itu dengan senyuman, mencoba melupakan pegawaiku yang sedang lalai bekerja karena melihat orang yang ntah siapa namun mampu membuat mereka seolah tidak melihat aku yang lewat.

“ Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu? ” Tanyaku dengan suara seramah mungkin.

Biasanya tidak sulit, namun karena beberapa hal yang terjadi saat ini rasanya aku ingin mengumpat terus daripada mengeluarkan suara ramah.

“ Ah, nona Park Jiyeon. Masih ingat saya? ”

Aku mengerutkan dahi sambil menatap seorang lelaki bermuka ramah yang baru saja menyapaku lalu tersenyum kecil dan menyambut uluran tangannya, kemudian tatapanku beralih keorang yang duduk disebelahnya dan tersenyum kecil. Namun orang itu hanya menatapku galak, membuatku cepat-cepat melepaskan jabatan tanganku padanya karena takut-takut, dia bisa meremukkan tanganku secara tiba-tiba. Lalu tatapanku beralih kepada seorang laki-laki yang tadinya memunggungiku.

Dan aku langsung terdiam tepat saat laki-laki itu membalikkan tubuhnya.

Dia Kim Myungsoo.

Pantas saja semua orang berkumpul untuk melihat keruangan ini tanpa takut aku marahi. Kapan lagi bisa melihat penyanyi sebesar Kim Myungsoo ini secara langsung.

“ Dia klien baru kita, Jiyeon. Dia ingin kau secara langsung merancang baju untuk world tour-nya nanti. ” Bisik Hyomin unnie.

Aku mengerutkan dahiku bingung lalu beralih menatap Myungsoo yang sudah mengulurkan tangan kepadaku. Susah payah, aku mengangkat tanganku dan menyambut uluran tangannya yang terasa hangat ditanganku.

Ya tuhan.

Dia berkali-kali lipat lebih tampan daripada yang biasa dilihat daripada di TV. Okay, aku bukan penggemar berat lagu-lagunya memang tapi penyanyi top sekelas Kim Myungsoo tidak mungkin membuatku membencinya tanpa alasan. Aliran musiknya pop rock bercampur R&B dengan lirik romantis yang bisa membuat semua wanita bertekuk lutut hanya dengan lagunya. Aku suka melihat Music Video-nya yang biasanya terkesan manly dan mahal di beberapa acara music Korea walaupun aku jarang sekali menonton TV.

Kim Myungsoo itu….seksi dan seisi korea pasti setuju dengan pendapatku. Badannya tidak terlalu atletis hingga dia tidak memiliki otot-otot yang besarnya seperti bodyguard. Tapi dia seksi dengan kulit putihnya, tubuh yang tinggi, pinggangnya yang ramping namun aku yakin memiliki kotak-kotak disana. Kalau dari segi wajah, jangan ditanya lagi. Dia memiliki tatapan tajam yang terkesan misterius, hidung mancung, dan bibir yang pas sekali dengan semua postur yang ia miliki.

Bagaimanapun, aku ini wanita. Aku tetap wanita biasa yang tidak tahan melihat laki-laki setampan Kim Myungsoo.

Laki-laki itu tersenyum, membuatku cepat-cepat melepaskan genggaman tanganku dari tangannya dan mengambil langkah menjauhinya. Senyum sejuta dollarnya benar-benar membuatku nyaris meleleh. Aku memberikan isyarat untuk mempersilahkan mereka semua duduk dan ternyata aku salah perkiraan. Kim Myungsoo duduk tepat didepanku. Sial.

“ Baiklah, bisa kita lanjutkan? ” Tanya Lee Jung-seop akhirnya.

Aku hanya mengangguk, pasrah dan membiarkan Hyomin unnie mengambil alih kendali untuk berbicara. Karena memang biasanya, dia lebih ahli dalam hal negosiasi dari pada aku.

Satu hal yang sejak tadi sebenarnya aku rasakan. Kenapa Kim Myungsoo terus saja menatapku dengan tatapan seperti itu? Rasanya aku lupa caranya bernafas. Oh, sial bagaimana ini? apa aku terlihat seperti orang bodoh yang salah tingkah? Tidak, tidak boleh. Aku harus tenang. Harus. Aku harus fokus.

“ Atas rekomendasi dari tuan Lee Jung-seop, Myungsoo memutuskan untuk memercayakan urusan rancangan bajunya kepada anda, apa anda sanggup? ”

Aku agak-agak tersentak dan menatap Hyomin unnie dan menatap lelaki yang memiliki tatapan garang yang aku ketahui baru-baru ini setelah mendengar percakapan mereka barusan adalah Manager Kim Myungsoo yang bernama Kim Yong-bin itu yang sudah menatapku dengan tatapan serius.

“ Err sebenarnya saya lebih ahli mendesain baju untuk wanita. ” Jawabku terlalu jujur hingga aku yakin tatapan tajam yang dilemparkan Hyomin unnie memang untukku, “ Tapi saya bisa mengusahakannya. ” Sambungku sebelum tatapan itu berhasil membolongkan kepalaku.

“ Saya rasa anda memang berbakat untuk pakaian pria, pakaian yang anda desain untuk saya waktu itu benar-benar luar biasa. ” Puji Jung-seop yang membuatku nyaris tersenyum lebar.

Lee Jung-seop adalah aktor kelas kakap di Korea. Aktingnya terutama di film laga sudah tidak diragukan lagi dan aku sendiri sering menonton drama-drama yang dimainkan olehnya. Dia pernah memintaku untuk mendesain bajunya untuk menghadiri acara penghargaan paling bergengsi sepanjang tahun.

“ Saya akan mencobanya, kalau boleh tahu kapan pakaian ini akan digunakan? ” Tanyaku sesopan mungkin.

“ Awal tahun depan. Bagaimana? ” Jawab manager Myungsoo yang menakutkan itu.

Kulirik Hyomin unnie yang mengangguk kepadaku. Entahlah, apa aku bisa. Tapi aku yakin yang Hyomin unnie ingin sekali katakan adalah, ini proyek besar. Kau tidak boleh mengabaikannya.

Selalu begitu.

Myungsoo’s Side

Sekali lagi aku tersenyum sendiri, seperti orang gila setelah sadar selama bermenit-menit aku berada dalam ruangan ini pandanganku hanya tertuju pada seorang wanita modis bertubuh proporsional yang bernama Park Jiyeon.

Park Jiyeon itu sendiri terlihat salahtingkah dan berusaha fokus menatap kepada Managerku walaupun aku tahu setiap dia menatap Yong-bin hyung, yang ada diotaknya adalah bagaimana caranya kabur kalau-kalau Managerku itu secara mendadak menembakkan pistol kekepalanya. Tidak heran, semua orang yang melihat Yong-bin hyung untuk pertama kalinya selalu memiliki pikiran yang sama.

Kutatap dia lagi dari ujung kepala hingga ke jari-jarinya. Dia memiliki rambut dengan potongan bob yang agak melewati bahu, membuatnya terlihat dewasa tapi tidak tampak tua. Make-up tipis dan lipbalm yang aku yakin baru saja dia oleskan saat baru saja ingin bertemu dengan kami. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun juga tidak pendek. Selain itu ia juga tidak kurus, dan lumayan berisi. Pandanganku beralih kepada jari-jari panjangnya yang tidak dihiasi cincin. Kuku-nya yang panjang telihat mengkilat hasil dari manicure-pedicure yang mungkin dilakukannya secara rutin.

Overall, menurutku dia sejenis wanita high-class yang cerdas. Terbukti dengan perusahaan yang aku dengar-dengar ia dirikan dari nol sejak 6 tahun lalu yang sekarang sudah tumbuh menjadi perusahaan pakaian branded yang termasuk sukses di Korea dan dunia.

“ Awal tahun depan. Bagaimana? ” Tanya Managerku kepadanya.

Bisa aku lihat wanita itu agak meringis dan melirik seseorang yang aku ketahui bernama Park Hyomin—asisten pribadi sekaligus orang yang mengatur tentang kontrak kami, nantinya—yang balas menatapnya lalu mengangguk.

“ Sepertinya tidak masalah. Namun untuk urusan pengukuran dan pembahasannya dengan stylist anda akan ditangani oleh salah satu pegawai kami.” Jelas Park Hyomin.

Dahiku langsung berkerut mendengar penjelasannya. Aku bergeser mendekati managerku dan memberi kode untuk mendekat agar aku bisa berbisik, “ Aku mau Park Jiyeon langsung yang turun tangan dalam hal apapun. Aku tidak mau mengambil resiko untuk tour-ku. ”

Managerku mengangguk berkali-kali. Aku langsung beringsut menjauh. Untuk pertama kalinya, wanita itu menatapku ingin tahu dan alis yang dinaikkan. Aku hanya memasang wajah sedatar mungkin dan balas menatapnya. Jujur saja, aku agak kaget dengan tatapannya yang terkesan biasa saja. Aku hanya tidak terbiasa, biasanya semua wanita akan menatapku dengan tatapan flirty yang membuatku agak merasa mual. Tapi dia berbeda.

Menarik sekali.

Oh, atau ini salah satu triknya untuk membuatnya terlihat berbeda lalu aku akan menyukainya, begitu? Perempuan memang memiliki sejuta trik untuk menarik perhatian lelaki, terutama yang sepertiku.

“ Sebenarnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Myungsoo sendiri ingin nona Park Jiyeon lah yang turun tangan dalam hal sedetail apapun. ”

Aku tersenyum kecil sedangkan Jiyeon menatapku dengan dahi berkerut lalu beralih menatap jam tangannya. Ekspresinya yang tadi tampak bingung berubah menjadi panik. Dia kenapa? Ada janji, kah? Dengan siapa? Pacarnya?

Kenapa aku jadi penasaran sendiri?

Mungkin gadis-super-aneh-yang-tidak-tertarik padaku ini memang benar-benar membuatku penasaran hingga gerak-geriknya selalu aku usahakan untuk terlihat di mataku. aku bahkan tidak segan-segan untuk menatapnya langsung. Tidak masalah, dia kelihatan sangat keberatan dengan tatapanku dan itu membuatku makin bersemangat.

Kali ini wanita bernama Hyomin itu menatapnya meminta pendapat sedangkan Jiyeon hanya menatapnya dengan tatapan memohon, walaupun aku tidak tahu apa yang dia inginkan. Mana mungkin dia memohon untuk menolak kontrak ini. jelas saja, ini keuntungan besar bagi perusahaannya sendiri.

“ Tapi Jiyeon sendiri memiliki jadwal yang tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu. Lagi pula, dengan bantuan orang lain, kami bisa menyelesaikannya lebih cepat. ” Bantah Hyomin.

Managerku menggeleng, dia memang sangat bisa diandalkan, “ Kami memilih perusahaan ini karena kami percaya pada nona Jiyeon. Bukan orang lain. ”

Raut wajah Hyomin agak berubah, mungkin dia sedikit tersinggung, “ Mungkin kami harus.. ”

“ Tidak masalah, ” Potong Jiyeon cepat-cepat dan membuatku benar-benar terkejut. Kulihat ia memelototi jam-nya sekali lagi, membuatku benar-benar tidak bisa menahan diri.

“ Do you need to be somewhere? ” Tanyaku langsung

Raut muka Jiyeon berubah kaget lalu mengangguk sambil menatapku, “ Aku harus kerumah keponakanku untuk mengantarkan gaunnya. Besok dia ulang tahun. ” Jawabnya lalu entah kenapa dia malah mengigit bibirnya. Mungkin dia merasa tidak seharusnya dia menjawab pertanyaan orang asing sepertiku.

“ Kenapa tidak menyuruh orang lain saja? ”

Dia menggeleng, “ Tidak. Aku sudah berjanji untuk mengantarnya sendiri. ”

Aku hanya mengangguk. Entah kenapa aku lumayan lega mengetahui dia tidak ada janji dengan pacarnya. Atau mungkin dia tidak memiliki pacar?

Oh, kenapa aku harus memikirkan statusnya juga.

Kemudian managerku kembali mengambil alih pembicaraan. Jujur saja, aku juga sudah luar biasa bosan dengan rapat ini. aku jadi bingung, kenapa manager-ku terus saja mendesak ku untuk mengikuti rapat tidak penting ini. lebih baik aku menghabiskan waktu didalam studioku, itu lebih menghasilkan sesuatukan?

“ Baiklah, karena nona Jiyeon sendiri ada urusan, kita akan mempercepat masalah ini, ” Putus manager-ku, “ Jadi bagaimana kalau besok kalian mulai ke kantor-nya Myungsoo? ”

Mendengar pertanyaan Managerku, ekspresi Jiyeon berubah menjadi seperti kena putusan hukuman mati dan membuatku susah payah untuk menahan tawa. Ekspresi-nya benar-benar lucu.

“ Baiklah, kami akan datang kesana besok siang. ” Jawab Hyomin.

Dan kalimat Hyomin selanjutnya membuatnya benar-benar terlihat ingin mati saja sekarang tapi dia tetap saja menutup mulutnya tanpa berkata apapun yang membuatku heran.

Kenapa dia tidak bilang saja kalau memang tidak bisa? Kenapa dia harus memaksakan diri?

Karena fikiranku yang tidak fokus, aku tidak tahu apa percakapan mereka selanjutnya. Aku ikut berdiri saat managerku dan seisi ruangan sudah berdiri lalu menyalami Hyomin dan Jiyeon bergantian. Kami semua berjalan keluar ruangan, aku sendiri berjalan paling belakang dan tepat disampingku ada Jiyeon dengan muka merana.

“ Besok kau ada acara juga? ” Tanyaku, susah payah menyelipkan nada tidak seolah tidak perduli dan hanya berbasa basi.

Jiyeon mengangguk lemas, “ Besok acara ulang tahun keponakanku. ” Gumamnya.

Aku hanya mengangguk mengerti, tidak tahu ingin melakukan apa untuk menghiburnya. Apa aku harus minta maaf? Tapi aku rasa ini bukan salahku. Ia berjalan pelan mengantarkan kami kedepan pintu lift dengan bahu merosot karena tidak semangat. Mungkin hanya aku yang menyadari, namun dia seperti akan dipenjara karena tidak menghadiri acara ulang tahun keponakannya sendiri.

Aneh sekali, bukan?

Setelah mendengarkan hyomin dan managerku berbicara panjang lebar—aku sama sekali tidak berminat mendengarkan apa yang mereka diskusikan—kami semua masuk kedalam lift, meninggalkan Jiyeon dan seseorang bernama Hyomin yang aku ketahui adalah manager Jiyeon tapi malah lebih mendominasi dalam mengatur Jiyeon dan perusahaannya.

Jiyeon’s Side

“ DID YOU SEE IT, JIYEONIE?! FOR GOD’S SAKE HE’S FUCKING HANDSOME!! ”

Aku melangkahkan kakiku lebar-lebar, meninggalkan Hyomin unnie yang terus saja berteriak semenjak mereka masuk kedalam lift. Hilang sudah wajah Hyomin unnie yang terlihat sangat berwibawa saat rapat kecil tadi. Dia itu memang benar-benar, tidak bisa melihat yang mulus sedikit saja.

“ Yeah, I know. ”

Hyomin unnie menghentikan langkahnya, membuatku ikut menghentikan langkahku dan menatapnya yang berada dibelakangku. Ia sudah melipat kedua tangannya diatas dada dan menatapku kesal.

“ Why do you seem not interested at all? ” Tanyanya dengan nada dan tatapan yang menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak suka dengan responku, “ Do you think he isn’t good-looking? Oh, I mean, perfect-looking? ” Lanjutnya.

Aku menghela nafas dan melanjutkan langkahku, “ I’m sorry, ” balasku dengan nada skeptis paling tajam yang aku miliki, “ But maybe you forgot tomorrow is my niece’s birthday event. ”

Para karyawanku yang tadinya berkumpul mengerumuni ruang meeting transparan satu-satunya di kantorku sudah bubar. Mereka sudah kembali ke meja mereka masing-masing, melirikku dan Hyomin unnie dengan tatapan ingin tahu. Walaupun ruangan itu transparan, bukan berarti mereka dapat mendengar apa yang kami bicarakan. Karena tidak tahan dilirik seperti itu, aku berhenti melangkah dan memelototi mereka satu-persatu, membuat mereka mengalihkan pandangan pada setumpuk pekerjaan di meja mereka masing-masing.

Setelah puas memberikan mereka tatapan kematian, aku melanjutkan langkahku menuju ruanganku sendiri, diikuti dengan Hyomin unnie dibelakangku.

“ Of course not. ” Jawab Hyomin unnie tepat saat dia menutup pintu ruanganku dengan nada kelewat santai yang membuatku ingin menyantet-nya detik itu juga, “ Makanya aku minta kita kesana siang saja, acaranya malam kan? ”

Kutatap wajah Hyomin unnie dengan tatapan seolah dialah manusia paling bodoh sedunia, “ Do you think Gyuri-unnie doesn’t need me and letting me do this fucking work? ”

Hyomin unnie memukul dahinya setelah sadar akan kebodohannya, “ Oh my god. You right. ”

Kami berdua duduk di sofa dengan wajah depresi yang sama. Gyuri unnie adalah kakak tertua sekaligus orang yang paling aku takuti seumur hidupku dan Hyomin unnie tau hal itu. Dia adalah orang yang paling mengaturku dalam hal apapun bahkan hal-hal tidak penting seperti berapa kali aku harus buang air dalam sehari.

Untung saja dia sudah menikah jadi dia tidak lagi mengatur berapakali aku harus buang air, tapi dia tetap mengaturku dalam hal pacar atau apapun yang menyangkut masa depanku. Dia bisa marah besar jika aku terus-terus saja bekerja dan melupakan janjiku.

Mungkin dia tidak akan melemparkan barang-barang padaku ataupun menjambak rambutku—karena dia telah berhenti melakukannya sejak dia berumur 17 tahun—tapi dia pasti akan menceramahiku panjang lebar tentang pentingnya acara kumpul keluarga lalu melaporkannya pada mom dengan melebih lebihkan cerita.

Membayangkannya saja membuatku berfikir lebih baik mati.

“ Tidak ada cara lain, ” Gumamku, “ Aku harus menghadapinya. ”

Hyomin unnie mengangguk dan memberiku semangat, walaupun dari matanya terlihat jelas tatapan kasihan dan penuh rasa bersalah.

“ ASTAGA. AKU HARUS MENGANTARKAN DRESS JIYOUNG SEKARANG JUGA!! ”

87 thoughts on “Celebrity Wedding (Chapter 1: The Celebrity)

  1. Telat banget comment-_- keren keren keren. Myungsoo disini rada mirip sama yang di YSBM gitu yah, harga dirinya tinggi banget._. Behind the scene of myungyeonnya kapan dilanjut?._.
    ntar myungsoo sm jiyeon nikahnya kapan?’-‘)
    fast update please^^ kkk

  2. Woooou ^^
    Suka bgt nih dgn ceritanya.
    Aigoo myungsoo ngerasa jiyeon gak terpengaruh dgn pesonanya? Well pasti jiyeon bakal terpengaruh dengan pesona kim myungsoo.
    Kasian jiyeon jadi telat nganterin gaun buat jiyoung
    Next ya…

  3. woww cerita’nya seru banget .
    Jadi pengen cepet2 bca kelanjutan’nya nihh .
    Mumpung kelanjutan’nya udah ada .
    Aku izin bca dlu yahh . Hehe

  4. wahh jiyeon terpesona nih ma myung.myung juga kayaknya tertarik ma jiyeon. ceritanya keren.pengen cepet baca lanjutannya. ijin baca ya thor

  5. wahh , senyum2 sendiri baca nya . jiyeon ma myungsoo sama2 bisa ngatur raut wajah nya keke
    jiyeon takut bgt ma gyuri eonni hehe
    aku baca next nya dulu ne ^^

  6. haha konyol , baru aja aku stuju ma jiyeon krna myung nganggap jiyeon gk laku trus mempermainkan prnikahan eh si jiyeon brubah pikiran stuju krna itu menarik keke
    media d koreaa ngeri ,
    naeun ketauan sbenernya tu dia cuma pke topeng malaikat(?) haha
    bakal meriah tu wedding nya , next.next thor fighting ^^

  7. Oraenmaniya ^^
    i’m back! haha *after hiatus as a reader lol
    Eumm.. Myungsoo sepertinya mulai tertarik dengan sosok jiyeon, dingin tapi penasaran.
    duh! kasihan jiyeon bakal ribet sepertinya berurusan dg myungsoo.. haha
    saia suka ini haha

  8. Wahh disni takut bner sma eonni nya yaaa .. Keke myungsoo kykny tertarik nih sma jiyeon .. Myung bkin jiyeon grogi nih .. Kerenn thor . Gomawo ne🙂

  9. Uuhh.. Aku suka banget ama cara authornya ngegambarin suasana hati masing2 cast utama. Bener2 detail dan pas banget.. Jiyi dan Myung udah punya ketertarikan, ya walau masih gengsi begitu. Aku selalu geregetan kalo udah baca pemikiran2 si Jiyi dan Myung.. Sama2 mau tapi pake acara so bodo amat gitu.. Hhaha.. Lanjut ah.

  10. Myungsoo dari awal udah keliatan tertarik banget sama Jiyeon. Oh iya, ini judulnya Celebrity Wedding. Pasti Jiyeon sama Myungsoo ntar nikah ya? Penasaran gimana bisa akhirnya mereka nikah

  11. daebak, thor.,
    bahasa dari ff.nya aku suka, terkesan rapi menurutku,
    kaya.nya yang bakalan suka duluan itu, myungsoo dulu ya ???
    semoga aja gitu authornim, ^^
    buat myungsoo ngejar2 terus cinta mati sama jiyeon.nya yaw ???
    *keep writing and fighting, authornim*

  12. di post tahun lalu…tapi baca.ny sekarang…
    hahaha…kagak tau sih…
    jd baru coment…gpp kn thor??
    love myungyeon pkok.ny….
    cerita.ny menarikkk…
    seru2..
    lnjut baca deh..🙂

  13. Haiiiii ~~ 👋👋👋
    Aku reader baru nih
    Sebenernya aku dah lama follow wp km tp lom sempet jelajah wp km
    Aku mau mulai jelajah😄

    Part 1 selesai
    Lanjut ke part 2 yaa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s