Celebrity Wedding (Chapter 3: His Scandal)

 

celebrity wedding copy

Title : Celebrity Wedding

Main Cast :

  • Kim Myungsoo
  • Park Jiyeon

Genre : Marriage life, Romance, Humor

Type : Chaptered

Myungsoo’s Side

What the hell is going on?

Aku duduk tenang didepan TV sementara semua orang yang berada didalam ruangan ini sibuk mengangkat telfon dan membantah semua tuduhan yang mereka ucapkan atasku.

Menghamili Son Naeun? Yang benar saja.

Bahkan umma yang biasanya tenang tampak tegang melihat tayangan TV yang berulang kali menampilkan foto-foto Naeun saat berada di dokter kandungan sendirian dan siaran itu ada di semua channel TV nasional. Tentu saja semua tuduhan terarah kepadaku yang notabene-nya adalah pacar Naeun.

Mana mungkin mereka berfikir wanita yang tampak luar biasa seperti malaikat itu selingkuh dibelakangku bahkan sampai hamil. Well, aku juga sama tidak menyangkanya dengan mereka tapi apa boleh buat, itu adalah kenyataannya.

Berawal dari berita putusnya hubungan kami sekitar 2 bulan yang lalu. Yang tentunya membuat geger korea. Bagaimana tidak? Pasangan paling hot dan paling diidamkan seluruh rakyat korea berakhir. Well, sepeperti itulah kira-kira pemikiran mereka. Lalu seminggu yang lalu, Naeun membuat konfersi pers setelah foto-fotonya yang keluar masuk dokter kandungan sendirian menyebar. Ia mengaku telah hamil selama 4 bulan.

Akan menjadi lebih mudah jika ia mengaku bahwa aku bukanlah ayah dari anak yang dikandungnya. Tapi tentu saja, itu adalah hal yang paling tidak mungkin ia lakukan. Dia, Son Naeun, bidadari korea yang sempurna, baik hati dan cantik hamil diluar nikah? Bersama seorang pria yang bahkan bukan pacarnya? Dan menyelingkui seorang Kim Myungsoo?

Tentu saja image-nya akan hancur lebur dalam sekejap. Memang betul kata pepatah, sepandai apapun ia menutupi segala keburukannya akhirnya juga terbongkar. Dan sialnya, aku tersangkut dengan skandal ini.

Beberapa kali aku mengecek fansite resmiku yang sedang heboh-hebohnya membahas tentang siapa yang telah menghamili Naeun. Beberapa percaya aku adalah pelakunya, dan juga ada yang percaya bahwa aku adalah seorang pria baik-baik yang tidak mungkin menghamili tanpa bertanggung jawab. Saat dikerubungi para wartawan dan fans-pun aku hanya diam tanpa berkata apapun, alhasil mereka semua masih berdiri di depan rumahku yang dijaga ketat padahal hari sudah nyaris jam 9 malam dan aku tidak bisa kemanapun selama beberapa hari.

Menyedihkan sekali, bukan?

Jika kau mengatakan aku sedih karena diselingkuhi, aku sama sekali tidak sedih, hanya marah. Aku belum pernah diselingkuhi oleh siapapun sebelumnya, karena mereka bahkan berebut untuk berdiri disampingku dan tidak akan mungkin menyia-menyiakan kesempatan itu begitu saja jika dia mendapatkannya. Tapi kemudian aku sadar, ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Aku juga memiliki kesalahan disini.

See? Aku tidak seegois itu, kan?

Dan kesalahanku adalah, tidak memperhatikan Naeun selama kami berhubungan. Aku sama sekali tidak peduli kepadanya dan aku mengakui bahwa itu adalah kesalahanku sehingga membuat dia kembali pada mantannya. Aku mengerti kalau dia juga membutuhkan perhatian. Semua wanita senang diperhatikan.

“ Kau yakin tidak mau membuat press-conference? Ini bisa menghancurkan karirmu perlahan-lahan. ”

Aku menggeleng mantap dan menatap umma yang tampak gelisah, “ Never. ”

“ For god’s sake, Myungsoo. Kenapa kau keras kepala sekali? ”

Umma tampak memandangku depresi sedangkan manager hyung baru saja menutup telfonnya dan memandangku dengan pandangan yang aku tidak mengerti, membuatku menghela nafas dengan berat. Kenapa tidak ada yang mengerti dengan apa yang aku fikirkan?

“ Umma, aku sudah mengatakan hal ini berulang kali. Aku tidak akan membuat press-conference apapun untuk hal ini. aku merasa tidak bersalah dan aku tidak perlu membeberkan kesalahan orang. Biarkan mereka yang mengatakannya sendiri. ”

“ Lalu membiarkan album-mu ditunda dan juga world tour-mu gagal? ” Tanya manager hyung, menatapku tajam.

Kalau aku bisa memilih, tentu saja aku tidak ingin menunda albumku ataupun tour-ku. Aku sudah mempersiapkan album itu setahun lamanya dengan kerja keras dan tidak mungkin aku menunda-nundanya lagi. Tapi apa boleh buat. Aku akan menutupi hal ini dan membiarkan mereka berasumsi sendiri. Mungkin ini yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku kepada Naeun. Sekaligus membantu Zelo, bagaimanapun dia temanku dan dia baru saja debut. Mana mungkin aku tega membiarkannya jatuh ketika ia baru saja bangkit.

Aku hanya mengangguk, sedangkan umma dan manager hyung menghela nafas kesal.

“ Oke kalau itu mau kamu. Tapi umma akan mencari cara agar nama kamu bersih.”

Aku mendesah. Lelah melawan umma yang sangat keras kepala, “ Umma.. ”

“ Kamu mau membiarkan semua artis dibawah management ini hancur juga? ”

Kali ini aku tidak membantah lagi, umma benar. Aku tidak mungkin menghancurkan mereka yang telah dididik dengan susah payah hanya karena gossip nonsense seperti ini. bisa-bisa perusahaan yang telah umma dirikan susah payah hancur karena pemiliknya memiliki skandal separah ini.

“ Oke, ” jawabku menyerah, “ Jadi apa rencana umma? ”

Jiyeon’s Side

Hari sudah malam dan aku masih berada disini—duduk diantara tumpukan kertas berisi pakaian untuk Kim Myungsoo, pasangan duet-nya, si ganteng Hoya dan pemain drum baru mereka yang akhir-akhir ini aku ketahui bernama Lee Sungjong—sambil menatap tumpukan itu dengan senyum lebar. Setelah hampir tiga bulan saat terakhir kali aku berkunjung kesana dengan adegan-yang-tidak-akan-terlupakan, akhirnya aku menyelesaikan desainku kurang dari waktu yang ditentukan. Lumayan sulit, karena aku fikir mereka hanya bernyanyi dan bermain alat musik, ternyata mereka akan mengadakan beberapa stage untuk menari. Aku tidak menyangka orang seperti Myungsoo bisa menari.

Mungkin aku akan membeli tiket konser mereka secara diam-diam untuk melihat Myungsoo menari.

“ Unnie? ”

Aku tersentak dan menatap Krystal—salah satu karyawanku—tengah menatapku dengan heran disebrang meja, “ Kapan kau masuk? ”

Krystal Jung memutar matanya dan menghempaskan tubuhnya dikursi, ia melirik meja-ku yang berantakan lalu menatapku kesal.

“ Sudah sejak kau senyum-senyum menatap gambar baju artis seksi itu. ”

Jadi tanpa sadar aku tersenyum membayangkan Kim Myungsoo menari? Benar-benar memalukan. Untung saja Krystal tidak bisa membaca pikiranku. Kalau bisa, bisa-bisa reputasiku di kantor makin hancur saja.

Aku berdehem, “ Mungkin karena aku terlalu senang dengan hasil desainku. ”

Dia melambaikan tangannya, tidak percaya, “ Kau tidak pernah seperti itu. ”

Sial. Aku memang susah berbohong. Benar-benar payah.

“ Kau sudah menelfon manager Myungsoo? ” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Krystal mengangguk, “ Mereka bilang, hati-hati kalau menuju kesana. Wartawan dan paparazzi sedang berkumpul disekitar kantor mereka. ”

Dasar artis.

Krystal lalu mengambil lembaran-lembaran yang berisi coretanku dan memperhatikannya dengan detail. Desainku sudah benar-benar siap, lengkap dengan warna-warna yang harus aku berikan pada gambar. Hanya saja aku perlu menemui penata rias mereka untuk mendapatkan persetujuan dan mungkin perubahan jika mereka ingin menambahkan sesuatu.

Dan ku harap tidak ada perubahan.

“ Bagus juga, ” Komentar Krystal, “ Mungkin kau harus menerima desain baju laki-laki juga, unn. ”

Aku terbahak, “ Hanya kebetulan. ”

Tiba-tiba saja ponselku yang sejak tadi terkapar tanpa disentuh itu bergetar, ada panggilan masuk. Mungkin saja Gyuri unnie yang akan meneriakiku karena aku tidak juga kunjung pulang padahal sekarang sudah jam 9 malam. Tapi seingatku, hari ini bukan jadwal ia mengunjungi apartementku.

“ Sudah malam, Jung. Kau bisa pulang sekarang. ” Usirku.

Krystal mendengus lalu mengembalikan kertas-kertasku, “ Okay. Hati-hati kalau pulang terlalu malam unn, kau tau sendiri kan kalau malam-malam kantor ini ada penunggunya? ”

Aku memutar bola mataku, “ Semoga penunggu itu menemuimu dibawah. ”

Bisa kulihat tubuh Krystal yang merinding lalu lari terbirit-birit menuju pintu keluar. Aku hanya tertawa lalu meraih ponselku yang terus saja bergetar.

“ Kapan kamu akan ke amerika? ”

Aku berjalan mengitari meja kerja lalu mendudukkan diriku disofa empuk kesukaanku setelah sibuk seharian bekerja. Kupindahkan ponselku ketangan kiri sedangkan tangan kananku terulur untuk mengambil segelas kopi yang tadi aku pesan pada Krystal.

“ What? ” Tanyaku ulang, takut-takut aku salah mendengar.

“ Kapan kamu akan mengunjungi mom di amerika? ”

Aku nyaris saja tersedak saat mendengar pertanyaan super aneh dari mom. Ini benar-benar aneh karena mom tidak pernah sekalipun menyuruhku untuk mengunjunginya karena dia sudah cukup bahagia melihat aku jauh-jauh darinya sekarang.

Oh, tidak. Sepertinya aku tahu kenapa. Mom sedang gencar-gencarnya memaksaku untuk melakukan hal-yang-paling-mustahil-aku-lakukan-sekarang yang tidak ingin aku bahas saat ini dalam alasan apapun.

“ Mom, please stop. We already discuss it. ”

“ Oh, honey. Please, you must listen to me now. Kalau kamu mau, mommy bisa nyariin kamu…. ”

Sebelum mom menyelesaikan kalimatnya, aku buru-buru memotongnya dengan pertanyaan yang baru saja muncul diotakku, “ Tell me, kenapa aku harus nikah sekarang, mom? ”

“ Karena.. ” Mom tidak melanjutkan kalimatnya, sebuah senyum licik mulai terbentuk dibibirku tanpa bisa aku hentikan. Aku tahu mom akan ka…………………… “ Karena sekarang mom sedang sakit dan mom ingin melihat kamu menikah, secepatnya. ”

…..lah.

Jujur saja, aku tidak terlalu perduli dengan Mom-yang-sakit—aku memang terdengar seperti anak durhaka—tapi aku merasa tidak akan ada perubahan yang berarti dalam hidup kalau-kalau mom sakit dan yang paling penting mom adalah wanita yang super sehat. Tapi kemudian aku ingat, aku memiliki dua kakak super over-protective denganku dan lebih lagi dengan Mom juga. Mungkin mereka akan membunuhku kalau dia tau kenapa mom gentayangan setelah dia meninggal.

Tentu saja, karena aku tidak menikah.

“ Is this a joke, mom? ”

Dan jawabannya benar-benar diluar harapanku, “ Of course not. Mom benar-benar serius, Jiyeon. ”

Sekarang aku agak khawatir juga. Mom tidak pernah terkena penyakit apapun, bahkan flu sekalipun karena Mom selalu suka olahraga, makan teratur dan tidak pernah memiliki beban pikiran yang berat. Kecuali jika ia benar-benar memikirkan kapan aku menikah hingga stress berat.

“ Mom, ” ucapku setengah frustasi, “ Jangan terlalu difikirkan okay? Aku masih 27 tahun dan— ”

“ MASIH?! ” aku tersentak dengan suara tinggi mom, “ Itu sudah cukup untuk kamu menikah, Jiyeon. ”

Lagi-lagi aku meringis, sepertinya aku salah bicara karena telah mengungkit umurku. Bodohnya. Aku menarik nafas, mencoba menenangkan mom, “ Oke, oke. Akan aku usahakan ya? ”

“ POKOKNYA MOM TIDAK MAU TAU. KAMU HARUS MENIKAH TAHUN INI ATAU MINIMAL MEMPUNYAI CALON. KALAU TIDAK MOM AKAN MENJODOHKANMU! ”

Setelah itu sambungan telfon diputuskan oleh mom.

Ya. Beberapa bulan ini mom beserta kakak-kakakku yang sangat kurang kerjaan itu memaksaku untuk menikah karena mereka khawatir aku akan menjadi perawan tua akibat terlalu sibuk bekerja. Padahal aku sendiri belum terlalu memikirkan hal itu dan fokus pada karirku saja. Lagipula tidak mungkin kan aku, Park Jiyeon yang tidak jelek-jelek sekali ini tidak punya suami? Masih banyak wanita diluar sana yang jelek sekalipun bisa punya suami. Bahkan aku sudah bisa membiayai diriku sendiri tanpa menyusahkan suamiku kelak, manamungkin ada yang menolakku?

Saat aku mengatakan pemikiranku ini, Gyuri unnie malah menertawaiku, “ Justru itu, karena kau terlalu mandiri, lelaki manapun tidak ingin mendekatimu karena takut tidak seimbang denganmu. ”

Benar juga. Jadi dimana tempat mencari suami?

*****

Tepat jam 8 pagi aku sudah keluar dari apartement dan meluncur menuju ke rumah Hyomin unnie untuk pergi kantor Myungsoo bersama-sama. Jieun sempat protes saat aku lebih memilih mengajak Hyomin unnie daripada dia, tapi apa boleh buat. Aku tidak mungkin mengajak seisi kantor untuk pergi ke kantor Myungsoo, jadi kuputuskan untuk meninggalkan Jieun daripada aku menuai konflik di kantor dan menyuruhnya untuk menggantikanku sesaat.

Benar-benar menyusahkan. Aku tidak bisa menyuruh asistenku atau siapapun selain aku untuk pergi mendiskusikan ini, itu sudah ada didalam kontrak. Jadi terpaksa aku meninggalkan pekerjaanku dan mengurus artis-artis besar ini.

Aku menguap beberapa kali, mengingat aku baru tiba diapartement nyaris pukul 12 malam dan terbangun jam 5 untuk membereskan seisi apartementku karena aku tidak memakai jasa pembantu. Aku ingin membereskan semuanya sendiri untuk menghindari kehilangan berkas apapun, terdengar perfeksionis ya?

Terserah saja. Sudah terlalu banyak yang menganggapku begitu.

Sambil menunggu Hyomin unnie keluar dari rumahnya, aku menatap wajahku pada kaca yang sudar aku sediakan didalam mobil. Aku memakai dress berwarna tosca selutut beserta blazer untuk menutupi bahuku dan juga sepasang wedges, tidak terlalu formal dan tidak juga terlalu santai. Kutatap wajahku yang hanya memakai bedak tipis dan lipbalm agar bibirku tidak pucat. Rambut pendek ku juga sudah mulai memanjang.

Ya tuhan. Kapan terakhir kali aku ke salon?

“ Jangan pelototin muka sendiri gitu dong. ”

Tanpa menoleh, aku tahu bahwa Hyomin unnie baru saja masuk dan duduk disampingku. Aku meliriknya sejenak, ia juga terlihat santai dengan blouse dan rok pendek itu. “ Unn, sepulang dari sini ayo kita kesalon. ”

Dia menatapku dengan dahi berkerut, “ Kenapa kau tiba-tiba ingin ke salon? ”

Pertanyaan bodoh. Aku memutar kunci mobil dan mulai menjalankan mobilku, “ Karena terakhir kalinya aku ke salo kira-kira 6 bulan yang lalu. ”

Hyomin unnie terkekeh, “ Okay. Kebetulan pekerjaanku kemarin juga sudah selesai. ”

Aku menoleh padanya sebentar, “ Bukannya kemarin unnie pulang cepat? ” Selidikku.

Ya tentu saja aku tahu jam berapa seisi kantor pulang karena aku selalu mengecek absen mereka sebelum pulang. Apalagi Hyomin unnie adalah wakilku. Tapi tidak heran juga kalau belakangan ia pulang cepat. Dia baru saja merasakan menjadi seorang istri dan sedang belajar menjadi seorang istri yang baik. Padahal biasanya, dia selalu menemaniku lembur.

Benar-benar.

“ Tentu saja. Tapi aku kan bisa menyelesaikannya dirumah. ”

“ Tau deh yang baru nikah. ” Sindirku.

Hyomin unnie hanya tertawa dengan sindiranku, “ Makanya cepetan nikah. ”

Aku mendengus kesal, “ Please, jangan ada mom kedua yang menyuruhku menikah. ”

Lagi-lagi dia tertawa. Sial. Baru jam segini tapi rasanya semua orang sudah menertawaiku. Namun tiba-tiba tawanya terhenti saat melihat kedepan.

Ternyata peringatan manager Myungsoo untuk hati-hati itu bukan hanya sebuah bentuk perhatian kepadaku, namun ia benar-benar serius untuk mengingatkan. Bodohnya aku, manamungkin manager bertampang bodyguard itu perhatian padaku.

Tepat disepanjang jalan menuju pagar kantor, sudah berkumpul sekitar 20 orang wartawan yang menunggu pagar ataupun seseorang keluar dari pintu tersebut. Beberapa bahkan berdiri dengan jarak 10meter dari pagar. Aku melirik jam tanganku, masih jam 9 pagi.

Jadi, apa ada masalah yang tidak aku ketahui?

“ Seperti perkiraanku, ” Kata Hyomin, “ Bahkan mereka sepertinya sudah menunggu hampir 24 jam. ”

Aku berkonsentrasi pada jalanan agar tidak menabrak wartawan tersebut sambil sesekali menekan klakson agar mereka menyingkir, “ Memang ada apa? ”

“ Demi tuhan, Jiyeon! Apa kau tidak tau? ” Teriak Hyomin unnie nyaris histeris, aku hanya menggeleng pelan.

“ Kufikir kau satu-satunya orang korea yang tidak tahu hal ini, ” Gumamnya, aku hanya berdecak kesal. Mungkin dia lupa kalau aku jarang menonton infotaiment, atau mungkin dia juga lupa kalau aku sibuk belakangan ini, “ Naeun is pregnant! ”

Refleks aku menginjak rem sekuat tenaga, menyebabkan tubuh kami berdua terbanting kebelakang. Aku menatap Hyomin unnie dengan tatapan horror, seolah-olah sedang mendengar bahwa ramalan bumi akan kiamat benar-benar ada.

“ What the?! ”

Hyomin unnie mengelus dadanya karena kaget dan menatapku tak kalah horror, bedanya ia menatapku horror karena aksi mengerem mendadak yang aku lakukan.

“ Oh my god, Jiyeon, jangan membunuhku! Aku baru saja menikah! ”

*****

Setelah bersusah payah menyebrangi lautan wartawan dan akhirnya parkir didepan pintu rumah, akhirnya aku turun dari mobil bersama hyomin-unnie. Bisa kurasakan melalui punggungku, para wartawan haus berita itu menatapku dan hyomin unnie penuh rasa ingin tahu. Aku harap mereka tidak menuduhku yang macam-macam. Jangan sampai besok ada berita, “ Park Jiyeon adalah orang ketiga dari hubungan Myungsoo-Naeun? ”

Tidak. Jangan gila.

Hyomin unnie memang sudah menceritakan berita tentang mereka secara mendetail disertai dengan pendapat dan argumentasinya kalau-kalau aku menuduh bahwa Naeun benar-benar dihamili oleh Myungsoo.

Tapi sayang sekali, dia harus menelan argumentasi itu bulat-bulat karena akupun berfikir Myungsoo tidak mungkin menghamili Son Naeun kalau mengingat bagaimana hubungan keduanya dan juga watak Naeun-yang-like a bitch. Bisa saja dia bermain dibelakang Myungsoo, who knows?

Oh, wow. Bagaimana bisa aku berfikir sangat positif tentang orang yang bahkan tidak aku kenal? Ralat, tidak terlalu kenal. Bisa saja Myungsoo benar-benar melakukan itu dan entah kenapa hatiku berkata itu tidak mungkin. Mungkin saja aku benar-benar memiliki jiwa peramal yang tidak aku sadari.

Pintu rumah—atau kantor, terserah saja—itu terbuka setelah aku membunyikan bel sekali. Wajah manager Myungsoo yang bagaikan bodyguard itu menyambut kami dengan senyum aneh, wajahnya terlihat pucat dan lelah. Membuat dia terlihat berkali-kali lipat menyeramkan. Seperti bodyguardnya zombie.

Kami dipersilahkan masuk, bisa kurasakan tangan Hyomin unnie meremas pergelangan tanganku—mungkin dia takut dengan si manager. See? Aku normal, kan?

“ Pasti sulit untuk menembus wartawan itu, kan? ” Si manager membuka pembicaraan, “ Maaf kami harus merepotkan begini. ”

Aku tersenyum maklum, “ Tidak apa-apa. Kami mengerti kok. ”

Manager Myungsoo itu membimbing kami menuju sebuah ruangan bulat dengan kaca disekelilingnya, mirip sekali dengan ruang rapat di kantorku tapi bedanya ruangan itu terlihat lebih besar. Ia membukakan pintu dan menyuruh kami masuk.

“ Tunggu sebentar ya, saya akan panggilkan nyonya kim dan Ji-hye dulu. ”

Refleks aku langsung melirik Hyomin unnie yang sudah menatapku dengan tatapan horror. Tentu saja kami sepikiran. Kemudian bayangan seorang ibu muda cantik dengan wajah ambisius dan protektif tergambar di otakku.

Sial. Aku sudah membayang betapa cerewetnya dia. Masih lumayan kalau hanya cerewet, kalau dia juga galak? Pasti hari ini menjadi hari terburukku.

Aku menatap kedepanku, tepat dengan pintu keluar dan masuk. Beberapa karyawan dan juga artis melintas didepanku. Mereka semua terlihat sama sibuknya. Tapi aku tidak sekalipun melihat Myungsoo.

Dia dimana ya? Apa sedang sibuk?

Ah, kenapa aku malah memikirkan dia. Mungkin karena aku belum sempat mengatakan terimakasih sekali lagi. Aku masih ingat bagaimana binar mata Jiyoung saat aku memberikan kartu ucapan dari Myungsoo. Dasar anak muda zaman sekarang.

Kuhela nafasku dan kugelengkan kepalaku berkali-kali agar dia berjalan lebih normal dan mengenyahkan bayangan tentang dimana keberadaan Myungsoo saat ini. memang apa perduliku?

Suara pintu didorong langsung menarik perhatianku, membuatku refleks mengangkat kepala dan kemudian menelan kekecewaan karena yang muncul bukan seseorang yang kuharapkan.

Hebat sekali. memang tanpa sadar aku mengharapkan siapa?

Terdengar suara dengusan seperti orang menahan tawa disebelahku, aku melirik hyomin unnie dengan ujung mataku. sial. Sepertinya dia membaca pikiranku.

“ Selamat pagi, Jiyeon-ssi. ”

Aku berdeham dan tersenyum sambil menyambut tangan seorang wanita berwajah kaku yang terlihat jauh lebih muda dari umurnya. Ini dia bos besar, “ Jiyeon saja. Jangan terlalu kaku. ”

Dia mengangguk dan tersenyum, masih terlihat sama kakunya. Lalu aku beralih pada Ji-hye unnie yang menyambutku dengan hangat, dia memang orang yang nyentrik dan easy going. Aku bahkan langsung menyukainya ketika pertama kali bertemu.

“ Baiklah, kita langsung mulai saja.. ”

Tiba-tiba pintu terdorong dengan kuat. Refleks lagi aku menaikkan kepala untuk menatap siapa yang datang dan sialnya lagi-lagi rasa kecewa yang tidak jelas itu datang.

How poor I am?

“ Apa aku terlambat? ”

Ji-hye unnie mendengus kesal, sepertinya dia sama terkejutnya dengan kami semua—kecuali nyonya Kim yang wajah tetap terlihat kaku—“ Tidak, tapi kau sukses mengejutkan kami, Lee Ho-won. ”

Hoya hanya terkekeh dan mengerling padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyum kecil. Kenapa dia hanya muncul sendiri ya?

“ Baiklah, ayo dilanjutkan. ”

Myungsoo’s Side

Entah untuk yang keberapa kalinya aku kembali mencoret nada-nada yang telah aku tulis sebelumnya lalu kembali menekan-nekan tuts piano, mencoba mencari nada-nada yang pas untuk laguku hingga akhirnya aku menekan semua tuts dengan kesal dan melempar pena yang aku genggam sejak tadi entah kemana.

Para wartawan itu memang benar-benar menyusahkan. Sejak mereka berkumpul didepan rumahku, aku benar-benar tidak bisa keluar dari rumah. Mereka bahkan tidur dan makan didepan rumahku. Berita tentang seorang artis bunuh diri karena tidak sanggup dikomentar netizen pun tidak cukup untuk menarik mereka pergi dari rumahku.

Padahal saat ini aku benar-benar membutuhkan waktu untuk berfikir dan menghadapi saran umma yang semakin lama semakin terlihat serius.

Aku berjalan meninggalkan piano, menuju sofa yang terletak diujung ruang dan mengeluarkan ponselku untuk sekedar mencek berita apalagi yang mereka muat tentang diriku.

Dan berita yang baru keluar sekitar 1 jam yang lalu benar-benar membuatku syok nyaris terkena serangan jantung—oke, ini terdengar lebay.

Tapi kau pasti mengerti. Mereka. Memuat. Foto. Jiyeon. Didepan. Rumahku. Dengan berita, “ Seorang wanita terlihat memasuki rumah Kim Myungsoo? ” lalu terlihat seorang wanita dengan dress pendek baru keluar dari mobilnya. Dia kelihatan agak pucat dari biasanya. Apa dia sudah mendengar berita ini ya?

Pasti belum. Lumayan juga wartawan-wartawan sialan ini, mereka bisa membuat berita dalam waktu sejam, mengingat Jiyeon baru datang sekitar 2 jam yang lalu. Apa sih yang mereka tidak bisa?

Lagi-lagi aku menghela nafas dan melempar ponselku ke samping. Seharusnya aku ikut mendiskusikan kostum kami sekarang. Namun entahlah.

Entah kenapa aku sedang tidak ingin menemui Jiyeon. Aku hanya ingin menghindar darinya. Aku merasa tidak siap melihat tatapan mata menuduh darinya seperti halnya dengan tatapan orang lain. Terdengar kekanakan bukan? Lagipula apa peduliku tentang pemikirannya. Aku sudah mengisi otakku dengan kalimat-apa-peduliku-namun tetap saja, aku perduli dengan pemikirannya tentangku. Apa dia percaya bahwa aku telah menghamili wanita itu?

Kuharap tidak.

Pintu studio mendadak dibuka dan tubuh umma sudah bertengger disana dengan wajah serius, membuatku mendadak meningkatkan kewaspadaanku. Feelingku jadi tidak bagus. Jangan bilang ini tentang…

“ Umma tau siapa calon yang tepat. ” Kata umma tanpa basa basi.

Aku berdehem beberapakali, mencoba untuk santai menghadapi hal ini, “ Ohya? ”

Umma mengangguk mantap lalu berjalan perlahan dan duduk tepat disebelahku. Aku makin meningkatkan kewaspadaanku ketingkat maksimal. Kalau umma sudah kembali membicarakan tentang ide gila ini, aku tidak bisa membantah lagi. Tekadku sudah bulat untuk menutupi siapa yang menghamili Naeun, selain itu aku juga tidak punya ide yang terdengar lebih waras.

“ Park Jiyeon. Dia sangat tepat untukmu. ”

Nyaris saja aku tersedak nafasku sendiri mendengar nama itu. Park Jiyeon? Apa aku salah dengar? Yang benar saja. Aku terkekeh aneh—berusaha menutupi keterkejutanku, otakku berpikir keras tentang alasan apa yang harus aku katakan untuk menolak perjodohan gila maksimal ini.

Bukan karena aku berfikir Jiyeon itu jelek atau dia tidak pantas denganku. Justru sebaliknya. Tapi aku yakin, wanita seperti Jiyeon pasti menolak permintaan ini mentah-mentah. Dia bukan wanita berakal pendek yang mau-mau saja aku ajak kawin kontrak. dia juga terlihat bukan salah satu fans dariku.

Lalu tiba-tiba sebuah ide melintas diotakku, “ Umma… apa umma yakin dia belum menikah? Atau barangkali.. ”

“ Umma tau. Awalnya umma ingin menjodohkan kamu dengan temannya yang bernama Hyomin, karena nama Jiyeon terlalu sering didengar publik. Tapi umma melihat cincin dijarinya sedangkan Jiyeon tidak. Lagipula, hyomin lebih tua darimu. Tidak mungkin, kan? ” Jelas umma dengan muka datar, “ Keputusan umma sudah bulat. Umma tidak mau tau, kamu harus mencari cara untuk mendekatinya. ”

Aku terdiam, tidak tahu harus membantah apa. Aku tahu semua itu benar dan umma adalah tipe orang yang sangat pandai merencanakan sesuatu.

“ Oke oke, ” ucapku menyerah, “ Tapi memang umma fikir dia mau menikah dengan aku? ”

Umma mengangkat bahunya, “ Why not? ” tanyanya balik, “ Asal kamu bisa meyakinkan dan membujuk dia. Umma yakin dengan kemampuan kamu mengendalikan wanita—mengingat sebanyak apa kamu mempermainkan mereka, kamu pasti punya cara sendiri untuk merayu dia. ”

Oh, yeah. Seburuk itukah pandangan umma terhadap anak satu-satunya ini? umma berbicara seolah-olah aku sangat pandai mempermainkan wanita, padahal kenyataannya mereka yang mendatangiku tanpa aku susah payah merangkai kata-kata agar ia mau menjadi pacarku.

Itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah, memikirkan bagaimana caranya agar dia mau menikah denganku atau memikirkan cara untuk membantah umma.

Jiyeon’s Side

Sudah jam berapa sekarang?

Aku menggerakkan kepalaku kekiri-kanan untuk mengatasi pegal di saraf-saraf otakku. Nyonya kim sudah keluar dari ruangan ini sejak tadi, hingga hanya tinggal aku, hyomin eonnie, jihye eonnie dan howon oppa—dia memintaku untuk memanggilnya seperti itu—yang masih berdiskusi sehingga suasana pun tidak setegang tadi.

Ternyata mendiskusikan hal ini bisa memakan waktu yang lama juga. Jihye eonnie ingin banyak menambahkan detail-detailnya tanpa mengubah rancanganku, seperti kancing-kancing atau rantai pendek berwarna emas yang menambah kesan manly untuk mereka. Kami juga terpaksa mendengar ocehan Howon oppa tentang betapa lelahnya ia karena harus berlatih dance hingga Jihye eonnie muak dan menyuruhnya untuk diam.

Mungkin, Myungsoo juga lelah hingga tidak kelihatan seharian ini, dia juga harus berfikir tentang bagaimana mengatasi konflik yang sedang ia hadapi sekarang. Tapi masa sih dia juga tidak ingin ikut mendiskusikan pakaiannya? Padahal dari gayanya, aku tahu dia tipe orang pengatur dan perfeksionis, sepertiku. Tapi bisa saja penilaianku salah.

Rasanya aku ingin sekali bertanya pada Howon oppa tentang keberadaan Myungsoo, tapi tidak mungkin kan? Bisa-bisa mereka mengira aku err kangen? Menjijikkan.

“ Nah, aku rasa ini sudah cukup. ” Jihye eonnie memandang kertas-kertas ditangannya dengan puas, “ Sekarang sudah hampir jam 3, lebih baik kita pergi makan bersama dulu sebelum kalian pulang. ”

Tanpa sadar aku dan Hyomin eonnie mengangguk bersamaan. Mungkin kami sudah terlihat seperti manusia kelaparan. Aku sudah bisa membayangkan makanan apa yang akan aku makan nanti, semoga cacing cacing diperutku bisa menunggu beberama menit lagi dengan tenang.

“ Hey. ”

Aku tersentak karena suara familier yang berasal dari arah pintu itu dan langsung menatap kearahnya. Benar saja, itu dia Kim Myungsoo yang aku cari-cari. Dia menatapku lurus-lurus—entah dia memang menatapku atau aku terlalu percaya diri—dan tersenyum kecil yang kubalas hanya dengan tatapan bingung.

“ Kemana saja kau? Kami sudah selesai membahas ini. ” Tanya Jihye eonnie dengan nada tidak menyenangkan.

Tatapan itu lalu berpindah kepada orang disebelahku, ia tersenyum menyesal, “ Maafkan aku, nuna cantik. Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan tadi. ”

“ Alasan. ”

Gumam Ho-won oppa sambil mengecek-ngecek ponselnya. Pelan tapi cukup untuk kami semua dengar yang membuat Myungsoo menatapnya dengan sengit. Sedangkan kami semua hanya bisa bertukar pandangan bingung.

Jihye eonnie mendengus, ternyata bukan hanya kalangan muda saja yang terpesona dengan senyuman itu. Luar biasa. “ Kami ingin pergi makan, kau ikut? ”

Myungsoo menggaruk kepalanya lalu menggeleng, “ Aku ingin bicara dengan Jiyeon, ini penting. Kalian pergi bertiga saja ya? ”

Oh, shit. Mungkin perutku harus menunggu lebih lama untuk diisi. Cacing-cacing yang malang, mereka bisa mati kelaparan didalam perutku hanya garagara laki-laki aneh ini. memangnya apa yang ingin dia bicarakan hingga harus membatalkan acara makanku?

Sebenarnya aku penasaran juga.

“ Kau tidak keberatan, kan? ”

Sial. Aku meringis melihat tatapan memohon dari Myungsoo hingga tanpa sadar mengangguk. Sepertinya orang aneh ini menggunakan sihir dan membuat orang-orang sulit berkata tidak.

“ Yasudah kalau begitu, ” Putus Jihye eonnie, membuat tatapan Myungsoo beralih dari ku, “ Kami pergi dulu, Jiyeon. ”

Aku hanya mengangguk pasrah melihat kepergian mereka yang terlihat bahagia ingin bertemu makanan. Argggh aku harus memikirkan apa yang aku makan nanti. Spaghetti bolognaise? Beefsteak? Ah mendadak aku ingin makan tteokbokki. Atau jajangmyeon? Mungkin aku akan makan semua.

Tunggu sebentar ya cacing-cacingku tersayang.

“ Apa kau lapar? ”

Ya, bodoh. “ Sedikit. ”

Dia tersenyum lalu menarikku pelan untuk duduk kembali. Bisa kulihat dari matanya ia terlihat lelah dan kurang tidur. Rambutnya acak-acakkan dan wajahnya juga terlihat sama berantakannya. Tapi menurutku, dia malah terlihat semakin…err, seksi?

Mungkin otakku sama berantakannya.

Oh ya. Mungkin dia lelah memikirkan kehamilan naeun dan juga persiapan world tour mereka. Apa dia ingin melakukan sesi curhat? Kalau begitu, dia benar-benar salah pilih orang karena aku bukan tempat yang tepat untuk curhat.

“ Baiklah, aku tidak terlalu pandai berbasa-basi. ” Ucapnya dengan suara berat dan penuh pertimbangan, membuat aku berkali-kali lipat lebih penasaran, “ Kau mau nikah denganku? ”

What the hell. Apa-apaan ini.

Okay, mungkin otakku memang sedang berantakan karena kelaparan, jadi aku harus mengatakan, “ Sorry, tapi kayaknya aku salah.. ”

“ No, I’m serious. Totaly serious. ” Potongnya dengan nada yakin tak terbantahkan, “ Aku ingin, kau menikah denganku. ”

Entah darimana, aku bisa mendengar suara tawa seolah-olah ini adalah kalimat lucu yang pantas ditertawakan. Tunggu, didalam ruangan inikan hanya ada kami berdua?

Oh, ternyata aku yang tertawa.

“ Apa menurutmu ini lucu? Aku benar-benar serius. ” Tanyanya dengan nada kesal.

Tidak lucu? Jelas ini sangat lucu. Seorang Kim Myungsoo? Artis papan atas korea, idola para remaja, wanita dan juga ibu-ibu sedang memintaku untuk menikah dengannya? Ayolah, kalau semua orang mendengar ini mereka juga pasti akan tertawa. Otakku bisa saja berantakan, tapi otaknya lebih parah lagi. Mungkin sebentar lagi dia berkata, “ Aku rasa aku sedang ngidam. Kira-kira anakku laki-laki tidak ya? ”

Tapi untuk menghormatinya, aku berdeham berkali-kali dan menatapnya dengan tatapan serius, “ Maaf tapi sepertinya, kau salah orang. Aku bukan orang yang bisa kau ajak menikah. ”

Apa ini khayalanku atau wajahnya memang terlihat terluka saat aku menolak tawarannya? Aku kan menolaknya dengan sopan, “ Kenapa? Kau kan belum punya pacar. Lagipula, aku mengajakmu untuk kawin kontrak selama setahun, tidak lama kan? Setelah itu kau bisa bebas melakukan apasaja. ”

Sialan. Kenapa dia mengatakan seolah-olah aku benar-benar tidak laku. Memangnya aku setidak laku itu apa? Aku bisa saja gonta-ganti pacar seperti dia, aku kan tidak jelek. Tapi aku hanya pemilih. Ya, aku hanya pemilih.

Dan apalagi itu. Kawin kontrak? dia fikir aku ini artis pemain film korea? Jadi bisa menjadi lawannya dalam cerita ‘kawin kontrak’ untuk mengalahkan cerita Han Ji-Eun dan Lee Young-Jae? Enak saja mengatakan kawin kontrak. walaupun aku tidak suka drama percintaan—iyadeh, aku bohong—tapi tetap saja, aku ingin menikah dengan pria yang benar-benar aku cintai dan akan mendampingiku seumur hidup. Selain itu, menurutku pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan tidak main-main. Tapi dia malah mengajakku bermain-main tentang pernikahan? Memangnya aku mau menikah dua kali seumur hidup?

Tapi, aku lebih sakit hati tentang tuduhan aku tidak laku.

Jadi, aku memasang ekspresi sekaku mungkin, “ Memangnya kau tau dari mana aku tidak punya pacar? You don’t know about my personal at all. ”

Kim Myungsoo memajukan bibirnya seolah-olah dia sedang berfikir, “ Just a feeling. Tapi aku benar, kan? ” tanyanya dengan nada ringan, aku hanya terdiam, tidak tahu harus mengatakan yang sebenarnya atau justru berbohong untuk mengembalikan harga diriku, “ Lagipula kau tidak bisa mengelak setelah pulang dari sini. ”

Apa maksudnya? Kenapa aku harus menurutinya?

Damn. Damn. Damn. Otakku benar-benar kacau untuk mengolah ini semua. Rasanya benar-benar terlalu sulit untuk dimengerti. Okay. Tenang, Jiyeon. Tenang. Kau harus tenang dan tarik nafasmu lalu buang perlahan.

“ Maksudnya? ”

“ Coba cek berita di hp-mu. ”

Oh my god. Sekarang feelingku benar-benar tidak enak. Apa jangan-jangan wartawan sialan itu memotretku saat aku didepan rumahnya tadi? Harusnya aku lebih berhati-hati dengan paparazzi korea. Aaaarghh double shit.

Aku menscroll layar ponselku keatas dan bawah berulang-ulang. Benar saja. Fotoku sudah memenuhi semua media korea. Mulai dari fotoku saat didepan rumah Myungsoo dengan caption, “ Pacar baru Kim Myungsoo? ”, ada juga yang membahas tentangku lengkap dengan foto dan artikel—ya ampun, kenapa mereka memasang fotoku dengan tampang idiot?—dan masih banyak lagi.

Yang membuatku benar-benar shock adalah, jumlah missed call dari mom, hyomin eonnie yang barus aja pergi dan teman-temanku yang lain. Apa mom sudah membaca artikel ini?

Aku mengangkat kepalaku perlahan dan menatap Myungsoo dengan tatapan sehoror mungkin yang dibalasnya dengan tatapan polos.

Dan ponselkupun berdering lagi, menunjukkan nama yang benar-benar tidak aku inginkan.

Aku menarik nafas sejenak, “ Mom… ”

“ Jadi kamu pacaran dengan artis? Kenapa tidak bilang dari dulu jadikan mom sudah bisa tenang sekarang! Kapan kamu akan mengenalkan mom… ” tuduhnya tanpa kalimat pembuka.

“ Mom, please. I’ll call you later. ”

Ya, aku melupakan bagian terpenting. Dan terimakasih kepada Myungsoo, dia mengingatkanku tentang itu.

Mom sakit. Mom ingin aku menikah.

“ Sepertinya ibumu juga setuju dengan ‘hubungan kita’ ”

Kalimat bernada menyindir itu keluar dari mulut kurang ajar manusia disebelahku. Aku menoleh dan menatapnya lama sedangkan dia balas menatapku hingga akhirnya aku menghela nafas, menyerah.

Myungsoo benar. Mom pasti sangat senang. Aku juga sudah cukup lelah mendengar ocehannya agar aku cepat-cepat menikah. belum lagi jika mom benar-benar melakukan niatnya untuk menjodohkanku. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya harus menikah dengan orang yang tidak kenal. Salah-salah, bisa jadi aku mati akibat kekerasan dalam rumah tangga.

Lagipula, Myungsoo tidak jelek-jelek amat, kan?

Wow. Hebat sekali. baru 5 menit yang lalu aku berfikir tidak akan bermain-main dengan pernikahan tapi otakku malah menyetujui ide gila ini sekarang dan termakan omongannya.

“ Oke, sudah aku putuskan. ” Ucapku dengan nada final, wajah Myungsoo menjadi lebih rileks dari pada sebelumnya, seolah sudah mengetahui apa yang akan aku katakan, “ Kita akan menikah selama satu tahun. ”

*****

HEHEHE

GIMANA GIMANA?

Maafkan banget aku lama update, sebenernya ff ini udah siap lama tapi aku mau nyelesaiin ffku yang satu lagi. Eh gak taunya malah ngestuck gitu aja, jadi aku update ini dulu aja

Mungkin kalian agak bosan dengan part ini, apalagi aku lama update nya huhu. Sekali lagi, maaf banget

Ohya, dan buat yang mau password dan belum aku kirim, bisa comment disini dulu.

Thank you^-^

96 thoughts on “Celebrity Wedding (Chapter 3: His Scandal)

  1. Daebakkk!!!
    Myung ga mungkin hamilin naeun, kan??? Akhirnya MyungYeon bakalan nikah (walaupun kontrak) tapi seneng banget!!!
    Lanjutannya jangan lama2 yah???
    Fighting!

  2. Omoo akhir ya myungsoo oppa bakalan nikah ǰµǤά Šɑмά”̮ jiyeon,walaupun kontrak sieh
    Semoga selama 1 tahun mereka menikah kontrak
    Bakalan tubuh cinta di antara mereka

  3. udah berbulan bulan aku nunggu sampe lumutan.. akhirnya lnjt juga.. siapa bilang thor ini ngebosenin? justru ini seru bgt..
    brharap myngyeon stelah kwin kontrak itu mereka saling mncintai..
    next thor jngang lama2 .. fighting

  4. Akhr xa publish jg…ak kira ni ff bkal brhnti d’lnjutin..
    OMG kawin kontrak???wehhh gk bs byngin gmn nanti xa…haha

  5. akhirnya dilnjt juga stelah berbulan2 aku nunggu sampe lumutan malah…kkkk
    seru thor ff nya..
    stelah kwin kntrak moga aja myungyeon jadi saling jtuh cinta…
    next thor jngan lma2 ya..fighting

  6. aku gk tau hrus komen apa thor.. tapi yang psti daebakk bgt,, dtnggu next nya jngan lama2 yaa ,dinext part nya moment myungyeon nya diperbnyak yaa

  7. akhirnyaa unnie ngepost juga…
    wuihh kayaknya mereka berdua bener2 sama2 kena sindrom cinta pada pandangan pertama deh..tapi gara2 kemakan gengsi dll itu jadinya ngelak aja deh..kkk
    dan sekarang tu nandain jodoh tu…ibunya myung aja milih jiyi gitu..kk
    tapi kenapa cuma nikah kontrak si??moga aja ntar nikah beneran deh…
    ni ff ditunggu banget un..next ya..

  8. Akhirnya dipublish jga ff diblog ini. Hehehe
    Yuhuu myungsoo to the point sekali..
    Ditunggu kelanjutannya dan behind the scene

  9. Akhr.a ini FF di Publish juga… Seneng bnget…😀

    makin seru aja nihh FF…
    Hoalaaahhh😮 si Naeun Hamil… Ckckck
    MyungYeon bklan kawin Kontrak… Knpa kgak nikah beneran aja sihh… Kgak usah kontrak” dikira kost”an kali dikontrak… ._.v biarpun nikah kontrak asalkan MyungYeon nikah kgak apa” dehh…😄

    ditunggu sangat next part.a… Yg cepet yahh thor…😉

  10. annyeong thor, aq readers baru dan aq juga udah baca ff ini dari chapter 1 sampai skarang,aq minta maaf sma author krna aq bru coment dichapter ini, tpi aq janji bkalan coment trus di chapter slanjutnya, Fighting !,

  11. Kekeke Jiyi kudet *oups* tp gx papa jg sih😀
    Myung suka kan disuruh nikah ma Jiyi sama Eommanya,,
    Bakal kaya gmn MyungYeon nanti..
    Ditunggu next part nya😉

  12. uthorr tau nggak aku setiap hari ngecek blog kmu buat liat udh post ff myungyeonya kamu atau belum TT akhirnya kamu post juga. thorr lanjut lagi yahh. aku suka banget sama ff yg kamu bikin kalao itu chastnya myungyeon :3

  13. Ahh senang nya senang sekali dong eonie akhirnya comeback juga yuhuu yuhuu #abaikan.. Aha di part ini aku seneng omma myung gk salah pilih jiyi ya walaupun itu di kontrak tp awal kehdupan mreka di mulai aweuu.. Oke eon next part ya jngan lma2 kopo.n aku selalu nunggu eonie, hwaiting hwaiting😀

  14. d tunggu chapter slanjutnya.
    semoga happy ending.

    minta pwd you should be mine chapter 5 dong.
    kirim ke hp aja ya eon.
    089630107337

  15. uwah akhirnya apdat juga ffnya, di tunggu bgt mulai dulu lho
    kawin kontrak? Masih jaman ya? Kekeke
    aku reader lama thor . Lupa pwnya, mw minta pw YSBM ya . 083852108105

  16. huahhhh akhirnyaaa dipos
    huh Myungyeon mau nikah, itu hal yang dinanti – nanti
    lanjutannya jangan lama-lama yah authornim

  17. asli ini kocak ff nya =)) wkwk suka😀
    ah pengen cepet-cepet ke part mereka nikah! penasaran banget nih!😀
    ditunggu banget lanjutannya secepatnya^^ hehe

  18. Wah udh lama ga berkunjung k wp ini ternyata ff ini udh d update yaa hehe
    Dih si myungsoo to the point bgt sib ga ada basa basinya
    Makin gila aja mereka berdua, si jiyi pake setuju lg d ajakin kawin kontrak

  19. wtf
    ini diluar dugaan!! jiyeon mau saja menerima tawaran myungsoo untuk menikah kontrak 1 tahun?! jst cuz her mum nagging?!!!
    pabo! sebenarnya apa yg direncanakan eomma myungsoo dg menikahkan anaknya dg jiyeon? menepis skandal myungsoo? so kalau telah mencapai satu tahun lalu memaksa myungsoo untuk menceraikan jiyeon?! s*** ini lebih HORROR!! dari cerita horror *facepalm
    aku harap ada suatu hal yg terjadi sehingga apa pun yang terjadi, they can not break their marriage.. ohhh wish~

  20. Wahhh naeun bner” deh , kok bsa hamil gtu sih ?? Dan yg dituduh myungsoo lagi-_- wahh myungsoo sma jiyeon bkal nikah kontrak ?? Hmmm bkal terjdi msalah nih karna kbar” dimedia massa .. Kra” gmna reaksi eomma sma eonni ny jiyeon yaaa .. Kerennn .. Gomawo ne🙂

  21. Andwe… Jangan setahuuuun! Selamanya aja.. Hhahaha.. Son naeun ituuh, benar2 sesuatu. Bisa2nya dia hamil yg bukan anak Myung.. Bikin Myung kena skandal aja nihh.. Hhoho.. Oke,, yg penting Myung ama Ji udah sepakat mau kawin kontrak, hhahaha..

  22. jinja daebak authornim,
    pasti naeun selingkuh.kan ???
    masa myungsoo yang nglakuin sih,
    jiyeon udah mau ya ???
    aku ke chap 4 dulu ya authornim ^^
    *keep writing and fighting*

  23. hanya 1 tahun ?? Bentar nya itu .. tp gpp yang penting nikah #walaupun kontrak .. naeun dasar .. Hamil ? Kaia gk punya moral .. Myungsoo gk mungkin hamilin naeun .. Myungsoo hanya untuk jiyeon .. Cammkan itu #maksanya aku .. Wkwk ,, next read

  24. woah…
    mereka mutusin buat nikah.ny gk pikir panjang dulu…
    lngsung capcusss…
    kepepet sihh…
    tapi itu keren…
    tp kog cuma kontrak…1 tahun pula….
    gpp lah…lama2 pasti juga cinta..
    hahayyyy ..
    lnjut baca dh…

  25. Huah akhirx jiyi setuju buat nikah, yah meskipun nikah kontrak selama setahun tapi semoga ajah mereka selamax dan kontrakx batal 😊

  26. Wahhhh semua nya serba kilat ya
    Baru kenal myungsoo bentar udh ikutan kena skandal aja tuh jiyeon
    Tp gpp lah kan win win solution, jiyeon juga dikejar deadline kan sama eomma nya

    Lanjutttt lagiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s