Celebrity Wedding (Chapter 6: Fight?)

celebrity wedding copy

Title : Celebrity Wedding

Main Cast :

Kim Myungsoo
Park Jiyeon

Genre : Marriage life, Romance, Humor

Type : Chaptered

Myungsoo’s Side

Entah kenapa, aku tidak bisa berhenti tersenyum saat melihat foto-foto yang menunjukkan ‘kemesraan’ kami malam itu.

Foto saat ia menunduk malu saat aku mengatakan kami cocok, foto yang diambil dari belakang saat kami berbisik—hebatnya, foto itu terlihat seperti kami sedang berciuman—bahkan aku menyukai foto yang entah mengapa menunjukkan tatapan penuh cinta dariku.

Aku benar-benar terlihat tampan.

Oke, bukan itu. Aku memang tampan setiap saat, semua orang juga tahu. Park Jiyeon juga terlihat sangat memukau. Umma benar-benar tidak salah orang.

Walaupun banyak fans yang meninggalkan fansite resmiku, tapi lebih banyak lagi yang bergabung. Saham perusahaan juga mulai stabil, artis-artis perusahaan ini kembali berkibar seperti biasanya. Intinya, banyak hal-hal baik yang terjadi semenjak aku berhubungan dengan Jiyeon.

Mungkin aku harus berterimakasih secara diam-diam dengannya.

Memang, tentu saja tidak semua orang yang percaya begitu saja dengan berita yang kami buat. Masih banyak juga orang-orang yang menduga kami hanya buatan, untuk mentupi skandalku dengan Naeun. Tapi lebih banyak lagi orang yang percaya apalagi setelah melihat foto-foto yang sebenarnya sudah keluar sejak seminggu yang lalu itu.

Omong-omong tentang Naeun, wanita itu tidak pernah menampakkan dirinya lagi di media ataupun dihadapanku. Itu bagus. Selain tidak menambah skandalku, itu juga baik untuknya. Lebih baik ia memikirkan bagaimana membesarkan dan mengurus anaknya kelak.

“ Jadi, kapan kalian akan mengurus pernikahan? ” Tanya Manager-hyung yang ntah darimana sudah berdiri tegak dihadapanku, dari suaranya yang dingin, aku yakin dia sudah mengulang-ulang pertanyaan yang sama sejak tadi.

Manager hyung memang selalu terlihat seram dengan pembawaannya yang terlalu tenang dan terksesan dingin. Aku juga tahu, Jiyeon takut padanya. Tapi aku sangat menyukainya, paling tidak dia bisa di andalkan dalam berbagai hal. Ia bahkan bisa merangkap sebagai bodyguard-ku dengan tampang yang menyeramkan itu, bukankah itu sebuah penghematan biaya yang luar biasa?

Walau sesekali aku juga agak kesal dengan selera humornya yang kelewat rendah bahkan tidak ada sama sekali.

Aku berdeham pelan lalu menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal karena aku tidak pernah bermasalah dengan binatang bernama kutu, “ Tidak tahu. ”

“ Kau harus cepat. ” Balasnya cepat.

Mau tidak mau aku hanya mengangguk pelan dan menatap punggungnya yang berjalan menuju pintu keluar. Jadi dia hanya ingin bertanya itu? Mungkin moodnya sedang tidak bagus karena melihatku yang duduk santai sedangkan kedua temanku itu sedang bersusah payah menghafal gerakan dance yang akan kami lakukan nanti saat konser.

Salah sendiri, siapa juga yang mau bergoyang-goyang ala boyband? Mereka juga, kan?

Aku meraih ponselku yang tergeletak bersama ponsel Sungjong dan Howon, dan mencari kontak wanita itu.

“ Sedang sibuk? ” Tanyaku langsung saat nada sambung tidak terdengar lagi.

Terdengar gumaman agak panjang darinya, sepertinya dia sibuk, “ Tidak terlalu, kenapa? ”

“ Oke, aku akan sampai disana dalam waktu 30 menit. ”

Langsung saja aku berdiri, meraih botol minum dan sapu tangan lalu bergegas keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada kedua temanku yang sedang serius berlatih itu.

Samar-samar, aku bisa mendengar saat pintu belum kututup sempurna, “ Hyung, apa semua orang akan seperti itu saat sedang jatuh cinta? ”

*****

Lewat sedikit dari 30 menit, aku telah berdiri di depan pintu ruangan Jiyeon. Tentu saja, aku harus mandi dan mengganti pakaian terlebih dahulu. Tidak mungkin aku datang dengan keringat yang menetes dan bau badan yang memalukan, walaupun aku yakin itu tidak akan mengurangi tatapan kagum wanita-wanita yang ada dikantor Jiyeon ini.

Oke, aku tahu aku memang terlalu percaya diri.

Tanpa mengetuk terlebih dahulu, aku membuka pintu dan berjalan masuk. Di sebuah meja besar sebelah kiriku, wanita itu tengah mencoret-coret kertas dengan pensilnya. Ia bahkan tetap terlihat cantik dengan rambut acak-acakan yang diikat asal.

“ Hei, ada orang disini. ” Sapaku sambil duduk di sofa yang berhadapan dengan mejanya.

Tanpa menoleh kepadaku sedikitpun, ia mendengus, “ Sudah kubilang, biasakan ketuk pintu. ”

Aku menghela nafas—pura-pura lelah, “ Aku juga sudah bilang, apakah seorang pacarpun harus mengetuk pintu dahulu? ”

“ Ya, ” Jawabnya pasti, lalu mengangkat kepalanya menatapku dari atas hingga bawah, “ Sepertinya jadi artis itu santai sekali ya. ” Sambungnya dengan nada kalem.

Membuatku refleks tertawa ringan, “ Tidak juga. Aku sedang kabur dari latihan dance. ” Jawabku asal.

Pandangannya berubah menatapku penuh selidik dan ingin tahu, “ Kenapa? ” Tanyanya langsung, “ Padahal menurut penglihatanku, kau cocok sekali menjadi boyband. ”

Penglihatan? Memang dia kira dia peramal?

Tanpa menyembunyikan ekspresi tersinggungku, aku menatapnya kesal. Wanita ini benar-benar. Tidak ada yang bisa menghinaku lebih dari dirinya. Tapi sebenarnya justru itu membuatnya sangat menyenangkan. Walaupun aku harus siap untuk menerima celaan bertubi-tubi.

Tenang saja, aku pasti bisa membalikkan keadaan.

“ Enak saja. Aku ini tidak punya darah boyband sedikitpun, tahu. ” Balasku, membuatnya tertawa terbahak-bahak. Shit, cantik seperti biasa, “ Tapi terimakasih, kau pasti sering memikirkan dan memperhatikanku. ”

Tawanya terhenti, ekspresinya berubah seolah ia bisa saja menyemburkan api dari mulutnya. Nah, kan. Sudah aku bilang, aku pasti bisa membalikkan keadaan seperti biasa.

“ Dalam mimpimu saja. ”

Gantian, kini aku yang tertawa terbahak-bahak melihatnya bersungut-sungut sambil kembali mengerjakan pekerjaannya. Aku jadi penasaran, apa yang ia gambar hingga ia lebih tertarik melakukan itu daripada menatap pangeran didepannya.

“ Kau gambar apa, sih? ”

Saat aku akan bergerak mendekatinya, wanita itu cepat-cepat melingkarkan kertasnya dipelukannya. Sebelah tangannya terangkat, menginterupsi gerakanku.

“ Jangan mendekat. ” Teriaknya panik, seolah-olah aku ini vampire yang akan menggigitnya, aku menatapnya dengan alis terangkat, bingung. Cepat-cepat ia melanjutkan lalu kembali meletakkan kertas tersebut, “ Kau tidak boleh melihat karyaku sebelum ia sempurna. ”

Oh, jadi ada orang yang sama sepertiku didunia ini? kebetulan sekali orang itu Park Jiyeon. Aku kira ia sedang menulis sesuatu yang aku tidak boleh baca, ternyata hanya itu.

Tapi bukan Kim Myungsoo namanya kalau tidak bisa merampas gambar itu. Aku bergerak cepat mendekatinya, Jiyeon yang kaget dengan gerakanku yang tiba-tiba hanya melongo ketika aku meraih gambar itu untuk melihatnya. Wanita itu buru-buru mengulurkan tangan untuk merampasnya, hingga aku mengangkat kertasnya agar ia tidak bisa meraihnya dari tanganku.

“ YA! APA YANG KAU LAKUKAN KIM MYUNGSOO! ” Teriaknya panik.

Aku tertawa lepas, “ Coba saja kalau kau bisa. ”

Jiyeon melompat-lompat meraih kertasnya, membuatku harus berkelit untuk menghindarinya. Saat aku akan membalikkan kertas untuk melihat gambarnya, Jiyeon langsung teriak dan lompat kearahku, membuatku terdorong jatuh menduduki kursi lalu disusul dengan tubuh Jiyeon yang menimpaku.

Oh, double shit. Dia duduk ditempat yang terlalu tepat.

Posisi Jiyeon saat ini sedang duduk diatas pangkuanku dengan tangan yang melingkar di leherku sebagai pegangannya, tanganku melingkar di pinggangnya—mencegahnya untuk tidak jatuh kebawah. Tatapan kami bertemu, aku melirik bibirnya sekilas, Jiyeon agak menjauhkan tubuhnya yang terlalu menempel dengan dadaku tapi tidak mengangkat seluruh tubuhnya dari pangkuanku. Jari-jarinya berjalan pelan melewati dadaku, wajah kami mendekat dan bibir kami nyaris bertemu..

“ HA! AKU MENDAPATKAN KERTASKU! ”

Ia buru-buru melepaskan tanganku yang melingkar dipinggangnya dan meloncat dari pangkuanku sambil tertawa keras-keras. Aku hanya melongo menatapnya. Jadi dia mempermainkanku? Aku? Dipermainkan wanita?

Sial. Sial. Aku bahkan dapat merasakan bibirnya yang lembut menyentuh bibirku walau hanya sepersekian detik. Apa yang dia duduki tadi….oh sial, bahkan hanya diduduki begitu saja membuat seluruh tubuhku terasa tegang. dan bau tubuhnya yang sialnya lagi sangat aku suka.

Tidak, bersihkan otak jorokmu, Kim Myungsoo.

“ Dasar curang. ” Gumamku tertahan, jangan sampai ia mendengar perubahan suaraku yang serak.

Wanita itu makin mengeraskan tawanya—sepertinya dia tidak menyadari apa yang sudah dia lakukan pada tubuhku—dan menatapku dengan tatapan mengejek. Diam-diam aku tersenyum kecil, mungkin ini pertama kalinya aku melihatnya tertawa selepas dan selama ini.

Jauh dalam hatiku, aku rela ditertawakan olehnya agar bisa melihat tawanya yang selepas ini.

“ Kau saja yang mesum, ” Gumamnya pelan.

“ Apa? ” tanyaku memastikan.

Jiyeon hanya menggeleng lalu menyimpan kertasnya yang sudah kusut itu ke dalam laci meja kerjanya. Aku cukup yakin dia memang mengatakan kalimat itu. Dan keyakinanku ini benar-benar menamparku.

Kenapa aku ingin sekali menciumnya? Aku tidak pernah punya keinginan sekuat ini untuk mencium seorang wanita. Dan, Jiyeon adalah wanita pertama yang sayangnya menolakku mentah-mentah.

Lain kali, aku harus mengikat dan memaksanya. Sebut saja aku psikopat gila yang tidak berperasaan karena memaksa wanita agar ia mau dicium olehku, yang penting aku harus mendapatkannya.

Wanita itu berdeham tampak tidak nyaman karena aku terlalu lama menatapnya. Ia mengalihkan pandangan ke rok selutut yang ia gunakan, “ Jadi, apa tujuanmu kesini? ”

Aku menyeringai, “ Mengajakmu makan siang. ” Ia tampak ingin membantahku, namun buru-buru aku melanjutkan, “ Dan kalau kau berani membantah, aku akan benar-benar menciummu. ”

Jiyeon’s Side

Orang akan mengiraku gila kalau ia mengetahui apa yang sedang aku pikirkan.

YA! CIUM SAJA AKU KIM MYUNGSOO! CIUM AKU!

Perasaanku bergejolak mengatakan hal itu saat ia mengancamku. Aku sangat beruntung karena mulutku lebih dituntun dengan otakku yang sedikit waras hingga aku mengikutinya makan siang daripada harus dicium.

Sebenarnya makan siang juga tidak buruk. Hanya saja, coba kau fikirkan.

Aku. Nyaris. Saja. Ketahuan. Sedang. Menggambar. Seseorang. Yang. Nyaris. Menciumku. Setengah. Jam. Yang. Lalu.

Apa ada orang yang lebih gila daripadaku?

Myungsoo mungkin tidak tau bahwa aku akan menolak tawaran makan siangnya karena aku sedapat mungkin ingin menghindarinya, agar aku tidak perlu berbohong lebih lama lagi. Atau lebih buruknya, kalau saja dia benar-benar penasaran dengan gambar itu.

Tapi kemudian, aku dihadapkan pada pilihan yang sulit antara mempertahankan kebohonganku atau mempertahankan pikiran warasku.

Ini semua salah foto-foto menyebalkan malam itu yang sialnya sekarang aku jadikan wallpaper ponselku. Ya, ya, sebut saja aku gila lagi. Gara-gara itu, aku terus saja teringat wajahnya hingga aku tidak sadar sudah menggambarnya. Saat kemudian aku sadar dengan apa yang aku lakukan, aku malah tetap saja meneruskan kegiatan bodoh tanpa berfikir bahwa itu akan menjadi sumber kesialanku hari ini.

Myungsoo pasti tidak tahu betapa terkejutnya aku saat ia tiba-tiba datang dan muncul dihadapanku—rasa-rasanya, aku langsung ingin mencampakkan kertas itu keluar jendela, sungguh—tapi otakku memperingati, kalau aku tiba-tiba saja melakukan kegiatan yang membuatnya curiga bisa-bisa aku dalam bahaya yang lebih besar daripada ini.

Dan aku, nyaris saja lengah saat tatapan kami bertemu. Nyaris saja aku membiarkannya menciumku lalu kami akan melakukan hal-hal biadab di kantorku. Tapi kemudian otakku yang cerdas memperingati dan mengalahkan perasaanku yang gila karena ingin terus-terusan dipelukannya.

Diam-diam aku meliriknya melalui buku menu yang tidak benar-benar aku baca, ia terlihat serius membaca buku menu tersebut. Aku tersenyum kecil, wajahku memerah mengingat kejadian tadi. Aku bahkan masih bisa merasakan pelukannya yang nyaman dan hangat.

“ Kau pesan apa? ” Tanya Myungsoo tiba-tiba.

Aku tersentak dan mengangkat wajahku dari buku menu untuk menatapnya, “ Sama sepertimu saja. ”

Myungsoo menutup bukunya dan menyerahkannya kepada pelayan wanita yang tak henti-hentinya menatap wajahnya, “ Kalau begitu, 2 ya. ”

Pelayan wanita itu tersipu-sipu dan mengangguk, lalu pergi setelah mengambil buku menu milikku. Cih.

“ Bahkan pelayan restoran termakan pesonamu, ” Ucapku tanpa sadar dengan nada ketus.

Oh, masalah baru. Sekuat tenaga aku tidak mengangkat tanganku dan menampar mulutku yang kurang ajar.

Myungsoo menyeringai, membuatnya tampak seribu kali lipat lebih tampan dan menyebalkan sekaligus, “ Kau cemburu, ya? ”

Aku gelagapan.

Harusnya aku sudah memikirkan jawaban itu, dan sekarang aku malah bingung harus menjawab apa. Jadi aku mengalihkan pandanganku kejendela lalu mendengus, “ Mana mungkin. Kau kira aku anak SMA darimana. ”

Lelaki itu terkekeh, “ Tenang saja, aku hanya milikmu. ”

Oh-may-gawd.

Aku hanya melongo menatapnya, dalam hati aku berteriak kegirangan seperti baru saja mengetahui bahwa aku menang undian berhadiah 1 triliun dolar. Ingin sekali rasanya aku menarikan tarian Hawaii mendengar kalimat candaan itu.

Candaan? Oh, sadarlah. Dia tidak serius dengan ucapannya itu, Park Jiyeon. Aku memang lemah, mau-mau saja ditindas seperti itu.

“ Memangnya- “

“ Myungsoo? ”

Suara lembut seorang wanita memotong kalimatku. Kami berdua refleks menoleh kesamping untuk melihat siapa yang datang.

Seorang wanita cantik yang sepertinya artis berjalan mendekati meja kami, Myungsoo langsung berdiri dan tersenyum kecil. Wanita itu berlari kecil seolah melihat permen gulali berwarna ungu yang imut, dan menghambur kedalam pelukan Myungsoo. Lama sekali mereka berpelukan seperti tidak sadar ada seseorang disini. Aku manatapnya tidak suka lalu mengalihkan pandanganku ke jendela.

“ Apa kabar, Myungsoo? Lama sekali rasanya tidak melihatmu. ”

“ Baik. Bagaimana di amerika? Semuanya sukses? ”

“ Tentu, ” Jawab wanita itu dengan nada bahagia yang menyebalkan, “ Siapa wanita ini? ”

Merasa terpanggil, aku menoleh dan ikut berdiri sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Wanita itu menatapku aneh lalu beralih menatap Myungsoo dengan tatapan tanya, membuat senyumku luntur seketika. Bitch yang satu ini memang kurang ajar. Memangnya dia kira mudah apa tersenyum setelah melihat pacar kita berpelukan dengan jalang-yang-sayangnya-memang-lebih-cantik-dariku.

“ Sepertinya amerika membuatmu ketinggalan berita. ” Balas Myungsoo tanpa menoleh kearahku.

Kenapa dia tidak langsung saja mengakui kalau aku ini pacarnya seperti biasanya? Apa sulit berbohong pada wanita ini.

“ Oh, pacar barumu itu? ” Tanyanya sambil menatapku tidak suka, lalu beralih menatap Myungsoo dengan tatapan yang jelas-jelas berbeda, “ Kalau kau sudah putus, kau bisa menghubungiku lagi. ” Sambungnya dengan nada menggoda yang menjijikkan.

Aku harus berusaha kuat untuk menahan muntahanku di ujung tenggorokkan.

“ Okey, ” Jawaban Myungsoo membuatku batal ingi memuntahkan makananku dari tenggorokan dan malah ingin memuntahkan sesuatu dari mataku, sungguh, “ Tapi sepertinya kita tidak akan berhubungan selamanya kalau kau menunggu aku putus dengannya. ”

Yay!

Walaupun kalimat Myungsoo terdengar amat sangat bullshit di telingaku—mengingat kami hanya akan menikah setahun—aku benar-benar senang dengan jawabannya. Itu membuat wanita jalang itu terdiam dan malu.

Sekuat tenaga, aku mengulum senyum dan balas menatap wanita itu dengan tenang. Tapi kemudian tatapan sebalnya berubah, bibirnya menyeringai seperti nenek lampir kelaparan, lalu beralih menatap Myungsoo, “ Bukannya kau tidak pernah serius dengan wanita? ” Tanyanya pada Myungsoo sambil kembali menatapku dengan tatapan prihatin.

Seolah aku mau saja mendengar mulut busuknya. Kalau dia mengira aku adalah wanita lemah yang akan langsung menangis jerit-jerit karena pacarnya suka memainkan wanita, dia salah besar.

Dia belum mengenal Park Jiyeon.

“ Ya, dan kau termasuk korbanku dulu, kan? ” Jawab Myungsoo acuh, lelaki itu mengangkat bahunya santai, “ Asal tau saja. Dia tidak semurah kau. ”

Okay. Tahan Park Jiyeon.

Walaupun dia memang lebih cantik daripadamu, paling tidak bersikaplah anggun dan tenang agar paling tidak aku punya nilai plus dibandingkan wanita cantik bermulut sampah itu.

Jadi aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk menahan tawa yang sudah siap menyembur dan membuatku sesak. Kualihkan pandanganku kembali ke jendela, agar aku tidak bisa melihat ekspresi kekalahannya yang membuatku ingin berguling-guling sambil tertawa.

Dan lebih dari itu, yang membuat hatiku lebih tertawa bahagia adalah, jawaban Myungsoo yang mengunggulkan aku.

“ OH! ” Wanita itu berteriak kesal, membuatku berjengit kaget. Untung saja kami duduk dipojok dan jarak antar kursi memang agak jauh mengingat ini restoran elit, “ Kenapa kau kasar sekali padaku, hah? Apa yang telah wanita ini lakukan padamu?! Apa lebihnya dia daripadaku?! ” Jeritnya nyaris histeris.

“ Hey, ” Tegur Myungsoo, lelaki itu bergeser kearahku dengan satu langkah besar lalu melingkarkan tangannya pada tubuhku. Membuatku merasakan perasaan berdebar-debar layaknya anak sekolah yang kasmaran. Hatiku memang pengkhianat, bisa-bisanya dia membuatku malu disaat begini, “ Jangan berteriak. Kau membuat wanitaku ketakutan. ”

“ Okay, cukup. Aku sudah muak disini, ” Seolah kami tidak muak saja dengan kehadirannya, wanita tidak tau diri itu mengucapkannya dengan nada putus asa, ia beralih menatapku hingga membuatku menaikkan alis, bingung. Dia menatapku penuh dendam, “ Urusan kita belum berakhir, Park Jiyeon. ”

Setelah mengatakan itu, ia langsung pergi tanpa pamit. Meninggalkan aku yang masih tercengang melihat tatapannya yang penuh dendam seolah aku merebut sesuatu yang berharga darinya.

“ Jangan dipikirkan, dia memang seperti itu. Aku yakin itu hanya gertakan saja. ”

Aku menoleh dan menatap Myungsoo yang masih memelukku, membuatku merasa sesak oleh jarak yang terlalu pendek antara kami. Aku benar-benar berharap Myungsoo benar. Karena aku tidak akan mau memiliki masalah dengan wanita gila itu.

Otakku langsung mengambil alih dan mendorong tubuhnya agar menjauh dariku sebelum aku terlena semakin lama, dan kembali duduk dikursiku. Tak lama kemudian pelayan yang sama datang dan mengantarkan pesanan kami. Ia sempat melirik Myungsoo sambil tersipu-sipu, lalu melirikku sekilas yang kubalas dengan tatapan sengit—mungkin ini akibat perkelahian kami tadi, aku tidak mungkin marah hanya karena ia menyukai Myungsoo karena harusnya itu bukan urusanku, ya, kan?—dan membuatnya langsung mengkeret ditatap begitu.

“ Another Naeun? ” Tanyaku dengan nada setenang mungkin.

Myungsoo mengangguk sambil meminum minumannya, “ Dia mantanku kira-kira 4 bulan sebelum aku pacaran dengan Naeun. Kami pacaran kira-kira seminggu, aku juga tidak ingat. Kami putus karena sifatnya yang kekanakan dan temperamental. ”

Wow, jadi isu tentang ke-playboy-an Myungsoo itu tidak main-main? Aku sempat membaca artikel tentang Myungsoo yang membahas segala sifat buruknya. Dan itu benar-benar terbukti sekarang.

“ Apa semua mantan pacarmu dulu memang begitu? Cantik, seksi, tapi sayangnya kurang berakal. ”

Ia terkekeh, “ Tidak juga. Pacarku yang sekarang cantik, seksi dan sangat berakal.”

Sesaat aku terdiam sambil menatapnya yang sibuk dengan makanannya, mencoba mencerna siapa wanita yang dia maksud.

Aku?

“ Ya, kau. ” Timpal Myungsoo lagi seolah dapat membaca otakku.

“ Ha-ha. ” Aku tertawa sarkastis, walaupun diam-diam aku salah tingkah juga dipuji begitu. Sepertinya aku harus terbiasa dengan gombalannya. Dia benar-benar hebat, membuatku yang selalu realistis menjadi tak tentu arah seperti sekarang, “ Kau memang lelaki bermulut manis. Pantas saja banyak wanita yang mau. ”

Myungsoo mengangkat kepalanya dan menatapku dengan tatapan heran, “ Bagaimana kau tau mulutku manis? Kita bahkan tidak jadi ciuman. ”

Aku gelagapan mendengar jawabannya yang tak terduga itu. Aku kan hanya memberikannya perumpamaan, kenapa dia menganggapinya seserius itu sih. Dasar lelaki bodoh.

“ Terserah kau saja. ” Ucapku pasrah, membuatnya terkekeh kembali. Mungkin ia merasa menang karena berhasil mengerjaiku berkali-kali, “ Jadi apa yang membuatmu menghabiskan waktuku yang berharga sekarang? ”

“ Kita harus mulai merencanakan pernikahan. Ingat? ”

Aku mengangguk, “ Lalu? ”

“ Kita harus membahasnya sekarang. ”

Tatapan laparku menatap makanan yang terlihat sangat lezat ini langsung terangkat untuk menatap Myungsoo dengan horror. Sedangkan lelaki itu dengan santainya meminum minumannya sambil menatapku seolah kalimatnya tidak punya masalah.

“ Secepat ini? ” Tanyaku tidak terima.

“ Ya, ” Jawabnya santai, ia beralih mengambil sendok dan garpu lalu mulai berperang dengan makanannya, “ Karena kau dan aku sama-sama sibuk, bagaimana kalau kita serahkan semuanya pada wedding organizer saja? Kau bisa memilih wedding organizer manapun dengan harga berapapun dan kita hanya terima beres. Setuju? ”

Kalau saja aku seperti wanita yang sangat menggilai uang dan kemewahan, tentu saja aku sudah melompat dari kursiku untuk memeluknya sambil mengucapkan beribu terimakasih.

Sayangnya tidak.

Ucapannya malah membuatku kesal setengah mati. Memangnya dia kira pernikahan kami ini apa, sih?

Oke. Aku tau pernikahan kami hanya kontrak dan tidak didasari dengan cinta. Tapi bisa tidak dia lebih menghargaiku sebagai, ehem, calon istrinya yang selalu perfeksionis?

Bagaimanapun, waktu kecil aku juga sudah merencanakan apa yang aku lakukan saat menikah nanti—mungkin ini akibat terlalu sering menonton Barbie yang hidup bahagia dengan pangeran tampan—seperti mengurus makanan yang dihidangkan, siapa tamu yang akan datang, memilih rangkaian bunga dan undangan hingga yang paling penting adalah gaun pernikahan yang aku pakai.

Kalau kami memakai wedding organizer, itu artinya aku menggagalkan mimpi masa kecilku, kan? Karena, aku belum tentu berminat untuk mencari lelaki lain setelah aku cerai dengan Myungsoo nanti.

Memikirkan kata cerai saja membuatku mual setengah mati.

“ Simpan saja uangmu, pria kaya raya, ” Kataku tanpa malu-malu mengeluarkan nada ketus, “ Aku tau kau bisa membayar wedding organizer termahal didunia sekalipun. Tapi aku lebih suka ikut mengatur semuanya bersama dengan wedding organizer, bukan menyerahkan semuanya. ”

Lelaki itu menatapku bingung, alisnya terangkat sebelah. Sepertinya ia sama sekali tidak tersinggung dengan sindiranku. Dasar muka badak.

“ Kalau begitu aku akan membantumu, kita bisa memulainya besok. ” Jawabnya ringan, seolah aku tidak baru saja mengata-ngatainya, “ Aku kira kau tidak akan punya waktu untuk itu. Kau benar-benar diluar tebakanku. ”

Myungsoo’s Side

“ Selamat pagi, cantik. ”

Jiyeon justru menatapku aneh. Dia sudah siap dengan pakaian santainya. “ Jangan membuatku ingin membanting pintu ini didepan mukamu yang digilai banyak wanita itu, Kim Myungsoo. ”

Benar juga. Jangan sampai asetku yang paling berharga ini rusak ditangannya.

Pagi ini kami sudah berencana untuk mulai mendatangi sebuah wedding organizer dan memilih apa-apa saja yang akan kami gunakan untuk acara pernikahan nanti. Aku masuk kedalam apartement Jiyeon setelah ia menggeser tubuhnya, membiarkanku untuk masuk.

Dan apa yang aku lihat begitu menginjakkan kaki di apartementnya adalah sebuah ruangan luas dengan desain minimalis yang sangat bersih dan rapi. Aku berani bertaruh, debu sekecil apapun tidak akan hinggap di rumah ini.

Aku langsung duduk di sofa hitam yang langsung menghadap ke tv, sedangkan Jiyeon berjalan menuju minibar dekat dapur miliknya, “ Kau memakai jasa pembantu? ” Tanyaku penasaran.

Dari sini aku dapat melihatnya menggeleng dengan jelas, “ Aku yang membersihkannya sendiri. Aku tidak suka barang-barangku disentuh orang lain. ”

Dasar perfeksionis.

Tapi aku salut juga dengannya. Dengan pekerjaan yang sebanyak itu dan kegiatannya yang padat, ia bahkan masih sempat untuk merapikan apartementnya. Harusnya aku memang lebih peka. Pantas saja dia menolak mentah-mentah ide untuk memakai jasa wedding organizer, dia tipe orang yang tidak suka menyerahkan pekerjaannya begitu saja kepada orang lain. Dengan sifatnya itulah ia sukses semuda ini.

Benar-benar calon istri idaman, eh?

Jiyeon berjalan mendekatiku dan menyerahkan secangkir teh hijau beraroma leci yang sepertinya enak sebelum duduk disebelahku, “ Sepertinya daftar undanganmu banyak juga. ”

Aku hanya terkekeh dan memberikan beberapa lembar kertas yang berisi nama-nama undangan yang akan datang nantinya pada Jiyeon lalu meminum teh hijau pemberiannya setelah agak dingin.

Dan tebakanku benar. Ini green tea terenak yang pernahku minum. Mungkin lain kali aku harus bertanya dimana membelinya dan apakah ada rasa peach atau apel.

“ Kau nyaris mengundang 1000 orang, ” Jeritnya tertahan, lalu menatapku horror, “ Sedangkan aku hanya 200an. ”

“ Tidak masalah kalau kau ingin menambahnya menjadi 1000 orang juga. ” Timpalku.

Jiyeon menggeleng, “ Untuk apa? Lagipula ini hanya pernikahan palsu. ” Katanya enteng.

Oh. Sakit juga.

Aku tahu dia mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi kenapa aku merasa kesal dengan caranya yang terlalu enteng mengucapkan itu?

Mungkin aku merasa ‘tersinggung’ dengan pengucapannya yang seperti menganggap enteng tentang penikahan kami, walaupun hanya pura-pura, bagaimanapun pernikahan adalah acara sacral, kan? Ya, aku yakin karena itu, tidak ada alasan lain.

Baiklah, akan aku tunjukkan bahwa pepatah mulutmu harimaumu itu benar, nona.

Jiyeon’s Side

Kami memasuki sebuah bangunan dengan tataan ruangan yang sangat indah. Dari depan kami sudah disambut dengan berbagai rangkaian bunga yang cantik dan juga kursi-kursi kayu santai. Bahkan saat masuk kedalam, membuat kita merasa seolah-olah masuk ke sebuah rumah yang didesain dengan seorang arsitektur berbakat.

Orang yang memiliki wo ini pasti sangat hebat.

Menurut info yang aku dapat dari Myungsoo, orangnya adalah seorang wanita yang juga kenalan Myungsoo. Aku jadi berfikir apakah itu salah satu mantannya atau tidak. Pandanganku tak henti-hentinya menilai setiap detail dari ruangan sambil berdecak kagum. Ini bukan pekerjaan yang mudah.

“ Myungsoo? Kim Myungsoo? ”

Seorang wanita cantik dengan pakaian santai namun malah membuatnya terlihat elegan itu menghampiri kami—tepatnya Myungsoo—lalu memberikannya sebuah pelukan.

Oh, hebat sekali. dua pelukan wanita dalam 2 hari berturut-turut. Bukankah jelas-jelas itu menunjukkan betapa hebatnya Myungsoo dalam memikat wanita?

“ Aku tidak menyangka akan langsung bertemu dengan pemiliknya. Apa kabarmu, Minah? ”

Wanita yang dipanggil Minah itu tersenyum genit. Oh lupakan penilaianku yang mengatakan bahwa dia tampak elegan, dia tidak ada bedanya dengan teman-teman wanita Myungsoo lainnya. Like a slut.

“ Baik, tentu saja. Ada apa datang kesini? Ingin bertemu denganku? ” Tanya wanita itu sementara aku berusaha keras untuk menahan gejolak ditenggorokkanku.

Myungsoo tertawa kecil, seolah itu lucu, “ Aku ingin minta tolong untuk pernikahanku. Kenalkan, ini Park Jiyeon. Calon istriku. ”

Akhirnya aku dianggap juga disini.

Bisa kulihat sekilah wajah wanita yang semula sangat girang itu berubah 360 derajat. Ia beralih dan menatapku dengan pandangan menilai. Rupanya dia tidak malu sudah begenit ria pada seorang lelaki didepan calon istrinya. Wanita zaman sekarang memang agak aneh. Aku hanya tersenyum ‘sedikit’ mengejek lalu mengulurkan tanganku, “ Park Jiyeon. ”

Ia mendengus pelan, “ Jung Minah. ”

Setelah perkenalan singkat itu, ia menggiring kami kesebuah ruangan yang mirip ruang tamu dengan sofa berwarna merah maroon yang serasi dengan tema disekitarnya, merah.

Well, harus aku akui. Minah tidak sejelek itu. Walaupun tingkahnya masih saja menyebalkan, dia tetap professional. Dia memanggil seorang karyawannya dan memberikan kami beberapa buku besar berisi berbagai pilihan kartu undangan, bunga, tema yang akan kami pakai, hingga pilihan gedung yang bisa kami sewa untuk acara pernikahan. Ia menjelaskan dan terkadang memberikan saran tentang apapun yang kami perdebatkan.

Awalnya memang aman-aman saja. Kami sepakat tentang bentuk kartu undangan, dimana kami akan memesan catering dan membicarakan para tamu undangan walaupun aku lebih banyak mengikuti kemauan mereka tapi aku fikir tidak ada salahnya untuk mengikuti. Hingga saat kami membahas tentang tema acara, kami benar-benar berdebat keras. Kali ini, aku tidak akan mengalah.

“ Kita harus memilih tema yang mewah. Aku tidak ingin dengan tema garden party ataupun sesuatu yang simple. Big no. ” Putus Myungsoo.

Minah mengangguk berkali-kali.

Aku menghela nafas, “ Terlalu boros. Lagipula tamu undangan pasti akan merasa nyaman dengan sesuatu yang menenangkan seperti garden party. Sesuatu yang mewah terlalu mengintimidasi. ” Kataku memberi saran.

“ Wajar saja. Tidak masalah dengan biaya. Lagipula, Myungsoo kan mengundang banyak tamu. Akan lebih berkelas rasanya jika kita menggunakan tema yang mewah agar tidak memalukan. Aku benarkan, Myungsoo? ”

Mungkin dia lupa bahwa yang akan menikah adalah aku dan Myungsoo. Bukannya dia dan Myungsoo. Aku menarik nafas perlahan, mencoba untuk mengontrol emosiku agar tidak meledak dan membuatku tampak seperti anak-anak yang egois.

Myungsoo mengangguk, ia sudah membolak-balikkan halaman buku tersebut, tidak mendengarkan pendapatku sama sekali. ia menolehkan kepalanya pada Minah, meminta pendapatnya, “ Merah atau putih? ”

Dan saat itu aku merasa tidak dihargai. Aku terdiam, mencoba berfikir apa arti dari perbuatan Myungsoo saat ini namun nihil. Aku sama sekali tidak dihargai. Kenapa dia mendadak seperti mengacuhkanku? Apa karena wanita ini?

Apa minah ada arti baginya?

Aku menghela nafas lalu membuang pandanganku kesamping. Mencoba tidak peduli dengan apapun pilihan mereka. Terserah saja. Kalau memang dia tidak berniat sama sekali untuk membuatku teribat dalam urusan ini, kenapa dia tidak mengatakannya dari awal?

Apa dia sengaja membuatku seperti ini? tidak dianggap, eh?

“ Merah ditambah sedikit perpaduan dengan gold. Pasti bagus. ”

Terserah. Aku tidak ingin mendengarkan apapun lagi.

*****

“ Kenapa mukamu? ”

Myungsoo menoleh untuk menatapku saat kami baru saja masuk kedalam mobil. Aku mendengus. Lalu mencondongkan tubuhku kearahnya. Asal tau saja, aku bukan wanita yang terbiasa ditindas. Sejak sekolah dasar, tidak ada satu orangpun yang aku biarkan bisa menindasku. Caranya yang menyepelekanku membuatku kesal setengah mati, sungguh.

“ Kenapa kau mengacuhkan pendapatku? ”

“ Maksudmu? ”

Aku menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. berusaha sekuat mungkin untuk tidak teriak dan memakinya dengan kata-kata terkasar yang aku punya, “ Kenapa kau tidak mendegarkan protesku? Kita kan sudah sepakat untuk mengaturnya bersama. ”

Myungsoo mengangguk lalu mulai menjalankan mobil. Aku menunggu penjelasan darinya, “ Aku mendengarmu. Tapi aku tidak suka dengan pilihanmu. ”

“ Tapi kau seolah-olah mengacuhkanku dan malah meminta pendapat that bitch. Kau ingin menikah denganku, bukan dengannya. ”

Mobil berhenti tepat didepan lampu merah setelah baru saja keluar dari gedung tersebut. Myungsoo menolehkan kepala dan menatapku datar, “ Pernikahan kita palsu, kan? Lalu kenapa aku harus selalu mengikuti pendapatmu? ”

Dan saat mendengar itu, rasanya hatiku patah setengah.

*****

hello, lama ya?

okeeey aku udah baca semua comment kalian yang rata-rata pengen konflik. aku tau rata-rata ffku nyaris tanpa konflik. aku memang payah dalam pembuatan konflik huhuhu

tapi, belakangan ini aku udah mulai terfikir konflik yang semoga pas untuk ff ini. siap-siap aja untuk ikutan mewek kalau ff ini memang bakal terus lanjut/?

dan, aku mulai mempertimbangkan ff ini harus berakhir dengan sad ending atau happy ending. menurut kalian gimana?

oh ya buat yang masih uas, semangat ya! jangan ngenet terus fufufu

90 thoughts on “Celebrity Wedding (Chapter 6: Fight?)

  1. Harus lanjut! Nggak boleh berhenti sebelum end! Dan harus happy ending! *maksa banget ini satu reader* 😀
    Sebel banget sama Myung! Cara dia ngebales Jiyeon lebih kejam! Aku tau sih balasan pasti akan lebih kejam tapi nggak kaya gini jugakan Myung? Minah sialan! *maaf buat penggemar Minah, nggak maksud ngebash kok* *peace*
    Wanita yang di retoran itu siapa ya? Jangan muncul lagi aja deh, tapi kayaknya bakalan muncul lagi ya? Dengan ucapan terakhur dia ke Jiyeon? Awas aja kalao dia berani nyakitin Jiyeon!
    That bitch? Bagus! Suka banget sama kata-kata Jiyeon yang itu! Jangan mau ditindas Ji sama Myung dan mereka! Kamu bisa naklukin mereka! Pasti! Termasuk Myung! Keluarin siapa donk buat jadi sainbgan Myung? Sahabat dari kecil Jiyeon mungkin? Masak Jiyeon mulu yang kalah telak sama Myung dan mantan-mantannya? Nggak terima. Sekali-sekali biar Myung yang sadar! Hahhaa! *ketawa jahat*
    Iya lama tapi nggak papa, setimpal kok dengan penantian🙂 Semoga kedepannya bisa lebih cepet. Hehhe *ngarep* 😀

  2. huah sialan si myungsoo jd ceritanya dia bales dendam gitu sama jiyeon, sumpah aku baca part akhirnya rasanya gemes bgt sama myungsoo issshhh pengen teriak d mukannya dan maki2 dia
    yaya aku juga suka klo ada konfliknya dikit2 biar kesannya ga adem ayem aja, biar ga bosen
    hmmm pengen gantian dong liat myungsoo cemburu karena jiyeon d deketin cowok laen, jgn jiyeon mulu yg cemburu sama mantan2 myungsoo
    oke d tunggu yah next partnya!!!

  3. Aaaa padahal lagi seru serunya kenapa harus tbc ㅠ.ㅠ aku suka konfliknya!! Seru! Feelnya dapet, mereka berdua bikin greget tapi kadang sweet. Ga sabar nihh nunggu kelanjutannya, ditunggu sangaatt ne!!^^

  4. Iya kayaknya mmg sih ff author rata2 gak ada konfliknya..tpi herannya..itu ttp bagus menurutku..alurnya tidak membosankan dan kata2 penyampaiannya mudah dimengerti..selain itu juga ada ciri khasnya..hehehee *jujurlhoyah*
    Ntah apa..karakter Myungyeon dlm cerita ff author selalu bikin greget..suka benar sih mereka gengsi2an..dan myungyeon benar2 pandai dalam mengendalikan sikap , emosi dan perasaan mereka.padahal uda jelas keduanya ud mulai ada benih2 cinta..eaakkkk*
    Part selanjutnya dttgu yahhhh,^^

  5. authornim… finally update jugaa. ceritanya makin seruuu. please jangan sad ending happy ending please. gpp deh konfliknya banyak tp jangan sad ending aja. keep updating authornim. fighting

  6. waduh myungyeon bikin greget aja..
    momennya tu bikin senyum gaje entah kenapa perkelahian kecil mereka sweet binggitss ditambah perasaan mereka masing-masing yg sulit diutarakan hehhe

    ehhh harus happy ending lohh #maksa
    ditunggu sangat kelanjutannya chingu ^^

  7. finally, setelah sekian lama menunggu. FF ini update jugaaa. dah waw! ini bagus bangeett demi apa. aku suka pemilihan pergantian pov myungsoo-jiyeon nya. kata2nya juga seperti biasa baguus, dan penempatan tiap2 karakter nya bener-bener kuat:3
    okedeh, sekian. Next part, update soon ne author-nim~

  8. whooaaaa….kngen bgt sma nih ff. terus lanjut,dan harus happy ending. hehehe…maksa ya…tpi bneran,plisss happy end ne…
    nextjuseyo jgn lama2. fighting !!!

  9. akhirnyaaa update jugaa… udah lama nunggu ff ini di post thorr…
    cusss hayulah sok bikin konflik coba antara mereka.. gregetan banget sama dua orang ini masa..
    harus happy ending lahhhh,, kalo perlu sampe mereka punya baby2 nya jugaa ><
    makin greget pastinya..
    next part selalu ditunggu..
    jangan lama2 oke thorr.. aku padamu lah wkwkwk

  10. wahh author daebakk , pnantian nya udah trbayar ma ni ff .
    myungyeon sama2 pinter ngendaliin pikirannya wkwk gengsi bgt .
    aish myung knpa hars ktemu mantan2 nya dan pelukan d hadapan jiyi , jiyeon kpan dtang temen cowok nya buat balas myung tuh .
    tuh myungsoo udah tau jiyeon gk mau urusan nya d atur org lain , malah pndapat jiyi gk d denger nya ckcj
    sabar jiyeon ntar balas aja klo dah waktu nya .
    author daebakk , jjang , fighting jgn lama2 bgt donk🙂

  11. akhr’y post jg…🙂
    wuachh… q ska bgtz eonni… ekhm… ekhmmm..q hmpr lpa… annyeong…
    hmzzz myungyeon sbnr’y dah mlai da rsa 1 sma lain keunde mrk ga ungkpin z ntuch pke acra gngsi sgla…
    hmzzz msa prnkhn ko’ u/ main” eoh?
    eonni.. knflik’y jgn brlbhn nee…
    hehe
    q hrp mga ff niech b’akhr dgn happy ending z nee…jebball..🙂
    next… palli.. palli…
    upz hmpr lpa myungie ntuch bnr” playboy nee?
    q hrp dy sdr n bnr” cnt ma jiyi… n mrk ga jd crai’y
    hehe

  12. makin seru dan makin bikin greget!!!!😀 haha udahlah saling ngaku aja kalo saling suka😀 haha
    eemmm komen apa lagi ya hehe udah lah itu aja dan yg pasti aku selalu nunggu kelanjutan ff ini😀 kekeke

  13. ..“Tidak juga. Pacarku yang sekarang cantik, seksi dan sangat berakal.”..
    wow!! aku cukup suka dg kalimat mu ini myungsoo.. memikat.
    ok. aku mulai gak suka dg suasana saat myungsoo dan jiyeon saat mengatur acara pernikahan. terlebih di mobil.
    apa ini yg dimaksud myungsoo mulutmu harimau mu?
    you’re wrong myungsoo. membalas jiyeon namun tidak melibatkannya malah membicarakannya bersama minah, itu tidak benar.
    bagaimanan pun merayakan pesta macam ini dan jiyeon yg sebagai seorang desainer, yg jelas jelas mengatakan ingin turut dalam merencanakannya jelas ada suatu kesenangan sendiri baginya.
    myungsoo akan menyakiti dirinya sendiri jika jiyeon sampai berubah sikap karena sikap konyolnya ini. you will get your sorry mr. myungsoo.
    dan terlihat kehidupan myungsoo cukup terekspose disini dan myungsoo cukup menyukainya.. then how abt jiyeon next?
    lagi pula sepertinya jiyeon masih memiliki something dimasa lalunya yg tak ingin ia ingat…

  14. akhirnya lanjutan ff ini nongol juga… myungsoo bls jiyi nih? menyebalkan. aaaah harus happy ending. walau ada konflik dahsyat tapi ttp harus happy ending ya :3

  15. Seriously, myungsoo bener-bener keterlaluan diakhir cerita.. -,- yah, setidaknya mereka harus mengakui perasaan mereka masing-masing lah supaya mereka nggak mikir itu cuma pernikahan palsu.. myungsoo bener-bener playboy, banyak banget mantannya -,- update soon yaa author-nim ^^)b

  16. wh.. smkn seru crtx chingu.tmbh phk k2 cwok dr jiyeon donx agr myungsoo jg mrskn yg jiyeon rskn.next chapx jgn lm2 y chingu..
    FIGHTING!!!

  17. huaaa kok gitu sih thor…konfliknya oke deh..tapi happy end aja ya…;-);-);-)
    ga bisa bayangin ni ntar sad ending..bakal nangis beneran deh aku..kkk
    mulai part ni berasa ada konflik antara mereka…myung balas dendam ma jiyi soal perkataannya yg tajem gitu…
    ditunggu nextnya selalu ya thor…

  18. …konfliknya oke deh..tapi happy end aja ya…;-);-);-)
    ga bisa bayangin ni ntar sad ending..bakal nangis beneran deh aku..kkk
    walau ffnya author rata2 tanpa konflik..tp ttp asik kok..
    mulai part ni berasa ada konflik antara mereka…myung balas dendam ma jiyi soal perkataannya yg tajem gitu…mereka tu bikin gemes ya..padahal udah jelas2 saling suka tp nutupinnya ampunn keren bgt…ga bakal nyangka kalo saling suka…
    ditunggu nextnya selalu ya thor…

  19. Wah daebak… aku suka sama cerita,bahasa, cara penyampaiannya.. serius itu feelnya dpt bgt…. aku jd bnyk belajar dr cara author nulis..
    hmmm….. .greget nihhh myungyeon sama sama demen tp ga jujur sama masing”.. hasss semoga part selanjuynya mereka jujur dan jd lebih sweet… ahhh ditunggu yaaaa myungyeon yg mesramesraan wakakak

  20. Akting Jiyeon di hadapan Myungsoo lebih keren, lebih ga terbaca. Si Myungsoo K.O mulu sama Jiyeon wkwkwk. Tapi di akhir Myungsoo membalikkan keadaan.
    Pengen tahu kelanjutannya. Next partnya ditunggu loh🙂

  21. Haiiiiiiii
    Im new comer and i like you ff
    Aku blm baca dr chap 1 sih tp chap ini aja da kece banget
    Fighting yaaaaaaaa 👏
    Aku suka karakter jiyi and myungie dsini cute 👍

  22. ah, jiyeon udah mulai cemburu ya ???
    kok, jiyeon terus yg cemburu, skali.kali myungsoo dong authornim,
    ff.nya daebak,
    ke chap. 7 dulu..
    *keep writing and fighting*

  23. huh .. Jdi revenge nig ,, kasian .. Pernikahan palsu .. Cba pernikahan asli .. Aku pasti jingkrak jingkrak ,, uhuy ., perih nih hati di cuekin .. Jota oppa sembuhin hati aku #plak .. Eiss jinjaa ,, mlah promosi ,,

  24. Konflik dimulai
    Tp myungsoo kesannya kyk balas dendam gt ya gegara jiyeon ngomong pernikahan palsu
    Moga aja abis konflik ini status mereka berubah dr pasangan palsu jd pasangan real

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s