Celebrity Wedding (Chapter 7: Problem Cleared)

celebrity wedding copy

Title : Celebrity Wedding

Main Cast :

Kim Myungsoo
Park Jiyeon

Genre : Marriage life, Romance, Humor

Type : Chaptered

Jiyeon’s Side

Lagi-lagi, ntah untuk keberapa kalinya dalam hari ini aku menghela nafas.

Tatapanku jatuh pada kertas hasil gambarku yang gagal total. Sudah tiga hari ini, tangan dan otakku tidak bisa menghasilkan apapun selain desain gagal yang berujung pada coretan kemarahanku. Lalu mataku beralih pada tong sampah yang mungkin belum dibersihkan oleh karyawanku sejak tiga hari, tumpukan kertas desainku yang gagal sudah menggunung, bahkan sudah tumpah mengotori lantai disekitarnya.

Baiklah, aku menyerah.

Sambil menghela nafas lagi, aku mengutip kertas-kertas malang itu dan memasukkannya kedalam tong sampah. Lebih baik aku membuang tumpukan sampah ini daripada membuat otakku yang sedang konslet semakin keruh.

Semenjak hari itu, tidak ada lagi komunikasi antara aku dan pria-sial-itu. Padahal biasanya, dia atau aku pasti akan menelfon atau paling tidak bertukar pesan sebentar.

Dan karena itu, aku merasa kehilangan. Ada sesuatu yang hilang. Perasaan kehilangan yang sakit.

Park Jiyeon bodoh. Memang kau fikir siapa dirimu?

Sudah tiga hari ini aku merenung, memikirkan kemungkinan-kemungkinan kenapa Myungsoo bisa bersikap seperti itu. Rasa-rasanya aku tidak membuatnya kesal ataupun marah sebelumnya. Walaupun, keheningan saat kami pergi bersama agak-agaknya terasa janggal, tapi aku merasa tidak ada yang salah selama itu.

Mungkin dia marah karena aku tidak berusaha mengajaknya berbicara?

Tidak mungkin.

Tanpa sadar aku mengurut pelipisku, terlalu bingung dengan ini semua. Aku berusaha berfikir selogis mungkin, namun nihil. Aku tidak menemukan jawaban apapun, yang aku temukan hanya rasa sakit akibat hatiku yang teriris dan fakta bahwa semenjak kejadian itu dia bahkan tidak mencoba memperbaiki hubungan kami.

Kenapa dia mendadak menyakitiku?

“ Masih banyak orang yang hidupnya lebih sulit darimu diluar sana akibat perang, kelaparan, kecelakan, krisis ekonomi. Jangan membuat malu dengan memasang muka seolah-olah kau lebih menderita daripada mereka. ”

Suara ketus yang khas itu membuatku terperanjat, lalu menatap Gyuri unnie dengan heran. Sejak kapan dia duduk disofa ruang kerjanya? Sejak aku pergi mengosongkan tong sampah?

Sial. Kenapa harus Gyuri unnie?

Sejak dulu, sikap Gyuri unnie memang selalu begitu. Skeptis, ketus dan sadis. Tapi dengan semua sifatnya itu, aku sangat tahu bahwa dia selalu mengkhawatirkanku. Dengan cara-caranya yang sadis itulah, dia melindungiku, mengaturku, hingga memberiku semangat yang kadang agak menyebalkan mengingat pilihan kata-kata yang sama sekali tidak menyenangkan namun dapat memacuku dengan sangat ampuh. Walaupun awalnya aku sangat membencinya karena mendengar kata-kata cemoohannya dan betapa over protective-nya dia padaku.

Tapi harusnya, bukan dia yang datang saat suasana hatiku buruk.

“ Unnie tidak ke kantor? ” Tanyaku mengalihkan, lalu ikut duduk dihadapannya.

“ Begitukah wajah seorang wanita yang akan menikah? kau lebih mirip seperti akan dihukum mati. ”

Aku merutuki kebodohkanku diam-diam, Gyuri unnie bukan orang yang bisa dialihkan begitu cepat. Ia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. Jadi aku memutuskan untuk mengangkat bahu, “ Hanya masalah pekerjaan. Beberapa hari ini aku tidak punya ide. ”

“ Dan yang membuat kau tidak punya ide adalah? ”

Jackpot.

Tebakannya memang selalu akurat. Itulah alasan mengapa aku tidak mengingkannya datang. Aku tidak mungkin menceritakan apapun padanya. Dan akan menjadi sebuah kebodohan bila aku memilih berbohong. Gyuri unnie akan dengan mudah mengatakan aku berbohong.

“ Aku… ”

“ Ada masalah dengan Myungsoo? ”

Aku menghela nafas lagi, pasrah akan keadaan lalu mengangguk, “ Hanya masalah kecil sebenarnya. ”

Pandangan Gyuri unnie berubah tajam dan penuh rasa ingin tahu. Kalau dia sudah seperti itu, dia akan mendesak siapapun agar mau memberi tahunya. Dan kalau orang itu tidak menuruti, siap-siap saja menerima jambakan atau lemparan sesuatu. gyuri unnie memang sadis. Aku bahkan bingung darimana ia dapat sifat itu mengingat mom dan dad sama sekali tidak memilikinya.

“ Ohya? Kalau begitu kau bisa mengatakannya padaku, kan? ”

Aku meringis, tanpa sadar menggaruk kepalaku yang mendadak gatal bukan main. Bagaimanapun, aku harus jujur. Gyuri unnie sama sekali tidak menyukai kebohongan, “ Hanya karena perdebatan tentang tema pernikahan, un. Itu saja. ”

Gyuri unnie bergumam, sesekali mengecek ponselnya lalu beralih menatapku, “ Dan pertengkaran kecil itu membuat wajahmu seperti ini? ya tuhan, Park Jiyeon. ”

Alisku terangkat, “ Unnie menuduhku berbohong? ”

“ Aku tau kau sedang jujur, walaupun alasanmu tidak masuk akal. aku yakin masih ada yang kau sembunyikan. ” Jawabnya dengan nada final.

Bisa kurasakan seluruh tubuhku menegang takut. Aku tau ini masalah sepele. Namun, rasanya menceritakan hal ini pada Gyuri unnie secara detail bukanlah pilihan yang tepat mengingat hal yang membuatku marah adalah ‘pernikahan palsu’ yang disebut Myungsoo.

“ Jangan tegang begitu, aku tidak akan memaksamu, ” Sambung Gyuri unnie sambil berdiri dan itu membuatku lega luar biasa. Aku bahkan sangat yakin unnie bisa merasakan kelegaanku, “ Jangan terlalu stress dengan masalah sepele. Unnie akan pulang. ”

Aku ikut berdiri dan mengantarnya kedepan pintu ruanganku, “ Kenapa unnie terburu-buru? ”

“ Bukannya bagus untukmu? ”

Gyuri unnie menatapku dengan alis terangkat, membuatku meringis seperti tertusuk paku. Bahkan hal seperti ini saja dia bisa tahu. Unnie-ku hebat sekali bukan? Dulu aku pernah menyuruhnya untuk menjadi psikolog, namun setelah aku pikir-pikir lagi, bad temperament-nya membuat pekerjaan itu malah haram untuknya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana unnie akan melempar kursi atau menampar pasien yang tidak ingin menurut padanya atau saat suasana hatinya sedang buruk.

Tidak. Bisa-bisa dialah yang dijebloskan ke rumah sakit jiwa.

“ Aku tidak bilang begitu, ”

“ Tapi matamu menjelaskan semuanya. ”

Tepat saat aku membuka pintu, Hyomin unnie muncul dengan beberapa berkas ditangannya. Dan lagi-lagi itu membuatku lega luar biasa karena tidak perlu merasa ketahuan lagi.

dan ternyata kemunculan Gyuri unnie juga membuat Hyomin unnie kaget. Ia lalu menetralkan ekspresinya. Aku tahu kenapa ia panik.

Ia memegang rahasiaku, dan semua orang yang mengenal Gyuri unnie tidak akan mungkin bisa memegang rahasia apapun.

“ Sudah lama tidak melihatmu. Apa kabar, hyomin? ” Sapa Gyuri unnie.

Hyomin unnie tersenyum kecil—dan aku sangat tau dia ketakutan—“ Baik. Belakangan ini aku melakukan beberapa pekerjaan di Paris. Sudah mau pulang, un? ”

Gyuri unnie tersenyum, “ Tentu saja. Jiyeon sedang tidak bisa terpisah dengan Myungsoo, kan? ” Tanyanya santai, namun malah membuatku panik setengah mati, “ Ohya, apa rencanamu hari ini, Jiyeon? ”

Secara ajaib aku mengingat sesuatu. hari ini kan jadwal kami untuk memilih cincin! Aku sudah berjanji akan mengangajak Myungsoo hari ini ke toko perhiasaan favoriteku untuk memilih cincin nikah. Bagaimana mungkin aku bisa lupa?

Jadi aku harus menghubunginya duluan, begitu?

Tidak akan.

Lebih baik aku pergi sendiri. Masa bodoh kalau dia tidak menyukai pilihanku lagi. Memangnya dia kira aku saja yang harus menurut padanya? Tidak akan. Cukup keluargaku saja yang terlalu mengaturku. Menambah satu orang lagi akan membuatku ingin mengakhiri hidupku saja.

“ Kami akan pergi memilih cincin jam 12 nanti. ” Jawabku sesantai mungkin.

“ Oh begitu, sampaikan salamku untuk calon adik iparku itu. ”

Aku mengangguk kaku. Setelah itu Gyuri unnie berjalan santai menuju lift, bahkan aku bisa mendengarnya bernyanyi kecil seolah merayakan keberhasilan rencananya untuk membuatku ketakutan. Setelah ia menghilang, buru-buru Hyomin unnie menutup pintu dan menghela nafas keras. Aku sangat mengerti perasaannya.

Sangat mengerti.

“ Gila! ” Teriaknya tertahan, seolah-olah Gyuri unnie dapat mendengar apapun kalimatnya dalam radius 500 meter, “ Dia memang tidak berubah. ”

Kami berdua berjalan kembali ke sofa. Aku hanya mengangguk lemah. Benar-benar bingung dengan rencanaku untuk memilih cincin hari ini. egoku berteriak agar memilihnya sendiri, namun disisi lain, aku tau bagaimanapun aku harus mengajak Myungsoo.

“ Bahkan lebih parah. ” Gumamku sambil melihat-lihat beberapa berkas yang dibawa Hyomin unnie.

Bisa kurasakan Hyomin unnie menatapku lama, “ Kudengar dari Krystal, moodmu tidak begitu bagus belakangan ini. ada apa? ”

“ Kami bertengkar. Masalah sepele. ”

Saat Hyomin unnie bertanya kenapa, saat itulah aku menjawabnya dengan cerita lengkap versiku. Aku menceritakan bagaimana sikapnya terhadapku saat di hadapan wanita itu dan bagaimana cara ia menyebutkan pernikahan palsu kami. Hyomin unnie mendengarkanku dengan seksama dan semakin lama, keningnya makin berkerut. Mungkin sama bingungnya denganku.

Dan rasanya benar-benar lega.

Walaupun masalahku tidak hilang sama sekali, namun rasanya bebanku memang terangkat setengahnya. Bercerita pada pendengar yang sejalan pikiran memang menyenangkan.

Tidak seperti pada cenayang berwujud Gyuri unnie.

“ Kalau begitu, kau saja yang memilih cincinnya sendiri! Kenapa harus kau yang menghubunginya duluan, ini sama sekali bukan salahmu. Kalau perlu kau bisa mengajak teman laki-lakimu. ”

Dahiku mengernyit, “ Teman? Laki-laki?”

“ Jung wook, misalnya? ”

Jung wook. Seorang teman lamaku semasa kuliah. Kami lumayan sering melakukan kontak baik pesan ataupun telfon. Dan tentu saja itu selalu dia yang memulai. Beberapa teman kuliahku dulu mengatakan dia sudah lama menyukaiku.

Tapi aku bukan tipe yang suka berkomitmen apalagi serius. Komitmen bagaikan virus yang harus aku hindari. Berkebalikan dengannya. Dan rasanya ajaib sekali sebenarnya mengingat sebenarnya aku akan menikah dan berkomitmen selama setahun. Lalu setelah itu kami cerai secara baik-baik, tanpa adanya anak ataupun perebutan harta gono-gini.

Memikirkan kalimat cerai memang selalu sukses membuatku mual.

“ Tidak apa-apa memanfaatkan dia? Mengajak lelaki lain untuk mengurus pernikahan yang bahkan bukan dengannya, unnie tidak berfikir itu aneh? ”

Hyomin unnie mengangkat bahu, “ Memang apa masalahnya? Dia pasti dengan senang hati menolongmu. ”

Myungsoo’s Side

Setelah melirik kiri kanan, aku berjalan cepat ke dalam café yang sudah kami sepakati. Tentu saja, aku memilih café dengan pengunjung paling sepi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan sampai ada berita yang menyebutkan aku selingkuh setelah kami sudah merencanakan pernikahan.

Itu akan membuatku semakin dicap pria brengsek.

“ Maaf, aku terlambat. ”

Wanita itu dengan anggunnya menaikkan kepala dan menatapku lurus, lalu tersenyum, “ Aku kira aku yang akan terlambat. ”

Aku meringis. Bahkan aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana caranya tersenyum. Ia masih terlihat tidak menyukaiku sama sekali.

Atau mungkin wajahnya memang tidak bersahabat?

“ Aku ada urusan sedikit, ” Jawabku jujur, karena Jiyeon pernah mengingatkanku apapun yang terjadi jangan pernah berbohong kecuali tentang hubungan kami tentu saja, “ Ada apa nuna ingin bertemu denganku? ”

Seorang pelayan laki-laki mengantarkan jus milik Gyuri nuna dan menayakan apa pesananku tanpa kelihatan tertarik dengan siapa ia berbicara. Ini yang aku suka dari café ini. kadang-kadang aku memang menyukai café dengan pelayanan tidak ramah daripada ramah.

Karena pelayannya tidak akan peduli apa yang aku lakukan disini.

“ Kopi dengan sedikit cream untukku, ”

Ia mengangguk lalu setelah mencatatnya, iapun pergi dari hadapan kami.

Gyuri nuna menatapku penuh selidik, “ Kau terlihat berantakan. ”

Ya, tentu saja aku terlihat berantakan. Sudah tiga hari aku bertengkar dengan adiknya dan sudah tiga hari pula kami tidak ada komunikasi sama sekali. bukannya aku pengecut karena tidak berani menghubunginya duluan, tapi rasanya aku masih kesal setiap mengingat bagaimana dia menyebutkan hal itu duluan. Jadi sebenarnya, bukan aku yang salah disini. Salah dia karena dia yang memulai semuanya.

Walaupun belakangan ini aku merasa, mungkin aku terlalu berlebihan.

Jadi agar aku bisa menghilangkan perasaan bersalah yang sering mendadak muncul diotakku, aku memaksakan diri untuk tetap sibuk hingga membuatku terlihat berantakan. Berlatih dance sepanjang hari walaupun aku tidak menyukainya, mencoba mengaransemen lagu baru hingga ikut melatih vocal para trainee yang seharusnya bukan pekerjaanku. Itu semua aku lakukan agar aku tidak punya waktu untuk merasa bersalah ataupun menyerah dengan keadaan dan mengajaknya berdamai.

“ Belakangan ini aku sibuk untuk persiapan konser, nun. ” Jawabku asal.

“ Dan sibuk memikirkan pertengkar kalian? ”

Lagi-lagi aku tertohok dengan pertanyaan yang lebih berupa pernyataan yang dilemparnya secara terus terang. Membuat otakku bekerja keras berfikir apa aku harus jujur atau malah berbohong. Tidak. Dia pasti tahu dari Jiyeon. Mengucapkan sebuah kebohongan adalah suatu kebodohan.

Perasaanku tidak enak.

Sebenarnya tidak masalah jika aku jujur saja. Tapi yang aku takutkan justru saat dia bertanya alasan kenapa kami bertengkar. Apa Jiyeon sudah mengatakan kebohongan? Bagaimana kalau alasan kami berbeda?

Tamatlah sudah riwayatku dihadapan monster berwujud wanita anggun ini.

Aku hanya mengangguk sambil menggaruk kepalaku yang sepertinya berkutu, “ Hanya masalah kecil tentang pernikahan kami. ”

Gyuri unnie menatapku dengan ekspresi datar yang luar biasa lalu mengangkat alisnya. Apa respon itu pertanda buruk? Wanita ini benar-benar menyeramkan. Dia bahkan sangat sangat jauh lebih menyeramkan daripada manager hyung. Bagaimana bisa Jiyeon memiliki kakak perempuan yang begini seram?

“ Jiyeon juga bilang begitu. Sepertinya kalian tidak berminat untuk menceritakannya, ya? ” Balasnya santai yang membuatku kikuk setengah mati.

Semoga saja dia tidak mengeluarkan pisau secara tiba-tiba didalam tas hitamnya lalu melemparkannya tepat ke jantungku. Aku tidak ragu sama sekali dia bisa melakukan itu, melihat bagaimana caranya bersikap dan suara dinginnya yang mengalahkan kutub utara dan selatan digabung menjadi satu.

Okay. Aku tau aku sangat berlebihan.

Tapi kalian akan merasakan hal yang sama saat mendengar suara dinginnya yang lebih tenang daripada air dan saat ditatap dengan tatapan tajam yang menusuk seolah dia bisa membaca apapun yang sedang kau fikirkan. Ditambah lagi dengan tangannya yang melipat didada, membuat kesan bahwa dia terang-terangan tidak menyukaiku sedikitpun.

“ Baiklah kalau begitu aku langsung to the point saja, ” Ucapnya membuatku tenang sekaligus tegang disaat bersamaan, ia meminum jusnya sebentar lalu kembali menatapku dengan tatapan yang sama, “ Aku akan meminta sesuatu. ”

For god shake, aku akan memberikan apapun yang dia minta kecuali nyawaku. Sungguh.

Dan kenyataan bahwa dia berkata seolah-olah aku tidak boleh menolaknya membuatku makin tegang, “ Apa nuna? ”

Dia menghela nafas, sekilas saja aku dapat melihat matanya yang memancarkan kekhawatiran lalu beberapa detik kemudian pancaran itu hilang. Membuatku yakin aku salah melihat.

“ Aku minta kau menjaga Jiyeon, jangan pernah menyakitinya sejengkal saja. Karena kalau itu terjadi, kau tahu berurusan dengan siapa. ”

Gila.

Aku baru saja diancam oleh seorang wanita dan untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa takut akan ancaman seseorang. Tentu saja aku tahu akan berurusan dengannya dan aku sampai matipun tidak akan mau menjadi bahan mutilasi.

Tapi aku jadi penasaran.

Kenapa dia berkata begitu? Maksudku, wajar bagi seorang kakak untuk mengkhawatirkan adiknya. Tapi bukankah dia sangat-sangat serius dengan apa yang diucapkannya? Seolah kalau aku berani membuat adiknya sedih sedikit saja dia akan mencabut mataku.

“ Tentu saja, un. Aku tidak akan menyakitinya. ” Jawabku akhirnya.

“ Aku akan bercerita sedikit, ” Katanya, membuat dahiku berkerut karena lagi-lagi aku melihat pancaran kesedihan dimatanya, “ Jiyeon. dia memiliki sebuah trauma dimasa lalunya. ”

Maksudnya?

Trauma? Trauma tentang apa?

“ Dia bukan adik kandungku. ” membuatku semakin terkejut dengan satu lagi fakta yang Gyuri nuna katakan, “ Dulu sewaktu dia masih berumur 5 tahun, dia selalu disiksa oleh ayah kandungnya. Bahkan beberapa memar masih ada di punggungnya, walaupun kejadian itu sudah sangat lama. ”

Fakta lagi. Dan itu membuatku tanpa sadar menggeram marah. Membayangkan Park Jiyeon dipukul oleh ayah kandungnya sendiri membuatku ingin menghajar lelaki bejat itu.

Bagaimana bisa ia malah menyiksa anak yang harusnya ia lindungi?

Tapi itu membuatku mengingat sesuatu yang sama sekali tidak ingin aku ingat. Peristiwa yang membuatku takut menjalin hubungan serius. Peristiwa yang membuat umma nyaris gila dan membuat kami berdua hancur karena seseorang.

Lupakan saja.

“ Bagaimana dengan ibunya? ” Tanyaku dengan suara tertatahan.

Lagi-lagi Gyuri nuna menggeleng, sorot kesedihan benar-benar kentara dimatanya. Ia sama sekali tidak berusaha menutupi itu lagi. Seolah-olah dia dapat merasakan, bagaimana pedihnya kehidupan Jiyeon yang tidak pernah aku sangka. Bagaimana bisa ia yang terlihat sangat bahagia dengan hidupnya yang mengalami penderitaan sedemikian berat pada masalalunya?

“ Ibunya bahkan tidak bisa menolong Jiyeon karena dia juga disiksa, ” Jawab Gyuri nuna, “ Ibunya telah minta cerai, namun saat mendengar permintaan itu, ayah Jiyeon langsung mengamuk dan memukulinya. Puncaknya ketika ayah kandung jiyeon membunuh ibunya didepan mata Jiyeon yang saat itu masih berumur 6 tahun. Dad berhasil menyelamatkannya saat mendengar teriakan dari ibu Jiyeon. Dad menghajar lelaki itu dan menelfon polisi lalu membawa Jiyeon kerumah kami. Saat itu keadaannya sangat kacau. Tatapan Jiyeon selalu kosong dan ia sama sekali tidak mau bicara hingga dokter mengatakan tidak ada harapan untuknya bisa pulih. Hingga kami memilih alternative lain, yaitu menghipnotis Jiyeon agar kenangan dimasa lalunya terlupakan walaupun kepingan-kepingan memori itu tetap ada jika ada suatu hal yang membuatnya ingat kembali. ”

Separah itu hingga ia harus dihipnotis agar lupa ingatan? Siapa yang menjamin ingatan itu tetap terlupakan selamanya?

Rupanya masih ada yang lebih brengsek daripada lelaki itu.

Tanganku mengepal kuat. Tanpa sadar aku merasa rasa takut itu kembali menyergap otakku setelah sekian lama aku kubur dalam. Membuatku takut untuk mencintai dan berhubungan serius pada seorang wanita manapun. Aku tidak ingin membuat mereka seperti umma. Aku takut saat aku bosan dengan wanita itu setelah kami berkomitmen, aku lalu mencampakkannya.

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, bukan? Mungkin saja aku sanggup melakukan itu.

Jadi aku berjanji. Aku tidak akan jatuh cinta lagi. Aku tidak akan memiliki hubungan serius. Cukup sekali saja saat itu.

“ Myungsoo? ” Panggil Gyuri nuna, tatapan dinginnya telah kembali namun kali ini ia menunjukkan ekspresi heran, “ Aku cerita terlalu banyak. Aku harap kau tidak mengatakan hal ini pada siapapun. ”

Aku menarik napasku perlahan, seolah mencoba membuang apapun yang ada diotakku saat ini, “ Tentu saja, nun. ”

“ Jujur saja aku heran, kenapa Jiyeon mendadak memilih menikah denganmu yang aku yakin bukanlah lelaki yang baik mengingat track record-mu selama ini. ” Balas Gyuri nuna dengan sangat frontal, seolah sedang menamparku. Oh, kalau dia memang menginginkan itu, dia sangat berhasil, “ Aku yakin kau tidak serius dengan Jiyeon. ”

Aku gelagapan. Udara mana udara?

Sekarang aku harus jawab apa? Apa aku harus menjawabnya? Itu lebih kepada pernyataan dan pernyataan itu memukulku telak karena hubungan kami memang tidak serius. Tapi aku bisa apa?

Otakku berfikir keras, memikirkan kata apa yang tepat untu membalas kalimat Gyuri nuna paling tidak mengalihkannya sedikit saja. Tapi kalimat itu tak juga kunjung muncul dan akhirnya aku menyerah.

“ Aku janji tidak akan menyakiti Jiyeon. ” Balasku akhirnya.

Aku benar-benar berharap tidak akan menyakiti Jiyeon. Wanita itu terlalu tersiksa dimasalalu, jangan sampai aku yang bukan siapa-siapa harus menambah lagi lukanya. Dia pantas bahagia.

Tapi entah kenapa, aku merasa Jiyeon adalah wanita yang harus aku waspadai. Jangan sampai aku jatuh cinta padanya. Dan membuatku tanpa sadar menghela nafas berat, andai semuanya bisa menjadi lebih mudah untukku. Seandainya aku mau membuka perasaanku untuk wanita lain. Seandainya aku tidak pengecut dan tidak takut dengan rasa sakitnya jatuh cinta.

Andai saja aku mau egois dengan tidak memikirkan kemungkinan bahwa aku akan menyakiti wanita yang mencintaiku.

“ Bagus. Lelaki sejati akan memegang janji kan? ” Sindirnya, membuatku tanpa sadar tersentak dan meringis. Gyuri nuna melihat jam tangannya dan mengernyit, “ Sudah jam 12, kenapa kau belum pergi untuk mengambil cincin? ”

Benar juga. Seharusnya hari ini kami memang akan pergi memilih cincin. Namun karena perkelahian konyol itu, dia bahkan tidak menghubungiku sama sekali. seharusnya aku tidak marah hanya karena masalah sepele dan membuatnya sakit hati karena salah paham denganku. Ternyata aku memang masih saja kekanakan.

Aku harus memperbaiki hubungan kami.

“ Nuna tau dia dimana? ” Tanyaku ragu.

Gyuri nuna menatapku dengan alis terangkat lalu mendengus, “ Kenapa kau tidak tanya sendiri? ”

Ya tuhan. Mungkin beberapa kejutan dan sedikit rasa penyesalan hari ini membuatku agak bodoh dan lamban. Aku sampai lupa kalau zaman sekarang ini sudah canggih dimana ada ponsel yang bisa digunakan untuk menghubungi orang lain.

Jadi tanpa membuang waktu, aku mengeluarkan ponselku dan mencari kontak Jiyeon untuk menghubunginya. Tapi ternyata, nasibku cukup sial hari ini.

Dia masih marah dan mereject panggilanku.

Salahkan saja aku yang brengsek.

“ Dia me-rejectnya? ” Tanya Gyuri nuna masih seperti peramal.

Aku hanya mengangguk lesu, lalu kembali mencobanya dan tetap saja gagal. Dia tetap mereject panggilan dariku. Aku tidak menyalahkannya lagi. Wajar saja dia seperti itu, dia salah paham karena mengira aku menganggap enteng pernikahan ini. padahal niatku hanya membalas apa yang dia mulai. Tapi mungkin saja, dia tidak bermaksud mengatakannya untuk membuatku tersinggung. Aku memang kekanakan.

Tapi tetap saja aku masih kesal. Kenapa dia tidak sadar juga sih?

“ Coba ke toko cartier di Cheongdam-dong, itu yang terdekat dari kantornya. ”

Gumamnya namun dapat terdengar jelas olehku dan lagi-lagi membuatku yakin wanita didepanku adalah titisan dedemit atau cenayang dan sejenisnya. Atau Jiyeon memang memberi taunya?

Responku kadang memang berlebihan.

“ Jiyeon mengatakannya pada nuna? ” Tanyaku hati-hati.

Diam-diam, aku was-was juga dengan Gyuri nuna. Dan gerakan menggelengnya membuatku menganga semakin lebar. Rasa-rasanya aku ingin bersimpuh dihadapannya dengan kedua tangan saling berkaitan sambil mengatakan, “ Mohon ajarkan saya, guru. ” seperti di film-film kolosal. Kemampuan seperti itu sangat dibutuhkan dizaman yang penuh dengan kepalsuan seperti saat ini.

Otakku sudah kembali bergeser, ya.

“ Jangan norak, ” Gyuri nuna mendesis, perasaanku berkata wanita itu sedang menahan tawanya. Mungkin ekspresiku memang norak, “ Jiyeon suka cartier. Dan toko itu adalah toko yang paling sering ia kunjungi. Jadi kutebak, dia akan kesana.”

“ Kalau dia tidak disana? ”

“ Ya berarti kau harus mencarinya keseluruh tempat. Simple saja, kan? ”

Ngomong saja memang mudah. Tau-tau nanti saat aku sudah mengelilingi semua toko cartier yang lebih dari 10 di korea, Jiyeon sudah keburu punya calon pasangan baru.

Lebih baik aku gantung diri saja kalau begitu.

Tapi aku tidak boleh meragukan penglihatan dari sang guru besar. Ini adalah titah yang harus aku laksanakan dan aku tidak boleh mengeluh. Semangat!

“ Benar juga, ” aku melirik jamku dan berdiri lalu menunduk sedalam-dalamnya dihadapan sang guru besar, “ Terimakasih gu—maksudku nuna. Terimakasih atas bantuannya. Kalau begitu aku pamit dulu. ”

Setelah sekilas aku melihat guru besar-ku mengangguk singkat dengan gerakan anggun, aku melesat pergi menuju mobil pribadi yang jarang sekali aku pakai untuk menghindari kejaran fans. Kalau difikir-fikir lagi, mana ada guru besar secantik dan seanggun Gyuri nuna.

Aku terkekeh sendiri didalam mobilku lalu menghela nafas berat.

Merasa sangat sadar akan omongkosong yang ada diotakku saat ini. aku hanya sedang berusaha untuk mengacuhkan kebimbangan yang mendadak melanda perasaanku.

Jiyeon’s Side

“ Kau kira dengan siapa kau akan menikah? ”

Suara dingin yang tenang namun menusuk itu memenuhi indra pendengaranku, membuatku langsung menghentikan langkahku dan diikuti dengan Jung Wook yang menatapku dan seseorang dibelakangku dengan heran.

Suara itu.

Suara yang belakangan ini membuatku merasakan apa itu perasaan rindu. Suara dari lelaki yang membuatku tidak bisa berfikir benar. Suara dari lelaki yang membuatku kacau belakangan ini.

Apa dia merasakan perasaan yang sama sepertiku?

Tubuhku diam mematung. Bingung harus membalikkan badan untuk melihat wajahnya yang sudah beberapa hari ini tidak dapat kulihat atau melanjutkan langkahku untuk berpura-pura tidak mendengarnya. Baru beberapa hari saja rasanya sudah lama sekali. Rasanya seperti ada yang hilang disetiap aku ingin menutup mataku dimalam hari, ada sesuatu yang kurang hari itu. Membuatku berfikir keras hingga susah tidur.

Rupanya begitu rasanya. Apa aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya?

Jatuh cinta? Perasaan yang bahkan aku kira tidak bisa aku rasakan seumur hidupku. Aku sedang merasakan itu. Perasaan yang aku hindari, namun kali ini datang. Aku memang salah. Karena kenyataanya, bagaimana kita jatuh cinta dan dengan siapa kita merasakannya bukanlah atas keinginan kita.

Kurasakan sebuah tangan menarikku hingga membuatku menoleh. Lelaki itu tersenyum kecil padaku, matanya bergerak menelusuri wajahku sedangkan aku sendiri hanya dapat mengatupkan bibirku dengan mata kosong. Terlalu bingung dengan perasaan berlebihan yang sangat ingin kuhindari.

Tak lama kemudian, ia kembali menoleh pada Jung-wook dan menatapnya dingin, “ Maaf, aku rasa kau bisa meninggalkan calon istriku sekarang. ”

Jung-wook menatapku lama, menginginkan sesuatu keluar dari bibirku yang dapat menahannya. Namun nihil. Aku bahkan terlalu bingung dengan perasaan aneh yang muncul secara mendadak. Perasaan yang sama sekali tidak bisa dideskripsikan karena berbagai emosi yang tercampur didalamnya.

“ Okay. Maaf. ”

Akhirnya Jung-wook menyerah dan meninggalkan kami setelah sebelumnya menepuk bahuku sekali. Aku bahkan tidak dapat memberikan balasan padanya. Perasaan bersalah mendadak muncul karena telah memanfaatkan lalu mencampakkannya begitu saja.

Aku hanya menghela nafas berat, berusaha mengangkat kepalaku dan menatap lelaki-sialan-itu, “ Ada apa? ”

“ Maaf. Aku akan menjelaskan semuanya setelah kita memilih cincin. Tenang saja, cincinnya aku yang teraktir dan kau bisa memilihnya sesuka hatimu, oke? ”

Lelaki itu terkekeh dan menarik tanganku lembut. Bahkan dia bisa bercanda disaat rasa-rasanya aku ingin menggampar sekaligus memeluknya. Mungkin wajar bagi perasaanku untuk mendadak berlebihan begini, perasaan seperti ini terlalu baru untukku. Jadi aku harus mulai pandai mengontrol sekaligus menekannya agar tidak terlalu menyesakkan dadaku.

Semoga saja bisa.

Kami berdua memasuki toko tersebut. Berbagai perhiasaan cantik menyambut kami dengan baik, membuat ujung bibirku sedikit naik karena melihat kecantikannya. Aku bukan tipe orang yang suka menghabiskan uang untuk membeli berbagai perhiasaan, aku hanya memiliki perasaan apresiasi yang begitu tinggi untuk karya seni seperti perhiasaan cantik—baiklah jujur saja aku memang sedikit boros sebenarnya.

“ Kau yakin aku yang memilihnya? ” Tanyaku menyindir, ia hanya mengangkat alisnya tak mengerti dengan pertanyaanku, “ Mungkin saja selera kita berbeda karena seleraku jelek dan tidak berkelas. ”

Myungsoo tertawa lalu menepuk kepalaku. Sama sekali tidak terpengaruh dengan kalimatku yang jelas-jelas menyindirnya. Dia benar-benar bermuka badak, “ Kalau seleramu jelek dan tidak berkelas, mana mungkin aku mengajakmu menikah. aku suka wanita berkelas dan tentu saja kau termasuk kedalamnya. ”

Mendengar kalimat yang sangat ringan dimulutnya namun berdampak begitu besar padaku itu membuat kemarahanku meluap begitu saja. Ya, sebut saja aku wanita lemah yang gampang sekali terperdaya. Tapi wajar saja kan, mengingat aku adalah wanita yang sangat pemula dalam jatuh cinta. Perasaan seperti ini terlalu dini dan terlalu menggebu-gebu untukku.

Aku mendengus, menatapnya sengit, “ Kalau begitu aku ingatkan dengan apa yang kau pernah katakan, pernikahan kita palsu. ”

Kali ini ia tidak lagi tertawa, ekspresinya menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak menyukai kata-kataku. Tapi aku benar, kan? Dia yang bilang begitu.

“ Ada yang bisa kami bantu? ”

Kami berdua menoleh kebelakang, membuat pegawai yang awalnya memasang senyum terbaiknya menjadi kaget. Namun hanya sepersekian detik, kemudian ia kembali memasang senyum yang bahkan lebih lebar.

Uh-oh. Aku lupa kami adalah pasangan paling hot akhir-akhir ini. tentu saja dia kaget dengan kedatangan kami berdua sekaligus.

“ Kami ingin cari cincin pernikahan, bisa dibantu? ” Tanya Myungsoo dengan senyum sejuta watt-nya yang berkilau menyebalkan.

Pegawai itu terperangah sejenak. Membuatku berusaha keras menahan mataku agar tidak berputar muak. Kalau begini saja dia sudah kaget-kaget tidak jelas, bagaimana kalau secara mendadak aku mengatakan padanya bahwa pernikahan kami bohongan. mungkin saja dia mati karena terkena serangan jantung ditempat dan saat itu aku akan tertawa penuh kemenangan.

Mungkin aku terdengar sedikit mengerikan, tapi salah dia juga kenapa begitu terkejut mendengar kami akan mencari cincin nikah. Memangnya apalagi yang dicari wanita dan pria yang datang bersamaan kalau tidak cincin nikah ditoko perhiasaan?

Urgh. Mungkin sebentar lagi aku akan dapat tamu bulanan, makanya aku sejudes ini.

“ Tentu saja, anda ingin memilih dari koleksi kami atau pesan sesuai keinginan anda? ”

Myungsoo menatapku seolah bertanya pendapatku, sepertinya ia tidak terlalu berpengalaman dengan belanja perhiasan. Aku beralih menatap pegawai tersebut, “ Kalau pesan, butuh berapa lama? ”

“ Sekitar 6-10 bulan tergantung bagaimana bentuk keinginan dan bahan dari cincinnya, nona. ”

Aku menatap Myungsoo kembali dengan pandangan kecewa. Sayang sekali, padahal tadi otakku sudah mulai bekerja membayangkan berbagai cincin unik untuk kami. Hebat juga, untuk desain baju otakku bahkan tidak jalan sedikitpun tadi.

“ Tidak bisa lebih cepat, ya? Sebulan? ” Tawar Myungsoo.

Refleks aku memukul kepalanya yang terlalu bodoh. Dia kira pelanggan cartier hanya kami saja? Dia kira membuat cincin itu segampang membuat kerajinan tangan dari bahan bekas seperti pelajaran anak sd?

Bodoh, sekali.

“ Kenapa kau memukulku? ” Tanya Myungsoo tidak terima.

Aku mendengus, “ Salah otakmu kenapa begitu bodoh. ” cibirku, aku beralih menatap pegawai yang berusaha untuk menahan senyumnya, “ Kalau begitu kami pilih yang ada saja. ”

“ Baiklah, kalau begitu mari saya antar, tuan dan nona. ”

Setelah mengatakan hal itu, pegawai itu berjalan mendahului kami sedangkan Myungsoo mendadak melingkarkan tangannya di bahuku, membuatku berjengit kaget dan menatapnya tidak suka sedangkan ia hanya memasang tampang blo’on seolah-olah tidak ada yang salah dengan itu.

Pegawai tersebut menggiring kami ke lantai atas dan membawa kami kehadapan beberapa kotak yang terbuat dari kaca anti peluru yang berisi cincin yang berkilauan. Ya tuhan, apa ini nyata? Aku akan memilih cincin pernikahan untukku sendiri! Harusnya aku mengabadikan momen yang hanya akan terjadi sekali seumur hidupku ini!

Karena sekali lagi aku ulangi, aku tidak yakin akan menikah lagi setelah kami bercerai.

“ Kau suka? Matamu bahkan berbinar dengan hanya melihatnya. ”

Tanpa ragu, aku mengangguk berkali-kali. Myungsoo terkekeh, “ Pilih saja. ”

Aku berjalan pelan mengelilingi kotak-kotak transparan itu sambil mengamatinya satu persatu, sesekali berdecak kagum. Aku suka membeli baju, sepatu, tas, dan perhiasaan mahal. Tapi dengan menggunakan uangku sendiri. Itu membuatku lebih puas dan menghargai barang tersebut.

Tak apalah. Ini kan cincin pernikahan. Sudah seharusnya itu menjadi tanggung jawabnya.

Langkahku terhenti pada kotak yang berisi cincin yang berbentuk untaian-untaian rumit dengan berlian sepanjangan untaian tersebut. Cincin tersebut terbuat dari platina dengan berlian kecil yang memenuhi cincin tersebut membuatnya terlihat mewah dan menakjubkan.

Aku mau yang ini!

Tubuhku berbalik dan mendapati wajah Myungsoo yang terlalu dekat denganku, membuatku tersentak kaget. Wajah itu tersenyum dan memiringkan kepalanya menatap cincin itu, “ Cantik, mau yang ini? ”

Jujur saja, wajahnya kami yang berdekatan dan terpaan nafasnya yang hangat diwajahku membuatku tak sanggup mengatakan apapun lagi. Sama persis seperti drama korea tentang percintaan anak SMA yang pernah aku tonton. Ternyata aku memang senorak ini. tidak harusnya aku berlarut-larut dalam perasaan berlebihan seperti ini.

Diam-diam aku ingin cek juga bau nafasku. Kalau bau, bisa jadi masalah besar.

Walaupun responku terlambat, aku mengangguk bersemangat, “ Baguskan? ”

Myungsoo bergumam kemudian memanggil pegawai yang terlihat iri berat dengan kemesraan kami itu agar mendekat, “ Saya pilih yang ini, ya? ”

Pegawai itu tersenyum dan mengangguk, “ Baiklah, untuk calon pengantin prianya? ”

Sebenarnya geli juga mendengar sebutan calon pengantin pria untuk Myungsoo. Tapi mau tidak mau, aku harus menahan diri untuk tidak mendengus agar pegawai tersebut tidak berpikir yang aneh-aneh.

Kepalaku terangkat dan menatap Myungsoo, “ Kenapa kau tidak memilih cincinmu sendiri? ”

Myungsoo merengut, respon yang sama sekali tidak aku sangka, “ Aku mau kau yang memilihnya. ”

Kali ini aku tidak bisa menahan mataku untuk tidak berputar. Tapi mau tidak mau kakiku melangkah juga menuju cincin pria dan mencoba mencocokkannya dengan cincinku. Hingga akhirnya mataku berhenti pada cincin simpel dengan sebuah permata kecil disebelah tulisan cartier.

“ Bagimana dengan ini? ”

Dahinya mengernyit lalu mengangguk, “ Terserah saja, aku tidak terlalu pandai memilih cincin. ”

“ Bilang saja kau tidak punya selera seni. ”

Myungsoo menatapku tak suka, alisku terangkat menantangnya, “ Mungkin kau lupa kalau aku art-ist. ” Balasnya kesal.

Aku tidak mau kalah. Perdebatan kecil seperti ini termasuk satu hal yang membuat hariku menjadi lengkap. Mau tidak mau, aku mengakui aku merindukan kekalahanku saat berdebat dengannya, “ Well mungkin saja, kau salah saru artist yang hanya beruntung mempunyai wajah tampan. ”

Kini giliran Myungsoo yang mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. Bibirnya secara mendadak terangkat sebelah, membentuk smirk yang selalu sukses membuatku kesal.

Dan juga rindu.

“ Kau baru saja mengakui ketampananku, nona. Harusnya aku mengabadikannya. Karena kejadian seperti itu sangat langka, kan? ”

Aku gelagapan. Myungsoo mengedipkan matanya padaku lalu beralih menatap pegawai yang berjarak beberapa meter dari kami itu, tapi aku sangat yakin dia berusaha menguping sehingga mendengar semua percakapan kami—melihat dari ekspresinya yang berusaha menahan senyum hingga keringatan.

“ Kami pilih yang ini juga. ” Putus Myungsoo.

Pegawai itu mengangguk dan tersenyum agak lebih lebar dari seharusnya, “ Mari ikut saya untuk mengukur jari dan pembayaran, tuan dan nona. ”

Kami berdua mengangguk dan mengikuti langkah pegawai itu untuk menuruni tangga dan berjalan kebagian belakang toko. Sesekali mataku bergerak liar menelusuri bermacam-macam stan kalung yang kami lewati, hingga mataku berhenti pada sebuah kalung emas dengan mutiara-mutara yang tersusun banyak dan berujung pada mutiara dengan ukuran paling besar.

Cantik sekali, ya ampun!

Aku berjalan mendekati kotak itu, tidak memperdulikan lagi keadaan sekitarku. Mataku terlalu terpaku pada keindahan kalung itu. Setelah membaca beberapa deskripsi tentang bahan yang digunakan untuk kalung yang emasnya saja seberat 5.92 karat itu—yang tentunya sangat mahal seperti White gold, emeralds, onyx, diamonds—aku melirik harganya.

282 us dollars.

Harga yang fantastis sekali, bukan?

Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali. Kapan-kapan saja jika aku fikir aku benar-benar menginginkannya. Uang segitu bukan hal yang terlalu sulit untukku, namun seboros-boros apa aku dalam berbelanja, aku juga punya otak untuk berfikir.

Bukan hanya nafsu untuk belanja.

“ Kau mau itu? ” Tanya Myungsoo yang mendadak berada dibelakangku.

“ Tidak, hanya tertarik. ”

“ Lalu kenapa tidak membelinya? ”

Aku menghela nafas dan menatap Myungsoo lelah seolah ia adalah manusia paling payah sedunia, “ Aku tidak seboros itu walaupun aku sangat mampu membelinya. ”

Myungsoo tampak terperangah dengan jawabanku. Namun aku merasa tidak ada yang salah. Wajar saja kan kalau kita menghemat uang yang kita punya sekalipun uang tersebut selalu mengalir pada kita? Tidak selamanya kita berada diatas. Akan ada saatnya kita dibawah, dan saat itulah uang akan menjadi sangat berharga untuk kita.

“ Aku kira kau seperti wanita sosialita lainnya yang mau saja menghabiskan uang untuk apapun. ” Gumam Myungsoo, tampak masih dalam keterkejutannya.

Aku terkekeh, “ Aku memang seperti itu, ” Jawabku jujur, “ Namun bedanya, aku punya cukup otak untuk berfikir itu terlalu membuang uang. Tidak selamanya uang akan datang pada kita, kan? ”

Ia berkali-kali mengangguk setuju dan mengangkat jempolnya untukku. Membuatku tersenyum kecil. Kelakuaan yang sangat kekanakan.

Kalung sialan. Kenapa dia harus semahal ini?

Kami berdua melanjutkan langkah kami ke meja pegawai yang sudah menunggu kami untuk melakukan pengukuran. Pegawai tersebut mengatakan, seminggu lagi cincin itu sudah dapat kami ambil. Lalu kemudian mereka memberikan nota pembayaran, aku mengintip sedikit kedalam kertas tersebut.

398 us dollars untuk kedua cincin kami berdua?

Tulisan yang tertera dikertas tersebut membuatku menatap Myungsoo dengan tatapan horror, sedangkan Myungsoo dengan santainya mengeluarkan sebuah kartu berwarna platinum.

“ Bisa request sesuatu pada cincin tersebut? ”

Myungsoo’s Side

“ Demi tuhan, Myungsoo. Kita bisa menjadi pasangan kesebelas dengan harga cincin pernikahan paling mahal sedunia! ”

Entah sudah berapa kali Jiyeon mengomel tentang cincin kami tersebut padahal aku sama sekali tidak mempermasalahkannya asal itu memang bagus. Ia sudah mengomel sejak kami berada tepat didepan pintu toko hingga mobilku sudah berjalan setengah jalan menuju kantornya. Tak henti-hentinya ia menyebutkan betapa sulitnya orang untuk mendapatkan uang di zaman sekarang dan menyebutkan bahwa uang sebanyak itu terlalu boros jika dihabiskan hanya untuk sepasang cincin. Mengingatkanku pada seseorang yang dulu juga pernah melakukan hal yang mirip dengan Jiyeon.

Aku tersenyum kecil.

Hari ini terlalu banyak fakta yang sebelumnya aku tidak ketahui tentangnya terungkap. Mulai dari masa lalunya dan bagaimana ia begitu mengatur uang yang keluar sekalipun ia adalah shopaholic. Membuatku benar-benar takjub dengan sifat perfeksionisnya yang lengkap.

Melihat sikapnya yang sudah kembali seperti semula sudah menjelaskan bahwa dia tidak lagi marah denganku dan sudah melupakan permasalahan kami. Lagi-lagi, aku merasa dia unik karena disaat semua wanita ingin dibujuk dulu saat marah, Jiyeon bahkan bisa melupakannya dengan begitu cepat.

Mirip juga dengan seseorang.

“ Kalau begitu bagus, ” Timpalku walaupun terlambat, “ Kita bisa mendaftarkan diri pada world record, kan? ”

Bisa kulihat dari sudut mataku, Jiyeon memutar bolamatanya kesal. Membuatku gemas detik itu juga.

“ Kau fikir yang baru saja kita lakukan adalah menelan kaca pecah tanpa mengunyahnya? ” Ucapnya sarkastik, membuatku terbahak dengan perumpamaanya yang terdengar mengerikan.

“ Jadi bagaimana caranya agar kita masuk kedalam peringkat 11 itu? ”

Jiyeon bergumam, “ Mana aku tahu, itu kan masalah para artis dan media. ”

“ Kalau begitu, aku akan memamerkan cincin kita di instagram. Pasti berhasil, kan?”

Ide yang menurutku amat sangat cemerlang itu malah mendapatkan dengusan dari Jiyeon. Padahal aku sudah berpikir keras tentang caption yang akan kutulis agar lebih terkesan misterius. Pasti kami akan berhasil menjadi peringkat 11 dunia dengan nominasi cincin pernikahan termahal.

Walaupun sebenarnya, nominasi itu tidak keren sama sekali.

“ Dasar artis norak. ” Katanya pendek membuatku tertawa atas hinaanya.

Setelah bertemu Jiyeon, perasaanku lebih ringan apalagi dengan sikapnya yang sudah kembali seperti biasa. Dia memang mood maker yang hebat. Perasaan bersalah yang menghimpitku berhari-hari itu perlahan-lahan menghilang. Tapi walaupun begitu, aku harus tetap meminta maaf, menjelaskan kesalah-pahaman kami dan mengajukan sedikit perjanjian.

Aku menemukannya tepat di toko yang disebutkan Gyuri nuna, membuat kekagumanku pada guru besar itu bertambah berkali-kali lipat. Andai saja dia tidak segalak itu, sudah pasti aku akan memohon hingga bersujud agar bisa memiliki ilmu sepertinya.

Namun kekagumanku langsung hilang ketika melihat seorang lelaki asing yang merangkul pundak gadis yang sangat aku kenal, bergantikan rasa asing yang aneh. Cemburu? Bukan, aku sangat mengerti bagaimana rasa cemburu itu seharusnya.

Hanya saja, terselip sedikit rasa aneh. Siapa yang tidak merasa aneh saat melihat calon istri-mu akan memilih cincin pernikahan kalian bersama lelaki lain? Bukankah itu sedikit…lucu? Aku sampai tidak mengerti apa yang ada dipikiran Jiyeon saat itu.

Mungkin, aku memang sedikit cemburu sebenarnya. Jujur saja. Tapi hanya sedikit dan menurutku itu normal.

Mobilku berhenti dan parkir didalam basement kantornya. Jiyeon terlihat mengecek wajahnya lalu memasukkan ponselnya. Ia mengangkat wajahnya untuk mengucapkan sesuatu, namun kemudian ekspresinya berubah penuh tanya.

“ Ada yang ingin kau katakan, ya? ”

Aku mengangguk, menghela nafas pelan, “ Aku minta maaf soal itu. ”

Jiyeon terdiam. Aku menunggu reaksinya. Sepertinya detik pertama aku meminta maaf, dia langsung mengerti mengapa aku meminta maaf. Namun dari ekspresinya tidak ada tanda-tanda dia akan mengatakan sesuatu. dia menungguku melanjutkan kalimatku.

“ Aku tau aku akan terdengar kekanakan. Tapi sebenarnya, aku hanya ingin membalas perkataanmu. Sangat kekanakan, kan? ” Dia menatapku tidak mengerti, ternyata dia memang tidak mengingatnya. Kecewa juga, “ Kau menyinggung soal pernikahan palsu kita saat kita membicarakan tamu undangan. Rasanya aku tidak terima saat itu hingga ingin membuatmu kesal. ”

“ Tapi aku tidak bermaksud beg… ”

Aku mengangkat tangan, menghalanginya untuk berbicara, “ Aku mengerti. Makanya, maafkan aku. ”

Tatapan Jiyeon berubah menatapku mengerti. Dia mengangguk dan tersenyum tulus, “ Tentu, maafkan aku juga yang sudah menyinggungmu dan kekanakan. ”

Senyum tulusnya menghangatkan hatiku. Mengangkat sisa beban atas kesalahanku hingga lenyap semua. Meredakan keraguan yang sempat aku rasakan saat masa lalu itu kembali terputar diotakku.

Tanganku terulur dan meraih tangannya dalam genggamanku, “ Kalau begitu, mulai sekarang, berhenti menyinggung soal itu. Mulai detik ini hingga kontrak kita berakhir, aku akan berusaha untuk menjaga perasaanmu dan akan berusaha menjadi suami yang baik seperti selayaknya seorang suami pada pasangan umum. Oke? ”

Jiyeon tampak terkejut dengan permintaanku. Terlihat sedikit keraguan dimatanya, entah karena apa. Namun saat aku meremas tangannya yang berada didalam tanganku untuk meyakinkannya bahwa aku bersungguh-sungguh, ia langsung tersenyum dan mengangguk.

“ Baiklah. Mari kita jalankan peran kita sebaik mungkin. ”

*****

Duh duh aku tau part ini sangat-sangat membosankan dan mengecewakan.

Aku sampai gamau baca ulang karena bosan buat meriksa apa ada kalimat yang terlalu menjelaskan sesuatu atau bakalan merusak alur cerita kedepannya fufu. Maafkan aku si labil ini tapi aku seneng banget liat comment sampai 80, semoga chapter ini,  yang walaupun abal bakal punya comment yang lebih, amin!

Oh ya, buat yang ada dicontact line aku, maaf kalau kalian ada ngechat tapi gak aku balas. Karena HANDPHONE KU RUSAK DAN AKUN LINE AKU GAK ADA LAGI DIHP SEMENTARA AKU GAK INGAT EMAILNYA. Ya ampun, ingat ini aku jadi pengen nangis. Ada yang tau gimana cara balikinnya?

Eh ya aku berhasil gak ya buat kalian penasaran dengan masalalu mereka? Otakku udah gak bisa berhenti merencanakan macam-macam kejahatan yang akan menyiksa mereka HAHA! Tapi takutnya aku malah lupa saat ide itu dibutuhkan huft

JADI, AYO TINGGALKAN COMMENT KALIAN YA! TERIMAKASIH

95 thoughts on “Celebrity Wedding (Chapter 7: Problem Cleared)

  1. akhirnya bisa baca next nya juga , jiyeon masa lalu nya kelam dan trnyata bukan adik kandung gyuri eii kaget bgt ..
    myungsoo jgn nyakitin jiyeon yahh , ahh next nyaa dtunggu bgt thor ^^
    fighting

  2. udah lama nungguinnnya akhirnya dipost juga😀
    penasaran banget sama masalalu nya myungsoo sampe-sampe dia gamau berbuhungan serius gitu sama cewek.
    dan ternyata jiyeon itu bukan adik kandungnya gyuri :O tapi gyuri nya sayang banget ya sama jiyeon. kereeenn tidak seperti kakak tiri yg ada disinetron-sinetron/? =)) wkwkwk
    aaaa pokoknya ini ditunggu banget deh kelanjutannya😀 fighting ka!!!!😉

  3. aigoo myungyeon ky anak kecil yak,gtu aja marahan -_- ahaha ngakak deh bca part myung yg pgn ngejadiin gyuri guru :v konyol,hahaha. ayo myungyeon kalian nikah bneran aja ngapa si? uda sling trtarik kan? hayo ngaku?😀 next aku tgu bgt😀

  4. akhirnya dipost juga, penasaran ama masa lalu myungsoo, cewek yang disebut myungso mirip dg jiyi siapa, next tampaknya mulai konflik.

  5. Fakta baru ttg jiyi,,
    Lalu kalo ttg myung apa ya? dan siapa yg dimiripin ma jiyi?
    Gyuri hebat deh 😃, myung sampe nganggep gyuri guru besar.
    Aduh myung… knpa kamu gx ngontrak pernikahan seumur hidup ma jiyi sih…
    Kyk na myung bakal beliin kalung yg bikin jiyi tertarik itu deh.
    Next eon 😘🌹

  6. duh eon ngakak aku baca myungsoo sama gyuri wkwkwkwk😀 si myung hampir keceplosan bilang guru wkwkwk apalagi ada kalimat cenayang dedemit itu ngakak asli wkwkwk
    oh sekarang jiyeon udah mulai suka nih ehem wkwk ga nyangka juga masa lalu jiyeon kelam banget dan gyuri jiyeon bukan saudara kandung tapi asli itu gyuri mukanya bikin orang ketakutan wkwkwkwk xD oke deh aku tunggu lanjutannya😀

  7. jadi masa lalu jiyeon cuman soal keluarganya aja ???
    bukan karena cowok lain ???
    padahal ngarepnya bakal ada orang ketiga cowok, kalo cewek kan udah biasa authornim,
    tapi gapapa.lah, aku ngikut aja.,
    ke chap 8 dulu.,
    *keep writing and fighting*

  8. Gak nyangka Jiyeon itu bukan adik kandung Gyuri…😦 masa lalu Jiyeon sadis amat ihh ampe harus dihipnotis gituhh Jiyeon.a…😥

    Jiyeon mirip ama siapa sihh…? Kim Myungsoo ayo cepet bilang Jiyeon Mirip ama siapa kahh…?:/

    Gyuri unnie emang bener” menyayangi Jiyeon dgn tulus walau Jiyi bukan adik kandung.a… Jiyi bener” disayangi oleh keluarga.a…

    Lanjut ke next part.a…🙂

  9. uwaahhh ketinggalan..udah di post aga lama ni… Sebenarnya mereka makin so sweet..tp myung masa lalunya apaan si…kalo soal keluarganya mungkin aga kaya jiyi ya …tp soal cwe???makin penasaran….compled bgt pokoknya cerita ini..

  10. ya ampuun .. Kasiannya jiyeon eyy ,, punya trauma .. Smoga myungsoo gk bkal nyakitin hati jiyeon .. Jiyeon smpe dihipnotis sgala .. Kaianya parah bnget .. Huft .. myungyeon jjang !!

  11. Yeh myungyeon baikan 😊 kira2 myung bakalan beliin jiyi kalung itu ngak yah ?
    Eh ternyata gyuri bukan eonni kandungx jiyi 😣 tapi dia sayang banget sama jiyi 😊

  12. Ga nyangka jiyeon punya masa lalu yg begitu mengerikan
    Jadi skrg tuh jiyeon sama sekali ga inget masa lalu nya ya?

    kirain myungsoo bakal ngebatalin kontrak itu dan langsung ngajak jiyeon nikah beneran aja kkkk

    Entah knp sikap nya myungsoo yg santai dan manis itu bikin aku klepek2 deh 😳😳😳

    Lanjut lagi ahhh ~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s