Celebrity Wedding (Chapter 8: Before d-day)

celebrity wedding copy

Title : Celebrity Wedding

Main Cast :

Kim Myungsoo
Park Jiyeon

Genre : Marriage life, Romance, Humor

Type : Chaptered

Jiyeon’s Side

Sejak awal aku sudah tau ini sebuah kesalahan besar.

Tatapanku kembali pada pesan yang dikirimkan Myungsoo lima menit yang lalu, namun tanganku belum tergerak untuk membalasnya.

“ Kau tidak sibuk, kan? Kita akan ke mengadakan konferensi pers hari. Nanti aku akan menjemputmu sekitar 1 jam lagi. Can’t wait to see you again, darl. ”

Mau tidak mau, ujung-ujung bibirku terangkat mengingat hubungan kami sejak permintaan yang diajukan Myungsoo saat dimobil sebulan yang lalu. Kami sudah seperti pasangan calon pengantin yang dimabuk asmara.

Ew.

Myungsoo memang masih seperti biasa, bedanya saat ini dia tidak akan segan-segan lagi memanggilku sayang didepan orang dan benar-benar memperlakukkanku bak putri yang beruntung dapat menikah dengannya.

Saat kami memilih gedung yang mana akan kami gunakan, ia benar-benar menyerahkan semua keputusannya padaku. Memang, kami tidak punya waktu lagi untuk merubah tema dan memulainya dari awal sehingga harapanku untuk membuat garden party sama sekali gagal. Jadi aku berusaha untuk menyesuaikannya dengan tema yang telah Myungsoo pilih. Lagipula tema mewah seperti ini sepertinya memang cocok dengan kami.

Seminggu yang lalu, saat untuk terakhir kalinya kami mengecek kelengkapan gedung dan dekorasi. Myungsoo bahkan tak melepaskanku dari rangkulannya yang sangat protective sedetikpun dihadapan orang-orang—dan juga minah yang saat itu terlihat cemburu berat—seolah kami adalah pasangan berbahagia. Membuat jantungku bekerja lebih ekstra sehingga aku yakin darah yang memompa dari jantung ke seluruh tubuhku jumlahnya sudah tidak normal.

Sekuat mungkin aku berusaha untuk mengimbangi perlakuan Myungsoo, menganggapnya biasa dan menahan perasaan kesenangan berlebihan yang muncul dihatiku sekalipun aku 100% sadar bahwa itu dilakukan Myungsoo semata-mata demi kelancaran acting kami sebagai pasangan berbahagia.

Hati memang tidak tahu diri, ya?

Jadi itulah masalah yang bahkan lebih besar dari masalah kemarin yang sedang aku hadapi. Membuatku uring-uringan sekaligus bahagia. Aku hanya takut perasaanku semakin dalam jika aku terus saja diperlakukan sebaik ini, membuatku kadang lupa diri bahwa aku hanya pacar palsunya saja. Harusnya sejak awal aku menolak menjadi desaignernya. Harusnya sejak awal aku tidak menerima hubungan bodoh ini. harusnya sejak awal aku tidak menanggapi permintaan Myungsoo saat dimobil itu. Harusnya. Harusnya. Otakku dipenuhi oleh kalimat harusnya yang membuatku muak.

Penyesalan selalu datang terlambat, kan?

Setiap jatuh cinta kita harus siap merasakan 2 hal yang sama-sama menyesakkan dada; bahagia atau sakit . bahagia berlebihan hingga membuat sesak yang terasa menyenangkan karena tahu perasaanmu terbalaskan. Atau sakit yang serasa akan membunuhmu perlahan dengan rasa sesak yang sakit karena kenyataannya dia tidak memiliki perasaan yang sama denganmu.

Saat ini, dengan perlakuan baik Myungsoo itu selalu membuat sugesti diotakku. Sugesti bahwa dia juga balas menyukaiku, membuatku terbang diatas awan karena perasaan bahagia itu. Karena itulah, saat aku harusnya merasakan sakit karena sadar perlakuan Myungsoo hanya acting, aku tetap saja yakin bahwa Myungsoo juga akan membalas perasaanku. Aku sudah terlanjur terbang terlalu tinggi.

Tapi, faktanya saat kita terbang, kita tidak tahu kapan kita akan terjatuh. Dan semua orang tau, semakin tinggi jarak terbang kita dengan tanah maka semakin sakit rasanya saat jatuh.

Argh. Harusnya aku pernah jatuh cinta seperti ini, jadi aku sudah memiliki pengalaman tentang bagaimana cara mengatasi perasaan seperti ini dan bagaimana rasanya sakit saat kisah cintaku gagal.

Tanganku tergerak untuk meletakkan ponselku kembali tanpa membalasnya. Sudahlah, tidak perlu dibalas. Aku harus fokus pada pekerjaanku lagi. Sudah sebulan lebih aku mengabaikan pekerjaan karena urusan pernikahan atau otakku yang terlalu fokus pada Myungsoo hingga tidak punya celah lain untuk memikirkan pekerjaanku.

Ketukkan dari pintu membuatku sedikit berteriak untuk mengizinkannya masuk. Dari pintu, tampak Hyomin unnie sedang mengangkat sebuah gaun berwarna merah, Krystal yang membawa sebuah setelan lengkap, sedangkan Jieun tampak kewalahan membawa banyak tas belanjaan. Hingga saat dia sudah berdiri didekat sofa, tas-tas itu diletakkannya langsung diatas meja. Lalu tak lama kemudian, beberapa OB kantorku ikut membawa beberapa kotak yang sepertinya berisi sepatu.

Aku tersenyum lebar dan berlari kecil mendekati gaun yang ternyata sudah selesai lebih cepat dari perkiraanku. Gaun yang kurancang bersama Hyomin unnie. Gaun pernikahan fit-to-body itu berwarna dasar merah, dengan lace motif bunga-bunga yang mengembang pada bagian lengan. Pada bagian kaki, kami membuat potongan dari atas lutut hingga bawah namun memanjang pada bagian belakangnya. Dari pinggang hingga bawah, terdapat taburan-taburan berlian kecil yang sudah kami pesan dari Swarovski sedangkan bagian dada aku biarkan polos. Membuatnya tampak elegan tapi tidak berlebihan.

“ Bahkan hasilnya lebih bagus dari yang kubayangkan, ” Gumamku sambil menyentuh gaun tersebut untuk memastikan semuanya tepat sesuai dengan keinginanku.

Hyomin unnie ikut tersenyum bangga, mengangkat gaun itu tinggi-tinggi agar aku leluasa untuk mengeceknya, “ Tentu saja, inikan rancangan gaun pengantin pertama yang kita buat. Dengan sedikit revisi juga. ”

Jieun dan Krystal yang berdiri disebelah ku ikut mengangguk menyetujui dengan antusias. Sepertinya mereka bersyukur karena jasa mereka dibutuhkan Hyomin unnie, kalau tidak sudah pasti mereka hanya bisa melongo diluar dan menunggu Hyomin pergi dari ruanganku.

“ Ini gaun pernikahan terbagus yang pernah aku lihat!” Jerit Krystal dengan nada tertahan, “ Unnie, kalau nanti aku menikah dengan Minhyuk, bolehkan kalau aku pinjam?

Kami bertiga serentak memelototinya, membuatnya meringis ketakutan. Tentu saja aku akan menyimpan gaun itu sebagai kenang-kenangan untukku nantinya.

“ Krystal, kau tidak boleh menikah sebelum aku, oke? ”

Nada penuh ancaman itu keluar dari Jieun yang masih saja memelototi Krystal. Aku hanya terkekeh pelan sedangkan Hyomin unnie mendengus geli. Ternyata dia memiliki motif yang berbeda denganku saat memelototi Krystal.

Krystal menggeleng, tangannya yang bebas melambai-lambai keudara dengan gerakan mengusir, “ Kalau aku menunggu unnie, bisa-bisa aku jadi ikutan perawan tua. ”

“ YA! ”

“ Sudahlah, ” Lerai Hyomin unnie, sebelum keduanya semakin membuat keributan disini, “ Lebih baik sekarang kita mengecek barang-barang ini. ”

Keduanya terdiam, takut dengan gertakan kecil dari Hyomin unnie. Padahal, kalau saja aku yang melakukannya mereka pasti tetap saja bertengkar. Tapi setelah aku membentak serius, baru mereka mundur seribu langkah. Sudah pasti begitu.

Mataku bergerak pada Tuxedo hitam yang dipegang Krystal bersamaan dengan rompi dalamnya yang berwarna gold, agar serasi dengan gaun yang kugunakan. Sedangkan celana hitamnya sudah diletakkan Krystal diatas sofa ruanganku.

“ Dasi, kemeja dan rompinya sudah sampai? ” Tanyaku.

Hyomin unnie mengangguk, ia meletakkan gaunku perlahan pada gantungan yang tersedia diruanganku yang biasanya aku gunakan untuk meletakkan rancangan yang baru siap jadi.

“ Sudah. Dari Giorgio Armani dan Versace. Kau pilih saja. Selain itu, aku juga membeli sapu tangan merah untuk diletakkan di saku tuxedonya. Pasti terlihat semakin cocok dengan gaunmu. Hanya saja, aku belum mendapatkan ide untuk kemeja yang digunakan. Sebaiknya hitam atau putih? Aku bahkan membeli keduanya. ”

Kami semua saling berpandangan lalu berpikir. Membayangkan Myungsoo saja membuat otakku tidak bisa bekerja dengan benar. Dia pasti cocok memakai apa saja. Hitam ataupun putih. Apalagi kalau topless.

Sial. Otakku terkontaminasi hal kotor lagi.

“ Hitam saja, dia pasti terlihat lebih seksi! ” Pekik Jieun, membuat kami semua menoleh padanya. Namun hanya aku yang memandangnya dengan alis terangkat, tapi dia hanya terkekeh menyebalkan, “ Lebih cocok yang hitam, agar tidak terlalu banyak warna yang digunakannya. Untuk laki-laki lebih baik seperti itu. ”

Kalau difikir-fikir, Jieun ada benarnya juga. Warna putih pasti sangat berbentrokan dengan warna hitam ataupun goldnya nanti. Lagipula, pekerjaan seperti ini memang bagian Jieun, pilihannya pasti akurat.

Aku mengangguk berkali-kali, “ Aku setuju, ” Jawabku, tanganku teralih membuka tas-tas yang lain dan mengaduk-ngaduk isinya, “ Ini apa saja? ” Tanyaku pada Gyuri nuna.

“ Beberapa pasang sepatu louboitin, prada dan YSL. Tiffany&co tiara. Gelang dan anting dari Marie Antoinette dan cartier. Ada bridal glove dan tudung kepala vera wang juga. Lalu apalagi, ya? ” Jelas Hyomin.

Dahiku berkerut menatap semua barang belanjaan yang diluar permintaanku namun mau tidak mau membuatku naksir ingin membukanya satu-satu juga. Sedangkan Krystal dan Jieun tampak sudah ingin menitikkan air liur dari mulutnya saat membuka sebuah kotak sepatu merah menyala dan mengeluarkan sepasang high heels seting 7 cm bewarna emas dengan butiran berlian kecil yang mengelilinginya.

“ Ini pasti berlian asli, ” Gumam Jieun, ia menoleh menatapku dengan tatapan memohon, “ Yang ini untukku saja ya? ”

Aku menggeleng, “ Aku akan memakai yang itu. ”

“ Oh ya unnie! ” Pekikan Krystal membuat kami refleks menatapnya, tatapan berbunga-bunga seperti kejatuhan emas, “ Bagaimana kalau kita adain bachelorette party? Jiyeon unnie kan mau menikah! ”

Kini giliran semua mata menatapku penuh harap, namun terpaksa aku harus mengecewakan mereka. Aku menggelengkan kepalaku tegas, bahkan tanpa berfikir sedetikpun, “ Tidak, aku tidak suka minum. ”

Walaupun aku lama hidup di amerika namun gaya hidup mereka yang tidak lepas dari alcohol sama sekali tidak berpengaruh padaku. Aku suka party, tapi tidak akan pernah menyentuh alcohol sedikitpun. Entah kenapa, alcohol begitu buruk diotakku.

“ Yah, Jiyeon. Kan hanya party saja, kalau kau tidak mau minum ya sudah kami saja, kan. ” Bantah Jieun.

“ Jadi ini gaun pengantinnya, ya? ”

Sebuah suara lelaki menginterupsi gerakanku saat akan membuka paper bag dan mengingat-ingat apalagi yang kurang sambil berusaha mengacuhkan permintaan bodoh Krystal, membuatku kaget setengah mati saat mendengar suara yang sangat aku kenal itu mendadak muncul tanpa disadari oleh kami. Dan benar saja, lelaki itu telah berdiri memunggungi kami sambil tangannya menyentuh dress tersebut perlahan. Lalu mendadak ia berbalik dan tampak terkejut melihat banyaknya tas belanjaan yang berserakan diruanganku, “ Wow, kalian seperti akan membangun mall. ” Sambungnya.

Bisa kurasakan bunyi nafas tersendat yang berasal dari Jieun dan Krystal. Sambil membereskan sedikit barang-barang belajaan Hyomin unnie, aku mendengus, “ Sudah berapa kalikan aku bilang, kalau masuk ketuk dulu. ”

Myungsoo tampak kesal, ia berjalan mendekati kami dan menatap jas yang telah aku buat untuknya. “ Aku sudah mengetuk tapi tak ada sahutan. Aku kira tidak ada orang. ”

Alisku terangkat memperhatikan Myungsoo yang meraba-raba jasnya, lalu melirik ke sekekitarku. Krystal dan Jieun masih tampak menikmati pemandangan didepannya dengan tatapan seolah-olah Myungsoo adalah dewa yang turun dari langit sementara Hyomin unnie lebih tertarik pada hasil belanjanya.

“ Lalu karena kau kira tidak ada orang, berarti boleh masuk? ”

“ Sudahlah sayang, kenapa sensi gitu sih? ” Tanya Myungsoo dengan ekspresi seolah-olah ia adalah pacar tersabar di dunia. “ Ini punyaku, kan? Bagus juga. Boleh dicoba? ”

Aku hanya menggumam asal. Hyomin unnie tampak sudah puas dengan pemeriksaannya lalu berdiri, “ Ayo Jieun, Krystal. Banyak pekerjaan yang menunggu kalian. ”

Keduanya tampak ingin protes, “ Tapi… ”

“ Shut up, ” Potong Hyomin sambil mengangkat tangannya, tatapannya beralih padaku dan Myungsoo yang sedang memakai jasnya, “ Myungsoo dan Jiyeon membutuhkan waktu berdua untuk membahas pernikahan mereka. HANYA BERDUA.”

Myungsoo tampak sadar dari kesibukannya dan tersenyum kecil pada Hyomin unnie. Kedua manusia norak ini sudah tercekat saat melihat senyum Myungsoo ditambah lagi tatapan pria itu yang sudah beralih pada mereka. Hyomin unnie tampak muak dan segera menarik paksa tangan mereka meninggalkan kami berdua diruanganku.

Kakiku bergerak mendekati tas-tas belanja, menebak dimana barang-barang yang memang harus ia pakai. Setelah menemukannya lengkap dengan kemeja, dasi, dan rompi aku langsung menyerahkannya, “ Coba ini. ”

Tanpa ragu, Myungsoo membuka kemeja yang ia gunakan dihadapanku. Dengan gerakan slow motion, tangan-tangannya menyentuh kancing-kancin itu, menanggalkannya satu persatu hingga melepaskannya.

Ini memang bukan pertama kalinya aku melihat seorang lelaki bertelanjang dada. Namun entah kenapa, melihat Myungsoo yang melakukannya membuat jantungku berdetak keras sambil dalam hati mengucapkan kalimat penuh syukur karena dapat melihat pemandangan indah langsung dihadapanku.

Lengan-lengannya dipenuhi otot yang tidak berlebihan, biasa saja namun tetap seksi. Dadanya yang bidang, perut ratanya yang berkotak-kotak tampak mengundang jariku untuk menyentuhnya dan tentu saja pinggang ramping khas pria yang terlihat sangat indah dimataku.

I’m bleeding now.

Saat ia sudah memasangkan lengan baju itu untuk menutupi otot lengannya, tatapannya jatuh pada mataku. tangannya berhenti saat akan bergerak untuk mengancingkan kancing pertama.

“ Senang dengan apa yang kau lihat? ” Tanyanya dengan senyum miring menyebalkan itu.

Aku gelagapan.

Sebisa mungkin aku mengatur ekspresi datar dan balas menatap wajahnya. Berusaha keras untuk tidak terlihat terusik karena tuduhannya yang 100% benar.

“ Maaf membuatmu kecewa, tapi aku sudah biasa melihat laki-laki shirtless yang bahkan memiliki tubuh lebih bagus darimu. Kau tidak ada apa-apanya. ”

Tampak beberapa permainan emosi diwajah Myungsoo membuatku kembali menahan diri untuk tidak tertawa penuh kemenangan. Wajahnya seperti kesal, tersinggung, bingung dan…..cemburu?

“ Menurutmu, aku harus nge-gym lagi agar lebih berotot? ” Tanyanya tampak hati-hati.

Pertanyaan yang diluar perkiraanku itu membuatku ternganga. Dia memikirkan penilaianku terhadapnya? Oh, mungkin sebagai public figure dia memang harus memikirkan komentar orang lain demi penampilannya juga. Kalau tidak, pasti banyak yang tidak menyukainya, kan?

Tapi tidak, Myungsoo. Tidak. Tubuhmu bahkan seribu kali lipat lebih indah daripada tubuh model lelaki manapun.

Aku cepat-cepat menyadarkan diri dari rasa kagum memalukan ini, mengangkat bahu menanggapi pertanyaan, “ Terserah padamu saja. ”

Ekspresi Myungsoo yang tampak sedang berfikir keras itu membuatku kembali mendengus menahan tawa. Saat ia sudah mengancing kemejanya hingga menutup otot-otot indah itu, aku memberikan dasi lalu membantunya untuk memasangkannya pada lehernya.

Jari-jari Myungsoo yang awalnya bergerak merapikan dasi berhenti. Tanpa melihatpun aku tau tatapannya sedang jatuh padaku. Ia menatapku intens, dengan jarak sedekat ini jantungku kembali berdetak tidak karuan. Hembusan nafasnya menerpa wajahku, membuatku tergelitik dan membutuhkan energi lebih untuk melawan keinginan balas menatapnya balik.

Setelah selesai, aku mundur dan menatap dasi itu dengan pandangan puas lalu kembali menyodorkan vest untuk ia pakai sendiri.

Mungkin, aku memang terlalu ‘baper’ tapi aku merasa….

“ Kita seperti sudah menikah saja, ” Ucap Myungsoo dengan terkekeh.

Kalimat yang hampir serupa nyaris saja terlontar dalam otakku. Kami rupanya sehati juga. Ternyata bukan hanya aku saja yang baper, tapi Myungsoo juga. Atau itu bukan salah satu dari ciri-ciri orang baper, ya?

“ Jangan banyak omong. ” Balasku sambil menatapnya dengan alis terangkat.

Ia masih saja terkekeh saat memasang jas sambil berjalan menuju kaca besar yanga ada diruanganku. Aku melangkah mengikutinya, memperhatikannya dari kaca. Pilihanku memang tepat. Myungsoo yang sudah tampan, terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dengan setelan itu.

“ Pilihanmu bagus, aku suka yang ini. ”

Tanpa dapat kucegah lagi, senyumku merekah mendengar pujiannya. Sudah banyak yang memujiku namun kali ini Myungsoo yang melakukannya, dan membuat perasaan bahagia yang berbeda.

“ Tentu saja. Kau yang jelek saja terlihat sedikit tampan. ”

Myungsoo berbalik, mendelik padaku yang tersenyum mengejek, “ Kau pernah mengatakan bahwa aku tampan. ”

“ Mungkin saat itu aku berbohong untuk menyenangkan hatimu. ”

“ Atau kali ini kau berbohong untuk menutupi fakta yang sudah kau sadari sejak dulu? ”

Aku ternganga mendengar jawabannya. Ia tertawa terbahak-bahak sambil kembali memakai bajunya, mengira aku pasti kesal dengan jawabannya yang terlalu percaya diri. Tapi sebenarnya tidak.

Rasanya aku baru saja ketahuan sedang mengakui ketampanannya diam-diam.

“ Kau tidak mengetes gaunmu? ” Tanyanya.

“ Tidak perlu. Aku sudah yakin dengan ukuranku sendiri saat membuatnya. ”

Myungsoo mendesah kecewa, ntah karena apa, “ Yah sayang sekali. padahal gaun itu terlihat bagus dan aku ingin melihatmu memakai itu sekarang. ”

Dahiku mengernyit mendengarnya, agak mengerti dengan apa maksdunya, “ Kau ingin melihatku menukar bajuku dengan itu sekarang? ”

Ia menjentikkan jarinya, “ Benar sekali. ”

“ Dalam mimpimu, tuan mesum. ” Kataku sinis, myungsoo terkekeh. Tidak malu sama sekali saat keinginan bejatnya tercium olehku, “ Biar saja menjadi kejutan saat pernikahan kita nanti. Lebih spesial gitu. ”

“ Rasanya aneh juga. Di drama-drama korea yang pernah aku tonton, biasanya sang calon wanita mengetes dress pernikahan mereka dan calon pria akan terpana melihatnya. Aku kan juga ingin seperti itu. ” Ucapnya dengan nada seperti merajuk.

Refleks, aku menatapnya dengan tatapan horror dan sedetik kemudian aku tertawa terbahak-bahak hingga kakiku tidak sanggup lagi untuk berdiri tegak. Apa katanya? Drama korea?

Kim Myungsoo menonton drama korea?

Bahkan dalam alam bawah sadarku atau dalam khayalan paling gila yang pernah aku lakukan, tidak pernah terlintas sedikitpun bayangan bahwa Myungsoo ternyata penyuka drama korea. Aku saja yang wanita begini, suka menonton drama korea adalah hobi aib yang aku rahasiakan. Sedangkan ia malah mengatakannya tanpa beban.

Belakangan sejak dekat dengan Myungsoo, aku memang sering tertawa berbahak-bahak. Bukan berarti sebelumnya tidak pernah. Sering, tapi frekuensinya tidak sesering saat bersama Myungsoo.

Myungsoo memang selalu bisa membuatku tertawa keras. Aku jadi semakin yakin bahwa Myungsoo adalah orang yang bisa membuatku menangis hebat nantinya.

“ Memangnya kenapa? ”

Sekilas, aku melihatnya tampak salah tingkah karena ketahuan suka menonton drama korea. Mungkin dia memang tidak sengaja menyebutnya, “ Aku benar-benar tidak menyangka kau suka menonton drama korea. Genre apa? Romance?” Tanyaku mengejek.

“ Hanya beberapa kali saja kok, ” Jawabnya sewot, Myungsoo memang terlihat senewen karena hobinya ketahuan. Mungkin aku memang terlalu berlebihan menertawakannya sampai ia salah tingkah begitu. “ Tapi aku benar kan? ”

Mau tidak mau aku mengangguk geli. Myungsoo masih tampak salah tingkah hingga mengacuhkanku yang sedang membereskan baju-baju Myungsoo agar masuk kembali kedalam paper bagnya. Setelah selesai, aku berdiri dan mengajak Myungsoo untuk pergi ketempat dimana kami akan melakukan konferensi pers. Beberapa hari lalu kami sudah memikirkan jawaban atau cerita-cerita yang perlu kami karang untuk menjawab pertanyaan wartawan.

Myungsoo menggantikanku untuk membawa paper bag, membuatku tersenyum diam-diam karena sikap manisnya. Kami berjalan menuju pintu, saat aku meraih ganggang untuk membukanya, Myungsoo malah menahannya kembali. Aku mengangkat wajahku untuk menatapnya dengan tatapan heran.

“ Ohya satu lagi, ” Katanya, kali ini nadanya terdengar serius. Aku jadi was-was juga, “ Jangan lagi melihat tubuh laki-laki lain, oke? ”

Myungsoo’s Side

Ini kedua kalinya aku melihat Jiyeon segelisah ini.

Yang pertamanya, tentu saja, saat kami memutuskan untuk datang kerumah keluarga besar Jiyeon dan Jiyeon berbohong pada keluarganya untuk pertamakali dalam seumur hidupnya.

“ Ya, mom. Aku mengerti. Hari ini undangannya akan disebarkan. ” Jawabnya pada seseorang yang sedang berbicara dalam telfon. Ji-hye nuna tampak merapikan rambut dan wajah gadis itu, sedangkan aku sendiri sudah siap sejak tadi, “ Semuanya sudah selesai, tidak ada yang perlu mom khawatirkan. Mom istirahat saja, oke? Aku akan ke rumah Gyuri unnie besok kalau begitu…. Iya mom, aku tidak akan sibuk. Jangan lupa makan dan istirahat, mom sudah mulai tua jangan terlalu sering melala. ”

Aku menggelengkan kepalaku heran, tidak menyangka dia bisa berkata sedemikian tidak sopan dengan mom-nya. Aku jadi sangat yakin hubungan mereka sangat erat hingga tidak ada lagi rasa canggung untuk berbicara apapun.

Iri juga mengingat hubunganku dengan mom tidak begitu sehat.

“ Demi tuhan, Jiyeon. Bisa tidak kau lebih tenang? Kalau begini, make up mu bisa berantakan. ”

Nada suara Jihye nuna sudah naik beberapa oktaf, namun gadis itu tidak tampak takut ataupun terganggu. Dia masih saja terlihat gusar ditempatnya duduk. Sesekali menggigit jarinya, menghela nafas atau mengurut keningnya. Aku mengerti mengapa ia begitu dan sama sekali tidak menyalahkannya. Ini pertama kali untuknya, mendapatkan sorotan public karena sebuah kontroversi yang akan menjadi berita paling hot tahun ini.

Ini memang bukan untuk pertama kali baginya menjadi sorotan public karena kontroversi yang aku buat, mengingat ia pernah menemaniku pada acara malam penghargaan itu. Tapi tentu saja kali ini berbeda. Pada malam itu, ia tidak perlu menjawab apapun dan tidak perlu berakting banyak. Kami hanya melakukan hal-hal kecil lalu membiarkan para wartawan berspekulasi tentang sejauh apa hubungan kami. Sedangkan hari ini, kami harus menjawab apapun pertanyaan wartawan.

Yah, sebenarnya pihakku sudah mewanti-wanti agar pertanyaannya tidak melenceng dengan apa yang kami umumkan dan aku sangat yakin mereka tidak mau dikeluarkan secara paksa dari ruangan karena melanggar janji yang sudah disepakati.

Namun aku tidak memberi tahukan hal ini pada Jiyeon dan membiarkannya yang biasanya lebih sering kalem jadi terlihat panik luar biasa.

Aku memang kejam, ya.

Mungkin sekali-sekali tidak apa-apa. Aku hanya senang melihat ekspresi paniknya yang terlihat manusiawi.

“ Maafkan aku unnie, ” Timpal Jiyeon, agak terlambat karena dia sedang melamun, “ Aku hanya gugup. ”

Jihye nuna menutup peralatan makeupnya setelah memperhatikan wajah Jiyeon dengan seksama lalu tersenyum puas. Ia beralih menatapku dengan tajam, “ Mungkin aku perlu meninggalkan kalian berdua, ” putusnya, aku mengangguk menyetuju ide itu, “ Myungsoo. Cium saja dia kalau dia masih gugup begitu. ”

Aku terbahak, sedangkan Jiyeon hanya melirikku lalu mendengus. Jihye nuna tampak tidak terganggu dengan dengusan Jiyeon dan malah berlalu keluar dari ruangan meninggalkan kami berdua.

Jihye nuna memang tidak ada duanya.

“ Aku rasa ide nuna ada benarnya. ”

Jiyeon melirikku sinis, “ Jangan macam-macam. ”

Sambil terkekeh, aku berjalan mendekati kursi riasnya dan berjongkok dihadapannya. Sekilas aku melihat kilatan kaget dimatanya, namun kemudian tatapan itu terlihat bingung. Kebingungan itu terpancar makin jelas saat aku meraih tangannya dan menggenggamnya dalam tanganku.

Aku tersenyum, berusaha menenangkannya, “ Aku tahu ini berat untukmu. Tapi kita tidak mungkin mundur, kan? Tenang saja, ada aku yang melindungimu jika pertanyaan mereka terlalu membuatmu bingung. ” Kataku dengan kalimat manis yang biasanya ampuh bagi wanita. Dan benar saja, tangan Jiyeon perlahan rileks dalam genggamanku, “ Ayo tarik nafas. ”

Wanita itu menurut. Ia menutup matanya, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Setelah melakukannya beberapa kali, ia kembali membuka matanya. Senyum sudah kembali tersungging diwajah itu.

“ Merasa lebih baik? ”

Jiyeon mengangguk, “ Thanks. ”

Tiba-tiba bunyi pintu yang terbuka mendadak mengejutkan kami. Tatapan kami langsung teralihkan ke asal suara dan mendapati wajah datar managerku yang sama sekali tidak merasa bersalah karena telah merusak momen kami.

Orang itu benar-benar.

“ Wartawan sudah berkumpul, ayo keluar. ”

Aku hanya mengangguk sekilas lalu kembali menatap Jiyeon, “ Sudah siap? ”

Ia mengangguk ragu, “ Well, mau tidak mau, kan. ”

“ Kau pasti bisa. ”

Setelah itu, aku menarik tangannya keluar dan berjalan melalui lorong yang dipenuhi oleh beberapa asistenku yang lalu lalang. Tepat didepan pintu ruangan yang terdengar ribut-ribut ala wartawan, aku menoleh sekali lagi kearah Jiyeon. Ia hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Saat pintu aku buka, saat itulah aku merasa tangan Jiyeon balas menggenggamku.

Blitz-blitz kamera langsung menyergap penglihatanku. Dengan langkah besar-besar dan agak menarik Jiyeon untuk mengikutiku, aku langsung menuju kedepan meja yang telah disediakan untuk kami. Kami berdua berdiri berdampingan, menunduk sebentar lalu kembali berdiri tegak sambil melempar senyum untuk di foto.

Aku melirik sedikit kearah Jiyeon dan langsung terpana saat itu juga. Tidak ada lagi Jiyeon yang gugup. Tidak adalagi Jiyeon yang beberapa menit lalu. Wanita itu tampak memukau dengan senyum percaya dirinya. Ia terlihat berbeda hanya dalam waktu beberapa detik.

Kemudian, Jiyeon balas menatapku dan tersenyum. Melihat kepercayaan dirinya, aku meremas genggaman tangan yang belum aku lepas sejak tadi lalu kami kembali menatap lurus kedepan. Setelah aku rasa cukup, kami duduk dikursi berwarna putih yang berdampingan tersebut.

Aku meraih microphone yang ada dihadapanku dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku masih saja menggenggam tangannya.

“ Selamat sore semuanya, ” Sapaku, dibalas dengan dengungan-dengungan dengan kalimat serupa dari mereka.

Aku tersenyum, “ Hari ini aku akan mengumumkan sesuatu yang penting dan mungkin beberapa dari kalian pernah mendengar isu ini. aku akan memberikan konfirmasinya sekarang, ” Ucapku tenang, kepalaku menoleh dan tersenyum kepada Jiyeon yang juga sedang menoleh kearahku, “ Kami akan menikah dalam waktu dekat ini. ”

Dengungan-dengungan terkejut itu masih saja terdengar. Padahal aku kira dengan gerak-gerak kami saat ini, mereka sudah bisa menebaknya. Lagipula, bukannya mereka yang membuat isu itu sendiri dan saat aku bantu membenarkannya, mereka tetap saja terkejut.

Mungkin mendengarkan konfirmasi atas spekulasi yang mereka bangun, membuat mereka terkejut juga.

“ Apa tidak terlalu cepat, Myungsoo? ” Tanya seorang wartawan laki-laki yang memegang buku notesnya, alisnya terangkat saat menatapku.

“ Terlalu cepat? Aku rasa tidak juga. Mengingat sudah berapa umurku saat ini, aku memang sudah seharusnya menikah. Benarkan? ”

Terdengar suara cekikikan khas wanita dari arah wartawan tersebut. “ Tidak juga, kau belum terlalu kok.” Tanpa menutupi nada genitnya, ia membalas perkataanku, “ Ohya, sudah berapa lama kalian saling mengenal? Dari tatapan kalian, sepertinya kalian sudah mengenal cukup lama. Aku jadi iri dengan Jiyeon-ssi yang sangat beruntung. ”

Hampir seluruh isi ruangan itu tertawa, aku hanya tersenyum kecil dan melirik Jiyeon yang menaikkan alisnya tanda ia tak suka dengan ucapan wanita itu. Aku berdeham, “ Lumayan lama. Aku saat itu mendatangi kantornya untuk melakukan kerja sama. Dan saat melihatnya langsung, saat itu pula aku tertarik padanya. Selama berbulan-bulan aku berusaha mendekatinya tapi selalu ditolak. Bukannya aku sombong, tapi saat bersamanya aku mengerti bagaimana rasanya penolakan dan itu membuatku semakin ingin mengejarnya. Dan hasilnya, aku mendapatkannya walaupun sulit. ” Kataku sambil tetap tersenyum. Mengucapkan semua kalimat sesuai dengan naskahku, dan akan menambah kalimat yang kurasa perlu seperti… “ Dan menurutku, akulah yang beruntung bisa mendapatkan Jiyeon. ”

Wanita disampingku terkekeh pelan, mulai sadar aku menambah-nambah bagianku agar terlihat lebih nyata. Jiyeon menatapku dengan tatapan berbinar yang sangat aku akui jempol. Dia benar-benar terlihat sangat mencintaiku dan menatapku dengan tatapan memuja seolah-olah akulah pusat dunianya saat ini.

Acting Jiyeon oke juga, aku tidak boleh kalah.

“ Wow, ” Salah satu wartawan itu menggumam kagum, “ Bagaimana bisa seorang Kim Myungsoo berubah? Kita semua tau kau sering terdengar gonta-ganti pacar hanya dalam waktu yang singkat. Apa kau tidak takut hubungan kalian akan cepat berakhir? ” ucap wartawan dengan nada bercanda yang palsu.

Aku sangat mengerti makna dibalik pertanyaannya.

Dahiku mengernyit, membuat ekspresi heran yang kentara, “ Bukankah, ini adalah hubungan terlama yang pernah aku jalani? ” balasku dengan balik bertanya.

“ Benar juga. Jadi apa ada alasan kenapa anda mendadak berubah dan justru memilih Jiyeon-ssi? ” Tanya wartawan dengan tampang yang dimirip-miripkan dengan boyband berwajah cute yang sedang trend-trendnya saat ini. wartwan itu melirik Jiyeon yang masih tenang disebelahku dengan tatapan memuja yang terang-terangan, membuatku mendelik dan mengeratkan genggamanku secara refleks, “ Yah, disamping wajahnya yang memang luar biasa cantik dan karier-nya yang gemilang. ” Lanjutnya.

Dasar laki-laki sok imut! Dia kira Jiyeon suka dengan pria menjijikkan sejenis dia? Kenapa dia tidak homo saja sih. Pria dengan tipe seperti dia kan biasanya homo dengan pria yang terlalu kekar—tidak juga sih, mungkin aku memang mulai mengada-ngada—dan malah menyukai Jiyeon. Aku saja yang notabene-nya adalah master gombal di seluruh korea, tidak berhasil merayu Jiyeon.

Apalagi dia yang begitu iyuh.

Sekuat tenaga aku mengacuhkan tatapan memujanya agar tidak mengeluarkan nada sinis, “ Tidak ada alasan khusus. Hanya saja dengan Jiyeon, aku merasa sudah menemukan apa yang aku cari. Dia dapat membuatku nyaman, perasaan yang pertama kalinya aku temukan dalam hidupku. ” ucapku dengan nada setulus mungkin. Pada akhirnya aku mengucapkan kalimat penuh bullshit yang paling sulit untuk dihadal itu dengan mudah, tidak sesulit saat latihan. Dan kembali pada drama, aku menoleh pada Jiyeon dan tersenyum seolah-olah sedang tergila-gila pada seorang wanita, “ Jiyeon…membuat hidupku sempurna dan utuh. ”

Hening sejenak.

Kemudian terdengar berbagai respon yang tidak bisa kutangkap sepenuhnya. Mungkin ada bunyi seperti ‘oh, manisnya’, ‘ini sangat nyata’ dan ‘beruntung sekali dia’. Tapi dengan segala respon yang saling tumpang tindih itu, tidak ada lagi yang benar-benar membuka suara untuk membantah kalimatku.

Managerku yang berada di sekitar para wartawan untuk mengawasi pertanyaan-pertanyaan dan mengantisipasi hal-hal yang diluar dugaan mulai berteriak untuk menenangkan para wartawan yang shock tersebut dan mengatakan waktu mereka tinggal 5 menit lagi.

Kali ini ada seorang wartawan wanita dengan wajah yang lebih tenang dan tidak terbawa suasana sejak tadi. Ia tersenyum dan mengangkat tangan. Tapi kali ini tatapannya tidak tertuju padaku, melainkan pada Jiyeon.

“ Aku ingin bertanya padamu Jiyeon-ssi, ” Ucapnya dengan nada lembut yang tenang, “ Apa perasaanmu pada Kim Myungsoo? ”

Ya tuhan, tidak. Kami bahkan tidak menyangka ada pertanyaan semacam itu yang akan keluar, karena aku kira pertanyaan tentang perasaan tentu saja tidak perlu. Apalagi dengan segala sepak terjangku menjawab pertanyaan mereka. Sama sekali tidak menyangka, pertanyaan itulah yang ditujukan untuk Jiyeon.

Akan lebih mudah kalau pertanyaan itu ditujukan untukku. Karena walaupun kalimat cinta sangat sulit aku keluarkan, namun aku bukan tipe orang yang terlalu sulit untuk berbohong pada wartawan. Aku sudah hidup dengan semua itu dalam dunia entertainment.

Aku melirik Jiyeon, menunggunya untuk mengatakan jawaban yang sama sekali tidak tertebak saat ini olehku. Sejenak terlihat permainan emosi di wajah Jiyeon yang sama sekali tidak kumengerti. Aku sendiri tidak berani menebak emosi seperti apa yang sedang ia rasakan.

Sudah jeda beberapa detik namun Jiyeon tetap saja bungkam, membuat para wartawan itu mengerutkan dahinya bingung. Aku meremas tangannya, memberikan kekuatan yang semoga dapat ia rasakan. Hingga taklama dia tersenyum tenang.

“ Tentu saja, ” suara itu mengalir dengan tenang, seperti tanpa ada keraguan. Ia menoleh menatapku sejenak lalu kembali fokus menatap kedepan, “ Aku mencintainya.”

Dan saat ini, aku benar-benar terpukau dengan aktingnya yang membuat seluruh tubuhku menegang.

*****

Yah tau deh ini chapter emang sama sekali nggak memuaskan. Datar-datar aja gitu gak ada masalahnya. Kependekan juga, kan.

Tapi apa boleh buat. Aku berusaha cepet update karena ngejar waktu eh malah gini. Aku aja belum baca ulang loh. Harusnya tuh chapter ini digabung sama nikahnnya eh tapi ntar takutnya kepanjangan, jadinya 19 halaman ini dulu ya fufufu

Buat yang penasaran ff ini kapan tamatnya, sebenarnya masih lama banget. Maaf ya kalau buat kalian malah bosan, tapi aku harap tetep bisa dapet comment dari kalian dan saran gimana ff ini biar gak ngebosanin. Thanks!

73 thoughts on “Celebrity Wedding (Chapter 8: Before d-day)

  1. yeayy myungyeon jjang ..
    jiyeon gk mau ngadain party nyaa , yahh kecewa hehe
    jiyeon brubah gk jd ggup daebakk , akting ato gk tu ya hee
    next deh chinguu , dtunggu bgt fighting😉

  2. Itu bukan acting myungsoo..
    tpi isi hati jiyeon..smuanya tulus..
    sadari itu myung..
    aishhh..selalu saja couple ini bikin gemes..kapan cba mereka brdua sadar dngn perasaan masing2..ckxkkx
    tpiiii…ttp bgus sih..heheh

  3. jadi…. sampai titik ini pun itu masih belum 100% perasaan tulus myungsoo? itu hanya akting T.T
    bagus! aku mulai sangat mengkhawatirkan kemungkinan terburuk untuk perasaan jiyeon.
    myungsoo perlu kau tahu tentu saja sejak tadi jiyeon tidak berakting T.T hahhh jeongmal!
    kebanyakan gaun pemberkataan utk pernikahan pake warna putih. di sini jiyeon pake warna merah yaa? wah. wah. wah. terlihat begitu mewah pernikahan mereka nnt. dan sumpah! gaunnya kebayang cantiknya! aku suka pendeskripsianmu😀

  4. ampun myung ni beneran masih akting??? huah ga nyangka…sebel bgt..tp dari cara myungsoo nanggepin wartawn tadi tuh kelihatan kalo dia udah mulai suka..tapi sayangnya dia ga mau egois buat mau jatuh cinta…hiks..padahal jiyi udah bener2 suka…hiks..

  5. huft .. Kta ktanya jiyeon yang terakhir mdhan bkan akting .. dan jg myungsoo gk artiin klo itu akting ,, aku doakan yang terbaik aj ,, mereka blom menyadari perasaan mereka sendiri klo mereka udh sling jatuh cinta ,, myungyeon jjang !!

  6. Erm memang kependekan buat aku hehe. But as always setiap chapternya bikin senyum2 àtau gregetan. Sebenernya sangat penasaran dgn perasaan myungsoo…
    Ditunggu kelanjutannya, author-nim

  7. Jiyeon kyaknya bkn akting deh, tpi emng bneran cinta sma myungsoo. Wah nggak sbar sma kljuntannya, next chapter y thor.

  8. jangan2 jiyi bilang kaya gituh tulus dari hati 😊 semoga ajah sih gituh 😊
    huh ngak sabar nunggu pernikahan mereka 😆

  9. Cieeeeeee kyk nya jawaban jiyeon tulus dari hati bgt tuh
    Sikap myungsoo ke jiyeon juga ga keliatan kyk mereka pasangan boongan
    Malah udh kyk pasangan beneran yg sedang menanti pernikahan nya

    Mereka berdua sweettttttt bgt ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s