You Should Be Mine (The end of our story)

Title : You Should Be Mine

Main Cast :

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo

Genre : Adult Romance

Type : Chaptered

Jiyeon’s Side

Kakiku melangkah cepat menyusuri lobby kantor Myungsoo saat ini sambil beberapa kali menganggukkan kepalaku singkat saat ada yang menyapaku.

Perasaanku sedang tidak menentu saat ini. Antara bingung, marah, gelisah, takut dan…bahagia? Entahlah. Perasaan yang saling bertolak belakang memenuhi hatiku. Seumur hidupku, aku tidak pernah merasakan rasa takut seperti ini. aku selalu percaya diri dengan apapun yang aku miliki.

Dan perasaan bahagiaku kali ini….aneh.

Semua perasaanku kali ini berbeda. Jantungku terus bertalu-talu sejak aku mengemudikan mobilku menuju gedung 25 lantai milik Myungsoo ini. aku tidak tahu ini keputusan yang tepat, atau justru keputusan yang salah. Suzy bahkan meragukanku yang mengambil keputusan ini. aku masih dapat mengingat dengan jelas, bagaimana ekspresi muka Suzy saat mendengar berita yang sama yang akan aku sampaikan pada Myungsoo saat ini.

Terkejut dan jijik, mungkin?

Tapi bukan respon Suzy yang harus aku pertimbangkan, melainkan keputusan Myungsoo nanti. Dan itu yang membuatku akhirnya memberanikan diri menemuinya. Karena aku tahu, percuma saja masalah ini aku sembunyikan. Lambat laun dia akan mengetahuinya. Dan bagaimanapun, dia harus tahu tentang ini.

Tanpa meminta izin dari asistennya, aku langsung menerobos masuk ke dalam ruangan. Disana aku melihat Myungsoo yang sedang tersenyum menatapku dan menyuruhku menunggu di sofa. Ia berkata oke pada seseorang yang sedang menelfonnya.

Ia berdiri dan berjalan meninggalkan kursi tahtanya sambil menatapku dengan hangat, sementara aku duduk dengan perasaan kalut, “ Hai sayang, bagaimana keadaanmu? Aku baru saja akan menjengukmu lagi. ”

Aku hanya tersenyum tipis. Ya, belakangan ini Myungsoo selalu mengunjungiku yang sedang tidak enak badan dirumah hingga menyuruh Suzy yang ada di Belanda cepat-cepat pulang untuk menjagaku karena tidak ada siapapun dirumah semenjak appa memutuskan untuk fokus mengurus cabang di New York.

“ Sudah lumayan, ” jawabku dengan nada ragu.

Myungsoo menatapku heran, pandangannya meneliti tubuhku dan ekspresi wajahku. Aku tahu ia bisa merasakan perasaan gelisah yang sejak tadi melandaku. Sulit rasanya menenangkan perasaanku saat ini.

“ Ada apa, darl? ”

Tubuhnya bergerak semakin dekat padaku lalu merengkuhku erat dalam pelukan hangatnya. Membuatku tanpa sadar membalasnya lebih erat, seakan menahannya agar tidak pergi dariku. Diam-diam, aku menarik nafasku dalam-dalam. Menyimpan aroma tubuhnya yang aku sukai. Menyimpan rasa hangat karena sentuhannya saat ia mengelus punggung telanjangku.

“ Aku…. ” diam sejenak, aku tahu ia menunggu kalimat selanjutnya namun aku perlu untuk memantapkan hatiku lagi. Berusaha menerima apapun yang akan terjadi nantinya, “ Hamil. ”

Saat itu tubuhnya langsung menegang, aku dapat merasakannya dengan jelas. Usapannya pada punggungku pun melambat lalu kemudian berhenti. Aku menggigit bibirku, takut. Sepertinya aku salah menyampaikan berita ini.

Myungsoo melepaskan pelukannya. Membuat hatiku mendadak serasa diremas dan tubuhku langsung merasa kehilangan. Tatapan Myungsoo yang sulit diartikan membuatku semakin kalut, hingga rasa hening yang melanda kami saat ini membuatku sesak nafas.

“ Say something, please. ” Gumamku pelan.

Ia seperti tersadar dari lamunan panjangnya, kemudian perlahan berdeham, “ Sudah berapa lama? ” Tanyanya pelan.

Aku menggigiti bibirku, ia tidak terlihat senang ataupun marah saat ini. membuatku beribu-ribu kali lipat merasa takut. Aku tidak tahu harus melakukan apa selain menjawab pertanyaannya yang tidak mengartikan suka ataupun benci.

“ Kata dokter, 5 minggu. ”

Myungsoo mengangguk pelan, lalu matanya menatapku kosong, “ Gugurkan. ”

Aku tersentak, serasa ditampar keras. Dari sekian banyak bayangan buruk yang terlintas diotakku kalau Myungsoo tidak menyukai anak ini, tidak terlintas sedikitpun kalau ia akan menyuruhku membunuh anak tak bersalah ini dengan teganya.

Tapi ternyata, aku salah.

Ia menyuruhku membunuh anak kami. Aku menggeleng keras. Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Aku bukan wanita suci. Aku bukan wanita baik-baik. Tapi aku juga bukan pembunuh. Aku memang tidak menyukai kehadirannya, tapi bukan berarti aku akan membunuh anak tidak bersalah ini.

Anakku.

“ No, ” Ucapku pelan, sedikit demi sedikit aku beringsut menjauhinya, “ Aku tidak akan membunuhnya apapun yang terjadi. ”

Myungsoo tampak tak suka dengan keputusanku. Ia berdiri memunggungiku lalu mengusap wajahnya kasar. Ia menghela nafas keras, lalu berbalik menatapku dengan pandangan yang sama. Sulit diartikan.

“ Lalu harus bagaimana? ” Tanyanya dengan frustasi, nadanya sudah naik beberapa oktaf. Ia tidak pernah tampak seemosional ini padaku, “ Kita sudah sepakat untuk pakai pengamankan! Kita sama-sama tahu, kita belum siap untuk itu. Jadi kenapa bisa kau seceroboh ini! ”

Aku berjengit kaget, refleks memeluk tubuhku sendiri karena terlalu kaget dengan bentakannya. Seumur hidupku, aku tidak pernah dibentak seperti oleh siapapun, bahkan appa tidak begini walaupun appa selalu berteriak padaku. Belum pernah ada yang berteriak dengan nada menuduh padaku. Dan aku tidak menyangka, Myungsoo akan menjadi orang pertama yang berteriak padaku.

Samar, aku melihat sorot penyesalan dimatanya. Namun ia justru membalikkan tubuhnya dan kembali ke kursi besarnya, mengabaikan aku yang ketakutan karenanya. Mungkin aku memang salah lihat.

Helaan nafas keluar dari mulutku dengan susah payah, dadaku sesak. “ Kenapa kau tidak mau bertanggung jawab, hah?! Ini juga salahmu, aku sudah mengingatkanmu saat itu! ” Balasku ikut berteriak dengan sisa energy yang aku miliki.

“ Tapi tidak mungkin kan kau hamil hanya karena kita kelepasan sekali? ”

Aku mendengus, tertawa sinis karena kebodohannya, “ Kenapa tidak mungkin? ”

“ Terserahmu saja. Yang jelas, aku tidak akan mempertanggung jawabkan anak itu karena ini semua adalah akibat dari kelalaianmu. Sekarang kau bisa pergi, aku sibuk. ”

Lalu saat itu aku merasakan darahku berhenti mengalir, membuat sekujur tubuhku lemas tak berdaya. Tamparan telak dua kali untukku. Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan antara fakta tentang Myungsoo tidak mau bertanggung jawab, atau fakta bahwa ia ingin aku membunuh anaknya.

Saat aku menyadari air mataku akan turun, aku buru-buru berdiri dan meraih tasku, “ Baiklah, aku akan pergi. ”

Aku berjalan cepat keluar dari ruangan Myungsoo. Ia bahkan tidak menghentikanku atau mengatakan apapun. Mungkin sekarang Myungsoo juga jijik padaku.

Tanpa memperdulikan tatapan heran seisi gedung ini, aku terus berjalan cepat. Menatap tajam orang-orang yang ikut menunggu lift bersamaku hingga tak ada satupun yang berani masuk saat lift itu terbuka dan aku bersyukur dengan itu. Hingga saat aku melihat pintu keluar gedung ini, aku berlari kecil dengan heels 9 cm-ku, tidak sabar untuk segera keluar dari gedung terkutuk ini.

Tepat saat aku masuk kedalam mobilku, aku menangis terisak. Dengan kesal, aku memukul-mukul perutku, menyesal kenapa harus seperti ini. menyesal kenapa saat itu aku tidak bisa menghentikan Myungsoo. Menyesal karena aku memberitahunya sekarang.

Menyesal karena didalam lubuk hatiku, aku sempat yakin Myungsoo akan menerima anak ini dan menikahiku. Dan ternyata aku salah, kenapa aku bisa mengkhayalkan harapan sehina itu?

Hingga aku merasa lelah dan perutku yang terasa sakit karena aku pukul, aku menghentikan tanganku. Tangisku masih deras. Aku tidak sanggup. Aku bingung. Aku tidak tahu siapa yang harus aku salahkan saat ini.

Apa aku memang harus mengakhiri nyawanya dan kembali hidup seperti biasa dengan Myungsoo?

Aku tidak sanggup kehilangan Myungsoo sekarang.

Tapi aku juga masih punya hati dan tidak tega untuk membunuh anakku.

Pilihan yang sulit ini membuatku makin menangis. Berkali-kali kepalaku kubanting ke stir mobilku, membuat kepalaku berdenyut nyeri. Aku butuh ini. aku butuh rasa sakit untuk membuat pikiranku lebih terbuka. Aku butuh rasa lelah dari menangis agar aku bisa memutuskan apa yang harus aku lakukan.

Jika Myungsoo tidak ingin mempertanggung jawabkan anak ini dengan menikahiku, itu artinya sejak awal ia tidak serius denganku. Ia tidak memiliki niat untuk menikah denganku lalu hidup bahagia seperti akhir yang sempurna. Ia hanya menyukaiku, seperti ia menyukai boneka-bonekanya dulu. Lalu pada akhirnya mencampakkanku setelah apa yang ia inginkan telah ia dapatkan, sama seperti wanita lain.

Aku tertawa miris. Kenapa aku begitu bodoh.

Justru aku malah terbang di awan. Merasakan perasaan cinta menjijijkkan yang memenuhi tiap jengkal hatiku untuknya. Merasa ia memiliki perasaan yang sama denganku tanpa sedikitpun rasa curiga. Aku begitu naif.

Jadi inikah akhir dari hubungan kami yang sudah hampir setahun? Hanya tinggal menghitung hari, hubungan kami sudah berjalan setahun. Tapi itu artinya, aku juga sudah dibutakan dengan hubungan bodoh selama hampir setahun.

Aku telah bodoh karena percaya kalimat cinta yang diobralnya hampir setiap hari selama nyaris setahun.

Adakah perempuan yang lebih bodoh dariku saat ini?

*****

Aku berjalan dengan langkah pelan kedalam rumah. Setelah seharian berjalan tak tentu arah, akhirnya aku memutuskan untuk pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Terlalu banyak kena angin malam pasti tidak akan baik bagi tubuhku saat ini. yang aku butuhkan saat ini adalah istirahat, bergelung dengan selimut tebalku.

“ Oh my, dari mana saja kau Park Jiyeon?! Ponselmu bahkan tidak aktif. ” Teriakan seseorang membuatku menoleh.

Suzy telah berdiri dari duduknya dan menarik tanganku dengan paksa untuk duduk diatas sofa bersamanya. Ia menatapku dari atas kebawah dan meneliti setiap inchi tubuhku untuk memastikan aku tidak apa-apa. Ia menghela nafas.

“ Darimana saja kau? ” Tanyanya lagi.

“ Club. ”

“ DEMI TUHAN, PARK JIYEON. KAU MINUM?! ”

Teriakannya membuat telingaku berdenging. Aku menatapnya kesal, “ Tidak, bodoh. ”

Walau aku sama sekali tidak memiliki ilmu apapun tentang ibu hamil, aku tahu alcohol pasti tidak baik untuk anakku. Ya, anakku. Dan karena itu, aku tidak meminum setetes pun alcohol walaupun bartender kenalanku terus saja mencekokiku dengan minuman itu.

Aku sudah memutuskan untuk merawat dan membesarkan anakku sendirian. Aku tidak butuh Myungsoo untuk mengakuinya sebagai anakku. Setelah pergelutan hebat antara hati dan otakku, aku memutuskan untuk mengikuti kata hati nuraniku.

Sejak keputusanku bulat, aku sudah bertekad untuk selalu menjaga anakku. Menyayanginya dengan sepenuh hati. Berharap ia akan bahagia walaupun ia tidak akan merasakan kasih sayang dari appanya. Tak apa, ia akan merasakan semuanya dariku. Aku akan memberikan apapun agar anakku bahagia kelak.

Tanpa sadar, telapak tanganku bergerak mengelus perutku yang masih rata, tatapanku sendu membayangkan aku akan menjadi seorang ibu.

Terdengar helaan nafas dari sebelahku, membuat kepalaku terangkat dan menatap Suzy yang memberikanku tatapan kasihan. Ia bergerak mendekat dan memelukku. Menepuk-nepuk bahuku, berusaha memberikan kekuatan.

Ini yang aku butuhkan. Seseorang yang mendukung keputusanku.

“ Lupakan saja dia kalau dia tidak mau bertanggung jawab. ”

Aku mengangguk. Air mataku menetes lagi, namun dengan cepat aku menghapusnya agar Suzy tak semakin memandangku kasihan.

Kenyataannya, berbicara memang lebih mudah daripada melakukan yang sebenarnya. Melupakan Myungsoo tak akan pernah menjadi hal yang mudah. Aku mungkin akan mengingatnya seumur hidupku. Dia mungkin akan menjadi kisah cinta terakhirku.

Ia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan sungguh-sungguh, “ Aku akan mendukung apapun keputusanmu. ”

Lagi-lagi, aku hanya bisa mengangguk dan menggumakan kata terimakasih. Semoga saja appa juga akan mendukung keputusanku. Semoga appa masih menerima kehadiranku sebagai anakknya yang telah membuat aib karena hamil tanpa suami. Semoga appa tak berniat untuk membunuh anakku.

Karena jika appa berniat begitu, tak satupun manusia dimuka bumi ini sanggup menghentikanya, termasuk aku.

“ Bungkusan apa ini? ” Tanya Suzy.

Ia membuka bungkusan besar yang aku bawa. Tadi sebelum ke club, aku menyempatkan diri untuk membeli buku tentang ibu hamil dan beberapa susu untuk ibu hamil.

“ Susu? Park Jiyeon akan minum susu? ”

Aku mengangguk mantap. Walaupun aku benci susu seumur hidupku, namun kali ini aku harus berkorban. Menurut info dari beberapa channel televisi dulu, minum susu penting untuk kesehatan ibu hamil dan kandungannya. Aku tidak mau punya anak cacat hanya karena aku tidak mau minum susu, kan.

Suzy mendengus kesal, ia menatapku dengan wajah cemberut, “ Kau membeli semua merk susu ibu hamil tapi tidak membelikan sesuatu untuk dimakan? ”

Aku terkekeh pelan, “ Aku tidak tahu merk apa yang bagus, jadi aku membeli semuanya. ” Jawabku enteng, lalu terkekeh lagi saat mengingat ibu-ibu yang menatapku aneh karena menjatuhkan semua susu ibu hamil ke dalam trolley-ku, “ Lagipula, kalau kau ingin makanan tinggal ambil di kulkas, kan. ”

“ Tapi tak ada satupun isi kulkasmu yang menarik minatku, ”

Kali ini aku yang mendengus, “ Tentu saja, kau hanya berminat pada laki-laki tampan. ”

Suzy terkikik dengan mengikuti gaya wanita jalang, “ Kau benar juga. ”

Aku menggelengkan kepalaku, heran dengan tingkah Suzy yang tak pernah ada tobatnya. Lalu tiba-tiba ponselnya berdering, Suzy menatap layarnya dengan pandangan aneh namun akhirnya mengangkat telfon itu.

Terdengar suara pria dari telfon itu. Suzy menunggunya selesai bicara lalu dengan nada panik bercampur cemas ia menutupnya, “ Okey. Besok kita bertemu. ”

Tidak biasanya Suzy seketus itu dengan seorang pria. Ia biasanya akan terdengar anggun atau malah menggoda lawan bicaranya. Memangnya siapa yang menelfon Suzy tengah malam begini kalau bukan pacarnya?

“ Mantan teman kencanku, ” Jawabnya acuh saat aku menatapnya dengan pandangan bertanya, “ Masih saja mengejarku padahal aku sudah bilang putus.”

Aku bergumam, mengerti. Aku sangat tau rasa kesal saat seorang pria yang sudah membuatku bosan setengah mati justru dengan tidak tahu malunya mengejarku. Berharap aku akan kembali padanya.

“ Ayo tidur, aku mengantuk menunggumu dari tadi. ”

*****

Aku tersentak dari tidurku saat perasaan mual yang belakangan ini selalu muncul itu kembali. Dengan membanting pintu kamar mandi, aku berlari sempoyongan dan berusaha mengeluarkan apapun yang ada diperutku namun tetap saja nihil. Aku hanya merasa mual tanpa ada yang bisa aku keluarkan.

Erangan kesal meluncur dari mulutku, tenggorokanku bahkan belum sembuh dari sakitnya karena mual kemarin. Selalu seperti ini. setiap pagi aku selalu terbangun jam 6 pagi karena mual tak tertahankan yang menyentakku dari tidur yang bahkan baru aku nikmati beberapa jam. Tangan kiriku bertumpu pada wastafel, sedangankan tangan kananku bergerak untuk memijat pelipisku yang berdenyut sakit karena kurang tidur dan gerakan tiba-tiba yang aku lakukan padahal nyawaku belum terkumpul sepenuhnya.

Sebegini tersiksa kah rasanya hamil? Kalau begitu aku tidak akan mau hamil lagi.

Ugh, bahkan satu-satunya orang yang aku bolehkan menghamiliku sudah aku cap pria brengsek. Mana mungkin aku hamil lagi. Miris sekali hidupku.

“ Minum dulu, ”

Tatapanku jatuh pada orang yang berdiri dibelakangku melalui kaca. Suzy tampak kasihan melihatku yang berkali-kali mengalami ini selama hampir seminggu. dia mungkin terbangun karena suara berisik yang aku timbulkan. Lainkali, dia memang harus tidur dikamar lain agar tidak terganggu lagi.

“ Aku bisa gila kalau begini terus selama 9 bulan, ” gumamku sambil mengambil minum yang dipegangnya, “ Memangnya aku tidak boleh minum obat anti mual atau sejenisnya? ”

Suzy berdecak, “ Ini namanya morning sickness. Kau tidak akan mengalaminya sampai 9 bulan. Kau benar-benar tidak memiliki ilmu tentang ini sedikitpun, ya? ”

Setelah menghabiskan minumku, aku menggeleng, “ Tidak ada yang pernah menceritakan hal-hal seperti ini padaku. Appaku mungkin juga tidak tahu tentang hal-hal begini. ”

Tangan Suzy terulur untuk memukul kepalaku, membuatku menyumpah pelan, “ Kau kira umma-mu tidak mengalami hal seperti ini sebelum melahirkanmu kedunia? ” Omelnya, “ Tentu saja appamu juga tahu. Kau saja yang bodoh tidak ingin mencari tahu. ”

Dia benar juga. Salahku juga sejak dulu tidak pernah mencari tahu lebih lanjut tentang ilmu seperti ini, aku hanya mempelajari ilmu-ilmu yang menurutku lebih penting dan menelan yang tidak penting itu bulat-bulat tanpa aku proses.

Ternyata ummaku juga kesulitan seperti ini saat sedang mengandungku. Sayang sekali rasanya umma tidak ada di dunia ini sejak aku lahir. Padahal, kalau ummaku masih ada saat ini mungkin aku sekarang sudah berlutut dihadapannya, memohon cara agar aku bisa menghilangkan rasa mual ini.

Mendapatkan ilmu dari yang berpengalaman memang lebih baikkan?

Baiklah. Karena menurut pengalaman ‘morning sickness’ yang beberapa hari ini aku dapatkan, aku memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan tidurku karena pasti akan sia-sia. Rasa kantukku sudah lenyap bersama dengan udara yang aku muntahkan dari mulut tadi. Jadi aku memutuskan untuk membuka buku tentang ibu hamil yang aku beli kemarin, daripada memikirkan sesuatu yang membuatku sedih sepanjang hari seperti wanita yang ditinggal mati calon suaminya.

Mulai dari apa yang harus aku konsumsi selama hamil—perbanyak makan makanan yang bergizi, buah, daging tanpa lemak dan sayur. Ditambah minum susu yang rasanya seperti muntahan sapi—apa yang harus aku jauhi seperti alcohol, obat-obatan yang mengandung zat-zat tertentu, makanan cepat saji, soft drink, kopi dan beberapa list makanan yang justru sangat aku sukai. Aku harus perbanyak minum airputih dan sesekali olahraga khusus untuk ibu hamil.

Sekarang, mari mulai dengan mencari jenis susu ibu hamil yang baik untukku.

“ Aku pergi dulu, jangan melala lagi hari ini, okey? ”

Kepalaku mengadah, menatap Suzy yang sudah tampak cantik seperti biasa. Aku hanya mengangguk jengah karena diperlakukan seperti orang sakit keras. Namun kemudian hidungku mengernyit mencium sebuah bau yang merangsang tenggorokanku untuk mengeluarkan sarapan yang aku makan tadi.

“ Damn, ” umpatku, “ Parfum sialmu, bau sekali! pergi sana! ”

Suzy menatapku aneh, sedangkan aku sedang berusaha menutup hidungku dengan benda apapun agar tidak mencium bau parfum Suzy lagi. Sial. Jangan lagi. Aku tidak ingin mengalami mual dua kali dalam sehari. Sekali sehari saja membuatku ingin bunuh diri saja.

“ Kau gila, ya? Aku sudah memakai parfum ini lebih dari setengah umurku dan kau mengomentarinya sekarang?! ”

Tapi bukannya menanggapi omelan Suzy, aku malah melompat dari atas tempat tidur dan berlari kedalam kamar mandi sambil menahan mulutku agar tidak mengeluarkan isinya di tengah jalan. Double sialan. Perutku seperti berputar dan seperti ada sesuatu yang mendesak di tengorokanku namun tetap saja tidak ada satupun yang bisa keluar dari mulutku.

Oh, tuhan, kapan ini akan berakhir?

“ SHIT! ” teriak Suzy frustasi, membuatku bingung setengah mati kenapa malah seperti dia yang menderita disini, “ OKE. AKU PERGI. BESOK AKU GANTI PARFUM, KAU PUAS SIALAN?! ”

Aku mengangguk lemah walaupun Suzy tidak akan melihatku disini. Terdengar bunyi pintu yang dibanting keras saat aku memijat kepalaku yang semakin pusing dengan rasa mual yang terus saja membunuhku perlahan.

Sepertinya aku harus keluar juga dari kamar terkutuk ini. parfum sialan itu bahkan masih tercium walaupun penggunanya keluar. Aku melangkahkan kakiku lebar-lebar keluar dari kamar setelah mengambil tas yang terakhir kali kupakai kemarin dan juga buku tadi. Mungkin udara luar akan lebih baik saat ini.

Aku butuh udara untuk melupakan Myungsoo. Aku butuh waktuku sendiri.

Hingga akhirnya aku tiba di café terdekat dari rumahku bersama supir yang biasa appa pakai. Setelah bertahun-tahun tidak ingin lagi diantar supir—kecuali didesak appa—rasanya aneh juga diantar begini.

Aku turun dari maybach 62 ku diiringi dengan tatapan penasaran, kagum dan iri seperti biasa. Bedanya kali ini aku terkekeh dalam hati. Apa jadinya kalau mereka tau aku sedang hamil tanpa diakui?

Baru kali ini aku merasa penuh kekurangan. Baru kali ini aku merasa ternyata hidup memang tidak ada yang sempurna. Setelah 20 tahun lebih aku menjalankan kehidupan yang sempurna, akhirnya aku ditampar juga oleh kekurangan. Memang apa kurangnya aku dari wanita-wanita beruntung diluar sana yang dinikahi oleh pria yang dicintainya? Memangnya aku kurang pantas? Aku kurang cantik? Apa aku kurang baik? Apalagi yang dimiliki wanita beruntung lainnya yang aku tidak miliki?

Mungkin ini pelajaran untukku.

Pandanganku bergerak liar mencari tempat kosong yang strategis untuk merenungi kekuranganku. Dan ternyata itu kesalahan besar.

Aku melihatnya.

Aku melihat Myungsoo.

Bersama wanita.

Mataku menyipit. Rasanya aku mengenal pakaian dan rambut wanita yang memunggungiku itu.

Suzy? Bae Suzy?

Pandanganku terpaku pada titik itu. Tanpa memperdulikan omelan orang-orang yang jalannya tertutup oleh tubuhku. Myungsoo tampak depresi saat berbicara dengan si jalang sialan itu, membuatku penasaran apa yang sedang mereka bicarakan. Dan kemudian, Suzy mengelus lengan Myungsoo dan mengatakan sesuatu ntah apa. Lalu Myungsoo tersenyum lembut.

Senyum itu. Harusnya itu milikku, kan?

Tapi senyum itu berpindah kepada wanita lain. Dan lebih sialnya, pada sepupuku. Sahabat satu-satunya yang aku miliki, kalau dia memang masih pantas disebut sahabat.

Ya tuhan, apalagi ini?

Tubuhku langsung bergerak mundur lalu kemudian berbalik arah. Aku tidak bisa melihat ini lebih lama. Aku tidak akan sanggup. Aku menggeleng, berlari kecil dengan sisa tenaga yang aku miliki menuju mobilku diiringi dengan pandangan heran oleh siapapun yang melihatku. Aku tidak tahu bagaimana bentuk wajahku saat ini. aku tidak perduli lagi.

“ Bandara, ”

Setelah mengatakan satu kata singkat itu air mataku kembali menetes, diikuti dengan isakan tertahan. Tanganku sudah siap menahan mulutku jika aku kebablasan untuk menangis histeris. Tidak ada yang boleh melihat betapa rapuhnya aku saat ini. tidak ada yang boleh tau bagaimana hancurnya aku sekarang. Tidak ada yang boleh tahu, kalau aku, Park Jiyeon yang sempurna hancur lebur tanpa sisa.

Tidak, termasuk juga supirku.

*****

Tubuhku terhempas keatas kasur empuk dalam apartemenku. Menempuh perjalanan jauh saat hatiku sedang kacau balau bukan pilihan bijak. Berkali-kali aku menyumpah serapah kepada petugas bandara atau siapapun yang berani menyenggolku sedikit saja. Beberapa pegawai toko bahkan hampir menangis mendengar bentakanku yang mengomentari betapa jeleknya barang yang mereka tawarkan. Dan 2 orang yang paling na’as malah menangis sambil bersujud padaku karena kupecat—aku punya saham yang besar untuk kedua toko tersebut. Masalahnya simple, mereka berani melawan omelanku.

Aku memang jahat. Karena itu aku mendapatkan balasan seperti ini, kan?

Tanganku bergerak meraih tasku untuk mengeluarkan ponselku dan menghidupkannya. Beberapa notifications langsung memenuhi ponselku.

From : Bae.

Oh tuhan, sudah jam 12 malam. Kau dimana sialan?!

From : Bae.

Damn you, Jiyeon. Kau ingat sekarang kau hamil? Pulang sekarang!

Apa dia kira dia masih pantas pura-pura mengkhawatirkanku sekarang? Apa dia tidak tau seberapa menjijikkan dia dimataku saat ini? apa dia tidak tau kalau dia adalah manusia terhina dimataku saat ini? dasar perempuan jalang. Licik. Munafik.

Kau harusnya mati.

Pikiran itu terlintas didalam otakku, namun yang kulakukan malah menumpukan seluruh tenaga yang kumiliki pada tangan lalu melemparkan ponsel sialanku ke tembok dengan sepenuh hati hingga ponsel itu hancur berkeping-keping.

Aku tertawa terbahak-bahak. Bahkan ponsel itu bernasib sama denganku. Kami benar-benar kompak, ya.

Tawaku membahana dalam ruangan sunyi ini, bersamaan dengan air mata yang ntah milik siapa jatuh diwajahku. Semakin besar tawaku, semakin deras pula air mata itu jatuh. Air mata ini mengangguku hingga akupun lelah tertawa. Aku menyentuh wajahku, mengusap air mata yang ternyata keluar dari mataku sendiri.

Oh, air mataku.

Aku terkekeh, kenapa aku sebodoh ini? apa patah hati mempengaruhi otak seseorang?

Rasa pusing yang tak tertahankan membuatku terbangun dari tidurku. Baju yang aku gunakan masih sama dengan tadi malam. Jendela besar yang menghadap gedung-gedung tinggi di Paris masih terbuka lebar, pantas saja aku merasa kedinginan saat ini. langit sudah terang dan bunyi keributan pagi ala kota besar tertangkap dari jendelaku.

Bahkan pagi ini rasa mualku tergantikan dengan pusing yang hebat hingga membuatku mengerang saat mencoba bangkit dari tidurku. Aku duduk dan menyandarkan kepalaku dilutut, sesekali mengetuk-ngetuknya berharap rasa pusing itu berkurang sedikit saja.

Setelah merasa terbiasa dengan rasa sakit itu, akupun bangkit dan mandi. Mungkin air dingin bisa meringankan kepalaku dan menyegarkan mataku yang bengkak karena menangis semalaman. Aku memang menyedihkan. Menangisi sesuatu yang percuma hingga mataku terlihat seperti monster.

Dengan atasan putih karya dolce&gabbana yang kupadukan dengan blazer hitam karya verawang dan celana jeans putih. Tak lupa dengan kacamata hitam yang syukurnya sempat aku beli saat melewati counter channel yang ada di Charles de gaulle untuk menutupi mata monsterku. Aku sudah menyusun rencana sempurna hari ini agar aku tidak terus berbuat bodoh dengan meratapi nasibku burukku. Aku akan jalan-jalan mengelilingi paris, berbelanja, mencoba semua makanan yang aku inginkan dan mencari pacar baru, mungkin?

Yang terakhir memang mustahil, hapus saja dalam list-ku. Dan sebelum itu, aku harus mengunjungi suatu tempat.

*****

Pintu mobil jaguar merah—yang baru saja aku pesan tepat saat aku menginjakkan kaki di perancis—kuhempaskan setelah ia terparkir sempurna. Kakiku melangkah memasuki gerbang, melewati deretan batu nisan sambil membacanya satu persatu. Aku hanya melangkah sesuai insting, karena aku sama sekali tidak mengingat dimana tepatnya makam itu. Sudah 10 tahun sejak terakhir kali aku mengunjunginya.

Setelah cukup lama berjalan—untungnya makam disini memang berurutan sesuai tanggal—aku menemukannya. Tanganku bergerak melepas kacamata yang kugunakan. Ujung bibirku terangkat menatap nama itu.

Nama umma-ku.

Aku duduk disebelahnya, meletakkan bunga mawar merah yang sempat ku beli, kemudian menatap lama pada makam yang telah dilapisi keramik sepenuhnya. Aku berdeham, bingung harus memulai darimana.

“ Hai umma, ” gumamku tak yakin. Aku tidak tahu harus memanggilnya bagaimana karena aku belum pernah memanggilnya seumur hidupku bahkan saat aku mengunjunginya dulu sekali, “ Maafkan aku karena tidak pernah mengunjungimu sebelumnya. ”

Jeda sejenak. Mungkin aku bisa bercerita disini. Walaupun terdengar bodoh karena bercerita pada sebuah makam, namun tidak bisa dipungkiri kalau ini adalah makam ummaku. Wajar saja kan bercerita pada orangtua, mu? Aku memang tidak pernah melakukannya tapi dari beberapa film yang aku tonton, anak-anaknya sering bercerita tentan masalah mereka pada orang tuanya.

Aku menarik nafas, “ Aku tidak tahu harus memulainya darimana. Aku tahu, tidak sepantasnya aku bercerita setelah sekian lama aku tidak mengunjungimu. Tapi aku, ” Kalimatku terputus karena nafasku tersedak oleh keinginan untuk mengeluarkan isakan, aku menahannya sekuat tenaga, “ Tidak punya siapapun untuk berbagi. ”

Setetes airmataku jatuh, namun aku mengacuhkannya, “ Aku sedang hamil, umma.. ” gumamku perlahan, seolah sedang mengakui dosaku, “ Aku mencintainya. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Dan saat aku memutuskan untuk mencintainya habis-habisan, perasaanku tidak berbalas. Dia menyuruhku menggugurkan anak kami. Tapi aku menolaknya, aku ingin mempertahankan bayi kami. Apa pilihanku salah? Kalau aku benar, kenapa rasanya sakit sekali umma? ”

Kalimatku terputus karena isakan yang lolos dari mulutku, air mataku telah mengalir lagi, “ Aku tahu, setiap jatuh pasti ada yang patah atau rusak. tapi aku tidak menyangka akan seperti ini. apa karena aku jahat? Apa aku memang pantas mendapatkan ini? ” isakanku makin hebat. Ada rasa hantaman sekaligus kelegaan luar biasa saat aku menceritakan isi hatiku sekalipun aku tau tidak akan ada respon yang diberikan umma, “ Apa yang harus aku lakukan, umma? Apa lagi sekarang? Aku tidak mungkin melupakannya, bahkan disaat dia sudah mendekati wanita lain. ”

Aku menelungkupkan tanganku dimulut, menahan agar isakanku tidak terlalu hebat walaupun aku tidak berniat untuk berhenti. Lagi-lagi aku menangis untuk alasan yang sama. Padahal dulu sekali, aku pernah berjanji untuk tidak menangis dengan alasan yang sama. Dulu saat umurku 10 tahun. dan diumurku yang sudah 25, aku melanggarnya.

Tapi aku harus janji, ini adalah terakhir kalinya aku menangis. Tidak apa-apa aku menangis hebat kali ini, dan selanjutnya aku tidak akan melakukannya. aku yakin aku bisa melalui ini. hidupku tidak akan berakhir hanya karena patah hati, bukan? Lalu apa yang harus aku tangisi lagi?

Yang kulakukan selanjutnya hanya menatap kosong pada makam umma sambil memeluk kakiku dan menyandarkan daguku dilutut. Aku masih sesenggukkan, tanganku bergerak menghapus airmataku yang masih mengalir walaupun tidak deras.

Aku harus berhenti, stress pasti tidak baik untuk kesehatan kandunganku.

Setelah merasa lebih baik, aku berusaha menarik ujung bibirku membentuk senyum kecil. Kulirik jam tanganku, ternyata sudah hampir 1 jam lamanya aku duduk disini. Mungkin sudah waktunya aku memulai perburuanku pada barang-barang cantik.

Aku berdiri, memasang kembali kaca mataku, “ Terimakasih sudah menjadi pendengar yang baik, umma. Aku janji akan hidup lebih baik lagi dan lebih sering mengunjungimu. Sampai jumpa lagi, umma. ”

Dan hari itu aku benar-benar berbelanja seperti dunia akan berakhir besok. Aku benar-benar kalap saat menyusuri Lafayette Coupole di Galeries Lafayette. Aku bahkan memasuki semua toko tersebut, satu persatu tanpa sisa. Mulai dari Christian Dior, Yves Saint Laurent, Prada, Chanel, hingga counter Louis Vuitton yang terbesar di didunia itu dan berbagai merek yang tidak akan aku sebutkan satu-satu. Bahkan aku telah membeli 2 mobil sport baru saat ada pameran pengenalan mobil-mobil tersebut, entah apa gunanya. Salahkan saja kenapa mobil itu begitu menggemaskan dan tidak tahu kenapa secara mendadak aku memiliki dorongan untuk membelinya. Untungnya, aku sempat memindahkan setengah dari asset yang kumiliki kedalam kartu-kartu baru yang aku buat agar mereka sulit melacakku. Walaupun tidak akan sulit bagi appa.

Biasanya memang begini caraku saat sedang stress atau ada masalah yang membuat otakku tak bisa berhenti berfikir. Hanya dengan berbelanja gila-gilaan, aku lebih rileks. Tapi aku tidak menyangka bisa separah ini.

Hingga akhirnya aku memutuskan pulang karena kakiku yang terasa pegal walaupun aku memakai flat shoes—buku kemarin mengatakan heels tidak bagus untuk ibu hamil—dan badanku yang serasa remuk. Padahal aku tidak pernah merasa lelah saat berbelanja atau mengelilingi mall sekalipun dengan sepatu heels 12 cm. mungkin ini efek dari kehamilanku. Dari buku itu, aku tahu ibu hamil akan lebih mudah lelah.

Setelah membeli bahan-bahan makanan untuk satu minggu, akupun pulang kembali ke apartement. Barang-barang belanjaanku sudah aku titip pada room boy agar mereka antar ke kamarku. Begitu masuk, aku menghempaskan tubuhku diatas sofa dan memejamkan mata. Mungkin besoknya aku harus beristirahat full untuk memulihkan tenagaku, dan besoknya lagi baru mengunjungi Boulevard Haussmann untuk mengulang kegiatan yang menjadi hobiku ini.

Dan setelah itu, baru aku akan berfikir, bagaimana aku melanjutkan hidupku.

*****

Hari ini tepat seminggu aku berada di Paris dan rasanya membosankan. Aku sudah pernah menghabiskan seharian penuh berjalan-jalan mengelilingi objek wisata perancis dan itu membuatku bingung setengah mati karena mendadak aku bertingkah norak saat berada di menara Eiffel, seperti tiba-tiba aku ingin berfoto sebanyak mungkin di menara itu. Padahal biasanya, Eiffel sangat tidak menarik minatku. Rasanya sama saja melihat namsan tower, terlalu biasa dan tidak spesial sangking seringnya aku lewati.

Ugh, mungkin ini yang namanya ngidam. Tapi kenapa cepat sekali ya?

Tatapanku jatuh pada ponsel yang sejak kubeli tidak pernah ada notifications dari orang-orang yang aku inginkan. Tidak appa, tidak teman-teman sosialitaku. Dan tentu, tak ada Myungsoo bahkan Suzy.

Mungkin aku memang lebih cocok hidup sendirian. Keputusanku mengganti nomor ponselku memang tepat.

Tanganku meraih kunci mobil, kemudian memasukkan ponsel dan dompetku dalam clutch merah Channel yang kemarin kubeli. Sepertinya aku membutuhkan udara segar saat ini, 2 hari mendekam di apartement membuatku muak setengah mati. Mungkin ada baiknya aku jalan-jalan sebentar hari ini. besok aku akan pergi ke Italia, melanjutkan aksi belanjaku dan mungkin bekerja. Rasanya aku juga rindu bekerja.

Ferarri hitamku bergerak pelan menyusuri kota paris yang padat saat musim liburan tiba, mataku bergerak mencari-cari tempat menarik yang bisa aku kunjungi. Hingga akhirnya sebuah café kecil menarik perhatianku. Aku memutar kemudiku dan berhenti.

Café ini bernuansa unik dengan aksen vintage yang lucu. Mungkin aku harus sering-sering kesini, suasananya nyaman dan hangat. Lagipula disini tidak terlalu ramai dan cukup dekat dari apartement-ku. Seorang pelayan berwajah ramah memberikan buku menu dan menanyakan pesananku.

Aku membaca isinya satu persatu. Ingin sekali aku mencoba kopi disini yang sepertinya enak, tapi aku masih ingat bahwa aku harus menjauhi kafein. Aku menghela nafas berat, hamil memang berat. Kenapa rasanya 9 bulan lama sekali?

“ Thѐ jasmine, s’il vous plaĭt.(Teh jasmine, tolong) ” Ucapku tersenyum sambil menyerahkan buku.

Pelayan muda tersebut tampak terperangah sebentar, lalu buru-buru tersenyum sopan, “ Attendez une minute, Mademoiselle. (Tunggu sebentar, nona.) ”

Aku mengangguk dan pelayan itupun berlalu setelah mengambil buku menu. Pandanganku berkeliling menatap pemandangan kota yang padat dari jendela besar disebelahku. Tak terhitung jumlahnya pasangan kekasih yang melewati jalan ini, mulai dari anak sekolahan, pasangan muda hingga kakek-nenek. Tanpa sadar aku mendengus, iri. Semudah itu bagi mereka untuk bersama.

Sebuah hubungan memang tidak harusnya rumit. Hanya membutuhkan seorang lelaki dan perempuan yang saling percaya, saling berjuang dan saling mencintai. Jika ketiga itu ada, maka hubungan itu akan berjalan mulus. Tidak ada yang sulit, sama sekali.

Tapi kenapa sulit sekali bagiku?

Aku tersenyum kecut, lalu mengalihkan pandangan ke dalam café. Tak banyak yang duduk disini, hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati kopi dan beberapa orang yang tertawa bersama temannya. Hingga aku menemukan sebuah tulisan yang terukir indah di papan tak jauh dariku.

Aprѐs la pluie le beau temps.

Dimana ada kesulitan, disitu ada kemudahan.

Mungkin ya, bagi orang-orang yang baik dan tidak berlaku pada perempuan jahat sepertiku. Hidupku selama ini terlalu dipenuhi dengan kemudahan, hingga akhirnya kesulitan itu datang karena aku lupa tidak ada hidup yang sempurna. Dan sekarang tuhan memberi tahukan aku tentang itu, dengan cara yang menurutku sulit.

Baiklah, aku tahu, masih banyak orang yang lebih kesulitan dariku.

Tatapanku jatuh pada meja dihadapanku yang sudah dihuni oleh secangkir teh hangat dan seikat bunga cantik. Dahiku mengkerut menatap bunga tersebut dan mengambil, hingga sebuah kertas terjatuh.

Beautiful flowers for a beautiful lady. Don’t be sad, mademoiselle.

Aku tersenyum kecil dan mengedarkan pandanganku. Pelayan muda yang ternyata berwajah tampan itu tersenyum padaku. Sepertinya dia yang memberikan bunga saat mengantar tehku. Tapi kenapa aku tidak sadar?

Bahuku terangkat, siapa yang perduli. Kenyataannya aku memang kurang memperhatikan keadaan sekitar sekarang. Aku terlalu sibuk meratapi nasib percintaanku yang gagal. Mungkin aku memang harus cepat-cepat mencari pacar baru.

Ide bagus, aku akan berjalan kaki setelah menghabiskan tehku.

Aku meninggalkan selembar uang yang melebihi harga tehku lalu beranjak sambil membawa bunga itu. Tidak mungkin aku meninggalkannya.

Oh, mungkin saja. Jika itu aku yang dulu. Aku akan berubah, aku akan menjadi orang yang lebih baik lagi. Aku tidak boleh sombong. Aku tidak boleh menganggap remeh siapapun. Pikiran untuk menjadi lebih baik memang secara mendadak timbul diotakku sejak beberapa hari yang lalu.

Kakiku melangkah, menyusuri jalanan kota bersama para pejalan kaki lainnya. Aku tersenyum kecil melihat taman kota dihadapanku, beberapa anak kecil tampak tertawa riang disana. Ada penjual gulali, hot dog dan ice cream juga disana. Dan sepasang kakek-nenek yang menarik perhatianku, mereka tampak mesra diumur mereka yang sudah tidak muda lagi.

Tanganku refleks bergerak mengelus perutku saat melihat anak-anak yang itu berlarian. Anakku nanti pasti juga cantik sepertiku, atau tampan seperti ayahnya. Aku jadi semakin tidak sabar menunggu kelahirannya.

Tanpa sadar aku sudah berkeliling terlalu jauh hingga kakiku terasa sakit. Kepalaku menoleh kekanan dan kiri. Ada sebuah jalan sempit yang pasti menuju ke parkiran café tadi karena jalan yang aku keliling berbentuk persegi empat. Jalan sempit itu pasti jalan memotong menuju tempatku berjalan pertama kalinya.

Aku berjalan melewati lorong sempit itu tanpa ragu. Jalan itu sunyi, membuat bulu kudukku merinding.

Sabar Jiyeon, jangan berlebihan begitu, jalan ini tidak begitu panjang juga. Aku pasti aman.

Namun, aku tau aku salah saat aku melihat 2 orang preman yang mencegat jalanku, mereka baru keluar dari balik tembok bangunan yang terpisah. Badan mereka besar dengan berbagai macam tattoo yang menghiasi tubuh mereka. Jangan tanya lagi bagaimana mukanya, kalau anak didalam perutku bisa melihatnya, ia pasti sekarat.

Anak?

Refleks aku memeluk perutku dan memutar tubuhku untuk berbalik arah. Tapi sebelum aku berhasil melakukannya, seseorang dari belakangku menutup mulutku dengan saputangan.

Dan semuanya gelap.

*****

Mataku terbuka saat kesadaran telah melingkupiku. disini gelap, tapi tidak gelap sepenuhnya. Aku kembali menutup mataku dan membukanya lagi perlahan, mengerjap untuk membiasakan diri dengan sumber cahaya yang remang-remang dari lantai.

Aku mulai memperhatikan keadaan sekelilingku.

Apa ini?

Saat ini aku sedang terduduk diatas sofa merah, dengan kedua tangan dan kaki yang terlepas. Tidak terikat oleh tali seperti yang ada difilm-film saat scene penculikan, apalagi lakban bau yang harusnya menempel di mulutku. Pandanganku jatuh pada lantai, dan dahiku mernyit saat tau apa yang ada disana.

Berpuluh-puluh lilin-lilin yang bersusun panjang, satu-satunya penerangan yang ada diruangan ntah apa ini dan membentuk jalan yang mungkin harus aku ikuti. Ditambah lagi kelopak-kelopak bunga mawar yang berserakan sepanjang jalan. Kalau aku saat ini sedang tidak diculik, aku akan menganggap ini romantic sekali.

Siapa yang melakukan ini padaku? Mantanku yang dulu mungkin? Jung Daehyun yang cinta mati padaku? Choi Minho yang romantic berlebihan? Atau Park Chanyeol yang sepertinya masih dendam karena aku mainkan?

Oke, aku harus memastikan ini.

Aku bangkit dengan susah payah karena tubuhku masih oleng akibat obat bius yang mungkin aku hirup. Baju yang aku gunakan masih sama persis dengan sebelumnya, rambutku juga masih rapi. Tidak ada tanda-tanda kekerasan yang membuatku merasa kesakitan atau sebagainya.

Apa begini rasanya diculik?

Kakiku terus melangkah, mengikuti kemana arah lilin ini dengan was-was. Aku harus lebih berhati-hati, siapa tau si penjahat sudah menyiapkan pisau untuk menikamku. Tapi kalau dia berniat membunuhku, kenapa harus susah payah memasang lilin dan menyebar bunga?

Kepalaku menggeleng. Aku harus bisa memastikan ini dengan cepat. Dan kemudian ruangan ini berakhir, dibatasi dengan pintu yang tertutup. Aku menarik nafas perlahan lalu membuangnya. Agak takut dengan perkiraan-perkiraan buruk yang ada diotakku tentang apa yang menungguku dibalik pintu ini. tapi kalau aku tidak membukanya, maka aku tidak akan tahu, kan?

Aku meyakinkan diriku sendiri. Lalu bersiap melindungi perutku dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku menurunkan handle pintu untuk membukanya.

Saat aku membuka pintu, angin langsung menerpa kulitku, membuat tubuhku menggigil kedinginan karena aku memakai dress tanpa lengan. Mataku bergerak memperhatikan sekitar. Aku memang sedang berada diluar, tepatnya diatap sebuah gedung tinggi. Lilin dan kelopak bunga masih ada dilantai.

Tunggu. Ada seseorang diujung sana.

Mataku menyipit menatap punggung pria itu. Aku tidak salah lihat, kan?

Aku mempercepat langkahku, takut pria itu akan pergi kalau aku terlambat sedikit saja. Air mataku sudah menggenang di pelupuk mataku. perasaanku kacau. Antara lega, bingung, marah dan bahagia. Aku tidak mengerti, apa yang sedang ia lakukan disini?

Langkahku berhenti saat berada selangkah dibelakangnya. Nafasku memburu, bukan karena lelah. Lebih karena perasaanku yang campur aduk. Pria itu tidak membalikkan badannya, akupun tidak memiliki keberanian untuk menggapainya. Aku takut kalau dia hanya khayalanku. Aku takut punggung yang aku rindukan itu akan hilang dari pandanganku jika aku meraihnya.

Aku takut, bukan dialah yang berdiri dihadapanku saat ini.

Dan ketakutanku itu sirna saat pemilik punggung tegap itu membalikkan badan. Wajah yang aku rindukan itu berdiri disana. Didepanku. Menatapku dengan sorot rindu yang mendalam. Membuatku berusaha menguatkan diri untuk tidak menjatuhkan tubuhku dalam pelukannya. Masih jelas diingatanku tentang penolakannya, kebenciannya dan khianatnya yang membuatku kecewa.

Tangannya terulur, menyentuh pipiku. Jari-jarinya bergerak menghapus airmata yang ternyata telah mengalir deras dari mataku. mataku terpejam, menikmati sentuhannya yang menghangatkan sekujur tubuhku.

“ Jangan menangis lagi, sayang. Aku disini. ”

Mendengar suaranya yang dalam dan seolah tersiksa itu membuat pertahananku seketika runtuh. Aku menjatuhkan tubuhku padanya, memeluknya sekuat yang aku bisa. Tangannya telah melingkari pinggangku erat, seolah enggan melepasku lagi.

“ Jangan tinggalkan aku, ” gumamku yang teredam oleh bahunya dan isakanku, “ Aku… ”

“ Sudahlah, ” ucapnya serak, sesekali kurasakan bibirnya menyetuh puncak kepalaku, “ Aku disini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Happy anniversary, baby. ”

Kemudian bunyi ribut-ribut dari langit membuat kepalaku mengadah keatas. Ada sebuah pesawat kecil di langit yang mengeluarkan sesuatu dari ekornya. Pesawat itu bergerak, membentuk tulisan happy anniversary dilangit dengan gumpalan putih berbentuk awan. Mataku melirik jam tanganku, tepat jam 12 malam. Aku terkekeh, semakin mengeratkan pelukanku. Aku baru sadar saat ini kami berada tepat didepan menara Eiffel yang bercahaya.

“ Kau tidak perlu seperti ini, kan? ” Tanyaku dengan nada merajuk, “ Kau berlebihan. ”

Myungsoo melepaskan pelukannya, membuatku merengut kecewa. Padahal aku masih sangat merindukannya. Ia menatapku, senyuman yang aku rindukan itu terpampang diwajahnya, membuatku langsung ikut tersenyum.

Ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah kotak yang aku yakini adalah kotak cincin. Aku menatapnya tidak percaya, tanganku langsung bergerak menutup mulut untuk menahan tangisan yang lagi-lagi mendesakku untuk keluar.

Myungsoo berlutut, membuka kotak cincin itu dan menatapku sungguh-sungguh, “ Aku tau, ini masih sangat kurang romantis untukmu. Tapi aku melakukannya sepenuh hatiku, ” Ucapnya dengan senyum kikuk yang membuatku heran, “ Kamu harus menikah denganku, Park Jiyeon. Aku memang bukan lelaki yang baik, tapi aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Menjadi pantas agar selalu bisa menjagamu dan membahagiakanmu seumur hidupku. Kau bisa pegang janji ini selama aku bernafas. ”

Kim Myungsoo melamarku. He did it with his way.

Tanpa ragu, aku mengangguk. Aku tidak butuh penjelasan apapun. Aku tidak perduli penjelasannya kenapa ia menolakku, aku tidak perduli apapun hubungannya dengan Suzy. Aku tidak perduli apapun. Sebut aku wanita murahan, terserah saja. Aku terlalu mencintainya tanpa memperdulikan hal-hal buruk yang ia lakukan, dan aku yakin ia tidak bermaksud menyakitiku. Aku tahu bagaimana perasaannya. Aku tahu ia tulus. Pasti ada penjelasan untuk semua perbuatannya.

Ia mengeluarkan cincin berlian itu dari kotaknya dan memasangnya pada jari manisku. Myungsoo kembali meraihku kedalam pelukan eratnya. Menyebarkan perasaa hangat keseluruh nadiku. Membuat perasaan nyaman langsung melingkupiku bersama darah yang mengalir kesetiap sarafku.

“ Terimakasih, ” gumamnya, aku mengangguk—tak sanggup berbicara apapun lagi, “ Terimakasih karena menerimaku, Park Jiyeon. Menerima segala kekuranganku. Terimakasih. ”

Kepalaku mengangguk berulang kali. Tanganku bergerak naik turun diatas punggungnya, “ Terimakasih juga telah menerima bayi ini, Myungsoo. ”

Terdengar kekehan dari Myungsoo, ia makin mengeratkan pelukannya, membuatku sesak namun ntah kenapa sesak ini membahagiakanku, “ Aku selalu menerimanya, sayang. Bahkan sebelum kau menyadarinya. ”

Tanganku berhenti bergerak, aku menjauhkan tubuhku dari pelukannya dan menatap mata yang berpendar bahagia itu dengan sengit, “ Sepertinya kau hutang banyak penjelasan padaku. ”

Myungsoo tersenyum ringan. Ia membuka jasnya dan memasangkannya padaku. Membuatku lagi-lagi bahagia dengan perhatian-perhatian kecilnya yang manis, “ Ceritanya terlalu panjang, ”

“ Aku punya waktu seluruh hidupku untuk mendengarkannya. ”

“ Lebih baik kita menghabiskan malam ini berdua saja, bagaimana? Kau tidak merindukanku, hm? ”

Aku memeluk tubuhku defensive, saat ia kembali mendekatiku. Aku menggeleng, “ Tidak, sampai kau menceritakan semuanya. ”

Myungsoo menghela nafas, “ Baiklah. Keras kepalamu memang tidak ada lawannya, ” ucapnya menyerah, “ Cerita dimulai saat pertama kali kau sakit. Aku menelfon Suzy, menyuruhnya datang untuk menjagamu. Lalu ia mencetuskan kemungkinan kamu hamil. Awalnya aku tidak percaya, namun semakin hari aku punya feeling yang kuat kalau kau memang hamil. ”

Dahiku mengernyit, bagaimana mungkin ia bisa seyakin itu? Myungsoo kembali mendekat, lalu membawaku kembali kedalam rengkuhannya, “ Dan saat kau cek ke dokter bersama Suzy dan hasilnya positif, ia langsung menelfonku. Tentu saja, aku yang menyuruhnya mengajakmu ke dokter. Aku senang bukan main saat itu. Dan mendadak aku mengingat hari ini, tanggal yang sama dengan 365 hari yang lalu dimana aku mengatakan aku mencintaimu untuk pertama kalinya. Perlu kau tau Jiyeon, perasaanku masih sama dan semakin bertambah. Aku mencintaimu, sepenuh hatiku. ”

Aku tersenyum dalam pelukannya, “ Aku juga mencintaimu, Myungsoo. Sangat. ”

Myungsoo mengecup dahiku lama, “ Dan kemudian, hari saat kau kedokter itu juga kami merencanakan semua ini. awalnya aku ragu dengan rencana ini, aku takut kau tersakiti. Aku takut terjadi apa-apa pada bayi kita. Tapi Suzy meyakinkanku bahwa kau akan menjaga anak kita. memang, sebenarnya bukan seperti ini harusnya. Kau pergi ke Paris sangat diluar rencana. Ini semua karena kau melihat kami di café, kan? Maaf, sayang. Aku tidak selingkuh saat itu. Lalu saat Suzy bilang kau menghilang, aku mencarimu dimana saja. Aku bertanya pada pembantu rumahmu, pada supirmu yang awalnya menutup mulut hingga aku meninjunya dan berteriak bahwa kau hamil. ia hanya mengatakan kau ke bandara. Aku mengecek semua jadwal penerbangan. Dan kau tau apa yang paling sulit? ”

Aku menggeleng. Myungsoo menarik nafasnya, “ Hari itu juga aku ke New York, untuk bertemu appamu. Meminta izin untuk menikahimu dan melacak nomor rekeningmu untuk tau dimana apartement dan apa saja yang kau lakukan. Awalnya appamu tidak percaya melepasku untuk mencarimu, tapi aku terus mendesaknya dan menggunakan alasan bahwa kau hamil anakku. Ternyata sifat keras kepalamu sama dengan appamu. Aku baru sampai malam, saat melihatmu turun dari mobil dengan banyak bungkusan belanja. Mulai hari itu, aku terus mengikutimu. Aku melihatmu yang begitu bahagia melihat menara Eiffel. Awalnya aku ingin menyewa seisi menara Eiffel untuk kita berdua, tapi kalau aku menyewanya kita tidak akan dapat melihatnya seperti saat ini bukan? Maka dari itu, aku lebih memilih tempat ini. ”

Aku merasa terharu dengan semua yang ia lakukan padaku hingga tidak mampu berkata apa-apa lagi. Aku menjauhkan wajahku dari pundaknya, mengangkat kepalaku untuk menatapnya. Tanganku berpindah melingkari lehernya, dan tangan Myungsoo masih setia di pinggangku. Aku mengecup bibirnya sekilas, “ Terima kasih, Myungsoo. Terimakasih telah melakukan ini untukku. ”

Myungsoo menatapku dengan tatapan memuja. Membuatku merasa seperti akulah wanita paling sempurna dimatanya. Ia tersenyum lembut, “ Maaf aku menyakitimu. Apa bayi kita baik-baik saja? ”

Aku tersenyum kecil dan mengangguk, “ Kau tau, aku pernah berfikiran untuk benar-benar membunuhnya. ” Balasaku merasa bersalah.

“ Tapi kau tidak melakukannya. Aku tau kau menyayanginya, Jiyeon. ”

Kepalaku bergerak naik turun, “ Aku merindukanmu. ”

Lagi-lagi, Myungsoo tersenyum. Ia meraih kepalaku untuk mendekat dan mengecup bibirku perlahan, seolah aku adalah barang pecah belah yang bisa hancur kapan saja. Ia melumat bibir atas dan bawahku perlahan. Aku balas melumatnya, jari-jariku tenggelam dalam rambutnya. Desahanku lolos saat ia menggelitik bibirku dengan lidah, membuatnya menggeram tertahan dan ciumannya berubah menjadi begitu menggebu-gebu seolah melepaskan kerinduan yang ia pendam belakangan ini.

Aku tau, banyak yang akan kami hadapi nanti sepanjang umur kami. Tapi jika hubungan kami dilandasi dengan rasa percaya, saling berjuang dan sama-sama mencintai, aku yakin kami bisa melewati semuanya. Karena sebuah hubungan tidak rumit. Hanya butuh komitmen dan janji untuk saling setia seumur hidupnya.

*****

The end.

Well, well. Gimana? Gimana?

Aku tau aku masih abal-abal dibagian sedih-sedihan dan romantis-romantisannya. Aku sama sekali gak berbakat untuk buat ff sedih tapi anggap aja ff ini sebagai debutku/eh

Karena banyak yang nanya tentang ff ini,akhirnya aku mutusin untuk buat bagian ini. lagian, kasian kalian pasti pada bosan kalau aku ngepost celebrity wedding terus. Anggap aja ini hadiah karena blogku udah dua tahun yeaaaaayyyy!

Entah kenapa aku sangat menikmati saat-saat menulis ff ini. Mungkin karena moodku memang berantakan jadi pas banget buat sedih-sedihan. Semoga kalian juga menyukai hasilnya walaupun aku belum ngedit karena gak sabar dengan respon kalian.

Soooo, apapun yang kurang bisa kalian bilang di comment. Aku bakal berusaha untuk lebih baik lagi.

Thank you.

69 thoughts on “You Should Be Mine (The end of our story)

  1. Yeeeeee…
    baru buka WP lngsung update
    akhirnya, awalnya kirain si myung bnrn ngk mau tnggungjwb
    taunya cuma rekayasa, wedeeeeh
    keren keren
    celeb weddingnya dtunggu sangat,
    Update soon

  2. Huaaaa jeongmalll daebakkk kerennn aku sukaaaa banegtt ff nyaaaa romticcc bangett aku sukaa bangett hehehe kerennn sumpahhhhhhhh huaaaaa senenggh banget walaupun awal nya sedih baca nya tapi lama lama seneng hehehe bikin ff myungyeon lagi yang lebih romanticc yaa di tunggu🙂

  3. Ahh so sweet,,,
    Aq pikir gk akan ada sequel ya,ternyata ada
    Di kirain myungsoo oppa beneran gk mau tanggung jawab,eh ternyata itu cuma akal2an ajah
    Buat surprise hari jadi mereka
    Dan akhir ya happy ending
    Tapi pengen ya ada sequel 2 ya
    Kan mereka blm nikah
    Di tunggu ff myungyeon yg lain eonnie

  4. akhirnya ada sequelnya ^^ daebakk~~ kaget eh waktu myungsoo bilang gugurin kandungannya.. syok berat(?) xD untung aja jiyi berpikir rasional ^^ romantisnya myungsoo cariin jiyi kemana-mana ;;) iri aku(?) xD proposenya juga romantis banget di paris ;;) tambah iri aku u,u xD ditunggu ff lainnya yaa unnie ^^)b

  5. eon…
    aq readers baru…
    lg cari2 ff myungyeon….
    baru2 juga nih suka myungyeon….
    izin baca ff yg lain y eon…
    aq bacany mulai yg ini…hehe
    N ternyata….bagus pke bgt…
    daebakkk pkok.ny….

  6. sbenernya tdi aku mau cekik myungsoo karena dia tga bgt ..Eh pas bca smpai akhir aduhh leganya trnyata myung nikahin jiyi jga …Aduh author jeongmal daebak..!!!!!!

  7. 1 kata buat author nya..daebaak ceritanya benar ” keren.dah kesel aja ku ma myungsoo eh tau” tu cuma rekayasa..untung jiyeon ga goyah pas penolakan myungsoo.ga gugurin kandungan nya..thor sequel dong.. Myungyeon nikah

  8. Waaaa…ini sihhh sweett bangettt…sukaaa…
    sampe nangis bombay waktu tau myungsoo yg nyulik jiyeon…
    awalnya udah ngira sii klo suzy ma myungsoo ketemu itu bahas jiyi..tp ga nyangka banget ternyata itu kerjaan mereka tohh..
    gud job…suka bangettt….

  9. Baru mampir lagi ke blog ini…🙂
    Akhr.a dibuatin juga lanjutannihh FF…

    Awal.a sempet kesel bnget ama Myung…😡
    trnyata itu cuma pura-pura doang… Hemeh -_-”

    akhr.a Happy Ending… Seneng.a…😀

  10. astaga itu kejutan yg tidak lucu sama sekali.malah bisa fatal.apalagi kalau jiyi lg stres .malah jjdi mewek..

    plgi dulu myung punya riwayat namja bad boy..

    tapi akhirnya happy end.ah jiyi kaya betul belanjanya gila2an.

  11. Jdi, smuanya sandiwara kcuali bgian trakhir?
    Huh.. awalny aku bnar” kesal sma myung krna udah buat jiyi kyak gitu tpi trnyata cman buat kado ya?
    Hari prnyataan dan plmaran, haduh.. Si myung bingits..

  12. ah.. akhrnya comeback juga ff dri authornim..
    gomawoo..
    aigoo.. sedih bget pas baca awal2.nya,
    tak kirain malah bkal ada daehyun ato siapa gtu..
    eh, ternyata cuman dikerjain,
    kalo aku jadi jiyi aku bkal marah2 sma myungpa, lagi hamil gtu mash aja dikerjain,
    coba kalo jiyi bner2 nge.gugurin tuh kandungan, pasti myungpa bkalan menyesal seumur hdp tuh, untung.nya engga,
    aku pikir, pas bca awal2, jiyi kabur ke luar negeri, mbesarin anaknya sendiri, terus akhrnya kembli ke korea sma cowok lain,trus bkin myungpa menyesal,
    tpi ff ini gak main stream kok, alur yg aku tebak aja salah.. nggak kaya ff lainya,
    daebbak authornim..
    terus.lah berkarya,
    aku tunggu ff yang lain,
    anyyeong ^^
    *keep writing and fighting*

  13. Woah baru tahu ada kelanjutannya, awalnya bener2 nyangka myungsoo brengsek. Tpi oh ternyata dia super romantis aww hehe…
    Good job, nice story. Keep writing author-nim

  14. aghh…. kejetunnya keterlaluan! dari awal sampe tersisa sedikit sekali diakhir, semua diisi penderitaan jiyeon. sampe aku berpikir myungsoo benar2 se-nappeun itu!
    tau gak kenapa sedihnya belum kerasa nampol. karena bagaimananapun sisi kuat jiyeon masih sedikit kentara. dia benar2 masih tau bagaimana belanja menghabiskan uang! padahal sebentar lagi dia bakalan punya tanggungan yg pada saat itu dia tau tanggungannya nanti itu dia tanggung sendiri tanpa seorang suami/ayah, dia bukan lagi seorang single yg sebebas itu. nah! terlihat banget kan dia masih punya kekuatan penuh, tidak sepenuhnya rapuh! buahahaha.
    Good Job😀

  15. Ahhh dasar myung,q pikir kau bnr” tdk akn bertanggung jwb.uuh untung jiyi g melakukan ap yg kau suruh.mbunuh bayi kalian. Ini smua hnya kjutan yg ingin kau berikan k jiyi.ah happy endiiiiiiiiing!!

  16. Gila yah endingnya nyesek terus sweet ga nahan bgt 😂
    Keep writing thor! Ditunggu karya2 lainnya. Tapi cast nya tetep myungyeon ya hihi

  17. myungsoo napeum namja…terlalu bgt ngerjain uri jiyi..hiks..pe nyesekkk,,tega bgt udh brbuat g mo tanggungjwab…bilang gugurin lg..
    sempet pgen bgt jmbakin rmbut nya(heee miane myungsoo oppa)

    n yg bkin syok nya jyi gmpg bgt mf in myungsoo..q jd emosi..
    keunde,,stlh dijelaskn alsan nya..ngerti jg,,n lega deh..tu bagian dr kjutan tuk jiyi.

    akhir yg bhgia..myungyeon brsatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s