Celebrity Wedding (Chapter 9: The Royal Wedding)

celebrity wedding copy

Title : Celebrity Wedding

Main Cast :

Kim Myungsoo
Park Jiyeon

Genre : Marriage life, Romance, Humor

Type : Chaptered

Jiyeon’s Side

“ Cantik sekali! Kau memang anak mom yang paling cantik sedunia! ”

Teriakan histeris mom menggelegar memenuhi ruangan, membuatku meringis karena merasa akan tuli dan rasa pusing setengah mati karena sejak tadi terus-terusan diputar oleh mom.

Aku melirik Gyuri unnie yang sedang membolak-balikkan majalahnya, terlihat tidak perduli dengan segala respon berlebihan dari mom. Mungkin inilah yang ia rasakan saat ia menikah dengan Lee Jonghyun dulu.

Percaya tidak percaya, Gyuri unnie menikah dengan mantan seorang playboy kelas kakap. Aku masih tidak mengerti bagaimana bisa Gyuri unnie menerima lelaki itu dan bagaimana bisa seorang playboy yang dikelilingi wanita cantik disekitarnya justru malah tergila-gila oleh wanita tak berhati seperti Gyuri unnie. Mungkin seperti cerita didalam novel, lelaki kadang merasa bosan dengan segala perhatian dari para wanita dan merasa tertarik dengan wanita yang mengacuhkannya.

Tapi yang lebih membingungkan, aku tidak tau siapa yang lebih dirugikan akibat karma. Jonghyun oppa yang mendapatkan wanita berhati es. Atau Gyuri unnie yang mendapatkan suami dengan segudang mantan.

“ Mom, kalau nanti aku pingsan ditengah acara, aku akan menyalahkan mom. ” Balasku akhirnya.

Bibir mom langsung mengerucut, membuatku refleks mendengus dengan sifat kekanakan mom yang tidak pernah mengenal usia. Iapun akhirnya berhenti memutar-mutar tubuhku tepat dihadapannya dan memandangiku masih dengan tatapan kesal.

“ Tapi kenapasih kau memilih warna merah? Gaun pernikahan itu warna putih. Putih itu artinya suci. Kenapa tidak konsultasi dulu sih dengan mom? ”

Aku hanya menghela nafas, ini sudah dipertanyakan oleh mom beratus-ratus kali sejak melihat gaun ini beberapa hari yang lalu. Bibirnya masih mengerucut, menungguku untuk menjawab pertanyaan yang sama lagi.

“ Kan sudah aku bilang, aku pengen anti-mainstream mom. Putih terlalu biasa. ”

Lagi-lagi mom memberi respon yang sama, mendengus dan menatapku tidak setuju. Tapi kemudian, pandangannya berbinar penuh haru.

“ Mom senang akhirnya kamu menemukan lelaki yang kamu cintai, ”

Nada mom terdengar sangat bahagia, membuat jutaan tangan tak terlihat meremas hatiku yang dipenuhi rasa bersalah karena membohonginya. Dan sialnya, kebohongan itu tak dapat bertahan lama. Aku bahkan tidak berani membayangkan wajah mom saat kami berpisah nanti.

“ Mom, ” ucapku lembut, namun yang kudapat hanya getaran ketakutan dalam suaraku, “ Tidak perlu seperti itu. Aku memang pasti akan menikah, kan? ”

Ia mengangguk. Tangan-tangan tua yang mulai keriput itu bergerak mengelus wajahku. Pandangannya terlihat sendu saat menatapku. Bulir-bulir airmata itu telah menggenang disudut bibirnya. Belum pernah aku melihat mom dengan ekspresi seperti ini. mom selalu tampak ceria, kekanakan, dengan segudang sifat yang cenderung menyebalkan itu.

Hatiku kembali terasa diremas oleh tangan tak terlihat itu. Tega-teganya aku membohongi mom sekejam ini. aku memang durhaka.

Aku merasa jahat.

“ Mom tidak tau harus senang atau sedih. Mom senang karena kau akhirnya menemukan seorang lelaki yang mendampingimu, atau sedih karena mungkin mom tidak bisa lagi mengganggu anak bungsu mom, ” Mom terkekeh pelan, namun perlahan tapi pasti airmata itu jatuh ke pipinya. “ Tapi sekarang rasanya mom terharu bisa melihatmu secantik ini. ”

Tanganku terulur untuk menghapus airmata di wajah mom. Berusaha menahan sekuat tenaga atas rasa bersalah dihatiku. Berusaha kuat untuk tidak ikut menangis bersamanya, mengingat make up yang terasa berat di wajahku.

Dengan keadaan yang melankolis seperti ini, aku juga harus berfikir, kan? Aku tidak mau dimake up ulang selama berjam-jam lagi.

“ Sudahlah. Kalau mom terus saja menangis, make up nya akan luntur. Mom mau, foto yang akan kita tempel nanti memuat wajah mom yang jelek? ” Tanya Gyuri unnie dengan suara setenang lautan.

Tangisan mom mendadak berhenti. Ia menoleh pada Gyuri unnie yang masih setia pada posisinya dengan ekspresi kesal, lalu kembali menatapku dengan tatapan meminta pendapat.

Aku hanya mengangguk. Akan lebih mudah untukku jika mom berhenti menangis, “ Gyuri unnie benar. Lebih baik mom berhenti menangis. Mom tidak mau jelek, kan? ”

Mom menggeleng kuat-kuat, layaknya anak kecil. Lalu berlari kecil menuju meja rias untuk menghapus sisa-sisa air mata yang menempel diwajahnya. Dari sudut mataku Gyuri unnie tampak menghela nafas dan menggeleng melihat kelakuan ajaib mom.

Aku hanya tersenyum simpul. Sifat ajaib mom memang tidak ada tandingannya, berbanding terbalik dengan sifat dad yang cenderung serius dan lurus-lurus saja. Mungkin itu yang namanya semupurna. Dimana kedua orang bersatu untuk saling melengkapi kekukurangan dan kelebihan pasangannya.

“ Hey, ” sebuah suara berat membuat kami semua menoleh. Yoochun oppa berdiri diambang pintu bersama Myungsoo dibelakangnya, “ Apa yang sedang kalian..Umma? Kenapa menangis? ”

Yoochun oppa langsung berlari cepat mendekati mom. Sebagai anak lelaki satu-satunya, Yoochun oppa memang sangat menyayangi mom. Yoochun oppa sama seperti dad yang sangat pengertian dengan segala sifat ajaib mom. Tangannya terulur mengelus pundak mom yang masih berusaha menghapus jejak air matanya tanpa merusak make-up.

“ Pasti ini karenamu kan, Gyuri? ” Tatapan penuh selidik langsung dilemparkan Yoochun oppa pada Gyuri unnie yang masih sibuk dengan majalahnya.

“ Sudahlah, ” putus mom sebelum keduanya berperang seperti biasa, “ Ayo kita pergi, jangan menganggu Myungsoo dan Jiyeon. ”

Setelah mengatakan itu, Mom langsung berjalan cepat menarik Yoochun oppa yang tidak terima sementara itu Gyuri unnie berjalan santai mengikuti keduanya. Meninggalkan kami berdua disini.

“ Bagaimana perasaanmu? ” Tanya Myungsoo tiba-tiba ketika pintu telah tertutup.

Aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Mencoba kembali rileks setelah perasaan bersalah yang bersarang dihatiku sedikit teredam, “ Lumayan. ”

Myungsoo mendengus, ia berjalan mendekatiku yang masih memandanginya dari kaca besar dan berdiri tepat dibelakangku, “ Aku kira semua wanita pasti akan bahagia kalau menikah denganku. ”

Ya tentu saja, Myungsoo. Termasuk aku. Aku adalah wanita bahagia yang beruntung itu.

“ Kalau begitu, masukkan aku kedalam daftar pengecualian. ”

Sambil mengucapkan kalimat penuh kebohongan itu, aku memutar tubuhku untuk menghadapnya agar ia tak dapat melihat kebohongan dari mataku. ternyata jarak kami sangat tipis, membuatku menyesal kenapa mau-maunya membalikkan tubuhku.

Ini mungkin akan memudahkan dia untuk menangkap pergerakan aneh dari tubuhku.

Tapi bukannya tersinggung, seperti biasa ia malah senyum-senyum saja dengan wajah badaknya yang tidak tahu malu padahal aku telah menolaknya terang-terangan.

Apa mungkin, sebenarnya dia tahu kalau aku hanya berbohong?

“ Tidak. Aku lebih ingin merubah persepsimu, ” Balasnya enteng, alisku tertaut bingung dengan maksudnya, “ Membuatmu merasakan bahagia saat menikah denganku. ”

Deg.

Cobaan apalagi ini, tuhan?

Bolehkah aku berharap lelaki ini akan membalas cintaku? Bolehkah aku berharap lelaki ini sudah menyukaiku?

Mungkin saja boleh. Tidak masalah kalau akhirnya aku terluka. Aku akan berusaha agar ia juga merasakan perasaan yang sama denganku, bagaimanapun caranya. Aku yakin aku bisa. Aku tidak sama dengan wanita kebanyakan yang pernah dicampakkannya itu. Pasti aku bisa.

Sementara aku sedang melongo layaknya idiot, aku mendadak merasakan leherku disentuh oleh sesuatu. lalu mendadak sebuah tangan membalikkan tubuhku kembali kekaca.

Tampak seorang wanita berbaju pengantin yang masih menatap kosong kedepan dan lelaki tampan yang tersenyum hangat menatapku.

“ Kau suka? ” Tanyanya.

Dahiku mengekerut setelah akhirnya aku sadar lamunan yang terlalu panjang saat merasakan sebuah benda dingin menggantung di leherku.

Kalung? Kalung yang aku suka saat kami memilih cincin pernikahan?

Cepat-cepat aku membalikkan tubuh dan menatapnya dengan tatapan protes. Aku bahkan tidak meminta kalung ini padanya. Bukan, bukannya aku tidak suka lagi pada kalungnya. Hanya saja, aneh rasanya menerima hadiah semahal ini dari seorang lelaki.

Biasanya, aku menolak mentah-mentah hadiah apapun dari seorang lelaki. Mungkin karena itu juga aku belum pernah jatuh cinta. Aku terlalu menutup diri untuk sebuah hubungan spesial.

“ Kenapa kau membelinya? ”

Bahu Myungsoo terangkat acuh, “ Karena kau menyukainya, ” jawabnya santai, aku mengangkat alisku masih menunggu kalimat selanjutnya, “ Anggap saja itu hadiah pernikahan kita. Selesaikan? ”

Jangan pernah salahkan aku jika aku benar-benar menyukaimu Myungsoo. Ini salahmu. Salahmu kenapa memberikan harapan padaku. Salahmu kenapa terlalu baik padaku. Salahmu kenapa membiarkan perasaan sialan ini tumbuh dihatiku. salahmu karena membuatku menduga-duga bahwa kau juga menyukaiku.

“ Baiklah, aku menerimanya. ” putusku akhirnya, ia tersenyum lebar seolah-olah aku baru saja memberikan dunia padanya, “ Lagipula uang segini tidak akan membuat kekayaanmu berkurang. ”

Myungsoo mendengus, “ Ya, seolah kau tidak kaya saja. ”

Aku tidak menanggapi lebih lanjut kalimatnya dan memilih untuk berjalan menuju sofa. Sakit juga berdiri lama-lama dengan sepatu killer-heels seperti ini.

Beberapa hari yang lalu aku kembali mencoba browsing di Internet tentang hal-hal yang lebih mendetail pada Myungsoo. Dan beberapa fakta mengejutkan dapat aku temui. Seperti, kenyataan tentang Myungsoo memiliki saham yang besar di beberapa perusahaan multi-nasional yang namanya sudah tidak asing sama sekali. membuatku jadi berfikir keras tentang alasan apa yang membuat dia ingin susah payah menjadi artis yang setahuku kehidupannya sangat terkekang.

Apa dia menyukai perhatian publik?

Yah, mungkin seperti itu.

“ Sayang? ”

Aku mengangkat kepalaku dan menatap dad yang berdiri didepan pintu. Ia menatapku sambil tersenyum lalu beralih menatap Myungsoo dengan tatapan bingung, “ Acara akan dimulai. Kenapa kau masih disini? ”

Terdengar bunyi seperti meringis dari sebelahku, kemudian dilanjutkan dengan gumaman minta maaf dan sesuatu seperti kalimat aku pergi diucapkannya dengan pelan. setelah itu ia terbirit-birit lari dari dad, membuatku terkekeh. Myungsoo memang tidak pernah mengatakannya, tapi aku sangat tau ia agak takut dengan dad. Mungkin lebih tepatnya segan?

Dad memang orang yang sangat tegas. Ia terlihat dingin, acuh dan berwibawa dihadapan siapa saja. Namun kalau sudah didalam rumah, dad adalah pria paling hangat yang pernah aku temui. Tatapan matanya yang melembut dan menatap mom dengan penuh cinta sekalipun mom sedang mulai dengan kelakuan anehnya membuatku sejak kecil selalu berfikir, aku harus mencari pria seperti dad. Pria yang hanya mencintaiku seorang tanpa melihat wanita lainnya sekalipun dengan semua kekurangan yang ada padaku.

Tapi harapan tinggal harapan.

Aku justru jatuh cinta pada lelaki playboy dengan mantan yang segunung. Dan lebih parahnya lagi, ia mungkin tidak memiliki perasaan yang sama denganku.

See? Dunia memang kejam.

“ Anak bungsu dad akan menikah, ya. ” Gumaman pria setengah abad itu sampai ketelingaku.

Aku tersenyum, berdiri lalu memeluk tubuh tuanya yang tetap tegap itu sekuat tenaga. Berharap agar perasaan bersalah yang kembali lagi itu sedikit tertahan. Namun saat kedua tangan dad mengelus kepalaku dengan sayang, aku tahu aku salah. Perasaan bersalah itu makin menghimpitku.

Dad. Lelaki yang selalu tersenyum bangga padaku ini akan sangat kecewa jika mengetahui kebohonganku.

Perlahan, dad melepaskan pelukannya padaku dan menatap wajahku. Ia tersenyum lembut, tangan-tangannya meraih wajahku dan menghapus air mata sial yang ntah kapan sudah berjatuhan dipipiku. Aku memaksakan diri untuk tersenyum, walaupun pada akhirnya aku hanya bisa terisak. “ Dad, I love you. ”

“ I know, sweety. I love you too, ” ucapnya lembut, aku menganggukkan kepalaku berkali-kali, masih berusaha kuat agar air mataku tidak makin tumpah dan merusak semuanya, “ Semoga kau bahagia. Kau tau kan, kami semua selalu berdoa yang terbaik untukmu. Walaupun kau sudah besar sekarang, bagiku kau tetaplah little princess kami dirumah. Little princess kesayangan dad. ”

Tanganku langsung bergerak menutup mulutku, menahan isakan tangis yang membuat airmataku semakin deras karena perasaan haru dan bersalah yang menghimpit dadaku sekaligus. Dad tersenyum menenangkan, ia mengelus bahuku pelan.

“ Sudahlah, jangan menangis. Nanti cantiknya berkurang. ”

Aku terkekeh pelan, lalu menghapus airmataku perlahan agar tidak merusak makeup ku. Setelah merasa aku sudah lebih baik, dad mengulurkan lengannya untuk aku gandeng. Aku tersenyum kecil lalu menggandeng lengan dad yang masih keras diusianya yang tidak lagi muda.

Detik pertama kami keluar dari ruangan itu, aku tahu, detik itu juga hidupku akan berubah total.

Myungsoo’s Side

Tatapanku jatuh pada seorang dewi yang sedang berjalan kearahku. Ia tersenyum, walaupun kegugupan tampak jelas digaris matanya.

Ini Park Jiyeon si jutek, kan?

Bahkan sejak aku menemuinya di ruangannya hingga sekarang, aku tak bisa berhenti mengangguminya. Dia terlihat….sempurna sekali. tidak sia-sia aku kabur dari ruanganku dengan berbagai alasan hanya untuk menemuinya dan bersyukur bertemu Yoochun-hyung untuk mempermudahku masuk ke dalam.

Appa Jiyeon, lelaki dengan penuh wibawa yang membuatku segan dan langsung menghormatinya sejak pertama kali melihatnya itu tersenyum kecil padaku. Ia menyerahkan tangan Jiyeon padaku.

“ Tolong jaga dia. Dia sangat berharga untukku, aku tidak akan pernah melepaskan siapapun yang menyakiti anakku. ” Ucap lelaki itu tenang.

Diam-diam aku menelan ludah. Appa Jiyeon mengucapkannya dengan nada datar namun cukup membuatku merinding setengah mati. Seolah-olah yakin, sedikit saja Jiyeon terluka karena ku, dia bisa saja mengakhiri nyawaku detik itu juga.

Aku berusaha tersenyum kecil, “ Saya akan selalu berusaha membahagiakannya. ”

Lelaki itu mengangguk kecil. Pandanganku teralih pada Jiyeon yang menatapku aneh, tatapannya sulit aku artikan. Namun akhirnya ia tersenyum kecil, membuatku ikut tersenyum lalu kami membalikkan tubuh menghadap pendeta untuk mengucapkan ikrar janji pernikahan.

Acara formal dari pernikahan kamipun telah usai diakhiri dengan ciuman di puncak kepalanya—hampir saja aku kebablasan dan mencium bagian wajahnya yang lain—dan sekarang dilanjutkan dengan acara informal seperti ucapan selamat dari para tamu.

Desain acara kami sangat sempurna menurutku. Jiyeon benar-benar total dalam menghiasnya, dari masalah penting hingga detail terkecil sekalipun. Hiasan lampu kecil berwarna kuning keemasan yang melilit setiap pilar dengan gantungan bunga mawar hidup yang segar dan harum, hingga lampu-lampu gantung besar keemasan dan kain-kain berwarna merah yang menutupi langit-langit menampilkan suasana redup dan majestic disepanjang jalan menju altar. Ratusan sofa-sofa berwarna merah dan karpet merah beraksen kekuningan terlihat sangat menyatu dengan ruangan. Disisi kiri dari altar ada bagian kosong tempat para pasangan tamu berdansa dikelilingi dengan vas tinggi berisi rangkaian bunga mawar segar membentuk bulat. Disisi kanan yang agak menjorok kedalam ruangan terdapat meja panjang beralas taplak merah yang berisi makanan dan berbagai menu yang kami sempat perdebatkan—aku ingat saat itu Jiyeon sama sekali tidak keberatan untuk mengetes semua makanan yang akan kami pilih sebagai menu disaat semua wanita menahan porsi makan mereka sebelum hari pernikahan—dan berpuluh-puluh meja bundar tempat para tamu menikmati hidangan.

Semuanya terlihat sempurna dimataku. Semua tamu undangan yang berjumlah ribuan itu tampak puas dengan pesta yang kami buat. Aku dan Jiyeon memang telah sepakat untuk tidak membuat acara pernikahan kami tertutup dari media, hingga semua wartawan dari berbagai belahan duniapun ikut hadir walaupun dengan jumlah yang kami batasi mengingat kemampuan ruangan ini untuk menampung manusia.

Kami telah menerima ucapan selamat dari beribu-ribu umat manusia yang sejak tadi mengantri. Aku sendiri merasa sangat lelah. Bahkan bibirku sudah tak sanggup lagi untuk tertarik dengan sempurna. Namun Jiyeon tampak masih bisa mengontrol ekspresi bahagianya. Aku melirik antrian saat tersenyum pada pasangan artis senior yang memberi kami selamat, oh untungnya antrian itu sudah memendek.

Berbagai macam kalimat sudah aku terima hari ini. misalnya seperti, selamat berbahagia, semoga langgeng, cepat dapat momongan, acara yang hebat, tak disangka bahwa seorang Myungsoo akhirnya menikah hingga betapa beruntungnya aku mendapatkan wanita secantik Jiyeon.

Yes, menurutku, Jiyeon adalah sebuah kesempurnaan.

Disamping berbagai sikapnya yang agak menyebalkan dan pemarah, tentu saja dia sempurna.

“ Kau tidak lelah? ” Tanyaku akhirnya.

Jiyeon melirikku sekilas setelah mengucapkan terimakasih pada salah satu tamu undangan, “ Sangat. ”

Tanganku terulur untuk merengkuhnya dan mengusap bahunya pelan, aku sangat mengerti pasti lelah berdiri diatas sepatu setinggi itu, “ Tunggu sebentar ya, antriannya sudah memendek. ”

“ Oh my god! ” Teriak seorang tamu tak tahu diri yang sedang mendapat giliran untuk menyalami kami, aku meliriknya kesal saat menyadari suara siapa itu, “ Kalian cocok sekali. Walaupun jujur saja, Park Jiyeon terlalu cantik untukmu. ”

Jiyeon terkekeh sedangkan aku mendengus dan memukul bahunya pelan, “ Makanya cepat-cepatlah menikah, dasar tidak laku. ” ejekku.

Howon hyung menatapku tak suka, “ Bukannya tidak laku, aku hanya jual mahal. Lagipula Jiyeon sudah kau rebut, aku terpaksa mencari mangsa baru. Sayang sekali. ”

Aku menggeram, “ Jangan macam-macam. ”

Howon hyung memasang ekspresi ketakutan yang berlebihan, membuatku ingin menonjok wajahnya sekarang juga, “ Oh, maafkan aku, suami yang over protective. ”

Sungjong yang berada dibelakang Howon hyung langsung mendorongnya tak sabar, “ SELAMAT YA JIYEON NUNA DAN MYUNGSOO HYUNG!! ” Teriaknya tak tahu malu.

Jiyeon tersenyum kecil, “ Terimakasih, Sungjong. ”

“ Nuna cantik sekali sungguh! ”

Aku merengut, “ Tidak ada yang bilang aku tampan? ”

Tiga pasang mata itu menatapku ngeri, seolah aku sedang membuat pengakuan bahwa aku seorang alien. Hingga akhirnya Sungjonglah yang berdeham, “ Hyung.. aku mohon jangan mengucapkan kalimat menjijikkan. ”

Aku makin merengut, tangan Jiyeon terulur untuk menepuk wajahku pelan. membuat ekspresiku langsung berubah tersenyum dan menatapnya. Jiyeon tak pernah berbuat selembut ini padaku. Aku benar-benar terharu.

“ Sudahlah daripada kita harus menonton drama menjijikkan ini, lebih baik kita pergi Sungjong, ” ucap Howon hyung dengan nada muak, “ Cepat-cepatlah membuat keponakan untuk kami. ”

Kalimat terakhirnya membuatku mendengus lagi. Jelas-jelas ia sangat tahu bagaimana isi kontrak itu, bagaimana mungkin aku bisa membuat Jiyeon hamil? Memang dia bisa hamil sendiri?

Berbagai macam tamu telah kami salami. Mulai dari pejabat Negara, beberapa pengusaha dunia kenalanku, para pemegang saham, artis senior, artis muda, desaigner-desaigner muda hingga desaigner kelas dunia yang takku sangka begitu dekat dengan Jiyeon seperti Marc Jacobs, Tom Ford, Donatella Versace serta berbagai wajah yang sering mengisi majalah lainnya. Ada beberapa model kelas dunia seperti Behati Prinsloo, Miranda Kerr, Sean O’Pry, Arthur Kulkov juga artis Hollywood papan atas seperti Jamie Dornan, Barbara Palvin, Selena Gomez, Adam Levine dan nama lainnya yang tidak kuingat. Mereka memang memperkenalkan dirinya padaku, walaupun beberapa cukup aku tahu namanya. Tidak heran mengingat seumur hidup Jiyeon memang dihabiskan di Negara mereka.

Gila. Ternyata sainganku memang berat. Pantas saja Jiyeon bilang tubuhku tak seberapa dibandingkan berbagai macam model yang pernah ia lihat. Aku iri juga. Kalau aku harus dibandingkan dengan Adam Levine yang aku akui memang keren, tentu saja aku tidak seberapa.

Tak banyak keluargaku yang berdatangan, karena kami memang tak memiliki banyak sanak saudara karena umma anak tunggal. Sedangkan keluarga Jiyeon yang memang besar dan semuanya hadir disini. Ada Gyuri nuna yang masih tampak tidak menyukaiku, sepupu Jiyeon yang bernama Jiyoung, Hyomin nuna dan teman Jiyeon yang bernama Jieun itu juga hadir. Walaupun tamu lebih didominasi dari pihakku, tapi tetap saja rasanya tamu-tamu Jiyeon sangat berkesan menurutku.

Setelah antrian panjang itu berakhir, aku langsung menarik tangan Jiyeon untuk duduk di tempat khusus yang disediakan untuk kami. Terdengar helaan nafas lega dari sebelahku. Jiyeon tampak sangat lelah.

“ Kalau kau mau, kau bisa langsung pulang dan beristirahat. ”

Ia menggeleng, “ Tidak sopan. Kita tunggu acaranya selesai. ”

Mau tidak mau aku menyetujui kalimatnya. Jiyeon memang keras kepala, percuma saja aku mendebatnya saat ini. kami pun berusaha untuk bertahan dalam acara pernikahan kami sendiri. Berusaha terlihat romantis didepan para tamu undangan ternyata tidak terlalu sulit. Kami hanya perlu terus pergi kemanapun bersama. Tanganku tak pernah lepas menggenggamnya, saat mengambil makan, atau lagi-lagi menyapa para tamu. Kami bahkan sempat berdansa setelah dipaksa oleh salah satu anggota keluarga Jiyeon. Jiyeon yang awalnya menolak, terpaksa aku seret ke tempat dansa karena dansa bersama menurutku bukan ide yang buruk dan ternyata dia memiliki kemampuan di bidang itu. Tidak heran, Jiyeon bukan tipe wanita yang gampang tertebak.

Tepat pukul 7 malam, acarapun usai. Kami langsung diantar oleh supirku menuju rumahku. Tidak banyak percakapan yang kami lakukan karena aku tahu dia sangat lelah. Setelah sampai ke rumah, aku menunjukkan kamarnya yang tidak jauh dari kamarku.

“ Barang-barangmu sudah tersusun disana. Selamat malam, Jiyeon. ” Ucapku saat mengantarnya.

Ia hanya bergumam dan mengangguk lalu masuk ke dalam kamar. Aku pun menuju kamarku dan memutuskan untuk berendam air panas lalu setelah itu beristirahat.

Selesai membersihkan diriku, aku menatap pantulan diriku dikaca lalu terkekeh. Tak bisa dipercaya, aku baru saja menikah padahal selama hidupku, memikirkan tentang pernikahan sama sekali tak berani aku bayangkan. Apa itu komitmen, cinta, dan pernikahan adalah hal yang sama sekali tak pernah aku ambil pusing. Namun apa yang aku lakukan sekarang? Aku menikah.

Walaupun pernikahan palsu.

Hanya setahun. Setelah itu aku akan menyandang status duda. Terdengar menggelikan tapi bagaimana lagi. Aku memang membutuhkan status menikah saat ini. tidak perduli apa statusku setelah nanti.

Tapi bagaimana dengan Jiyeon? Apa dia akan menikah dengan pria yang benar-benar ia cintai setelah bercerai denganku? Aku menggeleng, pemikiranku terlalu jauh. Lebih baik aku fokus memikirkan bagaimana jalannya pernikahan ini untuk 1 tahun kedepan. Memikirkan bagaimana aku memosisikan diri dihadapan Jiyeon, dan bagaimana aku harus meletakkan posisi Jiyeon untukku. Haruskah aku berusaha menjadi suami yang baik?

Oh, tentu.

Jiyeon sudah sangat berbaik hati menyetujui pernikahan konyol ini. dia berbaik hati merelakan statusnya padahal pasti berat menyandang status ‘janda’ setelah bercerai denganku. Jadi paling tidak, sudah sepantasnya ia mendapatkan perlakuan yang baik dan kenangan indah selama 1 tahun menikah denganku.

Aku merebahkan tubuhku diatas kasur, tanpa sadar mendesah lega. Tempat tidur memang menjadi tempat ternyaman didunia saat ini.

Mataku terbuka dan langsung melirik jam, ternyata aku sudah tertidur beberapa jam karena saat ini sudah hampir jam 11 malam. Aku memejamkan mataku lagi namun aku tau akan percuma, aku tidak akan bisa tidur lagi untuk beberapa jam kedepan. Lebih baik aku mengecek keadaan Jiyeon.

Kakiku melangkah keluar, mengabaikan rambutku yang sudah kusut masai. Tak masalah, seisi rumahku pasti sudah terlelap dikamarnya masing-masing. Tepat saat aku menutup pintu kamar, aku melihat Jiyeon yang merengut didepan kamarnya. Dia masih tak sadar bahwa aku sedang berdiri disini, menatapnya sambil terkekeh. Jiyeon mengucek matanya sambil merengut, ia berdiri disana dengan piyama tidur—yang terdiri atas celana dan baju tentunya, sama sekali bukan gaun tipis seperti yang dipakai para wanita yang baru menikah—dan rambut yang berantakan. Wajahnya tampak polos tanpa make-up.

Benar kata orang, wanita selalu terlihat cantik dan seksi saat baru bangun tidur. Aku mengakuinya setelah melihat pemandangan ini langsung.

Aku menggeleng, menyadarkan diri dari apapun khayalan dalam otakku, “ Kenapa belum tidur? ” Tanyaku.

Jiyeon tersentak dan langsung menyadari kehadiranku. Ia menatapku sambil melongo, mungkin nyawanya belum terkumpul sepenuhnya, “ Kau sendiri? ”

“ Aku terbangun tiba-tiba, ” Jawabku, ia mengangguk-angguk, “ Kau? ”

“ Sama denganmu, ” Jawabnya pendek, ia berjalan mendekat, “ Dimana ruang TV-mu? ”

“ Ada dikamarku. ”

Ia memutar matanya, “ Jangan harap aku mau kekamarmu. Aku tau disini pasti ada ruang tv. ”

Aku tertawa keras dan menariknya menuju ruang TV. Ternyata dia tau kalau aku sedang menggodanya. untuk ukuran orang dengan nyawa setengah dia tergolong oke juga, “ Lagipula kenapa kau tidak menonton di kamarmu? ”

“ Aku tidak suka ada TV di kamar, mungkin besok aku minta tolong penjaga rumahmu untuk mengangkutnya keluar. ”

“ Baiklah, ” Ucapku tanpa bertanya lagi. Aku cukup mengerti beberapa orang memang berprinsip kamar adalah tempat istirahat dan tidak baik ada alat elektronik seperti TV di dalamnya, “ Kau ingin menonton apa? ”

Jiyeon telah duduk di sofa tepat didepan TV sedangkan aku sibuk mencari remote dan tempat kaset-kasetku. Setelah mendapatkan apa yang aku cari, aku duduk disebelahnya dan meletakkan tempat kaset itu diatas meja. Jiyeon tampak mengingat-ingat sesuatu.

“ Kau punya film 50 shades of grey? Kata temanku, film itu pemain utamanya ganteng. ”

Mulutku langsung menganga dan menatapnya horror. Aku sangat tau bagaimana isi film yang memang sedang trend sejak sebulan yang lalu itu. Memangnya Jiyeon tidak tahu itu film berbahaya? Mana bisa aku dan Jiyeon menonton film seperti itu. Bisa-bisa aku kebablasan atau paling hebat, aku bisa gila karena menahannya. Lalu kemudian aku dicap lelaki menjijikkan oleh Jiyeon.

Bagaimanapunkan aku laki-laki normal.

Kepalaku menggeleng kencang, “ Tidak boleh film itu. ”

Dahi Jiyeon mengenyit, menatapku bingung, “ Kenapa? ”

Dengan perlahan, aku menarik nafas, berusaha mengeluarkan sisa-sisa suaraku yang mendadak serak, “ Itu film porno, Jiyeon. Temanmu tidak bilang ya? ”

Respon Jiyeon langsung sama dengan respon pertamaku mendengar judul film itu dari bibirnya. Tak lama kemudian ia gelagapan dan mengangguk berkali-kali, “ Ya, kita tidak boleh menonton itu. ”

Tanpa sadar aku menghela nafas lega. Itu artinya aku tidak akan gila.

“ Bagaimana kalau twilight? ” Tanya Jiyeon lagi.

Dahiku mengerut, “ Vampire? ”

Jiyeon mengangguk cepat. Wajahnya tampak sumringah karena aku tahu tentang apa film itu bercerita. Tentu saja aku tau, film itu sangat terkenal dulunya namun aku sama sekali tidak tertarik.

Vampire? Oh, yang benar saja. Itu hanya bualan fiktif yang tidak mungkin ada di dunia dan aku benci film dengan genre seperti itu layaknya aku benci film hantu. Lebih baik menonton drama korea saja.

“ Aku tidak suka film bergenre fantasi seperti itu. ”

Ia menatapku tak suka, “ Jadi kau belum pernah menontonnya? Aku bahkan sudah menonton 6 kali. ”

“ Kalau begitu, kau tidak perlu menonton untuk yang ke-7 kalinya. ”

Jiyeon menggeleng keras, sifat kepala batunya muncul lagi, “ Kau harus menontonnya. Kau tidak akan menyesal. ” Katanya dengan semangat, namun aku masih menggeleng, “ Ayolah. Kau tidak ingin melihat Kristen Stewart yang cantik itu? ”

“ Aku tidak tertarik. Aku penyuka wanita asia. ”

Bibir Jiyeon mengerucut, “ Padahal aku ingin melihat Robert pattinson lagi. Dia itu pria paling keren di dunia setelah appaku. ” Gummanya.

Aku langsung mengalihkan tatapanku padanya, menatapnya tidak suka. Bisa-bisanya dia membicarakan pria lain didepan suaminya yang tampan maksmimal ini. “ Aku lebih keren. ”

Jiyeon menatapku jijik, “ Jangan bercanda. Robert jauuuuh lebih keren, lebih ganteng dan lebih-lebih lainnya darimu. ”

“ Ohya? ” tanyaku dengan suara rendah, namun Jiyeon sama sekali tak perduli. Ia malah balas menantangku, “ Kalau begitu mari kita lihat sekeren apa dia walaupun aku yakin aku pasti lebih unggul jauh. ”

Manamungkin pria itu lebih keren dariku. Aku termasuk dalam 10 pria tertampan di korea dan termasuk ke dalam 3 pria yang paling diinginkan untuk menjadi menantu oleh ibu-ibu di korea. Walaupun pria itu berwajah barat, pasti tidak akan bisa mengalahkanku. Kebanyakan wanita korea harusnya menyukai pria korea, kan?

Jiyeon malah mengangguk berkali-kali lalu mengulurkan tangannya, “ Deal? ”

Tanganku ikut terulur membalas jabatan tangannya dan mengangguk sekali. “ Kau bisa mengambil kasetmu dan aku akan mengambil makanan ringan untuk kita. ”

Kami berdua langsung menuju ke tempat tujuan kami masing-masing. Aku membuka kulkas dan mengambil beberapa bungkus snack, minuman kaleng, biscuit dan buah-buahan. Mungkin wanita seperti Jiyeon tidak suka ngemil di malam hari karena bisa menambah lemak. Tapi siapa yang tau? Jiyeon tidak mudah ditebak.

Saat aku kembali, Jiyeon sudah ada disana dan sibuk memasukkan kaset ke dalam DVD playernya. Aku meraih remote dan menyetel sound system. Setelah selesai, kami berdua duduk di sofa bermuatan dua orang tepat didepan TV.

Film itu dimulai dengan menampakkan tokoh wanita bernama Bella Swan yang baru pindah rumah ke daerah Forks Washington. Dahiku berkerut ketika ada sosok laki-laki yang mendatangi bella hingga tanpa bisa kutahan, mulutku langsung bergerak untuk bertanya, “ Itu bukan Robert pattinsonkan? ”

Jiyeon menggeleng, masih bersemangat walaupun pertanyaanku sangat tidak penting, “ Itu bukan Edward. Dia Jacob, teman masa kecil bella. ”

Aku mengangguk berkali-kali, sok paham. Entah kapan lelaki yang di bilang Jiyeon tampan itu akan muncul. Aku sudah tidak sabar lagi melihat setampan apa dia di film ini.

“ Kau suka ngemil? ”

Kepalaku berputar kesamping untuk menatap Jiyeon yang tengah fokus menatap layar Televisi sambil memeluk bantal sofa dan sebelah tangannya memegang apel. Baru aku sadar dia telah menggulung rambutnya yang tadinya tergerai, menunjukkan lehernya yang putih dan jenjang. Aku berdeham, “ Lumayan. Aku jarang tidur malam. Kalaupun tidak ada jadwal, aku pasti menghabiskan waktu dengan bermain piano dan ngemil. Kenapa? ”

Jiyeon menatapku tidak setuju, “ Kalau begitu kau harus mengurangi makan seperti ini. bisa-bisanya kau makan snack seperti ini tiap hari. Kau bisa ganti cemilan dengan buah-buahan. ”

“ Kau mengkhawatirkanku, ya? ” Tanyaku menggodanya.

Ia mendengus. Respon yang sama setiap aku menggodanya. Bisa-bisa dia berubah menjadi banteng jika terus begitu. “ Tidak ada salahnya memberitahu hal-hal yang baik, kan? ”

Aku terkekeh lalu kembali fokus pada layar. Dahiku lagi-lagi berkerut melihat bella yang berada dikawasan sekolah, “ Mereka masih sekolah? ”

Jiyeon menggumam, lagi-lagi aku mengangguk hingga akhirnya wajah laki-laki yang dibilang Jiyeon itu muncul saat mereka makan di kantin. Itu pasti dia.

“ Ini Robert pattinson, kan? Yang benar saja. Ini yang kau bilang tampan? ”

Mata Jiyeon langsung mendelik, melirikku sinis, “ Tentu saja. Dia ini keren. Paling tidak lebih keren dari padamu. ”

“ Matamu rusak, Jiyeon? Dari sisi mana kau melihat dia lebih keren? Jelas-jelas aku jauh lebih keren. Paling tidak, kulitku tidak sepucat itu. Seperti wanita saja. ”

Serius. Dia laki-laki dan memiliki wajah seputih susu seperti wanita. Lalu bagian mananya yang tampan? Oke. Mungkin dia memang memiliki wajah lebih tenang yang dibilang ‘cool’ oleh para wanita. Tapi aku juga bisa memasang wajah tenang seperti itu, atau bahkan aku juga bisa melebih-lebihkannya. Jadi apa lebihnya dia dariku?

Ya, kan?

Tapi rupanya orang disebelahku tidak setuju hingga ia memukul kepalaku berkali-kali dengan bantal yang tadinya ia peluk. Namun karena serangan yang begitu mendadak, aku tidak sempat melindungi tubuhku dari pukulan maut penuh emosi itu. Jiyeon yang sepertinya sangat bersemangat memukulku hingga aku terlentang disofa dengan dia yang diatasku masih memukul wajahku dengan membabi-buta.

Tunggu. Posisi apa ini?

Sebisa mungkin aku menahan mukaku dari serangannya dengan kedua tangannya. Oh sialnya. Aku bisa merasakan kulitnya yang hangat menyentuh tanganku. Aku tidak bisa bertahan dengan posisi ini lebih lama, bisa-bisa aku kebablasan dan malah berbalik mendorongnya. Jangan sampai itu terjadi, bisa-bisa dia berpikir aku mesum. Dengan sisa kesadaran dan kewarasanku, aku berteriak “ STOP! KAU MENGHIMPITKU PARK JIYEON! ”

Pukulan itupun terhenti. Aku mengangkat tanganku dari atas wajahku dan menatap Jiyeon yang terpaku sejenak dengan posisi kami lalu cepat-cepat menjauhiku. Ugh, wajahnya yang polos malah membuatku ingin menertawainya.

“ Itu salahmu kenapa menghina Robert-ku! ”

Robertku katanya?!

Aku menghela nafas. berusaha sabar dengan segala pembelaannya dan pujiannya terhadap lelaki itu. Jangan sampai pertengkaran konyol itu kembali terjadi. Bisa-bisa aku yang kalap.

“ Okay. Okay. Robert pattinson yang menang. ”

Senyum wanita itu merekah, lebar. Tangannya terulur dan menepuk bahuku berkali-kali lalu kembali fokus menonton filmnya.

Setelah ikut menghayati film ini, aku simpulkan ternyata film ini bagus juga. Film yang penuh adegan romantis ala anak sekolahan dan sedikit bumbu action. Kehebatan-kehebatan Edward sebagai vampire memang sangat menakjubkan. Kalau bisa, aku juga ingin memiliki mata yang bisa berubah warna sepertinya. Aku akui, aku memang menyukai film drama romantis—tapi sumpah, aku tidak pernah sampai menangis. Menyukai film romantis saja sudah sangat memalukan bagiku—sehingga film ini terasa cocok untuk aku tonton. Saat filmnya habis, aku akan bertanya kelanjutan film ini. pasti Jiyeon punya kaset lanjutannya.

Namun yang aku temukan adalah Jiyeon yang tertidur dengan posisi menyandar kearah kanan.

Aku mendengus pelan. bisa-bisa dia tertidur saat menonton film kesukaannya.

Lama, aku menatap wajah polosnya yang tertidur. Sama sekali tak nampah wajah kerasnya saat sifat kepala batunya muncul, wajah sinisnya saat aku menggodanya atau wajahnya yang kesal saat aku melakukan hal-hal yang ia benci. Ia tampak begitu tenang dan damai.

Tanpa sadar, aku tersenyum. Dia wanita yang baik, maka dari itu akupun harus memperlakukannya dengan baik.

Tubuhku bergerak mundur, ikut bersandar di sofa dan memberikan pundakku untuk bantalan kepalanya. Jiyeon bergerak sedikit, seperti mencari posisi yang nyaman pada pundakku. Kemudian aku ikut menyandarkan kepalaku diatas kepalanya dan memejamkan mata.

Semoga ia tidak marah ketika bangun besok pagi dalam keadaan seperti ini.

*****

huh. kelamaan banget ya.

harusnya ini udah dipos dari kapan tau, tapi ada konflik yang ehem buat aku gak bisa ngepost ini begitu selesai. semoga masih setia nunggu ni ff butut ya hehehe

65 thoughts on “Celebrity Wedding (Chapter 9: The Royal Wedding)

  1. gk nyangka keren banget cerita’y. jujur deh, ini chapter 9 tpi malah baru aja princess lewat baca tadi. Princess gk sabar baca lanjutan’y…mohon thor jangan ada orang ketiga dalam rumahtangga myungyeon. Biar terus sweet ditambah kelucuan gt sampai kedua’y benaran jatuh cinta ya? Please100x thor. Sekarang princess mau’y baca dari chapter mulai’y

  2. Pernikahan mereka Bener” Royal… Ahhh Daebak ^o^b
    huffttt smga ntar Myung cepet jatuh cinta ama Jiyeon…

    Ditunggu next part.a…😉

  3. daebak!! daebakk!! akhir.y meraka menikah juga.. senangnyaaaa ^^ tpi kpan nih thor mereka saling mencintaii… ?? next thor ^^

  4. Akhriny mreka nikah jga..
    Tinggal mkirin momonganny aja, Suka bnget sma mreka,
    haha.., ksian myung nahan dirg mulu krna imej..

  5. ceritanya bagus banget, pasangan yg lucu. masak cuma gara gara robert jd berantem. oh ya, jangan lama lama ya updatenya

  6. akhirnya dpost jga, so sweet akhirnya nkah jga. tpi sdih jga nge byangin jiyeon hrus psah dgn myungsoo 1 thun yg akn dtang:(. next chpter thor

  7. MyungYeon so sweet… Thor, di chap selanjutnya, ada konfliknya dong.. Kan seru tuh kalo ada konfliknya, apalagi kalo konflik berat.. Daebak!! saran ku, di next chapter ada orang ketiga yg ngerusak hub. MyungYeon, bagus bgt ni FF!!
    Keep Writing Thor🙂 #Maaf #Telat #RCL

  8. Yeey ~~akhirnya Myungyeon menikah juga ^_^ . ffnya bagus banget thor
    Daebakkk. Myungyeon so sweet bgt .
    Ditunggu lanjutnnya Thor.

  9. akhirnya update juga nih ff
    daebbakk authornim..
    suka bangett sama ff ini
    banyakinn skinshipnya dong..
    hehehe..
    kasihh orang ketiga cowok dongg
    biar cemburu myungsoo.nya
    hehehe^^
    ke chap 10 dulu yaa..
    *keep writing and fighting*

  10. Ya ampunnnn makin kesini perasaan moment mereka makin sweetttt bgt deh
    Walaupun diiringi dengan beda pendapat dan adu argumen tp justru malah bikin gemes jadinya

    Kapan mereka sadar dan ungkapin perasaan mereka masing2??

    Sikap myungsoo bener2 bikin lumerrrrrrr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s