Celebrity Wedding (Chapter 10: New life)

celebrity wedding copyTitle : Celebrity Wedding

Main Cast :

Kim Myungsoo
Park Jiyeon

Genre : Marriage life, Romance, Humor

Type : Chaptered

Myungsoo’s Side

“ Apa kegiatanmu hari ini? ”

Kepalaku terangkat dari layar ponsel, menatap Jiyeon yang tengah sibuk mengoleskan selai coklat pada roti sebagai sarapan kami. Penampilannya telah rapi dengan rok span selutut, kemeja dan blazer. Tidak seperti biasanya yang memakai dress santai atau bahkan celana jeans. Tapi selalu sama dengan keadaanku yang begitu berbanding terbalik—masih dengan muka kusut khas orang baru bangun tidur, celana pendek dan baju kaus—Maklum saja, aku selalu tidur jam 3 pagi dan Jiyeon sudah sangat hafal dengan kebiasaanku ini.

“ Tidak banyak. Biar aku saja yang mengantarmu hari ini. ” Jawabku sambil meraih roti yang telah ia letakkan diatas piringku.

Sebelah alis Jiyeon terangkat, “ Aku tidak mau diantar dengan penampilan gembelmu. Sudah aku bilang beratus kalikan. ”

“ Sudah seratus kali juga aku bilang, aku tetap tampan walaupun baru bangun tidur. Kau tidak bisa lihat, ya? ”

Jiyeon memutar matanya. Respon yang sama setiap aku mengatakan kebenaran yang masih belum juga diakuinya. Ia melirik jam tangan, “ Okay, terserah saja. Aku harus datang cepat hari ini. jadi cepatlah habiskan sarapanmu dan ganti baju. ”

Aku mengangkat tanganku diatas kepala dengan gerakan hormat, “ Sudah ganti seragam, ya? Kau tampak lebih tua 7 tahun. ”

Mata Jiyeon langsung terbelalak, menatapku seperti sedang melihat tuyul hijau. Ia langsung memperhatikan penampilannya, “ Yang benar? Kau pasti bercanda. ”

Aku memasang wajah seserius mungkin, tatapanku datar tanpa ekspresi padahal yang aku inginkan adalah tertawa melihat tampang paniknya, “ Aku serius. ”

Dahinya langsung berkerut seperti sedang berfikir keras. Ia menggigit jari-jarinya, kebiasaan yang baru beberapa hari ini aku perhatikan saat ia sedang berfikir terlalu keras. Wajahnya menunjukkan wajah panik luar biasa. Aku tertawa dalam hati. Rupanya dia bisa juga tampak bodoh dihadapanku, aku kira dia terlalu pintar hingga omongan bodohku selalu dianggapnya angin lalu. Rupanya tuduhan ‘tampak lebih tua’ sangat berefek padanya. Mungkin lain kali aku akan mengatakan, kau gendutan?

Diam-diam, aku tersenyum menatapnya. Dia begitu apa adanya.

Mendadak jari-jari Jiyeon terlepas dari gigitannya. Kepalanya terangkat untuk menatapku, membuatku cepat-cepat memasang wajah sedatar mungkin sambil menikmati roti selai-ku.

“ Yasudahlah, sehari saja tidak apa-apa. Lagipula aku bisa memakai pakaian biasaku lagi besok. ” Ucapnya dengan nada final.

“ Kenapa tidak ganti saja? ”

Dia menggeleng tegas, “ Hari ini aku ada pertemuan penting dengan beberapa desaigner dari New York. Kami akan membahas tentang acara Spring/Summer all collection 2015 yang akan menampilkan hampir seluruh koleksi dari berbagai perusahaan fashion dunia. ”

“ Dikantormu? ”

Jiyeon bergumam, lalu melanjutkan acara makannya. Aku mengangguk mengerti lalu bangkit berdiri, “ Kalau begitu aku ganti baju sebentar. Kau bisa menunggu didepan setelah makan. ”

Aku bergegas ke kamarku dan mengganti pakaianku menjadi pakaian yang lebih layak. Sudah dua bulan pernikahan kami berlangsung dan semuanya berjalan baik. Tidak ada masalah berarti yang hadir dalam ‘rumah tangga’ kami. Hanya pertengkaran atau perdebatan kecil yang sama sekali tidak berarti untuk hubungan kami. Jiyeon adalah wanita yang dewasa, sehingga pertengkaran itu tidak akan berlangsung lama dengan acara ngambek atau mogok bicara.

Beberapa kali, kami bahkan melakukan aktivitas bersama. Seperti dia yang menghadiri acara fan meeting dan konferensi pers tentang konfirmasi atas kelangsungan world tour-ku yang dipercepat—dengan sedikit paksaan tentu saja—dan juga project photoshoot dari beberapa majalah terkenal di korea dengan berbagai macam pose tentunya. Mulai dari tema santai, formal hingga dengan pakaian pernikahan yang membuat foto itu tampak sebagai foto “ pasca-wedding ”—kalau saja istilah itu ada—bagi kami. Namun Jiyeon masih menolak beberapa majalah yang ingin membahas lebih detail tentang kehidupan pribadinya dan juga beberapa variety show yang ditawarkan untuk kami berdua.

Tapi menurutku, itu tidak masalah. Aku mengerti dia tidak suka perhatian media.

Semenjak menikah, ada beberapa bagian dari hidupku yang berubah dan aku suka perubahan itu. Misalnya seperti kebiasaan mengantarnya jika tidak sibuk, sarapan bersama, pulang sebelum pukul 7, harus memberi kabar jika pulang terlambat, nonton film bersama tiap malam minggu atau jalan-jalan—yang ini jarang karena Jiyeon tidak suka mengambil resiko—makan malam bersama dan beberapa hal kecil lainnya. Beberapa perubahan itu memang permintaan Jiyeon seperti makan pagi dan malam bersama, namun selebihnya adalah kesadaranku sendiri.

Rasanya lucu.

Ada perasaan aneh saat menyadari ada orang yang menungguku dirumah, selain umma tentu saja. Umma juga telah memutuskan untuk pindah ke rumah kami yang lama di Busan karena merasa sesak tinggal di kota dan membutuhkan suasana penuh ketenangan. Aku benar-benar tidak menyangka akan merasakan terikat dalam komitmen dalam jangka waktu secepat ini, dan ternyata rasanya tidak buruk.

Mungkin aku bisa menikmati ini tanpa merasakan beban apapun seperti bayanganku sebelumnya.

Aku berlari kecil menuju mobil yang biasa aku gunakan dan menemukan Jiyeon telah duduk diatas kap mobil menungguku. Sebenarnya dia tetap tampak luar biasa dengan setelan seperti itu, tapi apa boleh buat.

Menganggunya adalah hobi baruku.

*****

Aku bersiul pelan sambil memutar-mutar pensil ditanganku. Aku sedang mendengarkan diskusi antara Howon-hyung, manager-hyung, Sungjong dan beberapa kru penting lain tanpa minat untuk ikut memberikan saran dan hanya mengangguk sesekali ketika ditanya apa aku setuju atau tidak tanpa mendengarnya lebih jelas. Manager-hyung pasti tau apa yang baik dan buruk untukku jadi aku tak perlu cemas.

Ingatanku kembali pada kejadian di mobil saat lagi-lagi aku menganggu Jiyeon yang membuatnya mengamuk besar hingga menggedor-gedor pintu mobilku dan berteriak histeris seolah akan ada yang akan mendengar.

Padahal aku cuman menyuruhnya mencium pipiku sebagai ucapan terimakasih.

Dia lalu menatapku jijik hingga aku terpaksa mengancamnya dengan mengunci pintu dan akan membukanya jika ia melakukan apa yang aku suruh. Awalnya ia memang tidak perduli dan mengira aku akan menyerah lalu membuka kuncinya dengan sendirinya.

Tapi bukan Myungsoo namanya jika menyerah.

Aku menyibukkan diri dengan ponsel sambil bernyanyi kecil hingga hampir setengah jam. Jiyeonpun memaksaku dengan brutal dengan berusaha membuka kunci pintu mobil sendiri yang jelas sangat mustahil, memukul-mukul tubuhku, kaca mobil dan berteriak seperti orang gila. Membuatku tertawa terbahak-bahak dengan tingkahnya yang percuma itu. Aku tetap tidak menyerah.

Dan dialah yang menyerah. Dia menarik nafas berat, mencium pipiku dan aku merasa menang. Saat itu aku langsung terbahak dan saat aku membuka kuncinya, ia bersumpah tidak akan mau lagi pergi denganku dan membanting pintu mobil sekuat tenaga.

Ugh. Bibirnya menyentuh pipiku. Untuk pertama kalinya.

Sebenarnya aku juga bingung dengan kelakuanku sendiri. Keinginan mendadak itu benar-benar diluar kendaliku. Bahkan bibirku berbicara sendiri. Karena sudah terlanjur, aku melanjutkan saja rencanaku. rasanya, apapun yang berhubungan dengan Jiyeon benar-benar diluar akal sehat. Bahkan sejak awal aku bertemu dengannya, rasa tertarikku sudah bisa dibilang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin, aku, Kim Myungsoo, bisa tertarik sejak melihat seorang wanita di detik pertama?

“ Kami semua tau kau baru menikah, tapi harus kau tersenyum seperti orang gila tanpa henti? Kau membuatku ilfeel. ”

Komentar Howon-hyung menyadarkanku dari ingatan pagi yang menyenangkan itu, membuat semua mata tertuju padaku. Aku mendengus, “ Siapa yang perduli kau ilfeel atau tidak padaku. ”

“ Ya, aku memang bukan Jiyeon. Makanya kau tidak perduli. ”

“ Memangnya salah kalau memikirkan Jiyeon? Makanya jangan jomblo te… ”

“ Stop. ”

Suara dingin dari Manager hyung menginterupsi ucapanku. Howon-hyung menjulurkan lidahnya untuk mengejekku. Kelakuan yang kekanakan mengingat umurnya yang nyaris kepala tiga. Dasar tidak tau diri.

“ Baiklah, kalau begitu semuanya sudah setuju. ” Putus kepala kru kami, aku menatapnya dengan alis terangkat, “ Kita akan berangkat ke New York dalam waktu dekat untuk mengontrol dan mempersiapkan konser. ”

Tourku sudah 99% rampung. Kami memang mempercepat konser beberapa bulan karena banyak alasan dan itu sempat membuat Jiyeon kalang kabut hingga harus lembur selama beberapa hari yang membuatku kasihan, tapi untungnya Jiyeon orang yang sigap dan telaten. Untuk konser kami kali ini memang sudah sepakat sejak awal untuk memulai konser di New York untuk tahun ini karena sejak 2 tahun yang lalu konser pembukaan selalu di Korea. Mungkin seperti mencari suasana baru? Lagipula fans disana tidak kalah juga dengan yang di Korea.

Tapi, tunggu.

Kita? Memang aku setuju untuk ikut berangkat ke New York? Aku kan pergi sehari sebelum konser dimulai.

“ Kecuali aku, kan? ” Tanyaku langsung.

Seisi ruangan langsung menatapku dengan dahi berkerut, “ Bukannya kau sudah setuju untuk ikut? ” Tanya kepala kru heran.

Aku meringis. Mungkin tanpa sadar aku telah mengangguk untuk menyetujui keikutsertaanku ke sana padahal aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Ugh. Menyesal juga aku kenapa langsung mengangguk begitu saja tanpa tahu apa yang mereka tanyakan. Aku kan belum ingin meninggalkan Jiyeon sendirian..

Maksudku. Kami kan baru menikah?

Tapi mana mungkin aku menolak lagi. Manager-hyung akan mendampratku habis-habiskan kalau begitu. Bagaimanapun, manager-hyung itu memang menyeramkan sekalipun dengan bosnya. Apa aku harus mengajak Jiyeon juga ya? Memang dia mau? Dia kan sedang sibuk disini.

Yah, tak ada salahnya mencoba.

Jadi aku datang ke kantornya lebih awal dari jadwal ia bisa pulang tanpa sepengetahuannya. Aku bersiul-siul kecil sepanjang jalan, sambil sesekali tersenyum pada pegawai Jiyeon yang menyapaku dengan wajah mupeng. Mereka tetap saja memasang wajah seperti baru pertama kali melihatku padahal aku sudah lumayan sering berkeliaran di sini. Heran juga. Harusnya mereka terbiasa melihat wajah tampanku.

Sebenarnya aku nyaris datang ke sini setiap hari disaat jadwalku tidak padat. Selain mengganggunya, hobi baruku adalah melihat ekspresi seriusnya saat mencoret-coret kertas. Mulai dari kebiasaannya menempelkan pensil di bibirnya, dahinya yang berkerut, bibirnya yang terkadang mengerucut, semuanya terlihat menggemaskan untukku.

Kebiasaan-kebiasaannya saat berfikir keras mengingatkanku pada seseorang yang aku rindukan.

Aku tersenyum kecil pada asisten Jiyeon yang duduk didepan ruangnya yang terletak dilantai 3, belakangan aku mengetahui namanya Krystal Jung, “ Jiyeon di dalam? ”

Wanita yang masih melongo menatapku itu langsung tersadar lalu berusaha tersenyum seformal mungkin padahal wajahnya sudah merah padam, “ Ya, silahkan masuk, tuan. ”

Lagi, aku tersenyum dan menggumamkan terimakasih lalu berjalan menuju pintu, meninggalkan wanita itu yang bergumam oh my god berulang-ulang kali. Aku membuka pintu tanpa mengetuknya, dan menemukan Jiyeon dan Hyomin nuna sedang sibuk berdiskusi di sofa. Mendengar derap langkahku, keduanya langsung menatapku. Aku meringis, “ Aku menganggu, ya? ”

“ Selalu, ” Gumam Jiyeon jutek.

“ Tidak juga, kami juga sudah selesai. ” Ucap Hyomin nuna bersamaan dengan gumaman Jiyeon.

Tanpa dipersilahkan aku duduk di sebelah Jiyeon dan tersenyum lebar, “ Nuna apa kabar? Lama gak keliatan jadi kangen. ”

Sebuah tangan mendarat di kepalaku dengan mulus, aku langsung mengaduh. Pukulan Jiyeon oke juga rasanya. Bukan pukulan mesra sama sekali, rasanya bahkan lebih sakit daripada pukulan Howon-hyung,

“ Kenapa sih? ” Tanyaku gusar.

Jiyeon mendengus, “ Jangan ganggu istri orang. ”

“ Bilang aja cemburu. ”

Hening sesaat. Aku menoleh dan mendapati Jiyeon sedang melongo menatapku takjub.

“ Please, ingat umur kalian. Jangan pacaran dengan gaya anak SMA. ” Ucap hyomin nuna memecah keheningan yang disebabkan Jiyeon.

Aku terkekeh, “ Tidak apa. Kalau perlu mulai pacaran dengan gaya SD oke juga, kan? ”

Hyomin nuna tertawa, “ Terserah saja, aku mau pulang. ”

Hyomin nuna berdiri dan mengumpulkan kertas-kertas dihadapannya lalu membawanya bersama tas jinjingnya. Aku ikut berdiri dan mengantarnya sampai pintu sementara Jiyeon tetap duduk ditempatnya.

“ Jiyeon, aku pulang dulu. Jangan lupa bicarakan itu dengan Myungsoo. ” Pesan Hyomin nuna saat hampir mencapai pintu, membuat dahiku berkerut penasaran, “ Myungsoo, jangan bermain api kalau tidak ingin terbakar. Bye. ”

Belum sempat aku bertanya apa yang dimaksud dengan main api, Hyomin nuna sudah menutup pintu dan meninggalkan kami berdua. Dahiku makin berkerut. Main api? Memangnya main api seperti apa yang dimaksud Hyomin nuna?

Aku langsung berbalik badan dan menemukan Jiyeon sedang menatap pintu dengan pandangan yang sulit diartikan. Mungkin dia mengerti apa yang dimaksud main api?

“ Main api maksudnya apa? ” Tanyaku langsung.

Jiyeon tersentak, lalu menggeleng cepat, membuatku semakin curiga, “ Gak tau. ”

Dahiku mengerut lalu mengangkat bahu. Mungkin itu masalah wanita yang aku tidak perlu tau. Aku kembali ketempat dudukku semula sambil memperhatikan Jiyeon yang sedang melamun memikirkan sesuatu, “ Jadi apa yang harus kau bicarakan? ”

“ Oh itu, ” Gumam Jiyeon, dahinya mengernyit, “ Aku akan ke New York seminggu lagi untuk acara fashion show yang aku ceritakan tadi pagi, Is it okay? ”

“ Kebetulan sekali! ” Ucapku histeris. Jiyeon memundurkan tubuhnya saat melihat gerakan tiba-tibaku yang seperti ingin menerkamnya, “ Anggap saja kita honeymoon? ”

“ Honeymoon? ”

Aku mengangguk antusias, “ Seminggu lagi aku dan beberapa Kru akan ke New York untuk mengontrol langsung persiapan konser pembukaan disana. Kau bisa berangkat bersama kami dengan pesawatku. ”

Jiyeon mengangguk-angguk paham, tidak ada ekspresi bahagia berlebihan sepertiku diwajahnya. Oke, aku kecewa juga, “ Bagus kalau gitu. Aku bersama Hyomin unnie dan Krystal ikut denganmu. ”

Jiyeon’s Side

Jadi disinilah kami semua, didalam pesawat pribadi Myungsoo. Terdengar kasak-kusuk para Kru dan sesekali suara tawa Hyomin unnie dan Krystal ikut terdengar. Aku hanya menggeleng-geleng heran dengan kelakuan mereka yang berisik di dalam pesawat, sedangkan Myungsoo yang duduk dihadapanku sudah sibuk dengan buku, pena dan kacamatanya.

Jangan tanya padaku bagaimana seksinya dia sekarang.

Selama ini, aku menyangka tidak akan ada pria yang cocok dengan kaca mata baca. Dan sekarang, aku akui aku salah besar. Myungsoo benar-benar terlihat menggiurkan dengan kacamata itu. Air liurku bahkan sudah akan menetes kalau saja aku tidak menahan bibirku agar tetap terkatup sempurna.

“ Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku kehilangan konsentrasi. ”

Tanpa sadar aku meringis. Sialnya aku ketahuan. Untungnya di kabin ini hanya ada aku dan Myungsoo. Mereka semua sepakat untuk memberikan ruang pribadi padaku dan Myungsoo setelah menggoda kami dengan senyum aneh. Salahkan saja Myungsoo yang mengedipkan matanya menanggapi tuduhan mereka.

Oh, god, aku kan masih ting-ting. Lagipula melakukan ‘sesuatu’ dipesawat sangat-sangat tidak masuk akal bagiku.

“ Kau terlihat berbeda. ” Gumamku jujur.

Ia mengangkat kepalanya dan menatapku lurus, alisnya terangkat bingung, “ Beda? ”

Aku mengangguk, “ Dengan kacamata. Aku baru pertama kali melihatnya. ”

Myungsoo terkekeh. Ia menutup bukunya dan fokus menatapku sekarang, ia lalu tersenyum miring, “ Lebih seksi? ”

  1. MYUNGSOO. YA. BOLEHKAH AKU JUJUR SEKARANG?

Aku mengatur ekspresiku agar tidak kelihatan seperti habis tertuduh mencuri. Bagaimana bisa Myungsoo selalu menebak isi kepalaku dengan tepat seperti peramal, “ Bisa tidak kau sehari saja tidak memuji dirimu? ”

Dahinya mengernyit, “ Bukannya kau baru mengatakan iya? ”

Tatapanku langsung berubah horror. Yang benar? Apa aku baru saja keceplosan? Oh oh. Jangan sampai aku benar-benar habis menjerit sambil berteriak ya. Dimana aku harus letakkan mukaku didepannya? Mana bisa begini! Mana bisa aku ketahuan secepat ini. dia bisa besar kepala.

“ Seriously? ” suaraku terdengar seperti suara burung mencicit karena kejepit.

“ No. tapi sekarang aku tau, aku benar. ”

Setelah mengatakan itu Myungsoo langsung tertawa terbahak-bahak sambil sesekali memegangi perutnya yang sebentar lagi akan kram karena terlalu banyak tertawa. Ya, dan aku sangat menantikan moment itu.

Tanganku langsung melempar bantal-bantal yang ada disekitarku, namun ia bahkan tak mengurangi atau bahkan terganggu dengan bantalku itu. Ia tetap saja sibuk menertawaiku walaupun bantal tersebut telah bertubi-tubi mengenai kepalanya.

“ Hentikan, tidak lucu. ” Ketusku.

Myungsoo mengusap airmatanya yang keluar akibat terlalu banyak tertawa. Aku sendiri hanya mendengus dan mengalihkan tatapanku ke jendela pesawat, menatap awan kosong seolah pemandangan itu lebih menarik dari si seksi Myungsoo.

Ew. Menjijikkan.

“ Jangan cemberut begitu. ”

Aku meliriknya sekilas, namun tidak mengacuhkan perintahnya, “ Bukan urusanmu. ”

Lalu mendadak aku merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh bibirku. Hanya menempel beberapa detik, tanpa bergerak, tidak mendesak. Namun kekuatannya sanggup melumpuhkan sekujur saraf tubuhku, membuatku tidak mampu bergerak atau bahkan memproses apapun yang terjadi.

Dia menciumku.

Tepat dibibirku.

Jangan tanya rasanya. Rasanya aku sudah kehilangan akal sehat. Aku lumpuh. Sarafku seperti berhenti menghantarkan kerjanya.

Apa-apaan maksudnya? Kemarin pipiku dan sekarang bibir?

Kepalaku bergerak perlahan, menatapnya dengan kosong. Ia tersenyum ringan, seolah tidak melakukan apa-apa, “ Satu kosong.”

Oh. My. God.

Rasanya aku benar-benar bingung harus melakukan apa. Antara ingin menamparnya karena sembarangan menciumku dan menganggapnya candaan yang lucu atau antara ingin menciumnya lagi karena aku tidak sempat memberikan respon apa-apa.

Otak dan hatiku memang tidak bisa sinkron.

Hingga akhirnya aku hanya sanggup memutar bola mataku dan membuang pandangan darinya. Aku tidak sanggup untuk melakukan apa-apa lagi. Tidak dengan otak dan hatiku yang seperti ingin perang karena perbedaan pendapat.

*****

Double shit.

Disaat aku tidak ingin berada didekatnya dalam radius 3 meter, kami—tepatnya aku—malah terpaksa untuk berada di dalam satu kamar yang sama dan tidur di atas sebuah kasur yang sama berukuran king size.

Benar-benar. Ini adalah kebodohan paling bersejarah yang aku lakukan. Aku tidak memikirkan sebelumnya kalau-kalau kami pergi bersama seperti ini, aku harus tidur sekamar dengannya. Bagaimana bisa otakku yang tolol ini tidak memikirkan kemungkinan itu? Mana bisa aku begini selama seminggu!

Mulutku bahkan tidak sempat melontarkan protes saat kru Myungsoo yang mengurus urusan kamar menyerahkan kunci untuk kami berdua. Dan lucunya, Myungsoo malah tidak terlihat keberatan sama sekali.

Oh, ya. Untuk apa dia merasa keberatan? Dia tidak merasakan apapun saat ciuman itu. Berbeda denganku yang rasanya seperti jantungku meloncat turun dari pesawat, meninggalkan tubuhku dengan rongga jantung yang bolong.

Kenapa bicaraku bisa semengerikan ini?

Mataku melirik Myungsoo yang berdiri dipojok ruangan dengan mata yang fokus dilayar ponsel. Aku menghela nafas, masa bodohlah. Aku butuh tidur untuk menjernihkan otakku. Semoga saja tidak ada ketololan-ketololan lain yang dilakukan otakku kalau aku cukup tidur.

Kakiku melangkah berat menuju tempat tidur setelah meletakkan koper begitu saja. Aku memutuskan akan mengurusnya nanti setelah aku bangun tidur. Aku menghempaskan tubuhku pelan, menelungkupkan wajahku ke bantal dengan kedua tangan disisi kanan dan kiri bantal.

“ Kau sudah mau tidur? Tidak mandi dulu? ”

Suara Myungsoo terdengar sayup-sayup ditelingaku. Aku hanya bergumam, “ Ya.”

“ Kita akan tidur satu kasur? ”

Lagi-lagi aku hanya menggumam.

“ Kau tidak takut padaku? ”

“ Tidak. ” Jawabku malas-malasan.

Setelah itu terdengar bunyi pintu kamar mandi yang digeser, mungkin dia mau mandi. Aku tidak terlalu perduli. Yang terpenting bagiku adalah memejamkan mataku dan membiarkan kegelapan melingkupiku.

Aku terbangun pukul 4 pagi dan langsung bergerak menuju kamar mandi. Tubuhku terasa lengket karena tidak mandi sesampainya disini. Aku mengguyur tubuhku dengan air panas yang menenangkan, sedikit mengigil karena tidak biasanya aku mandi sepagi ini.

Setelah selesai dengan semua urusan mandi, aku menyusun pakaianku ke dalam lemari. Tanpa sengaja melirik koper Myungsoo yang masih tergeletak begitu saja. Aku menghela nafas lagi. Terpaksa aku menyusunnya juga ke dalam lemari. Aku tidak tahan melihat keadaan ruangan yang berantakan lebih dari 1 jam.

Kami akan berada disini selama seminggu sehingga pakaian-pakaian kami harus dipindahkan ke dalam lemari. Tapi jujur saja, aku bingung kenapa kami bisa mendapat ruangan sebagus ini. aku mengerti kalau mereka pasti akan memesan ruangan executive untuk si artis, tapi tidak begini. dan lagi, tidak ada nomor dipintu kamar ini. apa ini ruangan khusus miliknya? Atau hotel ini milik Myungsoo? Terserah saja.

Kakiku melangkah mendekati jendela besar terbuka yang menghadap langsung ke jalanan kota yang masih renggang. Tentu saja, ini masih jam 6 pagi.

Kepalaku kembali dipenuhi dengan acara fashion week yang akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Persiapan acara ini sudah berlangsung berbulan-bulan yang lalu dan aku salah satu orang korea yang ikut berpartisipasi dalam acara yang lebih tepatnya diadakan untuk merayakan peresmian Hudson Yard’s Culture Shed yang akan menjadi lokasi baru untuk ajang fashion, menggantikan Lincoln Center yang sempat berkonflik dengan pemerintah setempat. Sehingga para petinggi fashion di dunia sepakat untuk mengeluarkan koleksi Spring/Summer mereka secara spesial untuk laki-laki ataupun untuk perempuan. Acara fashion week yang biasanya hanya 20 menitpun, kali ini akan diperpanjang karena banyaknya koleksi yang akan ditampilkan. Tentu saja persiapan ini benar-benar harus matang dan sempurna, membuatku cukup sibuk beberapa minggu belakangan.

“ Hey, pagi. ”

Kepalaku menoleh kearah tempat tidur yang berada tepat disisi kananku. Myungsoo tersenyum lebar sambil menahan kepalanya dengan sebelah tangan. Rambutnya terlihat berantakan, wajah khas baru bangun tidur, dan suara seraknya yang luar biasa seksi. Ugh, aku selalu saja terpesona setiap kali melihatnya begini. Walaupun aku sudah melihat pemandangan ini nyaris setiap pagi saat aku membangunkannya untuk sarapan pagi, tetap saja aku tidak kebal. Lagi-lagi aku terjatuh dalam pesonanya.

Cepat-cepat aku menoleh kembali ke jendela, takut pertahananku runtuh, “ Pagi.”

“ Ada apa? ”

Dari ujung mataku, ia terlihat menatapku bingung dengan dahi berkerut. Melihatku yang tidak ada respon, ia mengalihkan tatapannya dan mengedarkan tatapannya ke seluruh ruangan, “ Kau menyusuun koperku? ”

“ Kau keberatan? ”

Dia tekekeh, “ Tidak. Enak juga punya istri, tidak perlu repot susun baju sendiri. ”

Aku hanya diam, tak menanggapi kalimat usilnya seperti biasa. Biar dia tahu bagaimana marahnya aku atas ciuman mendadak itu. Harusnya aku memang sudah melupakannya. Tapi nyatanya tidak bisa.

Dan itu membuatku kesal setengah mati.

Aku berbalik dan berjalan menuju meja rias, tanpa menatap ataupun meliriknya sama sekali. Tak lama kemudian ia berjalan menuju kamar mandi setelah mendengus kesal.

Dia pantas untuk bingung. Karena akupun tidak tahu apa yang membuatku seperti ini.

Myungsoo’s Side

Saat aku keluar dari kamar mandi, aku sudah tidak menemukan Jiyeon dimanapun. Tas tangannya yang terletak di atas meja rias juga sudah tidak terlihat. Mungkin dia sudah keluar.

Tanpa izinku, eh?

Seharusnya memang tanpa izin. Selama ini aku selalu membebaskan wanita manapun yang berhubungan denganku. Dengan siapa ia pergi, kemana ia pergi aku sama sekali tidak ingin tau. Aku tidak pernah mewajibkan mereka untuk melaporkan aktivitas mereka dalam bentuk apapun.

Tapi ini berbeda. Dia Jiyeon dan dia istriku. Aku terlalu terbiasa dengan peraturan tak tertulis diantara kami seperti harus izin sebelum berpergian kemanapun. Padahal ini baru berjalan dua bulan.

Tanpa sadar aku menggeram kesal dengan sikapnya yang seenaknya saja. Kalau dia memang sedang datang bulan atau apapun itu masalah para wanita yang tidak aku mengerti, bukan berarti dia tidak harus izin pergi denganku. Aku terima saja dicuekin, walaupun aku masih tidak mengerti.

Memang apa hubungannya datang bulan dengan marah?

Tapi bukan berarti dia harus melanggar perjanjian tidak tertulis yang kami buat. bukan salahku dia datang bulan, kenapa harus aku yang dimarahkan.

Jadilah hari itu aku pergi dengan muka ditekuk badmood sejak pagi. Para kru yang melihat wajah uring-uringanku sama sekali tidak berani bertanya padaku. Bahkan pertanyaan Howon-hyung saja hanya aku balas dengan muka jutek.

Pagi ini setelah sarapan usai—sarapan sendirian pertamaku semenjak menikah—kami memutuskan untuk berlatih sedangkan beberapa kru akan turun langsung ke Madison Square Garden untuk mengecek keadaan lapangan. Sungjong berkali-kali telah melirik takut-takut kearahku, sedangkan Howon-hyung berusaha tampak tidak ingin tahu sama sekali saat aku berkali-kali mengecek ponselku. Berharap ada kabar dari Jiyeon.

Namun nihil.

Akhirnya aku membanting ponselku asal, lalu kembali melanjutkan latihan kami tanpa jeda untuk minum atau meluruskan kaki walaupun kami sudah mengulang-ngulangnya berkali-kali. Mungkin dengan kegiatan seperti ini aku bisa berhenti memikirkan kemarahanku pada Jiyeon.

“ Hyung… ” Suara Sungjong mencicit pelan, aku meliriknya melalui kaca dihdapan kami, “ Capek. ”

“ Tidak ada istirahat sampai aku menyuruh berhenti. ” Tegasku tanpa ampun.

Howon-hyung memandang Sungjong kasian namun tidak bisa melakukan apa-apa. Semua orang tau bagaimana aku jika marah. Tidak ada yang bisa membantah atau tanganku akan melayang ke wajah mereka. Dan tahukah kau, Park Jiyeon, ini semua karenamu. Salahmu hingga mereka semua kena impasnya.

Berulang kali mataku jatuh pada ponsel yang sengaja aku biarkan tergeletak disekitarku agar tetap terlihat jika ada notifikasi yang masuk, namun nihil. Nama Jiyeon sama sekali tidak aku temukan disana. Padahal ini sudah nyaris jam 6 sore dan dia sama sekali tidak memberi kabar.

Tanpa sadar aku menggeram kesal, “ Latihan selesai. ”

Setelah mengatakan itu aku meraih barang-barangku dan pergi setelah membanting pintu sialan itu tanpa sengaja. Mungkin ada baiknya jika aku pulang ke hotel dan meminta penjelasannya daripada marah dengan tidak wajar seperti ini. mungkin saja dia sudah pulang dan moodnya membaik. Ya, mungkin saja.

Jadi aku melajukan mobilku secepat yang aku bisa walaupun keadaan jalan New York yang agak padat di jam-jam pulang kantor seperti ini, membuatku berkali-kali harus mengumpat muak ketika ada pengendara lain yang menghalangi jalanku. Rasanya aku tidak sabar untuk bertemu Jiyeon, ntah kenapa.

Begitu sampai didepan hotel, aku melempar kunci mobilku kepada valet kemudian langsung berlari menuju lift, menekan tombol ke kamarku dan menunggu dengan tidak sabar. Dia pasti sudah pulang. Jiyeon selalu pulang jam 3 atau jam 5 paling lama. Walaupun dia sibuk, ia selalu membawa pekerjaannya untuk dikerjakan dirumah.

Aku mendekatkan kartu ke panel yang ada di pintu. Setelah mendengar bunyi bip, pintu langsung terbuka kecil. Aku mendorong pintunya tak sabar. Mataku bergerak liar, memperhatikan setiap sudut ruangan. Ruangan tampak bersih dan gelap. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa Jiyeon sudah pulang.

Aku menghela nafas berat, baru sadar bahwa adrenalinku sudah terpacu sejak tadi. Mungkin lebih baik aku mandi, lalu menunggunya pulang di sofa tengah. Aku butuh air dingin mengguyur tubuhku agar aku lebih tenang dan dapat memikirkan tindakan yang harus aku lakukan. Aku tidak boleh meledak-ledak didepan Jiyeon. Bisa-bisa dia kabur dariku.

Setelah mandi, aku membuat teh panas untuk untuk menemaniku menonton tv selagi menunggu Jiyeon pulang. Mataku sesekali melirik kearah jam dinding, sudah hampir jam 9 dan dia belum pulang. Ini tidak benar. Bagaimanapun aku harus menelfonnya.

Sial. Nomornya tidak aktif.

Berulang kalipun aku mencoba sama sekali tidak ada gunanya. Aku mencoba untuk memfokuskan diri pada tontonannya yang aku pilih namun gagal, yang ada mata sialanku malah melirik jam yang terus bergerak menunjukkan hari semakin malam.

Akhirnya aku menyerah dan berdiri dari sofa. Kakiku bergerak tak teratur, melangkah mondar-mandir. Sudah menjadi kebiasaanku jika aku sedang gelisah. Tanganku kembali meraih ponsel dan menelfon hyomin nuna, dia satu-satunya orang yang bisa aku mintai tolong saat ini.

“ Nuna? ”

“ Hm, ada apa Myungsoo? ”

Sial. Hyomin nuna sudah tertidur, itu artinya dia tidak bersama Jiyeon.

“ Nuna tau kemana Jiyeon? ”

“ Jiyeon? ” suaranya terdengar bingung, “ Dia sudah pulang bersamaku jam 4 tadi. Apa dia belum sampai ke hotel? ”

“ Belum. ” jawabku, berusaha keras agar tidak seperti menggeram, “ Apa nuna tau dia kemana? ”

“ Tidak. Aku pulang dengannya ke hotel tadi. Dia juga ikut naik denganku dan menuju ke kamar kalian. Itu terakhir kali aku melihatnya. ”

“ Baiklah, terimakasih nuna. Maaf menganggu tidurmu. ”

Setelah mendengar balasan Hyomin nuna, aku memutuskan sambungan telfon dan melempar ponselku ke sofa. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan dia belum juga pulang. Ini keterlaluan.

Aku membanting tubuhku ke sofa, mengabaikan perutku yang keroncongan karena terakhir kali diisi tadi pagi dan hanya dengan sepotong roti karena aku tidak minat memakan apapun. Mataku kembali bergerak kearah jam. Aku akan menunggunya hingga jam 12, kalau sampai dia belum juga pulang aku akan mencarinya kesemua penjuru kota.

Tanganku terulur untuk memijat pelipisku yang terasa berdenyut nyeri. Mataku terpejam erat. Rasanya waktu berjalan lambat dan aku sudah tidak sabar lagi. Tapi aku harus menunggu. Mungkin saja dia akan pulang sebentar lagi.

Ya, mungkin saja.

Aku tersentak dengan kesadaran yang langsung penuh begitu mendengar bunyi pintu yang tertutup. Aku melirik jam, pukul setengah 11. Hebat sekali, aku malah menunggunya hingga tertidur.

Jiyeon melangkah menuju kamar kami tanpa merasa bersalah atau seolah tak melihatku yang memperhatikan setiap geraknya dari sofa. Manamungkin dia tidak melihat badanku sebesar ini.

Aku langsung berdiri, mengikuti langkahnya menuju kamar kami, “ Aku menunggumu pulang. ”

“ Aku tahu. ”

“ Dari mana saja? Kenapa baru pulang? ”

“ Ada urusan penting di sana. ”

“ Jangan berbohong. Aku tau kau seharusnya sudah pulang sejak sore tadi. ”

Tubuhnya tersentak. Tangannya yang sedang menghapus make-up dengan kapas berhenti bergerak. Ia melirikku yang berdiri di belakangnya melalui kaca, lalu membuang muka, “ Bukan urusanmu. ”

Tanpa bisa kutahan, aku menggeram kesal. Kesabaranku yang memang tipis sudah makin berkurang. Apa sih masalahnya? Kenapa dia seperti menghindar dariku?

Oh, jangan-jangan..ciuman itu? Dia tidak suka?

Oh, ya. Dia memang berbeda. Dia tidak sama dengan wanita lain.

Aku menarik nafas, berusaha menurunkan nada suaraku, “ Kau ini sebenarnya kenapa? Kenapa kau menghindar? ”

“ Untuk apa aku menghindar darimu? Jangan terlalu percaya diri. ”

Tanganku teralih untuk menarik tangannya saat ia sudah selesai dengan make-upnya, menghentakkannya agar ia berbalik padaku, “ Lalu kenapa kau seperti ini?”

“ AKU SUDAH BILANG BUKAN URUSANMU. KENAPA KAU TERUS SAJA MENDESAKKU? ”

Wajahnya merah padam karena marah. Nafasnya naik turun tak beraturan. Entah apa yang membuat dia semarah ini padaku. Aku menarik nafas dan membuangnya perlahan. Aku tidak boleh terpancing emosi. Kalau memang aku yang salah aku harus mengalah.

Masalah tidak akan selesai jika aku ikut terpancing emosi.

Jiyeon memalingkan wajahnya dariku, namun mataku tetap memperhatikan segala gerak geriknya. Kakiku melangkah mendekat saat dia terlihat lebih tenang. Ia tidak menjauh ataupun beralih menatapku. Aku melingkarkan tanganku untuk memeluknya erat, berusaha meredam emosinya padaku. Tubuhnya menegang dalam pelukanku, “ Maafkan aku. Aku hanya khawatir. Jangan ulangi lagi, ya. ”

Perlahan tubuhnya rileks dalam pelukanku. Aku bisa merasakan kepalanya yang bergerak mencari tempat nyaman, tangannya ikut melingkar di pinggangku, “ Maaf. Aku yang salah. Maaf membuatmu khawatir. ”

*****

Oke, sebelumnya aku minta maaf.

Aku tau ini super duper lama tapi percayalah aku selalu berusaha lanjutin ini disetiap ada kesempatan. Sayangnya, kesempatan itu selalu tipis hehe. chapter ini tanpa sekalipun baca ulang jadi kalau ada kesalahan atau typo tolong ingetin:(

Oh ya. Semua info yang aku tulis disini gak semuanya benar, karena Hudson Yard’s baru aja dibangun dan belum siap, jadi acara kayak gitu belum tentu ada. Ini hanya demi kepentingan ff jadi maafkan aja ya:( Tapi info lainnya aku usahakan benar sesuai asli.

thank you for reading!

82 thoughts on “Celebrity Wedding (Chapter 10: New life)

  1. wah,wah yg d tgu sekian lama akhrnya muncul juga😀 udah chap 10 ni thor,masa hubungan myungyeon masi flat2 aja hehehe. ayolah myung,jiyi buka hati kalian masing2 jgn gengsi2an mulu wkwk. d tgu bgt next chap nya thor. semangat!!!!😀

  2. wow… myungyeon marriage life my favorite ff. suka banget sama myungsoo yang sifatnya keras tapi romantis. apa lagi kalo dia sayang banget sama jiyeon, cuma sama jiyeon titik.😀 lanjutkan lanjutkan… author fighting!!!

  3. Omooooo.. kekekek akhirx post jg.. next nya ga akan lm kan postnya? Jebal palli ne.. hikzz.. myungyeon ah sweetx.. bgs sih sft myung yg agresif k jiyi jd gmpg lukuh ntr.. ayo dong sdr kalian slg sk.. next mrk udh bnr2 trbuka dong.. jebal palli ne kekekek

  4. Myungsoo pertahanakan sifatmu,aq bnr” suka sekali,dan jiyeon,aq jg sgt suka dg gayax yg cuek tapi sebenarx menyimpan banyak rasa grogi hehe…lanjutkan chingu hwaiting..

  5. aigoooo, ini couple… ngak tau mau ngomong apa ttg mrk, rusuh, jaim, padahal sama2 butuh. sekalinya ngak bareng kelimpungan kan jdnyaaaa….
    dr dlu myung selalu menyamakan jiyeon dgn seseorg yg dya rindukan, siapa? jgn blg mntan tersygx yg bkalan jd perusuh d masa dpn. awas aja kl smpai myung nyakitin jiyeon, bkalan kusembunyikan istri tercintanya, biar jd duda #plaaaak
    next.
    update soooon….

  6. Aigoo ni couple🙂
    hhaaa…..,Myung modus bgt sii,bilang aja mau dicium,pke acara ucapan terima kasih segala :p
    Eonni mersa sedikit terganggu dgn seseorang yg sllu dirindukan Myungsoo,nugu??mantanx kah,ap msih hidup. Jgn smpi seseorang ini mnjdi penghalang mrk berdua.
    Tuh kan…Myung udh mulai khawatir kan sma Jiyi.
    Suka bgt cara mrk mnyelesaikan mslh,g pke lma,g ada acara ngambek2an. Yg salah ngalah,sama2 mnt maaf,that’s great.
    Part selanjutx jgn lama2 ne…,g sbr bca lanjutannx. Gomawo. Keep writing. Fighting!!! :):*

  7. Finally.. Di post juga chapter 10 nyaaa🙂
    Makin seneng sama MyungYeon.. Chap selanjutnya buat MyungYeon lebih sweet lgi dong thor..😀

    Btw, chap selanjutnya jangan lama2 yaa thor T__T *maksa*

  8. masih ttp sama keegoisan mreka trnyata!! sling suka tpi sama2 kras kpla hahahaaa btw jiyi kok plngnya malem bngt dari mana dia? wajar aja myung marh

  9. yeay.. udah baca chap 10
    jincha daebbak authornim..
    suka bgettt..
    apalagi pas myungsoo khawatir sama jiyeon..
    sweet bgett.. buat myungsoo sadar dong..
    kalo dia suka sma jiyeon..
    masa jiyeon doang yg udah jatuh cinta..
    misal buat orang ke3 authornim..
    biar myungsoo cemburu terus nyadarin perasaanya sendiri..
    hehehe..
    itu sekedar satan sih..
    oke dilanjut karya.mu yang lain dan ff ini tentunya..^^
    *keep writing and fighting*

  10. Akhirnya dilanjut juga😀
    makin seru dan makin greget hehe.
    tapi momment romantis myungyeon nya kurang thor🙂
    aku tunggu next chap nya

  11. ea myung main cium cium co cwit banget wkwk. itu ending jiyi kenapa ya? ada hub nya sama seseorang yg dirindukan myung kah?? nextttt

  12. Ahhhh makin suka deh myungyeon makin so sweet….mga mrka cpt sling cinta nd jujur….moga gak ada yeoja pengganggu…next ya

  13. woahh daebak stelah skian lama nungguin ni ff favorit .. akhirnya muncul jg
    always keren , suka bgt ma myungyeon
    myung yg usil godain jiyeon mulu dan jiyeon yg ttp pertaahanin cuek nya wkwk tp asli greget bgt baca nya
    haha
    next donk thor , jgn lama2 lagi yaa ya
    eh itu maksud hyomin eonni , main api apaa ?
    fighting

  14. Aku baru tau chapter 10nya udah di post TT finally setelah menunggu lama hehe…
    Kehidupan pernikahan mereka memang lucu sekali, rasanya masih kayak mereka pacaran hehe. Myungsoo bisa dewasa jga hehe… Kapan ya mereka bakal membuka diri masing2 ?
    Keep writing dan update soon.

  15. setelah sekian lama nunggu akhirnya ff ini ada lanjutannya jg =”D gomawoo author-nim🙂
    tambahin lg dong moment” romantis myungyeon😀

  16. wuaa akhirnya ada lanjutannya..makasih ya eon uda nyempetin lanjutin cerita yg ditunggu2 bgt ni…
    new life ni lebih berada ke povnya myung ya…kayak ngambarin bgt kehifupan myung yg berubah drastis selaa udah nikah..
    bahkan myung uda mulai berani sekarang..seneng bgt ma ni couple deh…

  17. Hadeeuuuh myungyeon…. kaian ber2 itu sama ajja,, kalo gx ada yg ngakuin perasaan masing” ya bakal kaya gitu (salah paham) yg 1 mungkin ngira cmn iseng n yg 1 lg mikir mungkin gx suka..
    hadeuuh pusing pala ane
    moga ada special moment yg gx akan terlupakan dr myungyeon😀 #ngarep.com
    Lanjuuut eon😉

  18. baru ngeh ini ff udh dilanjut suka bgt ini Ff slaking aku tunggu .. fighting eonni gpp deh lama yg penting dilanjut ya hehehe

  19. Aihhhhh, parah banget yaaa gue:/ masa iyaaa uda hampir 2 bulan berselang gue baru baca nie ff .. Dannnn gue terbalaskan , soalnya makin asik ajanie ff authorr ,, gue jdinya makin suka gitu dehhh😀 jjjjaaannngggg authorrr, keep wrting, and keep wmile😀

  20. Cieeeeee myungyeon udh kissing aja nih
    Jiyeon knp marah?? Marah karena myungsoo cium dia tanpa tau perasaan myungsoo ke jiyeon gimana??
    Duhhh kyk nya myungsoo udh makin berani nih
    Gpp deh aku dukung biar cepet jd real couple kkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s