Celebrity Wedding (Chapter 11: Surprise?)

celebrity wedding copy

Jiyeon’s Side

“ Astaga, Myungsoo. Bisa lebih cepat? Kita sudah terlambat! ”

Teriakanku untuk kesekian kalinya dalam beberapa menit ini memenuhi kamar hotel. Aku sedang menunggu Myungsoo yang sudah menghabiskan waktu hampir setengah jam hanya untuk berpakaian. Padahal, apa susahnya pakaian pria? Hanya kemeja, dasi, celana dan kemeja. Semuanya bahkan sudah aku siapkan diatas tempat tidur dan dia hanya tinggal memakainya. Jadi kenapa harus sampai setengah jam?

Sebenarnya yang wanita itu aku atau dia sih?

Kemudian terdengar bunyi pintu yang terbuka dan Myungsoo keluar dengan setelan yang telah aku pilihkan dan gaya rambut yang…..yummy. aku terperangah sebentar lalu kemudian mengganti ekspresiku dengan ekspresi kesal.

“ Ini juga salahmu kenapa lama sekali bersiapnya? Aku bahkan menunggumu 3 jam dan kau menyiskan waktu 30 menit untukku mandi dan bersiap-siap, ” Sungutnya begitu keluar, kemudian ia mengerutkan dahi dan menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala, “ Tapi 3 jammu tidak sia-sia, kau sangat cantik malam ini. ”

Aku mengalihkan wajahku yang mulai terasa panas dengan mengambil clutchku yang tergeletak diatas sofa dan memilih untuk mengabaikan pujiannya. Ia memang tidak sempat meneliti penampilanku tadi karena aku menyuruhnya untuk cepat bersiap-siap, “ Ayo cepat. Kita bisa terlambat. ”

“ Kau tidak berniat memujiku? ” Tanyanya lagi.

Kakiku yang sudah melangkah keluar dengan langkah lebar-lebar langsung berhenti, “ Kau bisa memuji dirimu sendiri, kenapa harus aku yang memujimu? ”

Myungsoo merengut lalu menarik tanganku untuk digandengnya, “ Kau memang tidak bisa romantis ya? ”

“ Sudahlah jangan mulai lagi, ” Ucapku saat kami sudah sampai didepan limousine yang sudah menjemput kami dan masuk kedalamnya.

Malam ini kami berdua akan menghadiri acara fashion show-ku sebagai salah satu tamu VIP. Setelah berhari-hari kami lalui di New York dengan kesibukan masing-masing—Myungsoo yang sibuk dengan persiapan konser dan aku yang sibuk mengatur acara fashion show ini—acara puncaknya pun akan segera tiba. Malam ini acaraku, dan malam besok konser Myungsoo. Kami sepakat untuk saling campur tangan dalam acara masing-masing tanpa keberatan sama sekali—kata Myungsoo, ini bisa membuat kami lebih dekat dan saling mengenal kesibukan masing-masing—sehingga aku terpaksa harus tidak hadir dalam pesta perayaan kesuksesan acara fashion show ini yang diadakan malam besok demi nonton konser Myungsoo di kursi khusus yang ntah dimana itu.

Not bad, aku tidak terlalu suka suasana party. Terlalu err menurutku.

Dan malam ini, aku telah menyiapkan setelan dan gaun sepasang dengan nuansa silver yang elegan. Sebenarnya ini rancangan Jieun yang aku perbaiki dan tambah sedikit tapi ternyata hasilnya tidak buruk. Gaun terusan panjang dengan model gown with long-sleeves, bagian atasnya ditaburi dengan Swarovski dan dibawahnya dibiarkan polos agak kembang. Myungsoo sendiri aku buat dengan jas dan celana silver yang senada dengan milikku. Kami tampak benar-benar serasi.

Setidaknya dimataku begitu.

Begitu sampai di tempat acara, Myungsoo langsung turun begitu pintu dibuka dan mengulurkan tangannya untuk membantuku keluar. Kami disambut dengan blitz kamera yang begitu menyilaukan. Jujur saja, blitz kamera seperti ini membuatku badmood setengah mati tapi harus kutahan dengan senyum semanis mungkin. Rasanya benar-benar tidak nyaman.

Kami berjalan melalui karpet merah hingga sampai pada booth untuk para wartawan mengambil foto sekaligus bertanya pada kami.

“ Hi Jeey, this is the first time you bring your husband to your fashion event. How does it feels? ”

Aku tersenyum kecil, tangan Myungsoo sudah menggenggam bahuku sedangkan lenganku melingkar dipinggangnya seperti pasangan yang bahagia, “ Actually this isn’t our first time, we’ve often attend events together although that’s not mine. ”

“ And Myungsoo Kim, you’ll perform in Madison Square Garden tomorrow night, don’t you feel tired or something? ”

Myungsoo tersenyum dengan gaya cool-nya, “ Well, if it makes my wife happy, I really don’t mind. ”

Lalu terdengar suara kasak-kusuk terutama dari para wartawan wanita saat mendengar kalimat Myungsoo yang memang super manis itu. Aku meliriknya kesal, andai saja mereka tahu kalau Myungsoo bahkan mewajibkanku untuk menonton konsernya jika aku ingin dia datang diacara ini padahal aku tidak suka suara berisik dari konser manapun.

Setelah itu kami masuk dan duduk di bangku deretan paling depan dengan nama kami berdua di punggung kursinya. Sebentar lagi acara akan dimulai. Aku sudah menyuruh asistenku disini untuk mengecek para model kami bersama Hyomin unnie dan Krystal. Padahal rencana awal aku juga akan melakukan pengecekan terakhir sebelum acara dimulai, tapi sayangnya aku datang terlalu lama.

“ Apa serunya menonton acara seperti ini? ”

Gumaman Myungsoo terdengar hingga ketelingaku, aku meliriknya, “ Menonton fashion show itu tidak ribut seperti nonton konser. ” Balasku.

“ Tapikan acara seperti ini juga pakai music dan pasti juga ribut dengan suara kamera. ”

“ Tidak sebanyak yang memotret konsermu, ” kataku ikut berbisik, “ Dan disini, tidak ada teriakan histeris ala fangirl yang berisik. ”

Dari ujung mataku, Myungsoo terlihat mencibir, “ Mereka kan hanya sedang beromba-lomba menunjukkan cinta mereka padaku. ”

Aku hanya mendengus. Memang apa hubungannya cinta dan berteriak? Teriak sampai bisupun Myungsoo tidak juga bisa tau siapa yang menjerit paling keras untuknya. Pekerjaan sia-sia. Untungnya aku bukan tipe fangirl seperti itu.

Tapi mungkin, aku termasuk manusia kuper dengan kehidupan suram mengingat aku tidak mengenal artis-artis hitz jaman sekarang. Aneh memang, mengingat mom adalah ibu-ibu super update apalagi tentang kehidupan artis. Aku jadi kangen. Mungkin aku akan menelfon mom nanti. Atau menambah libur dengan menginap dirumahnya?

Oh, tidak. Ide buruk.

Tidak terasa, acara sudah dimulai dengan pembukaan dari mc, dilanjutkan dengan pembukaan dari pimpinan kami yang diakhiri dengan tepukan tangan. Seperti yang sudah seharusnya, berbagai kalangan sudah memenuhi ruangan berkapasitas nyaris seperti stadion bola namun tak terlihat sesak. Mulai dari artis, pejabat, pengamat fashion, sosialita dan lain sebagainya. Beberapa yang kukenal sempat menyapaku dan kukenalkan pada Myungsoo yang sangat pandai bersikap manis ini. Beberapa wartawan yang diberi izin untuk menayangkan acara ini secara live juga sudah berkeliaran. Penjagaan disini lumayan ketat juga, belum ada paparazzi yang tampak berkeliaran.

“ Jiyeon, ” aku menolehkan kepalaku saat mendengar suara Myungsoo yang terdengar aneh, seperti sedang menahan diri untuk tidak menguap, “ Kau harus mengajakku berbicara. ”

“ Ada apa? ”

“ Aku mengantuk. ”

Aku tersedak saat berusaha menahan tawaku agar tidak meledak lalu memukul bahunya pelan. kepalaku kembali memandang kedepan saat model-model itu mulai berjalan di catwalk, “ Kau harus mulai terbiasa. Aku akan lebih sering mengajakmu ke acara seperti ini. ” Bisikku.

“ Oh, tidak, cukup sekali saja, terimakasih banyak. ”

Cara bicaranya yang seperti mendengar hukuman mati membuatku kembali terkekeh kecil. Jarak kami benar-benar dekat. Entah siapa yang lebih mencondongkan tubuhnya, namun dari nafasnya yang terasa hangat di pipiku membuatku agak salah tingkah. Tapi tentu saja, aku harus pandai menutupinya.

Aku berdeham, “ Memangnya wajah-wajah cantik model kelas dunia tidak menarik untukmu? ”

Dari ujung mataku, aku tahu dia menggeleng, “ Tipe wanita idealku adalah sepertimu. ”

Refleks aku menoleh lagi, lalu sedetik kemudian aku sadar itu keputusan yang salah. Karena wajah kami jadi hanya berjarak beberapa cm. sial. Kenapa aku jadi seperti terkena penyakit lemah jantung begini?

Matanya mengunci mataku. namun cepat-cepat aku mengambil alih otakku agar tidak terlalu terpesona padanya. Aku tersenyum remeh menganggapi kalimatnya, “ Gombalanmu tidak berlaku padaku. ”

Bohong. Aku berbohong lagi. Entah sampai kapan aku akan berbohong.

Jelas-jelas gombalan itu membuat bunyi jantungku luluh-lantak seperti diterpa badai. Bersyukur penerangan difokuskan pada catwalk, kalau tidak, bisa-bisa seluruh wajahku sudah seperti memakai blush on. Dan pasti akan sangat memalukan.

“ Aku tau kau tipe wanita yang seperti itu, ” jawabnya terkekeh, ia mengalihkan wajahnya kembali kedepan. Aku bersyukur dia salah besar sekarang, “ Makanya ini bukan gombalan. Aku serius. Kau adalah tipe idealku. ”

Tanpa bisa kutahan, mulutku bergerak dan mengucapkan, “ Jadi, menurutmu semua mantanmu setipe denganku? ”

Kali ini Myungsoo tertawa. Bukan hanya kekehan seperti biasa. Ia menoleh kearahku dan menatapku dengan memiringkan kepalanya. Ia menatapku sejenak, seolah menimbang-nimbang. Pandangannya menyapu keseluruh wajahku, sama seperti saat aku terjatuh dulu waktu pertama kali kerumahnya dan dia menangkapku saat itu. Aku ingat perasaan seperti ini.

“ Tentu saja tidak, karena itu aku memacari mereka. ” Jawabnya dengan senyum melelehkan, membuatku makin tak mampu mengalihkan mataku kearah lain selain matanya.

Dahiku berkerut, masih tidak mengerti dengan pemikirannnya, jadi aku bertanya, “ Maksudnya? ”

“ Aku tidak mau memacari wanita yang sesuai tipeku. Mandiri, percaya diri, dan cerdas, sangat menggambarkan kepribadianmu, Jiyeon. Bonus yang aku dapatkan, kau cantik dan berkelas. Berkelas dalam artian tidak murahan. ”

Oh, apa aku seperti itu?

Mendengar penilaiannya terhadapku membuatku makin terbang saja. Kecepatan kerja jantungku makin hebat, aku jadi penasaran apa jantungku masih bisa bekerja lebih keras lagi. Tapi, sungguh, dalam seumur hidupku aku selalu mendengar pujian akan diriku dan ajaibnya, aku merasakan hal yang berbeda saat Myungsoo yang mengucapkannya secara langsung. Padahal pujiannya masih belum apa-apa.

Tapi bodohnya aku, aku masih tidak mengerti apa kaitannya ini semua. Kalau dia menyukai wanita seperti itu, kenapa dia malah memacari yang sebaliknya? Maksudku, biasanya para pria mencari wanita yang sesuai tipenya kan?

Aku berdeham, berusaha mengumupulkan sisa-sia harga diri dan kesadaranku agar dapat kembali kedunia, “ Memang apa yang salah dari wanita tipemu? Kenapa kau malah mencari yang sebaliknya? ”

“ Aku hanya takut. Jika aku dekat dengan wanita sejenis itu, aku akan benar-benar tertarik. ” jawabannya masih belum membuatku puas, jadi aku menaikkan alisku menyuruhnya melanjutkan persepsi tak masuk akalnya itu, Myungsoo tersenyum kecil, “ Dan ketakutanku terbukti. Aku tertarik padamu, Park Jiyeon. ”

Myungsoo’s Side

Jiyeon masih menatapku dengan terpana.

Sudah beberapa detik terlewat sejak aku mengungkapkan perasaanku saat ini padanya—kalau itu bisa dianggap pengungkapan perasaan—dan Jiyeon masih tidak ada respon selain menatapku dengan pandangan terkejut. Bukan salahnya, aku memang terlalu mendadak.

Tapi bukannya para wanita suka dengan kejutan?

“ Well, ” gumamnya, aku mengangkat alis. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya salah tingkah. Sayang sekali, cahaya disini tidak mendukung untuk melihat wajahnya dengan jelas. Dia pasti terlihat menggemaskan dengan wajah merah, “ Jujur saja, aku tidak tahu harus menanggapi apa. ”

Aku terkekeh, mataku berjalan menyusuri wajahnya lagi. Jari-jariku terulur untuk menyentuh kulit wajahnya yang tampak halus sejenak untuk pertama kalinya dan tidak ada penolakan darinya. Pandangan kami kembali bertemu saat mataku kembali menatapnya, “ Aku tidak perlu tanggapanmu, Jiyeon. Membuatmu juga tertarik padaku mungkin agak sulit, tapi aku tahu itu mungkin terjadi. ”

Bibirnya yang menggemaskan itu bergerak seperti akan mengatakan sesuatu namun kembali menutup. Rasanya, aku ingin kembali merasakan bibir lembut itu menyentuh bibirku lagi. Tapi aku harus menahan diri. Selain tidak ingin membuatnya marah, tempat ini terlalu ramai dan bukan tempat yang pantas untuk berciuman. Jadi aku mengalihkan mataku kembali kedepan.

Entah kenapa, perasaanku mengatakan dia juga tertarik padaku.

Tanpa terasa, acara membosankan ini sudah selesai dengan para model yang berkumpul di catwalk. Mungkin karena sejak tadi aku terlalu sibuk berbicara dengan Jiyeon. Walaupun sejak percakapan terakhir kami, Jiyeon masih belum ada membuka mulut untuk mengatakan apapun. Tidak masalah. Aku mengerti dia butuh waktu untuk mencerna kalimat yang sebenarnya tidak rumit. Aku tertarik padamu. Dan mungkin, hanya tertarik. Tidak lebih.

Setelah acara benar-benar berakhir, para tamu mulai membubarkan diri. Beberapa teman Jiyeon menyapa kami dengan memeluk Jiyeon atau menjabat tanganku. Aku tidak terlalu mengerti tentang dunia fashion, tapi sedikit banyak aku tau mereka petinggi dari beberapa brand ternama. Mungkin lain kali, aku bisa mencoba peruntungan bisnis dibidang ini.

Hyomin nuna dan Krystal juga tampak cantik dengan gaun mereka. Aku baru sadar ternyata mereka duduk tepat disebelah Jiyeon. Mereka tampak berbincang-bincang sebentar, aku tidak terlalu mendengar dengan jelas, namun mata Jiyeon tampak berbinar saat Hyomin nuna mengatakan sesuatu.

“ Apa kau akan pergi setelah acara ini? ” Tanya Hyomin nuna.

Jiyeon melirikku, “ Sepertinya kami harus pergi makan. Kami belum sempat makan malam. ”

Hyomin nuna mengangguk-angguk, sementara Krystal terlihat sibuk dengan ponselnya, “ Kalau begitu biar kami saja yang mengurusnya. ”

Setelah mengucapkan sampai jumpa, kami berjalan beriringan keluar. Tanganku menggenggam erat tangan sebelahnya yang kosong. Para wartawan dan paparazzi diluar masih ramai dan sibuk memotret para tamu yang keluar. Beberapa kali aku dan Jiyeon tersenyum pada mereka yang meminta kami untuk melihat kearahnya.

Aku beruntung Jiyeon sangat mengerti diriku. Dia pasti tau aku lapar sekarang. Mungkin karena di hari-hari biasa kami, aku tidak pernah melewatkan makan malam walau sesibuk apapun.

“ Kita mau makan dimana? ” Tanyaku.

Dia diam sejenak, “ Di restaurant hotel saja. Aku tidak mau menarik perhatian dengan pakaian kita. ”

Dalam waktu 20 menit, kamipun sampai di hotel tempat kami menginap. Tidak ada percakapan yang berarti antara kami. Masih dengan menggandeng tangannya, kami berjalan melewati lobby menuju restaurant yang tampak agak ramai, mungkin karena ini malam jumat. Alunan music jazz juga terdengar dari sudut ruangan. Kami memilih meja paling pojok dan pelayan langsung memberikan buku menunya pada kami.

Setelah memesan, aku kembali menatapnya yang sedang memandang keluar jendela, “ Besok aku akan pergi pagi. Kau mau pergi denganku atau menyusul saja? ”

“ Aku menyusul saja. Ada beberapa hal yang mau aku urus. ”

Aku mengangguk, “ Hari minggu aku akan mengajakmu jalan. ”

Ia mengalihkan tatapannya, menatapku penuh minat, “ Kemana? ”

Aku tersenyum misterius, “ Rahasia. ”

Jiyeon mencibir dengan imutnya, lalu memiringkan kepalanya, “ Kau tau kenapa kamar kita tidak ada nomornya? ”

“ Tentu saja tidak ada. Itu kamarku. ”

Dahinya mengernyit tidak mengerti, “ Kamarmu? ”

Aku mengangguk, “ Hotel ini termasuk asset perusahaanku. ”

Wajahnya tampak terkejut. Oh, sepertinya aku memang belum banyak bercerita dengannya. Di internet memang ada beberapa orang yang menuliskan fakta bahwa aku memiliki perusahaan lain tapi tidak ada yang mendetail dan tidak ada bukti fisik karena itu hanya kabar angin. Aku sendiri tidak pernah mengkonfirmasi apapun tentang perusahaan atau apapun itu.

“ Kau benar-benar punya perusahaan lain? Aku kira itu hanya gossip. ”

Aku terkekeh, tidak menyangka dia mengikuti perkembangan gossip juga, “ Beberapa. Tapi semuanya ada di amerika dan eropa. Dan aku hanya sebagai pemilik atau pemegang saham. Beberapa kali jika ada rapat yang benar-benar penting dan mengharuskanku untuk hadir, aku akan hadir. Tapi selebihnya aku menyerahkan semuanya pada orang kepercayaanku. ”

Dia berdecak, “ Dengan usia yang muda, kau bisa membangun banyak perusahaan sekaligus? ”

“ Tidak, perusahaan yang aku bangun hanya label rekaman milikku itu. Selebihnya peninggalan appa-ku. ”

“ Kau belum pernah bercerita tentang appa-mu, ” wajahnya tampak tertarik, matanya menatapku dengan binar ingin tahu, “ Seperti apa dia? ”

Appa? Seperti apa dia?

Aku ingin tertawa dalam hati. Seperti apa appaku? Apa aku perlu menceritakan bagaimana dia dan mendapatkan tatapan kasihan dari Jiyeon?

Aku berdeham, “ Biasa saja. ”

Jiyeon menatapku seolah mengerti. Mungkin dia berpikir sulit bagiku untuk menceritakan appaku yang telah meninggal karena aku sedih, padahal sama sekali tidak. Tidak ada yang perlu diceritakan mengenai dirinya. Bahkan, sejujurnya, aku benci mengakui ia adalah appaku.

Beruntung makanan kami datang dan percakapan kami berhenti sejenak. Tapi Jiyeon tampaknya masih ingin bertanya banyak hal tentangku. Ia menatapku lebih berminat daripada makanannya.

“ Kalau kau punya banyak uang, kenapa kau menjadi artis? Maksudku, kau bisa saja melanjutkan usaha appa-mu tanpa harus sibuk menjadi artis. ”

Aku terkekeh, sambil mengambil garpu dan sendok. Aku mulai menyuap makananku karena rasa lapar yang tak tertahankan, sedangkan Jiyeon masih menatapku menunggu jawaban.

“ Yang pertama, menjadi pengusaha juga sibuk dan lebih melelahkan. Yang kedua, cita-citaku sejak dulu adalah penyanyi. Yang ketiga, hobiku adalah menyanyi dan bukan menatap setumpuk berkas sambil mencoret-coretnya dengan tanda tanganku. Apa alasanku masih kurang? ”

Jiyeon menggeleng, ia menatap makanannya dengan tatapan kosong seolah sedang memikirkan sesuatu, “ Kau benar. ”

Kini giliran aku yang menatapnya penuh minat, “ Ingin cerita? ”

Ia tersenyum dan menggeleng. Tangannya mulai mengambil garpu dan sendok, lalu menyuapnya kemulutnya, aku menunggunya untuk menjawabnya, “ Dulu aku ingin jadi dokter. Aku bukan tipe orang yang suka dengan perhatian, jadi aku lebih suka dengan pekerjaan yang lebih banyak bekerja daripada melakukan kontak sosial. Maksudnya, sejak dulu aku pendiam dan agak tertutup. ” Jelasnya sambil menatap makanannya, aku masih menunggu kalimat selanjutnya, “ Tapi pekerjaanku yang sekarang sangat berbanding terbalik ya? ”

“ Dokter bagus. Kenapa tidak memilih itu saja? ”

“ Aku anak terakhir, jadi aku dituntut untuk ini dan itu oleh keluargaku. Kecuali Yoochun oppa dan dad tentu saja. Mom ingin aku menjadi desaigner, dan Gyuri unnie menyuruhku untuk lebih bersosialisasi. Jadilah aku seperti ini. ”

Aku menatapnya sedih, pasti buruk rasanya mendapatkan tekanan dan paksaan untuk memilih apa yang tidak kita suka. Dari luar, aku memang dapat melihat bagaimana hubungan Jiyeon dan keluarganya. Mom-nya tampak bersemangat untuk memaksa Jiyeon untuk ini dan itu. Aku mengerti jika itu semua demi kebaikan Jiyeon, tapi terkadang orang tua tidak mengerti apa yang sebenarnya anaknya inginkan. Lain lagi dengan Gyuri nuna, dia bahkan selalu terlihat dapat mengintimidasi Jiyeon dengan hanya tatapannya saja. Mengerikan memang.

“ Mereka hanya ingin yang terbaik untukmu, ” Ucapku mencoba menenangkannya, ia hanya tersenyum masam sambil menatap makanannya, “ Lagipula, kau tampak sangat pandai bersosialisasi sekarang. Hampir seluruh model dan desaigner mengenalmu dengan baik. ”

“ Kau tidak tau bagaimana sulitnya untuk mencoba menjadi orang lain. Aku yang sebenarnya lebih suka bergaul dengan buku-buku tebal, harus menghabiskan hampir setengah dari umurku untuk melakukan kebalikannya. Tersenyum sana sini, hang out, party, dan kegiatan lainnya yang sangat aku benci dulu. Saat aku kuliah di amerika, Mom bahkan memasukkanku ke sekolah kepribadian untuk melatihku menjadi seperti sekarang. Tidak sia-sia memang, tapi sejujurnya, aku sering merasa tidak nyaman. ”

Wajahnya tampak frustasi, ekspresi yang cukup mengejutkan untukku. Dia memang lebih sering tampak tenang selama ini. saat aku memintanya—okay, memaksa lebih tepatnya—untuk menikah denganku, dia bahkan tidak tampak sefrustasi ini saat mencoba menolak.

Tapi, aku baru sadar, ini pertama kalinya dia benar-benar terbuka denganku.

Aku meraih tangannya yang bebas dan menggenggamnya, ia menatapku dengan kalut. Aku tersenyum, “ Seseorang pernah mengatakan ini padaku. Jika kau terpaksa memilih sesuatu namun tidak menyukainya, belajarlah untuk menyukainya. Kau tertekan karena kau selalu tersugesti untuk membencinya. Kalau kau mulai mencoba untuk menyukainya, kau pasti tidak tertekan lagi. ”

Jiyeon mengangguk, ia menghela nafas berat, “ Kau benar. ”

Tanganku terulur menuju bibirnya dan menarik kedua ujungnya, “ Senyum dong, cantik. ”

Ia terkekeh dan mengangguk.

Apa aku pernah mengatakan bahwa aku sangat menyukai caranya tersenyum?

Jiyeon’s Side

Untuk yang kesekian kalinya, aku melempar baju dari koperku keatas tempat tidur.

Oh, sial sekali. baru kali ini aku menyesal kenapa dulu tidak seperti remaja kebanyakan. Kenapa dulu aku lebih sering menghabiskan waktu dengan setumpuk ensiklopedia dan sejenisnya. Kenapa aku tidak pernah menonton konser?!

Akibatnya, aku jadi tidak tau harus memakai apa sekarang.

Oke, terdengar berlebihan memang. Siapa yang akan memerhatikan outfit orang lain saat menonton konser idolanya? Tapi entah kenapa aku malah uring-uringan. Mau pakai dress, takut salah kostum. Mau pakai baju kaus, malah terkesan terlalu santai.

Masalahnya adalah, yang konser itu suamiku.

Suamiku?

Oh, didalam perutku rasanya ada yang bergetar.

Myungsoo juga sempat mengirimiku pesan dan mengatakan aku harus tampil cantik. Ya, aku tau. Itu hanya pesan tidak penting. Tapi aku juga ingin sekali-sekali tampil spesial, kan..

Mataku menatap jam yang ada disudut meja, lalu beralih menatap tumpukan bajuku dan menghela nafas. tidak ada cara lain. Kalau aku terus-terusan begini, aku bisa terlambat. Jadi aku meraih tumpukan baju paling atas yaitu mini dress ungu pucat yang santai dan jaket jeans untuk menutupi lenganku dari udara dingin—dengan pertimbangan, aku butuh outfit nyaman untuk waktu yang cukup lama dan penuh sesak itu. Setelah memakainya dengan cepat beserta makeup tipis, membiarkan rambutku tergerai asal dan meraih tas hitamku. Semoga saja dalam tas ini ada kacamata hitam atau apapun yang bisa menolongku.

Tidak ada yang spesial dari penampilanku. Mau bagaimana lagi?

Dan sesuai perkiraan awalku, tempat ini benar-benar ramai dan penuh sesak. Aku melirik jam yang ada di dashboard mobil-ku, pukul setengah 7. Itu artinya tinggal 40 menit sebelum konser dimulai. Wajar saja jika tempat ini menjadi penuh dengan lautan manusia. Terkutuklah aku yang ketiduran hingga tidak ingat waktu, untung saja Myungsoo menelfon dan mengingatkanku. Walaupun dia sedikit terlambat menghubunginya.

Setelah beputar-putar mencari parkir, aku memarkirkan mobilku agak jauh dari pintu utama. Akupun mengirim pesan pada Myungsoo bahwa aku telah sampai sesuai dengan titahnya tadi. Tanganku memasukkan ponsel dan segala yang aku butuhkan lalu meraih kacamata hitam dan memakainya. Setelah menghela nafas berat, aku turun dari mobil.

Untung saja aku memakai flatshoes tadi, kalau aku nekat memakai heels, mungkin kakiku akan putus tepat didepan pintu utama. Kalimat cukup jauh ternyata tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Yang paling tepat adalah, sangat jauh.

Aku melirik kesekitarku yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Kebanyakan pemandangan yang kulihat adalah, sekumpulan perempuan abg bermuka resah sambil melihat jam berkali-kali. Mungkin mereka sedang menunggu anggota tim mereka yang lain. Dari kejauhan dapat kulihat antiran super panjang dari berbagai pintu. Mungkin ada sekitar 4 atau lebih pintu, aku juga tidak dapat melihat dengan jelas karena hari sudah mulai gelap. Sejauh ini, posisiku masih aman. Belum ada yang menyadari siapa aku.

Sejujurnya, aku juga takut. Rasanya masih trauma saat aku di serang habis-habisan saat kami masih ‘pacaran’ dulu di bandara. Kalimat penuh kutukan yang ditujukan untukku mungkin bukan masalah besar karena aku cukup tangguh untuk tidak mengacuhkannya. Namun dorongan bahkan cakaran itu adalah masalah besar. Syukur waktu itu ada Myungsoo, sekarang ini aku sendirian. Mungkin saja ada fans yang melihatku dan kebetulan ia sangat membenciku lalu memprovokasi anggota timnya untuk menyerangku.

Ugh. Tanpa sadar, aku bergidik ngeri. Baru aku sadar ternyata aku ada di kandang buaya. Mana mungkin aku akan selamat? Cepat atau lambat, aku akan menjemput ajalku.

“ Eh, bukannya itu Jiyeon? Park Jiyeon? ”

Sial. Teriakan itu bagai panggilan dari malaikat kematian.

Ternyata kematianku memang sudah dekat. Bahkan disaat aku belum menyiapkan apapun untuk melakukan perlawanan. Mom, dad, maafkan anakmu yang penuh dosa ini.

Aku tetap berjalan sambil menunduk, seolah tak mendengar apapun. Bisikan-bisikan mulai terdengar mengerikan dan menggema disekitarku. Matilah aku. Mati. Ayo cepat Jiyeon, pintunya sudah dekat.

“ Jiyeon unnie? Tunggu! ”

Ergh. Kenapa mereka menggunakan bahasa korea dengan logat inggris? Sekarang yang ada aku malah jadi ingin tertawa sekencang-kencangnya. Ia terkesan malah memaksakan bahasanya dan menurutku itu sangat lucu. Tidak, Jiyeon, tidak. Tidak boleh mengetawai pembunuhmu kalau masih ingin, paling tidak, mati dengan cara yang agak manusiawi.

Tiba-tiba aku merasa sebuah tangan menyentuh pundakku. Oh sial, tangan calon pembunuhku telah menyentuhku. Dengan bunyi jantung yang tidak beraturan, aku mengumpulkan kebeneranian dan membalikkan tubuhku. Lalu sekuat tenaga, aku memaksakan diriku untuk tersenyum—senyum terakhir dalam hidupku pasti jadi senyum terburuk seumurhidupku—dan mengangkat tangan, “ Hi. ”

“ OH MY GOD! SHE’S REALLY PARK JIYEON! ” Teriak seorang perempuan berambut pirang yang menyentuh pundakku tadi itu histeris.

Seketika, aku langsung dikelilingi oleh para wanita dengam makeup seperti akan pergi ke kontes kecantikan—maafkan aku, tapi sungguh, aku tidak tahan untuk tidak mengatakannya—Mata mereka berbinar menatapku, seolah aku adalah makanan enak untuk mereka. Dan aku tidak tau tatapan itu berarti baik atau buruk.

Oh, siapa yang tau. Baik menurut mereka bisa jadi kematian untuk diriku, kan.

“ Unnie, ayo foto bersama! ” Teriak salah satu dari mereka.

Aku meringis, tidak tahan lagi mendengar bahasa korea ala perempuan-perempuan bule ini, “ You can speak English, if you want to. ” Ucapku akhirnya, sebenarnya sedikit memohon agar mereka mengikuti saranku.

“ Oh, you right. ” balas perempuan yang sama, lalu mereka semua terkikik untuk alasan yang aku tidak tahu, “ So, would you like to take a photo with us? Please. ”

Refleks aku melirik jam tanganku, 20 menit lagi konser akan dimulai. Aku mungkin akan dibebaskan dalam kedaan hidup-hidup jika aku menuruti kemauan mereka, ya tidak ada salahnya kan mencoba. Lagipula, konser akan dimulai sebentar lagi. Mereka tidak mau ketinggalan konser idola mereka, kan?

Aku mengangguk dan tersenyum kecil, kali ini agak relaks karena pemikiran ‘akan dibebaskan hidup-hidup’. Mereka pun berbaris rapi-rapi disebelahku, beberapa kali saling mendorong karena berebutan ingin berdiri disebelahku namun tidak lama. Mereka pun memanggil petugas keamanan terdekat untuk mengambil foto kami beberapa kali.

Ugh, begini rasanya jadi idola?

“ Unnie, what’s wrong with you? You look frightened. ”

Wow. Aku takjub juga. Fangirl berambut coklat yang berdiri tepat disebelahku itu menatapku khawatir. Ternyata dia memperhatikanku sejak tadi. Ini berarti mereka aman untukku dan aku tidak akan mati dalam waktu cepat. Ternyata fangirl itu tidak seburuk yang aku bayangkan.

Tapi, aku kira aku akan dikira sombong karena tidak membalas sapaan mereka pada awalnya. Padahal aku sudah siap-siap untuk membaca sumpah atau kritik atasku nanti di internet.

Yah, bukan salahku kan kalau aku paranoid karena trauma masalalu?

Aku tersenyum salah tingkah, fangirl lain juga menatapku ingin tahu, “ I’m just a little trauma. I’m sorry if I look arrogant to you all. I didn’t mean it, really. ” ucapku menyesal.

“ Oh, ” Ucap mereka serentak, “ Someone ever treated you badly, right? ” Tanya seorang fans lain dengan rambut merah menyala yang keren menurutku.

“ Not as bad as you imagine, ” Aku tersenyum pada mereka, “ Maybe I’m just not used to it. ”

“ You are a good girl, unnie. We know it for sure now. ”

“ Mrs. Kim? ”

Aku menoleh saat mendengar panggilan aneh itu. Dua orang bule berpakaian serba hitam seperti kru Myungsoo lain yang pernah aku liat itu menghampiriku sambil berlari kecil. Wajahnya tampak lelah habis berlarian kesana kemari.

Jadi, Mrs. Kim itu aku, ya?

“ Mr. Myungsoo told us to guide you to your seat. Please, go in with us. ”

Aku hanya mengangguk kecil pada mereka, lalu beralih kembali menatap para fangirl itu sambil tersenyum, “ See you later, guys. ”

Ternyata, aku diantar melalui pintu khusus yang tidak perlu antri bahkan tanpa mengeluarkan tiket. Setelah berjalan cukup jauh dari pintu dan melalui beberapa lorong gelap penuh liku yang membingungkan, aku sampai pada kursi dengan tulisan reserved di punggungnya dan duduk dengan tenang disana. Akhirnya kakiku bisa beristirahat.

Aku mengedarkan pandanganku, kursi di kiri kananku masih kosong. Para fans yang sudah memasuki ruangan tampak sibuk dengan segala urusan mereka. Mulai dari kamera, banner, jeritan dan lain-lainnya yang aku tidak mengerti. Kacamataku masih bertengger ditempatnya. Mungkin aku akan melepaskannya setelah ruangan ini gelap dan konser benar-benar dimulai untuk berjaga-jaga.

Dan aku baru sadar. Ternyata aku duduk di barisan paling depan tengah, tepat menghadap panggung depan.

Kepalaku menunduk agak dalam untuk mencari ponsel didalam tasku dan mengeceknya saat beberapa fans berjalan kearahku untuk mencari kursi mereka. Ada pesan dari Myungsoo.

Sudah duduk ditempatmu? Kalau sudah konsernya akan mulai.

Aku mengetikkan kata sudah dan mengirimnya. Lalu dalam hitungan detik, semua lampu telah mati dan hanya tersisa lampu yang menyorot panggung. Aku melirik jam. Padahal masih 2 menit lagi menuju jam 07.10, tapi konser sudah dimulai.

Apa karena pesanku, ya?

“ Hai, unnie! ”

Mendengar suara yang sangat familiar bagiku itu, aku langsung membuka kacamata dan menoleh ke sebelah kiriku. Dan benar, sesuai dengan perkiraanku, “ Jiyoung! Bagaimana bisa kau disini? Mana ummamu? ” Tanyaku panik.

Dia terkekeh, “ Tenang, tenang. Umma tau aku disini. Umma yang memberikan izin makanya aku pergi. ”

Aku menatapnya tak percaya, “ Mana mungkin. ”

“ Serius, ” Jawabnya dengan wajahnya berbinar, “ Yang jelas Myungsoo oppa yang mengundangku secara langsung kesini. Alasannya biar unnie ada teman. Awalnya umma memang marah-marah, tapi ternyata Myungsoo oppa yang super ganteng itu bisa meredam singa yang mengamuk! ”

“ Heh, itukan ummamu, bukan singa. ” Jawabku lalu berdecak, “ Siapa yang mengantarmu? ”

“ Ssh, jangan berisik un. Konsernya sudah dimulai. ” Balasnya tak nyambung.

Mulutku terbuka lebar melihat kelakuan kurang ajarnya, lalu beralih menatap panggung.

Oh, benar saja. Myungsoo telah berdiri ditengah panggung dan mata kami langsung bertemu. Ia tersenyum sekilas padaku. Mungkin padaku, aku juga tidak tahu.

Dan begitulah konser pertama yang aku tonton dalam seumur hidupku dan mungkin akan menjadi konser terkeren yang pernah aku tonton. Konser dibuka dengan sejenis lagu ballad yang langsung aku sukai saat pertama kali mendengarnya—mungkin aku harus mendownload semua lagu Myungsoo dulu sebelum menonton konsernya tadi— lalu dilanjutkan dengan lagu beat yang membuatku terperangah.

Myungsoo ternyata bisa ngerap!

Selain itu, aku juga cukup kaget dengan respon yang diberikan para fans disini. Mereka memang berisik seperti perkiraanku, tapi tidak setiap saat. Dibeberapa lagu yang dinyanyikan Myungsoo, seperti lagu bergenre ballad dan sejenisnya, mereka semua benar-benar diam tanpa suara sedikitpun. Tapi selebihnya, misalnya disaat Myungsoo dance dan beberapa perform dimana Hoya oppa dan Sungjong juga ikut berlarian mengeliling panggung yang sangat besar sambil sesekali menyapa fans, para fans itupun berteriak dengan histerisnya hingga telingaku berdengung. Jiyoung bahkan tidak lebih baik, ia berteriak histeris hingga wajahnya merah. Mereka semua benar-benar kompak. Apa mereka sudah janjian, ya? Orang sebanyak ini?!

Dan jangan tanya bagaimana dance Myungsoo. Dia yang terbaik diantara Hoya oppa dan sungjong, menurutku.

Mau bagaimanapun, Myungsoo tetap terkeren. Lagi-lagi, menurutku.

Awalnya aku memang agak terganggu dengan kebisingan disana-sini, mengingat aku yang suka dengan kesunyian. Tapi lama-lama, aku pikir menonton konser tidak buruk juga. Aku mulai bisa merasakan sedikit demi sedikit euforia yang mungkin dirasakan seisi gedung ini. jantungku bahkan berdetak tidak karuan sepanjang acara. Mataku terlalu fokus pada Myungsoo yang terlihat super sexy—apalagi dengan keringatnya saat dance dan berlarian, benar-benar ugh!—tanpa sempat melihat kearah yang lain. Aku juga ikut tertawa saat melihat tingkah-tingkah konyol Myungsoo bersama yang lainnya.

Pokoknya, aku harus nonton konser Myungsoo lagi!

Sekarang, semua lampu dimatikan, tidak ada cahaya sedikitpun. Bahkan aku tidak bisa melihat jam tanganku untuk memastikan jam berapa sekarang. Membuatku sedikit ngeri juga, apa ini sengaja atau terjadi sesuatu? bagaimana kalau disebelahku mendadak ada…

Oh, tidak. Tidak mungkin.

“ Jiyoung, ” akhirnya aku membuka suara, “ Kenapa semuanya gelap? ”

“ Aku juga tidak tahu, un. ” Itu suara Jiyoung, syukurlah.

Aku menunggu. Mungkin mereka sedang persiapan untuk lagu penutupan atau ada surprise lain untuk penonton.

Lalu mendadak satu-satunya sorotan cahaya mendadak hidup dan mengarah ke atas panggung. Cahaya itu juga sedikit-sedikit terarah padaku karena aku duduk ditengah barisan paling depan. Disana, tepat ditengah panggung yang paling dekat dengan kursiku, Myungsoo sudah duduk diatas bangku dengan gitar ditangannya. Ia memakai kemeja putih dengan lengan yang sudah digulung setengah, membuatnya terlihat sangat tampan dimataku.

Myungsoo menunduk, mulai memainkan gitarnya dengan nada yang terasa familiar ditelingaku. Aku agak terkejut juga, selain piano ternyata Myungsoo juga bisa main gitar. Apa lagi yang dia bisa, ya?

Dan mendadak lagi, Myungsoo mengangkat kepalanya dan tersenyum lembut kepadaku, “ You look so wonderful in your dress,

Kali ini aku yakin. Sangat-sangat yakin, Myungsoo benar-benar menatapku dan tersenyum kepadaku saat mulai menyanyikan lagu itu.

I love your hair like that. ” Masih dengan senyum yang sama, ia memiringkan kepalanya, seolah bicara padaku, “ The way it falls on the side of your neck. Down your shoulders and back.

Ya tuhan, apa lagi ini? apa yang harus aku lakukan sekarang?

We are surrounded by all of these lies
And people who talk too much
You got the kind of look in your eyes
As if no one knows anything but us

Entah bagaimana ekspresiku saat ini, padahal beberapa mata disampingku tengah menatapku dengan tatapan penuh rasa iri. Yang jelas, mataku hanya terpaku pada matanya yang juga balas menatapku dengan begitu lembut, tanpa takut akan kemungkinan-kemungkinan bahwa aku akan diserang oleh seisi gedung ini.

kali ini wajah Myungsoo berubah serius saat menatapku, “ Should this be the last thing I see. I want you to know it’s enough for me. Cause all that you are is all that I’ll ever need. ”

jeda, ia pun kembali tersenyum dan memetik gitarnya kembali, “ I’m so in love, so in love. So in love, so in love. ”

You look so beautiful in this light
Your silhouette over me
The way it brings out the blue in your eyes
Is the Tenerife Sea

And all of the voices surrounding us here
They just fade out when you take a breath
Just say the word and I will disappear
Into the wilderness

Should this be the last thing I see
I want you to know it’s enough for me
‘Cause all that you are is all that I’ll ever need

I’m so in love, so in love
So in love, so in love

Lalu mendadak semua gelap. Bukan, aku bukannya pingsan. Aku masih sadar tapi satu-satunya lampu yang hidup tadi telah mati dan menghilangkan Myungsoo dari hadapanku. Rasa kehilanganpun entah kenapa merayapi jantungku.

Aku ingin dia kembali.

Lumière, darling. Lumière over me. ”

itu suara Myungsoo. Suaranya masih ada, tapi kemana dia?

Suara yang sama dengan lirik yang sama kembali masuk ketelingaku untuk yang kedua kalinya. Aku menoleh kekiri saat merasakan ada sebuah cahaya yang hidup dari arah itu, ternyata Myungsoo sudah setengah jalan menuju kearahku. Ia tersenyum saat tau bahwa aku telah menyadari kehadirannya. Aku menatapnya agak cemas. Ia berjalan kearahku sendirian, tanpa pengawal atau apapun seolah tidak takut akan ada kericuhan yang ia timbulkan.

Dan ajaibnya, memang tidak ada.

Ia mengulang lirik itu untuk ketiga kalinya. Jaraknya denganku sudah cukup dekat namun kakiku tidak bergerak untuk mendekatinya padahal aku sangat ingin. Rasanya seluruh tubuhku lemas dan aku tak sanggup untuk melakukan apapun.

Jadi satu-satunya yang mampu aku lakukan saat ini adalah menatapnya.

Suara musik memelan, Myungsoo telah sampai dihadapanku. Ia menumpukan tubuhnya dengan lutut dan sebelah kakinya, seperti para pangeran dalam dongeng kesukaanku dulu. Ia meraih tangan kananku dan tersenyum padaku, senyum yang entah sejak kapan menjadi favoriteku, ” Should this be the last thing I see? I want you to know it’s enough for me. ‘Cause all that you are is all that I’ll ever need. ”

Dan tanpa bisa kutahan, aku menjatuhkan tubuhku padanya. Kedua tanganku telah melingkar erat di tubuhnya, kepalaku menempel erat pada lehernya. Reaksi tubuhnya tampak terkejut sesaat, namun beberapa detik kemudian ia balas memelukku lebih erat. Disaat yang bersamaan, aku tertawa dan terisak, “ I’m so in love, so in love. So in love, love, love, love. So in love. ”

You look so wonderful in your dress
I love your hair like that
And in a moment I knew you, Jiy.

*****

PADA BAPER GAK?!

Aku yang nulis aja baper sampe pengen nangis. Duh pengen juga dinyanyiin kayak gitukan.

Sorry for typos dan kekurangan lainnya. Ini aku post tanpa baca ulang apalagi perbaikan. Sebenarnya chapter ini harusnya lebih panjang, tapi aku potong karena takut pada bosan baca panjang-panjang.

Aku juga bakal lama update soalnya aku udah mau tamat dan pasti tau dong sibuknya gimana. Buat ini aja aku sampai ketetera

n gak buat tugas. Ide-idenya juga mulai stuck. Kemarin aku buat beberapa draft untuk chapter ini dan setelah aku fikir-fikir, yang ini paling bagus makanya aku lanjutin yang ini aja. Semoga kalian suka sama kayak aku yang suka sama chapter ini hihi

Kalau gak tau itu lagunya apa, coba aja cari lagu Tenerife sea-nya Ed sheeran.

Thank you for reading.

68 thoughts on “Celebrity Wedding (Chapter 11: Surprise?)

  1. Akhirnya setelah sekian lama aku menunggu bareng ridho roma akhirnya ff ini diupdate juga😁😁
    Aaaaa baper banget masa jadi iri pengen dinyanyiin kek gitu juga😆
    Asli suka banget sama chapter ini myungsoo nya so sweet bikin baper to da max😆😆😆
    Ciye ciyeee myung udah ngungkapin perasaannya ciyeeee wkwk giliran jiyi nih😊 wkwk
    Aaaa suka banget pokoknyq ditunggu banget lanjutannya😁😁😁

  2. Omg wowwww.. akhirx update jg ff nya kekekek.. daebak.. myungsoo mkn trang2an sm jiyi.. ahhh spechless bngt moment konserx.. mdh2an stlh ini mrk bnr2 saling mnunjukkan n akuin rs cintanya ya.. next dong.. bakal lama ya? Huhuhu.. next udh enf kah?

  3. Wow keren ahhh Myung so sweet!!!
    Secara tidak langsung Myung udah ngungkapon gimana perasaannya k Jiyeon🙂 yahh tinggal gmana Jiyeon ngartiinnya aja😀

  4. Hadeuhhh,so so sooo,,,, sweeeeet.ga kbayang luw yg ad d psisi jiyi tu aq,bklan kyak g mna y jdix.hemm,tp emang ad y? yg rmantisx smpe kyak myung d dnia xta??? pkox ffx daebaklah thor.hai authornim salam knal aq rder bru.ijin bca ff lainx y? n aq comentx yg update ajah, yayaya😉

  5. woahhh baper banget, yah thor hiatus lagi setelah lama gak comeback huhu sedih deh,,, next part ditunggu yahh, pllisssss jangan lama-lama hiatusnya

  6. Manis bangeeeeeeet.
    Ih dari awal karakter Myungsoo emang udah so sweet. Paling suka setiap dia ngegodain Jiyeon dengan ungkapan (atau gombalan) perasaannya.
    Oh iya aku pernah liat novel dengan judul ini di gramedia. Ff ini emang diadaptasi dari sana ya? Maklum cuma baca sinopsisnya aja hehe.

  7. wuaa akhirnya update juga…kalo baca ff unnie tu bener2 cuma mikir myungyeon tanpa lainnya..suka sudut pandang gini…ahh tambah so sweet kesininya eon…ditunggu pokoknya…:-D

  8. kyaaa akhirnya lovey dovey mtk mengalami peningkatan. lanjutkan myung smpai kalian jth cnta bneran trus kontraknya batal…..
    gitu aja ngak usah pke acara mewek kagak cocok kl myungyeon couple bergalau ria #plaaaak

    meski lamaaaaa bgt updatenya, berasa kyk nunggu bang toyyib haha
    but this part is soooo nice….
    lanjutkan yaaaahhhh…. sooooon….

  9. annyeong oenni..q reader baru..izin bca ne.,,miane q ru coment lngsung k part 11nya..
    yg psti crta nya asyik bgt..
    myungsoo sweet bgt,,berasa nyata dsni myungyeon..gidaryo next cpter ne..gomawo

  10. Finallyyyy !!!!!!
    Myungsoo udh nyatain perasaannya dan surprise yg di kasih myungsoo dikonser bener2 bikin aku arghhhhhhhhhhh
    Lumerrrrrrrrr abis dah
    Duhh aku bingung mau comment apa abis udh terlalu hanyut sama surprise myungsoo
    Kkkk

    Di tunggu next nya

  11. wahhhhh akhirnyaaa update, sumpah baper abis ahhhhhhh, thor jangan dedline yahhh ahhhhh menunggu nih kelajutannya, myungsoo banyakin ngegombal yah?yah hahahah ok semangat thor

  12. kapan ff ini dilanjutin aigoooo aku sangat menanti kelanjutannya :(((((( kangen myungyeonnnnnnnn :”””” lanjuutkaaan jaebaaaaaal :((

  13. unnie..kangen banget sama ffny..moga unnie cepet kelar ya studinya n bakal ada kejutan menarik lagi di ff ini…kami menunggu mu….
    fightinggh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s